Senin, 13 Agustus 2012

Para Penafsir (Lagi)


Akhir-akhir ini saya merasa dihadapkan pada satu fenomena yang terasa marak tapi tetap saja saya tergagap-gagap menghadapinya. Konsep spiritualisme yang makin bebas dan sekaligus individual. Semua orang seperti syah untuk menelurkan konsepnya. Semua orang seperti syah untuk menjadi penafsir. Mereka ada dimana-mana. Dan saya ternganga.

Mengapa saya jadi nyinyir dengan ini? Ehmmm .... hidup selalu tak tertebak, demikian kalau saya kepingin agak puitis. Hidup mempertemukan saya dengan masa yang berbeda dan tentu juga orang yang berbeda. Saya ingat betul jaman orde baru berkuasa, kata atheis seperti momok. Ini merujuk pada pengalaman sejarah tahun 65-an, dimana perang saudara pecah di negeri ini. Jujur saya bersyukur belum lahir masa itu. Dari cerita orang-orang yang mengalami saja, saya sudah bisa membayangkan kengeriannya. Yang memang atheis sebenarnya tidak sama dengan komunis. Cuma dari penafsiran-penafsiran politis, kedua kata itu terasa seperti kembar siam. Lalu dengan segala alasannya, orde baru bercokol dengan represif. Semua terasa seragam untuk banyak hal. Dan ini baru sangat terasa bagi saya sebenarnya justru ketika orde itu kolaps.

Lalu muncul orde yang lebih baru. Semua seperti dalam euforia kebebasan. Apa-apa yang sebelumnya dilarang, dituntut untuk dibebaskan. Atas nama apalagi kalau bukan demokrasi, kebebasan, dan juga HAM. Banyak hal yang sekarang saya rasakan kehilangan kesakralannya. Satu contoh dulu siapa yang berani mengkritik pemerintah yang berkuasa? Bandingkan dengan sekarang. Sungguh seperti bumi dan langit. Presiden bisa diparodikan tiap minggu, dan laku ditonton. Media jelas memprovokasi ini itu dan namanya adalah kebebasan pers. Demonstrasi seperti sudah jadi jalan jitu. Ehmmmm ... salahkah? Entahlah. Saya tak hendak menghakimi ini. Saya cuma seorang yang sedang mengamati dan berpikir.

Spiritualisme demikian juga. Agama ditangan banyak orang tak lagi sakral di istana gading. Begitu juga dengan Tuhan. Spiritualisme bukan lagi berarti agama mainstream. Mereka memandang agama dan Tuhan dengan kekritisan yang logis. Otak memang diciptakan dengan fungsi sebagai mesin pemikir. Dan itu benar-benar digunakan dalam arti sebenarnya. Jujur saya salut kepada kemauan mereka untuk terus berpikir, terus bertanya, terus mencari, tanpa gentar konsekuensi di depan. Dan jujur saya sering terperangah dan nelangsa, betapa sedikit isi dari kepala saya. Betapa saya cuma memfungsikan isi kepala saya untuk hal yang umum-umum saja. Sementara mereka, ehmmmm ... tak ada yang luput dari pandangan kritis. Kadang juga terasa sinis.

Para penafsir. Demikian saya pribadi menyebut mereka. Bukan bermaksud menjelekkan jika saya menggunakan kata dasar ‘tafsir’. Bagi saya seperti itulah adanya. Mereka berpikir, mereka menafsir, mereka menyimpulkan. Dan karena ini yang dikritisi adalah Tuhan dan agama, saya yakin kebenarannya tidak berupa Tuhan yang benar-benar datang dan menunjukkan benar salah buah pikiran makhluknya itu. Yang saya tahu yang muncul sebagai segala jawaban adalah pertanda-pertanda yang harus dibaca. Jadilah terjadi kegiatan tafsir menafsir yang tak akan pernah henti entah sampai kapan.

Salahkah? Lagi-lagi saya bilang saya tak hendak membuat pengadilan tentang benar salah. Saya benar-benar merasa tak punya modal untuk membuat penafsiran, apalagi membuat pengadilan. Tapi melihat publikasi yang dilakukan oleh para penafsir itu di banyak media, jujur hati saya sungguh miris. Apalagi banyak yang bentuknya berupa media yang menghibur semacam fiksi. Memang sebuah karya seperti fiksi adalah karya individual, awalnya. Tapi tak lagi menjadi sebuah individu yang tidak bisa mempengaruhi ketika barang itu dicetak banyak dan didistribusikan ke khalayak. Ada pembaca yang sadar atau tidak akan menentukan sikap terhadap tafsir tersebut. Penentuan sikap bisa saja sekedar setuju dan tidak setuju. Bisa juga lebih dari itu. Artinya bisa lebih dalam, bahkan jauh lebih dalam. Jadi tafsir ini bisa mempengaruhi sikap dan kerangka berpikir orang lain. Beruntung jika sang audiens mempunyai kesempatan, ilmu, dan kemauan untuk mengunyah terlebih dahulu. Tapi bagaimana dengan audiens yang tak punya semua itu? Apalagi yang dari sononya memang sudah malas berpikir dan mudah terbawa euforia. Semua ide yang marak akan terlihat keren dan wajib diikuti bagi mereka yang seperti ini. Dan jadilah mereka pengikut yang sebenarnya tanpa melalui proses berpikir mandiri. Mungkin sekedar mengikuti arus yang sedang in, tanpa tahu detail isi dan maksudnya. Terus....? Ya embuh.....

