Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Mei 2014

Tribute to Dolly

Dolly bakal segera ditutup. Pemkot Surabaya serius dengan hal itu dan penutupannya bakal dilakukan pada tanggal 19 Juni 2014. Aihhhh... tepat di hari ulang tahun saya. Mungkin karena itu saya jadi merenungkan kabar itu lebih dalam.

Bulan Agustus 2013 saya menuntaskan masa 12 tahun tinggal di Surabaya. Yes, 12 tahun. Masa yang tak terlalu pendek tapi juga tidak panjang. Paling tidak tak cukup panjang untuk mengenal Surabaya sampai ke akar-akarnya. Tapi cukup untuk mengenali searea Dolly, area prostitusi yang kabarnya terbesar se-Asia Tenggara itu. Dolly adalah nama gang yang padat dengan perumahan. Sementara nama area yang lebih luas adalah Jarak. Selama 12 tahun saya tinggal di tiga rumah kos di daerah Sukomanunggal yang tak jauh-jauh amat dari Dolly dan Jarak. Posisi itulah yang sering kali dijadikan alasan oleh teman-teman, seakan itulah satu-satunya akses jalan menuju kos saya.

Saya sendiri pertama kali melewatinya kisaran dua minggu setelah ngekos. Seorang teman yang motornya saya tumpangi melalui ruas jalan itu tanpa memberi-tahu sebelumnya, kecuali meminta saya menurunkan kaca helm. Sekejab kemudian saya terkagum-kagum dengan pemandangan rumah berkaca-kaca dengan para perempuan yang rata-rata mengenakan rok mini, gincu merah, dan alas kaki tinggi duduk berderet-deret. Sementara para laki-laki berkeliaran di jalan, sebagian menontoni para perempuan itu, sebagian yang lain menunjuk-nunjuk mereka dengan mata berkilat sambil berteriak, “Mampir, Bos?”. Tak hanya rumah berkaca, ruas jalan itu juga di sesaki dengan aneka klab yang dari jalan sudah terdengar hingar-bingar musiknya. Loggo merk minuman beralkohol ada dimana-mana. Juga rombong penjual obat dengan tempelan stiker merk kondom. Ruas jalan itu sibuk luar biasa. Kendaraan harus merambat. Begitu sampai di kos dengan senyum tengil teman saya berkata, “Sekarang kamu sudah tahu Dolly. Welcome to Surabaya.” Jadi itukah Dolly? Katanya sebenarnya kami tadi cuma melewati mulut gang terkenal itu. Jadi itu tadi masih area sekitar mulut gang kondang itu saja. Nah klo masih di mulutnya saja seperti itu, terus bagaimana di dalam gang Dolly sebenarnya? Tawa teman saya berderai-derai lalu pergi setelah mewanti-wanti untuk tidak pernah melewati jalan itu sendirian.

Itu bukan kali terakhir saya melewatinya. Selanjutnya saya jadi sering melewatinya, tak sendirian tentu saja. Awalnya karena teman yang asal Jakarta minta ditunjukkan, akhirnya kami jadi sering iseng melewatinya, sekedar untuk melihat perbedaan suasana siang, sore, dan malam. Siang sepi, mungkin pada tidur menyimpan tenaga. Agak sore mulai tampak yang duduk-duduk santai di teras, tentu masih belum dalam kondisi sedang ‘bertugas’. Wajah-wajah mereka masih pucat tanpa pulasan warna. Rambut diikat seadanya. Baju juga masih pakai baby doll atau celana pendek. Tampak tak jauh beda dengan perempuan lain. Mungkin gestur dan sorot mata yang agak beda. Satu kali teman saya menyetir sambil menontoni satu orang yang tengah menumpang becak dengan celana pendek dan singlet longgar. Merasa diperhatikan, si cantik langsung mengirimkan kerlingan menggoda yang membuat teman saya kontan blingsatan tak keruan.Oh iya, soal makelar yang berfungsi sebagai sales di Dolly menurut saya cukup unik juga. Mereka para laki-laki yang menyambut pengunjung, menawarkan para perempuan di balik kaca. Mereka yang mempromosikan. Dan tentu saja mereka dapat komisi untuk pekerjaan itu. Awal-awal dulu saya lihat para 'pager bagus' ini tidak menggunakan dress code tertentu. Tapi kemudian terakhir-terakhir saya lewat mereka mengenakan baju batik, rata-rata lengan panjang, persis seperti mau menghadiri kondangan. 

