Kamis, 19 April 2012

Blackberry

Tempo hari seorang teman mengolok saya. Pasalnya dia minta saya mengirimkan photo melalui BBM alias Blackberry Message. Diberikannyalah PIN BB-nya kepada saya. Lha berhubung memang saya bukan pengguna gadget yang namanya Blackberry maka saya jawablah "haduuuhhh ga punya BB euy". Nah balasan teman saya cepat sekali masuk dan isinya adalah "halllaaahhh hare gene ga punya BB..?!". Ya bagaimana lagi wong saya emang ga pakai barang itu. Balesan saya "di BB mu ada whatsapp-nya kan?kukirim lewat itu aja". Jawaban dia "ga ada tuh". Lhaaa wong teman saya lain yang pakai BB biasa rasan-rasan dengan saya pakai aplikasi itu lho... Akhirnya saya usulkan kirim pakai cara paling primitif di abad ini yaitu melalui email. Dan di luar dugaan saya, jawaban yang saya terima adalah "wah lupa emailku apa n buka email gimana caranya?" Ampuuunnnn, punya BB tapi tidak tahu cara buka email....?! Tepok jidattttttt.... Saya donggggg ga punya BB tapi tidak gagap kalau cuma urusan email aja... Jadi kesimpulan saya, kecanggihan gadget kadang tidak berbanding lurus dengan kecanggihan penggunanya...Hohohohohohoho.... Ada yang protes? Ehmmm … jujur seringkali saya menemui orang dengan gadget canggih-canggih tapi fungsi yang digunakan tetapp standar-standar saja. Terus buat apa otong-otong bawa yang canggih? Buat apa juga keluar duit lebih? Teman saya yang pedagang handphone langsung menukas, “yaaa biarinlah, wong duit mereka sendiri kok kamu yang repot. Lagian itu kan rejeki buat saya...” Ohhhh iya yaaaaa.... Okaaaayyyy silahkan diborong... hehehehe...

Jujur sempat juga kepingin membeli BB, terutama pas handphone standar saya rusak tempo hari. Tapi akhirnya saya lebih tertarik dengan handphone yang menggunakan android. Jadi yaaaa batallah saya pakai BB. Walau kadang masih kepingin tapi sampai saat ini saya cukup puaslah dengan yang berbasis android. Apalagi saya belum sempat mengopreknya... Daaannnn ternyata saya termasuk yang gaptek … Karena saya tidak tahu cara mengopreknya … Hiks hiks....

Naaahhh masih tentang BB. Seorang teman lain bingung ketika putus dengan pacarnya. Bingungnya gara-gara BB miliknya itu pemberian si laki-laki yang sekarang berstatus mantan pacar. Teman saya bingung, dia harus mengembalikan barang itu atau tidak. Teman yang diajak berunding menyarankan untuk mengembalikan atau setidaknya menawarkan.pada laki-laki itu untuk mengembalikannya. Tapi teman yang bermasalah bilang masih suka dengan barang tersebut dan enggan kalau harus mengeluarkan uang sendiri untuk membeli yang baru. Apalagi si mantan tidak menampakkan tanda-tanda menuntut barang itu kembali. Kontan lawan bicaranya langsung menukas, "dasar matre..!". Saya sebagai penguping cuma bisa urun senyum dah …. Tapi dalam hati aslinya mengumpatkan kalimat yang sama... Maaf....

Kesempatan lain seorang teman bule bercerita pada saya bahwa dia barusan ditampar oleh pacarnya yang perempuan Indonesia. Jujur saya agak terkejut, lha pemerintah saja mencanangkan tahun kunjungan wisata kok ini malah ada yang menampar bule...hehehe.. Bertanyalah saya soal asal muasal kejadian penamparan itu. Lalu si bule bilang dia tertangkap basah di hotel bersama perempuan lain. Waaahhh ya wajar donggg, kata saya... Si bule masih bersungut-sungut. Saya jadi berpikir mungkin tamparannya keras juga sampai membuatnya menggerundel begitu rupa. Katanya, ya marah wajar tapi ya jangan pakai menamparlah. Ya saya bilang "makanya jangan nakal". Jawabnya, "nakal sedikit okelah. Lagian saya lho sudah belikan dia BB. Jadi ya jangan namparlah.." Ya saya melongo..... Hubungannya antara BB dengan dilarang menampar apa ya, Sir?

Senin, 06 Februari 2012

Bisa Berbahasa Inggris?

Akhir pekan kemarin, ketika iseng jalan-jalan ke mal, saya menemukan satu toko buku yang spesial menjual buku-buku impor. Toko buku itu yang selama ini direkomendasikan oleh seorang teman yang memang pecinta dan pembaca buku sejati.Menurut mas penjaganya sudah sejak September ada di situ, tapi entah bagaimana luput dari perhatian saya. Nahhhh dengan riang gembira saya melangkah masuk, apalagi di bagian depan ada tulisan diskon 50%.... hayyyahhhh semakin ringan dah kaki saya, walau dompet di tas saya cuma berisi tak lebih dari empat puluh ribu rupiah ....hehheheheeh... Inilah salah satu kebiasaan saya, menentukan target operasi dulu sebelum duitnya tersedia. Ada yang berkelakuan begitu juga?