Para penafsir seringkali terlihat sebagai sosok yang berkilau, terutama ketika mereka  membuat tafsiran yang terasa mendobrak apa yang oleh banyak orang dimaknai sebagai belenggu. Semua akan silau dengan ide tersebut. Apalagi jika dikemukakan dengan percaya diri penuh, oleh sosok yang menarik dan mempunyai pengaruh. Lalu semua nilai lama, yg dianggap mainstream, jadi terlihat usang. Padahal jika direnungkan sebenarnya bukan masalah baru dan usang intinya. Kebenaranlah yang harus tetap bertahan. Cuma membuktikan kebenaran itu yang manalah yang menyeret semua pada tafsir-tafsir tiada akhir.

Saya gamang. Di sekitar saya beredar tafsir-tafsir itu. Ironisnya saya tak cukup pandai untuk menyeleksi. Padahal hati saya bilang saya harus menyeleksi. Logika saya juga berkata yang sama. Merenunglah saya. Jadi begini, sebenarnya tulisan ini saya buat lagi-lagi seusai membaca sebuah fiksi karya penulis yang memang sudah terkenal karena ‘ilmunya’. Kebetulan secara fisik dia sungguh menarik. Kloplah. Siapa yang tidak silau? Saya pun silau. Cuma terasa ada yang mengganjal. Ya, tafsir yang dibuatnya...... Membuat saya kagum dengan gamang. Kagum akan kemampuan berpikir hingga jadi karya yang indah, sekaligus gamang karena tafsir yang ada didalamnya. Sungguh perlu kedewasaan berpikir sebelum membacanya. Begitu kesimpulan saya......... dan saya berharap termasuk yang dewasa.

Selasa, 10 Juli 2012

Dokter


Minggu kemarin bapak saya harus tinggal lima hari penuh di rumah sakit karena hipertensi. Dan kami anak-anaknya; saya dan dua kakak;  yang tak lagi tinggal sekota dengan beliau bergegas-gegas pulang kampung. Jujur, lega sekali saya ketika melihat beliau cukup segar di ranjang rumah sakit dan semua fungsi tubuh masih berjalan normal. Padahal sebelumnya dokter sempat memberi ‘warning’ bisa jadi gejala awal stroke. Alhamdulillah segera mendapat penanganan dan tension headache akibat hipertensi itu tidak menjadi hal yang lebih buruk.

Setiap kali ada anggota keluarga yang sakit, selalu terselip penyesalan di hati saya, kenapa dulu tidak menjadi dokter saja. Dan rupanya kakak perempuan saya yang dulu mengambil jurusan biologi semasa SMA juga memikirkan hal yang sama. Iya ya ...kalau ada yang jadi dokter kan enak? Begitu saya dan kakak ‘grenengan’. Ya memang enak sih .... Bisa ditangani dokter yang notabene keluarga sendiri ... Lebih nyaman... Lebih percaya .... dan tentu saja lebih murah .... hehhehehehehe....

Saya pernah sihhh punya cita-cita jadi dokter. Dulu semasa kanak-kanak. Setelah SMP dan SMA saya menyadari betul profesi itu tidak cuma butuh otak encer, tapi juga hati dan duit. Sementara secara otak yaaaaaa isi kepala saya rasanya kok tidak kuat untuk bertarung memperebutkan bangku kuliah di PTN. Sementara untuk masuk ke PTS saya rasanya sudah silau dengan biayanya. Jaman SMA saya pernah dengar bahwa untuk masuk FK di PTS biaya setara dengan satu mobil ambulans. Lha bapak saya saja belum mampu beli mobil, masa’ saya harus membebaninya untuk membeli ambulans? Heheheheheh ..... Jadi saya lupakan semuanya. Dan sebenarnya juga karena pada masa SMA itu saya sungguh tergila-gila dengan gambar teknis (setelah menemukan diri tak berbakat dalam hal gambar senirupa). Maka profesi dokter tak masuk dalam ambisi saya. Apalagi setelah saya menemukan kesenangan dalam hal gambar-menggambar desain yang seperti dugaan saya memang mengasyikkan.

Nah, berarti seharusnya saya tidak boleh menyesal dong ..... Menyesal tidak sih .... Cuma kepikir selintas. Apalagi semua orang tua pasti bangga melihat anaknya berjas lab putih, menyandang stetoskop, dan menolong banyak orang seperti itu. Sungguh menyenangkan bukan? Seorang teman bilang, dokter tidak akan ditolak oleh calon mertua manapun .... hahahahahaa.... Jujur, yang ini saya sungguh percaya. Kendati profesi dokter konon bukan jaminan akan diikuti dengan kekayaan materi, toh dari awal secara fungsi dan penampilan sudah membanggakan. Pokoknya kereeeeennnnn .....

Pas saya berpikir tentang profesi mulia nan keren ini, seorang dokter yang saya ikuti akun twitter-nya bercerita soal serba-serbi masuk FK. Katanya bisa mahal, tapi bisa murah juga, bahkan gratis. Tergantung seberapa besar kapasitas otak kita dan seberapa keras kita berusaha. Nah nah nah.... berarti ada jalan untuk bisa jadi dokter dengan gratis lhoooooo .... Wahhh andai info ini saya dapat pas jaman SMA dulu mungkin saya sudah berbaju lab putih, menenteng stetoskop, dan menolong orang-orang sakit .... ahhaahhahaha.....

Oh iya, ngomong-ngomong saya baru menyadari bahwa Pak Dokter yang menangani hipertensi bapak saya ternyata punya senyum polos yang aduhai. Saya jadi tambah mahfum dengan pernyataan teman saya. Lha calon mertua mana yang sampai hati menolak dokter dengan senyum indah seperti itu? Hahhaaha..... Btw, makasih ya Dok, sudah merawat bapak saya .....

