Minggu, 27 Maret 2016

Seplastik Beras

Satu siang kisaran seminggu lalu, saya mendatangi area parkir sebuah kantor yang sekaligus jadi area berinternet gratis, dengan maksud mencari seorang teman. Setelah celingak-celinguk di setiap meja orang yang saya cari tak ada. Padahal sebelum meluncur tadi saya sempat bertelepon dengan ibunya dan mendapat informasi dia sedang berinternet disitu. Mungkin masih dalam perjalanan, begitu pikir saya. Jadilah saya pergi dulu ke toko beras, membeli dua kantong beras titipan ibu saya. Dengan dua plastik beras di bagian pijakan kaki motor, saya kembali masuk ke area parkir kantor tersebut, kembali celingak-celinguk mencari wajah yang saya kenal. Hasilnya kembali nihil. Mungkin masih di perjalanan karena mampir terlebih dulu ke satu tempat, begitu pikir saya sambil memarkir motor dan duduk di bangku. Bangku dan motor cuma berjarak kisaran 2.5 meter saja. Sempat terpikir masuk ke ATM sembari menunggu tapi urung karena ingat mesin tersebut hanya menyediakan pecahan seratus ribuan sementara yang saya butuhkan lima puluh ribu saja. Tak sampai lima menit menunggu telepon saya bergetar, ibu teman saya mengabarkan bahwa ternyata anaknya tidak keluar rumah untuk berinternet. Tapi beliau juga tak tahu kemana. Akhirnya saya bertitip pesan kepada beliau agar memintanya menghubungi saya ketika sampai di rumah nanti. Motor saya tunggangi kembali dan keluar dari area parkir tersebut. Satpam menatap dengan pandangan agak aneh begitu saya melewatinya. Maaf Pak, saya memang tak bermaksud ngenet, makanya nggak bawa piranti kayak yang lainnya, jadi nggak perlu heran deh.

Tujuan berikutnya adalah ATM di pelataran bank. Jaraknya sekitar 400 meter dari tempat pertama. Jadi sebentar saja sudah sampai. Dan hal yang mengejutkan saat memarkir motor di depan deretan mesin ATM itu adalah beras saya tinggal satu plastik saja. Kaget dan tak mempercayai pandangan mata sendiri membuat saya membolak-balik sekantong beras itu. Memang tinggal satu adanya. Berarti hilang satu. Dimana hilangnya? Saya yakin sekali keluar dari toko beras tadi mengangkut dua kantong plastik. Yakin karena keduanya membuat kaki saya susah mendapatkan pijakan. Yakin karena sebelum masuk ke area ngenet tadi saya sempat melihat lagi dua plastik beras dengan sedikit malu karena di saat yang lain menggendong laptop dengan bangga eh saya malah membawa masuk beras. Berarti hilangnya di pelataran ngenet tadi. Lha kapan? Berarti pas motor terparkir, berjarak kisaran 2.5 meter dari bangku yang saya duduki tadi. Lha kok bisa kan dekat sekali? Lha embuh! Perhatian saya memang teralihkan ketika menerima telepon. Tapi tak lama, beberapa menit saja. Dan banyak orang di area tersebut walau mereka sibuk dengan piranti masing-masing. Sebagian malah ada yang duduknya menghadap ke arah saya. Berarti mereka mestinya tahu ketika seseorang mengangkut sekantong beras dari motor yang saya parkir. Ya, seharusnya mereka tahu.

Jelas saya jengkel sekali dengan kejadian itu. Ke ATM yang seharusnya hanya untuk mengambil uang demi keperluan mengirim paket akhirnya mesti bertambah jumlahnya untuk mengganti beras yang hilang tadi. Padahal saya sedang memberlakukan kebijakan uang ketat terhadap diri saya sendiri. Tapi mau apalagi? Toh, berasnya sudah kadung melayang, sementara tak mungkin memberikan kepada ibu saya sekantong saja sambil berkata yang sekantong hilang. Dengan dongkol saya kembali ke toko, membeli seplastik lagi,  lalu menyerahkannya kepada ibu saya tanpa cerita tentang seplastik lain yang baru saja raib.

Kenapa beras saya hilang? Apakah saya telah teledor dalam hal menjaganya? Lha kan motor juga cuma 2.5 meter dari bangku? Apa ya harus saya duduk sambil ngerangkul dua plastik beras? Jujur jengkel sekali. Dan nyaris saya menyumpahi si pengambil. Satu hal yang menahan mulut dan hati untuk melakukannya adalah kesadaran bahwa yang hilang itu adalah beras. Ya, beras yang makanan pokok itu. Sebegitu laparkah dia hingga tak tahan untuk tidak mengambil beras saya? Sangat laparkah? Pikiran itu membuat amarah reda. Saya jadi berpikir beruntung sekali bisa makan kenyang dua kali sehari tanpa mencuri walau harus memberlakukan kebijakan uang ketat pada diri sendiri akibat tabungan yang lagi setipis kertas. Jadi ingat cerita teman dua hari sebelumnya. Katanya desanya mulai rusuh. Mulai marak pencurian dan barang yang dicuri adalah yang praktis-praktis semacam unggas. Teman saya yang juga peternak sudah mengalami itu. Masih kata teman saya, yang seperti ini bisa jadi mengindikasikan satu hal, banyak orang lapar alias kondisi perekonomian sedang susah.


Ya ya ya, saya pun merasakan kondisi sedang tak terlalu baik. Dan saya tak hendak membuat sentimen politik tehadap si A si B. Males banget mikirin yang begitu. Yang penting tetap berdoa dan berusaha. Dan untuk siapapun yang mengambil seplastik beras itu, saya ikhlas untuk berdoa semoga itu cukup mengenyangkan. Tak ada marah saya untuknya walau sempat jengkel setengah mati. Teman lain mengusik dengan pertanyaan bagaimana kalau si pengambil bukan orang yang kelaparan. Ehmmmm....  kalau sampai beras saja diambil pasti dia lapar, mungkin bentuk laparnya saja yang bisa beda-beda.  