Interior toko benar-benar diatur secara padat berisi. Setiap jengkal luasan benar-benar dimanfaatkan untuk rak, sehingga hanya menyisakan sedikit untuk sirkulasi. Nah ketika tengah berjongkok di area sirkulasi yang mepet inilah telinga saya menangkap celoteh beberapa anak kecil. Awalnya saya tidak menaruh perhatian. Saya pikir mereka adalah anak-anak yang diajak oleh orang tuanya karena memang disitu terdapat beberapa yang pantas berwajah sebagai orang tua.... hehhehehehee... termasuk saya sebenarnya. Tapi lalu kuping saya tegak juga, menyadari para bocah ini berbicara ke sesama mereka dalam bahasa Inggris. Ah, paling mereka warga negara tetangga yang tengah jalan-jalan ke negera saya, demikian pikir saya. Tapiiiii lagi-lagii kuping saya tegak gara-gara menyadari bahwa logat Inggris mereka cukup Suroboyoan. Nah lho... bisa membayangkan bahasa Inggris berlogat Suroboyo? Daannnnnn klimaksnya adalah meledaknya tawa saya ketika mereka membicarakan sebuah buku, menganggap harganya mahal, lalu keluar juga kata khas Suroboyo di belakang kalimat bernuansa bahasa Inggris yaitu 'ohhh very expensive..... Gendhengggggg !”. Nah nah nah ..... sekarang saya tak ragu lagi untuk menyimpulkan darimana mereka berasal ..... Hahahah....

Jujur bukan maksud saya mentertawakan para bocah itu. Justru sebaliknya saya salut dengan anak-anak yang paling tidak sudah terbukti bilingual ini. Mereka berbicara dengan spontan. Mengucap kata-demi kata dengan percaya diri dan suara keras, tak takut salah ataupun malu didengar orang lain.Sungguh menarik bagi saya karena sebelumnya seorang teman yang guru bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas mengeluh murid-muridnya cenderung tidak cukup berusaha dalam pelajaran tersebut. "Masa' sudah belajar bertahun-tahun tapi membuat sebuah kalimat sederhana saja belum juga bisa. Apa ga stress aku sebagai gurunya?!". Itu tadi omelan teman saya. Sebagai guru, dia sungguh-sungguh ingin melihat muridnya berhasil dalam mata pelajaran tersebut. Dan untuk itu dia mengaku berulangkali mengganti-ganti cara mengajarnya. Dia sudah pernah mencoba menerapkan cara mengajar ideal menurut rekaannya. Ketika terbukti tak berhasil dia berdiskusi dengan koleganya, mencoba mencari masukan untuk sebuah rumusan cara mengajar yang paten. Dan ketika hasilnya masih juga tak bagus dia mulai menoleh ke belakang. Teman saya mulai menerapkan sistem mengajar mantan guru SMP dan SMA-nya dulu. Dia mencoba mengadopsi sebisanya cara mengajar beliau-beliau yang paling tidak berhasil membuat dia bisa berbahasa Inggris. "Dan hasilnya?" tanya saya. Hati saya ikut nelangsa ketika teman saya menggeleng lemah. Kesian deh kau, Temanku ..... hehehehehe.... sumpah saya ikut nelangsa kok.

Lalu teman saya itu berkata bahwa menurutnya siswa-siswanya tidak terlalu mengerti pentingnya bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Mereka cenderung cukup puas dengan meminta bantuan simbah Google translate. Nah nah nah, soal pentingnya menguasai bahasa asing ini saya sungguh sependapat dengan teman yang terus berusaha menjadi guru yang baik ini. Bagi saya bahasa Inggris itu wajib bisa. Kalau bisa bahasa asing lainnya ya lebih bagus lagi. Saya ingat dulu begitu ingin bisa bahasa Inggris karena merasa bosan membaca teks ketika nonton film. Juga karena jengkel tak bisa mengerti lagu-lagu Inggris itu. Waktu itu cita-cita saya adalah bisa duduk menonton film tanpa perlu repot membaca tulisan yang kadang sudah hilang sebelum saya berhasil membaca seluruhnya. Juga saya jengkel karena selalu harus berpikir keras dan menempelkan kuping tepat di sebelah radio cuma karena kepingin tahu itu penyanyi ngomong apa. Sungguh, kedua hal itu benar-benar menjengkelkan saya. Jadilah saya menyimak baik-baik, rajin mengikuti kelas tambahan, demi meraih keinginan itu. Hasilnya? Ehmmm ..heheheheh ga bagus-bagus amat sihhhh .... yaaaa mirip-miriplah dengan anak-anak yang saya temui di toko buku tadi... hehhehehe.... Yaaa saya berani-berani saja ngomong di depan buyer/supplier yang harus saya temui sehubungan dengan pekerjaan kantor. Saya juga pede-pede saja membuat email atau kadang surat bisnis semi formal untuk rekanan kantor. Saya juga tidak alergi untuk membaca literatur Inggris jaman kuliah dulu. Saya juga semangat membeli maupun membaca buku fiksi maupun non fiksi dalam bahasa itu, tak peduli perlu waktu sangat lama untuk menyelesaikannya. Saya juga membiasakan diri untuk menonton DVD dengan teks bahasa Inggris, menghindari bahasa Melayu yang justru tak seringkali tak saya mengerti. Saya juga punya teman chatting dan korespondensi dari beberapa negara. Ya ya ya .... itu yang terjadi pada saya. Sebenarnya tidak maksimal seperti yang saya inginkan, karena toh saya belum terlalu mampu menonton film dan mengerti teks lagu dengan mengandalkan pendengaran saya. Saya juga masih mati kutu ketika bertemu dengan buyer dari Australia yang logatnya sungguh tak saya mengerti. Tapiiii yaaaa mendinglahhhh ... Paling tidak saya tidak buta sama sekali. Bahkan ketika ke Singapura, ketika bertanya tentang arah, saya sempat mendapat pujian Inggris saya bagus .... hahahahahahaha .....gombaaaallllll !!!