Surabaya setahu saya tak cuma punya Dolly. Masih ada Moro Seneng yang biasa diplesetkan jadi 'Morse', juga Kremil yang suka diguyonknan sebagai 'Kremlin'. Selain itu ada area pekuburan Kembang Kuning yang menurut saya realatif lebih horor daripada yang lain. Bukan lokasi pekuburannya yang membuat saya ngeri, tapi karena mereka yang menjajakan diri relatif berumur, dan konon tempat praktiknya pun di antara nisan-nisan itu. Lalu ada juga 'perdagangan bebas' di daerah tengah kota (seputaran jalan Panglima Sudirman). Pemandangan perempuan-perempuan berdiri di trotoar atau di boncengan motor makelar adalah hal lumrah ketika malam menjelang. Lalu akan ada mobil-mobil yang melaju pelan, merepet ke trotoar, untuk apalagi kalau bukan memilih mangsa.

Itulah Dolly di mata saya. Tak spesial, cuma sekedar iseng-isengan. Sementara kenyataannya begitu banyak jiwa yang menggantungkan hidupnya pada perputaran uang di daerah itu. Tak hanya germo, pelacur, dan makelarnya. Tapi juga para tukang  parkir, buruh cuci, pedagang, dan entah profesi apalagi yang yang terkait. Karena itu ada gerakan menolak penutupan lokalisasi itu. Gerakan yang pasti sangat mudah untuk disalahkan. Toh jelas-jelas prostitusi itu tak ada dalil pembenarannya. Ya, mereka hanyalah orang-orang yang merasa terancam terenggut zona nyamannya.

Sangat mudah bagi orang-orang tak terlibat seperti saya untuk mendukung penutupan Doly. Bagi saya esensinya adalah adanya tubuh-tubuh yang ditransaksikan diluar kehendak. Ada yang diakui atau tidak tengah dirudapaksa. Alasan kebutuhan memang susah untuk ditolak. Tapi tetap saja tak ada perempuan yang dengan enteng mengangkangkan kakinya dan mengijinkan sembarang laki-laki memasuki tubuhnya. Yang begitu normalnya selalu butuh konektivitas perasaan. Tak sekedar kebutuhan akan rupiah. Bayangkan jika diri kita sendiri yang harus melayani sepuluh orang dalam semalam. Sepuluh orang yang tak dikenal. Sepuluh orang aneka rupa. Sepuluh orang aneka perilaku dan karakter. Sepuluh orang aneka bau, aneka keringat. Betapa horornya suatu malam jika yang dilayani adalah orang-orang kasar, berwajah menyeramkan, berbau badan, berbau mulut, kotor, dan entah apalagi. Membayangkan itu saja rasanya sungguh ngeri. Sementara itu hal yang pasti dialami oleh perempuan-perempuan itu. Belum lagi pembagian hasil yang tak adil yang membuat mereka susah lepas dari lingkaran. Tambah lagi di luar sana tak pernah ada posisi mulia untuk profesi itu. Yang ada cuma cibiran dan caci maki.

Ya, mereka adalah perempuan-perempuan yang menggerakkan roda perputaran uang dengan selangkangannya. Tak banyak yang peduli bagaimana rasanya. Saya tak hendak menyalahkan mereka-mereka yang terhidupkan dari gerakan selangkang itu. Cuma mungkin kini saatnya mereka melihat dari sisi yang lain, dari sisi si pemilik selangkang, sebelum mengatakan bahwa menolak penutupan Dolly adalah harga mati.  

Rabu, 28 Desember 2011

Surabaya, Wisata 10 Nopember 1945




Bertahun-tahun yang lalu, ketika masih berstatus mahasiswa (ehmmm duh ketahuan deh umur dah tuwir), saya berkunjung ke Surabaya bersama teman yang Betawi asli. Bis kota menurunkan kami di daerah Jembatan Merah Plaza. Teman saya langsung bertanya, "berarti dekat Jembatan Merah dong? Yang mana jembatannya?" Dia mengikuti arah telunjuk saya dan berkomentar,"Segitu aja?" Lalu dia meraba-raba besi jembatan sambil bergumam bahwa apa yang dilihatnya sekarang tak seperti apa yang ada dalam bayangannya selama ini."Tidak sesederhana ini!" protesnya jengkel. Eh protesnya jangan sama saya, Bang .....