Senin, 29 Februari 2016

Ibu-Ibu Matic

Seorang teman mengirim foto dan saya langsung tertawa dan tersindir sekaligus. Foto apakah itu? Foto  tersebut menggambarkan dua orang perempuan; mungkin ibu-ibu; sedang berkendara sepeda motor dengan arah lurus tapi lampu sign keduanya menyala, satu ke kanan dan lainnya ke kiri. Di bagian bawah foto ada tulisan yang isinya kurang lebih seperti ini : hanya Tuhan dan dia seorang yang tahu kemana arah yang dituju. Foto ini kemudian mengundang komentar karena dikirimnya ke kelompok percakapan. Seorang teman sambil membenarkan teks di foto itu mengeluh bahwa jalan jadi runyam ketika ibu-ibu dengan motornya berkendara seenak udelnya. Masih menurutnya, urusan belok saja para ibu ini pada ga bener, mau lampu sign ke kanan tapi beloknya ke kiri dan sebaliknya. Terus giliran sudah benar lampu sign-nya eh lupa matiin, jadi nyala terus hingga ketemu belokan lainnya. Alhasil siapapun yang ada di belakangnya tertipu. Itu baru satu hal, masih banyak hal lainnya, seperti menyalip atau menyeberang seenaknya. Ntar ditegur malah melotot, timpal teman yang lain. Yang lain lagi menambahi bahwa pokoknya mengerikan berkendara bareng ibu-ibu seperti itu, runyam, riskan.

Sepeda motor matic. Ya, itu menurut saya asal muasalnya. Sepeda motor matic sungguh memberikan kemudahan untuk pengendaranya. Bagaimana ga mudah wong cara mengendarainya ga beda jauh dengan naik sepeda pancal. Cuma perlu mengatur keseimbangan dan beres sudah. Kendali ada di tangan. Beda dengan sepeda motor yang bergigi. Saking gampangnya semua jadi bisa mengendarainya, otomatis bertambahlah isi jalan. Lalu bagaimana dengan ketidakmampuan ibu-ibu itu berkendara dengan aman dan mengamankan pengendara lainnya? Ehmmm... yang ini entah apa penjelasannya. Yang pasti foto dan pernyataan teman-teman tersebut membuat saya berkaca. Yes, saya juga termasuk dalam kategori ibu-ibu pengendara motor itu. Dan jujur saja, saya juga kadang lupa mematikan lampu sign seusai membelok. Pernah juga saya diteriaki pengguna jalan yang lain karena dianggap salah. Pernah juga saya sadar telah melakukan kesalahan walau pengendara lain berbaik hati tak memaki. Yes, saya kadang termasuk dalam golongan tersebut. Lalu bagaimana? Ya perbaiki dirilah, toh ada di jalan memang prinsipnya tidak cuma menjaga keselamatan diri sendiri tapi juga harus menjaga keselamatan orang lain. Dan saya yakin ini bukan jenis keahlian yang hanya bisa dilakoni jender tertentu.


Eh tapi bener lho, sejak ini saya jadi seneng klo ada bapak-bapak belok tanpa pakai lampu sign atau motong jalan tanpa rasa berdosa... Hehehheehhe versi bapak-bapak matic bukan yaaaaa...? 



















gambar dipinjam dari http://www.istockphoto.com/vector/beautiful-cool-girl-riding-a-motorcycle-gm165680806-11034902

