Kamis, 17 Desember 2009

Laki-Laki Biasa

Hari ini ulang tahun Bapak saya, laki-laki yang sebagian darahnya mengalir di tubuh saya. Sebagai salah satu anak perempuannya, saya selalu diidentifikasi oleh Ibu saya sebagai 'pendukung setia Bapak'. Hehheheehe ...saya akui Ibu saya tidak sepenuhnya salah dengan pernyataan itu. Tapi bukan berarti saya tidak pernah berada di pihaknya. Saya cuma berusaha untuk seimbang terhadap mereka berdua, sebab kedua kakak biasanya lebih condong ke Ibu. Jadi kalaupun sampai diperlukan voting, dengan atau tanpa suara saya Bapak saya sudah kalah. Saya cuma berfungsi untuk memperkecil jarak skor saja.... hehehhehee ....

Bapak. Begitu saya selalu memanggil laki-laki biasa itu. Dan sebagai anak bungsunya, saya punya banyak ingatan tentang dia. Dan ingatan-ingatan itulah yang membuatnya lebih dari sekedar laki-laki biasa di mata saya.

Setiap orang tua pasti mengajarkan banyak hal pada anaknya. Dan pelajaran tentang rasa keadilan paling besar saya dapatkan dari dia. Dia mengajarkan pada saya rasa keadilan seorang manusia biasa. Dan dia tak pernah mungkir ketika saya memprotesnya lantaran menganggapnya telah menyalahi apa yang telah diajarkannya pada saya. Tidak mungkir, tidak juga berdalih. Pada saat seperti itu saya boleh menunjuknya sebagai yang bersalah, tak peduli dia adalah bapak saya. Pelajaran tentang kesetaraan :)

Ibu saya pernah bilang, sayalah anak yang paling dia sayang. Tapi jujur saya tidak pernah sepakat dengan hal ini karena saya lihat dia membagi sayangnya rata pada kami bertiga, anak-anaknya. Kalau dia menyayangi saya tentu dia tidak memaksa saya mengenakan sepatu olah raga bekas kakak .... Saya ingat kejadian itu. Sepatu olah raga saya rusak. Sedangkan ada satu acara olah raga se-Kecamatan, yang entah untuk peringatan hari apa saya lupa, mengharuskan pesertanya mengenakan sepatu olah raga warna putih. Sepatu punya saya rusak dan kalaupun bisa dipakai warnanya hitam. Jadi melaporlah saya pada Bapak. Dengan enteng Bapak saya bilang pakailah yang ada karena belum ada uang untuk membeli sepatu baru. Saya bilang adanya sepatu bekas kakak saya yang ukurannya 2 nomer di atas kaki saya. Jawabnya, masih dengan enteng,"berarti cukup kan dipakai? Ayolah, jangan membuat Bapak susah cuma karena tak punya uang untuk membelikanmu sepatu baru". Ehmmmmmmm..... jadilah saya mengenakan sepatu kebesaran yang talinya diikat erat-erat agar bisa tetap bertahan di kaki ketika saya berlari. Dan ternyata setelahnya saya jadi betah memakai sepatu kebesaran. Sampai sekarang setiap kali membeli sepatu kets, saya selalu mengambil ukuran mnimal satu nomor di atas ukuran normal saya :)

Ehmmmm ..... rasanya Bapak saya juga orang yang pertama menghargai kegemaran saya menulis. Waktu itu saya masih kelas 5 SD. Guru menyuruh saya membuat karangan dua ribu kata yang ceritanya tentang sebuah desa. Saya buatlah karangan itu, mengalir begitu saja. Ternyata karangan itu membuat saya menjadi juara kedua lomba mengarang tingkat SD sekecamatan. Tanpa memahami makna dari predikat itu, saya memberitakan pada Bapak. Dan dia terbeliak lalu bilang "waahhhh ..berarti besok-besok kamu bisa jadi penulis terkenal. Penulis itu bisa hebat loh .... sama hebatnya dengan dokter dan insinyur". Kata-kata itu tidak berarti banyak bagi saya karena lagi-lagi saya tidak terlalu memahaminya. lalu saya bilang bahwa menurut guru saya harus bertanding di tingkat Kabupaten. Wajahnya sumringah. Pada hari H, dia mengantarkan saya ke lokasi. Dan betapa kecewanya dia ketika ternyata guru saya salah informasi. Ternyata hanya juara pertama saja yang harus bertanding di tingkat Kabupaten. Bapak saya nggondok berat, merasa anaknya didiskrimasikan. Sedangkan saya, ehmmmmmm .... belum juga paham arti semua itu .... hehehhheeheh .... Tapi syukur walau tak paham saya masih ingat ucapannya bahwa menjadi penulis sama hebatnya dengan menjadi dokter ataupun insinyur.