Eh ngomong-ngomong saya jadi ingat seorang teman yang lain. Dia seorang auditor yang bekerja di perusahaan Amerika. Bahasa Inggris tentu sudah seperti bahasa Jawa untuknya. Dia sudah mengerti dan bisa berbahasa Inggris sejak SMP, walau tidak pernah tinggal di luar negeri, tidak juga bersekolah di sekolah internasional. Tapi dia bisa. Dan dasar kutu buku maka tak puaslah dia dengan buku hasil translasi. Kepada saya dia menasehatkan untuk membiasakan diri membaca buku dalam bahasa aslinya. Dan dalam hal bahasa Inggris ini dia mengajari saya untuk telaten dengan buku bacaan di tangan kanan dan kamus di tangan kiri. Itu hal yang dilakoninya dulu, hingga bisa jadi seperti ini sekarang. Katanya, seringkali penterjemah mentranslasi kalimat berdasarkan penalarannya dan itu bisa jadi tidak sama maksudnya dengan penulis. Kadang translator mengerti maksud penulis, tapi tak bisa menyusun kalimat yang baik dan mudah dimengerti dalam bahasa kita. Nah lho ..... Dan saya sepakat dengan hal ini .... ehmmm walaupun masih juga sering membeli buku terjemahan ..... ihihihihihih ......

Jadi bagaimana? Seberapa penting mengerti bahasa asing terutama bahasa Inggris? Yaaaa.... jujur saya merasa sungguh beruntung tidak sama sekali buta. Dan masih punya keinginan besar untuk meningkatkan kemampuan saya pula. Realitasnya saya terus berusaha untuk itu. Kalau orang lain, ya terserah masing-masing ya .... Tapi sungguh saya berharap keponakan dan anak-anak saya kelak, punya kemampuan yang lebih dari saya sekarang. Semoga murid-murid teman saya, juga murid-murid lainnya begitu juga.... Amin .... Oh iya, seorang buyer dari Amerika yang saya temui bilang dia banyak berkunjung ke negara-negara Asia untuk urusan bisnis. Saya tanyakan mana di antara negara-negara itu yang dia paling suka kunjungi. Jawabnya Hongkong. Bagaimana dengan Indonesia? Katanya Indonesia bagus dan secara bisnis menguntungkan. Cuma masalahnya di Indonesia susah sekali kalau tidak bisa berbahasa Indonesia, sementara di Hongkong nyaris semua orang mengerti bahasa Inggris. Ya ya ya ....saya cuma tersenyum menggaruk kepala. Okay, Sir.....

Rabu, 28 Desember 2011

Surabaya, Wisata 10 Nopember 1945




Bertahun-tahun yang lalu, ketika masih berstatus mahasiswa (ehmmm duh ketahuan deh umur dah tuwir), saya berkunjung ke Surabaya bersama teman yang Betawi asli. Bis kota menurunkan kami di daerah Jembatan Merah Plaza. Teman saya langsung bertanya, "berarti dekat Jembatan Merah dong? Yang mana jembatannya?" Dia mengikuti arah telunjuk saya dan berkomentar,"Segitu aja?" Lalu dia meraba-raba besi jembatan sambil bergumam bahwa apa yang dilihatnya sekarang tak seperti apa yang ada dalam bayangannya selama ini."Tidak sesederhana ini!" protesnya jengkel. Eh protesnya jangan sama saya, Bang .....

Lain waktu, kakak saya datang bersama beberapa temannya yang semuanya dari luar Jawa dan notabene, seperti teman Betawi saya di atas, kali pertama berkunjung ke Surabaya. Saya yang sudah lebih dari lima tahun tinggal dan bekerja di kota ini bertugas menjadi penunjuk jalan (stttt...padahal saya sering tersesat lho... hehhehehhe). Kami bermobil mengelilingi Surabaya. Ketika saya tunjuk Tugu Pahlawan, mereka semua ber-oohhhh .... Lalu salah satu nyeletuk, "daerah sini ya berarti yang dulu ada pertempuran itu?". Saya iyakan sambil menunjuk sebelah mana jalan Tembaan yang konon berasal dari kata 'tembakan' yang maksud sebenarnya adalah kejadian tembak-menembak. Yang lain bertanya, “Tugunya cuma begitu doang?” Nahhh yang ini saya jawab bahwa memang Tugu Pahlawan ini rendah hati, tidak mau menyaingi Monas yang sudah menjulang. Beberapa saat kemudian saya tunjukkan si Jembatan Merah. Nyaris serentak komentar yang keluar adalah 'gitu doang?!' Ya, memang cuma begitu mau bagaimana lagi? Mereka 'mencep berjamaah'... hehhehehee ....

Nah nah, minggu lalu saya ke Jembatan Merah Plaza, dan teringat kedua peristiwa di atas. Iseng saya sampaikan dengan teman yang menyertai. Dan komentarnya, "Iya, dari dulu gitu-gitu aja." Ehmmm ... lalu saya jadi berpikir mengapa tidak dibuat sebuah rangkaian cerita sejarah di jalan-jalan kota Surabaya? Rangkaian cerita tentang 'kendelnya' arek-arek Suroboyo melawan mantan penjajah yang tidak mau mengakui kedaulatan Indonesia. Rangkaian cerita yang membuat Surabaya dijuluki kota Pahlawan. Saya kepikir jalurnya dari jalan utama yang membelah pusat kota Surabaya, kisaran daerah yang mendekati jalan Basuki Rahmat. Penanda pertamanya bisa jadi gedung tua di depan Tunjungan Plaza (Sogo) yang kini berfungsi sebagai toko arloji Seiko (saya lupa nama gedungnya). Gedung ini toh juga seringkali tampak di foto-foto dokumentasi Surabaya tempo dulu. Lalu terus ke arah Tugu Pahlawan, mengikuti arah jalur lalu lintas. Dari sini bisa bercabang ke jalan Tembaan dan terus ke arah Jembatan Merah, jalan Kembang Jepun, dan mungkin terus ke arah Tanjung Perak ataupun pelabuhan Kalimas. Nantinya ketika berputar dan bertemu pusat kota lagi Hotel Majapahit bisa digunakan sebagai titik klimaksnya, turun hingga Grahadi dan seterusnya.