Senin, 04 Juni 2012

Mengunyah

Semalam saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah novel yang kisahnya based on true story. Sebenarnya semacam riwayat hidup dari seseorang. Penulisanya termasuk sastrawan terkenal, dan jujur saya sangat menyukai cara menulisnya. Cuma kali ini saya tak hendak mengomongkan cara menulisnya yang menurut saya yahud itu. Saya mau mengomongkan isinya.

Ada bagian-bagian dari buku itu yang menurut saya begitu bebas. Maksudnya cara berpikir tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Mereka menafsir hidup, agama, dan Tuhan sesuai logika mereka sendiri dibantu dengan bahan bacaan sana-sini dan pengalaman hidup pribadi dan orang lain. Mereka berpikir dan menafsir dengan begitu mandiri. Dan saya tercenung. Sebelumnya, saya bertemu kembali dengan seorang teman lama jaman SMA. Dulu sebenarnya kami tidak terlalu dekat. Malah saya cenderung agak takut dengannya karena orangnya tipikal yang bisa ngomong tanpa tedeng aling-aling. Lalu kami bertemu lagi lewat media jejaring sosial. Dan entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu kami malah dekat. Sering ngobrol-ngobrol secara maya sampai dini hari. Dan salah satu yang menarik bagi saya adalah kekritisannya terhadap hidup, agama, dan Tuhan. Kritis, logis, dan mandiri. Sungguh ini hal yang baru bagi saya. Tapi dengan tertawa dia bilang yang begitu sudah dilakoni oleh banyak orang, dia bukan yang pertama. Ada banyak komunitasnya juga. Dia membagi informasi referensi yang digunakan untuk itu. Banyak sekali. Dan juga porsi mikirnya juga banyak. Perlu merenung, mengendapkan pikiran. Tak perlu terburu-buru atau grusa-grusu dalam berpikir. Tapi harus berani. Demikian katanya. Dan saya tercenung. Saya bukan orang yang religius sekali. Iman saya naik turun, pasang surut. Menurut saya, saya tidak pernah belajar agama secara khusus dan intensif ataupun diformalkan. Benar saya pergi mengaji ketika kecil dulu. Tapi juga tak jadi pinter mengaji. Saya mempelajari agama saya dengan semangat yang hangat-hangat tahi ayam. Kadang punya semangat yang tinggi sekali, tapi lain waktu ngelokro seperti sarung tanpa pemakai. Dengan segala kekurangan itu saya berkehidupan, beragama, dan ber-Tuhan. Dengan segala kekurangan itu saya memaknai hidup, mencoba menjadi umat, dan menyembah Tuhan saya. Saya bukan penafsir, bukan pemikir. Saya mikirnya sepotong-sepotong. Kadang lain waktu segera ketemu dengan potongan berikutnya. Ada juga yang cuthel hingga sekarang. Saya bukan pemikir mandiri. Juga bukan orang yang gelisah mencari. Saya tidak banyak merenung ini itu. Sering saya mendoktrin diri sendiri ketika alasan logis di otak tak saya temukan tapi jelas tertulis di kitab suci yang saya yakini. Saya juga mengikuti kyai tertentu dan juga dengan sadar memilih mereka berdasarkan penilaian saya terhadap isi penyampaian mereka. Sekali lagi, saya membuat penilaian, tapi sangat terbatas dan tidak kritis. Saya juga sering diam-diam berbeda pendapat dengan penilaian kyai terkenal untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di depan mata. Misal ketika ada pengeboman, kyai ini berkata A, kyai itu berkata B, masyarakat bilang C, dan saya pribadi dalam diam berpendapat D. Soal hijab, poligami, FPI, dan Lady Gaga juga begitu, saya punya pendapat sendiri. Dari semua itu, tetap saja satu hal yang jelas : saya bukan penafsir. Buah pikiran saya dangkal-dangkal saja. Kalaupun agak berbeda tapi tetap tidak sampai 180 derajat. Juga jauh dari otentik. Dengan segala kekurangan itu, saya menempatkan Tuhan saya dalam posisi yang sakral, tentu kadarnya juga menurut pribadi saya.

Jadi ada para penafsir di luar sana. Jujur saya salut dengan orang-orang yang berani seperti mereka. Salut mereka bisa teguh mengikuti pikiran dan naluri mereka, tak peduli tak ada seseorangpun yang memimpin atau meyetujui. Saya suka mendengarkan teman saya menguraikan isi kepalanya. Lepas dari setuju atau tidak, saya senang mendengar dan menanggapinya. Kadang saya malah mengorek-ngorek agar pikirannya keluar. Saya juga mencari dan membeli buku-buku yang dia sebutkan. Untuk mengerti jalan pikiran gelisahnya. Dan saya lakukan itu dengan sadar.

Tapi di sisi lain saya juga gamang. Semalam setelah menuntaskan membaca buku tsb, saya berpikir tak tentu arah. Bukan masalah saya menyalahkan ataupun membenarkan mereka. Saya cuma ingin mereka yang membaca juga menggunakan otaknya untuk mengunyah. Jadi bukan sekedar mengangguk, mengacungkan jempol, dan mengikuti. Mengunyah terlebih dahulu akan membuat ada proses berpikir. Juga check and recheck. Jadi bukan satu bentuk kesilauan terhadap sebuah opini. Bagi saya soal setuju atau tidak, menyalahkan atau membenarkan, itu urusan nanti. Itu cuma salah satu bentuk output setelah proses mengunyah tadi.