Lain waktu, kakak saya datang bersama beberapa temannya yang semuanya dari luar Jawa dan notabene, seperti teman Betawi saya di atas, kali pertama berkunjung ke Surabaya. Saya yang sudah lebih dari lima tahun tinggal dan bekerja di kota ini bertugas menjadi penunjuk jalan (stttt...padahal saya sering tersesat lho... hehhehehhe). Kami bermobil mengelilingi Surabaya. Ketika saya tunjuk Tugu Pahlawan, mereka semua ber-oohhhh .... Lalu salah satu nyeletuk, "daerah sini ya berarti yang dulu ada pertempuran itu?". Saya iyakan sambil menunjuk sebelah mana jalan Tembaan yang konon berasal dari kata 'tembakan' yang maksud sebenarnya adalah kejadian tembak-menembak. Yang lain bertanya, “Tugunya cuma begitu doang?” Nahhh yang ini saya jawab bahwa memang Tugu Pahlawan ini rendah hati, tidak mau menyaingi Monas yang sudah menjulang. Beberapa saat kemudian saya tunjukkan si Jembatan Merah. Nyaris serentak komentar yang keluar adalah 'gitu doang?!' Ya, memang cuma begitu mau bagaimana lagi? Mereka 'mencep berjamaah'... hehhehehee ....

Nah nah, minggu lalu saya ke Jembatan Merah Plaza, dan teringat kedua peristiwa di atas. Iseng saya sampaikan dengan teman yang menyertai. Dan komentarnya, "Iya, dari dulu gitu-gitu aja." Ehmmm ... lalu saya jadi berpikir mengapa tidak dibuat sebuah rangkaian cerita sejarah di jalan-jalan kota Surabaya? Rangkaian cerita tentang 'kendelnya' arek-arek Suroboyo melawan mantan penjajah yang tidak mau mengakui kedaulatan Indonesia. Rangkaian cerita yang membuat Surabaya dijuluki kota Pahlawan. Saya kepikir jalurnya dari jalan utama yang membelah pusat kota Surabaya, kisaran daerah yang mendekati jalan Basuki Rahmat. Penanda pertamanya bisa jadi gedung tua di depan Tunjungan Plaza (Sogo) yang kini berfungsi sebagai toko arloji Seiko (saya lupa nama gedungnya). Gedung ini toh juga seringkali tampak di foto-foto dokumentasi Surabaya tempo dulu. Lalu terus ke arah Tugu Pahlawan, mengikuti arah jalur lalu lintas. Dari sini bisa bercabang ke jalan Tembaan dan terus ke arah Jembatan Merah, jalan Kembang Jepun, dan mungkin terus ke arah Tanjung Perak ataupun pelabuhan Kalimas. Nantinya ketika berputar dan bertemu pusat kota lagi Hotel Majapahit bisa digunakan sebagai titik klimaksnya, turun hingga Grahadi dan seterusnya.

Jujur saja, saya sangat menyukai gagasan pribadi tersebut... hehehheeh narsis ya? Bukan maksudnya begitu siiihh .... Cuma paling tidak hal tersebut rasanya cukup mungkin untuk dilaksanakan. Apalagi latar belakang cerita heroiknya sudah sangat dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, juga bangsa mantan penjajah tentu saja. Mumpung juga masih ada bangunan-bangunan lama yang saya rasa saat itu jadi saksi bisu atas peristiwa dahsyat tersebut. Lihat saja gedung-gedung tua di seputaran daerah Jembatan Merah. Toko-toko di kawasan Kembang Jepun yang saat ini kalau malam menjadi Kya-Kya pun saya yakin masih bangunan lama. Hanya kelamaan itu terselimurkan oleh aneka macam billboard yang menjadi penanda aktifnya perputaran uang di daerah tersebut. Coba saja menelusup ke jalan-jalan cabang jalan utama jika mau lebih jauh menakar betapa masih ada saksi yang berdiri tegak. Bangunan-bangunan tua itu sungguh potensi keindahan yang tinggal menunggu sedikit polesan saja. Dan saya dengar sudah ada upaya Pemerintah Daerah untuk melindungi beberapa bangunan tua. Mungkin tinggal memperluas cakupannya. Dan secara gaya dan fungsi rasanya tidak akan terlalu susah untuk disiasati. Contohnya, ada satu sudut bangunan tua yang dicat 'genjreng' dan hasilnya menurut saya cukup mampu membuat kesan 'lain' dari bangunan tersebut. Rasa-rasanya jika si pemilik bermaksud untuk membuat satu vocal point, dia sudah cukup berhasil.


