Senin, 14 November 2011

PAK MUS DAN SEPAKBOLA

Namanya Pak Mus. Lengkapnya saya sudah lupa karena dulu seluruh keluarga saya selalu memanggilnya Pak Mus saja, tanpa pernah embel-embel lengkapnya. Saya masih ingat sosoknya yang gempal akibat seringnya mengangsu (menimba air sumur) dan mengangkutnya ke kamar mandi dan dapur rumahnya dengan kaleng kotak yang dipikul di bahunya. Sumur yang berada di bagian depan rumah orangtua saya berjarak sekitar 40 meter dari rumahnya sendiri. Kepalanya sepanjang ingatan saya selalu gundul walau tidak licin. Kulitnya coklat gelap dan pembawaannya cenderung gampang tertawa. Hal yang paling lekat di ingatan saya adalah celana komprang hitam yang selalu dikenakannya setiap kali menjalankan pekerjaannya di peternakan ayam milik orangtua saya. Waktu itu saya masih kanak-kanak dan seringkali dia menggoda saya selayaknya seorang paman menggoda keponakannya. Ya itulah Pak Mus.

Mengapa tiba-tba ingat Pak Mus? Ehmmmm .... ceritanya saat ini saya semakin gandrung dengan sepakbola Indonesia. Perlu saya tekankan 'Indonesia'-nya karena sebenarnya saya sepakbola sudah menarik bagi saya, tapi sepakbola dalam artian World Cup, Liga Spanyol, dan Liga Italia. Indonesia baru masuk ke 'wilayah' saya ketika euphoria AFF tempo hari. Saya waktu itu sunguh terpesona dengan Timnas 'hasil karya' Alfred Riedl yang di mata awam saya terlihat begitu berbeda dengan permainan di liga-liga Indonesia yang pernah saya tonton sekilas-sekilas. Saya jadi jatuh cinta dan jadi penggemar yang menunggu jam permaianan mereka. Saya juga jadi ikut bersorak dan mengepalkan tinju ketika permainan indah mereka tampilkan tak peduli itu membuahkan gol ataupun tidak. Saya juga menjadi penggemar yang ikut mengumpat ketika PSSI kisruh tak keruan dan didominasi muatan-muatan politis dan pertikaian antar kubu yang tak ada kaitannya dengan masalah Timnas sendiri. Saya juga menangis sangat sedih ketika akhir dari pertikaian panjang itu membuahkan Riedl dipecat dengan alasan yang tidak masuk akal. Saya juga jadi pengumpati pelatih sekarang ketika menonton Timnas senior bolak-balik dicukur oleh lawan-lawannya tanpa bisa memberikan perlawanan yang berarti. Nah sekarang ketika Sea Games berlangsung maka cabang olah raga yang paling menarik adalah sepokbola dan tentu saja saja menjadi supporter tim Garuda Muda yang sampai Minggu malam bermain dengan cantik dan berstrategi.

Nah nah, lalu apa hubungannya dengan Pak Mus? Ya, begini. Saya tinggal bertetangga dengan beliau pada awal tahun 80an. Pada masa itu desa kami di Ngawi adalah desa kecil dengan tanah yang pada saat kemarau berbutir-butir seperti beras hitam dan pada saat musim hujan jadi lengket hingga sandal jadi seperti bersol tebal. Saat itu belum banyak yang punya pesawat televisi di desa kami. Televisi kami pun hanya hitam putih. Tapi yang begitu tetap mampu membuat para tetangga berkumpul di ruang tamu . Dan ketika ada siaran pertandingan sepakbola (jaman itu rasanya yang disiarkan cuma sepakbola Indonesia) ada satu orang yang tak pernah absen, yaitu Pak Mus. Beliau pasti duduk di barisan terdepan serta dengan tekun dan ekspresif mengikuti jalannya pertandingan. Setelah pertandingan usai Pak Mus akan mengulas pertandingan tadi. Ibu saya yang bukan pecinta sepakbola pernah berkomentar, seburuk apapun jika itu masih bernama sepakbola maka Pak Mus akan tetap menonton dan menemukan kenikmatan di dalamnya. Dan benar saja, pernah suatu ketika semua orang menolak untuk menonton dan cuma beliau seorang diri yang tetap bertahan di depan televisi. Malah suatu ketika kami semua keluar rumah dan pada saat pulang saya melihat Pak Mus duduk di balai-balai terasnya dengan radio transistor kecil di tangannya, ramai mengumandangkan pertandingan sepakbola.