Jadi intinya, setelah menuntaskan buku semalam, saya mengunyah .......

Kamis, 19 April 2012

Blackberry

Tempo hari seorang teman mengolok saya. Pasalnya dia minta saya mengirimkan photo melalui BBM alias Blackberry Message. Diberikannyalah PIN BB-nya kepada saya. Lha berhubung memang saya bukan pengguna gadget yang namanya Blackberry maka saya jawablah "haduuuhhh ga punya BB euy". Nah balasan teman saya cepat sekali masuk dan isinya adalah "halllaaahhh hare gene ga punya BB..?!". Ya bagaimana lagi wong saya emang ga pakai barang itu. Balesan saya "di BB mu ada whatsapp-nya kan?kukirim lewat itu aja". Jawaban dia "ga ada tuh". Lhaaa wong teman saya lain yang pakai BB biasa rasan-rasan dengan saya pakai aplikasi itu lho... Akhirnya saya usulkan kirim pakai cara paling primitif di abad ini yaitu melalui email. Dan di luar dugaan saya, jawaban yang saya terima adalah "wah lupa emailku apa n buka email gimana caranya?" Ampuuunnnn, punya BB tapi tidak tahu cara buka email....?! Tepok jidattttttt.... Saya donggggg ga punya BB tapi tidak gagap kalau cuma urusan email aja... Jadi kesimpulan saya, kecanggihan gadget kadang tidak berbanding lurus dengan kecanggihan penggunanya...Hohohohohohoho.... Ada yang protes? Ehmmm … jujur seringkali saya menemui orang dengan gadget canggih-canggih tapi fungsi yang digunakan tetapp standar-standar saja. Terus buat apa otong-otong bawa yang canggih? Buat apa juga keluar duit lebih? Teman saya yang pedagang handphone langsung menukas, “yaaa biarinlah, wong duit mereka sendiri kok kamu yang repot. Lagian itu kan rejeki buat saya...” Ohhhh iya yaaaaa.... Okaaaayyyy silahkan diborong... hehehehe...

Jujur sempat juga kepingin membeli BB, terutama pas handphone standar saya rusak tempo hari. Tapi akhirnya saya lebih tertarik dengan handphone yang menggunakan android. Jadi yaaaa batallah saya pakai BB. Walau kadang masih kepingin tapi sampai saat ini saya cukup puaslah dengan yang berbasis android. Apalagi saya belum sempat mengopreknya... Daaannnn ternyata saya termasuk yang gaptek … Karena saya tidak tahu cara mengopreknya … Hiks hiks....

Naaahhh masih tentang BB. Seorang teman lain bingung ketika putus dengan pacarnya. Bingungnya gara-gara BB miliknya itu pemberian si laki-laki yang sekarang berstatus mantan pacar. Teman saya bingung, dia harus mengembalikan barang itu atau tidak. Teman yang diajak berunding menyarankan untuk mengembalikan atau setidaknya menawarkan.pada laki-laki itu untuk mengembalikannya. Tapi teman yang bermasalah bilang masih suka dengan barang tersebut dan enggan kalau harus mengeluarkan uang sendiri untuk membeli yang baru. Apalagi si mantan tidak menampakkan tanda-tanda menuntut barang itu kembali. Kontan lawan bicaranya langsung menukas, "dasar matre..!". Saya sebagai penguping cuma bisa urun senyum dah …. Tapi dalam hati aslinya mengumpatkan kalimat yang sama... Maaf....

Kesempatan lain seorang teman bule bercerita pada saya bahwa dia barusan ditampar oleh pacarnya yang perempuan Indonesia. Jujur saya agak terkejut, lha pemerintah saja mencanangkan tahun kunjungan wisata kok ini malah ada yang menampar bule...hehehe.. Bertanyalah saya soal asal muasal kejadian penamparan itu. Lalu si bule bilang dia tertangkap basah di hotel bersama perempuan lain. Waaahhh ya wajar donggg, kata saya... Si bule masih bersungut-sungut. Saya jadi berpikir mungkin tamparannya keras juga sampai membuatnya menggerundel begitu rupa. Katanya, ya marah wajar tapi ya jangan pakai menamparlah. Ya saya bilang "makanya jangan nakal". Jawabnya, "nakal sedikit okelah. Lagian saya lho sudah belikan dia BB. Jadi ya jangan namparlah.." Ya saya melongo..... Hubungannya antara BB dengan dilarang menampar apa ya, Sir?

Senin, 06 Februari 2012

Bisa Berbahasa Inggris?

Akhir pekan kemarin, ketika iseng jalan-jalan ke mal, saya menemukan satu toko buku yang spesial menjual buku-buku impor. Toko buku itu yang selama ini direkomendasikan oleh seorang teman yang memang pecinta dan pembaca buku sejati.Menurut mas penjaganya sudah sejak September ada di situ, tapi entah bagaimana luput dari perhatian saya. Nahhhh dengan riang gembira saya melangkah masuk, apalagi di bagian depan ada tulisan diskon 50%.... hayyyahhhh semakin ringan dah kaki saya, walau dompet di tas saya cuma berisi tak lebih dari empat puluh ribu rupiah ....hehheheheeh... Inilah salah satu kebiasaan saya, menentukan target operasi dulu sebelum duitnya tersedia. Ada yang berkelakuan begitu juga?