Lalu bagaimana langkah perwujudannya? Ehmmmm... kalau yang begini tentu saja saya tidak bisa menjawabnya sendiri. Yang saya tahu pasti diperlukan banyak keahlian untuk melakukan proyek besar ini, disamping tentu saja dana (sebab sering-sering semuanya tergantung pada UUD alias ujung-ujungnya duit). Perlu kerja keras dari sejarawan, seniman, arsitek, planolog, saksi sejarah, pemerintah, dan banyak lagi untuk bisa merekonstruksi semua itu. Sebab ini bukanlah sekedar membuat diorama, tugu, patung, atau plakat saja. Bukan sekedar menaruh bambu runcing dimana-mana. Dan sialnya, opini saya, selama ini orang kita sering terjebak dengan hal itu ketika mengkonsep 'penanda sejarah'. Terlalu dangkal. Seringkali hal-hal yang bersifat 'jiwa' luput tak tersentuh. Bagi saya, harus ada 'atmosfir' yang bisa membuat orang kembali 'bergidik' merasakan peristiwa heroik itu. Sejarawan dan saksi sejarah merekonsruksi peristiwa sebagai konsepya. Arsitek, planolog, dan seniman membangun suasana dan rasa, mengolah elemen kota seperti ruang luar, bangunan, jalan, dan sebagainya. Pemerintah membuat kebijakan dan menyokong dananya, kalau perlu bergandengan dengan pihak swasta. Masyarakat mendukung, minimal dengan komitmen menjaga, dan memelihara. Dan seterusnya ...dan seterusnya .... Laluuuuu bayangkan hasilnya ketika orang bisa otomatis tertuntun ingatannya pada peristiwa tewasnya Jendral Aubertin Mallaby ketika melintasi Jembatan Merah. Bayangkan juga ketika pejalan kaki bisa berhenti sejenak di depan hotel Majapahit, tercenung, berpikir tentang masa ketika Hariyono, Koesno, dan arek Suroboyo lainnya memanjat tiang dan merobek bendera Belanda hingga jadi merah putih saja. Coba deh bayangkan ..... Kerennnnnn kannnnn ....? Iya ga, iya ga?

Jadi, bagaimana selanjutnya? Nah, ini pertanyaan besar. Semoga di luar sana ada orang-orang yang berpikiran senada dengan saya. Semoga ada orang-orang yang sependapat sejarah ini layak diabadikan. Semoga ada orang-orang yang bosan menjadikan mal sebagai tempat wisata. Semoga ada orang-orang yang mampu membuat kebijakan daerah untuk terwujudnya hal itu. Dan kalau ini terwujud...ehhhmmm.... berarti yang dibuat bukanlah sekedar secuil area wisata, tapi sekawasan kota. Sekawasan kota akan jadi karya seni instalasi. Nah nah nah ... apa ga keren tuhhhhh...??? Ah saya kok sudah seperti sedang berjalan-jalan di kawasan itu yaaa.... Rek ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan ..... imagine ... imagine ..... dan akhirnya SEMOGA....


Selasa, 08 Maret 2011

Senjata Andalan

Kakak perempuan saya tempo hari bercerita bahwa dia sempat dag dig dug ketika berkunjung ke Surabaya. Kala itu dia harus menghadiri rapat dinas di sebuah hotel di tengah kota Surabaya. Dari terminal Bungurasih dia menuju ke lokasi dengan menumpang bis kota patas AC. Dan katanya saat dia naik ke bis tersebut cuaca memang sudah mendung. Begitu bis berangkat hujan turun ke bumi seperti air yang tumpah, alias sangat deras. Nah, dag dig dug-lah kakak saya karena dia tidak membawa jas hujan, payung, atau sejenisnya. Pada saat yang sama dia juga tidak membawa baju ganti karena rapat memang dijadwalkan cuma sehari saja. Dalam bis yang melaju katanya dia terus memanjatkan doa agar hujan deras itu segera reda jadi dia bisa turun dan menghadiri rapat tanpa basah kuyup. Alhamdulillah doanya terkabul. Hujan deras itu reda tepat ketika bis mencapai pusat kota Surabaya dan kakak saya terhindar dari basah kuyup. Saya nasehatkan padanya untuk tidak pernah lupa membawa 'sejata' setiap kali ke Surabaya.