Minggu, 31 Januari 2016

Dia Tak Perlu Tahu

Namanya Pramudya. Di kantor ini dia biasa dipanggil Pram, Mas Pram, ataupun Pak Pram. Tentu saja tergantung siapa yang memanggil. Dan aku termasuk yang memanggilnya Pram aja. Sementara gadis-gadis itu termasuk yang memanggilnya Mas Pram. Ya, gadis-gadis di ruang administrasi dan logistik itu yang kumaksud. Mereka yang nyaris selalu manis terhadap si Mas Pram. Manisnya kadang melebihi manis terhadap yang lain. Termasuk kepadaku, bahkan kepada pak Bos Besar sekalipun. Ah, tapi siapa juga yang bisa tidak bersikap seperti itu padanya? Toh Pram memang seorang yang baik hati dan tidak sombong. Dia ramah dan sopan, tak pernah berkata kasar, pun ketika marah. Semua tahu jika marah dia akan berbicara dengan kalimat singkat-singkat tapi penuh tekanan lalu diam. Ini membuat lawan bicaranya segan sekaligus tahu keadaan. Dan marahnya juga tak pernah lama. Dengan segala kebaikan itu, dia masih punya kelebihan tampang. Komplit sudah. Jadilah dia Manager kesayangan.
Ya, dia kesayangan semua. Semua selalu peduli. Termasuk ketika dia jatuh cinta pada Reina dulu. Reina yang staf ekspor impor itu memang si cantik segar, bagai burung kutilang yang selalu berkicau dengan merdunya. Reina yang menyedot perhatian banyak lelaki. Dan Reina yang dengan riang dan ringan menikmati semua itu. Tanpa beban dia menyambut uluran tangan satu laki-laki sebelum kemudian berpindah ke yang lain. Hingga akhirnya mulai banyak bisik-bisik tak enak tentangnya. Cukup banyak bujangan di kantor saat itu. Yang aku tak mengerti adalah mengapa Reina mengabaikan Pram dan lebih memilih berkencan dengan yang lain terlebih dulu. Pram memang tak sevulgar yang lain dalam hal menunjukkan perhatiannya. Dia tak bisa menggoda di depan banyak orang. Itu bukan gaya Pram. Dia adalah si pemalu yang mengirimkan sinyal lewat pandangan yang berhenti beberapa detik lebih lama, lewat senyum tipis yang mudah terkembang ketika mereka berada dalam ruang yang sama. Seharusnya Reina mengerti itu. Tapi entah mengapa dia mengabaikannya. Dan baru membalas ketika semua mulai berbisik-bisik tentangnya. Dan pangeran yang nyaris sempurna itu tentu girang luar biasa dan tak peduli dengan gunjingan apapun.
Tak butuh waktu lama bagi Pram untuk membuat keputusan. Ketika semua sibuk bertaruh berapa lama Reina bertahan sebelum kembali melompat, Pram sudah melingkarkan cincin pertunangan ke jari Reina. Dan tak sampai tiga bulan kemudian undangan pernikahan telah tersebar. Heboh. Para gadis patah hati. Para bujangan tertawa getir. Semua memberi selamat. Tapi di balik itu tak sedikit yang menyayangkan dan memulai pertaruhan baru berapa lama mereka bertahan dalam satu pernikahan. Semua karena Reina yang dipilih. Terlalu banyak yang bilang itu pilihan salah. Pram terlalu cinta. Juga terlalu naif. Reina terlalu berjiwa bebas. Diam-diam aku sepakat. Tapi pernikahan tetap berlangsung. Reina tak lagi bekerja setelahnya.
Awalnya indah adanya. Ditandai dengan penampilan Pram yang jelas tampak lebih terawat. Ini sudah pasti pengaruh Reina. Pram jadi lebih rapi. Tak pernah telat bercukur ataupun potong rambut. Kemejanya juga jadi kenal warna, tak lagi melulu seputaran putih, biru, kelabu, dan hitam. Dia jadi tahu warna merah muda, kuning, hijau, juga ungu. Model celananya juga  up to date. Baunya lebih wangi, dengan aroma yang berganti-ganti. Dan yang paling penting adalah dia jadi rajin pulang sejam lebih cepat dari masa bujang dulu. Semua karena Reina tentu saja. Dan semua mata menyaksikan semua itu dengan cemburu, tapi tak bisa apa-apa. Toh di luar semua itu dia tetaplah Pram yang baik.
Itu tahun pertama. Menginjak tahun kedua mulai ada suara tentang mereka berdua. Entah dari mana sumbernya, tapi kabarnya Reina menolak untuk hamil. Sementara Pram sudah kepingin sekali punya bayi kecil mungil yang lucu. Dia sudah rindu dipanggil Ayah atau Bapak atau Papa. Orang mulai berbisik-bisik menyalahkan Reina, menudingnya terlalu cinta pada bentuk tubuhnya yang memang spesial sehingga tak rela kehamilan membuatnya berubah. Dan dalam satu acara plesir karyawan dan keluarga aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana Pram yang baik itu gemar menggoda balita Pak Dahlan yang baru saja mampu berjalan, juga balita Cik Mei yang berkucir tinggi dan berpipi gembul. Sementara Reina tak tampak tertarik dengan itu dan asyik berkumpul dengan teman-teman lamanya. Ketika kugoda dia sudah pantas menggendong bocah macam itu, Pram cuma tersenyum getir. Aku jadi tak tega bertanya lebih dalam. Biarlah itu jadi urusan mereka berdua saja. Tak ada untungnya juga aku ikut merecoki. Tapi tak urung aku kasihan padanya.
Sekarang sudah masuk tahun keempat. Bajunya masih warna-warni. Celananya juga masih model terkini. Cukur dan potong rambut walau sesekali telat tapi tak memperburuk rupanya. Tapi ada yang jadi beda. Roman mukanya tak lagi secerah dulu serinya. Sering tampak berkabut. Sering tampak merenungi sesuatu dan menggeleng lemah ketika ditanya kenapa. Jelas dia sedang tak sepenuhnya bahagia. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Orang-orang itu mulai berbisik-bisik, Pram dan Reina banyak bertengkar. Soal anak. Soal uang. Soal kekurangan masing-masing. Dan Pram jadi mulai lambat lagi meninggalkan kantor, mulai kembali ke kebiasaannya semasa bujang dulu. Seperti malam itu.
Kutemukan ruangannya masih menyala ketika aku hendak pulang. Dia tergeragap kaget saat kuketuk kaca pintunya.
“Masih memikirkan soal perubahan jadwal yang diminta si Javier tadi?” Javier adalah buyer yang kutangani. Bule gemblung itu suka sekali memaju-majukan jadwal pengiriman ordernya.
Senyumnya sekilas saja, entah apa artinya.
“Asal kau bisa sedikit memundurkan order EcoKane maka Javier tak akan jadi masalah. Terserah alasan apa yang akan kau suguhkan ke orang EcoKane. Atau aku akan membuat line baru khusus untuk Javier. Tapi kau harus pastikan dia segera turun order lagi setelah ini sesuai jumlah yang dijanjikannya. Jangan sampai kurang. Bagus kalau bisa lebih banyak. Jangan sampai line itu kekurangan pekerjaan.”
Suaranya jernih seperti biasa. Sudah ada solusi di kepalanya. Seharusnya tak ada masalah yang menahannya tetap duduk disana.
“Lalu?”
“Apa?”
“Lalu kenapa kau masih ada disini, itu maksudku.”
Dia mengusap wajahnya kuat-kuat, seperti sedang berusaha mengenyahkan semua yang menempel di sana.
“Sebentar lagi aku pulang.”
Entah kenapa aku bukannya pergi tapi malah duduk di kursi di depan mejanya, menatapi kedua matanya yang ternyata berkantong. Kemarin-kemarin rasanya tak ada kantong-kantong itu. Kini mata itu keruh. Aku jadi berpikir mungkin apa yang dibisikkan orang-orang itu benar, bahwa ada yang tidak seindah dulu. Ah, apakah mata Reina juga berkantong dan keruh seperti itu? Bagaimana jadinya rupanya? Masih cantikkah? Susah juga membayangkan karena Reina yang kutahu selalu sempurna.
“Kenapa kau tak segera menikah?”
Pertanyaannya datang tiba-tiba. Tapi aku tak kaget. Juga sudah terbiasa dengan pertanyaan macam itu. Pertanyaan yang bisa datang dari siapa saja ketika umur sudah melampaui angka tiga puluh enam. Bahkan dari seorang yang baik hati sepertinya.
“Belum ada yang cocok di hati. Dan aku juga belum cocok di hati perempuan manapun.”
Dia nyengir, seperti sedikit terhibur dengan jawaban kliseku.
“Memang yang bagaimana yang cocok untukmu?”
“Yang tidak bawel. Yang tidak penuntut. Yang tidak materialistis.”
“Ada yang seperti itu?”
Tahu-tahu kami tergelak bersama.
“Kau tak kepingin ada yang menunggumu di rumah? Ada yang mengurus keperluan hidupmu. Ada yang kau  hidupi. Ada yang menyandang namamu. Dan ada ada yang lain .....?”
Jika pertanyaan ini benar keluar dari hatinya maka aku bisa memastikan bisik-bisik di balik punggungnya itu salah belaka. Artinya hidupnya baik-baik saja. Artinya Reina yang cantik benar membahagiakannya. Artinya dia adalah Pram yang baik dan bahagia. Betapa sempurna dan indah hidupnya.
“Kau masih ingat hidupmu ketika bujang dulu, Pram?”
Dia mengerutkan kedua alisnya hingga bertaut.
“Ya, masa ketika kau bebas tidur dan bangun kapan saja kau mau. Bebas mengenakan baju apapun, bahkan ketika warna dan motifnya tabrak lari tak karuan. Tak ada yang mengomel walau seharian tak mandi sekalipun. Pulang kerja bebas mampir kemanapun yang kau mau. Bebas menghamburkan uangmu untuk gadget, buku, atau sekedar dongkrak mobil. Bebas menonton bola jam berapapun dan dimanapun kau mau. Yakin kau tak pernah kangen dengan masa itu?”
Tawanya kecil saja. Dia menudingku. Katanya, “Kau memang liberalis! Di matamu perempuan jadi seperti penjajah.”
“Tidak juga. Perempuan yang tepat pasti akan membahagiakan. Karena itu aku perlu yang tepat.”
“Tepat? Padahal tak ada yang sempurna........”
Tak ada yang sempurna. Siapa yang tak sempurna? Reina termasuk yang tak sempurna? Yang kutahu orang-orang menganggap dirinya tak cukup punya kekurangan sebagai laki-laki. Dan aku sepakat dengan mereka.
Selepas kalimat itu dia membereskan mejanya lalu mengajakku pergi. Kami tak berkata-kata lagi. Aku jadi tak punya alasan untuk mendetail apa yang tak sempurna tadi. Dia membunyikan klakson satu kali sebelum melajukan mobilnya.
