Sabtu, 31 Oktober 2015

MAJEK

Satu kegiatan yang jamak diperani ibu-ibu seangkatan saya adalah menjadi majek. Majek alias mama ojek yaitu mengantar jemput anak-anaknya kemana saja, tak cuma ke sekolah tapi juga les ini itu, belajar kelompok, ekskul, dan sebagainya. Seorang teman yang anaknya lebih dari dua dengan umur yang berbeda-beda bisa kisaran lima kali sehari pulang pergi karena masing-masing anak punya jadwal kegiatan sendiri-sendiri yang bisa berarti beda jam dan beda tempat. Capek nggak, begitu tanya saya. Katanya capek juga sih, tapi mau bagaimana lagi wong memang kondisinya begitu. Katanya untung dia tak kerja kantoran jadi gampang saja melakukan yang begitu. Tapi tak kerja kantoran bukan berarti dia tak bekerja lho. Si ibu ini punya kegiatan usaha di rumah dan tak punya asisten rumah tangga. Dan tugas ngojek ini tak bisa dibagi dengan sang bapak karena beliaunya mengantor yang tentu tak memungkinkan untuk keluar seenak udelnya.

Saya jadi membandingkan kondisi ini dengan jaman saya sekolah TK, SD, SMP, dan SMA puluhan tahun yang lalu. Tua amat yaaaa...? Hahahahaha.... Saya menghabiskan keempat masa sekolah itu di kota kecil, cuma sebuah kabupaten yang sedang-sedang saja tingkat keramaiannya. Saya ingat betul jaman TK orangtua mengabonemenkan becak untuk kami bertiga. Waktu itu kedua kakak saya sudah masuk SD. Untuk menghemat tenaga pak tukang becak karena jarak rumah dengan sekolah lebih dari lima kilometet, saya mesti ikut berangkat pada jam yang sama dengan kedua kakak berangkat walau sebenarnya jam masuk saya setengah jam lebih lambat dari mereka. Cuma pulangnya saya dijemput sendiri. Terus waktu SD hanya sebentar  abonemen becaknya. Sebab keluarga kami pindah ke kota lain dan sekolah jadi lebih dekat. Kedua kakak diijinkan untuk berangkat sendiri bersama teman-teman mereka. Sementara saya masih naik becak tapi tidak abonemen. Masuk kelas tiga, seingat saya makin jarang naik becak, dan lebih sering pergi bareng dengan kakak, jalan kaki. Waktu seumur itu saya tak punya kegiatan kursus atau les seingat saya. Paling belajar atau tugas kelompok yang sering-sering dikerjakan di rumah saya dengan teman-teman datang bersepeda. Mulai kelas lima saya sudah diijinkan untuk berjalan atau bersepeda sendiri ke sekolah. Kakak-kakak sudah masuk SMP waktu itu. SMP dan SMA juga saya lakoni dengan berjalan kaki dan bersepeda, dan semakin banyak teman seperjalanan.

Seperti saya bilang, saya tak sendirian. Banyak teman saya melakukan hal serupa. Sebagian malah dengan jarak rumah yang berlipat-lipat lebih jauh. Ada yang rumahnya berjarak lebih dari dua belas kilometer dari sekolah dan dilakoni dengan sepeda onthel karena memang tak ada kendaraan umum yang bisa digunakan. Alhasil setiap kali sampai sekolah rata-rata punggung mereka basah dan bedaknya luntur. Tapi ya dilakoni terus wong namanya nggak ada pilihan lain. Pernah satu kali saya bersepeda ke rumah teman yang jauhnya kisaran sepuluh kilometer dari rumah saya. Waktu itu sekolah masuk siang dan harus membawa kecebong untuk pelajaran biologi. Karena tak menemukan kecebong di sekitar rumah, nekadlah saya ke rumah teman tersebut. Lumayan juga pegalnya mengayuh pedal dua kali sepuluh kilometer. Lha padahal teman saya melakoninya setiap hari, bisa dalam kondisi panas terik ataupun hujan deras. Mengingat iku sekarang saya jadi begitu salut pada mereka. Mengayuh sepeda duapuluhan kilometer sehari demi sekolah tentu belum apa-apa karena sekarang pun kenyataannya masih banyak anak-anak di negeri ini yang mesti melintasi jembatan yang nyaris ambrol atau berjalan kaki puluhan kilometer. Tapi membandingkannya dengan mereka yang diantar jemput dengan majek tentu terasa lain.


Hai, jangan salah ya, saya tidak sedang menjustifikasi mereka yang punya fasilitas majek itu bagaimana bagaimana. Tidak, sama sekali bukan begitu. Saya sekedar membandingkan apa yang saya alami dulu dengan saat ini. Sejak dua tahun lalu saya kembali ke kota yang sama dengan yang saya tinggali ketika jaman SD hingga SMA. Memandangi kembali bekas sekolah saya yang sekarang lebih mentereng membuat teringat semua itu. Tapi di jalan-jalan tak lagi banyak saya temui pelajar bersepeda, apalagi berjalan. Bersepeda masihlah ada, tapi tak sebanyak dulu jaman saya. Kalau yang berjalan, ehmmmmm kok rasanya tak pernah lagi ya menemukannya? Pelajar-pelajar SMU rata-rata sudah mengemudikan motor sendiri. Beberapa malah mengendarai mobil. Sementara yang lebih muda ya itu tadi, pakai layanan majek, mama ojek. 

Sabtu, 26 September 2015

Ketemu Pesohor


Masih ramai diberitakan di media saat ini soal pimpinan dewan yang bertemu, kemudian ikut tampil dalam jumpa pers yang digelar seorang pengusaha USA super terkenal dan, tentu saja, kaya raya, dan lagi berambisi menjadi pemimpin negeri. Jangan salah, saya menulis kali ini bukan untuk ikut meramaikan silang pendapat tentang benar atau tidaknya tindakan itu. Jujur, saya sedang tidak mood membicarakannya dari sisi tersebut. Toh, sudah banyak sekali yang berpendapat ini itu, dan yang bersangkutan juga sudah membela diri dengan alasan segala rupa.