'Senjata'? Ehhheheheheh .... iya, saya menyebut begitu untuk beberapa barang yang menurut saya wajib. Barang tersebut adalah payung, sandal jepit, dan sepatu karet. Semuanya untuk 'berkompromi' untuk kondisi hujan dan banjir di Surabaya. Sekali lagi, hujan dan banjir. Sebab hujan bagi saya identik dengan banjir. Dan kalau bertanya daerah mana yang banjir, maka jawabannya adalah semua daerah! Mengapa begitu? Sebab rasanya memang susah sekali sekarang mencari kawasan bebas banjir di Surabaya. Kawasan yang katanya elit pun terkena banjir. Tengah kota juga. Dan kalaupun ada secuplik kawasan yang tidak tergenang banjir, saya yakin jalan menuju ke kawasan tersebut pasti tergenang banjir. Jadi tetap diperlukan perjuangan untuk mencapainya.

Nah, senjata pertama ada payung. Jelas fungsinya. Berubah menjadi jas hujan bagi mereka pengendara roda dua. Cuma bedanya payung bisa berfungsi di kala panas dan hujan. Sedangkan jas hujan hanya berfungsi pada saat hujan saja sebab rasanya bakal ada yang terbelalak jika ada yang mengenakan jas hujan di kala langit terang benderang dan panas terik. Jadi, bagi pejalan kaki atau pengguna angkutan umum seperti saya, tidak ada ruginya selalu menyiapkan payung. Seorang teman saya menyiapkan satu payung di rumah dan satu lagi di kantor sehingga tidak perlu membawa-bawa payung di dalam tasnya karena dia termasuk yang suka berganti tas. Sedangkan saya lebih memilih menyiapkannya di dalam tas saya, karena saya termasuk tipe yang tidak suka berganti tas. Terlebih lagi tas harian saya berupa ransel besar yang muat banyak barang termasuk laptop dan dokumen.

Senjata kedua adalah sandal jepit dan sepatu karet. Sebenarnya keduanya bisa saling menggantikan. Dulu sebelum punya sepatu karet saya selalu pakai sandal jepit di kala hujan, baik ketika berangkat maupun pulang kantor. Lalu pihak HRD kantor tempat saya berkerja memprotes dengan alasan karyawan dengan sandal jepit mencederai kehormatan perusahaan.... heeheheheheheh .... Ah kalau saya sih cuma bertindak berdasarkan kepraktisan saja. Dan lagi tak masuk akal rasanya jika tetap berjalan dalam bajir dengan sepatu kulit.

Nahhhhhhhhh ngomong-ngomong soal sepatu karet, saat ini banyak dijual barang ini dengan harga yang lumayan terjangkau. Dua sepatu karet saya harganya cuma lima belas ribu sepasang. Warna beragam. Demikian juga motif plastiknya. Kalau soal model sepengetahuan saya tidak terlalu banyak ragam, cuma hal ini tertutupi dengan motif dan warna yang beragam tadi. Jadi intinya saya saat ini saya lebih sering 'menunggangi' sepatu karet yang murah meriah itu ketimbang sepatu kulit atau keds. Awalnya tempo hari agak risih juga karena pernah punya pengalaman bertemu dengan tamu perusahaan yang rapi jali dan ketika berhadapan memandang saya dari atas kebawah. Ehmmmmmm .... walau tidak berkata apa-apa tapi nyaris rasa percaya diri saya drop ke level terendah. Untungnya saya ada di atas angin karena dia pada posisi menawarkan diri untuk menjadi pemasok. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka dengan penampilan saya, maka dia harus berusaha 'menyenangkan' saya ..... ahahahahahahah. Tapi tetap saja kejadian itu mempengaruhi saya, karena toh itu bukti nyata bahwa tak semua orang mematuhi kata-kata bijak 'don't judge the book from its cover'. Ah, saya jadi ingat sebuah film Hollywood yang dibintangi Robert Redford idola saya (waktu muda ehmmmmm .... dia amboi indahnya). Judul filmnya saya lupa. Cuma saya ingat sekali ada salah satu adegan dimana si tua yang ganteng itu menilai tamunya dari sepatu yang dikenakan mereka. Nah nah nah .... kalau sepatu benar-benar dapat digunakan untuk menilai kepribadian seseorang, lalu seperti apa kepribadian saya yang sekarang cinta mati dengan sepatu plastik yang cuma lima belas ribu perak sepasang itu? Ehmmmmm .... apakah saya akan dinilai sebagai seorang yang murahan? Ehmmmm entahlah .....

