Kamis, 31 Desember 2015

Terompet

Tet tetet tetetttttttttttttttttt...... begitulah bunyinya ....
Terompet di malam tahun baru apa artinya? Resolusi baru? Ehmmm.... silahkan, tapi pastikan untuk tidak jadi resolusi hangat-hangat tahi ayam ... hehehhehehe...

Tet tetet tetettttttttttttttttttttttt

Senin, 30 November 2015

Puasa Media

Tempo hari seorang teman menyarankan agar saya meninggalkan koran, buku, dan televisi selama sebulan.  Katanya ini dimaksudkan agar saya bisa mulai belajar mendengarkan ‘suara’ dari dalam diri sendiri. Sebulan penuh, mulai sejak dia mengucapkan itu pada pertemuan kami. Saya melongo. Sebulan penuh tanpa media alias puasa media, begitu pendeknya. Saat itu yang terpikir adalah mampukah dan apa enaknya hidup tanpa media seperti itu? Teman saya tersenyum, berkata bahwa dia tahu itu bakal berat buat saya tapi di akhir puasa saya akan merasakan manfaatnya.  Baiklah saya akan lakukan, jawab saya. Lagi dia tersenyum senang. Dan dengan sangat baik dan murah hati dia memberikan tiga buku agama dan beberapa barang. Buku agama itu katanya sebagai ganti dari buku-buku yang dilarangnya saya baca karena selama masa sebulan itu saya cuma boleh membaca buku agama dan buku cerita anak-anak.

Jadilah sejak keesokan harinya saya puasa media. Berat karena walau tak tergantung pada televisi, saya punya kebiasaan makan di depan layar gelas itu, sekedar menonton berita. Juga saat itu sedang berlangsung ajang kompetisi pencarian bakat yang tayang seminggu sekali dan saya tonton tiap minggunya. Dengan berat saya meninggalkannya. Tempat makan pindah ke teras. Saya berusaha keras untuk tidak mendengar suara apapun dari televisi. Kalau pas lewat ruangan duduk dan kebetulan televisi menyala karena ditonton bapak atau ibu saya maka saya akan memalingkan muka dan menulikan telinga. Saya juga jadi rajin mematikan televisi yang sering dinyalakan oleh ibu saya ketika beliau memasak. Saya juga yang mematikan televisi yang ditinggalkan begitu saja oleh bapak saya. Pokoknya begitu pegang remote maka satu-satunya tombol yang saya pencet adalah power, lalu plas matilah dia.

Koran. Nah, ini juga hal berat untuk ditinggalkan.  Saya bukan termasuk pembaca koran yang melahap habis seluruh halamannya. Tidak, selama ini saya pembaca yang pemilih. Headline tentu saya baca. Kolom-kolom opini kalau tidak terlalu ruwet juga akan saya baca. Berita ekonomi dan bisnis asal ulasannya tak penuh variabel yang njelimet juga jadi pilihan saya. Berita luar negeri termasuk pilihan utama. Berita sosial budaya termasuk minat saya. Berita olah raga juga jarang saya lewatkan terutama jika menyangkut tenis. Jadi jelas terasa ada yang hilang ketika koran tak boleh lagi saya baca. Alhasil apa yang saya kerjakan adalah sekedar melipat koran yang ditinggalkan tak beraturan oleh bapak atau kakak saya. Tak itu saja, saya juga tak membaca berita dari situs online, pun rupa-rupa berita yang di-share di media sosial.

Buku. Sungguh ini luar biasa berat karena ketika teman saya memberikan tantangan itu, saya sedang menyimpan beberapa novel pemberian teman yang belum terbaca. Yes, novel ada godaan besar. Saya termasuk yang mengeloni buku di tempat tidur. Buku juga hampir selalu menjadi teman menjelang tidur. Begitu mulai puasa media, yang pertama saya lakukan adalah menyingkirkan semua itu dari atas tempat tidur. Sengaja saya balik susunan buku sehingga tak terbaca judulnya.
Seminggu pertama berat sekali melakoni itu semua. Saya terus menerus memimpikan masa sebulan itu segera lewat. Masuk minggu kedua mulai terasa ringan. Merajut; kegiatan yang diijinkan teman saya dan sangat disarankan; jadi pengalihan yang menyenangkan. Minggu ketiga dan keempat terasa longgar. Buku, koran, dan televisi tak tampak menarik. Begitu genap sebulan yang artinya sudah boleh buka puasa saya juga tak jadi kemaruk segala hal itu.