Ya, itulah Pak Mus yag saya kenal. Waktu itu bola bekel lebih menarik bagi saya jauh ketimbang sepakbola. Dan jujur baru-baru ini saja saya mulai bisa memahami kesenangannya. Saya tidak tahu apakah beliau masih hidup saat ini karena semenjak pindah dari desa itu 29 tahun yang lalu, saya tak banyak mendengar kabar tentang beliau. Mungkin jika masih hidup, beliau akan jadi kurang tidur karena sibuk menonton macam-macam liga yang nyaris setiap hari ada di televisi. Dan mungkin juga beliau sama seperti saya ikut menangis, bersorak, dan tertawa, larut dalam euphoria kebangkitan Tinmas Indonesia. Mungkin juga beliau ikut menyesalkan didepaknya Riedl, serta marah akan kekacauan PSSI dan membodohkan pelatih pengganti Riedl. Mungkin beliau membelikan cucunya kaus merah bertulis Gonzales, Bonai, Nasuha,Andik,atau Patrich. Mungkin minggu-minggu ini , seperti saya, beliau akan berteriak “Ayo, Indonesia bisa!”

Senin, 31 Oktober 2011

Buku dan Saya


Kalau ada dua hal yang nyaris selalu berhasil menyenangkan saya, maka keduanya adalah makanan enak dan buku. Yang pertama karena memang pada dasarnya saya doyan makan, doyan sembarang, dan cenderung tidak punya pantangan selain masalah halal haram. Sedangkan yang kedua, walau bukan termasuk kutu buku namun buku adalah teman baik yang menarik bagi saya, entah itu dalam bentuk benar-benar buku ataupun bentuk lain seperti majalah, koran, atau ebook.

Nah buku apa yang saya sukai? Ehmmm.... sebenarnya saya sudah tidak membuat batas apa yang saya baca, semua tema, semua model saya mau baca sepanjang menarik tentu saja. Nahhhh kriteria menarik inilah yang seringkali berubah-ubah. Sebuah buku menjadi menarik bagi saya kadang berdasarkan suasana hati dan keinginan. Ketika sedang semangat menggebu soal belajar marketing dan manajemen maka buku-buku itulah yang saya buru. Ketika sedang merasa butuh belajar komputer, maka jelas sudah target yang jadi obyek. Kalau sedang mood belajar merajut dan menjahit, maka saya rela-rela saja berhutang demi buku panduan. Dan ketika semangat beragama saya lagi tinggi, ehmmmmm .... tahulah buku model apa yang saya angkut pulang. Bahkan ketika sedang tidak mood pun saya masih bisa membawa pulang buku cuma dengan alasan desain kovernya menarik.... hehheehee .....Di luar semua itu, tema yang selalu menarik bagi saya adalah sastra. Untuk yang satu ini rasanya hampir tak ada pernah ada bosannya. Selalu ada yang menarik untuk diangkut pulang.

Nah kalau itu tadi adalah kegemaran membeli buku, sekarang bagaimana soal membaca. Eitttt...jangan salah...jangan menghubungkan kegemaran saya membeli buku dengan kegemaran membaca. Ehmmm keduanya agak sedikit kurang akur …. ahhahahahah ….. Begini, sungguh buku adalah barang yang sangat menarik bagi saya. Sering-sering saya menempatkannya di atas kebutuhan akan sandang. Tapiiiii soal membaca, maaf saya sering berhenti di tengah jalan alias tidak rajin … ahhahahaha …. Jadi jangan berpikir saya ada adalah makhluk kutu buku dengan kaca mata tebal dan cenderung serba tahu dan berwawasan luas karena seringnya membaca. No no no ….. I'm not that person. Entah sudah berapa buku yang saya beli karena berbagai alasan, saya baca, tapi kemudian saya tinggalkan sebelum seluruh halamannya tuntas. Dan ketidaktuntasan pun dengan alasan yang macam-macam. Saya pernah berhenti membaca terjemahan dari tulisan Franz Kafka lalu berhenti sebelum genap ke halaman lima belas karena terjemahan ke bahasa Indonesianya tak sesuai dengan selera saya. Jadi saya hampir yakin ada yang salah dengan si penterjemah, mungkin kemampuan bahasa asingnya cukup 'ngepres' alias setara dengan kemampuan bahasa Inggris saya … ahhahaha.... Lalu pernah pula saya berhenti membaca Ramayana. Padahal sungguh saya termasuk penggemar cerita wayang, terutama Mahabarata. Tapi Ramayana itu jadi terasa aneh di kepala saya karena susunan kalimatnya menurut saya tidak memenuhi nilai rasa.... pokoknya enggak kerenlah bagi saya. Ramayana jadi terasa wagu dan kikuk. So, saya singkirkan buku itu. Ada lagi beberapa buku yang saya hentikan membaca karena sudah lewat momentum mood-nya ..hahahahha … Memang alasan ini model yang konyol sekali. Yang begini biasanya buku soal software komputer. Awalnya saya membeli karena ingin bisa ini itu. Tapi di tengah jalan 'cuthel' karena tak cukup telaten belajar tanpa guru yang menerangkan. Terus ada juga buku-buku berbahasa Inggris yang walau belum bisa dibilang saya singkirkan, tapi faktanya sudah beberapa lama belum saya sentuh lagi. Padahal rata-rata saya membelinya dengan antusiasme yang luar biasa karena alasan tertentu, seperti merupakan cerita klasik yang filmnya saya sangat suka, atau buku how to yang saya pikir sangat berguna bagi pengembangan hobi saya, atau malah karena sang pengarang dicap sesat sehingga bukunya tak boleh masuk ke Indonesia. Nah nah nah …. ternyata alasan segala rupa itu terkalahkan oleh kenyataan bahwa kemampuan saya berbahasa Inggris yaaaaa masih segitu-segitu saja …. hahahahhaa ….. jujur saya sering nelangsa karena kenyataan ini … hiks ….