Soal sepatu plastik ini, seorang teman punya kecintaan yang kurang lebih sama dengan saya. Kami sama-sama suka mengenakannya. Kalau saya kadang masih malu mengenakannya di depan customer atau rekanan yang mentereng, teman saya itu sebaliknya. Dia cuek-cuek saja. Yang penting fungsinya. Juga otaknya. Demikian katanya. benar juga sih. Cuma kenyataannya dia lebih 'care' terhadap penampilan dibanding saya. Dia selalu memikirkan benar-benar komposisi warna yang melekat di badannya. Selalu memperhatikan model baju dengan seksama. Tak pernah mau terlihat seperti 'urap-urap' akibat tabrakan warna ataupun motif. Selalu seksama memilih warna, dan cenderung menghindari warna mencolok. Sedangkan saya, ehmmmmmm warna cerah selalu 'menggoda'. Jadi ketika dia memilih sepatu plastik warna coklat tua karena menurutnya lebih netral, maka saya dengan enteng mengambil warna merah ...... ahaahahahhaah ......

Oh iya, soal sepatu karet ini, saya pernah menemukan di satu mal terkenal sepatu dengan konsep yang sama tapi menggunakan merk asing yang telah mendunia. Warnanya hijau bening yang pasti cocok untuk sepasang kaki dengan kulit putih bersih (ehmmmmm ...kayaknya bukan kaki saya deh). Dan begitu saya dekati, wah wah wah ..... harganya membuat jantung saya melompat. Teman saya terkekeh-kekeh. Katanya, “ah saya mah ga butuh merk ...yang lima belas ribu aja dah top banget dehhhhh ...” Sedangkan saya? Ehmmm yang lima belas ribu juga dehhhhhhh ..... hhehhheeheheheh ....... Eh masih menurut teman saya, sepatu karet yang murah meriah ini sanggup memberikan perubahan karena harganya yang terjangkau di banyak kalangan membuat semakin banyak orang yang mengenakan sepatu pada saat keluar rumah. Alias tidak lagi mengenakan sandal. Jadi lebih rapi kan?

Anyway, satu pesan saya, jika berkunjung ke Surabaya sebaiknya persiapkan 'senjata' yang tepat.

Rabu, 16 Desember 2009

Hari Ini Surabaya Banjir (Lagi)

Surabaya sore tadi mendung tebal lalu hujan lebat. Sebenarnya saya tidak terlalu memperhatikan berapa lama hujan turun. Berada dalam ruang kerja dengan horisontal blind dan membelakangi jendela membuat saya kurang peka dengan hal itu. Yang pasti ketika reda pun saya masih menunda pulang dengan memilih menunaikan sholat Magrib terlebih dahulu. Begitu keluar kantor, langit masih jingga, bagus sekali. Hati jadi ikut jingga ehhehehehe....

Tapi jingganya hati saya tak berlangsung lama. Ban angkot yang saya tumpangi mulai berkecipak dengan air. Sekitar 6 kilometer dari kantor, jingga di hati saya hilang sama sekali, berganti dengan resah. Cuma satu yang ada di dalam otak saya : BANJIR. Dan benar.... begitu berganti angkot, genangan air mulai tampak. Lalu lintas merambat. Makin ke arah daerah tempat tinggal saya genangan air makin tinggi dan lalu lintas makin lambat. Makin banyak sepeda motor digiring pengendaranya ke pinggir karena busi yang sudah basah dan knalpot kemasukan air. Doa semoga angkot yang saya tumpangi diberi kemampuan lebih untuk terus berjalan mulai memenuhi hati dan otak saya.

