Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 April 2010

Karena Aku Perempuan

Kalau bulan Pebruari bagi banyak orang identik dengan cinta dan merah muda, maka April hampir selalu mengingatkan saya pada perempuan. Bukan, bukan Kartini maksud saya, tapi perempuan dalam arti sebenarnya, tanpa nama. Perempuan kaum saya. Ehmmmm ... perempuan yang merupakan jenis kelamin lawan laki-laki. Ehmmmmmmmmm ........ Ini dia.....

Dulu di masa lalu, saya adalah perempuan yang memberontak terhadap keperempuanan saya..... Wehhh ngeri ya ...ahahahahah .... Sebenarnya tidak sehoror itulah. Cuma dulu saya merasa tidak cukup nyaman sebagai seorang perempuan. Entah kapan perasaan itu mulai ada. Yang pasti dari usia balita ada foto-foto yang menunjukkan saya lebih nyaman berkostum laki-laki, mirip dengan kakak saya. Tapi waktu itu saya masih belum menolak rok. Terus begitu lebih besar lagi .... saya pernyataan sikap : rok, no way! hhehheheehe.....

Tidak cuma dalam hal pakaian. Semakin besar saya semakin merasa hal-hal yang berbau perempuan itu mengganggu. Termasuk mengerjakan pekerjaan khas perempuan seperti memasak. Sumpah, saya selalu memilih mengepel seluruh rumah daripada menjadi asisten ibu di dapur. Satu hal yang waktu itu bagi saya cukup ekstrim adalah saya memilih mengambil tugas membersihkan genteng bersama kakak dan sepupu laki-laki saya ketimbang menuruti perintah ibu untuk mengiris bawang. Saya tidak pernah memanjangkan rambut. Saya pernah benci berjalan dengan kakak perempuan saya cuma gara-gara dia berjalan tak secepat yang saya inginkan. Waktu itu dalam hati saya mengumpat 'huh...dasar perempuan!' .....ahahahahahah. Saya juga selalu mencibir setiap kali melihat kakak perempuan saya dengan segala kecentilannya merawat wajah, kulit, ataupun rambutnya. Hal yang sebenarnya wajar-wajar saja saya anggap berlebihan dan tidak praktis. Saya juga sangat benci dengan kalimat-kalimat semisal "karena kamu perempuan, jadi .....". Atau "sebagai perempuan kamu harus ......". Bagi saya kalimat-kalimat semacam itu adalah kalimat diskriminatif! Apalagi bapak saya termasuk tipe orang tua yang tidak pernah membedakan antara anak laki-laki dan perempuannya. Malah ketika SMA saya pernah bersaing nilai dengan seorang teman laki-laki. Dan supporter setia saya tentu saja Bapak saya. Pernah suatu kali nilai saya kalah dari dia. Dan dengan maksud menghibur saya, ibu berkata."tak apa-apa kalah, kan kamu perempuan, jadi ya memang dia harusnya menang". Tentu hati saya mendidih karena 'keperempuanan' saya disenggol. Tapi sebelum saya sempat menyemburkan sesuatu Bapak saya sudah lebih dulu menukas,"Ini bukan masalah laki-laki perempuan! Ini persaingan, siapapun layak menang, tak peduli laki-laki atau perempuan. Ayo, kamu bisa balas semester depan!" Ehmmmmm ..... see, my dad is my biggest supporter.... ahhahahahaha.....

Masa kuliah praktis saya lalui dengan kadar 'keperempuanan' yang minim. Dengan kata lain, saya tidak pernah mengenakan rok. Celana jins, kemeja/kaos, dan sepatu kets adalah seragam saya. Karenanya selalu kebingungan jika ada acara pernikahan keluarga. Sebab saat itulah apa yang saya lakukan adalah sedapat mungkin menghindar..... Saya baru mengalah dan menyerah mengenakan rok ketika kakak perempuan saya menikah. Itupun dengan paksaan, bukan suka rela dan serta merta. Ohhh iya, saking tidak pernah melihat saya mengenakan pakaian perempuan, Ibu saya pernah pangling dan tidak mengenali ketika saya terpaksa karena diwajibkan mengenakan kebaya dan kain panjang di pernikahan seorang sepupu. Waktu itu ibu sempat melongo dan berujar,"Oalahhhh ini tadi anakku tohhhhhh ..." Hayyyyahhhhhhh ...... Dan ternyata yang panggling bukan hanyaperempuan yang melahirkan saya. Paman, bibi, dan sepupu yang lain pun sama melongonya .... wekssssssssssssss.....