Saya lebih tertarik membicarakan ekspresi wajah dua pimpinan dewan yang jelas tertangkap kamera dan videonya diunggah di youtube. Selalu geli saya melihat ekspresi wajah mereka. Lihat, betapa mereka tersenyum-senyum, yang menurut opini saya pribadi itu adalah senyum bangga. Lihat kilatan mata sang orang kedua, kilatan mata yang begitu hidup! Mungkin jika mata itu bisa bicara, dia bakal ngomong, “hei, lihat! Saya sedang dengan dia yang terkena! Hebat kan saya? Kamu nggak bisa begini kan? Silahkan iri!” Sementara si orang pertama yang tampak sedikit lebih kalem. Memang selama tampil di media sebelum-sebelum ini, dia menurut saya lebih kalem ketimbang si orang kedua yang selalu tampak antusias jika diwawancara, terlebih ketika berkepentingan membela bosnya. Tapi kalem bukan berarti tak bangga lho. Lihat senyumnya yang agak malu-malu kucing itu. Lihat kilau matanya. Kalau mata itu bisa bicara maka menurut saya inti kalimatnya tak beda jauh dengan yang diucapkan oleh mata si orang kedua, sama-sama bangga ada di sana. Hahahahahaha.... sungguh, berkali-kali rekaman itu ditayangkan, berkali-kali saya melihatnya dan selalu tertawa. Seorang rekan mereka yang dimintai pendapat oleh wartawan agaknya juga berpikir sama dengan saya. Intinya kurang lebih sang rekan ini bilang bahwa wajar-wajar saja mereka di situ bersama si bule yang terkenal seantero dunia. Masih kata sang rekan, tak perlu diperbesar-besarkan toh si bule belum resmi jadi kandidat presiden dan kalaupun sampai jadi presiden pun itu bakal jadi memori tersendiri bagi kedua pimpinan dewan itu. Nah lho, berarti benar soal kebanggaan yang saya sebut di atas tadi. Soal benar atau salah menurut kode etik yaaa embuhlah! Namanya juga mumpung lagi ketemu mereka yang terkenal ya mosok dibiarkan saja momen itu berlalu? Begitu ya, Pak? Hehehehehhe.....

Ketemu orang terkenal memang sesuatu. Apalagi jika orang itu termasuk yang  diidolakan, wah tambah lebih dari sesuatulah. Cuma kok saya sering berpikir sebaliknya ya? Ketika ketemu orang beken saya bukan termasuk yang buru-buru mendekat meminta foto bersama. Saya lebih suka diam-diam mengamati dari jarak aman, mencari momen-momen khusus yang menunjukkan bahwa sebeken apapun dia tetaplah manusia biasa.

Satu kali saya tengah menunggu kereta malam untuk pulang ke Surabaya dari Jakarta. Lalu saya lihat satu sosok bule tinggi yang wajahnya sering tampil di koran. Saya mengenali rohaniawan sekaligus budayawan itu. Agak tertunduk-tunduk dia membawa tasnya masuk ke gerbong. Wajahnya ramah biasa, tidak menantang sekitar untuk mengenalinya. Juga sabar menunggu antrian, tampak maklum ketika orang mendesaknya. Oh jadi begitu ya dia kesehariannya, cukup sama dengan apa yang selama ini ditulisnya di artikelnya. Teman yang sedari tadi duduk di sebelah saya menunjuknya dengan dagu, apakah saya kenal siapa dia. Entah mengapa dia agak terkejut ketika saya sanggup menyebut lengkap nama beliau. Ah, kau pikir aku tak pernah baca koran ya, Kang? Lalu dia bertanya apakah saya akan menyambangi gerbongnya sekedar minta tanda tangan atau apa karena toh kami ada di kereta yang sama cuma beda gerbong saja. Tak saya lakukan hal itu, cukup sudah melihat sosoknya menjejak peron yang sama dengan saya.

Kali lain selesai menikmati midnight show di bioskop, saya pindah bersama rombongan teman pindah nongkrong ke restoran cepat saji yang buka 24 jam. Baru saja menempelkan pantat ke kursi, muka saya berhadapan dengan wajah terkenal. Penyanyi laki-laki. Jarak kami dipisahkan dengan satu meja kosong. Dan kami saling menatap. Saya sempat menimbang-nimbang apakah perlu menyenyuminya dengan girang, atau diam-diam saja. Akhirnya dia yang memberi saya senyum tipis sebelum mengalihkan pandangan ke foto menu. Seorang teman menyenggol siku saya sambil membisikkan nama si pesohor. Ah, tak perlu dibisiki saya juga sudah tahu. Kali ini pun saya tak berminat mendekat. Cukup menyaksikannya tersenyum enggan meladeni mbak-mbak yang datang menyapa. Ya wajarlah kalau dia enggan. Waktu itu dini hari, mungkin dia mengantuk dan lapar sekaligus. “Nggak nyamperi?” tanya teman saya. Saya menggeleng. Kenapa? Ehmmmm kenapa ya? Salah satunya karena saya juga mulai mengantuk dan lapar. Sebab lain mungkin juga karena saya tak terlalu suka dengan lagu-lagu sedihnya.... hehhehehehehehe.... Mendapat senyum tipis cukuplah, lalu biarlah dia mengisi perutnya dengan tenang seperti saya.

Eh tapi pernah juga lho saya berfoto dan minta tanda tangan pesohor. Itu terjadi pas saya terpilih untuk ikut dalam semacam klinik menulis yang diadakan oleh penulis fiksi terkenal yang saya gandrungi. Sumpah, senengggggggggggg sekali. Saya sampai sanggup duduk menunggu selama lebih dari satu jam sebelum sang penulis ini datang. Dan seperti biasa, saya mencari momen kecil tentangnya dan saya dapatkan itu. Saya tengah mengangkat kamera, menunggu momen untuk memotretnya. Waktu itu dia masih berdiri di pinggir ruangan, menunggu sang pembawa acara yang masih memberi prolog untuk memperkenalkannya. Sang bintang yang berdiri santai memegang kertas catatannya tiba-tiba menoleh kepada saya dan tersenyum. Saya langsung menjepretnya sambil berucap terima kasih. Bukan foto yang bagus karena tak terlalu fokus, tapi saya senang dengan aksi kecilnya itu. Selepas acara, peserta  menedekat, rata-rata membawa minimal dua buku untuk dia tandatangani. Sementara saya sudah merasa cukup membawa satu saja. Bukan karena saya tak mengkoleksi bukunya, tapi karena tak mau membuat tangannya pegal saja. Apalagi toh bukan tanda-tangannya yang saya butuhkan. Setelahnya kami berfoto bersama. Bisa ditebak, itu bukan foto yang bagus karena saya bingung bagaimana harus berpose dan menata wajah agar tak kalah cantik dengannya . Dan ketika peserta lain mengunggah foto mereka di media sosial, saya cukup menyimpannya di dalam komputer saja.