Ya, informasi ataupun berita atau apalah namanya terkadang bukan sesuatu yang memberikan energi positif bagi saya. Sebulan tanpa semua itu saya jadi mulai mengerti betapa semua itu bisa menggiring saya ke arah-arah tertentu. Semua itu juga bisa memicu kemarahan, kecewa, sedih, putus asa, pikiran negatif, dan apapun tanpa saya sadari. Sebagai contoh jika saya menonton berita politik negeri ini yang selalu gaduh sana gaduh sini. Akan timbul paling kemarahan, dan kecewa karena perilaku orang-orang yang sebenarnya tak saya kenal. Mereka sih santai-santai saja wong sudah pekerjaannya begitu. Sementara saya diam-diam menumpuk banyak hal negatif di bawah sadar saya, teracuni, tergiring ke arah yang entah menuju kemana atau siapa, dan sebagainya. Ini kurang lebih yang disebut teman saya bahwa perlu belajar lagi mendengarkan suara dari dalam diri, suara nurani sendiri. Terlalu riuhnya suara-suara luar membuat saya tak bisa mendengar suara dalam diri saya sendiri.

Sekarang di tengah segala kegaduhan negeri ini, seakan saya punya alternatif untuk keluar darinya, yaitu menutup semua akses berita agar tak bisa menyentuh saya, agar tak terpengaruh menjadi keruh. Sungguh sampai sekarang tak putus rasa terima kasih saya pada teman yang mengajarkan ini.


Mau coba juga ? 

Sabtu, 31 Oktober 2015

MAJEK

Satu kegiatan yang jamak diperani ibu-ibu seangkatan saya adalah menjadi majek. Majek alias mama ojek yaitu mengantar jemput anak-anaknya kemana saja, tak cuma ke sekolah tapi juga les ini itu, belajar kelompok, ekskul, dan sebagainya. Seorang teman yang anaknya lebih dari dua dengan umur yang berbeda-beda bisa kisaran lima kali sehari pulang pergi karena masing-masing anak punya jadwal kegiatan sendiri-sendiri yang bisa berarti beda jam dan beda tempat. Capek nggak, begitu tanya saya. Katanya capek juga sih, tapi mau bagaimana lagi wong memang kondisinya begitu. Katanya untung dia tak kerja kantoran jadi gampang saja melakukan yang begitu. Tapi tak kerja kantoran bukan berarti dia tak bekerja lho. Si ibu ini punya kegiatan usaha di rumah dan tak punya asisten rumah tangga. Dan tugas ngojek ini tak bisa dibagi dengan sang bapak karena beliaunya mengantor yang tentu tak memungkinkan untuk keluar seenak udelnya.

Saya jadi membandingkan kondisi ini dengan jaman saya sekolah TK, SD, SMP, dan SMA puluhan tahun yang lalu. Tua amat yaaaa...? Hahahahaha.... Saya menghabiskan keempat masa sekolah itu di kota kecil, cuma sebuah kabupaten yang sedang-sedang saja tingkat keramaiannya. Saya ingat betul jaman TK orangtua mengabonemenkan becak untuk kami bertiga. Waktu itu kedua kakak saya sudah masuk SD. Untuk menghemat tenaga pak tukang becak karena jarak rumah dengan sekolah lebih dari lima kilometet, saya mesti ikut berangkat pada jam yang sama dengan kedua kakak berangkat walau sebenarnya jam masuk saya setengah jam lebih lambat dari mereka. Cuma pulangnya saya dijemput sendiri. Terus waktu SD hanya sebentar  abonemen becaknya. Sebab keluarga kami pindah ke kota lain dan sekolah jadi lebih dekat. Kedua kakak diijinkan untuk berangkat sendiri bersama teman-teman mereka. Sementara saya masih naik becak tapi tidak abonemen. Masuk kelas tiga, seingat saya makin jarang naik becak, dan lebih sering pergi bareng dengan kakak, jalan kaki. Waktu seumur itu saya tak punya kegiatan kursus atau les seingat saya. Paling belajar atau tugas kelompok yang sering-sering dikerjakan di rumah saya dengan teman-teman datang bersepeda. Mulai kelas lima saya sudah diijinkan untuk berjalan atau bersepeda sendiri ke sekolah. Kakak-kakak sudah masuk SMP waktu itu. SMP dan SMA juga saya lakoni dengan berjalan kaki dan bersepeda, dan semakin banyak teman seperjalanan.

