Selasa, 31 Mei 2011

Nama

Setiap kali ada teman yang hamil, yang saya tanyakan adalah apakah sia sudah mempersiapkan nama untuk si jabang bayi. Sebagian menjawabnya sudah walaupun usia kandungan masih terhitung muda. Tapi ketika bertanya lebih detail mengenai hal itu, jawabannya selalu : rahasia, tunggu tanggal mainnya.

Ehmmm .... nama. Seorang Shakespeare terkenal dengan kalimatnya 'apalah arti sebuah nama'. Saya rasanya yakin 102% bahwa dia salah. Karena nama sungguh berarti banyak. Sebagian mengartikan doa. Sebagian mengindentikkan dengan keberuntungan alias hoki. Coba cermati, berapa banyak selebritis menyembunyikan nama lahirnya dan mengganti dengan nama baru yang tidak cuma untuk membawa hoki tapi juga agar terdengar enak dan indah di telinga. Membawa hoki nyaris identik dengan komersiil. Nama membawa citra pemiliknya. Tak cuma untuk selebriti. Nama merk, toko, perusahaan, atau hal semacamnya pun dipikirkan dan didesain oleh sang kreator agar membawa keberuntungan sebanyak-banyaknya. Tap percaya? Coba saja tanya para paranormal, pasti mereka pernah didatangi orang-orang yang menanyakan apakah nama ini akan membawa sial bagi penyandangnya. Dan untuk mendapatkan nama yang top markotop, banyak yang rela membayar sang paranormal untuk 'mendesainkannya'.

Nah bagaimana dengan rakyat jelata seperti saya? Menurut saya, orang-orang sekelas saya lebih mengartikan nama adalah doa dan harapan. Lebih tepatnya, doa orang tua untuk anaknya. Jadi jika seorang anak bernama Arif, maka saya 99% yakin itulah yang diharapkan orang tuanya, bahwa kelak dia menjadi anak yang bersifat arif terhadap segala hal, termasuk terhadap sesamanya. Kalaupun jadinya ternya seorang yang berkebalikan ... ehhmmmm .... yang mungkin doanya belum saatnya terkabul.... hehhehhhhe .... Tapi walaupun kenyataan membuktikan adanya 'doa dan harapan' yang tidak terkabul tak lantas membuat para orang tua putus asa dan menamakan anaknya sekenanya. Saya yakin itu 100%, walaupun kemudian pernah juga saya temui nama-nama yang artinya tidak doa dan harapan melainkan penanda suatu peristiwa. Semisal, seorang teman bapak saya punya nama Teken Slamet, kemudian disusul nama marganya. Dahi saya berkerut pertama kali mendengar si oom menyebutkan namanya. Dan dengan kurang ajar bertanyalah saya arti nama itu. Ternyata hari kelahirannya persis sama dengan saat si ayah harus meneken sebuah dokumen penting. Ya ya ya .... saya mangut-mangut saja.

Percaya tidak, bahwa nama ada trennya juga lhoooooo ..... Saat ini saya rasa sedang tren nama-nama yang berbau Arab, di luar nama para Rasul dan kerabatnya tentu saja. Coba teliti bayi tetangga kanan kiri. Pasti ada saja yang namanya berbau Arab. Dan nama-nama itu punya nilai rasa yang berbeda karena rata-rata ejaannya diperbarui. Nah nah nah .... masalah ejaan ini penting lhooooo... Tidak cuma untuk yang berbau Arab, tapi juga untuk yang berbau lokal. Ejaan yang berbeda memberikan nilai rasa yang berbeda dan menyediakan kekinian. Sebut saja bagaimana Jamilah sekarang seringkali dieja menjadi Jamila atau Jameela. Yang dulu Maya, sekarang menjadi Maia. Yang biasanya Mira, sekarang menjadi Myra. Yang dulu Agus sekarang menjadi August. Contoh yang paling gampang adalah penggunaan huruf y atau ie di akhir kata sebagai pengganti huruf i.