Yang terakhir ketika saya ikut workshop gratisan tempo hari. Pematerinya seorang fotografer profesional terkenal. Saya datang awal sehingga sempat melihat sesi persiapan sebelum acara dimulai. Agaknya si beken ini tipikal yang tak segan terlibat dalam pekerjaan persiapan walau tentu sudah ada tim ataupun orang kepercayaannya. Buktinya dia sudah hadir di lokasi lebih dari dua jam sebelum acara dimulai, berbaur melakukan ini itu dengan panitia dan timnya. Saya melihat dia mondar-mandir, diekori dan mengekori orang lain. Jadi begini ya cara kerja fotografer profesional nan terkenal... Saya senang saja melihatnya ikut repot, tak berlaku sebagai orang penting yang mesti dilayani. Oh iya, saya juga senang melihat interaksinya dengan istrinya yang ikut mendampingi. Senang melihat mereka berjalan rapat-rapat dan berbaju sewarna, hitam semua. Sengaja atau tidak ya soal bajunya? Embuhlah. Dan soal baju ini saya sempat kecele karena berpikir si beken ini akan salin nantinya. Ternyata tidak. Celana yang dipakainya tetaplah celana sepanjang setengah betis yang memang sudah dipakai sejak datang tadi. Jadi acara workshop itu dibonusi pemandangan betis telanjangnya .... hheheheheh... ya wislah ga papa. Seusai acara begitu banyak yang bergerombol menunggu kesempatan minta foto bersama, termasuk teman-teman saya. Sementara saya memilih tempat di depan seluruh adegan itu terjadi sambil mengunyah kue yang diberikan panitia. “Nggak ikut foto?” tanya teman saya. Tidak usahlah, jawab saya sembari mencomot kue kedua. Sementara di depan sana si beken membuat pose yang diulang-ulang terus : merangkul ringan bahu seseorang dan tersenyum menatap kamera. Diam-diam saya berdoa semoga dia tak bosan melakukannya.

Iya, sungguh ketika melihat pesohor meladeni pengagum bin penggemarnya saya selalu bertanya dalam hati dia bosan nggak ya, atau menikmati dikagumi gitu nggak ya? Masalahnya yang pada minta foto, tanda tangan, atau semacamnya pasti senang hati bisa ketemu muka dengan idolanya. Tapi apa sang idola juga berpikiran sama? Jangan-jangan malah sebel karena mesti berbasa-basa dan menjaga sikap baik demi tak kehilangan penggemar ...... Jangan-jangan lho..... Kan mereka juga manusia biasa......


Gambar dipinjam dari http://www.shutterstock.com/s/celebrity/search.html?page=1&inline=115442800


Senin, 31 Agustus 2015

Guyonan Yang Jadi Tak Lucu

Beberapa hari setelah lebaran , sebuah pesan singkat berisi ucapan masuk ke ponsel saya, setelah sekali menelepon tapi terlewatkan. Saya tak bisa mengenali siapa pengirimnya karena nomornya tak ada dalam  phone book. Jadilah saya balas dengan ucapan serupa sambil menanyakan identitas pengirimnya. Terkejutlah saya ketika dia mengaku sebagai mantan bos saya di perusahaan yang terakhir saya tinggalkan. Dengan menjaga sopan santun, saya sampaikan terima kasih atas perhatiannya dan saya menghargai itu. Saya pikir urusannya selesai sampai disitu. Ternyata tidak. Di pesan berikutnya dia memberikan penawaran untuk kembali bekerja di kantornya. Kagetlah saya. Bukan alasan apa-apa, hanya saja saya tidak berpikir untuk kembali bekerja di luar kota lagi karena kondisi yang menurut saya tak memungkinkan. Saya mencoba menolak dengan halus, dengan menjabarkan kondisi dan fokus utama saya saat ini. Tapi ternyata si mantan bos ini terus mendesak. Demi menjaga hubungan baik saya memutuskan untuk tidak menjawab penawaran tersebut malam itu juga. Jadi saya putuskan untuk tidak membalas pesannya.

Pembiaran semalam sebelumnya membebani pikiran saya. Saya menganggap pembiaran sama dengan membuat persoalan menggantung tanpa solusi. Saya tak suka itu. Di sisi lain saya juga merasa wajib untuk menjaga hubungan baik dengan mantan bos. Akhirnya malam hari berikutnya saya kirim pesan permohonan maaf tidak bisa menerima tawarannya. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepadanya. Sehari itu berlalu tanpa balasan. Saya lega karena artinya si mantan bos sudah menerima jawaban saya dan mengerti. Saya pikir masalah selesai sudah dan leluasa kembali fokus pada urusan saya.

Ternyata  saya salah. Hari berikutnya ketikas sedang dalam perjalanan ke luar kota bersama seorang teman untuk suatu urusan, ponsel saya berbunyi terus menerus. Si mantan bos menelepon. Sungguh saya tak siap dan tak ingin bernegosiasi di dalam bus yang sedang berjalan dan di depan teman saya. Jadi saya abaikan saja panggilan itu. Dan karenanya dia jadi menghujani saya dengan pesan yang isinya masih seputar penawaran dan malah ditambah dengan ajakan untuk bertemu. Sumpah saya jengah. Saya sedang dalam satu urusan, dan tak siap membicarakan urusan baru dengannya. Seharian itu saya abaikan semua telepon dan pesan darinya, dengan janji pada diri sendiri akan mengirimkan email kepadanya berisi penjelasan lebih detail bahwa saya tak bisa menerima tawaranny. Saya putuskan berkirim email karena dengan masih mengejar-ngejar seperti itu artinya dia tak cukup bisa menerima penjelasan saya lewat pesan singkat. Dengan email saya punya lebih banyak ruang untuk memberikan penjelasan. Alasan lain ya saya enggan bernegosiasi langsung dengannya ketika jawaban saya negatif untuknya.