Interior toko benar-benar diatur secara padat berisi. Setiap jengkal luasan benar-benar dimanfaatkan untuk rak, sehingga hanya menyisakan sedikit untuk sirkulasi. Nah ketika tengah berjongkok di area sirkulasi yang mepet inilah telinga saya menangkap celoteh beberapa anak kecil. Awalnya saya tidak menaruh perhatian. Saya pikir mereka adalah anak-anak yang diajak oleh orang tuanya karena memang disitu terdapat beberapa yang pantas berwajah sebagai orang tua.... hehhehehehee... termasuk saya sebenarnya. Tapi lalu kuping saya tegak juga, menyadari para bocah ini berbicara ke sesama mereka dalam bahasa Inggris. Ah, paling mereka warga negara tetangga yang tengah jalan-jalan ke negera saya, demikian pikir saya. Tapiiiii lagi-lagii kuping saya tegak gara-gara menyadari bahwa logat Inggris mereka cukup Suroboyoan. Nah lho... bisa membayangkan bahasa Inggris berlogat Suroboyo? Daannnnnn klimaksnya adalah meledaknya tawa saya ketika mereka membicarakan sebuah buku, menganggap harganya mahal, lalu keluar juga kata khas Suroboyo di belakang kalimat bernuansa bahasa Inggris yaitu 'ohhh very expensive..... Gendhengggggg !”. Nah nah nah ..... sekarang saya tak ragu lagi untuk menyimpulkan darimana mereka berasal ..... Hahahah....

Jujur bukan maksud saya mentertawakan para bocah itu. Justru sebaliknya saya salut dengan anak-anak yang paling tidak sudah terbukti bilingual ini. Mereka berbicara dengan spontan. Mengucap kata-demi kata dengan percaya diri dan suara keras, tak takut salah ataupun malu didengar orang lain.Sungguh menarik bagi saya karena sebelumnya seorang teman yang guru bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas mengeluh murid-muridnya cenderung tidak cukup berusaha dalam pelajaran tersebut. "Masa' sudah belajar bertahun-tahun tapi membuat sebuah kalimat sederhana saja belum juga bisa. Apa ga stress aku sebagai gurunya?!". Itu tadi omelan teman saya. Sebagai guru, dia sungguh-sungguh ingin melihat muridnya berhasil dalam mata pelajaran tersebut. Dan untuk itu dia mengaku berulangkali mengganti-ganti cara mengajarnya. Dia sudah pernah mencoba menerapkan cara mengajar ideal menurut rekaannya. Ketika terbukti tak berhasil dia berdiskusi dengan koleganya, mencoba mencari masukan untuk sebuah rumusan cara mengajar yang paten. Dan ketika hasilnya masih juga tak bagus dia mulai menoleh ke belakang. Teman saya mulai menerapkan sistem mengajar mantan guru SMP dan SMA-nya dulu. Dia mencoba mengadopsi sebisanya cara mengajar beliau-beliau yang paling tidak berhasil membuat dia bisa berbahasa Inggris. "Dan hasilnya?" tanya saya. Hati saya ikut nelangsa ketika teman saya menggeleng lemah. Kesian deh kau, Temanku ..... hehehehehe.... sumpah saya ikut nelangsa kok.

Lalu teman saya itu berkata bahwa menurutnya siswa-siswanya tidak terlalu mengerti pentingnya bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Mereka cenderung cukup puas dengan meminta bantuan simbah Google translate. Nah nah nah, soal pentingnya menguasai bahasa asing ini saya sungguh sependapat dengan teman yang terus berusaha menjadi guru yang baik ini. Bagi saya bahasa Inggris itu wajib bisa. Kalau bisa bahasa asing lainnya ya lebih bagus lagi. Saya ingat dulu begitu ingin bisa bahasa Inggris karena merasa bosan membaca teks ketika nonton film. Juga karena jengkel tak bisa mengerti lagu-lagu Inggris itu. Waktu itu cita-cita saya adalah bisa duduk menonton film tanpa perlu repot membaca tulisan yang kadang sudah hilang sebelum saya berhasil membaca seluruhnya. Juga saya jengkel karena selalu harus berpikir keras dan menempelkan kuping tepat di sebelah radio cuma karena kepingin tahu itu penyanyi ngomong apa. Sungguh, kedua hal itu benar-benar menjengkelkan saya. Jadilah saya menyimak baik-baik, rajin mengikuti kelas tambahan, demi meraih keinginan itu. Hasilnya? Ehmmm ..heheheheh ga bagus-bagus amat sihhhh .... yaaaa mirip-miriplah dengan anak-anak yang saya temui di toko buku tadi... hehhehehe.... Yaaa saya berani-berani saja ngomong di depan buyer/supplier yang harus saya temui sehubungan dengan pekerjaan kantor. Saya juga pede-pede saja membuat email atau kadang surat bisnis semi formal untuk rekanan kantor. Saya juga tidak alergi untuk membaca literatur Inggris jaman kuliah dulu. Saya juga semangat membeli maupun membaca buku fiksi maupun non fiksi dalam bahasa itu, tak peduli perlu waktu sangat lama untuk menyelesaikannya. Saya juga membiasakan diri untuk menonton DVD dengan teks bahasa Inggris, menghindari bahasa Melayu yang justru tak seringkali tak saya mengerti. Saya juga punya teman chatting dan korespondensi dari beberapa negara. Ya ya ya .... itu yang terjadi pada saya. Sebenarnya tidak maksimal seperti yang saya inginkan, karena toh saya belum terlalu mampu menonton film dan mengerti teks lagu dengan mengandalkan pendengaran saya. Saya juga masih mati kutu ketika bertemu dengan buyer dari Australia yang logatnya sungguh tak saya mengerti. Tapiiii yaaaa mendinglahhhh ... Paling tidak saya tidak buta sama sekali. Bahkan ketika ke Singapura, ketika bertanya tentang arah, saya sempat mendapat pujian Inggris saya bagus .... hahahahahahaha .....gombaaaallllll !!!