Surabaya..... ehmmmmm waktu kemarau panas bukan main. Tapi begitu musim penghujan tiba, hawa panas tak terhalau sepenuhnya dan masih berbonus banjir pula. Tapi itulah Surabaya adanya. Saya pernah begitu putus asa karena kipas angin yang saya pasang tak mampu membuat saya tidur dengan nyaman (seorang teman berkomentar "ya pasang AC donggggg..."). Tapi di lain waktu saya juga pernah dipaksa berjalan kaki dari kantor dalam genangan air rata-rata mencapai lutut saya. Waktu itu paling tinggi genangan airnya nyaris mencapai pinggang saya. Olala...... Dan begitu mencapai rumah, yang saya rasakan adalah lelah, dingin, dan lapar luar biasa.

Jadi, kalau diminta untuk memilih antara musim kemarau dan musim hujan untuk Surabaya, terus terang saya tidak punya jawaban. Keduanya punya konsekuensi masing-masing yang saya sama-sama pernah merasa tak nyaman.

Tempo hari saya menonton acara televisi yang mengurai masalah perubahan iklim. Dan salah satu bukti perubahan iklim adalah musim kemarau makin panjang, dan musim hujan makin pendek. Ehmmm lalu bagaimana dengan Surabaya? Akan lebih panaskah? Woooowww..... Dan bagaimana dengan banjirnya? Logika saya alam yang kian rusak akan membuat banjir makin tak terkendali. Jadi akan berapa tinggi lagi banjirnya? Akankah Surabaya akan jadi versi 'lain' dari Venesia? Jadi mungkin suatu saat nanti rumah di Surabaya menjadi berupa rumah panggung dan angkot akan berganti dengan perahu kota. Aiihhhhhh ......

Lalu apa yang harus saya lakukan untuk membantu memperbaiki kondisi Surabaya? Saya tak tahu persis jawaban jitu untuk pertanyaan ini. Yang pasti hal yang sudah saya lakukan adalah membayar tanggungan pajak saya (apakah ini akan masuk ke pos yang tujuannya memperbaiki Surabaya? entahlah), membuang sampah pada tempatnya (bukan di selokan atau sungai), dan menggunakan kendaraan umum kemana-mana agar tidak menambah kandungan emisi di udara (alasan sebenarnya belum kuat beli kendaraan pribadi kaliiiii..., ini komentar teman saya). Ehmmmm sedikit sekali ya yang sudah saya lakukan? Wah wah wah ....... tapi tetap saja saya tidak merasa cukup pantas mendapat bonus bajir!!!! Dan karena itu tadi sewaktu di angkot, di sela-sela doa, saya sempat berharap semoga suatu waktu Presiden SBY terjebak banjir pada saat ada acara penting di Surabaya. Lalu Pak Presiden marah dan Pemerintah Daerah jadi tak lagi menunda-nunda untuk bergiat menanggulangi masalah banjir ini. Sebab kadang perlu sentilan dari yang ada di atas untuk membuat sesuatu dikerjakan secara serius, tak melulu berkilah atas nama dana yang terbatas. Dannnnn saya berharap yang menyentil itu cukup yang ada di atas dalam artian yang kedudukannya maksimal setara dengan Presiden. Sebab kalau yang menyentil itu lebih tinggi lagi, yaitu yang berkuasa atas langit dan bumi widiiihhhhhhhhhhhhh betapa menakutkannya .....

Iya ga?

Selasa, 15 April 2008

Surabaya Saya ......



Seorang teman dari Turki mengirimkan foto hasil karyanya kepada saya lewat skype. Dan mungkin karena saya mengaku sebagai penikmat foto maka dia mengirimkannya banyak foto, secara bertubi-tubi, dalam format ukuran cukup besar pula. Saking bersemangat katanya ...... hehhehe iya dia semangat, disini komputer saya berkedip-kedip berusaha menerima bombardir foto itu sembari memproses perintah-perintah saya lainnya.


Foto yang bagus, kata saya. Terimakasih, sahutnya menanggapi pujian saya. Dia bilang seperti itulah adanya Turki, indah. Dia bilang akan membawa saya ke Istambul kalau saya datang mengunjunginya satu saat kelak. Kau pasti akan jatuh cinta dengan Istambulku, katanya. Ahh.....