Oh iya, beberapa tahun yang lalu juga begitu tren nama import alias nama bule. Hal ini tidak termasuk etnis China yang memang dari sononya sudah cenderung menggunakan nama bule sebagai international name-nya. Ehmmm saya tidak hendak mengecam para pribumi yang menggunakan nama bule. Tapi jujur kadang saya tersenyum gara-gara ejaan yang tidak sama dengan aslinya dan kadang terkesan asal pengucapannya mirip. Misal Robet, bukan Robert. Bobi, bukan Bobby. Matew, bukan Mattew. Dan nama bule ini juga menimbulkan kesulitan bagi lidah-lidah yang tak terbiasa. Misal, seorang bapak-bapak tua pernah mengucapkan George ; nama teman yang asli Jawa; dengan benar-benar George sesuai cara baca bahasa Indonesia. Hheheheheheh kontan saya tertawa, bukan karena menganggap si bapak tolol, tapi lebih karena efek perubahannya yang begitu jauh.... dan yang punya namapun buru-buru menuntun si Bapak agar mengucapkannya dengan benar. Oh iya, tentang nama bule ini, seorang teman kakak saya yang pusing mencari nama untuk bayinya akhirnya menggandengkan merk air minum kemasan hingga menjadi sebuah nama yang enak di dengar yaitu Aqua Bonavita. Terdengar bule kan? Saya cuma berpikir, untuk yang digabungkan merk air kemasan. Bagaimana kalau misal yang digabungkan adalah merk detergen seperti Rinso DaiaB29? Ehhhmmmmm ......

Soal nama, seringkali orang tua punya pola tersendiri. Lihat saja bagaimana seorang Soekarno menggunakan benda-benda yang ada di langit untuk nama anak-anaknya. Bapak teman saya menggunakan huruf E untuk huruf pertama nama anak-anaknya. Dan Bapak saya sendiri mempunyai kecenderungan menggunakan suku kata In untuk suku kata pertama nama anak perempuan. Ini terbukti pada saya dan kakak saya, dan berulang pada saat kakak saya meminta nama untuk bayi perempuannya.

Nahhhhhh bagaimana dengan nama saya? Hehehehehee.... jujur saya bersyukur orang tua saya memberikan nama yang menurut saya berima cukup merdu dan juga berarti bagus. Ina Binanti Alasta. Hohoohohoh ...... saya nyaris yakin seandainya menjadi selebritis pun tak perlu menggantinya dengan nama baru. Soal komersialitas, ehmmm sudah terbukti ada produk sanitair yang bermerk Ina. Gara-gara menemukan bagian nama saya di closetnya, seorang teman yang sirik menuduh Bapak mencomot Ina dari jamban yang didudukinya setelah putus asa mencari nama untuk saya. Hehhehehehe... tentu saya tidak termakan dengan hal itu. Karena sang kreator sudah memberitahu artinya. Dan sungguh nama saya berarti ibu yang selalu membina. Nahhhh kaannnnn itulah doa orang tua untuk saya ..... Amin amin amin ......

So, apakah Shakespeare benar-benar harus mencabut pernyataannya?

Senin, 04 April 2011

Free Flying Bird ......

Hai hai kamu, akhirnya setelah empat tahun maya minggu kemarin semuanya menjadi riil, touchable. Ehmmmm ....menyenangkan .... tapi jujur sebenarnya juga meremukkan sebagian .... Tapi OK-lah .... yang penting sudah menjadi touchable. Thank you very much telah membayar empat tahun yang maya dengan tiga hari yang riil. Ehmmmm .... jika dianggap sebagai sebuah perdagangan yaaaaaa not bad-lahh …. yaaaa cengli lahhh.... ehehehehehehe ....

Ada banyak hal yang menarik bagi saya dalam pembicaraan kita. Termasuk kebohongan yang tersingkap .... hehheheheh ..... By the way, you should not to lie to me .... Cuma mungkin seperti itulah hakikatnya di dunia maya bahwa kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Benar begitu benar, baby? And you be what you want, what you wish .....

Nah nah nah .... perkawinan .... ehmmmm sungguh perspektifmu mengenai satu hal itu menunjukkan betapa kita adalah dua orang yang sungguh-sungguh berbeda. Dimata saya, kamu adalah sesosok makhluk modern yang tak terikat pada apapun selain pada dirimu sendiri. Sedangkan saya merasa sebagai manusia bertualang dengan mesin waktu ke depan dan bertemu denganmu. Jadilah tergagap-gagap dengan perspektif itu. Padamu, saya sematkan dua deskripsi, you're a kind of free flying bird. Juga 'someone who entertain himself with his money' .... heheehhehehee semoga tidak terdengar begitu jahat. Karena memang tidak ada maksud mencemooh atau menyalahkan atau yang sejenisnya.