Di masa kuliah lagi-lagi Bapak memotivasi saya dengan caranya sendiri. Sebagai pegawai negeri biasa, membiayai tiga anak kuliah adalah beban yang lumayan beratnya. Tapi dia tetap mengirim kami semua untuk kuliah dengan wanti-wanti dilarang kuliah sambil bekerja. Dan alasannya adalah orang yang bekerja dan merasakan enaknya cari dan dapat duit akan cenderung menyepelekan masalah pendidikan. Saya sempat memprotes hal itu karena toh bayak orang yang kuliah sambil bekerja dan hasilnya beres-beres saja. Tapi keputusannya bulat, tanpa tawar-menawar. Jadilah uang gajinya habis dibagi antara kami bertiga dan membayar cicilan bank (karena setiap kali anaknya masuk kuliah, Bapak akan mengambil pinjaman untuk membayar uang gedung dsb). Saya tahu persis betapa susahnya hidup Bapak dan Ibu waktu itu. Dan sebenarnya kami bertiga pun kuliah dengan fasilitas yang tak berlebihan. Setiap awal bulan, Bapak mengharuskan kami bertiga pulang untuk mengambil uang jatah bulanan. Dan pada hari itu, di depan kami Bapak akan membeber uang gajinya yang sudah terpotong oleh cicilan bank, lalu membagikan kepada kami. Saat itu kami tak hanya tahu berapa rupiah yang kami dapat, tetapi juga jadi tahu berapa rupiah yang tersisa untuk Bapak dan Ibu di rumah. Rupiah yang tersisa di rumah tak pernah lebih banyak dari yang Bapak genggamkan ke tangan saya. Dan saya merasa berdosa, walaupun jumlah yang diberikannya tidak membuat saya kuliah dengan dukungan fasilitas yang sempurna. Malah di akhir bulan seringkali saya berhutang pada teman untuk membeli kertas gambar, atau mengganti menu makan dengan mie instant karena uang jatah harus terkuras untuk sebuah mata rapido. Rasa berdosa inilah yang membuat saya rela-rela saja menambah beban kredit per-semester cuma dengan satu tujuan : cepat lulus. Dan komentar Bapak waktu itu adalah : "jangan cuma cepat lulus tapi nilai ngepas!" Ehmmmmmm ....beruntung saya bisa lulus dalam 4 tahun dengan nilai yang cukup pula.