Jujur saja, saya sangat menyukai gagasan pribadi tersebut... hehehheeh narsis ya? Bukan maksudnya begitu siiihh .... Cuma paling tidak hal tersebut rasanya cukup mungkin untuk dilaksanakan. Apalagi latar belakang cerita heroiknya sudah sangat dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, juga bangsa mantan penjajah tentu saja. Mumpung juga masih ada bangunan-bangunan lama yang saya rasa saat itu jadi saksi bisu atas peristiwa dahsyat tersebut. Lihat saja gedung-gedung tua di seputaran daerah Jembatan Merah. Toko-toko di kawasan Kembang Jepun yang saat ini kalau malam menjadi Kya-Kya pun saya yakin masih bangunan lama. Hanya kelamaan itu terselimurkan oleh aneka macam billboard yang menjadi penanda aktifnya perputaran uang di daerah tersebut. Coba saja menelusup ke jalan-jalan cabang jalan utama jika mau lebih jauh menakar betapa masih ada saksi yang berdiri tegak. Bangunan-bangunan tua itu sungguh potensi keindahan yang tinggal menunggu sedikit polesan saja. Dan saya dengar sudah ada upaya Pemerintah Daerah untuk melindungi beberapa bangunan tua. Mungkin tinggal memperluas cakupannya. Dan secara gaya dan fungsi rasanya tidak akan terlalu susah untuk disiasati. Contohnya, ada satu sudut bangunan tua yang dicat 'genjreng' dan hasilnya menurut saya cukup mampu membuat kesan 'lain' dari bangunan tersebut. Rasa-rasanya jika si pemilik bermaksud untuk membuat satu vocal point, dia sudah cukup berhasil.


Lalu bagaimana langkah perwujudannya? Ehmmmm... kalau yang begini tentu saja saya tidak bisa menjawabnya sendiri. Yang saya tahu pasti diperlukan banyak keahlian untuk melakukan proyek besar ini, disamping tentu saja dana (sebab sering-sering semuanya tergantung pada UUD alias ujung-ujungnya duit). Perlu kerja keras dari sejarawan, seniman, arsitek, planolog, saksi sejarah, pemerintah, dan banyak lagi untuk bisa merekonstruksi semua itu. Sebab ini bukanlah sekedar membuat diorama, tugu, patung, atau plakat saja. Bukan sekedar menaruh bambu runcing dimana-mana. Dan sialnya, opini saya, selama ini orang kita sering terjebak dengan hal itu ketika mengkonsep 'penanda sejarah'. Terlalu dangkal. Seringkali hal-hal yang bersifat 'jiwa' luput tak tersentuh. Bagi saya, harus ada 'atmosfir' yang bisa membuat orang kembali 'bergidik' merasakan peristiwa heroik itu. Sejarawan dan saksi sejarah merekonsruksi peristiwa sebagai konsepya. Arsitek, planolog, dan seniman membangun suasana dan rasa, mengolah elemen kota seperti ruang luar, bangunan, jalan, dan sebagainya. Pemerintah membuat kebijakan dan menyokong dananya, kalau perlu bergandengan dengan pihak swasta. Masyarakat mendukung, minimal dengan komitmen menjaga, dan memelihara. Dan seterusnya ...dan seterusnya .... Laluuuuu bayangkan hasilnya ketika orang bisa otomatis tertuntun ingatannya pada peristiwa tewasnya Jendral Aubertin Mallaby ketika melintasi Jembatan Merah. Bayangkan juga ketika pejalan kaki bisa berhenti sejenak di depan hotel Majapahit, tercenung, berpikir tentang masa ketika Hariyono, Koesno, dan arek Suroboyo lainnya memanjat tiang dan merobek bendera Belanda hingga jadi merah putih saja. Coba deh bayangkan ..... Kerennnnnn kannnnn ....? Iya ga, iya ga?

Jadi, bagaimana selanjutnya? Nah, ini pertanyaan besar. Semoga di luar sana ada orang-orang yang berpikiran senada dengan saya. Semoga ada orang-orang yang sependapat sejarah ini layak diabadikan. Semoga ada orang-orang yang bosan menjadikan mal sebagai tempat wisata. Semoga ada orang-orang yang mampu membuat kebijakan daerah untuk terwujudnya hal itu. Dan kalau ini terwujud...ehhhmmm.... berarti yang dibuat bukanlah sekedar secuil area wisata, tapi sekawasan kota. Sekawasan kota akan jadi karya seni instalasi. Nah nah nah ... apa ga keren tuhhhhh...??? Ah saya kok sudah seperti sedang berjalan-jalan di kawasan itu yaaa.... Rek ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan ..... imagine ... imagine ..... dan akhirnya SEMOGA....


Senin, 14 November 2011

PAK MUS DAN SEPAKBOLA

Namanya Pak Mus. Lengkapnya saya sudah lupa karena dulu seluruh keluarga saya selalu memanggilnya Pak Mus saja, tanpa pernah embel-embel lengkapnya. Saya masih ingat sosoknya yang gempal akibat seringnya mengangsu (menimba air sumur) dan mengangkutnya ke kamar mandi dan dapur rumahnya dengan kaleng kotak yang dipikul di bahunya. Sumur yang berada di bagian depan rumah orangtua saya berjarak sekitar 40 meter dari rumahnya sendiri. Kepalanya sepanjang ingatan saya selalu gundul walau tidak licin. Kulitnya coklat gelap dan pembawaannya cenderung gampang tertawa. Hal yang paling lekat di ingatan saya adalah celana komprang hitam yang selalu dikenakannya setiap kali menjalankan pekerjaannya di peternakan ayam milik orangtua saya. Waktu itu saya masih kanak-kanak dan seringkali dia menggoda saya selayaknya seorang paman menggoda keponakannya. Ya itulah Pak Mus.