'I enjoy my single life' ....... ingat sekali ketika kalimat itu meluncur ringan dari mulutmu. Ada senyum. Ada kilau di manik mata. Ada riang di gestur. Ehmmmm artinya kalimat itu keluar dari hati. No regret. Ya, seharusnya seperti itulah hidup, tak ada penyesalan. Dalam hati saya bilang, I used to feel the same, but now feeling it's enough to be single ... aahahahahahahaha ..... Alasanmu, single life memberikan banyak kepraktisan. Tidak perlu urus 'exit permit' tiap kali mau kemana-mana. Tidak kena 'wajib lapor'. Tidak ada 'ekor' yang membutut selalu. Segala keputusan diambil lewat satu otak. Olala .... praktisssss sekali ...... Karenanya adalah hal yang tak cukup masuk akal bagimu makna yang tersirat ketika seseorang melakoni berjam-jam terbang melintas beberapa negara untuk menghabiskan waktu 3 minggu di desa kecil negara dunia ketiga dimana istri dan anaknya menunggu. Seperti sebuah perjalanan ke masa lalu di matamu. Mungkin bukan kesia-siaan, tapi mengapa? Sebuah pertanyaan menuntut yang nadanya terdengar sinis di telinga saya. Apalagi masih ada lanjutannya ternyata. Mengapa mesti meninggalkan tempat modern? Mengapa tidak bertahan menjadi bagian dunia pertama yang serba bermasadepan? Saya tercenung. Jadi apakah saya sial karena ada di tempat yang menurutmu tak cukup berarti itu? Hehehhehehe …. jujur jadi sedih ….. Juga jadi seperti sedang mendengarkan propaganda Amerika …. ahhahahahaha...

So, you enjoy your single life ….. and I said, very good, dear. But no need to be cynical when you see someone enjoy his family life. Dan tertawalah kamu. Katamu bukan sinis, cuma tak bisa membaca rencana selanjutnya. Ah embuh ….. cuma kepikir, ketika ibadah yang menyempurnakan setengah dien itu begitu indah di mata dan angan saya, kenapa jadi sesuatu yang merepotkan bagimu, dear? Punya pengalaman buruk, honey? Tak ada jawaban karena saya juga enggan menanyakannya karena terpikir terlalu privat.

So, setelah empat tahun chit and chat, akhirnya disinilah kita. Duduk tertawa-tawa sambil menghirup kopi Amerika yang jujur saya kurang tahu enaknya dimana selain cuma silau dengan merknya. Dan selama itu pula saya mengerti bahwa di dunia ini ada juga makhluk yang tak kukuh pendiriannya selain saya sendiri …..dan makhluk itu tengah duduk berbagi sofa dengan saya … ahahhahahahaha …... Dan saya jadi merasa tidak terlalu bersalah ketika niat di hati awalnya seperti sudah bulat jadi gepeng dan benjol di sana sini. Oh dear, lihat sepertinya kita adalah dua orang yang nyaris sama. Sama-sama meragukan satu dengan yang lain. Sama-sama mulai tak cukup kuat berpijak pada niat semula. Sama-sama menemukan ketidaksempurnaan pada diri satu sama lain. Dan lebih buruk lagi, sama-sama tidak mau jujur dan menutupinya dengan senyum canggung juga adat kesopanan..... Lalu apa yang saya lakukan? Ehmmmm mengekormu yang tengah meng-entertain yourself with your money …. hohoohohohohooh ….. what should I say, dear?

Nah nah nah ….. sekarang bagaimana? Ehmmm kehilangan juga rasanya ketika sayapmu mulai mengepak lagi. Cuma tak cukup punya nyali juga tak masuk nalar untuk mengiyakan tawaran yang disampaikan dengan setengah tak lengkap itu. Sementara untuk menagih tawaran pokok yang sudah pernah melayang bertahun lalu juga tak cukup yakin. Jadilah saya berdiri dengan gamang. Inikah akhirnya? Ada yang terasa hilang karena misteri yang terbuka….. Ada kecewa karena kebohongan yang tak seimbang …. Ada juga keriaan hura-hura yang memang tak biasa...... Tapi ujungnya adalah 'sorry dear, I can't accept the temporary thing that you offer' …... Lalu ada yang tertawa lewat pesan singkat dengan embel-embel '...let me show then you'll never forget me …' Hhoohohoohohohooh ...ada ketidakseimbangan yang menurut saya potensial terjadi. Jadi jawaban saya adalah 'hmmmm if I accept and really can't forget you then it means I hurt myself so badly, coz I know for sure you will fly here and there without me in your mind. May be you dont even remember my name .....'. Dan lagi-lagi yang saya dapat sebagai jawaban adalah tawa. See, you promise me nothing, dear........