Tapi itu semua dulu ..... Duluuuuuuuuuuu ....heehhehehehee ... sekarang saya merasa jauh lebih perempuan dari masa itu. Saya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dulu saya hindari. Saya sudah tak terlalu alergi dengan pekerjaan dapur. Walau sekarang tidak memasak tiap hari, tapi paling tidak saya pernah bertindak sebagai perempuan yang harus memasak ketika tinggal berdua saja dengan kakak laki-laki saya. Saya juga mulai merasakan nikmatnya pekerjaan khas perempuan : merajut dan menjahit. Saya juga sudah meninggalkan kostum yang dulu pernah mati-matian saya pertahankan : celana jins, dan menggantinya dengan rok. Rasanya? Ehmmmmm ...ternyata enak juga..... hehheheheeeeh....

Dan mungkin prestasi yang paling besar adalah bahwa saya tidak terlalu alergi lagi dengan kalimat 'kamukan perempuan....'. Saya sedikit lebih kalem menghadapi kalimat ini. Sedikitttttttttttt ....hehehhehheeh .... Mungkin karena saya melihat kebenaran dari kalimat tersebut dalam konteks-konteks tertentu. Misal, kalau dulu saya tidak terima jika ibu menegur karena cara duduk saya sembarangan, sekarang saya sepakat bahwa memang tak elok seorang perempuan duduk sembarangan. Demikian soal perilaku dan tutur kata lemah lembut. Walau saya belum bisa dan masih sangat jauh dari hal itu tapi saya sepakat. Karena apa? Ya karena itu baik untuk perempuan ..... Yaaaaaaaa....... karena aku perempuan .....

Sesepele itukah? Ehmmm .... mungkin juga tidak sebenarnya. Tapi saya ada pada pemikiran bahwa bukan 'kelamin' yang harus diubah, tapi pola pikir. Ibarat kata pepatah bahwa rumput tetangga lebih hijau, maka saya dulu berpikir betapa enaknya jadi laki-laki, panjang langkah, tak terikat banyak hal, tak ditimbuni macam-macam aturan masyarakat, dll. Tapi toh itu cuma rumput yang tampak lebih hijau. Sebab bagaimanapun menjadi diri sendiri lebih nyaman ...termasuk menjadi 'kelamin' sendiri ... Satu bukti, pada saat masih tomboy dulu, setiap kali melihat perempuan berrok dan tampak manis anggun saya toh kepikir untuk melakukan hal yang sama. Tapi karena waktu itu cap di badan adalah tomboy maka saya tak berani melakukannya, takut dikomentari banyak orang. Nah kan .....

Jadi, bagi yang sedang memprotes keperempuanannya sekarang, saya sarankan untuk berpikir ulang ...hehhehehee ..... Emansipasi? Ahhhh .... ketika emansipasi berarti menjadi 'laki-laki, ehmmm betapa tak eloknya dunia ini ....

Minggu, 28 Juni 2009

Tulang Rusuk atau Tulang Punggung?

Perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Ehmmmm ...betapa itu begitu lazim digunakan baik dalam tuturan ilmiah maupun sebgai lirik lagu atau larik puisi. Yaaa.... perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Tulang rusuk. Saya tak hendak memperdebatkan ini. Saya cuma mau melihat satu titik realita.

Jaman membuat peran perempuan banyak berubah. Industrialisasi. Edukasi. Ekonomi. Teknologi. Emansipasi. Entah apa lagi. Yang pasti sekarang perempuan ada di hampir semua lini. Apa yang tidak bisa dilakukan perempuan? Sekarang, dalam kondisi seperti ini, pertanyan itu tadi bukanlah jenis yang gampang dijawab. Perempuan ada dimana-mana. Perempuan bisa mengerjakan semuanya, mulai jadi pelacur, buruh, bankir, top management, sampai presiden. Walau kadang masih dipandang sebelah mata, diragukan dan dicibir, tapi tetap saja apa yang dilakukan perempuan tak lagi bisa dianggap enteng. Dan harus diakui, laki-laki mulai terancam posisinya ...... hehhehe iya enggak sehhh ....?