Mengapa tiba-tba ingat Pak Mus? Ehmmmm .... ceritanya saat ini saya semakin gandrung dengan sepakbola Indonesia. Perlu saya tekankan 'Indonesia'-nya karena sebenarnya saya sepakbola sudah menarik bagi saya, tapi sepakbola dalam artian World Cup, Liga Spanyol, dan Liga Italia. Indonesia baru masuk ke 'wilayah' saya ketika euphoria AFF tempo hari. Saya waktu itu sunguh terpesona dengan Timnas 'hasil karya' Alfred Riedl yang di mata awam saya terlihat begitu berbeda dengan permainan di liga-liga Indonesia yang pernah saya tonton sekilas-sekilas. Saya jadi jatuh cinta dan jadi penggemar yang menunggu jam permaianan mereka. Saya juga jadi ikut bersorak dan mengepalkan tinju ketika permainan indah mereka tampilkan tak peduli itu membuahkan gol ataupun tidak. Saya juga menjadi penggemar yang ikut mengumpat ketika PSSI kisruh tak keruan dan didominasi muatan-muatan politis dan pertikaian antar kubu yang tak ada kaitannya dengan masalah Timnas sendiri. Saya juga menangis sangat sedih ketika akhir dari pertikaian panjang itu membuahkan Riedl dipecat dengan alasan yang tidak masuk akal. Saya juga jadi pengumpati pelatih sekarang ketika menonton Timnas senior bolak-balik dicukur oleh lawan-lawannya tanpa bisa memberikan perlawanan yang berarti. Nah sekarang ketika Sea Games berlangsung maka cabang olah raga yang paling menarik adalah sepokbola dan tentu saja saja menjadi supporter tim Garuda Muda yang sampai Minggu malam bermain dengan cantik dan berstrategi.

Nah nah, lalu apa hubungannya dengan Pak Mus? Ya, begini. Saya tinggal bertetangga dengan beliau pada awal tahun 80an. Pada masa itu desa kami di Ngawi adalah desa kecil dengan tanah yang pada saat kemarau berbutir-butir seperti beras hitam dan pada saat musim hujan jadi lengket hingga sandal jadi seperti bersol tebal. Saat itu belum banyak yang punya pesawat televisi di desa kami. Televisi kami pun hanya hitam putih. Tapi yang begitu tetap mampu membuat para tetangga berkumpul di ruang tamu . Dan ketika ada siaran pertandingan sepakbola (jaman itu rasanya yang disiarkan cuma sepakbola Indonesia) ada satu orang yang tak pernah absen, yaitu Pak Mus. Beliau pasti duduk di barisan terdepan serta dengan tekun dan ekspresif mengikuti jalannya pertandingan. Setelah pertandingan usai Pak Mus akan mengulas pertandingan tadi. Ibu saya yang bukan pecinta sepakbola pernah berkomentar, seburuk apapun jika itu masih bernama sepakbola maka Pak Mus akan tetap menonton dan menemukan kenikmatan di dalamnya. Dan benar saja, pernah suatu ketika semua orang menolak untuk menonton dan cuma beliau seorang diri yang tetap bertahan di depan televisi. Malah suatu ketika kami semua keluar rumah dan pada saat pulang saya melihat Pak Mus duduk di balai-balai terasnya dengan radio transistor kecil di tangannya, ramai mengumandangkan pertandingan sepakbola.

Ya, itulah Pak Mus yag saya kenal. Waktu itu bola bekel lebih menarik bagi saya jauh ketimbang sepakbola. Dan jujur baru-baru ini saja saya mulai bisa memahami kesenangannya. Saya tidak tahu apakah beliau masih hidup saat ini karena semenjak pindah dari desa itu 29 tahun yang lalu, saya tak banyak mendengar kabar tentang beliau. Mungkin jika masih hidup, beliau akan jadi kurang tidur karena sibuk menonton macam-macam liga yang nyaris setiap hari ada di televisi. Dan mungkin juga beliau sama seperti saya ikut menangis, bersorak, dan tertawa, larut dalam euphoria kebangkitan Tinmas Indonesia. Mungkin juga beliau ikut menyesalkan didepaknya Riedl, serta marah akan kekacauan PSSI dan membodohkan pelatih pengganti Riedl. Mungkin beliau membelikan cucunya kaus merah bertulis Gonzales, Bonai, Nasuha,Andik,atau Patrich. Mungkin minggu-minggu ini , seperti saya, beliau akan berteriak “Ayo, Indonesia bisa!”

Senin, 31 Oktober 2011

Buku dan Saya


Kalau ada dua hal yang nyaris selalu berhasil menyenangkan saya, maka keduanya adalah makanan enak dan buku. Yang pertama karena memang pada dasarnya saya doyan makan, doyan sembarang, dan cenderung tidak punya pantangan selain masalah halal haram. Sedangkan yang kedua, walau bukan termasuk kutu buku namun buku adalah teman baik yang menarik bagi saya, entah itu dalam bentuk benar-benar buku ataupun bentuk lain seperti majalah, koran, atau ebook.

Nah buku apa yang saya sukai? Ehmmm.... sebenarnya saya sudah tidak membuat batas apa yang saya baca, semua tema, semua model saya mau baca sepanjang menarik tentu saja. Nahhhh kriteria menarik inilah yang seringkali berubah-ubah. Sebuah buku menjadi menarik bagi saya kadang berdasarkan suasana hati dan keinginan. Ketika sedang semangat menggebu soal belajar marketing dan manajemen maka buku-buku itulah yang saya buru. Ketika sedang merasa butuh belajar komputer, maka jelas sudah target yang jadi obyek. Kalau sedang mood belajar merajut dan menjahit, maka saya rela-rela saja berhutang demi buku panduan. Dan ketika semangat beragama saya lagi tinggi, ehmmmmm .... tahulah buku model apa yang saya angkut pulang. Bahkan ketika sedang tidak mood pun saya masih bisa membawa pulang buku cuma dengan alasan desain kovernya menarik.... hehheehee .....Di luar semua itu, tema yang selalu menarik bagi saya adalah sastra. Untuk yang satu ini rasanya hampir tak ada pernah ada bosannya. Selalu ada yang menarik untuk diangkut pulang.