Lalu kini mukanya tambah sering keruh. Lalu kabar baru mulai berhembus. Reina minta cerai. Pram mengabulkan. Tapi mestinya tak dengan hati ringan. Karena jika demikian mukanya tak akan sekeruh comberan. Mulutnya tetap terkunci. Tapi seperti biasa, bisik-bisik terus beredar seperti lebah yang tak bosan menggumam. Ada yang menghujat Reina tak tahu bersyukur, terus menuntut ini itu pada pangeran yang baik hati itu. Yang lain bercerita Pram memaksa ingin anak, tapi Reina tetap tak mau. Mulut yang lain lagi bilang Pram tak bisa lagi mengendalikan istrinya yang cantik jelita itu. Dan seperti biasa, mulut Pram tetap terkatup. Tak berusaha membuat mereka berhenti mendengung. Tak peduli apa yang mereka bisikan dan tinggal di kantor lebih lama. Lalu ketika tak juga ada penjelasan mulai ada saja yang kulihat berusaha mendekat padanya, para gadis di ruang administrasi dan logistik itu. Bahkan Yessi; janda manis, bagian akunting yang pendiam dan pemalu; juga ikut tertarik urun perhatian. Beberapa kali dengan sengaja dia mengambil tempat semeja dengan Pram saat makan siang, hal yang selama ini tak pernah dilakukannya. Bukti daya tarik Pram masih tak melemah. Tapi si magnet itu tetap keruh wajahnya, tetap terkunci rapat mulutnya, juga tak merespon apa-apa. Kurasa hatinya terkunci masih pada Reina.
Sudah lebih dari jam tujuh malam ketika aku lewat ruangannya. Sebenarnya aku tak hendak mampir tapi dia melambaikan tangannya, memanggilku masuk.
“Kau pulang sekarang?”
“Ya. Kenapa?”
“Aku numpang ya? Mobilku ada di bengkel.”
Hal yang tak biasa, tapi biar saja. Toh, tak ada ruginya mengangkut dia walau sampai rumahnya sekalipun. Aku malah senang. Sepanjang jalan dia lebih banyak bisu. Kalaupun bicara cuma pendek-pendek saja. Lalu terus-terusan menatap ke luar lewat kaca samping. Kubiarkan saja dia begitu, kadang orang perlu waktu untuk merenung.
“Kau tak ada janji dengan kekasihmu malam ini?”
Hehh, kekasih ....?! Pertanyaan yang mengejutkan. Karena isinya, juga karena terlontar setelah bermenit-menit mulutnya diam.
“Tak ada. Kenapa?”
“Makan dulu, yuk? Aku lapar sekali.“
“Boleh. Makan apa?”
Katanya apa saja. Ah, mereka yang sedang berkabung memang biasanya tak punya cukup selera untuk memilih makanan. Kubawa dia ke sop kaki kambing langgananku. Kupikir uap panasnya bisa membantu sedikit menghangatkan hatinya.
“Mau?”
Dia mengangguk, lalu pelan-pelan duduk di salah satu bangku.
“Reina juga suka makan disini.”
            Aku jadi menyesal. Seharusnya aku membawanya ke tempat lain. Mukanya sendu ketika meniup-niup kuah di sendoknya. Mungkin dia juga tengah berusaha meniup pergi kenangan Reina pernah duduk di satu bangku disitu.
            “Bagaimana kabarnya?”
            “Siapa?”
            “Reina.”
Kuusahakan sehati-hati mungkin menyebut nama itu. Aku berjanji tak akan mengulangi pertanyaanku jika dia tutup mulut. Tapi ternyata setelah menghela nafas dia menjawab.
            “Dia di rumah orangtuanya sekarang. Kau sudah dengar soal kami, kan? Aku tahu orang-orang membicarakanku.”
            “Jadi benar berita itu?”
            Dia mengangguk sambil menyingkirkan mangkuk sopnya ke samping; sisa separuh. Begitu juga nasinya.
            “Kenapa?”
            “Aku juga tak cukup mengerti..... Kupikir aku tak bodoh. Tapi dalam hal ini aku bodoh sekali.”
            Wajahnya memang tampak tolol dan lelah. Dia bukan si pintar yang biasanya.
            “Terus bagaimana?”
            Dia mengendikkan bahunya, membayar makanan kami, lalu mengajakku beranjak. Kupikir saatnya aku antar dia pulang. Tapi ternyata tidak. Malam ini sungguh dia mengejutkan. Tak dinyana dia minta ditemani ke klab. Hal yang tak pernah kubayangkan. Katanya dia kepingin minum sedikit. Kubawa dia ke hotel. Dan aku takjub melihatnya meneguk cairan itu. Meneguknya lagi, lagi, dan lagi. Lalu dengan badan bersandar di sofa dia mulai bicara. Matanya tertutup.
            “Susah sekali mengertinya .... Selalu ada yang tak betul...... Apa perempuan semua begitu?”
            Aku tak tahu. Aku tak punya pengalaman.
            “Perempuan itu aneh sekali ....”
            “Aneh bagaimana?”
            Jawabannya berupa gumaman, tapi aku masih bisa menangkap jelas.
            “Padaku dia bilang belum siap punya anak. Katanya nanti saja ketika rumah sudah lebih besar dan kita tak lagi banyak bertengkar. Tapi sekarang dia minta cerai karena ada anak laki-laki itu di perutnya. Dia sungguh menghinaku! Padahal aku mencintainya setengah mati......”
            Aku diam karena kaget. Dia juga diam, mungkin karena tambah mabuk. Tak ada lagi kata-kata dari mulutnya. Kubiarkan begitu lebih dari sejam. Lalu kupapah dia keluar.
            “Kepalaku pusing,” keluhnya di dalam mobil.
            “Kau mabuk.”
            Tanpa meminta persetujuannya, kubawa dia ke tempatku. Dia muntah-muntah di kamar mandi sebelum akhirnya lelap di kasurku.
            Pagi dia bangun dengan kusut dan awut-awut, menghampiriku di meja makan.
            “Untung kau membawaku kesini. Rumahku kosong.”
            Persis seperti yang kuduga. Kusorongkan kopi panas untuknya. Juga roti dan selai.
            “Cuma ada itu untuk sarapan.”
            “Tak apa. Maaf, aku merepotkanmu semalam.”
            “Tak masalah. Aku juga mabuk kadang-kadang.”
            “Aku mengoceh apa saja?”
            “Cuma soal Reina minta cerai darimu. Kau banyak bergumam, aku tak bisa jelas mendengar.” Kuputuskan sedikit berbohong. Dia bukan tipikal yang gampang menceritakan masalahnya. Pasti dia tak bermaksud mengungkap soal kehamilan Reina. Pasti itu aib yang ingin dia tutup rapat. Aib yang menyangkut harga dirinya sebagai laki-laki.
            Dia mengangguk. “Begitulah ...”
            “Terus?”
            “Biarlah, kuberikan saja apa maunya. Tak ada yang perlu dipertahankan.” Matanya mengamati sekeliling. “Rumahmu rapi sekali. Kau membersihkannya sendiri?”
            Aku mengerti itu sebuah pengalihan pembicaraan.
            “Ya. Aku tinggal sendiri. Juga jarang ada tamu. Jadi gampang membersihkannya.”
            Dia menatap arlojinya. Setengah jam lagi kami harus berangkat ke kantor.
            “Mandilah. Pakai kemejaku. Ambil sendiri di almari. Rasanya ukuran kita tak jauh beda. Pakai celanaku kalau kau mau. Ada satu yang masih baru dan belum pernah kupakai. Masih ada labelnya menempel.”
            Diteliti badannya. “Aku pinjam kemeja saja. Celana tak usah, masih bisa pakai ini.”
            “Ada handuk bersih rak itu. Juga sikat gigi baru.”
            Keluar dari kamar mandi, lagi dia mengeluh kepalanya sakit. Juga loyo. Kutawarkan obat pusing. Tapi dia menggeleng, meneguk sisa kopinya, mengambil lagi selembar roti.
            “Bagaimana kalau aku agak siang saja ke kantornya?”
            “Terserah kau. Nanti kusampaikan kau sedang tak enak badan.”
            “Aku tiduran dulu disini tidak apa-apa ya?”
            Tentu aku tak keberatan.
Jadilah aku berangkat sendiri. Katanya nanti dia akan memanggil taksi. Seandainya tak ada janji factory visit dengan Chester Hogan pasti aku temani dia leyeh-leyeh di rumah.
            Sepanjang hari itu aku menikmati hangat hatiku. Dan lebih hangat lagi melihatnya datang dengan kemejaku, putih bergaris biru. Standar sekali warna pilihannya. Dia menekuk lengannya hingga sesiku, mungkin karena kepanjangan. Ketika menjabat tangan Chester, kulihat wajahnya sedikit lebih cerah. Pasti efek tidur tambahan tadi, di kasurku.
            Sore hampir gelap. Dia masuk ke ruanganku.
            “Terima kasih untuk semalam. Aku kacau akhir-akhir ini. Jungkir balik rasanya.”
            “Tak apa. Aku pernah jauh lebih mabuk darimu.”
            “Ehmm.... apapun yang kau dengar dariku semalam tolong simpan untukmu saja.”
            “Ya. Aku mengerti itu urusan pribadimu.”
            Dia bangkit dari kursi, mencangklongkan tas ke bahunya.
            “Kau pulang sekarang?”
            “Ya. Kepingin tidur awal.”
            “Mau menumpang lagi? Aku tinggal menunggu satu e-mail keluar dari outbox-ku.”
            Dia menggeleng. “Terima kasih. Tapi tadi siang orang bengkel sudah mengantar mobilku kemari. Lagipula, aku takut akan memaksamu ke klab kalau menumpang lagi.” Dia mencoba bercanda.
            “Tak apa, asal kau masih betah tidur di rumah bujanganku.”
Senyumnya terkembang cukup lebar. “Kapan-kapan kalau perlu aku akan menumpang kau lagi. Asal kau tak kapok saja.”
            Dia mungkin sudah melaju dalam mobilnya di jalan sana sekarang. Tapi aku masih duduk, mengingat, dan melihatnya jelas di pikiranku. Dia yang kupapah. Dia yang tidur bergelung di kasurku, memeluk erat gulingku. Dia yang mereguk kopi buatanku dari mugku, dan mengunyah roti di meja makanku. Dia yang menyeka badannya dengan handukku, lalu mengenakan kemejaku...... Ya, memang cuma itu, tapi sungguh sekelumit yang menyenangkan. Sungguh menghangatkan hati. Seperti sebuah kado indah yang tiba-tiba saja kudapatkan setelah sekian lama menata sikap terhadapnya. Ah, tapi dia tak perlu tahu .....