Nah nah nah nah …. akhirnya yang tertinggal adalah aroma yang lebih berupa fantasi ketimbang realita. And now, when I see the sky above, I remember you dear, the free flying bird ….. and when I go to shopping center, you come to my mind as someone who entertain himself with his money …... hahahhahahahahaha ….

Anyway, thanks for visiting me, dear …...

Selasa, 29 Maret 2011

Sayang ..........

Sayang, betapa benar hidup tidaklah cukup sempurna. Setidaksempurna pertemuan untuk kita .... Sayang, menyesalkah kita? Sementara hidup adalah lingkaran yang harus kita putari. Bersama, lihatlah betapa besar lingkaran yang kau buat, sedangkan tanganku hanya menjangkaumu seperempat. Menyesalkah aku?

Ah Sayang, bukankah masa membuat tahu seperti itulah kita .... lingkaran besarmu, lingkaran kecilku, itulah yang kita genggam dalam tangan-tangan.... aku menangis dan tertawa dengannya.

Sayang, tak pernahkah kau punya redam dalam hati yang berlubang? dan mungkin yang kau inginkan kemudian adalah tidur yang dalam tanpa mimpi tentang harapan yang kian merayap pendar.......

Selasa, 08 Maret 2011

Senjata Andalan

Kakak perempuan saya tempo hari bercerita bahwa dia sempat dag dig dug ketika berkunjung ke Surabaya. Kala itu dia harus menghadiri rapat dinas di sebuah hotel di tengah kota Surabaya. Dari terminal Bungurasih dia menuju ke lokasi dengan menumpang bis kota patas AC. Dan katanya saat dia naik ke bis tersebut cuaca memang sudah mendung. Begitu bis berangkat hujan turun ke bumi seperti air yang tumpah, alias sangat deras. Nah, dag dig dug-lah kakak saya karena dia tidak membawa jas hujan, payung, atau sejenisnya. Pada saat yang sama dia juga tidak membawa baju ganti karena rapat memang dijadwalkan cuma sehari saja. Dalam bis yang melaju katanya dia terus memanjatkan doa agar hujan deras itu segera reda jadi dia bisa turun dan menghadiri rapat tanpa basah kuyup. Alhamdulillah doanya terkabul. Hujan deras itu reda tepat ketika bis mencapai pusat kota Surabaya dan kakak saya terhindar dari basah kuyup. Saya nasehatkan padanya untuk tidak pernah lupa membawa 'sejata' setiap kali ke Surabaya.

'Senjata'? Ehhheheheheh .... iya, saya menyebut begitu untuk beberapa barang yang menurut saya wajib. Barang tersebut adalah payung, sandal jepit, dan sepatu karet. Semuanya untuk 'berkompromi' untuk kondisi hujan dan banjir di Surabaya. Sekali lagi, hujan dan banjir. Sebab hujan bagi saya identik dengan banjir. Dan kalau bertanya daerah mana yang banjir, maka jawabannya adalah semua daerah! Mengapa begitu? Sebab rasanya memang susah sekali sekarang mencari kawasan bebas banjir di Surabaya. Kawasan yang katanya elit pun terkena banjir. Tengah kota juga. Dan kalaupun ada secuplik kawasan yang tidak tergenang banjir, saya yakin jalan menuju ke kawasan tersebut pasti tergenang banjir. Jadi tetap diperlukan perjuangan untuk mencapainya.

Nah, senjata pertama ada payung. Jelas fungsinya. Berubah menjadi jas hujan bagi mereka pengendara roda dua. Cuma bedanya payung bisa berfungsi di kala panas dan hujan. Sedangkan jas hujan hanya berfungsi pada saat hujan saja sebab rasanya bakal ada yang terbelalak jika ada yang mengenakan jas hujan di kala langit terang benderang dan panas terik. Jadi, bagi pejalan kaki atau pengguna angkutan umum seperti saya, tidak ada ruginya selalu menyiapkan payung. Seorang teman saya menyiapkan satu payung di rumah dan satu lagi di kantor sehingga tidak perlu membawa-bawa payung di dalam tasnya karena dia termasuk yang suka berganti tas. Sedangkan saya lebih memilih menyiapkannya di dalam tas saya, karena saya termasuk tipe yang tidak suka berganti tas. Terlebih lagi tas harian saya berupa ransel besar yang muat banyak barang termasuk laptop dan dokumen.