Lain lagi dengan buku yang bentuknya ebook. Wahhhh sungguh saya luar biasa senang ketika pertama kali mengenal yang namanya ebook. Saya rajin mengunduh ebook ini itu, beragam tema, beragam alasan. Mengunduh ebook menjadi semacam histeria. Tapiiiii ….. lagi-lagi histeria itu tak akur dengan fakta bahwa saya tak cukup betah membaca di depan monitor. Bagi saya membaca yang terenak adalah sambil tiduran, tak peduli itu adalah kebiasaan yang menurut dokter merusak kesehatan mata. Sooooo.... bisa ditebak ending-nya, entah berapa ebook yang belum saya jamah …. ehhhmmm....

Eh ngomong-ngomong, walaupun saya sadar diri betapa tidak sempurnanya saya dalam hal ber-buku, tapi tetap saja saya sibuk 'mengejar' ketika teman merekomendasikan judul ini itu layak dibaca. Ini malah saya baru selesai mengunduh dua ebook yang direkomendasikan oleh dua teman saya. Dan keduanya berbahasa Inggris. So, bagaimana kira-kira nasib keduanya? Hehehehehe … try to guess …..

Jumat, 30 September 2011

ROK MINI

Tempo hari bang Foke didemo oleh rakyatnya gara-gara pernyataannya soal rok mini. Si abang Gubernur kurang lebihnya bilang sebaiknya perempuan juga tidak menggunakan rok terlalu pendek untuk mencegah orang berpikiran jorok yang bisa berujung pada pemerkosaan, seperti pemerkosaan di angkot yang sedang marak. Alhasil didemolah beliau oleh perempuan-perempuan yang berpendapat bahwa masalahnya bukan di rok mini dan tak elok menyalahkan perempuan yang posisinya korban atas kejahatan seksual itu. Jadi pernyataan si abang dianggap melukai perasaan perempuan. Dan di televisi ketika wartawan meminta komentar dari bang Foke, yang keluar dari mulutnya hanyalah 'tidak ada komentar'.

Seingat saya kejadian soal rok mini ini bukan pertama kalinya. Dulu, entah tahun berapa saya pernah membaca sebuah iklan, kalau tidak salah semacam iklan layanan masyarakat. Ada gambar kaki perempuan berrok mini tanpa terlihat bagian kepalanya dan ada tulisan 'bagaimana angka pemerkosaan menurun kalau rok anda semakin semakin tinggi?'. Alhasil iklan yang tayang di koran nasional itu menuai tanggapan dan protes.