Dua hari setelah itu, email saya melayang padanya. Saya tunggu beberapa jam ternyata tak ada balasan. Saya pikir sekarang email saya mengena sasaran dengan sempurna. Saya lega. Tapi ternyata tak lama. Menjelang siang ponsel saya kembali berbunyi dan dari nomer yang sama. Mau tak mau saya terimalah itu panggilan. Dan terkejutlah saya ketika ternyata dari suara dan pengakuannya si penelepon bukanlah mantan bos tetapi mantan teman sekantor. Saya gagu seketika, teringat email yang sudah kadung saya kirim pagi sebelumnya. Sementara teman saya di seberang terkekeh-kekeh, merasa berhasil mengerjai saya. Saya marah besar. Sungguh itu guyonan yang sama sekali tak lucu. Saya masih bisa menerima dikerjai seperti itu jika saja tak sampai berlarut-larut begitu.jika dia berniat guyon dengan sehat seharusnya dia berhenti ketika saya benar-benar percaya bahwa si penelepon adalah mantan bos seperti pengakuannya. Seharusnya dia berhenti dan menyelesaikan guyonan itu dengan manis. Tapi yang dilakukannya justru mempermainkan ketidaktahuan dan kepercayaan saya dengan semena-mena, tanpa berpikir efeknya. Saya kecam habis-habisan dia tanpa peduli masih dalam suasana lebaran dimana orang biasa memaafkan segala kesalahan dengan mudah. Kesalahannya terlalu besar untuk dimaafkan secepat itu. Apalagi terbukti dia tak berani ketika saya minta untuk berkirim email ke saya dan bos untuk menjelaskan email yang saya kirimkan itu karena ulahnya. Dengan marah sekali saya bilang padanya bahwa dia cuma tahu berguyon tapi tak tahu kapan harus berhenti. Dari nadanya meminta maaf sekali lagi, saya tahu dia takut dan menyesal. Tapi itu tak cukup untuk meredakan saya. Apa yang dilakukannya buruk sekali. Sejak kejadian itu kami belum berhubungan lagi. Saya masih menganggapnya teman tentu saja, tapi dengan catatan negatif. Bukan mendendam, hanya tak bisa memberi respek padanya seperti sebelum kejadian ini.


Jadi kesimpulannya adalah berguyon boleh, tapi harus tahu kapan harus berhenti. Saya camkan juga hal itu untuk diri saya sendiri. 

Jumat, 31 Juli 2015

Tante Pelit

Ya, itu kalimat yang terlontar dari mulut keponakan saya, yang ditujukan pada tantenya, yaitu saya..... hahahahhaaha... Tak cuma sekali dia mengatakan itu pada saya, tapi entah kenapa saya tak pernah marah karenanya. Tak pernah saya tersinggung. Reaksi saya selalu antara nyengir, tersenyum, atau tertawa. Tidak marah bukan karena takut terhadap emak si bocah yang notabene kakak kandung saya. Hanya setiap kali kalimat itu keluar dari mulutnya saya selalu merasa geli, juga menang karena berhasil membuatnya jengkel karena tak bisa memperoleh apa yang diinginkannya.

Sebenarnya masalahnya sepele sih, masalah sangu yang kadang diberikan oleh yangkung dan yangtinya ketika dia datang berkunjung. Besarnya kisaran antara lima puluh sampai seratus ribu perorang. Saya memaknainya sebagai ekspresi senang yangkung-yangti yang telah dikunjungi oleh cucu-cucunya. Dan jumlah cucu yang cuma tiga orang itu membuat orang tua saya tak merasa berat untuk mengeluarkan sejumlah itu. Dan tak cuma yangkung-yangti yang memberi. Kadang pada saat tertentu tante yang lain; selain saya tentu saja; juga memberikan sangu untuk mereka. Alhasil saya yang tak berpartisipasi dalam kegiatan itu jadi dianggap pelit. Pernah satu kali ketika semua memberikan sangu kecuali saya, si bocah yang paling vokal terus terang bertanya kepada saya, “Tante sebenarnya punya uang atau tidak sih?” Dan lagi-lagi saya cuma tertawa. Saya jawab bahwa saya sebenarnya juga berniat memberikan sangu tapi berhubung sudah banyak yang menyangoninya dan uang yang dia dapat sudah cukup banyak untuk anak SD maka saya batalkan niat tersebut. Apa yang keluar dari mulutnya gampang ditebak: Tante Ina pelitttt ! Ahahahahahaha.....

Pelitkah saya? Entahlah. Hanya saya memang tak suka memberikan uang pada anak-anak. Saya lebih suka memberikan bentuk lain seperti buku, mainan, atau makanan pada mereka. Semuanya asal sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Ada kalanya saya bawa mereka untuk membeli es krim untuk semua. Saat yang lain saya belikan mainan. Jika ada buku yang tak mereka temukan toko buku di kota tempat mereka tinggal, lalu meminta saya mencarikannya, dengan senang hati saya lakukan dan tak saya tagihkan biayanya. Bagi mereka mungkin ini tak terasa sama dengan menerima uang walau sebenarnya untuk membayar semua itu tentu saya menggunakan uang.

Kenapa saya tak suka memberikan uang? Entahlah, saya tak bisa menjabarkannya secara gamblang. Hanya saya selalu ngeri setiap kali melihat anak-anak mempunyai uang berlebih, lalu membelanjakannya sesuka hati, termasuk untuk barang-barang tak perlu. Melihat yang begitu saya selalu bertanya dalam hati tahukah mereka bagaimana proses mendapatkan rupiah-rupiah yang mereka belanjakan tanpa banyak berpikir itu? Tahukah mereka bahwa ada orang-orang yang harus jungkir-balik demi sekian rupiah yang mereka belanjakan dengan enteng tanpa berpikir itu? Ketika dengan senang hati mereka mengobral uangnya, ada anak-anak lain yang justru harus mengumpulkan peseran untuk sekedar mengisi perut yang belum tentu mengenyangkan. Oh iya satu lagi, setiap kali melihat anak-anak yang berlebih seperti itu saya jadi membandingkan dengan diri sendiri. Pada saat seumur mereka, saya tak punya kelebihan seperti itu walau tak juga jadi yang selalu lapar. Seorang teman ketika mendengar ini berkomentar bahwa sebenarnya saya mengiri dengan keponakan karena saya tak punya apa yang mereka punya. Mengiri .... ehmmmm .... mungkin juga ya? Ahahahahaha....