Senjata kedua adalah sandal jepit dan sepatu karet. Sebenarnya keduanya bisa saling menggantikan. Dulu sebelum punya sepatu karet saya selalu pakai sandal jepit di kala hujan, baik ketika berangkat maupun pulang kantor. Lalu pihak HRD kantor tempat saya berkerja memprotes dengan alasan karyawan dengan sandal jepit mencederai kehormatan perusahaan.... heeheheheheheh .... Ah kalau saya sih cuma bertindak berdasarkan kepraktisan saja. Dan lagi tak masuk akal rasanya jika tetap berjalan dalam bajir dengan sepatu kulit.

Nahhhhhhhhh ngomong-ngomong soal sepatu karet, saat ini banyak dijual barang ini dengan harga yang lumayan terjangkau. Dua sepatu karet saya harganya cuma lima belas ribu sepasang. Warna beragam. Demikian juga motif plastiknya. Kalau soal model sepengetahuan saya tidak terlalu banyak ragam, cuma hal ini tertutupi dengan motif dan warna yang beragam tadi. Jadi intinya saya saat ini saya lebih sering 'menunggangi' sepatu karet yang murah meriah itu ketimbang sepatu kulit atau keds. Awalnya tempo hari agak risih juga karena pernah punya pengalaman bertemu dengan tamu perusahaan yang rapi jali dan ketika berhadapan memandang saya dari atas kebawah. Ehmmmmmm .... walau tidak berkata apa-apa tapi nyaris rasa percaya diri saya drop ke level terendah. Untungnya saya ada di atas angin karena dia pada posisi menawarkan diri untuk menjadi pemasok. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka dengan penampilan saya, maka dia harus berusaha 'menyenangkan' saya ..... ahahahahahahah. Tapi tetap saja kejadian itu mempengaruhi saya, karena toh itu bukti nyata bahwa tak semua orang mematuhi kata-kata bijak 'don't judge the book from its cover'. Ah, saya jadi ingat sebuah film Hollywood yang dibintangi Robert Redford idola saya (waktu muda ehmmmmm .... dia amboi indahnya). Judul filmnya saya lupa. Cuma saya ingat sekali ada salah satu adegan dimana si tua yang ganteng itu menilai tamunya dari sepatu yang dikenakan mereka. Nah nah nah .... kalau sepatu benar-benar dapat digunakan untuk menilai kepribadian seseorang, lalu seperti apa kepribadian saya yang sekarang cinta mati dengan sepatu plastik yang cuma lima belas ribu perak sepasang itu? Ehmmmmm .... apakah saya akan dinilai sebagai seorang yang murahan? Ehmmmm entahlah .....

Soal sepatu plastik ini, seorang teman punya kecintaan yang kurang lebih sama dengan saya. Kami sama-sama suka mengenakannya. Kalau saya kadang masih malu mengenakannya di depan customer atau rekanan yang mentereng, teman saya itu sebaliknya. Dia cuek-cuek saja. Yang penting fungsinya. Juga otaknya. Demikian katanya. benar juga sih. Cuma kenyataannya dia lebih 'care' terhadap penampilan dibanding saya. Dia selalu memikirkan benar-benar komposisi warna yang melekat di badannya. Selalu memperhatikan model baju dengan seksama. Tak pernah mau terlihat seperti 'urap-urap' akibat tabrakan warna ataupun motif. Selalu seksama memilih warna, dan cenderung menghindari warna mencolok. Sedangkan saya, ehmmmmmm warna cerah selalu 'menggoda'. Jadi ketika dia memilih sepatu plastik warna coklat tua karena menurutnya lebih netral, maka saya dengan enteng mengambil warna merah ...... ahaahahahhaah ......