Seperti saya bilang, saya tak sendirian. Banyak teman saya melakukan hal serupa. Sebagian malah dengan jarak rumah yang berlipat-lipat lebih jauh. Ada yang rumahnya berjarak lebih dari dua belas kilometer dari sekolah dan dilakoni dengan sepeda onthel karena memang tak ada kendaraan umum yang bisa digunakan. Alhasil setiap kali sampai sekolah rata-rata punggung mereka basah dan bedaknya luntur. Tapi ya dilakoni terus wong namanya nggak ada pilihan lain. Pernah satu kali saya bersepeda ke rumah teman yang jauhnya kisaran sepuluh kilometer dari rumah saya. Waktu itu sekolah masuk siang dan harus membawa kecebong untuk pelajaran biologi. Karena tak menemukan kecebong di sekitar rumah, nekadlah saya ke rumah teman tersebut. Lumayan juga pegalnya mengayuh pedal dua kali sepuluh kilometer. Lha padahal teman saya melakoninya setiap hari, bisa dalam kondisi panas terik ataupun hujan deras. Mengingat iku sekarang saya jadi begitu salut pada mereka. Mengayuh sepeda duapuluhan kilometer sehari demi sekolah tentu belum apa-apa karena sekarang pun kenyataannya masih banyak anak-anak di negeri ini yang mesti melintasi jembatan yang nyaris ambrol atau berjalan kaki puluhan kilometer. Tapi membandingkannya dengan mereka yang diantar jemput dengan majek tentu terasa lain.


Hai, jangan salah ya, saya tidak sedang menjustifikasi mereka yang punya fasilitas majek itu bagaimana bagaimana. Tidak, sama sekali bukan begitu. Saya sekedar membandingkan apa yang saya alami dulu dengan saat ini. Sejak dua tahun lalu saya kembali ke kota yang sama dengan yang saya tinggali ketika jaman SD hingga SMA. Memandangi kembali bekas sekolah saya yang sekarang lebih mentereng membuat teringat semua itu. Tapi di jalan-jalan tak lagi banyak saya temui pelajar bersepeda, apalagi berjalan. Bersepeda masihlah ada, tapi tak sebanyak dulu jaman saya. Kalau yang berjalan, ehmmmmm kok rasanya tak pernah lagi ya menemukannya? Pelajar-pelajar SMU rata-rata sudah mengemudikan motor sendiri. Beberapa malah mengendarai mobil. Sementara yang lebih muda ya itu tadi, pakai layanan majek, mama ojek. 

Sabtu, 26 September 2015

Ketemu Pesohor


Masih ramai diberitakan di media saat ini soal pimpinan dewan yang bertemu, kemudian ikut tampil dalam jumpa pers yang digelar seorang pengusaha USA super terkenal dan, tentu saja, kaya raya, dan lagi berambisi menjadi pemimpin negeri. Jangan salah, saya menulis kali ini bukan untuk ikut meramaikan silang pendapat tentang benar atau tidaknya tindakan itu. Jujur, saya sedang tidak mood membicarakannya dari sisi tersebut. Toh, sudah banyak sekali yang berpendapat ini itu, dan yang bersangkutan juga sudah membela diri dengan alasan segala rupa.

Saya lebih tertarik membicarakan ekspresi wajah dua pimpinan dewan yang jelas tertangkap kamera dan videonya diunggah di youtube. Selalu geli saya melihat ekspresi wajah mereka. Lihat, betapa mereka tersenyum-senyum, yang menurut opini saya pribadi itu adalah senyum bangga. Lihat kilatan mata sang orang kedua, kilatan mata yang begitu hidup! Mungkin jika mata itu bisa bicara, dia bakal ngomong, “hei, lihat! Saya sedang dengan dia yang terkena! Hebat kan saya? Kamu nggak bisa begini kan? Silahkan iri!” Sementara si orang pertama yang tampak sedikit lebih kalem. Memang selama tampil di media sebelum-sebelum ini, dia menurut saya lebih kalem ketimbang si orang kedua yang selalu tampak antusias jika diwawancara, terlebih ketika berkepentingan membela bosnya. Tapi kalem bukan berarti tak bangga lho. Lihat senyumnya yang agak malu-malu kucing itu. Lihat kilau matanya. Kalau mata itu bisa bicara maka menurut saya inti kalimatnya tak beda jauh dengan yang diucapkan oleh mata si orang kedua, sama-sama bangga ada di sana. Hahahahahaha.... sungguh, berkali-kali rekaman itu ditayangkan, berkali-kali saya melihatnya dan selalu tertawa. Seorang rekan mereka yang dimintai pendapat oleh wartawan agaknya juga berpikir sama dengan saya. Intinya kurang lebih sang rekan ini bilang bahwa wajar-wajar saja mereka di situ bersama si bule yang terkenal seantero dunia. Masih kata sang rekan, tak perlu diperbesar-besarkan toh si bule belum resmi jadi kandidat presiden dan kalaupun sampai jadi presiden pun itu bakal jadi memori tersendiri bagi kedua pimpinan dewan itu. Nah lho, berarti benar soal kebanggaan yang saya sebut di atas tadi. Soal benar atau salah menurut kode etik yaaa embuhlah! Namanya juga mumpung lagi ketemu mereka yang terkenal ya mosok dibiarkan saja momen itu berlalu? Begitu ya, Pak? Hehehehehhe.....