Nah kalau itu tadi adalah kegemaran membeli buku, sekarang bagaimana soal membaca. Eitttt...jangan salah...jangan menghubungkan kegemaran saya membeli buku dengan kegemaran membaca. Ehmmm keduanya agak sedikit kurang akur …. ahhahahahah ….. Begini, sungguh buku adalah barang yang sangat menarik bagi saya. Sering-sering saya menempatkannya di atas kebutuhan akan sandang. Tapiiiii soal membaca, maaf saya sering berhenti di tengah jalan alias tidak rajin … ahhahahaha …. Jadi jangan berpikir saya ada adalah makhluk kutu buku dengan kaca mata tebal dan cenderung serba tahu dan berwawasan luas karena seringnya membaca. No no no ….. I'm not that person. Entah sudah berapa buku yang saya beli karena berbagai alasan, saya baca, tapi kemudian saya tinggalkan sebelum seluruh halamannya tuntas. Dan ketidaktuntasan pun dengan alasan yang macam-macam. Saya pernah berhenti membaca terjemahan dari tulisan Franz Kafka lalu berhenti sebelum genap ke halaman lima belas karena terjemahan ke bahasa Indonesianya tak sesuai dengan selera saya. Jadi saya hampir yakin ada yang salah dengan si penterjemah, mungkin kemampuan bahasa asingnya cukup 'ngepres' alias setara dengan kemampuan bahasa Inggris saya … ahhahaha.... Lalu pernah pula saya berhenti membaca Ramayana. Padahal sungguh saya termasuk penggemar cerita wayang, terutama Mahabarata. Tapi Ramayana itu jadi terasa aneh di kepala saya karena susunan kalimatnya menurut saya tidak memenuhi nilai rasa.... pokoknya enggak kerenlah bagi saya. Ramayana jadi terasa wagu dan kikuk. So, saya singkirkan buku itu. Ada lagi beberapa buku yang saya hentikan membaca karena sudah lewat momentum mood-nya ..hahahahha … Memang alasan ini model yang konyol sekali. Yang begini biasanya buku soal software komputer. Awalnya saya membeli karena ingin bisa ini itu. Tapi di tengah jalan 'cuthel' karena tak cukup telaten belajar tanpa guru yang menerangkan. Terus ada juga buku-buku berbahasa Inggris yang walau belum bisa dibilang saya singkirkan, tapi faktanya sudah beberapa lama belum saya sentuh lagi. Padahal rata-rata saya membelinya dengan antusiasme yang luar biasa karena alasan tertentu, seperti merupakan cerita klasik yang filmnya saya sangat suka, atau buku how to yang saya pikir sangat berguna bagi pengembangan hobi saya, atau malah karena sang pengarang dicap sesat sehingga bukunya tak boleh masuk ke Indonesia. Nah nah nah …. ternyata alasan segala rupa itu terkalahkan oleh kenyataan bahwa kemampuan saya berbahasa Inggris yaaaaa masih segitu-segitu saja …. hahahahhaa ….. jujur saya sering nelangsa karena kenyataan ini … hiks ….

Lain lagi dengan buku yang bentuknya ebook. Wahhhh sungguh saya luar biasa senang ketika pertama kali mengenal yang namanya ebook. Saya rajin mengunduh ebook ini itu, beragam tema, beragam alasan. Mengunduh ebook menjadi semacam histeria. Tapiiiii ….. lagi-lagi histeria itu tak akur dengan fakta bahwa saya tak cukup betah membaca di depan monitor. Bagi saya membaca yang terenak adalah sambil tiduran, tak peduli itu adalah kebiasaan yang menurut dokter merusak kesehatan mata. Sooooo.... bisa ditebak ending-nya, entah berapa ebook yang belum saya jamah …. ehhhmmm....

Eh ngomong-ngomong, walaupun saya sadar diri betapa tidak sempurnanya saya dalam hal ber-buku, tapi tetap saja saya sibuk 'mengejar' ketika teman merekomendasikan judul ini itu layak dibaca. Ini malah saya baru selesai mengunduh dua ebook yang direkomendasikan oleh dua teman saya. Dan keduanya berbahasa Inggris. So, bagaimana kira-kira nasib keduanya? Hehehehehe … try to guess …..

Jumat, 30 September 2011

ROK MINI

Tempo hari bang Foke didemo oleh rakyatnya gara-gara pernyataannya soal rok mini. Si abang Gubernur kurang lebihnya bilang sebaiknya perempuan juga tidak menggunakan rok terlalu pendek untuk mencegah orang berpikiran jorok yang bisa berujung pada pemerkosaan, seperti pemerkosaan di angkot yang sedang marak. Alhasil didemolah beliau oleh perempuan-perempuan yang berpendapat bahwa masalahnya bukan di rok mini dan tak elok menyalahkan perempuan yang posisinya korban atas kejahatan seksual itu. Jadi pernyataan si abang dianggap melukai perasaan perempuan. Dan di televisi ketika wartawan meminta komentar dari bang Foke, yang keluar dari mulutnya hanyalah 'tidak ada komentar'.

Seingat saya kejadian soal rok mini ini bukan pertama kalinya. Dulu, entah tahun berapa saya pernah membaca sebuah iklan, kalau tidak salah semacam iklan layanan masyarakat. Ada gambar kaki perempuan berrok mini tanpa terlihat bagian kepalanya dan ada tulisan 'bagaimana angka pemerkosaan menurun kalau rok anda semakin semakin tinggi?'. Alhasil iklan yang tayang di koran nasional itu menuai tanggapan dan protes.