Baiklah, mungkin saja sebenarnya saya mengiri pada keponakan. Tapi tetap ada lho sisi baiknya. Saya berharap mereka tahu proses, tahu ada banyak hal di luar mereka yang patut diperhatikan. Kalau efeknya adalah menjadi tante yang pelit ehmmmm mohon dimaafkan sajalah yaaaa... 

Senin, 29 Juni 2015

Mengurai Benang Kesalahan ....

Beberapa tahun yang lalu seorang teman mengajarkan merajut dengan haken atau bahasa bulenya crocheting kepada saya. Langsung deh jatuh cintrong sayanya. Saya termasuk manusia yang mencintai warna, plus cenderung norak dalam hal ini. Dan crocheting membuat saya bergaul rapat dengan benang aneka warna. Pas deh! Jadilah saya asyik mengkait-kaitkan benang warna-warni dengan haken. Kadang hasil akhirnya berupa benda yang bisa digunaka, tapi tak jarang pula hasilnya putus di tengah jalan karena macam-macam alasan, termasuk salah satunya tak menemukan benang dengan warna yang sama dan juga bosan. Nah, susah kalau alasan bosan yang membuat sebuah proyek merajut cuthel di tengah jalan. Tapi ya bagaimana lagi, wong memang pada dasarnya hobi dan prinsipnya digunakan untuk mengalihkan fokus dari hal rutin ke hal lain dengan maksud rekreasi alias refreshing.

Tempo hari saya membaca di salah satu harian bahwa seorang mantan aktris Hollywood yang kini menekuni olah raga yoga juga merupakan pehobi merajut. Diajatuh cinta pada merajut juga tak sengaja. Katanya, sesuai yang saya ingat dan semoga masih akurat, suatu hari dia berada di satu wilayah di Amerika sana dan entah mengapa terdorong masuk ke dalam semacam toko kecil yang tampak dari luarnya tenang. Didorongnyalah pintu toko itu dan masuk sesuai kata hatinya. Saat itulah dia mendapati beberapa perempuan dengan benang dan haken di tangan, merajut dengan tenang. Mereka memberikan senyum ramah begitu melihatnya masuk. Hari itu juga dia belajar merajut dan mencintainya. Saat itu dia sudah menjadi guru yoga dan mempunyai sanggar sendiri. Katanya, merajut merupakan salah satu bentuk meditasi untuknya. Karena dalam merajut ada fokus, juga latihan kesabaran. Aih aih ..... Saya sepakat soal fokus dan latihan kesabaran. Tapi soal meditasi, ehmmm...  saya tak tahu. Mungkin ada benarnya. Karena selama ini saya juga tak bisa merajut sambil mengoceh. Mulut saya selalu tak aktif ketika merajut, pun jika itu bersama teman. Sementara pikiran saya memang tak selamanya berfokus pada rajutan. Seringkali jika itu merupakan pola berulang maka pikiran saya terbang kesana-kemari. Ya, kesana-kemari, tapi dengan alur yang lambat. Tak grusa-grusu karena emosi. Mungkin karena begini maka disebut sebagai latihan kesabaran. Ehmmmm tapi mungkin juga karenanya si aktris dan guru yoga itu sekaligus menyebutnya sebagai satu bentuk meditasi. Mungkin pada orang-orang seperti dia pikiran yang pada saya melambat bisa berbentuk lain, berefek lebih besar. Ya ya ya, masuk akal sih.

Gara-gara si aktris sekaligus guru yoga itu memaknai merajut begitu rupa dan dalam, saya jadi terpancing juga untuk berpikir lebih dalam mengenai merajut. Dan saya menemukan pemaknaan saya. Satu hal dalam merajut adalah tak ada kesalahan yang sungguh fatal dan tak bisa diperbaiki. Sepertinya ini hal yang baru saya sadari akhir-akhir ini. Dalam merajut tak perlu takut salah. Kenapa? Karena jika salah pun si benang dapat diurai kembali. Awal belajar merajut dulu saya membeli satu gulung benang katun. Dan benang itulah yang saya gunakan untuk berlatih membuat, rantai, single crochet, double crochet, dan sebagainya. Tak langsung berhasil, berkali-kali gagal. Dan setiap kali saya tinggal mengurai kembali benang itu. Memang efeknya si benang jadi kusut dan agak pudar warnanya. Tapi secara keseluruhan dia baik-baik saja, dalam artian tak sampai membuatnya sia-sia dan saya harus membuangnya. Tak terjadi seperti itu. Bahkan setelah akhirnya saya lebih pintar merajut, benang tersebut saya buat menjadi satu tas kecil yang sampai sekarang masih saya gunakan untuk menyimpan piranti pribadi.

Ya, dalam merajut saya percaya tak pernah ada kesalahan yang sangat fatal dan tak bisa diperbaiki. Semua kesalahan bisa diatasi dengan mengurai kembali. Selalu ada kesempatan kedua. Mungkin juga ketiga dan seterusnya. Saya jadi yakin karena inilah saya suka merajut. Memang ada faktor kompensasi akan kegilaan atas warna. Tapi kenyataan bahwa tak pernah ada salah yang mutlak dan tak dapat diperbaiki, saya yakin adalah hal utama yang membuat saya mencintai merajut, walaupun kesadaran ini datang begitu belakang. Mengapa hal itu penting bagi saya? Karena itulah yang saya harapkan dari sebuah kehidupan. Saya yakin ada banyak kesalahan sudah saya buat sekian puluh tahun hidup. Tak akan terhitung jumlahnya, baik yang saya sadari maupun yang tidak. Tapi dari semua kesalahan itu saya selalu berharap ada hal yang bisa saya lakukan untuk membuatnya lebih baik dan akhirnya jadi benar. Ya, kesempatan kedua dan selanjutnya. Bahkan kalaupun tak ada yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya, saya tetap berharap akan pemaafan. Pemaafan tak bisa otomatis membuat yang salah jadi benar. Tapi pemaafan mengurangi atau bahkan menghilangkan beban yang artinya tetap akan membuat keadaan jadi lebih baik.