Gaji pertama.... ehmmmm.... saya ingat sekali betapa senangnya mendapat gaji pertama. Dengan gaji pertama, saya membelikan sehelai kemeja untuk Bapak. Warnanya putih dengan garis-garis vertikal biru tegas. Saya tahu Bapak senang. Tentu saja dada saya nyaris meledak karenanya. Tapi ternyata masih ada hal lain yang membuat dada saya pecah. Ternyata berbulan-bulan Bapak menyimpan kemeja hasil keringat pertama saya itu di tumpukan teratas bajunya, lengkap dengan plastik pembungkusnya, dan sesekali menengoknya seolah itu adalah harta berharga yang tak ternilai. Ahhhhhh.... waktu itu air mata saya turun satu-satu..... terlebih hal seperti ini pernah saya alami sebelumnya. Ketika itu dia berulangtahun, saya lupa yang keberapa. Saya kirimkan kartu ucapan untuknya, tapi isi dalam seluruhnya saya tulis pakai bahasa Inggris, walau saya tahu dia tidak mengerti bahasa Inggris. Waktu itu saya melakukannya karena terpikir dia tidak akan percaya jika membaca kalimat sanjungan saya. Jadi saya buatlah semua kalimat itu dalam bahasa yang dia tak mengerti. Dannnnnnnnnn berminggu kemudian ketika saya pulang, saya dapati ada kamus bahasa Inggris di dekat tempat tidurnya, dan kartu saya terselip di dalamnya. Lalu berbulan kemudian ketika saya pikir kartu itu sudah terbuang ternyata saya temukan kembali di dalam tas kerjanya ...... Dan sekarang, setiap kali menggenggamkan sedikit rupiah ke tangannya dan dari mulutnya keluar ucapan terima kasih, saat itulah saya merasa malu sekali. Kata itu tak pantas keluar dari mulutnya dan saya juga tak pantas menerimanya. Apa yang saya genggamkan ke tangannya hanyalah sekedar pembeli koran atau remeh temeh yang diinginkannya, sama sekali tak sebanding dengan tahun-tahun susahnya bersama Ibu berbuat sesuatu untuk saya......

Ahhh itulah Bapak saya. Manusia tak sempurna. Lelaki biasa. Tapi demi Allah saya beruntung menjadi salah satu anaknya.

Selamat ulang tahun, Bapak......

Rabu, 16 Desember 2009

Hari Ini Surabaya Banjir (Lagi)

Surabaya sore tadi mendung tebal lalu hujan lebat. Sebenarnya saya tidak terlalu memperhatikan berapa lama hujan turun. Berada dalam ruang kerja dengan horisontal blind dan membelakangi jendela membuat saya kurang peka dengan hal itu. Yang pasti ketika reda pun saya masih menunda pulang dengan memilih menunaikan sholat Magrib terlebih dahulu. Begitu keluar kantor, langit masih jingga, bagus sekali. Hati jadi ikut jingga ehhehehehe....

Tapi jingganya hati saya tak berlangsung lama. Ban angkot yang saya tumpangi mulai berkecipak dengan air. Sekitar 6 kilometer dari kantor, jingga di hati saya hilang sama sekali, berganti dengan resah. Cuma satu yang ada di dalam otak saya : BANJIR. Dan benar.... begitu berganti angkot, genangan air mulai tampak. Lalu lintas merambat. Makin ke arah daerah tempat tinggal saya genangan air makin tinggi dan lalu lintas makin lambat. Makin banyak sepeda motor digiring pengendaranya ke pinggir karena busi yang sudah basah dan knalpot kemasukan air. Doa semoga angkot yang saya tumpangi diberi kemampuan lebih untuk terus berjalan mulai memenuhi hati dan otak saya.

Surabaya..... ehmmmmm waktu kemarau panas bukan main. Tapi begitu musim penghujan tiba, hawa panas tak terhalau sepenuhnya dan masih berbonus banjir pula. Tapi itulah Surabaya adanya. Saya pernah begitu putus asa karena kipas angin yang saya pasang tak mampu membuat saya tidur dengan nyaman (seorang teman berkomentar "ya pasang AC donggggg..."). Tapi di lain waktu saya juga pernah dipaksa berjalan kaki dari kantor dalam genangan air rata-rata mencapai lutut saya. Waktu itu paling tinggi genangan airnya nyaris mencapai pinggang saya. Olala...... Dan begitu mencapai rumah, yang saya rasakan adalah lelah, dingin, dan lapar luar biasa.

Jadi, kalau diminta untuk memilih antara musim kemarau dan musim hujan untuk Surabaya, terus terang saya tidak punya jawaban. Keduanya punya konsekuensi masing-masing yang saya sama-sama pernah merasa tak nyaman.