Ahhh ... rok mini, salah satu produk mode yang bisa dianggap sebagai ekspresi 'kebebasan' dan modernitas perempuan. Rok mini juga bisa dikatakan sebagai simbol pemberontakan perempuan. Dan dari jaman ke jaman rasanya sebagai produk mode, rok mini ini tak pernah lekang atau kekurangan penggemar. Makanya makin lama ya makin lazim saja. So, kalau memang makin lazim bukankah seharusnya untuk mata manusia pun rok mini bukan hal baru alias 'sego jangan' kalau orang Jawa Timuran bilang. Dan karena sudah jadi sesuatu yang lazim maka seharusnya logikanya rok mini yang dipakai perempuan tidak terlalu mudah membangkitkan 'kejorokan' di pikiran yang melihat. Toh banyak banget yang mengenakannya. Dari yang muda sampai yang nenek-nenek. Dari yang pekerja kantoran hingga yang bukan apa-apa. Dari yang model sempit sampai yang model lebar. Yang pakai pun ada yang mulus beneran, ada juga yang 'belang belonteng'. So, benar-benar suatu kelaziman …. Tapiiiiii apakah jalannya logika selalu sama dengan jalannya syahwat? Saya meragukan hal itu..... Lalu yang lain bilang, ya hak pribadi dong mau pakai baju apa, kan ini badan milik pribadi. Ehmmmm.... tambah ruwet dah....

Pernah ada suatu kejadian yang saya saksikan sendiri. Seorang perempuan berbaju seksi marah ketika gerombolan anak muda yang dilewati 'memandanginya'. Teman laki-laki yang ada disebelah saya cuma nyengir sambil berkomentar, “Lha bajunya begitu ...ya gemes dong yang lihat...” Nahhhh bukankah ini bukti bahwa logika bahwa berbaju apapun itu hak perempuan tidak sejalan dengan alur syahwat pemandangnya? Saya sempat bilang ke teman saya, “hak dia dong pakai baju apapun.” Teman saya menjawab, “ya hak mereka juga dong untuk melihat. Toh mata mereka sendiri. Dan kenyataannya cuma melihat.” Nah kan …..

Jujur saja saya bukan termasuk yang punya rasa percaya diri untuk memakai rok mini. Alasannya, yaaaa salah satu dan mungkin yang terbesar adalah ngerasa tidak seksi … ahhahahahaa ….. Badan saya jauh dari montok... cenderung kurus kering …. alias cenderung 'kutilang darat'. Mungkin itu sebabnya saya merasa gampang-gampang saja menerima perkataan bang Foke juga tulisan di iklan tadi. Saya tidak tersinggung, walau tidak pula lalu beroposisi dengan yang berdemo tadi. Yaaa rasanya wajar-wajar saja dan di telinga saya itu terdengar seperti 'hai, berusahalah menjaga dirimu sendiri'. Mungkin kurang lebih sama dengan kalau ada yang bilang 'jangan pakai perhiasan berlebihan, ntar malah dirampok lhoooo'. Nah, kalau maksudnya seperti itu, apakah lalu pernyataan dan iklan itu salah? Ehmmmm mungkin perlu permikiran lebih dalam lagi yaaaaaa.....

Saya tidak menyalahkan mereka yang berdemo lhoooo ….. Sumpahhhh ! Mungkin mereka benar pernyataan seperti itu memojokkan perempuan yang sebenarnya berposisi menjadi korban. Mungkin benar pernyataan itu kurang sensitif terhadap perempuan. Mungkin redaksionalnya perlu diubah sedikit biar terdengar di telinga bak nasehat dari seorang bijak bestari.

Eh tapi jangan dikira mereka yang pakai rok mini tidak berusaha menjaga keselamatannya lhooo …. coba lihat saja mbak-mbak yang suka melilitkan kain untuk menutupi rok mininya sebelum turun ke jalan. Banyak juga teman saya yang hanya mengenakan rok mini seragamnya di lingkungan kantor dan berganti dengan celana panjang ketika berangkat dari rumah dan jam kantor usai. Banyak juga yang langsung menambah legging hitam ketika jam wajib berrok mini lewat.

Sooooo mau pakai rok mini? Silahkan … enggak ada yang ngelarang kokkkkk … Tapi hati-hati yaaaaaa....

Sabtu, 20 Agustus 2011

ANAK SEKARANG

Saya sedang berjaga di warnet tempat saya mencari uang tambahan di luar gaji ketika dialog ini terjadi. Seorang anak seumuran kelas 6 SD menghampiri meja saya dengan kedua tangan di kantung celananya. “Mbak, saya mau ngeprint”, katanya. Saya tanyakan file mana yang perlu di-print. Katanya masih dengan kedua tangan di kantung, “ Ya nyarikan dulu di google, mbak. Temanya soal ...”. Dia tidak sempat menyelesaikan kalimat itu karena saya keburu memontong dengan judesnya, “Itu tugas sekolah! Ya kamu yang cari sendiri! Emang yang sekolah saya?!”. Kentara nyalinya ciut dengan jawaban saya itu. Lalu duduklah dia di depan komputer dan mulai mencari apa yang dia perlukan. Dasar anak sekarang, sungut saya dalam hati.