Ketemu orang terkenal memang sesuatu. Apalagi jika orang itu termasuk yang  diidolakan, wah tambah lebih dari sesuatulah. Cuma kok saya sering berpikir sebaliknya ya? Ketika ketemu orang beken saya bukan termasuk yang buru-buru mendekat meminta foto bersama. Saya lebih suka diam-diam mengamati dari jarak aman, mencari momen-momen khusus yang menunjukkan bahwa sebeken apapun dia tetaplah manusia biasa.

Satu kali saya tengah menunggu kereta malam untuk pulang ke Surabaya dari Jakarta. Lalu saya lihat satu sosok bule tinggi yang wajahnya sering tampil di koran. Saya mengenali rohaniawan sekaligus budayawan itu. Agak tertunduk-tunduk dia membawa tasnya masuk ke gerbong. Wajahnya ramah biasa, tidak menantang sekitar untuk mengenalinya. Juga sabar menunggu antrian, tampak maklum ketika orang mendesaknya. Oh jadi begitu ya dia kesehariannya, cukup sama dengan apa yang selama ini ditulisnya di artikelnya. Teman yang sedari tadi duduk di sebelah saya menunjuknya dengan dagu, apakah saya kenal siapa dia. Entah mengapa dia agak terkejut ketika saya sanggup menyebut lengkap nama beliau. Ah, kau pikir aku tak pernah baca koran ya, Kang? Lalu dia bertanya apakah saya akan menyambangi gerbongnya sekedar minta tanda tangan atau apa karena toh kami ada di kereta yang sama cuma beda gerbong saja. Tak saya lakukan hal itu, cukup sudah melihat sosoknya menjejak peron yang sama dengan saya.

Kali lain selesai menikmati midnight show di bioskop, saya pindah bersama rombongan teman pindah nongkrong ke restoran cepat saji yang buka 24 jam. Baru saja menempelkan pantat ke kursi, muka saya berhadapan dengan wajah terkenal. Penyanyi laki-laki. Jarak kami dipisahkan dengan satu meja kosong. Dan kami saling menatap. Saya sempat menimbang-nimbang apakah perlu menyenyuminya dengan girang, atau diam-diam saja. Akhirnya dia yang memberi saya senyum tipis sebelum mengalihkan pandangan ke foto menu. Seorang teman menyenggol siku saya sambil membisikkan nama si pesohor. Ah, tak perlu dibisiki saya juga sudah tahu. Kali ini pun saya tak berminat mendekat. Cukup menyaksikannya tersenyum enggan meladeni mbak-mbak yang datang menyapa. Ya wajarlah kalau dia enggan. Waktu itu dini hari, mungkin dia mengantuk dan lapar sekaligus. “Nggak nyamperi?” tanya teman saya. Saya menggeleng. Kenapa? Ehmmmm kenapa ya? Salah satunya karena saya juga mulai mengantuk dan lapar. Sebab lain mungkin juga karena saya tak terlalu suka dengan lagu-lagu sedihnya.... hehhehehehehehe.... Mendapat senyum tipis cukuplah, lalu biarlah dia mengisi perutnya dengan tenang seperti saya.

Eh tapi pernah juga lho saya berfoto dan minta tanda tangan pesohor. Itu terjadi pas saya terpilih untuk ikut dalam semacam klinik menulis yang diadakan oleh penulis fiksi terkenal yang saya gandrungi. Sumpah, senengggggggggggg sekali. Saya sampai sanggup duduk menunggu selama lebih dari satu jam sebelum sang penulis ini datang. Dan seperti biasa, saya mencari momen kecil tentangnya dan saya dapatkan itu. Saya tengah mengangkat kamera, menunggu momen untuk memotretnya. Waktu itu dia masih berdiri di pinggir ruangan, menunggu sang pembawa acara yang masih memberi prolog untuk memperkenalkannya. Sang bintang yang berdiri santai memegang kertas catatannya tiba-tiba menoleh kepada saya dan tersenyum. Saya langsung menjepretnya sambil berucap terima kasih. Bukan foto yang bagus karena tak terlalu fokus, tapi saya senang dengan aksi kecilnya itu. Selepas acara, peserta  menedekat, rata-rata membawa minimal dua buku untuk dia tandatangani. Sementara saya sudah merasa cukup membawa satu saja. Bukan karena saya tak mengkoleksi bukunya, tapi karena tak mau membuat tangannya pegal saja. Apalagi toh bukan tanda-tangannya yang saya butuhkan. Setelahnya kami berfoto bersama. Bisa ditebak, itu bukan foto yang bagus karena saya bingung bagaimana harus berpose dan menata wajah agar tak kalah cantik dengannya . Dan ketika peserta lain mengunggah foto mereka di media sosial, saya cukup menyimpannya di dalam komputer saja.