Tempo hari saya menonton acara televisi yang mengurai masalah perubahan iklim. Dan salah satu bukti perubahan iklim adalah musim kemarau makin panjang, dan musim hujan makin pendek. Ehmmm lalu bagaimana dengan Surabaya? Akan lebih panaskah? Woooowww..... Dan bagaimana dengan banjirnya? Logika saya alam yang kian rusak akan membuat banjir makin tak terkendali. Jadi akan berapa tinggi lagi banjirnya? Akankah Surabaya akan jadi versi 'lain' dari Venesia? Jadi mungkin suatu saat nanti rumah di Surabaya menjadi berupa rumah panggung dan angkot akan berganti dengan perahu kota. Aiihhhhhh ......

Lalu apa yang harus saya lakukan untuk membantu memperbaiki kondisi Surabaya? Saya tak tahu persis jawaban jitu untuk pertanyaan ini. Yang pasti hal yang sudah saya lakukan adalah membayar tanggungan pajak saya (apakah ini akan masuk ke pos yang tujuannya memperbaiki Surabaya? entahlah), membuang sampah pada tempatnya (bukan di selokan atau sungai), dan menggunakan kendaraan umum kemana-mana agar tidak menambah kandungan emisi di udara (alasan sebenarnya belum kuat beli kendaraan pribadi kaliiiii..., ini komentar teman saya). Ehmmmm sedikit sekali ya yang sudah saya lakukan? Wah wah wah ....... tapi tetap saja saya tidak merasa cukup pantas mendapat bonus bajir!!!! Dan karena itu tadi sewaktu di angkot, di sela-sela doa, saya sempat berharap semoga suatu waktu Presiden SBY terjebak banjir pada saat ada acara penting di Surabaya. Lalu Pak Presiden marah dan Pemerintah Daerah jadi tak lagi menunda-nunda untuk bergiat menanggulangi masalah banjir ini. Sebab kadang perlu sentilan dari yang ada di atas untuk membuat sesuatu dikerjakan secara serius, tak melulu berkilah atas nama dana yang terbatas. Dannnnn saya berharap yang menyentil itu cukup yang ada di atas dalam artian yang kedudukannya maksimal setara dengan Presiden. Sebab kalau yang menyentil itu lebih tinggi lagi, yaitu yang berkuasa atas langit dan bumi widiiihhhhhhhhhhhhh betapa menakutkannya .....

Iya ga?

Senin, 30 November 2009

Rumah Idaman

Anda sudah punya rumah? Kalau jawabannya sudah, saya ucapkan selamat. Sedangkan kalau belum, ehmmmm mari terus berjuang bersama-sama, karena saya juga belum berhasil memilikinya :-)


Rumah. Katanya sih termasuk kebutuhan primer, karena merupakan tempat berlindung dari panas, hujan, dingin, mara bahaya, dsb. Sedangkan kalangan yang lain menganggapnya sebagai kebutuhan sekunder karena kebutuhan primernya sudah terlampaui jadi tinggal mencari rumah untuk investasi. Ehmmmmmm ....... Dan terus terang saya iri dengan kalangan yang kedua ini, karena sampai detik ini saya masih tinggal di kamar kos dengan daerah kekuasaan seluas 7,5 m2.


Sejatinya, dulu saya pernah membuat denah dan sketsa rumah idaman saya. Waktu itu saya baru saja melepas titel sebagai mahasiswa yang notabene penangangguran, berganti menjadi karyawan swasta. Saya buat denah dengan gaya apartemen kelas studio karena saya pikir kemampuan awal saya pastilah hanya rumah kecil. Sekarang setelah bertahun-tahun belum juga tercapai, saya tak tahu dimana desain tersebut saya simpan. Mungkin malah sudah terbuang hhahahahaaha......


Rumah. Ehmmmm .... tempo hari saya ikut seorang teman survei rumah. Teman saya ini termasuk dalam kategori kalangan kedua alias membeli rumah lebih untuk investasi. Jadi ikutlah saya keluar masuk rumah tipe menengah hingga atas. Hasilnya? Ehmmmm ....ya jelas ngilerlah saya! Hhahaahahahha ..... Ketika menjajal masuk ke rumah berharga hitungan milyar rupiah, saya berpikir perlukan saya bermimpi untuk sebuah rumah seperti ini, sementara yang 21 m2 saja belum tercapai? Tapi dasar saya pemimpi, maka bertambahlah mimpi saya .... hhahhaahhaa