Yes, I love crocheting. Dan selalu berharap kesalahan dalam hidup selayak benang yang dapat diurai kembali....... 

Sabtu, 30 Mei 2015

Jeprat-Jepret

Saya termasuk yang suka memotret dan menganggap memotret adalah pekerjaan serius  yang susah. Pendapat ini dilandasi bukti bahwa sampai detik ini saya tak bisa menguasai kamera dengan baik. Hasil foto yang saya buat selalu saja ada salahnya. Salah fokus atau malah tidak fokus, komposisi tak betul, terlalu gelap atau sebaliknya terlalu terang, dan sebagainya dan sebagainya. Intinya saya belum mampu menguasai kamera dengan baik. Kadang ada juga foto saya yang dipuji oleh teman. Tentu menyenangkan. Tapi kemudian saya mengerti bahwa foto yang dipuji itu pada dasarnya lebih karena kebetulan saja, bukan karena kepintaran teknis saya memegang kamera sehingga dengan sadar bisa menghasilkan foto yang begitu. Dan lagi pemuji adalah orang awan yang mungkin secara pengetahuan dan ketrampilan fotografinya tak lebih bagus dari saya. Jadi intinya tetap, saya bukan pemotret yang handal. Saya sekedar suka jeprat-jepret tapi tak bertanggung-jawab soal kualitas hasilnya.

Tapi apa iya saya harus selalu mumet memikirkan kualitas hasil jepretan? Sebab saat ini orang memotret dengan sangat aktif. Apa-apa dipotret. Bahkan diri sendiri pun dipotret. Fungsinya apa? Ya apalagi kalau tidak diunggah di media sosial atau grup chatting, lalu para penonton foto tersebut akan memberikan komentar ini itu, baik yang berhubungan dengan foto tersebut ataupun tidak. Kegiatan ini sedang amat sangat marak pakai banget dan sekali saat ini. Jujur saja, tak selamanya saya maklum dan senang hati terhadapa hal ini. Sering malah berpikir kok begini saja pakai difoto sih? Atau di saat yang lain saya malah jengkel dan berpikir negatif terhadap di pengunggah. Misalnya saja ada teman yang mengunggah fotonya saat plesir ke luar negeri, berpose di tempat-tempat terkenal macam menara Eifel, singa Merlion, atau tengah main salju atau memegang sakura. Menanggapi yang begitu bisa saja saya sekedar berpikir wahhhh dia sudah sampai di sana, enak betul ya, terus saya kapan? Tapi di lain waktu dan lain pengunggah saya juga menanggapinya dengan satu kalimat singkat yang negatif : pamer dia! Nah lho jadi dosa kan saya? Lain waktu ada yang mengunggah foto menu makanan yang siap disantapnya yang jelas-jelas menunjukkan dia tak sedang makan di rumah. Yang begini juga bisa positif dan negatif respon saya. Yang positf berupa : eh kok kayaknya enak ya, kapan-kapan nyoba juga ah. Sementara yang negatif wujudnya : halah mentang-mentang lagi makan enak diumumkan ke seluruh dunia! Nah, dosa lagi deh saya.

Terus soal selfi.... Wah, saya sering heran sekaligus kagum dengan mereka yang doyan sekali selfi. Saya kagum dengan kepercayaan diri mereka. Juga ketrampilannya. Karena saya sendiri tak pernah pede untuk berfoto diri kecuali jika memang wajib semisal pas daftar KTP atau semacamnya. Itupun hasilnya juga tak pernah baik dan benar, dengan kata lain tak pernah kelihatan lebih cantik ketimbang aslinya... hahahahaha... Karena itu saya heran dan kagum dengan mereka yang hobi selfi. Kok bisa ya fotonya cantik-cantik begitu? Ngaturnya bagaimana? Posenya kok bisa pas ya? Dan kok ya begitu pedenya. Dan ternyata itu lebih seperti hobi. Seorang teman mengaku menyimpan foto selfi sebanyak dua ribuan di handphone-nya. Saya terbeliak. Wowwww .... Buat apa? Ya buat seneng-senengan saja, jawabnya. Dia berselfi dengan alasan macam-macam. Dia akan berselfi kapanpun merasa cantik. Jadi bisa saja setelah facial, potong rambut, ber-make-up, atau bahakan sebelum tidur asal merasa cantik maka berselfilah dia. Juga ketika sedang ada dalam momen-momen tertentu. Misal pas kumpul-kumpul, berselfilah dia dan mereka sekedar untuk seru-seruan. Ehmmmm begitu ya, pikir saya. Lha terus kenapa saya tak pernah merasa pede dan perlu untuk berselfi? Apa saya tak pernah merasa cantik? Atau tak pernah merasa berada dalam momen yang perlu diseru-serukan dengan selfi? Embuhlah ....

Ah ya, saya punya pengalaman menggelikan soal selfi. Beberapa bulan yang lalu, bersama sahabat yang juga sedang keranjingan memotret, saya ke Yogya. Tujuan utamanya adalah menyaksikan dan memotret Borobudur saat matahari terbit. Jadi, bergabunglah kami dengan rombongan yang bertujuan sama yang ternyata entah mengapa seluruhnya turis dari manca negara. Adzan subuh baru selesai berkumandang ketika kami berangkat ke lokasi. Dan karena modal saya cuma kamera prosumer biasa, maka saya masih harus menunggu ketika yang lain yang bermodal kamera profesional sudah mulai jeprat-jepret. Waktu itu saya sudah senewen, takut kehilangan momen. Akhirnya yang ditunggu datang juga. Matahari mulai mengintip dan naik pelan-pelan. Semua bergumam kagum dalam bahasanya sendiri-sendiri. Dan memang momen itu indah sekali. Detik-detik awal saya malah bingung memutuskan mana yang lebih baik saya lakukan, memotret atau sekedar menikmatinya terus dengan mata saja saking indahnya. Akhirnya saya angkat juga kamera, mulai menjepret. Demikian juga dengan sahabat saya. Tapi ternyata tak gampang. Saya semula membayangkan foto yang bersih tanpa kepala-kepala penonton. Tapi kenyataan di lapangan ada penonton dimana-mana dan tak bisa dihindari, juga tak bisa disuruh minggir. Nyaris tak mungkin mendapatkan foto yang bersih dari manusia. Tapi kami berdua masih ngotot berusaha. Sampai akhirnya kami menemukan posisi yang bagus yang relatif sepi dari manusia. Kami berdua mulai mengintip di balik kamera dengan serius. Dan pas ketika tombol hampir ditekan seorang turis entah bangsa apa tahu-tahu masuk dalam frame kami, dan dengan tongsis panjang dia berfoto selfi, tersenyum dan bergaya tanpa merasa berdosa. Sementara di depannya, ada dua orang kecewa yang saling berpandangan lalu berteriak ‘asemmmmm!’ ..... Ahahahahah ...