Berikutnya, seorang patner kerja dari negeri jiran datang untuk rapat koordinasi. Setelah melewati serangkaian acara, saya bertugas mengantarnya ke bandara. Sepanjang jalan matanya tak lepas memandangi jalan-jalan Surabaya. Teman saya membuyarkan pikirannya dengan berkata bukankah Surabaya mirip dengan Johor. Dia sontak membantah. No, no ... Johor is better...., katanya. Saya tersenyum tanpa menoleh padanya dengan pikiran bahwa itu sekedar bantahan karena tidak mau kalah saja. Tapi senyum saya langsung lenyap seketika ketika dia melanjutkan kalimatnya dengan 'no .... Johor is much better than this....'. Ahhhh ...... kali ini saya langsung menoleh padanya. Saya lihat mukanya sedikit merona. Saya jadi mengerti muka merah itu karena dia malu tidak bisa menyenangkan tuan rumah yang sudah berusaha ramah padanya padahal bisa dilakukannya hanya dengan menyetujui pernyataan teman saya bahwa Surabaya mirip dengan Johor. Agaknya dia menyesal telah berkata jujur.

Istambul dan Johor milik mereka. Surabaya punya saya. Adakah kalian yang di Istambul mengalami banjir sepangkal paha seperti saya tempo hari di Surabaya? Adakah kalian yang di Johor mengalami macet di jalan menuju kantor seperti saya di Surabaya hanya karena dua trailer yang masing-masing memuat container 40 feet lewat bersama dengan sepeda motor, sepeda pancal, becak, mobil pribadi, angkot, dan gerobak pedagang? Adakah rumah berimpit-impit dan gang tikus yang menyesatkan di Istambul? Adakah bangunan komersial yang menyerobot jatah taman kota di Johor? Adakah tumpukan sampah di tengah kota Istambul karena TPS sedang diblokir oleh warga sekitar? Adakah keharusan untuk bergelantungan jika ber-angkot di Istambul? Adakah rombongan pengemis dan anak-anak jalanan di perempatan-perempatan jalan di Johor?


Teman dari Turki yang mengirimkan foto tadi , Yilmaz Yurt namanya, bilang bahwa semua tempat di belahan bumi ini sebenarnya indah, karena pada dasarnya apa yang di alam ini tak ada yang jelek. Masih menurutnya, semua tergantung bagaimana manusia di sekitarnya bersikap terhadap alam. Dia bilang begitu ketika saya menjanjikan akan mengirim foto yang bakal menjadi kontradiksi atas foto-fotonya. Just send me anything, lanjutnya. Tentu saja saya bisa send him anything. Toh dengan gampang saya bisa men-scan kartu pos tentang budaya adi luhung dan pemandangan hijau hutan kita, lalu mengirimkannya. Tapi saya tak berselera melakukannya. Karena toh mata saya tetap harus melihat realita.

Saya tak berniat mengecam tempat dimana saya tinggal dan mencari hidup. Justru saya jadi menghitung dosa yang telah saya lakukan terhadapnya. Pasti tak terhitung lagi berapa kali saya buang sampah sembarangan, padahal setiap kali banjir datang saya selalu mengomel. Tak terhitung berapa kali saya menghentikan angkot sembarangan sehingga membuat panik pemakai jalan lainnya, padahal saya selalu menyumpahi mereka yang menyeberang tanpa tengak-tengok. Tak terhitung berapa kali saya membiarkan tanaman mati, padahal selalu mengeluh kepanasan ketika kemarau terik tiba. Tak terhitung berapa lembar kertas saya buang percuma, padahal saya selalu ikut menyumpah setiap kali ada berita dalang illegal logging tertangkap ..... Ahhhh .... lihat betapa banyak dosa saya ..... Jadi benar kata Yilmaz tentang alam tadi .... Saya termasuk dalam golongan si perusak....huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa .........


Akhirnya kemarin saya putuskan untuk mengirimkan foto berisi beberapa realitas tentang Surabaya saya. Dan balasan yang saya terima dari Yilmaz adalah “thanks for the pictures ....” Tak ada kata pujian di belakangnya ......