Rumah...ahhhhh saya jadi ingat satu hal. Seorang teman sempat menuduh saya sok ketika saya bilang lebih ingin tinggal di apartemen daripada di landed house. Mereka bilang saya sok 'Friends'. Ehmmmmm ...sebenarnya bukan itu alasannya walau memang saya cukup gandrung dengan serial Hollywood itu. Saya lebih berpikir karena rasanya hampir tak ada jengkal tanah di Surabaya yang tidak terkena banjir. Kalaupun ada yang tidak kebanjiran tapi pasti rute menuju ke daerah tsb yang kebanjiran. Jadi rumahnya tidak banjir tapi tetap dikelilingi banjir. Pasti akan sama repotnya kan? Itulah Surabaya. Tidak bermaksud menjelekkan kota tempat saya mencari nafkah jika saya berkata demikian. Ini soal kenyataan. Jadi karena kenyataan itulah saya berpikir saatnya untuk digalakkan hunian masal vertikal seperti rumah susun, flat, apartemen, atau jenis yang lain. Memaksa membuat landed house cuma akan membabat tanah resapan air. Itupun masih ditambah dengan ketidakpedulian developer untuk membuat sistem pengaliran air yang baik. Kalau sistem pengaliran air saja tidak direncanakan dan dibuat secara baik, tentu tak bisa berharap banyak untuk masalah resapan air. Jadi menurut saya, dengan kondisi Surabaya yang makin lama makin tak lebih 'sehat' itu, pilihan tinggal di hunian masal vertikal sangat masuk akal. Paling tidak kalau banjir sampai setinggi satu meter, tinggal di lantai dua masih amanlah. Lantas seorang teman nyeletuk,” iya kalau banjir, kalau gempa bagaimana?” Nah lho ..... ya bangunannya harus dibuat yang aman buat gempa dong...... Teman yang nyeletuk tadi cuma geleng-geleng karena katanya banyak korupsi di proyek dengan cara mengurangi spesifikasi bangunan secara diam-diam. Ehhmmmmmm ...jadi bagaimana dong? Perlukah saya mengkandaskan cita-cita untuk tinggal di apartemen? Teman saya yang lagi-lagi menjawab. Katanya, yang penting nekad dulu beli, tak peduli berapapun uang di kantong. Sebab harga tanah dan rumah tak akan pernah turun kecuali ada bencana macam lumpur Lapindo. Jadi kesimpulannya, mau landed house ataupun apartemen, yang penting : BELI SEKARANG! Caranya? BERHUTANG! Ehmmmm ..... ya ya ya ...

Minggu, 16 Agustus 2009

Sol....

sol,
semalam diam-diam ku bertukar rindu tentangmu dengan selembar bulan yang terus angkuh merajuk
kubilang, semua rindu tak lagi alun dan lama terus menyembilu
lalu bulan mentertawakanku
katanya, darimana kucuri rindu semacam itu?
kujawab, dari embun-embun subuh,
dari nadiku,
dari hembus nafas pertamaku,
dariMu

sol,
ku tahu waktu yang harus kutunggu
karena waktulah yang menyertaimu
takdir

sol,
satu....

Minggu, 28 Juni 2009

Tulang Rusuk atau Tulang Punggung?

Perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Ehmmmm ...betapa itu begitu lazim digunakan baik dalam tuturan ilmiah maupun sebgai lirik lagu atau larik puisi. Yaaa.... perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Tulang rusuk. Saya tak hendak memperdebatkan ini. Saya cuma mau melihat satu titik realita.

Jaman membuat peran perempuan banyak berubah. Industrialisasi. Edukasi. Ekonomi. Teknologi. Emansipasi. Entah apa lagi. Yang pasti sekarang perempuan ada di hampir semua lini. Apa yang tidak bisa dilakukan perempuan? Sekarang, dalam kondisi seperti ini, pertanyan itu tadi bukanlah jenis yang gampang dijawab. Perempuan ada dimana-mana. Perempuan bisa mengerjakan semuanya, mulai jadi pelacur, buruh, bankir, top management, sampai presiden. Walau kadang masih dipandang sebelah mata, diragukan dan dicibir, tapi tetap saja apa yang dilakukan perempuan tak lagi bisa dianggap enteng. Dan harus diakui, laki-laki mulai terancam posisinya ...... hehhehe iya enggak sehhh ....?

