Namanya Pak Mus. Lengkapnya saya sudah lupa karena dulu seluruh keluarga saya selalu memanggilnya Pak Mus saja, tanpa pernah embel-embel lengkapnya. Saya masih ingat sosoknya yang gempal akibat seringnya mengangsu (menimba air sumur) dan mengangkutnya ke kamar mandi dan dapur rumahnya dengan kaleng kotak yang dipikul di bahunya. Sumur yang berada di bagian depan rumah orangtua saya berjarak sekitar 40 meter dari rumahnya sendiri. Kepalanya sepanjang ingatan saya selalu gundul walau tidak licin. Kulitnya coklat gelap dan pembawaannya cenderung gampang tertawa. Hal yang paling lekat di ingatan saya adalah celana komprang hitam yang selalu dikenakannya setiap kali menjalankan pekerjaannya di peternakan ayam milik orangtua saya. Waktu itu saya masih kanak-kanak dan seringkali dia menggoda saya selayaknya seorang paman menggoda keponakannya. Ya itulah Pak Mus.
Mengapa tiba-tba ingat Pak Mus? Ehmmmm .... ceritanya saat ini saya semakin gandrung dengan sepakbola Indonesia. Perlu saya tekankan 'Indonesia'-nya karena sebenarnya saya sepakbola sudah menarik bagi saya, tapi sepakbola dalam artian World Cup, Liga Spanyol, dan Liga Italia. Indonesia baru masuk ke 'wilayah' saya ketika euphoria AFF tempo hari. Saya waktu itu sunguh terpesona dengan Timnas 'hasil karya' Alfred Riedl yang di mata awam saya terlihat begitu berbeda dengan permainan di liga-liga Indonesia yang pernah saya tonton sekilas-sekilas. Saya jadi jatuh cinta dan jadi penggemar yang menunggu jam permaianan mereka. Saya juga jadi ikut bersorak dan mengepalkan tinju ketika permainan indah mereka tampilkan tak peduli itu membuahkan gol ataupun tidak. Saya juga menjadi penggemar yang ikut mengumpat ketika PSSI kisruh tak keruan dan didominasi muatan-muatan politis dan pertikaian antar kubu yang tak ada kaitannya dengan masalah Timnas sendiri. Saya juga menangis sangat sedih ketika akhir dari pertikaian panjang itu membuahkan Riedl dipecat dengan alasan yang tidak masuk akal. Saya juga jadi pengumpati pelatih sekarang ketika menonton Timnas senior bolak-balik dicukur oleh lawan-lawannya tanpa bisa memberikan perlawanan yang berarti. Nah sekarang ketika Sea Games berlangsung maka cabang olah raga yang paling menarik adalah sepokbola dan tentu saja saja menjadi supporter tim Garuda Muda yang sampai Minggu malam bermain dengan cantik dan berstrategi.
Nah nah, lalu apa hubungannya dengan Pak Mus? Ya, begini. Saya tinggal bertetangga dengan beliau pada awal tahun 80an. Pada masa itu desa kami di Ngawi adalah desa kecil dengan tanah yang pada saat kemarau berbutir-butir seperti beras hitam dan pada saat musim hujan jadi lengket hingga sandal jadi seperti bersol tebal. Saat itu belum banyak yang punya pesawat televisi di desa kami. Televisi kami pun hanya hitam putih. Tapi yang begitu tetap mampu membuat para tetangga berkumpul di ruang tamu . Dan ketika ada siaran pertandingan sepakbola (jaman itu rasanya yang disiarkan cuma sepakbola Indonesia) ada satu orang yang tak pernah absen, yaitu Pak Mus. Beliau pasti duduk di barisan terdepan serta dengan tekun dan ekspresif mengikuti jalannya pertandingan. Setelah pertandingan usai Pak Mus akan mengulas pertandingan tadi. Ibu saya yang bukan pecinta sepakbola pernah berkomentar, seburuk apapun jika itu masih bernama sepakbola maka Pak Mus akan tetap menonton dan menemukan kenikmatan di dalamnya. Dan benar saja, pernah suatu ketika semua orang menolak untuk menonton dan cuma beliau seorang diri yang tetap bertahan di depan televisi. Malah suatu ketika kami semua keluar rumah dan pada saat pulang saya melihat Pak Mus duduk di balai-balai terasnya dengan radio transistor kecil di tangannya, ramai mengumandangkan pertandingan sepakbola.