***

Kamis, 31 Desember 2015

Terompet

Tet tetet tetetttttttttttttttttt...... begitulah bunyinya ....
Terompet di malam tahun baru apa artinya? Resolusi baru? Ehmmm.... silahkan, tapi pastikan untuk tidak jadi resolusi hangat-hangat tahi ayam ... hehehhehehe...

Tet tetet tetettttttttttttttttttttttt

Senin, 30 November 2015

Puasa Media

Tempo hari seorang teman menyarankan agar saya meninggalkan koran, buku, dan televisi selama sebulan.  Katanya ini dimaksudkan agar saya bisa mulai belajar mendengarkan ‘suara’ dari dalam diri sendiri. Sebulan penuh, mulai sejak dia mengucapkan itu pada pertemuan kami. Saya melongo. Sebulan penuh tanpa media alias puasa media, begitu pendeknya. Saat itu yang terpikir adalah mampukah dan apa enaknya hidup tanpa media seperti itu? Teman saya tersenyum, berkata bahwa dia tahu itu bakal berat buat saya tapi di akhir puasa saya akan merasakan manfaatnya.  Baiklah saya akan lakukan, jawab saya. Lagi dia tersenyum senang. Dan dengan sangat baik dan murah hati dia memberikan tiga buku agama dan beberapa barang. Buku agama itu katanya sebagai ganti dari buku-buku yang dilarangnya saya baca karena selama masa sebulan itu saya cuma boleh membaca buku agama dan buku cerita anak-anak.