Eh ngomong-ngomong saya jadi ingat seorang teman yang lain. Dia seorang auditor yang bekerja di perusahaan Amerika. Bahasa Inggris tentu sudah seperti bahasa Jawa untuknya. Dia sudah mengerti dan bisa berbahasa Inggris sejak SMP, walau tidak pernah tinggal di luar negeri, tidak juga bersekolah di sekolah internasional. Tapi dia bisa. Dan dasar kutu buku maka tak puaslah dia dengan buku hasil translasi. Kepada saya dia menasehatkan untuk membiasakan diri membaca buku dalam bahasa aslinya. Dan dalam hal bahasa Inggris ini dia mengajari saya untuk telaten dengan buku bacaan di tangan kanan dan kamus di tangan kiri. Itu hal yang dilakoninya dulu, hingga bisa jadi seperti ini sekarang. Katanya, seringkali penterjemah mentranslasi kalimat berdasarkan penalarannya dan itu bisa jadi tidak sama maksudnya dengan penulis. Kadang translator mengerti maksud penulis, tapi tak bisa menyusun kalimat yang baik dan mudah dimengerti dalam bahasa kita. Nah lho ..... Dan saya sepakat dengan hal ini .... ehmmm walaupun masih juga sering membeli buku terjemahan ..... ihihihihihih ......

Jadi bagaimana? Seberapa penting mengerti bahasa asing terutama bahasa Inggris? Yaaaa.... jujur saya merasa sungguh beruntung tidak sama sekali buta. Dan masih punya keinginan besar untuk meningkatkan kemampuan saya pula. Realitasnya saya terus berusaha untuk itu. Kalau orang lain, ya terserah masing-masing ya .... Tapi sungguh saya berharap keponakan dan anak-anak saya kelak, punya kemampuan yang lebih dari saya sekarang. Semoga murid-murid teman saya, juga murid-murid lainnya begitu juga.... Amin .... Oh iya, seorang buyer dari Amerika yang saya temui bilang dia banyak berkunjung ke negara-negara Asia untuk urusan bisnis. Saya tanyakan mana di antara negara-negara itu yang dia paling suka kunjungi. Jawabnya Hongkong. Bagaimana dengan Indonesia? Katanya Indonesia bagus dan secara bisnis menguntungkan. Cuma masalahnya di Indonesia susah sekali kalau tidak bisa berbahasa Indonesia, sementara di Hongkong nyaris semua orang mengerti bahasa Inggris. Ya ya ya ....saya cuma tersenyum menggaruk kepala. Okay, Sir.....

Rabu, 28 Desember 2011

Surabaya, Wisata 10 Nopember 1945




Bertahun-tahun yang lalu, ketika masih berstatus mahasiswa (ehmmm duh ketahuan deh umur dah tuwir), saya berkunjung ke Surabaya bersama teman yang Betawi asli. Bis kota menurunkan kami di daerah Jembatan Merah Plaza. Teman saya langsung bertanya, "berarti dekat Jembatan Merah dong? Yang mana jembatannya?" Dia mengikuti arah telunjuk saya dan berkomentar,"Segitu aja?" Lalu dia meraba-raba besi jembatan sambil bergumam bahwa apa yang dilihatnya sekarang tak seperti apa yang ada dalam bayangannya selama ini."Tidak sesederhana ini!" protesnya jengkel. Eh protesnya jangan sama saya, Bang .....

Lain waktu, kakak saya datang bersama beberapa temannya yang semuanya dari luar Jawa dan notabene, seperti teman Betawi saya di atas, kali pertama berkunjung ke Surabaya. Saya yang sudah lebih dari lima tahun tinggal dan bekerja di kota ini bertugas menjadi penunjuk jalan (stttt...padahal saya sering tersesat lho... hehhehehhe). Kami bermobil mengelilingi Surabaya. Ketika saya tunjuk Tugu Pahlawan, mereka semua ber-oohhhh .... Lalu salah satu nyeletuk, "daerah sini ya berarti yang dulu ada pertempuran itu?". Saya iyakan sambil menunjuk sebelah mana jalan Tembaan yang konon berasal dari kata 'tembakan' yang maksud sebenarnya adalah kejadian tembak-menembak. Yang lain bertanya, “Tugunya cuma begitu doang?” Nahhh yang ini saya jawab bahwa memang Tugu Pahlawan ini rendah hati, tidak mau menyaingi Monas yang sudah menjulang. Beberapa saat kemudian saya tunjukkan si Jembatan Merah. Nyaris serentak komentar yang keluar adalah 'gitu doang?!' Ya, memang cuma begitu mau bagaimana lagi? Mereka 'mencep berjamaah'... hehhehehee ....