Ya, itulah Pak Mus yag saya kenal. Waktu itu bola bekel lebih menarik bagi saya jauh ketimbang sepakbola. Dan jujur baru-baru ini saja saya mulai bisa memahami kesenangannya. Saya tidak tahu apakah beliau masih hidup saat ini karena semenjak pindah dari desa itu 29 tahun yang lalu, saya tak banyak mendengar kabar tentang beliau. Mungkin jika masih hidup, beliau akan jadi kurang tidur karena sibuk menonton macam-macam liga yang nyaris setiap hari ada di televisi. Dan mungkin juga beliau sama seperti saya ikut menangis, bersorak, dan tertawa, larut dalam euphoria kebangkitan Tinmas Indonesia. Mungkin juga beliau ikut menyesalkan didepaknya Riedl, serta marah akan kekacauan PSSI dan membodohkan pelatih pengganti Riedl. Mungkin beliau membelikan cucunya kaus merah bertulis Gonzales, Bonai, Nasuha,Andik,atau Patrich. Mungkin minggu-minggu ini , seperti saya, beliau akan berteriak “Ayo, Indonesia bisa!”
Ini tentang isi kepala. Isi kepala manusia biasa, perempuan. Mungkin akan campur aduk tak karuan, karena bukankah isi kepala banyak manusia memang begitu? Atau, adakah manusia teratur yang isi kepalanya rapi tertata dalam folder-folder dan nama file beraturan?
Mengenai Saya
Tampilkan postingan dengan label sepak bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepak bola. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 November 2011
Jumat, 11 Juni 2010
Cinta Bola
World cup resmi dibuka hari ini. Tadi saya sempat menonton sebentar acara pembukaannya di televisi. Ehmmmm jujur sebenarnya saya lupa kapan pembukaan perhelatan dunia ini. Makanya awalnya saya menonton acara kuis di channel lain, sampai akhirnya seorang teman berkomentar tentang acara pembukaan tersebut melalui pesan pendek. Setelah itu saya baru ngeh dan pindah channel.....
Jujur saya bukan pecinta sepak bola walau dari duluuuuuuuuu begitu kepingin beli kaos seragamnya Brazil. Tapi bukan berarti seumur hidup saya tidak pernah mencintai sepak bola lhoooo ..... Saya jatuh cinta secara tak sengaja (baca : terpaksa) pada tahun 1997. Mau tahu sebab musababnya? Ehmmm ... waktu itu saya baru lulus kuliah dan masih berstatus pengangguran. Nahhh saat itu saya tinggal di rumah berdua saja dengan abang saya karena orang tua kami berdinas di Dompu NTB. Televisi di rumah cuma satu (14 inch pula ..hehhhee). Dan abang saya ini gila bola dan saya juga termasuk yang dari dulu tidak telaten terpaku pada sinetron. Jadilah saya oke oke saja ketika abang saya menyetel Liga Italia. Awalnya sebenarnya terpaksa. Tapi berhubung televisinya juga cuma semata wayang dan koran juga sudah habis dibaca ya sudah saya mulai ikut-ikutan mengamati 23 laki-laki (wasit saya hitung juga karena toh realitasnya dia juga mesti lari kesana kemari) bercelana pendek sibuk berlarian mengejar sebutir bola. Pertama memang tidak bisa menikmati. Tapi lama-lama saya merasakan keseruannya terutama jika abang saya tiba-tiba duduk tegak, mengepalkan tangan, dan berteriak "gooooooooollllllllllllllll ...!!!" Nahhhhh jadilah saya mulai tahu bagaimana menikmatinya, sampai akhirnya mulai berani berkomentar dan akhirnya menyumpah ... wkwkkwkwkwwkkwk .... Setelah bisa menikmati Liga Italia lalu saya merambah ke Liga Inggris .... Cuma entah mengapa kok saya lebih suka Liga Italia ya? Bukan masalah pemain2 di Liga Italia yang terkenal ehm ehm itu. Saya merasa Liga Inggris agak terlalu gedubrak gedubruk mainnya. Italia lebih elegans di mata saya. Oh iya, sempat terjadi lho abang saya jatuh tertidur sementara saya yang waktu itu belum wajib pergi ke kantor pagi-pagi, berseru-seru mengiringi para laki-laki bercelana pendek itu berlarian. Dan ketika akhirnya abang saya terbangun karena teriakan saya, yang keluar dari mulutnya adalah pertanyaan, "Siapa yang bikin gol? Dapat operan dari siapa?" Tentu saja saya bisa menjawab pertanyaan itu... hehheheehe..