Lain waktu seorang gadis seumuran SMA mendatangi meja operator ketika saya sedang asyik browsing. Katanya,” Mbak, tolong kerjakan soal di CD ini. Terus nanti save lagi di CD yang ini.” Ehmmmm..... saya gampang sekali meradang dengan urusan semacam ini. Dengan tegas saya jawab, “Disini tidak melayani pengerjaan tugas sekolah. Jadi silahkan kerjakan sendiri!” Dia tidak menyerah dengan penolakan saya. “Wah Mbak, saya minta tolong deh. Saya lagi ulangan nih...ga ada waktu buat ngerjain tugas ginian. Saya perlu belajar. Jadi Mbak aja yang kerjain, ntar saya bayar kok.” Hadeeehhhhhhh ...... jengkelnya saya. “Lha kalau yang mengerjakan saya apa gunanya tugas itu? Tugas itu dibuat untuk melatih kemampuanmu. Jadi ya harus kamu sendiri yang kerjakan.” Saya menolak pekerjaan semacam itu dengan pertimbangan 'mulia' ehhhh kok ditawar dengan uang. Saya bersikukuh dengan keputusan tsb walau si gadis terus merengek. Untung sang ibu yang menyertainya mau mengerti alasan saya. Lagi-lagi saya bersungut-sungut, dasar anak sekarang!

Seorang teman kantor bercerita tentang perilaku anaknya yang dimintai tolong ke warung. Katanya jawaban si anak adalah “ya ntar aja Bu kalau saya mau”. Ahahhahahaha ..... Saya tertawa melihat wajah gemasnya. “Lha wong ibunya yang nyuruh kok jawabannya begitu.... Dasar anak sekarang! Mereka kurang mengerti sopan santun.” lanjutnya. Di lain waktu teman yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris meradang karena muridnya mengerjakan tugas yang diberikan dengan bantuan Google Translate. Lagi-lagi saya geli dan menggodanya dengan menyebut si murid cerdas dalam menggunakan kemajuan teknologi informasi. Jawaban teman saya, “Halah mereka mau enaknya saja! Bahkan hasil terjemahan yang tidak karuan itu tidak mereka baca ulang apalagi diperbaiki! Ahhh sebal saya! Anak sekarang tidak seperti jaman kita dulu!”

Ahhh sebenarnya keluhan tentang 'anak sekarang' selalu muncul dari mulut generasi yang lebih tua terhadap yang lebih muda. Dulu orang tua saya juga mengeluhkan perilaku 'anak sekarang', dan yang dimaksud disini adalah generasi saya. Sekarang saya mengeluhkan generasi di bawah saya. Jadi mungkin saja dulu generasi kakek nenek buyut mengeluhkan generasi kakek nenek. Dan mungkin juga generasi kakek nenek mengeluhkan generasi bapak ibu saya. Lhaaa kayak kereta api yang sambung menyambung dong keluahannya.... Dan kalau keluhan itu benar-benar sambung menyambung, apakah berarti generasi yang lebih muda tak pernah lebih baik dari generasi yang lebih tua? Entahlah ....

Jujur saya selalu heran dengan mereka-mereka yang lahir di era penjajahan dulu. Begitu banyak orang pandai lahir di jaman yang konon luar biasa susah itu. Dan di logika saya, pada masa itu jumlah balita kurang gizi tak terhitung. Tapi sebut saja Sukarno sebagai contoh yang brilian. Berapa bahasa asing yang dia kuasai, kita semua tahu pasti. Belum lagi konsep-konsep pemikirannya. Apakah yang begitu bisa lahir dari bayi yang kurang gizi? Contoh lain Agus Salim. Ahhh sungguh saya mengidolakan pahlawan yang satu ini lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya. Dan seperti Sukarno, dia juga menguasai berbagai bahasa asing. Walaupun dia lahir dari keluarga yang terpandang, tapi kondisi sebagai bangsa terjajah tentu tidak membuatnya berlimpah fasilitas ini itu dalam menuntut ilmu. Tapi lihat hasilnya. Sukarno dan Agus Salim cuma dua contoh dari kegemilangan generasi masa itu. Dan saya membandingkan satu unsur saja dari mereka dengan diri saya sendiri, yaitu kemampuan berbahasa asing. Boro-boro menguasai tujuh bahasa asing, bahasa Inggris saja saya masih belepotan dan sering 'mati gaya' di depan klien perusahaan. Kalaupun sampai sekarang saya masih saja pe-de menemui mereka karena rata-rata para buyer tersebut masih sanggup tersenyum 'mengerti', malah kadang membantu melengkapi kalimat saya. Dan kalau sudah begitu saya akan menimpali dengan ''yeahhhh that's what I mean...”

Itu tadi baru soal bahasa. Bagaiman dengan soal perilaku? Ehmmmmmm .... ibu saya pernah bercerita betapa dulu kakek menggemblengnya dengan aturan tata krama yang ketat. Ibu selalu berbahasa Jawa halus alias 'boso' terhadap kakek dan nenek. Ibu tidak pernah duduk mengangkat kaki. Tidak pernah juga duduk di atas kursi ketika yang lebih tua duduk di lantai. Selalu patuh dan tidak pernah ada cerita membantah apalagi beradu mulut dengan orang tua. Nah nah nah .... saya bercermin dan hasilnya betapa beda dengan diri saya...... Boro-boro patuh, bahkan berbantahan pun seringkali saya anggap sebagai 'kebebasan berpikir dan berpendapat'. Boro-boro berbahasa Jawa halus, wong kebisaan saya menggunakan bahasa Jawa yang standard pun dianggap ibu saya menyedihkan... hehehheeheheh....

Ketika membicarakan hal ini dengan seorang teman, dia sempat berkata, “masa' sih generasi muda tak pernah lebih baik dari yang diatasnya? Padahal kan yang muda otomatis adalah hasil didikan yang lebih tua?” Ehmmmm ...saya terpikir akan sesuatu. “Waahhhh berarti generasi yang lebih tua salah mendidik yang lebih muda?” Teman saya langsung mendelik, “ Tidak bijak menyalahkan begitu. Sudahlah, kita anggap saja setiap generasi lahir di jaman seharusnya!” Ehhhmmm ..... okay dehhhhh ......