Yang terakhir ketika saya ikut workshop gratisan tempo hari. Pematerinya seorang fotografer profesional terkenal. Saya datang awal sehingga sempat melihat sesi persiapan sebelum acara dimulai. Agaknya si beken ini tipikal yang tak segan terlibat dalam pekerjaan persiapan walau tentu sudah ada tim ataupun orang kepercayaannya. Buktinya dia sudah hadir di lokasi lebih dari dua jam sebelum acara dimulai, berbaur melakukan ini itu dengan panitia dan timnya. Saya melihat dia mondar-mandir, diekori dan mengekori orang lain. Jadi begini ya cara kerja fotografer profesional nan terkenal... Saya senang saja melihatnya ikut repot, tak berlaku sebagai orang penting yang mesti dilayani. Oh iya, saya juga senang melihat interaksinya dengan istrinya yang ikut mendampingi. Senang melihat mereka berjalan rapat-rapat dan berbaju sewarna, hitam semua. Sengaja atau tidak ya soal bajunya? Embuhlah. Dan soal baju ini saya sempat kecele karena berpikir si beken ini akan salin nantinya. Ternyata tidak. Celana yang dipakainya tetaplah celana sepanjang setengah betis yang memang sudah dipakai sejak datang tadi. Jadi acara workshop itu dibonusi pemandangan betis telanjangnya .... hheheheheh... ya wislah ga papa. Seusai acara begitu banyak yang bergerombol menunggu kesempatan minta foto bersama, termasuk teman-teman saya. Sementara saya memilih tempat di depan seluruh adegan itu terjadi sambil mengunyah kue yang diberikan panitia. “Nggak ikut foto?” tanya teman saya. Tidak usahlah, jawab saya sembari mencomot kue kedua. Sementara di depan sana si beken membuat pose yang diulang-ulang terus : merangkul ringan bahu seseorang dan tersenyum menatap kamera. Diam-diam saya berdoa semoga dia tak bosan melakukannya.

Iya, sungguh ketika melihat pesohor meladeni pengagum bin penggemarnya saya selalu bertanya dalam hati dia bosan nggak ya, atau menikmati dikagumi gitu nggak ya? Masalahnya yang pada minta foto, tanda tangan, atau semacamnya pasti senang hati bisa ketemu muka dengan idolanya. Tapi apa sang idola juga berpikiran sama? Jangan-jangan malah sebel karena mesti berbasa-basa dan menjaga sikap baik demi tak kehilangan penggemar ...... Jangan-jangan lho..... Kan mereka juga manusia biasa......


Gambar dipinjam dari http://www.shutterstock.com/s/celebrity/search.html?page=1&inline=115442800


Senin, 31 Agustus 2015

Guyonan Yang Jadi Tak Lucu

Beberapa hari setelah lebaran , sebuah pesan singkat berisi ucapan masuk ke ponsel saya, setelah sekali menelepon tapi terlewatkan. Saya tak bisa mengenali siapa pengirimnya karena nomornya tak ada dalam  phone book. Jadilah saya balas dengan ucapan serupa sambil menanyakan identitas pengirimnya. Terkejutlah saya ketika dia mengaku sebagai mantan bos saya di perusahaan yang terakhir saya tinggalkan. Dengan menjaga sopan santun, saya sampaikan terima kasih atas perhatiannya dan saya menghargai itu. Saya pikir urusannya selesai sampai disitu. Ternyata tidak. Di pesan berikutnya dia memberikan penawaran untuk kembali bekerja di kantornya. Kagetlah saya. Bukan alasan apa-apa, hanya saja saya tidak berpikir untuk kembali bekerja di luar kota lagi karena kondisi yang menurut saya tak memungkinkan. Saya mencoba menolak dengan halus, dengan menjabarkan kondisi dan fokus utama saya saat ini. Tapi ternyata si mantan bos ini terus mendesak. Demi menjaga hubungan baik saya memutuskan untuk tidak menjawab penawaran tersebut malam itu juga. Jadi saya putuskan untuk tidak membalas pesannya.

Pembiaran semalam sebelumnya membebani pikiran saya. Saya menganggap pembiaran sama dengan membuat persoalan menggantung tanpa solusi. Saya tak suka itu. Di sisi lain saya juga merasa wajib untuk menjaga hubungan baik dengan mantan bos. Akhirnya malam hari berikutnya saya kirim pesan permohonan maaf tidak bisa menerima tawarannya. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepadanya. Sehari itu berlalu tanpa balasan. Saya lega karena artinya si mantan bos sudah menerima jawaban saya dan mengerti. Saya pikir masalah selesai sudah dan leluasa kembali fokus pada urusan saya.