So, memotret sekarang makin jamak. Tak  perlu menjadi fotografer terlebih dahulu untuk bisa melakukannya. Tak perlu ngincang-nginceng di balik kamera profesional karena toh handphone juga sudah dilengkapi dengan kamera yang sangat memadai. Tak perlu berpikir serius tentang teori dan teknik, yang penting jepret aja langsung. Tak perlu repot mencari-cari atau bengong menunggu momen. Toh apa saja bisa jadi obyek, termasuk diri sendiri. Dan tak perlu malu dengan hasilnya, toh begitu diunggah di media sosial ataupun grup ngobrol pasti ada saja yang akan mengomentari. Jadi, tunggu apalagi? Bingung akan apalagi?


Jepret pret pret pretttttt.....

Sabtu, 04 April 2015

Ilmu dari Dee Lestari

What I Talk About When I Talk About Running. Itu judul memoar Haruki Murakami yang saya tuntaskan kisaran dua bulan lalu. Buku yang tipis-tipis saja, tapi kemudian menjadi salah satu favorit saya. Di dalamnya seorang Haruki Murakami yang tersohor itu merelasikan menulis dengan lari, hal yang digemarinya. Untuk jadi kuat lari jarak jauh musti latihan bertahap. Setengah kilometer, terus sekilometer, terus nambah sampai akhirnya kuat bermaraton. Penulis juga begitu. Menulis, menulis, dan menulis. Siapkan waktu yang terjadwal, dan fokus. Seorang Haruki Murakami tidak pusing memikirkan apakah bukunya akan jadi bestseller atau tidak. Dia mulai menulis buku pertama ketika ide itu datang. Lalu mengirimkan ke satu kompetisi bahkan tanpa membuat salinannya. Katanya: After I finished it I felt great. I had no idea what to do with the novel once I finished it, but I just sort of let the momentum carry me and sent it in to be considered for a literary magizine’s new-writers prize. I shipped it off without making a copy, so it seems I didn’t much care if it wasn’t selected and vanished forever. Kemudian ternyata novel pertama itu; Hear The Wind Sing; berhasil menang. Sungguh saya tercerahkan oleh buku ini. Dan kisaran dua bulan setelahnya, pada 29 Maret 2015 di Perpustaan Bank Indonesia yang luar biasa indah, Dee seakan mengulang pencerahan itu, dan ibarat sebuah masakan, dia sekaligus memberikan ‘bumbu-bumbu’ tambahannya melalui Dee’s Coaching Clinic.

Mengkonkritkan apa yang abstrak. Berpikir kreatif adalah memperluas medan kesadaran. Menggali sampai menemukan unique voice. Ade Rai tak jadi kekar dalam semalam. Gatal yang tak kunjung usai. Celengan ide. Verisimilitute. Pemetaan. Struktur tiga babak. Teknik ciprat-ciprat. Tidak ada alter ego. Bersahabat dengan deadline..... Dan hari itu, di dalam gedung Perpustakaan Bank Indonesia yang sangat mengesankan, Dee mendetailkan semuanya, berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya. Dan sungguh ini jadi jauh lebih menarik dari sekedar membaca memoar Haruki Murakami karena apa yang disampaikan sangat bisa diterapkan oleh siapa saja yang menyimpan cita-cita menjadi penulis.

Mau jadi penulis? Ya mulailah menulis. Jangan sekadar berhenti di cita-cita yang abstrak. Konkritkan. Menulis, menulis, dan menulis. Seperti Ade Rai yang mengangkat barbel demi membentuk otot-ototnya. Apa yang ditulis? Ya apa saja. Tulis apa yang ingin ditulis, atau apa yang ingin sekali dibaca. Setiap penulis punya unique voice. Cuma seringnya si unique voice itu bagai harta karun yang tertanam di dalam tanah. Butuh usaha ekstra untuk menemukannya. Dan bentuk usaha itu tak lain dan tak bukan adalah terus menulis. Menulislah, tanpa beban macam-macam, termasuk ambisi menjadi bestseller. Seperti Haruki Murakami yang menulis buku pertamanya sekedar mengikuti kata hati. Seperti Dee menulis Supernova : Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh sekedar untuk memberi kado ulangtahun ke-25 bagi diri sendiri. Keduanya tak dengan sengaja menulis untuk jadi bestseller. Dan ketika akhirnya menjadi seperti itu adalah buah dari kesungguhan mengkonkritkan apa yang abstrak. Tujuan tetap harus ada, terukur dan jelas, sehingga jalan menuju kesana terpetakan dengan mudah. Mengikuti dan memuaskan kata hati dan membuat kado untuk diri sendiri contohnya. Tapi beban wajib dihilangkan. Karena beban hanya akan membuat macet segalanya. Intinya mau jadi penulis ya menulislah. Tulis yang apa yang kita sangat ingin tulis. Tulis apa yang kita sangat ingin baca. Tulis saja, tak perlu menunggu alter ego muncul. Dan ketika itu terwujud maka yang terasa adalah kelegaan karena seakan telah menuntaskan gatal yang selama ini tak kunjung usai.