Nah nah, minggu lalu saya ke Jembatan Merah Plaza, dan teringat kedua peristiwa di atas. Iseng saya sampaikan dengan teman yang menyertai. Dan komentarnya, "Iya, dari dulu gitu-gitu aja." Ehmmm ... lalu saya jadi berpikir mengapa tidak dibuat sebuah rangkaian cerita sejarah di jalan-jalan kota Surabaya? Rangkaian cerita tentang 'kendelnya' arek-arek Suroboyo melawan mantan penjajah yang tidak mau mengakui kedaulatan Indonesia. Rangkaian cerita yang membuat Surabaya dijuluki kota Pahlawan. Saya kepikir jalurnya dari jalan utama yang membelah pusat kota Surabaya, kisaran daerah yang mendekati jalan Basuki Rahmat. Penanda pertamanya bisa jadi gedung tua di depan Tunjungan Plaza (Sogo) yang kini berfungsi sebagai toko arloji Seiko (saya lupa nama gedungnya). Gedung ini toh juga seringkali tampak di foto-foto dokumentasi Surabaya tempo dulu. Lalu terus ke arah Tugu Pahlawan, mengikuti arah jalur lalu lintas. Dari sini bisa bercabang ke jalan Tembaan dan terus ke arah Jembatan Merah, jalan Kembang Jepun, dan mungkin terus ke arah Tanjung Perak ataupun pelabuhan Kalimas. Nantinya ketika berputar dan bertemu pusat kota lagi Hotel Majapahit bisa digunakan sebagai titik klimaksnya, turun hingga Grahadi dan seterusnya.

Jujur saja, saya sangat menyukai gagasan pribadi tersebut... hehehheeh narsis ya? Bukan maksudnya begitu siiihh .... Cuma paling tidak hal tersebut rasanya cukup mungkin untuk dilaksanakan. Apalagi latar belakang cerita heroiknya sudah sangat dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, juga bangsa mantan penjajah tentu saja. Mumpung juga masih ada bangunan-bangunan lama yang saya rasa saat itu jadi saksi bisu atas peristiwa dahsyat tersebut. Lihat saja gedung-gedung tua di seputaran daerah Jembatan Merah. Toko-toko di kawasan Kembang Jepun yang saat ini kalau malam menjadi Kya-Kya pun saya yakin masih bangunan lama. Hanya kelamaan itu terselimurkan oleh aneka macam billboard yang menjadi penanda aktifnya perputaran uang di daerah tersebut. Coba saja menelusup ke jalan-jalan cabang jalan utama jika mau lebih jauh menakar betapa masih ada saksi yang berdiri tegak. Bangunan-bangunan tua itu sungguh potensi keindahan yang tinggal menunggu sedikit polesan saja. Dan saya dengar sudah ada upaya Pemerintah Daerah untuk melindungi beberapa bangunan tua. Mungkin tinggal memperluas cakupannya. Dan secara gaya dan fungsi rasanya tidak akan terlalu susah untuk disiasati. Contohnya, ada satu sudut bangunan tua yang dicat 'genjreng' dan hasilnya menurut saya cukup mampu membuat kesan 'lain' dari bangunan tersebut. Rasa-rasanya jika si pemilik bermaksud untuk membuat satu vocal point, dia sudah cukup berhasil.


Lalu bagaimana langkah perwujudannya? Ehmmmm... kalau yang begini tentu saja saya tidak bisa menjawabnya sendiri. Yang saya tahu pasti diperlukan banyak keahlian untuk melakukan proyek besar ini, disamping tentu saja dana (sebab sering-sering semuanya tergantung pada UUD alias ujung-ujungnya duit). Perlu kerja keras dari sejarawan, seniman, arsitek, planolog, saksi sejarah, pemerintah, dan banyak lagi untuk bisa merekonstruksi semua itu. Sebab ini bukanlah sekedar membuat diorama, tugu, patung, atau plakat saja. Bukan sekedar menaruh bambu runcing dimana-mana. Dan sialnya, opini saya, selama ini orang kita sering terjebak dengan hal itu ketika mengkonsep 'penanda sejarah'. Terlalu dangkal. Seringkali hal-hal yang bersifat 'jiwa' luput tak tersentuh. Bagi saya, harus ada 'atmosfir' yang bisa membuat orang kembali 'bergidik' merasakan peristiwa heroik itu. Sejarawan dan saksi sejarah merekonsruksi peristiwa sebagai konsepya. Arsitek, planolog, dan seniman membangun suasana dan rasa, mengolah elemen kota seperti ruang luar, bangunan, jalan, dan sebagainya. Pemerintah membuat kebijakan dan menyokong dananya, kalau perlu bergandengan dengan pihak swasta. Masyarakat mendukung, minimal dengan komitmen menjaga, dan memelihara. Dan seterusnya ...dan seterusnya .... Laluuuuu bayangkan hasilnya ketika orang bisa otomatis tertuntun ingatannya pada peristiwa tewasnya Jendral Aubertin Mallaby ketika melintasi Jembatan Merah. Bayangkan juga ketika pejalan kaki bisa berhenti sejenak di depan hotel Majapahit, tercenung, berpikir tentang masa ketika Hariyono, Koesno, dan arek Suroboyo lainnya memanjat tiang dan merobek bendera Belanda hingga jadi merah putih saja. Coba deh bayangkan ..... Kerennnnnn kannnnn ....? Iya ga, iya ga?

Jadi, bagaimana selanjutnya? Nah, ini pertanyaan besar. Semoga di luar sana ada orang-orang yang berpikiran senada dengan saya. Semoga ada orang-orang yang sependapat sejarah ini layak diabadikan. Semoga ada orang-orang yang bosan menjadikan mal sebagai tempat wisata. Semoga ada orang-orang yang mampu membuat kebijakan daerah untuk terwujudnya hal itu. Dan kalau ini terwujud...ehhhmmm.... berarti yang dibuat bukanlah sekedar secuil area wisata, tapi sekawasan kota. Sekawasan kota akan jadi karya seni instalasi. Nah nah nah ... apa ga keren tuhhhhh...??? Ah saya kok sudah seperti sedang berjalan-jalan di kawasan itu yaaa.... Rek ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan ..... imagine ... imagine ..... dan akhirnya SEMOGA....