Oh iya, soal sepatu karet ini, saya pernah menemukan di satu mal terkenal sepatu dengan konsep yang sama tapi menggunakan merk asing yang telah mendunia. Warnanya hijau bening yang pasti cocok untuk sepasang kaki dengan kulit putih bersih (ehmmmmm ...kayaknya bukan kaki saya deh). Dan begitu saya dekati, wah wah wah ..... harganya membuat jantung saya melompat. Teman saya terkekeh-kekeh. Katanya, “ah saya mah ga butuh merk ...yang lima belas ribu aja dah top banget dehhhhh ...” Sedangkan saya? Ehmmm yang lima belas ribu juga dehhhhhhh ..... hhehhheeheheheh ....... Eh masih menurut teman saya, sepatu karet yang murah meriah ini sanggup memberikan perubahan karena harganya yang terjangkau di banyak kalangan membuat semakin banyak orang yang mengenakan sepatu pada saat keluar rumah. Alias tidak lagi mengenakan sandal. Jadi lebih rapi kan?

Anyway, satu pesan saya, jika berkunjung ke Surabaya sebaiknya persiapkan 'senjata' yang tepat.

Kamis, 03 Februari 2011

Pemimpin, Bapak Bangsa, dan Pahlawan

Semalam saya menonton sebuah tayangan yang cukup menarik, sebuah perbincangan tentang negarawan Indonesia. Ehmmmm .... sebenarnya sih ada nada-nada menyindir para negarawan dan elit politik saat ini. Ah sindirin seperti itu kan jamak yaaa di era demokrasi seperti ini? So, biarlah sindirannya berjalan terus, siapa tahu mengena di hati yang disindir ..... heheheheehhe

Nah, acara tsb mengulas tentang para bapak bangsa, yaitu Sukarno, Hatta, Agus Salim, dan Syahrir. Cerita tentang kehidupan mereka di masa lalu, yang tentu berisikan masalah teladan tentang kesederhanaan hidup. Sebenarnya bukan cerita baru bagi saya karena bapak saya adalah seorang pencerita sejarah yang baik, bahkan saya yakin lebih baik daripada guru sejarah saya..... eeheheheheh .... maaf Pak, Bu mantan guru sejarah saya, tapi saya mesti jujur ..... hehhehehehe.... Berkat bapak saya juga, sejak kecil sedikit banyak saya sudah mengenal nama Sukarno, Hatta, Syahrir, dan Agus Salim. Untuk Hatta dan Syahrir, saya tidak punya buku rujukan selain buku teks sekolah. Jadi sumber lain adalah tuturan bapak saya yang bisa jadi subyektif karena dibumbui pendapat pribadinya. Sedangkan untuk Sukarno dan Agus Salim, ada buku yang saya dapat; tentu saja; dari bapak saya. Biografi Sukarno yang ditulis oleh Cindy Adams dan buku Seratus Tahun Haji Agus Salim adalah bacaan saya semasa sekolah dasar dan sepertinya saya pernah mengulangnya ketika sekolah menengah. Dari buku itu saya tahu cerita-cerita kemelaratan Sukarno (juga ke-playboy-annya tentu saja) dan Agus Salim. Jujur dari kedua tokoh itu, Agus Salim cuek dan simple lebih 'nyantol' di hati saya ketimbang Sukarno yang flamboyan.

Nah nah .... saya mendengar dan membaca tentang mereka. Apakah saya belajar dari mereka juga? Ehmmmmmmm ..... embuhhhh .... hehehehehe .... cuma saya sangat salut dengan mereka,yang dalam kondisi susah masih kuat mencengkeram idealisme dan memperjuangkannya. Sering saya berpikir seperti apa otak Agus Salim sehingga bisa menguasai 9 bahasa asing? Sepeti apa Sukarno berpikir sehingga bisa menginspirasi jutaan manusia? Seperti apa Hatta berlaku sehingga dia bisa begitu lurus? Seperti apa seorang Syahrir membangun dirinya sehingga idealismenya tak luntur bahkan ketika mesti menjadi tapol sekalipun? Ahhhhh tak diragukan mereka adalah orang-orang hebat. Ada yang bilang bahwa pemimpin dilahirkan pada masanya. Jadi tak peduli sesusah apa rintangan menghadang, mereka akan bisa melaluinya dan tampil sebagaimana mereka ditakdirkan ...... Ehmmm jadi meskipun Agus Salim sempat tinggal di rumah kecil dengan wc yang selalu meluap, dia tetaplah Agus Salim yang akan menjadi manusia hebat di tanah ini.