Bagaimana sekarang? Ehmmmm ... sekarang saya sudah kembali ke bentuk asal alias kembali awam bola. Sejak punya kewajiban pergi ke kantor tiap hari, saya menanggalkan kegiatan menonton bola. Awalnya sering kangen, tapi lama-lama tak tergoda sama sekali. Paling-paling cuma memantau perkembangannya lewat surat kabar saja. Tapi tetap saja menganggap World Cup itu event yang spesial. Walau kecintaan terhadap sepak bola nyaris luntur, toh masih ada sisanya yang muncul setiap kali World Cup tiba. Apalagi kantor dimana saya bekerja penuh dengan laki-laki yang rata-rata gila bola. Jadi ketika World Cup tiba pembicaraan tentang bola sungguh luar biasa ramainya. Dalam kondisi seperti itu tentu saya merasa terpinggirkan ketika tidak mengerti. Jadi akhirnya saya membeli tv tuner tepat saat menjelang World Cup 2006 sebab pada waktu itu tak ada lagi teman perempuan di kos saya yang rela pesawat telivisinya saya pinjam cuma untuk menonton pertandingan sepak bola .... Jadi dengan modal tv tuner dan monitor komputer jadilah saya penonton 23 laki-laki bercelana pendek berlarian di lapangan hijau demi sebutir bola... hehhehehehe
Hei satu hal, jangan sekali-sekali berpikir saya mengerti peraturan-peraturan dalam permainan sepak bola ya..... Wahhhh yang itu sama sekali saya tidak paham ..ahahahahaha .... Dan lagi ketika seorang pecinta bola sejati rata-rata membenci adu penalti, maka saya sebaliknya. Saya sukaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali...... Nahhhh kan terlihat kan kualitas kecintaan dan pengetahuan saya akan permainan yang namanya sepak bola ... hehhehehehee .... Tapi rasanya saya tidak sendiri. Di event semacam World Cup ini biasanya ada banyak perempuan-perempuan yang mendadak gila bola ..... dan biasanya gilanya juga karena terbawa suasana, tanpa banyak mengerti hal-hal teknis, apalagi masalah strategi ehmm jauhhhhhh ..... hahahhaahhahaa .... Maaf saya tidak bermaksud melecehkan, hal seperti itu sah-sah saja kok. Wong saya juga begitu, tahunya cuma kalau bola masuk ke gawang berarti goooooooolllllllll ...... Tak perlu tahu macam-macam, yang penting bisa menikmati ... iya ga? So, nonton bola yuk, jeng....? Ada Christiano Ronaldo lhoooo ....