Jadilah sejak keesokan harinya saya puasa media. Berat karena walau tak tergantung pada televisi, saya punya kebiasaan makan di depan layar gelas itu, sekedar menonton berita. Juga saat itu sedang berlangsung ajang kompetisi pencarian bakat yang tayang seminggu sekali dan saya tonton tiap minggunya. Dengan berat saya meninggalkannya. Tempat makan pindah ke teras. Saya berusaha keras untuk tidak mendengar suara apapun dari televisi. Kalau pas lewat ruangan duduk dan kebetulan televisi menyala karena ditonton bapak atau ibu saya maka saya akan memalingkan muka dan menulikan telinga. Saya juga jadi rajin mematikan televisi yang sering dinyalakan oleh ibu saya ketika beliau memasak. Saya juga yang mematikan televisi yang ditinggalkan begitu saja oleh bapak saya. Pokoknya begitu pegang remote maka satu-satunya tombol yang saya pencet adalah power, lalu plas matilah dia.

Koran. Nah, ini juga hal berat untuk ditinggalkan.  Saya bukan termasuk pembaca koran yang melahap habis seluruh halamannya. Tidak, selama ini saya pembaca yang pemilih. Headline tentu saya baca. Kolom-kolom opini kalau tidak terlalu ruwet juga akan saya baca. Berita ekonomi dan bisnis asal ulasannya tak penuh variabel yang njelimet juga jadi pilihan saya. Berita luar negeri termasuk pilihan utama. Berita sosial budaya termasuk minat saya. Berita olah raga juga jarang saya lewatkan terutama jika menyangkut tenis. Jadi jelas terasa ada yang hilang ketika koran tak boleh lagi saya baca. Alhasil apa yang saya kerjakan adalah sekedar melipat koran yang ditinggalkan tak beraturan oleh bapak atau kakak saya. Tak itu saja, saya juga tak membaca berita dari situs online, pun rupa-rupa berita yang di-share di media sosial.

Buku. Sungguh ini luar biasa berat karena ketika teman saya memberikan tantangan itu, saya sedang menyimpan beberapa novel pemberian teman yang belum terbaca. Yes, novel ada godaan besar. Saya termasuk yang mengeloni buku di tempat tidur. Buku juga hampir selalu menjadi teman menjelang tidur. Begitu mulai puasa media, yang pertama saya lakukan adalah menyingkirkan semua itu dari atas tempat tidur. Sengaja saya balik susunan buku sehingga tak terbaca judulnya.
Seminggu pertama berat sekali melakoni itu semua. Saya terus menerus memimpikan masa sebulan itu segera lewat. Masuk minggu kedua mulai terasa ringan. Merajut; kegiatan yang diijinkan teman saya dan sangat disarankan; jadi pengalihan yang menyenangkan. Minggu ketiga dan keempat terasa longgar. Buku, koran, dan televisi tak tampak menarik. Begitu genap sebulan yang artinya sudah boleh buka puasa saya juga tak jadi kemaruk segala hal itu.

Ya, informasi ataupun berita atau apalah namanya terkadang bukan sesuatu yang memberikan energi positif bagi saya. Sebulan tanpa semua itu saya jadi mulai mengerti betapa semua itu bisa menggiring saya ke arah-arah tertentu. Semua itu juga bisa memicu kemarahan, kecewa, sedih, putus asa, pikiran negatif, dan apapun tanpa saya sadari. Sebagai contoh jika saya menonton berita politik negeri ini yang selalu gaduh sana gaduh sini. Akan timbul paling kemarahan, dan kecewa karena perilaku orang-orang yang sebenarnya tak saya kenal. Mereka sih santai-santai saja wong sudah pekerjaannya begitu. Sementara saya diam-diam menumpuk banyak hal negatif di bawah sadar saya, teracuni, tergiring ke arah yang entah menuju kemana atau siapa, dan sebagainya. Ini kurang lebih yang disebut teman saya bahwa perlu belajar lagi mendengarkan suara dari dalam diri, suara nurani sendiri. Terlalu riuhnya suara-suara luar membuat saya tak bisa mendengar suara dalam diri saya sendiri.

Sekarang di tengah segala kegaduhan negeri ini, seakan saya punya alternatif untuk keluar darinya, yaitu menutup semua akses berita agar tak bisa menyentuh saya, agar tak terpengaruh menjadi keruh. Sungguh sampai sekarang tak putus rasa terima kasih saya pada teman yang mengajarkan ini.


Mau coba juga ? 

Sabtu, 31 Oktober 2015

MAJEK

Satu kegiatan yang jamak diperani ibu-ibu seangkatan saya adalah menjadi majek. Majek alias mama ojek yaitu mengantar jemput anak-anaknya kemana saja, tak cuma ke sekolah tapi juga les ini itu, belajar kelompok, ekskul, dan sebagainya. Seorang teman yang anaknya lebih dari dua dengan umur yang berbeda-beda bisa kisaran lima kali sehari pulang pergi karena masing-masing anak punya jadwal kegiatan sendiri-sendiri yang bisa berarti beda jam dan beda tempat. Capek nggak, begitu tanya saya. Katanya capek juga sih, tapi mau bagaimana lagi wong memang kondisinya begitu. Katanya untung dia tak kerja kantoran jadi gampang saja melakukan yang begitu. Tapi tak kerja kantoran bukan berarti dia tak bekerja lho. Si ibu ini punya kegiatan usaha di rumah dan tak punya asisten rumah tangga. Dan tugas ngojek ini tak bisa dibagi dengan sang bapak karena beliaunya mengantor yang tentu tak memungkinkan untuk keluar seenak udelnya.

Saya jadi membandingkan kondisi ini dengan jaman saya sekolah TK, SD, SMP, dan SMA puluhan tahun yang lalu. Tua amat yaaaa...? Hahahahaha.... Saya menghabiskan keempat masa sekolah itu di kota kecil, cuma sebuah kabupaten yang sedang-sedang saja tingkat keramaiannya. Saya ingat betul jaman TK orangtua mengabonemenkan becak untuk kami bertiga. Waktu itu kedua kakak saya sudah masuk SD. Untuk menghemat tenaga pak tukang becak karena jarak rumah dengan sekolah lebih dari lima kilometet, saya mesti ikut berangkat pada jam yang sama dengan kedua kakak berangkat walau sebenarnya jam masuk saya setengah jam lebih lambat dari mereka. Cuma pulangnya saya dijemput sendiri. Terus waktu SD hanya sebentar  abonemen becaknya. Sebab keluarga kami pindah ke kota lain dan sekolah jadi lebih dekat. Kedua kakak diijinkan untuk berangkat sendiri bersama teman-teman mereka. Sementara saya masih naik becak tapi tidak abonemen. Masuk kelas tiga, seingat saya makin jarang naik becak, dan lebih sering pergi bareng dengan kakak, jalan kaki. Waktu seumur itu saya tak punya kegiatan kursus atau les seingat saya. Paling belajar atau tugas kelompok yang sering-sering dikerjakan di rumah saya dengan teman-teman datang bersepeda. Mulai kelas lima saya sudah diijinkan untuk berjalan atau bersepeda sendiri ke sekolah. Kakak-kakak sudah masuk SMP waktu itu. SMP dan SMA juga saya lakoni dengan berjalan kaki dan bersepeda, dan semakin banyak teman seperjalanan.