Ternyata  saya salah. Hari berikutnya ketikas sedang dalam perjalanan ke luar kota bersama seorang teman untuk suatu urusan, ponsel saya berbunyi terus menerus. Si mantan bos menelepon. Sungguh saya tak siap dan tak ingin bernegosiasi di dalam bus yang sedang berjalan dan di depan teman saya. Jadi saya abaikan saja panggilan itu. Dan karenanya dia jadi menghujani saya dengan pesan yang isinya masih seputar penawaran dan malah ditambah dengan ajakan untuk bertemu. Sumpah saya jengah. Saya sedang dalam satu urusan, dan tak siap membicarakan urusan baru dengannya. Seharian itu saya abaikan semua telepon dan pesan darinya, dengan janji pada diri sendiri akan mengirimkan email kepadanya berisi penjelasan lebih detail bahwa saya tak bisa menerima tawaranny. Saya putuskan berkirim email karena dengan masih mengejar-ngejar seperti itu artinya dia tak cukup bisa menerima penjelasan saya lewat pesan singkat. Dengan email saya punya lebih banyak ruang untuk memberikan penjelasan. Alasan lain ya saya enggan bernegosiasi langsung dengannya ketika jawaban saya negatif untuknya.

Dua hari setelah itu, email saya melayang padanya. Saya tunggu beberapa jam ternyata tak ada balasan. Saya pikir sekarang email saya mengena sasaran dengan sempurna. Saya lega. Tapi ternyata tak lama. Menjelang siang ponsel saya kembali berbunyi dan dari nomer yang sama. Mau tak mau saya terimalah itu panggilan. Dan terkejutlah saya ketika ternyata dari suara dan pengakuannya si penelepon bukanlah mantan bos tetapi mantan teman sekantor. Saya gagu seketika, teringat email yang sudah kadung saya kirim pagi sebelumnya. Sementara teman saya di seberang terkekeh-kekeh, merasa berhasil mengerjai saya. Saya marah besar. Sungguh itu guyonan yang sama sekali tak lucu. Saya masih bisa menerima dikerjai seperti itu jika saja tak sampai berlarut-larut begitu.jika dia berniat guyon dengan sehat seharusnya dia berhenti ketika saya benar-benar percaya bahwa si penelepon adalah mantan bos seperti pengakuannya. Seharusnya dia berhenti dan menyelesaikan guyonan itu dengan manis. Tapi yang dilakukannya justru mempermainkan ketidaktahuan dan kepercayaan saya dengan semena-mena, tanpa berpikir efeknya. Saya kecam habis-habisan dia tanpa peduli masih dalam suasana lebaran dimana orang biasa memaafkan segala kesalahan dengan mudah. Kesalahannya terlalu besar untuk dimaafkan secepat itu. Apalagi terbukti dia tak berani ketika saya minta untuk berkirim email ke saya dan bos untuk menjelaskan email yang saya kirimkan itu karena ulahnya. Dengan marah sekali saya bilang padanya bahwa dia cuma tahu berguyon tapi tak tahu kapan harus berhenti. Dari nadanya meminta maaf sekali lagi, saya tahu dia takut dan menyesal. Tapi itu tak cukup untuk meredakan saya. Apa yang dilakukannya buruk sekali. Sejak kejadian itu kami belum berhubungan lagi. Saya masih menganggapnya teman tentu saja, tapi dengan catatan negatif. Bukan mendendam, hanya tak bisa memberi respek padanya seperti sebelum kejadian ini.


Jadi kesimpulannya adalah berguyon boleh, tapi harus tahu kapan harus berhenti. Saya camkan juga hal itu untuk diri saya sendiri. 

Jumat, 31 Juli 2015

Tante Pelit

Ya, itu kalimat yang terlontar dari mulut keponakan saya, yang ditujukan pada tantenya, yaitu saya..... hahahahhaaha... Tak cuma sekali dia mengatakan itu pada saya, tapi entah kenapa saya tak pernah marah karenanya. Tak pernah saya tersinggung. Reaksi saya selalu antara nyengir, tersenyum, atau tertawa. Tidak marah bukan karena takut terhadap emak si bocah yang notabene kakak kandung saya. Hanya setiap kali kalimat itu keluar dari mulutnya saya selalu merasa geli, juga menang karena berhasil membuatnya jengkel karena tak bisa memperoleh apa yang diinginkannya.