Nah, setelah semuanya dilakukan perempuan, terus bagaimana? Adakah yang setuju kalau saya bilang si tulang rusuk itu telah bertransformasi menjadi tulang punggung? Tentu tidak semua mengalami transformasi itu. Banyak perempuan yang bekerja demi gengsi dan sekedar mengisi waktu luang. Tapi realitasnya, tak terhitung pula yang mengambil peran sebagai tulang punggung si penopang badan. Dan itu adalah sekumpulan nyawa yang disebut keluarga.

Salahkah fenomena ini? Salah transformasi itu? Ehmmm .... perlukah dipermasalahkan, sementara hidup memang harus dipertahankan? Salah atau tidak saya tidak tahu. Tapi terus terang saya tercenung ketika seorang laki-laki bercerita pada saya bahwa istrinya sedang ke Hongkong dan dia tetap tinggal di tanah air untuk mengurus anak-anak mereka. sudah dua tahun mereka hidup terpisah seperti itu dan komunikasi dijalin lewat telepon dan internet. Sebenarnya saya tergelitik untuk melontarkan pertanyaan kepada si bapak itu kenapa istrinya yang berangkat, kenapa bukan dia. Tapi saya tak sampai hati mengeluarkan pertanyaan itu pada yang bersangkutan. Teman saya yang lain memberi jawaban yang terdengar cukup 'membela'. Kata teman saya,"ya karena kesempatan yang sedang ada adalah kesempatan untuk istrinya." Ehmmmm begitu ya .... Saya jadi teringat para perempuan-perempuan bangsa saya yang menjadi buruh migran di berbagai belahan dunia. Mereka yang dijuluki pahlawan devisa. Mereka yang sering mengalami nasib naas di negeri orang. Mereka yang bisa menjadi obyekan petugas-petugas di bandara saat pulang. Ahhh .... rasanya saya jadi kurang rela dengan jawaban teman saya tadi. Tapi teman saya berargumentasi lagi. Katanya,"dalam satu keluarga pasti ada kesepakatan, nah kebetulan ini kesepakatannya adalah istrinya yang berangkat karena kesempatan untuk dia yang ada. Sedangkan si suami tinggal. Ingat, ada mulut-mulut yang harus diberi makan." Ehmmmm ...gitu ya ......

Ya, benar kata teman saya tadi. Bahwa ketika ada hidup yang harus dipertahankan dan ada mulut-mulut yang harus diberi makan maka transformasi dari tulang rusuk ke tulang punggung terjadi. Itulah realitas. Soal salah atau tidak, tak lagi cukup penting untuk dipermasalahkan. Sebab ada hal yang dirasa lebih penting untuk diurus dan diutamakan : hidup.

Dan adakah hidup yang membuat tulang rusuk bertransformasi menjadi tulang punggung?



Minggu, 01 Maret 2009

Ibu Saya

Hari ini ibu saya berulang-tahun. Dan saya baru meneleponnya untuk mengucapkan selamat ulang tahun sekitar setengah lima sore tadi. Tanpa kado dan kehadiran pula, cuma suara. Dan doa tentu saja. Dari suaranya saya tahu dia senang, walau mungkin juga berpikir saya terlambat. Lalu beliau bercerita dengan nada riang tentang cucu-cucunya yang menelepon tadi pagi. Saya merasa bersalah, merasa menjadi anak yang tidak cukup baik.

Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Konon dulu pernah bekerja kantoran tapi kemudian berhenti ketika memutuskan menikah dengan bapak saya. Jadi, yang ada dalam benak saya dari kecil hingga sekarang adalah bahwa ibu yang bukan perempuan berseragam, tanpa riasan wajah rapi, dan tanpa sepatu dan tas kantor. Ibu juga bukan perempuan yang sehari-hari duduk di depan meja, berkutat dengan komputer, dan sibuk memeriksa aneka berkas. Ibu saya jauh dari gambaran itu. Ibu saya adalah perempuan yang sehari-hari ada di rumah, membersihkannya, merawatnya, memasak, dan tetek bengek yang dengan bahasa sekarang diistilahkan sebagai berada dan berkutat dalam lingkungan domestik. Ibu adalah perempuan yang bergumul dengan panci, sapu, detergen, dan sesekali keluar untuk keperluan organisasi sederhana macam PKK dan Dharma Wanita.