Seperti saya bilang, saya tak sendirian. Banyak teman saya melakukan hal serupa. Sebagian malah dengan jarak rumah yang berlipat-lipat lebih jauh. Ada yang rumahnya berjarak lebih dari dua belas kilometer dari sekolah dan dilakoni dengan sepeda onthel karena memang tak ada kendaraan umum yang bisa digunakan. Alhasil setiap kali sampai sekolah rata-rata punggung mereka basah dan bedaknya luntur. Tapi ya dilakoni terus wong namanya nggak ada pilihan lain. Pernah satu kali saya bersepeda ke rumah teman yang jauhnya kisaran sepuluh kilometer dari rumah saya. Waktu itu sekolah masuk siang dan harus membawa kecebong untuk pelajaran biologi. Karena tak menemukan kecebong di sekitar rumah, nekadlah saya ke rumah teman tersebut. Lumayan juga pegalnya mengayuh pedal dua kali sepuluh kilometer. Lha padahal teman saya melakoninya setiap hari, bisa dalam kondisi panas terik ataupun hujan deras. Mengingat iku sekarang saya jadi begitu salut pada mereka. Mengayuh sepeda duapuluhan kilometer sehari demi sekolah tentu belum apa-apa karena sekarang pun kenyataannya masih banyak anak-anak di negeri ini yang mesti melintasi jembatan yang nyaris ambrol atau berjalan kaki puluhan kilometer. Tapi membandingkannya dengan mereka yang diantar jemput dengan majek tentu terasa lain.


Hai, jangan salah ya, saya tidak sedang menjustifikasi mereka yang punya fasilitas majek itu bagaimana bagaimana. Tidak, sama sekali bukan begitu. Saya sekedar membandingkan apa yang saya alami dulu dengan saat ini. Sejak dua tahun lalu saya kembali ke kota yang sama dengan yang saya tinggali ketika jaman SD hingga SMA. Memandangi kembali bekas sekolah saya yang sekarang lebih mentereng membuat teringat semua itu. Tapi di jalan-jalan tak lagi banyak saya temui pelajar bersepeda, apalagi berjalan. Bersepeda masihlah ada, tapi tak sebanyak dulu jaman saya. Kalau yang berjalan, ehmmmmm kok rasanya tak pernah lagi ya menemukannya? Pelajar-pelajar SMU rata-rata sudah mengemudikan motor sendiri. Beberapa malah mengendarai mobil. Sementara yang lebih muda ya itu tadi, pakai layanan majek, mama ojek. 

Sabtu, 26 September 2015

Ketemu Pesohor


Masih ramai diberitakan di media saat ini soal pimpinan dewan yang bertemu, kemudian ikut tampil dalam jumpa pers yang digelar seorang pengusaha USA super terkenal dan, tentu saja, kaya raya, dan lagi berambisi menjadi pemimpin negeri. Jangan salah, saya menulis kali ini bukan untuk ikut meramaikan silang pendapat tentang benar atau tidaknya tindakan itu. Jujur, saya sedang tidak mood membicarakannya dari sisi tersebut. Toh, sudah banyak sekali yang berpendapat ini itu, dan yang bersangkutan juga sudah membela diri dengan alasan segala rupa.

Saya lebih tertarik membicarakan ekspresi wajah dua pimpinan dewan yang jelas tertangkap kamera dan videonya diunggah di youtube. Selalu geli saya melihat ekspresi wajah mereka. Lihat, betapa mereka tersenyum-senyum, yang menurut opini saya pribadi itu adalah senyum bangga. Lihat kilatan mata sang orang kedua, kilatan mata yang begitu hidup! Mungkin jika mata itu bisa bicara, dia bakal ngomong, “hei, lihat! Saya sedang dengan dia yang terkena! Hebat kan saya? Kamu nggak bisa begini kan? Silahkan iri!” Sementara si orang pertama yang tampak sedikit lebih kalem. Memang selama tampil di media sebelum-sebelum ini, dia menurut saya lebih kalem ketimbang si orang kedua yang selalu tampak antusias jika diwawancara, terlebih ketika berkepentingan membela bosnya. Tapi kalem bukan berarti tak bangga lho. Lihat senyumnya yang agak malu-malu kucing itu. Lihat kilau matanya. Kalau mata itu bisa bicara maka menurut saya inti kalimatnya tak beda jauh dengan yang diucapkan oleh mata si orang kedua, sama-sama bangga ada di sana. Hahahahahaha.... sungguh, berkali-kali rekaman itu ditayangkan, berkali-kali saya melihatnya dan selalu tertawa. Seorang rekan mereka yang dimintai pendapat oleh wartawan agaknya juga berpikir sama dengan saya. Intinya kurang lebih sang rekan ini bilang bahwa wajar-wajar saja mereka di situ bersama si bule yang terkenal seantero dunia. Masih kata sang rekan, tak perlu diperbesar-besarkan toh si bule belum resmi jadi kandidat presiden dan kalaupun sampai jadi presiden pun itu bakal jadi memori tersendiri bagi kedua pimpinan dewan itu. Nah lho, berarti benar soal kebanggaan yang saya sebut di atas tadi. Soal benar atau salah menurut kode etik yaaa embuhlah! Namanya juga mumpung lagi ketemu mereka yang terkenal ya mosok dibiarkan saja momen itu berlalu? Begitu ya, Pak? Hehehehehhe.....

Ketemu orang terkenal memang sesuatu. Apalagi jika orang itu termasuk yang  diidolakan, wah tambah lebih dari sesuatulah. Cuma kok saya sering berpikir sebaliknya ya? Ketika ketemu orang beken saya bukan termasuk yang buru-buru mendekat meminta foto bersama. Saya lebih suka diam-diam mengamati dari jarak aman, mencari momen-momen khusus yang menunjukkan bahwa sebeken apapun dia tetaplah manusia biasa.