Sebenarnya masalahnya sepele sih, masalah sangu yang kadang diberikan oleh yangkung dan yangtinya ketika dia datang berkunjung. Besarnya kisaran antara lima puluh sampai seratus ribu perorang. Saya memaknainya sebagai ekspresi senang yangkung-yangti yang telah dikunjungi oleh cucu-cucunya. Dan jumlah cucu yang cuma tiga orang itu membuat orang tua saya tak merasa berat untuk mengeluarkan sejumlah itu. Dan tak cuma yangkung-yangti yang memberi. Kadang pada saat tertentu tante yang lain; selain saya tentu saja; juga memberikan sangu untuk mereka. Alhasil saya yang tak berpartisipasi dalam kegiatan itu jadi dianggap pelit. Pernah satu kali ketika semua memberikan sangu kecuali saya, si bocah yang paling vokal terus terang bertanya kepada saya, “Tante sebenarnya punya uang atau tidak sih?” Dan lagi-lagi saya cuma tertawa. Saya jawab bahwa saya sebenarnya juga berniat memberikan sangu tapi berhubung sudah banyak yang menyangoninya dan uang yang dia dapat sudah cukup banyak untuk anak SD maka saya batalkan niat tersebut. Apa yang keluar dari mulutnya gampang ditebak: Tante Ina pelitttt ! Ahahahahahaha.....

Pelitkah saya? Entahlah. Hanya saya memang tak suka memberikan uang pada anak-anak. Saya lebih suka memberikan bentuk lain seperti buku, mainan, atau makanan pada mereka. Semuanya asal sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Ada kalanya saya bawa mereka untuk membeli es krim untuk semua. Saat yang lain saya belikan mainan. Jika ada buku yang tak mereka temukan toko buku di kota tempat mereka tinggal, lalu meminta saya mencarikannya, dengan senang hati saya lakukan dan tak saya tagihkan biayanya. Bagi mereka mungkin ini tak terasa sama dengan menerima uang walau sebenarnya untuk membayar semua itu tentu saya menggunakan uang.

Kenapa saya tak suka memberikan uang? Entahlah, saya tak bisa menjabarkannya secara gamblang. Hanya saya selalu ngeri setiap kali melihat anak-anak mempunyai uang berlebih, lalu membelanjakannya sesuka hati, termasuk untuk barang-barang tak perlu. Melihat yang begitu saya selalu bertanya dalam hati tahukah mereka bagaimana proses mendapatkan rupiah-rupiah yang mereka belanjakan tanpa banyak berpikir itu? Tahukah mereka bahwa ada orang-orang yang harus jungkir-balik demi sekian rupiah yang mereka belanjakan dengan enteng tanpa berpikir itu? Ketika dengan senang hati mereka mengobral uangnya, ada anak-anak lain yang justru harus mengumpulkan peseran untuk sekedar mengisi perut yang belum tentu mengenyangkan. Oh iya satu lagi, setiap kali melihat anak-anak yang berlebih seperti itu saya jadi membandingkan dengan diri sendiri. Pada saat seumur mereka, saya tak punya kelebihan seperti itu walau tak juga jadi yang selalu lapar. Seorang teman ketika mendengar ini berkomentar bahwa sebenarnya saya mengiri dengan keponakan karena saya tak punya apa yang mereka punya. Mengiri .... ehmmmm .... mungkin juga ya? Ahahahahaha....


Baiklah, mungkin saja sebenarnya saya mengiri pada keponakan. Tapi tetap ada lho sisi baiknya. Saya berharap mereka tahu proses, tahu ada banyak hal di luar mereka yang patut diperhatikan. Kalau efeknya adalah menjadi tante yang pelit ehmmmm mohon dimaafkan sajalah yaaaa... 

Senin, 29 Juni 2015

Mengurai Benang Kesalahan ....

Beberapa tahun yang lalu seorang teman mengajarkan merajut dengan haken atau bahasa bulenya crocheting kepada saya. Langsung deh jatuh cintrong sayanya. Saya termasuk manusia yang mencintai warna, plus cenderung norak dalam hal ini. Dan crocheting membuat saya bergaul rapat dengan benang aneka warna. Pas deh! Jadilah saya asyik mengkait-kaitkan benang warna-warni dengan haken. Kadang hasil akhirnya berupa benda yang bisa digunaka, tapi tak jarang pula hasilnya putus di tengah jalan karena macam-macam alasan, termasuk salah satunya tak menemukan benang dengan warna yang sama dan juga bosan. Nah, susah kalau alasan bosan yang membuat sebuah proyek merajut cuthel di tengah jalan. Tapi ya bagaimana lagi, wong memang pada dasarnya hobi dan prinsipnya digunakan untuk mengalihkan fokus dari hal rutin ke hal lain dengan maksud rekreasi alias refreshing.