Jujur saya bukan pecinta sepak bola walau dari duluuuuuuuuu begitu kepingin beli kaos seragamnya Brazil. Tapi bukan berarti seumur hidup saya tidak pernah mencintai sepak bola lhoooo ..... Saya jatuh cinta secara tak sengaja (baca : terpaksa) pada tahun 1997. Mau tahu sebab musababnya? Ehmmm ... waktu itu saya baru lulus kuliah dan masih berstatus pengangguran. Nahhh saat itu saya tinggal di rumah berdua saja dengan abang saya karena orang tua kami berdinas di Dompu NTB. Televisi di rumah cuma satu (14 inch pula ..hehhhee). Dan abang saya ini gila bola dan saya juga termasuk yang dari dulu tidak telaten terpaku pada sinetron. Jadilah saya oke oke saja ketika abang saya menyetel Liga Italia. Awalnya sebenarnya terpaksa. Tapi berhubung televisinya juga cuma semata wayang dan koran juga sudah habis dibaca ya sudah saya mulai ikut-ikutan mengamati 23 laki-laki (wasit saya hitung juga karena toh realitasnya dia juga mesti lari kesana kemari) bercelana pendek sibuk berlarian mengejar sebutir bola. Pertama memang tidak bisa menikmati. Tapi lama-lama saya merasakan keseruannya terutama jika abang saya tiba-tiba duduk tegak, mengepalkan tangan, dan berteriak "gooooooooollllllllllllllll ...!!!" Nahhhhh jadilah saya mulai tahu bagaimana menikmatinya, sampai akhirnya mulai berani berkomentar dan akhirnya menyumpah ... wkwkkwkwkwwkkwk .... Setelah bisa menikmati Liga Italia lalu saya merambah ke Liga Inggris .... Cuma entah mengapa kok saya lebih suka Liga Italia ya? Bukan masalah pemain2 di Liga Italia yang terkenal ehm ehm itu. Saya merasa Liga Inggris agak terlalu gedubrak gedubruk mainnya. Italia lebih elegans di mata saya. Oh iya, sempat terjadi lho abang saya jatuh tertidur sementara saya yang waktu itu belum wajib pergi ke kantor pagi-pagi, berseru-seru mengiringi para laki-laki bercelana pendek itu berlarian. Dan ketika akhirnya abang saya terbangun karena teriakan saya, yang keluar dari mulutnya adalah pertanyaan, "Siapa yang bikin gol? Dapat operan dari siapa?" Tentu saja saya bisa menjawab pertanyaan itu... hehheheehe..
Bagaimana sekarang? Ehmmmm ... sekarang saya sudah kembali ke bentuk asal alias kembali awam bola. Sejak punya kewajiban pergi ke kantor tiap hari, saya menanggalkan kegiatan menonton bola. Awalnya sering kangen, tapi lama-lama tak tergoda sama sekali. Paling-paling cuma memantau perkembangannya lewat surat kabar saja. Tapi tetap saja menganggap World Cup itu event yang spesial. Walau kecintaan terhadap sepak bola nyaris luntur, toh masih ada sisanya yang muncul setiap kali World Cup tiba. Apalagi kantor dimana saya bekerja penuh dengan laki-laki yang rata-rata gila bola. Jadi ketika World Cup tiba pembicaraan tentang bola sungguh luar biasa ramainya. Dalam kondisi seperti itu tentu saya merasa terpinggirkan ketika tidak mengerti. Jadi akhirnya saya membeli tv tuner tepat saat menjelang World Cup 2006 sebab pada waktu itu tak ada lagi teman perempuan di kos saya yang rela pesawat telivisinya saya pinjam cuma untuk menonton pertandingan sepak bola .... Jadi dengan modal tv tuner dan monitor komputer jadilah saya penonton 23 laki-laki bercelana pendek berlarian di lapangan hijau demi sebutir bola... hehhehehehe
Hei satu hal, jangan sekali-sekali berpikir saya mengerti peraturan-peraturan dalam permainan sepak bola ya..... Wahhhh yang itu sama sekali saya tidak paham ..ahahahahaha .... Dan lagi ketika seorang pecinta bola sejati rata-rata membenci adu penalti, maka saya sebaliknya. Saya sukaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali...... Nahhhh kan terlihat kan kualitas kecintaan dan pengetahuan saya akan permainan yang namanya sepak bola ... hehhehehehee .... Tapi rasanya saya tidak sendiri. Di event semacam World Cup ini biasanya ada banyak perempuan-perempuan yang mendadak gila bola ..... dan biasanya gilanya juga karena terbawa suasana, tanpa banyak mengerti hal-hal teknis, apalagi masalah strategi ehmm jauhhhhhh ..... hahahhaahhahaa .... Maaf saya tidak bermaksud melecehkan, hal seperti itu sah-sah saja kok. Wong saya juga begitu, tahunya cuma kalau bola masuk ke gawang berarti goooooooolllllllll ...... Tak perlu tahu macam-macam, yang penting bisa menikmati ... iya ga? So, nonton bola yuk, jeng....? Ada Christiano Ronaldo lhoooo ....
Label:
liga inggris,
liga italia,
piala dunia,
sepak bola,
world cup
Langganan:
Postingan (Atom)