Nah, setelah semuanya dilakukan perempuan, terus bagaimana? Adakah yang setuju kalau saya bilang si tulang rusuk itu telah bertransformasi menjadi tulang punggung? Tentu tidak semua mengalami transformasi itu. Banyak perempuan yang bekerja demi gengsi dan sekedar mengisi waktu luang. Tapi realitasnya, tak terhitung pula yang mengambil peran sebagai tulang punggung si penopang badan. Dan itu adalah sekumpulan nyawa yang disebut keluarga.

Salahkah fenomena ini? Salah transformasi itu? Ehmmm .... perlukah dipermasalahkan, sementara hidup memang harus dipertahankan? Salah atau tidak saya tidak tahu. Tapi terus terang saya tercenung ketika seorang laki-laki bercerita pada saya bahwa istrinya sedang ke Hongkong dan dia tetap tinggal di tanah air untuk mengurus anak-anak mereka. sudah dua tahun mereka hidup terpisah seperti itu dan komunikasi dijalin lewat telepon dan internet. Sebenarnya saya tergelitik untuk melontarkan pertanyaan kepada si bapak itu kenapa istrinya yang berangkat, kenapa bukan dia. Tapi saya tak sampai hati mengeluarkan pertanyaan itu pada yang bersangkutan. Teman saya yang lain memberi jawaban yang terdengar cukup 'membela'. Kata teman saya,"ya karena kesempatan yang sedang ada adalah kesempatan untuk istrinya." Ehmmmm begitu ya .... Saya jadi teringat para perempuan-perempuan bangsa saya yang menjadi buruh migran di berbagai belahan dunia. Mereka yang dijuluki pahlawan devisa. Mereka yang sering mengalami nasib naas di negeri orang. Mereka yang bisa menjadi obyekan petugas-petugas di bandara saat pulang. Ahhh .... rasanya saya jadi kurang rela dengan jawaban teman saya tadi. Tapi teman saya berargumentasi lagi. Katanya,"dalam satu keluarga pasti ada kesepakatan, nah kebetulan ini kesepakatannya adalah istrinya yang berangkat karena kesempatan untuk dia yang ada. Sedangkan si suami tinggal. Ingat, ada mulut-mulut yang harus diberi makan." Ehmmmm ...gitu ya ......

Ya, benar kata teman saya tadi. Bahwa ketika ada hidup yang harus dipertahankan dan ada mulut-mulut yang harus diberi makan maka transformasi dari tulang rusuk ke tulang punggung terjadi. Itulah realitas. Soal salah atau tidak, tak lagi cukup penting untuk dipermasalahkan. Sebab ada hal yang dirasa lebih penting untuk diurus dan diutamakan : hidup.

Dan adakah hidup yang membuat tulang rusuk bertransformasi menjadi tulang punggung?



Jumat, 22 Mei 2009

Kesehatan, Persahabatan, dan Umur

Tiga minggu penuh Allah SWT mengajarkan kepada saya tentang kesehatan, persahabatan, dan umur. Lewat seorang sahabat yang terbaring sakit Allah menunjuk.

Awalnya saya tak berprasangka ketika satu Sabtu pagi sahabat mengirim pesan singkat, kabar bahwa dia sedang dirawat di sebuah rumah sakit. Siang itu juga saya pergi menengoknya. Saya terkejut. Yang saya temui adalah tubuh kurus yang tak banyak daya. Padahal dia adalah seorang yang saya kenal sebagai pribadi yang aktif, supel, energik, dan cerdas bertahun lalu. Apa yang terjadi, tanya saya dengan air mata yang nyaris jatuh. Sahabat bilang, dia terlalu banyak aktifitas hingga urusan kesehatan agak terbengkalai, jadi levernya menjadi korban. Saya tercenung, teringat kecerewetan ibu saya saat mengingatkan untuk makan teratur. Kecerwetan yang biasanya saya pungkas dengan kalimat "iya...ngerti ..saya kan sudah bukan bayi yang tidak bisa urus diri sendiri ...." Pelajaran pertama.