Ibu saya juga bukan tipikal perempuan yang sibuk dengan urusan badan dan penampilan. Beliau tidak banyak memikirkan efek detergen pencuci baju dan piring untuk kulitnya. Beliau tidak menelan vitamin E dan mengoles anti aging untuk mencegah penuaan. Beliau juga tidak menjauh dari asap kompor karena takut kelembaban wajahnya rusak. Beliau tidak banyak berhitung tentang ostheoporosis ketika mengerjakan pekerjaan rumah, termasuk ketika menggendong kami bertiga. Padahal jujur saja di masa mudanya ibu saya adalah perempuan yang sungguh cantik. Bahkan beberapa teman saya sempat berkomentar " kok kamu tidak minta turunan cantik dari ibumu?"

Itulah ibu saya. Perempuan yang seumur hidup saya kenal sebagai perempuan yang begitu-begitu saja. Dan kepada perempuan yang 'begitu-begitu saja' itu saya diam-diam sering berkaca dan bertanya dalam hati tentang banyak hal. Sering saya berpikir, akankah saya seperti dia ketika telah berkeluarga nantinya? Akankah saya mampu mengerjakan semuanya sendirian seperti yang dia mampu melakukannya bertahun-tahun? Akankah saya mampu menjadi tempat pulang yang menyenangkan bagi keluarga saya? Akankah saya mampu menjadi sosok yang kepadanya anak-anak saya memberikan respeknya? Akankah saya mampu membuat masakan yang mengenyangkan sekaligus menyenangkan? Akankah saya mampu dengan sengaja mendahulukan kepentingan keluarga saya di atas kepentingan pribadi saya? Ehmmmmm ..... masih banyak hal berkecamuk dalam pikiran saya setiap kali saya ada di dekatnya. Dan setiap kali pula hati saya ciut, karena sadar betapa banyak hal yang saya lakukan dalam hidup saya sungguh berbeda dengan hal yang beliau lakukan dalam hidupnya. Rutinitas, pendidikan, cara pandang, pergaulan, cita-cita, ambisi, keinginan, ego, emosi, ........ sungguh berbeda. Dan saya merasa ngeri.

Semua mahfum dan percaya adanya bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan hanya milik Allah semata. Manusia ; meminjam istilah seorang teman; tidak ada seimpit-impitnya. Tapi terus terang ada kalanya saya tidak sepakat dengan hal ini. Karena saya melihat ada yang sempurna, paling tidak di mata saya : ibu saya.

Selamat ulang tahun, bu. Semoga panjang umur, sehat, dan rahmat Allah senantiasa bersamamu. Dan tolong selalu buka pintu maafmu untuk semua hal salah yang saya lakukan, karena nanti, besok, lusa, dan lain waktu pasti saya akan bersalah kepadamu.

You're perfect.

Senin, 08 Desember 2008

nama untuknya

Tidakkah kau ingin datang padaku saat waktu terasa seperti liang yang tahu-tahu melonggar? datanglah seperti itu, tanpa sejumput nafsu yang sangat mendesak untuk dituntaskan seperti selalu. Lalu mari duduk di terasku. Kan kuracikkan kau secangkir teh dengan kayu manis dan gula batu. Mau kupijit pula pundakmu?

Lalu, bisakah mulai kau pikirkan nama untukku? Sebuah nama yang tak perlu indah berima merdu. Yang penting ada artinya untukmu ...... juga untuk mereka.

Aaahhhh ...... lagi-lagi kau bilang tidak bisa sesederhana itu dan perlu waktu ........
Selalu!!!
Huh ...!



(untuk kaumku yang datang terlambat .....)

Jumat, 04 April 2008

Kartini

Bulan April bagi saya identik dengan hari Kartini. Jadi teringat ketika masa sekolah dulu. Pada masa itu tanggal 21 April adalah hari yang menakutkan bagi saya karena satu hal : harus berkebaya dan berkain panjang. Alhasil berhari-hari sebelumnya otak saya selalu sibuk bekerja untuk mendapatkan alasan paling jitu agar terhindar dari ritual berpakaian khusus pada hari itu. Waktu itu alasan saya menghindar cuma satu : berpakaian seperti itu merupakan bentuk siksaan fisik, walaupun cuma beberapa jam saja. Berlebihan? Memang ...hahhahaha ... maaf saya tidak bermaksud melecehkan jenis pakaian yang sudah jadi identitas nasional.