Senin, 14 November 2011

PAK MUS DAN SEPAKBOLA

Namanya Pak Mus. Lengkapnya saya sudah lupa karena dulu seluruh keluarga saya selalu memanggilnya Pak Mus saja, tanpa pernah embel-embel lengkapnya. Saya masih ingat sosoknya yang gempal akibat seringnya mengangsu (menimba air sumur) dan mengangkutnya ke kamar mandi dan dapur rumahnya dengan kaleng kotak yang dipikul di bahunya. Sumur yang berada di bagian depan rumah orangtua saya berjarak sekitar 40 meter dari rumahnya sendiri. Kepalanya sepanjang ingatan saya selalu gundul walau tidak licin. Kulitnya coklat gelap dan pembawaannya cenderung gampang tertawa. Hal yang paling lekat di ingatan saya adalah celana komprang hitam yang selalu dikenakannya setiap kali menjalankan pekerjaannya di peternakan ayam milik orangtua saya. Waktu itu saya masih kanak-kanak dan seringkali dia menggoda saya selayaknya seorang paman menggoda keponakannya. Ya itulah Pak Mus.

Mengapa tiba-tba ingat Pak Mus? Ehmmmm .... ceritanya saat ini saya semakin gandrung dengan sepakbola Indonesia. Perlu saya tekankan 'Indonesia'-nya karena sebenarnya saya sepakbola sudah menarik bagi saya, tapi sepakbola dalam artian World Cup, Liga Spanyol, dan Liga Italia. Indonesia baru masuk ke 'wilayah' saya ketika euphoria AFF tempo hari. Saya waktu itu sunguh terpesona dengan Timnas 'hasil karya' Alfred Riedl yang di mata awam saya terlihat begitu berbeda dengan permainan di liga-liga Indonesia yang pernah saya tonton sekilas-sekilas. Saya jadi jatuh cinta dan jadi penggemar yang menunggu jam permaianan mereka. Saya juga jadi ikut bersorak dan mengepalkan tinju ketika permainan indah mereka tampilkan tak peduli itu membuahkan gol ataupun tidak. Saya juga menjadi penggemar yang ikut mengumpat ketika PSSI kisruh tak keruan dan didominasi muatan-muatan politis dan pertikaian antar kubu yang tak ada kaitannya dengan masalah Timnas sendiri. Saya juga menangis sangat sedih ketika akhir dari pertikaian panjang itu membuahkan Riedl dipecat dengan alasan yang tidak masuk akal. Saya juga jadi pengumpati pelatih sekarang ketika menonton Timnas senior bolak-balik dicukur oleh lawan-lawannya tanpa bisa memberikan perlawanan yang berarti. Nah sekarang ketika Sea Games berlangsung maka cabang olah raga yang paling menarik adalah sepokbola dan tentu saja saja menjadi supporter tim Garuda Muda yang sampai Minggu malam bermain dengan cantik dan berstrategi.

Nah nah, lalu apa hubungannya dengan Pak Mus? Ya, begini. Saya tinggal bertetangga dengan beliau pada awal tahun 80an. Pada masa itu desa kami di Ngawi adalah desa kecil dengan tanah yang pada saat kemarau berbutir-butir seperti beras hitam dan pada saat musim hujan jadi lengket hingga sandal jadi seperti bersol tebal. Saat itu belum banyak yang punya pesawat televisi di desa kami. Televisi kami pun hanya hitam putih. Tapi yang begitu tetap mampu membuat para tetangga berkumpul di ruang tamu . Dan ketika ada siaran pertandingan sepakbola (jaman itu rasanya yang disiarkan cuma sepakbola Indonesia) ada satu orang yang tak pernah absen, yaitu Pak Mus. Beliau pasti duduk di barisan terdepan serta dengan tekun dan ekspresif mengikuti jalannya pertandingan. Setelah pertandingan usai Pak Mus akan mengulas pertandingan tadi. Ibu saya yang bukan pecinta sepakbola pernah berkomentar, seburuk apapun jika itu masih bernama sepakbola maka Pak Mus akan tetap menonton dan menemukan kenikmatan di dalamnya. Dan benar saja, pernah suatu ketika semua orang menolak untuk menonton dan cuma beliau seorang diri yang tetap bertahan di depan televisi. Malah suatu ketika kami semua keluar rumah dan pada saat pulang saya melihat Pak Mus duduk di balai-balai terasnya dengan radio transistor kecil di tangannya, ramai mengumandangkan pertandingan sepakbola.

Ya, itulah Pak Mus yag saya kenal. Waktu itu bola bekel lebih menarik bagi saya jauh ketimbang sepakbola. Dan jujur baru-baru ini saja saya mulai bisa memahami kesenangannya. Saya tidak tahu apakah beliau masih hidup saat ini karena semenjak pindah dari desa itu 29 tahun yang lalu, saya tak banyak mendengar kabar tentang beliau. Mungkin jika masih hidup, beliau akan jadi kurang tidur karena sibuk menonton macam-macam liga yang nyaris setiap hari ada di televisi. Dan mungkin juga beliau sama seperti saya ikut menangis, bersorak, dan tertawa, larut dalam euphoria kebangkitan Tinmas Indonesia. Mungkin juga beliau ikut menyesalkan didepaknya Riedl, serta marah akan kekacauan PSSI dan membodohkan pelatih pengganti Riedl. Mungkin beliau membelikan cucunya kaus merah bertulis Gonzales, Bonai, Nasuha,Andik,atau Patrich. Mungkin minggu-minggu ini , seperti saya, beliau akan berteriak “Ayo, Indonesia bisa!”