Sepulang dari sana saya berpikir betapa mahalnya menjadi sakit. Betapa tak ada harganya uang ketika sakit menyerang, karena yang diperebutkan adalah nyawa. Lalu sahabat lain yang tinggal nun jauh disana tiba-tiba menelepon. Dan ide yang disampaikannya pada saya membuat saya berpikir betapa cerdasnya dia dan betapa bebalnya saya. Sahabat ini berinisiatif mengabarkan sakitnya sahabat kami ke sahabat-sahabat yang lain agar sama-sama berdoa dan membantu. Dengan bodoh saya bertanya "akankah mereka mau menyisihkan sebagian hasil keringat untuk membantu?" Dia menukas "percaya saya, pasti banyak yang peduli!" Ahhhh .... lihat hinanya saya ketika meragukan nurani sahabat-sahabat yang lain. Lalu kami mulai bergerilya, berkabar kepada banyak sahabat lewat SMS, Facebook, e-mail, chatting. Dan saya memang layak percaya pada sahabat saya. Tumpah ruah air mata saya ketika sahabat-sahabat merespon dengan sangat cepat kabar kami. Perhatian, doa, dan bantuan mengalir di luar prediksi saya. Dengan bukti respon seperti itu pikiran saya bahwa tak akan ada yang peduli terpatahkan sudah. Saya malu. Maafkan saya, sahabat-sahabat. Betapa saya nyaris tak ingat bahwa ada banyak hati nurani dalam diri sahabat-sahabat, tak peduli berapa lama tak bersua. Pelajaran kedua.

Lalu di depan mata saya, sahabat saya mengalami masa kritis. Tak ada yang bisa saya lakukan kecuali menangis dan ling lung. Dan betapa dalam ling lung itu saya lupa bagaimana memanjatkan doa. Saya cuma pintar mematung sambil terisak. lalu saya teringat sahabat-sahabat. Merekalah yang saya minta berdoa karena saya tak mampu. Beruntung hari itu saya tidak perlu menyaksikan yang lebih buruk. Lima hari kemudian kembali saya menengoknya. Dan rupanya tak ada daya yang tersisa dari sahabat saya. Saya tercenung menangisi kemudaannya. Betapa waktu begitu cepat berjalan, tanpa banyak jejak, tanpa banyak rasa pula. Kemarin-kemarin saya tidak menghitung umur. Tapi hari itu saya berhitung dengan miris. Tapi umur adalah rahasiaNya. Kita cuma tahu pertanda. Dan dalam pertanda itupun seringkali masih ada mukjizat kuasaNya. Saya berharapNya menimbang kemudaan sahabat saya. Tapi Dia menunjukkan lain. Sore ini sebuah pesan singkat membuat tangis saya pecah. Dia mengambilnya, di umur yang belum genap 34 tahun. Begitu pendek. Atau sudah cukup panjang menurutNya? Ahhh ..... itu kuasaNya. Pelajaran ketiga.

Life is too short. Katanya begitu. Mungkin benar, mungkin tidak. Panjang atau pendeknya relatif. Tapi dalam hidup ada banyak hal pastinya. Kesehatan. Persahabatan. Umur. Tiga minggu saya belajar itu. Dan dalam sedih itu saya mulai menyadari benang merah yang ditarikNya.

Minggu, 03 Mei 2009

diam

bukankah sudah kukatakan padamu berulang bahwa rasa selayak bongkah kapur barus, menghablur, menukar massa dengan kabut.
dan bukankah sudah kau pahami bahwa waktu adalah sesuatu yang menggerus ? membubukkan raksasa, membungkam ada

sementara yang kau punya hanyalah renik tak daya

rasa,
waktu

diam.



surabaya, 3 mei 2009 untuk sang hujan