Sekarang masa itu telah lewat. Saya tak perlu lagi deg deg plas menghadapi tanggal keramat itu. Juga jadi berusaha melihat makna sebenarnya.


Jujur, Kartini bukanlah tokoh idola saya. Haji Agus Salim justru lebih mempesona saya dengan segala kesederhanaan, kepintaran, dan pemberontakannya. Saya selalu mengagumi bagaimana laki-laki kecil ini menolak pendidikan formal untuk anak-anaknya dan memilih memberikan pelajaran sendiri kepada mereka semua di rumah. Betapa laki-laki kecil nan cerdas ini sudah melakukan apa yang saat ini sedang tren yaitu home schooling, dengan alasan yang bagi saya sangat keren dan konon hasilnya juga kereeeeennnn ....

Kartini tidak keren? Hehheheeh .... Maaf saya tidak bermaksud seperti itu. Cuma saya baru akhir-akhir ini mengerti dengan apa yang ada di kepalanya saat itu. Betapa ilmu dan pendidikan memang sungguh sesuatu tak kasat mata yang bisa memperkaya manusia. Kartini yang terkungkung adat yang konon adi luhung itu merinduinya. Dan berharap bisa mengecapnya seperti mereka yang lain. Di jaman sekarang tentu keinginan seperti itu hanyalah biasa adanya. Toh sekarang sekolah sudah begitu banyak macam dan ragamnya termasuk tarifnya. Itu baru yang formal, belum termasuk yang informal. Mau sekolah untuk sekedar agar bisa berjalan zig zag dengan indahnya pun ada. Bahkan tempo hari seorang rekan saya memasukkan anaknya yang belum genap empat tahun ke sekolah modelling khusus untuk bocah. Bagi saya itu hal yang sangat 'dahsyat'. Apalagi tak lama setelah teman saya bercerita tentang anaknya yang sudah pintar berpose, saya membaca Laskar Pelangi tulisan Andrea Hirata. Ahhhh ...hati saya terasa mak nyussssss oleh dua realita yang seolah bumi dan langit itu. Saya jadi sibuk membayangkan si jenius Lintang dan mulai dengan cengeng menangisinya. Saya jadi menyesali tindakan mencontek, membolos, menakali guru, dan hal-hal lain yang biasanya saya ceritakan dengan nada bangga. Jika saya adalah Lintang, pasti dia tidak akan membuang waktu seperti itu. Kartini pasti juga tidak akan berlaku bodoh seperti saya. Dia pasti akan berlaku seperti Lintang yang terus berusaha mengisi sel-sel kelabunya dengan barang tak kasat mata itu.


Seperti inilah saya melihat seorang Kartini. Tak terlalu penting bagi saya apakah dia seorang feminis atau bukan. Saya juga tidak terlalu peduli tentang kata emansipasi yang begitu lekat dengannya. Bagi saya dia adalah perempuan hebat yang sangat sadar akan arti penting dari apa yang biasa disebut dengan ilmu dan pendidikan. Bayangkan betapa hebatnya sebuah bangsa jika semua perempuannya yang notabene adalah para ibu dan calon ibu punya kesadaran seperti itu. Tentu tak akan ada lagi pendidikan yang terlambat atau pun jenius-jenius yang terlantar seperti Lintang. Dan tentu saja yang dimaksud pendidikan adalah tidak melulu yang harus duduk tenang di bangku sekolah. Karena teladan yang baik pun satu bentuk pendidikan yang sangat sederhana.


Jadi, maafkan saya jika saya tak mengagumi dia sebagai seorang pejuang emansipasi perempuan. Sekali lagi maaf, karena ada agenda lain yang tak kalah besarnya daripada emansipasi perempuan .....


Terima kasih atas inspirasinya, Kartini ....


Minggu, 23 Maret 2008

Menjadi Perempuan Itu Enak !!!


Ternyata, lebih enak menjadi perempuan daripada laki-laki. Tidak percaya? Lihat saja sekitar kita, begitu banyak laki-laki merubah jati dirinya menjadi perempuan. Saya tidak bermaksud mengolok atau menghujat mereka dengan menulis hal ini. Sebenarnya malah dalam rangka bertanya, apa yang membuat mereka berpikir untuk menjadi perempuan? Padahal sebagai perempuan tulen (hehehehe ....) saya sempat iri terhadap laki-laki karena dalam banyak hal di mata saya mereka bisa berlaku lebih bebas. Misalnya, mereka bisa bepergian tengah malam dan sendirian tanpa takut digoda, dicap miring, ataupun diperkosa. Sementara sebagai perempuan saya harus berpikir seribu kali hanya untuk melakukan hal sederhana itu.