Tempo hari saya membaca di salah satu harian bahwa seorang mantan aktris Hollywood yang kini menekuni olah raga yoga juga merupakan pehobi merajut. Diajatuh cinta pada merajut juga tak sengaja. Katanya, sesuai yang saya ingat dan semoga masih akurat, suatu hari dia berada di satu wilayah di Amerika sana dan entah mengapa terdorong masuk ke dalam semacam toko kecil yang tampak dari luarnya tenang. Didorongnyalah pintu toko itu dan masuk sesuai kata hatinya. Saat itulah dia mendapati beberapa perempuan dengan benang dan haken di tangan, merajut dengan tenang. Mereka memberikan senyum ramah begitu melihatnya masuk. Hari itu juga dia belajar merajut dan mencintainya. Saat itu dia sudah menjadi guru yoga dan mempunyai sanggar sendiri. Katanya, merajut merupakan salah satu bentuk meditasi untuknya. Karena dalam merajut ada fokus, juga latihan kesabaran. Aih aih ..... Saya sepakat soal fokus dan latihan kesabaran. Tapi soal meditasi, ehmmm...  saya tak tahu. Mungkin ada benarnya. Karena selama ini saya juga tak bisa merajut sambil mengoceh. Mulut saya selalu tak aktif ketika merajut, pun jika itu bersama teman. Sementara pikiran saya memang tak selamanya berfokus pada rajutan. Seringkali jika itu merupakan pola berulang maka pikiran saya terbang kesana-kemari. Ya, kesana-kemari, tapi dengan alur yang lambat. Tak grusa-grusu karena emosi. Mungkin karena begini maka disebut sebagai latihan kesabaran. Ehmmmm tapi mungkin juga karenanya si aktris dan guru yoga itu sekaligus menyebutnya sebagai satu bentuk meditasi. Mungkin pada orang-orang seperti dia pikiran yang pada saya melambat bisa berbentuk lain, berefek lebih besar. Ya ya ya, masuk akal sih.

Gara-gara si aktris sekaligus guru yoga itu memaknai merajut begitu rupa dan dalam, saya jadi terpancing juga untuk berpikir lebih dalam mengenai merajut. Dan saya menemukan pemaknaan saya. Satu hal dalam merajut adalah tak ada kesalahan yang sungguh fatal dan tak bisa diperbaiki. Sepertinya ini hal yang baru saya sadari akhir-akhir ini. Dalam merajut tak perlu takut salah. Kenapa? Karena jika salah pun si benang dapat diurai kembali. Awal belajar merajut dulu saya membeli satu gulung benang katun. Dan benang itulah yang saya gunakan untuk berlatih membuat, rantai, single crochet, double crochet, dan sebagainya. Tak langsung berhasil, berkali-kali gagal. Dan setiap kali saya tinggal mengurai kembali benang itu. Memang efeknya si benang jadi kusut dan agak pudar warnanya. Tapi secara keseluruhan dia baik-baik saja, dalam artian tak sampai membuatnya sia-sia dan saya harus membuangnya. Tak terjadi seperti itu. Bahkan setelah akhirnya saya lebih pintar merajut, benang tersebut saya buat menjadi satu tas kecil yang sampai sekarang masih saya gunakan untuk menyimpan piranti pribadi.

Ya, dalam merajut saya percaya tak pernah ada kesalahan yang sangat fatal dan tak bisa diperbaiki. Semua kesalahan bisa diatasi dengan mengurai kembali. Selalu ada kesempatan kedua. Mungkin juga ketiga dan seterusnya. Saya jadi yakin karena inilah saya suka merajut. Memang ada faktor kompensasi akan kegilaan atas warna. Tapi kenyataan bahwa tak pernah ada salah yang mutlak dan tak dapat diperbaiki, saya yakin adalah hal utama yang membuat saya mencintai merajut, walaupun kesadaran ini datang begitu belakang. Mengapa hal itu penting bagi saya? Karena itulah yang saya harapkan dari sebuah kehidupan. Saya yakin ada banyak kesalahan sudah saya buat sekian puluh tahun hidup. Tak akan terhitung jumlahnya, baik yang saya sadari maupun yang tidak. Tapi dari semua kesalahan itu saya selalu berharap ada hal yang bisa saya lakukan untuk membuatnya lebih baik dan akhirnya jadi benar. Ya, kesempatan kedua dan selanjutnya. Bahkan kalaupun tak ada yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya, saya tetap berharap akan pemaafan. Pemaafan tak bisa otomatis membuat yang salah jadi benar. Tapi pemaafan mengurangi atau bahkan menghilangkan beban yang artinya tetap akan membuat keadaan jadi lebih baik.


Yes, I love crocheting. Dan selalu berharap kesalahan dalam hidup selayak benang yang dapat diurai kembali.......