Nah nah nah ....... how about now? Maksud saya, jika memang pemimpin dilahirkan pada masanya, maka berarti bakal ada pemimpin juga dong pada jaman saya ini..... Bukan sekedar pemimpin kacangan maksud saya, tapi pemimpin yang benar-benar 'ampuh' seperti mereka-mereka yang saya sebutkan namanya di atas. Mereka yang tidak mendapatkan predikat pemimpin dari membeli, tapi mereka yang mendapatkannya dari rintisan bermasa yang menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadinya. Mereka yang bervisi dengan idealisme yang tak goyah oleh badai apapun. Mereka yang menganggap materi adalah hal remeh temeh yang bisa dikesampingkan menjadi nomor sekian atau malah terbuang dari daftar prioritasnya. Ehmmmmmmm ..... kok kayaknya hebat sekali sehingga seperti utopia yang cuma ada dalam mimpi dan kata-kata ya..... Ahhhhh .... setiap pemimpin dilahirkan pada masanya. Soooooooo, pasti ada pemimpin itu .... Siapa? ehmmmmmm mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengidentifikasinya. Bukankah Sukarno, Hatta, Syahrir, dan Agus Salim diakui mutlak sebagai pemimpin, bapak bangsa, dan pahlawan setelah masanya lewat? Jadi berarti mesti tunggu masa ini lewat dulu ya? Mungkin ...... mungkin beberapa tahun nanti akan ada orang-orang yang dipredikati sebagai pemimpin, bapak bangsa, dan pahlawan yang sebenarnya lahir ceprot pada jaman saya hidup. Dan mungkin saja mereka nantinya adalah orang-orang yang saya kenal ..... mungkin juga anda ..... atau malah bisa juga saya ..... aahhahahahahaha .... ehmmmmm bagaimana rasanya jika nama saya diabadikan untuk nama jalan, atau tempat-tempat megah? Ehmmmmm .... memangnya ada yang mau saya pimpin? Ah, saya agaknya bisa menjawab pertanyaan ini .....

Sukarno pernah berkata, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jadi ya boleh saja dong jika misal saya bercita-cita memimpin bangsa ini dan kelak menjadi bapak eh ibu bangsa dan dianugerahi gelar pahlawan. Cuma kira-kira ada yang mau enggak ya saya pimpin? Ehmmmmm ... kayaknya saya mulai bisa meraba jawaban untuk pertanyaan ini ..... hehehehehehhe

Rabu, 26 Januari 2011

Pekerjaan Rumah

Seorang teman sempat menjadi bahan olok-olok di kantor karena sebelum berangkat kerja dia harus mencuci baju terlebih dahulu. Baju siapa saja? Ya semua orang seisi rumah, jawabnya enteng. Seisi rumah berarti baju kotor kedua anaknya dan istrinya. Tak ada pembantu rumah tangga untuk mengerjakan hal itu, tanya saya. Jawabnya masih enteng, tidak ada. Alhasil seisi yang lain langsung menggoda dengan menyebutnya anggota ISTI alias Ikatan Suami Takut Istri. Dan yang mengatakan hal ini tidak cuma yang laki-laki, tapi juga yang berjenis kelamin perempuan; kecuali saya. Yang digoda cuma senyum-senyum saja. Saya jadi membayangkan seperti apa istrinya. Apakah tipikal pengomel? Atau tipikal penjajah? Pikiran saya terputus ketika satu jawaban keluar dari mulut teman yang digoda tersebut. Katanya, “Saya kan menghormati dia sebagai patner dalam hidup. Dia sudah membantu saya mencari nafkah untuk keluarga. Jadi menurut saya wajar-wajar saja saya membantunya mencuci baju atau pekerjaan rumah yang lainnya.” Apakah dengan jawaban tersebut lalu godaan menjadi selesai? Ohhhhh jangan salah, godaan masih berlanjut terus dan predikat anggota ISTI tetap disematkan kepadanya. Sedangkan reaksi teman saya itu juga tetap tenang-tenang, menghadapi ejekan yang kadang cenderung bernada cemooh dengan sangat santai dan humoris. Sedangkan saya? Ehmmmm ... saya langsung beringsut kembali ke meja saya dengan kepala berisi sesuatu.