Tapi kenyataannya ternyata sebaliknya. Begitu banyak laki-laki yang merasa lebih nyaman dengan menjadi kemayu ala perempuan. Dan mereka beredar di sekitar kita dengan biasa. Bahkan di kota yang katanya metropolis seperti Jakarta, hal itu katanya dianggap sebagai salah satu gaya hidup. Lihat saja sejumlah selebriti yang berlaku serupa.


Ada juga yang bilang bahwa hal seperti itu karena tuntutan pekerjaan. Misalnya untuk para laki-laki yang bekerja di bidang kecantikan (perempuan), semisal desainer busana, penata rambut, dan penata rias. Belakangan saya lihat seorang presenter pun cenderung mulai bergaya feminin. Konon karena pekerjaan-pekerjaan tersebut mereka menjadi lebih feminin daripada seharusnya. Dan konon mereka juga berganti orientasi seksual. Terus terang alasan karena tuntutan pekerjaan kurang 'klik' di otak saya. Karena jika mereka memang bersusah-susah untuk membuat perempuan menjadi cantik lalu kenapa setelah menjadi cantik kok malah terus kehilangan selera untuk 'menikmatinya', sehingga perlu 'obyek' baru untuk menggantikan obyek yang sudah sempurna?


Ah apapun alasan mereka, tapi bagi saya itu satu bukti bahwa menjadi perempuan itu enak. Kalau tidak pasti para laki-laki jantan itu tidak akan tergoda untuk jadi feminin, kemayu, dan berlaku seperti perempuan kan? Pasti mereka mengiri pada kita yang bisa mengenakan berbagai macam model pakaian, dari rok, setengah rok, sampai celana. Rambut pun pendek atau panjang tidak masalah. Sepatu, mau hak tinggi seberapa tetap sah-sah saja. Mau nangis kapan saja pun dimaklumi. Mau manja-manja juga oke. Mau bertingkah tegar dan mandiri juga banyak yang suka. Pinter masak pasti akan banyak yang naksir. Tidak pintar memasak pun masih dianggap wajar dan modern. Mau jadi ibu rumah tangga banyak yang mengamini. Ngotot bekerja di luar rumah pun masih tetap ada yang mendukung. Nah kurang apalagi? Enak kan?


Dan soal bepergian malam-malam, akhirnya saya bisa mengambil sisi positif untuk tak lagi iri dengan laki-laki. Karena dengan larangan itu berarti saya pasti akan punya seseorang yang menemani dan menjaga saya jika harus melakukannya. Nah, masih tidak merugi juga kan? Makanya, memang enak kok jadi perempuan !

Minggu, 02 Desember 2007

perempuan ....

perempuan ..... katanya perempuan itu indah .... memang, perempuan memang indah. karena Dia selalu menciptakan makhlukNya, lengkap dengan keindahannya sendiri. karena itu, selayaknya setiap perempuan yakin bahwa dirinya indah, sama seperti makhluk lain yang ada di bumi dan tak perlu iri dengan para selebriti....... juga tak perlu terlalu bangga dengan keindahannya karena toh semua makhluk sudah punya jatah keindahan sendiri-sendiri .....

semua perempuan itu indah ...... tentu saja dengan caranya sendiri-sendiri ...... dan tetap indah tak peduli dia putih, legam, kuning, coklat, kurus, gemuk, langsing, pendek, tinggi, tanggung, keriting, lurus, pirang, hitam, mancung, pesek, sipit, atau apapun ..... karena indah adalah hal yang tak berstandard dengan jelas ....... dan lebih sering berhubungan dengan jiwa dan rasa yang sangat personal .....

perempuan diciptakanNya dengan indah ...... dengan formula paten yang tak ada tandingannya..... dengan rasa seni yang tak ada bandingannya .... dengan cinta yang dahsyat tiada duanya ...... jadi, layakkah kembali mempertanyakan keindahannya hanya karena warna, lemak, dan kosmetika?