Soal ide bagaimana? Jangan memitoskan ide. Ide datang darimana saja. Tak perlu sibuk dengan ritual khusus untuk mencari ide termasuk semedi dan termenung-menung. Penulis adalah pengamat. Amati sekitar. Perluas medan kesadaran. Karena pada dasarnya menjadi kreatif bukanlah semuluk membuat sesuatu yang berbeda sama sekali dan belum pernah ada. Menjadi kreatif bisa berupa keluar dari rutin, menjadi yang bukan kita biasanya. Dan ide akan hadir dengan sendirinya. Ide datang bertubi-tubi ketika tengah berhasil fokus menulis? Tak masalah. Ide-ide itu bukan musuh yang merusak fokus kita. Mereka adalah teman. Kumpulkan saja dan catat. Masukan dalam celengan ide. Lalu kembali fokus pada yang mempunyai deadline di depan mata. Begitu deadline tercapai, buka celengan ide. Pilah-pilih ide-ide yang di dalam sana untuk proyek menulis selanjutnya. Jadi tak ada ide yang terbuang pecuma kan?

Ah, soal deadline juga dikulik secara khusus.  Tentukan deadline dan pegang komitmentnya. Deadline bukan untuk mengancam, tapi untuk memberikan kepastian bahwa tujuan akan tercapai. Pecah deadline menjadi satuan terkecil berupa target harian. Jadi semisal berniat membuat tulisan 25000 kata. Jelas bahwa setahun ada 52 minggu. Jadi seminggu tanggungan Cuma 500 kata. Kalau di-break-down lagi misal seminggu cuma menulis 5 hari saja maka sehari hanya harus menulis 100 kata. Bayangkan, cuma 100 kata sehari dan di tahun berikutnya sudah ada satu buku siap tangan! Ehmmm, kalau sudah begitu apa yang menakutkan dari sebuah deadline? Tak ada.
Meramu cerita. Bagian ini sangat menarik karena Dee mengingatkan pada kebencian bersama akan yang namanya kerangka karangan. Okay, baiklah, mari sadari bahwa kerangka karangan itu mutlak perlu ketika yang ditulis sepanjang novel. Biar bisa mulai mencintai kerangka karangan, mari sebut saja namanya jadi pemetaan. Bentuknya terserah masing-masing. Yang harus diingat adalah fungsi pentingnya yaitu sebagai pulau-pulau transisi. Ibarat renang jarak jauh, pulau transisi adalah tempat tempat perhentian sejenak agar tak kehabisan nafas. Pulau-pulau ini juga turut menjaga perenang tetap ada di dalam jalur menuju tujuan. Oh iya, buat pemetaannya berdasarkan struktur tiga babak, yaitu :
1.       Babak I, yang isinya segala macam ‘perkenalan’ juga ‘dunia yang seharusnya’. Ini adalah babak awal cerita
2.       Babak II terbagi dalam babak IIA dan IIB. Babak IIA adalah ketika konflik mulai merambat naik dan sang tokoh terlempar keluar zona amannya. Sementara babak IIB berisi pertikaian seru antara ‘dunia seharusnya’ versus ‘dunia yang tak seharusnya’
3.       Babak III adalah ‘jawaban’ atas semua pertanyaan atau persoalan yang telah dimunculkan dalam babak-babak sebelumnya. Bisa meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban di babak ini jika memang berencana membuat sekuelnya.
Dee punya cara jitu untuk pembabakan itu, yaitu divisualkan menjadi empat karton (I, IIA, IIB, III). Tempel keempatnya di dinding. Lalu setiap kali mendapatkan ide adegan, kalimat, kata, dialog, atau apapun, tuliskan di kertas post it, lalu tempelkan di karton pada babak mana itu akan kita taruh. Kenapa post it? Untuk memudahkan kita menukar atau mengatur ulang urutannya jika memang diperlukan. Praktis sekali!

Mau tips-tips lain? Pertama, teknik ciprat-ciprat. Apaan tuh? Ini teknik ajib menulis darimanapun. Tak perlu selalu dari depan ke belakang. Dari tengah pun boleh. Dari ujung akhir pun oke. Toh nanti bisa digabung-gabungkan dengan edit. Berikutnya riset. Riset tak selalu harus datang mendatangi obyek walau mungkin itu yang terbaik. Mendapatkan data bisa dilakukan dengan riset pustaka (termasuk film), browsing di internet, dan wawancara terhadap orang-orang yang berkompeten. Lalu padukan semuanya, uji kebenarannya, baru masukkan ke dalam cerita. Ingat selalu bahwa fiksi dengan penggabungan sedikit fakta akan meningkatkan kepercayaan pembaca. Risetlah untuk mendapatkan fakta-fakta yang akan menguatkan fiksimu. Verisimilitute. Buat cerita seakan nyata bagi pembaca, tak hanya dengan ramuan fakta, tapi juga melibatkan panca indera. Gunakan dan libatkan panca indera dalam menulis cerita dan ternyata indera penciuman paling kuat untuk merangsang pembaca berimajinasi. Terapannya bisa berupa deskripsi sesuatu tak hanya berdasarkan pengamatan mata tapi juga dari penciuman (bau, tekstur). Penting untuk membawa pembaca berimajinasi sebab bagaimanapun pembaca perlu ruang untuk membentuk sendiri bayangannya sendiri tanpa terlalu didoktrin penulis.

Sekarang tips tentang pembentukan karakter. Buat karakter yang masih lekat dengan ciri-ciri kemanusiawiannya. Artinya, dia punya kebiasaan, keistimewaan, dan juga kelemahan. Lalu buat dia beraksi. Karakter yang sama sekali sempurna seringkali malah tak dipercaya nyata oleh pembaca. Sementara karakter yang bersifat selfness dan berkorban justru sangat mudah menarik hati dan perhatian.

Sekarang tips pamungkas. Buat naskah rapi, baik dalam hal ketikan maupun tanda baca. Pastikan halaman pertama sudah mampu merebut hati penerbit atau dewan juri jika naskah itu akan dikirimkan ke penerbit atau kompetisi. Sebab untuk kondisi seperti ini halaman pertama adalah segalanya.

Nah, bagaimana? Sekarang merasa sangat berenergi untuk menuliskah? Itulah yang saya rasakan!


Untuk Dee, terima kasih pakai banget nget nget nget.... *bungkukin badan*. 
Terima kasih Bentang Pustaka.... *bungkukin badan lagi*.