Jujur saja, kalimat jawaban tadi baru pertama saya dengar keluar dari mulut seorang suami. Saya heran. Saya salut. Berapa banyak suami yang berpikiran seperti dia? Ehmmmmm .... apakah dia melakukannya karena penghasilan istrinya lebih besar daripada yang didapatnya? Ini yang saya tidak tahu dan tak berani untuk mencari tahu. Ahhhh ... saya jadi ingat, seorang teman laki-laki mengaku penghasilan istrinya lebih besar darinya. Dan saking penasaran saya korek-koreklah dirinya. Hasilnya, dia tidak mencuci baju, tidak bisa memasak, dan juga tidak membersihkan rumahnya. Pekerjaan rumah yang dilakukannya adalah ngemong anak dalam artian menjaga saja, tidak termasuk mengganti popok, menceboki, menyuapi, dan sejenisnya. Nah, apakah berarti masalah besar kecilnya penghasilan tidak berpengaruh?

Mungkin memang tidak berpengaruh. Sebab saya melihat bukti yang lain. Seorang teman kos pernah membuat saya takjub karena staminanya yang tinggi. Dia berangkat kerja sekitar pukul 06.30. Dan seringkali baru pulang sekitar pukul 20.30 atau malah lebih. Katanya produksi sedang peak season jadi lembur terus. Dan jangan salah, setelah sampai di rumah dia tak berleha-leha. Setelah makan malam dia langsung bekerja membuat jajanan untuk dititipkan di kantin pabrik esok hari. Dan jangan dikira pekerjaan membuat jajanan ini sederhana, karena saya lihat prosesnya cukup memakan waktu dan tenaga. Dia harus terlebih dahulu merebus bahannya, lalu memotong sesuai ukuran, lalu menggoreng, dan terakhir mengemasnya dalam plastik kecil-kecil sehingga jajanan itu bisa dijual dengan harga seribu perak perbungkus. Dan melihat caranya menutup plastik bungkus dengan membakar mulut plastik dengan lilin, saya langsung merasa pegal yang luar biasa. Dia mengerjakan semua itu hingga jauh malam. Kadang ketika terbangun dini hari saya melihat kamarnya setengah terbuka dan dia tidur bersender di tembok dengan lilin menyala di depannya. Iseng saya tanyakan berapa jam dia tidur dalam sehari. Jawabnya paling lama tiga jam. Dan dia masih bisa berdiri tegak. Saat itu saya langsung membenci suaminya. Karena saya lihat laki-laki itu hampir selalu pulang jauh lebih cepat dan saking cepatnya sering bisa tidur siang. Kalau memang sang suami luang waktunya kenapa pekerjaan membuat jajan tidak dialihkan pada sang suami saja? Toh materialnya sudah tersedia di kulkas sejak siang hari. Kalau memang pekerjaan bisa dibagi kenapa tidak dibagi? Takut rasa jajanannya berbeda? Ahhhh yang begitu mah bisa diatasi dengan takaran-takaran baku dan pembelajaran.

Ehmmmmm .... apakah dari dua kejadian yang saya sebutkan di atas berarti laki-laki cenderung enggan membantu mengerjakan pekerjaan rumah? Ehmmmmmm .... mungkin sebenarnya tidak juga. Toh di atas cuma dua kejadian saja, jadi tidak bisa dikatakan mewakili kan? Mungkin di luar sana semua pasangan di selain dua pasangan di atas semuanya bekerja sama soal pekerjaan rumah dengan indahnya .....

Jujur sebagai perempuan, kuping saya tentu akan 'semriwing' senang jika mendengar pasangan berbicara seperti teman yang saya sampaikan di paragraf pertama. Saya akan terharu ..... juga senang ..... juga bangga...... Ehmmmmmm juga bakal besar kepala dan berubah menjadi penjajah ga ya? hehheeehhehe ...... Semoga tidak ......

Selasa, 25 Januari 2011

not lost without you

I’m Not Lost Without You

see, I’m not lost without you
Just a little bit confuse,
unstable,
got hole in my head
not too deep, not too big,
but enough for making me incomplete

still it’s true I’m not lost

see, I’m still going on
even everybody says I’m getting slower
I just say this is life
real life
of me

see, I’m walking through this all
cause this is life
real life
of me

crying will be yesterday’s thing
as yesterday as smiling and laughing
it’s fair, right?

See, I’m not lost without you
incomplete for a while,
unstable for a while,
it’s all just human side of me

see, I’m going ….