Satu kali saya tengah menunggu kereta malam untuk pulang ke Surabaya dari Jakarta. Lalu saya lihat satu sosok bule tinggi yang wajahnya sering tampil di koran. Saya mengenali rohaniawan sekaligus budayawan itu. Agak tertunduk-tunduk dia membawa tasnya masuk ke gerbong. Wajahnya ramah biasa, tidak menantang sekitar untuk mengenalinya. Juga sabar menunggu antrian, tampak maklum ketika orang mendesaknya. Oh jadi begitu ya dia kesehariannya, cukup sama dengan apa yang selama ini ditulisnya di artikelnya. Teman yang sedari tadi duduk di sebelah saya menunjuknya dengan dagu, apakah saya kenal siapa dia. Entah mengapa dia agak terkejut ketika saya sanggup menyebut lengkap nama beliau. Ah, kau pikir aku tak pernah baca koran ya, Kang? Lalu dia bertanya apakah saya akan menyambangi gerbongnya sekedar minta tanda tangan atau apa karena toh kami ada di kereta yang sama cuma beda gerbong saja. Tak saya lakukan hal itu, cukup sudah melihat sosoknya menjejak peron yang sama dengan saya.

Kali lain selesai menikmati midnight show di bioskop, saya pindah bersama rombongan teman pindah nongkrong ke restoran cepat saji yang buka 24 jam. Baru saja menempelkan pantat ke kursi, muka saya berhadapan dengan wajah terkenal. Penyanyi laki-laki. Jarak kami dipisahkan dengan satu meja kosong. Dan kami saling menatap. Saya sempat menimbang-nimbang apakah perlu menyenyuminya dengan girang, atau diam-diam saja. Akhirnya dia yang memberi saya senyum tipis sebelum mengalihkan pandangan ke foto menu. Seorang teman menyenggol siku saya sambil membisikkan nama si pesohor. Ah, tak perlu dibisiki saya juga sudah tahu. Kali ini pun saya tak berminat mendekat. Cukup menyaksikannya tersenyum enggan meladeni mbak-mbak yang datang menyapa. Ya wajarlah kalau dia enggan. Waktu itu dini hari, mungkin dia mengantuk dan lapar sekaligus. “Nggak nyamperi?” tanya teman saya. Saya menggeleng. Kenapa? Ehmmmm kenapa ya? Salah satunya karena saya juga mulai mengantuk dan lapar. Sebab lain mungkin juga karena saya tak terlalu suka dengan lagu-lagu sedihnya.... hehhehehehehehe.... Mendapat senyum tipis cukuplah, lalu biarlah dia mengisi perutnya dengan tenang seperti saya.

Eh tapi pernah juga lho saya berfoto dan minta tanda tangan pesohor. Itu terjadi pas saya terpilih untuk ikut dalam semacam klinik menulis yang diadakan oleh penulis fiksi terkenal yang saya gandrungi. Sumpah, senengggggggggggg sekali. Saya sampai sanggup duduk menunggu selama lebih dari satu jam sebelum sang penulis ini datang. Dan seperti biasa, saya mencari momen kecil tentangnya dan saya dapatkan itu. Saya tengah mengangkat kamera, menunggu momen untuk memotretnya. Waktu itu dia masih berdiri di pinggir ruangan, menunggu sang pembawa acara yang masih memberi prolog untuk memperkenalkannya. Sang bintang yang berdiri santai memegang kertas catatannya tiba-tiba menoleh kepada saya dan tersenyum. Saya langsung menjepretnya sambil berucap terima kasih. Bukan foto yang bagus karena tak terlalu fokus, tapi saya senang dengan aksi kecilnya itu. Selepas acara, peserta  menedekat, rata-rata membawa minimal dua buku untuk dia tandatangani. Sementara saya sudah merasa cukup membawa satu saja. Bukan karena saya tak mengkoleksi bukunya, tapi karena tak mau membuat tangannya pegal saja. Apalagi toh bukan tanda-tangannya yang saya butuhkan. Setelahnya kami berfoto bersama. Bisa ditebak, itu bukan foto yang bagus karena saya bingung bagaimana harus berpose dan menata wajah agar tak kalah cantik dengannya . Dan ketika peserta lain mengunggah foto mereka di media sosial, saya cukup menyimpannya di dalam komputer saja.

Yang terakhir ketika saya ikut workshop gratisan tempo hari. Pematerinya seorang fotografer profesional terkenal. Saya datang awal sehingga sempat melihat sesi persiapan sebelum acara dimulai. Agaknya si beken ini tipikal yang tak segan terlibat dalam pekerjaan persiapan walau tentu sudah ada tim ataupun orang kepercayaannya. Buktinya dia sudah hadir di lokasi lebih dari dua jam sebelum acara dimulai, berbaur melakukan ini itu dengan panitia dan timnya. Saya melihat dia mondar-mandir, diekori dan mengekori orang lain. Jadi begini ya cara kerja fotografer profesional nan terkenal... Saya senang saja melihatnya ikut repot, tak berlaku sebagai orang penting yang mesti dilayani. Oh iya, saya juga senang melihat interaksinya dengan istrinya yang ikut mendampingi. Senang melihat mereka berjalan rapat-rapat dan berbaju sewarna, hitam semua. Sengaja atau tidak ya soal bajunya? Embuhlah. Dan soal baju ini saya sempat kecele karena berpikir si beken ini akan salin nantinya. Ternyata tidak. Celana yang dipakainya tetaplah celana sepanjang setengah betis yang memang sudah dipakai sejak datang tadi. Jadi acara workshop itu dibonusi pemandangan betis telanjangnya .... hheheheheh... ya wislah ga papa. Seusai acara begitu banyak yang bergerombol menunggu kesempatan minta foto bersama, termasuk teman-teman saya. Sementara saya memilih tempat di depan seluruh adegan itu terjadi sambil mengunyah kue yang diberikan panitia. “Nggak ikut foto?” tanya teman saya. Tidak usahlah, jawab saya sembari mencomot kue kedua. Sementara di depan sana si beken membuat pose yang diulang-ulang terus : merangkul ringan bahu seseorang dan tersenyum menatap kamera. Diam-diam saya berdoa semoga dia tak bosan melakukannya.

Iya, sungguh ketika melihat pesohor meladeni pengagum bin penggemarnya saya selalu bertanya dalam hati dia bosan nggak ya, atau menikmati dikagumi gitu nggak ya? Masalahnya yang pada minta foto, tanda tangan, atau semacamnya pasti senang hati bisa ketemu muka dengan idolanya. Tapi apa sang idola juga berpikiran sama? Jangan-jangan malah sebel karena mesti berbasa-basa dan menjaga sikap baik demi tak kehilangan penggemar ...... Jangan-jangan lho..... Kan mereka juga manusia biasa......


Gambar dipinjam dari http://www.shutterstock.com/s/celebrity/search.html?page=1&inline=115442800