Ahhh ... rok mini, salah satu produk mode yang bisa dianggap sebagai ekspresi 'kebebasan' dan modernitas perempuan. Rok mini juga bisa dikatakan sebagai simbol pemberontakan perempuan. Dan dari jaman ke jaman rasanya sebagai produk mode, rok mini ini tak pernah lekang atau kekurangan penggemar. Makanya makin lama ya makin lazim saja. So, kalau memang makin lazim bukankah seharusnya untuk mata manusia pun rok mini bukan hal baru alias 'sego jangan' kalau orang Jawa Timuran bilang. Dan karena sudah jadi sesuatu yang lazim maka seharusnya logikanya rok mini yang dipakai perempuan tidak terlalu mudah membangkitkan 'kejorokan' di pikiran yang melihat. Toh banyak banget yang mengenakannya. Dari yang muda sampai yang nenek-nenek. Dari yang pekerja kantoran hingga yang bukan apa-apa. Dari yang model sempit sampai yang model lebar. Yang pakai pun ada yang mulus beneran, ada juga yang 'belang belonteng'. So, benar-benar suatu kelaziman …. Tapiiiiii apakah jalannya logika selalu sama dengan jalannya syahwat? Saya meragukan hal itu..... Lalu yang lain bilang, ya hak pribadi dong mau pakai baju apa, kan ini badan milik pribadi. Ehmmmm.... tambah ruwet dah....

Pernah ada suatu kejadian yang saya saksikan sendiri. Seorang perempuan berbaju seksi marah ketika gerombolan anak muda yang dilewati 'memandanginya'. Teman laki-laki yang ada disebelah saya cuma nyengir sambil berkomentar, “Lha bajunya begitu ...ya gemes dong yang lihat...” Nahhhh bukankah ini bukti bahwa logika bahwa berbaju apapun itu hak perempuan tidak sejalan dengan alur syahwat pemandangnya? Saya sempat bilang ke teman saya, “hak dia dong pakai baju apapun.” Teman saya menjawab, “ya hak mereka juga dong untuk melihat. Toh mata mereka sendiri. Dan kenyataannya cuma melihat.” Nah kan …..

Jujur saja saya bukan termasuk yang punya rasa percaya diri untuk memakai rok mini. Alasannya, yaaaa salah satu dan mungkin yang terbesar adalah ngerasa tidak seksi … ahhahahahaa ….. Badan saya jauh dari montok... cenderung kurus kering …. alias cenderung 'kutilang darat'. Mungkin itu sebabnya saya merasa gampang-gampang saja menerima perkataan bang Foke juga tulisan di iklan tadi. Saya tidak tersinggung, walau tidak pula lalu beroposisi dengan yang berdemo tadi. Yaaa rasanya wajar-wajar saja dan di telinga saya itu terdengar seperti 'hai, berusahalah menjaga dirimu sendiri'. Mungkin kurang lebih sama dengan kalau ada yang bilang 'jangan pakai perhiasan berlebihan, ntar malah dirampok lhoooo'. Nah, kalau maksudnya seperti itu, apakah lalu pernyataan dan iklan itu salah? Ehmmmm mungkin perlu permikiran lebih dalam lagi yaaaaaa.....

Saya tidak menyalahkan mereka yang berdemo lhoooo ….. Sumpahhhh ! Mungkin mereka benar pernyataan seperti itu memojokkan perempuan yang sebenarnya berposisi menjadi korban. Mungkin benar pernyataan itu kurang sensitif terhadap perempuan. Mungkin redaksionalnya perlu diubah sedikit biar terdengar di telinga bak nasehat dari seorang bijak bestari.

Eh tapi jangan dikira mereka yang pakai rok mini tidak berusaha menjaga keselamatannya lhooo …. coba lihat saja mbak-mbak yang suka melilitkan kain untuk menutupi rok mininya sebelum turun ke jalan. Banyak juga teman saya yang hanya mengenakan rok mini seragamnya di lingkungan kantor dan berganti dengan celana panjang ketika berangkat dari rumah dan jam kantor usai. Banyak juga yang langsung menambah legging hitam ketika jam wajib berrok mini lewat.

Sooooo mau pakai rok mini? Silahkan … enggak ada yang ngelarang kokkkkk … Tapi hati-hati yaaaaaa....

Sabtu, 20 Agustus 2011

ANAK SEKARANG

Saya sedang berjaga di warnet tempat saya mencari uang tambahan di luar gaji ketika dialog ini terjadi. Seorang anak seumuran kelas 6 SD menghampiri meja saya dengan kedua tangan di kantung celananya. “Mbak, saya mau ngeprint”, katanya. Saya tanyakan file mana yang perlu di-print. Katanya masih dengan kedua tangan di kantung, “ Ya nyarikan dulu di google, mbak. Temanya soal ...”. Dia tidak sempat menyelesaikan kalimat itu karena saya keburu memontong dengan judesnya, “Itu tugas sekolah! Ya kamu yang cari sendiri! Emang yang sekolah saya?!”. Kentara nyalinya ciut dengan jawaban saya itu. Lalu duduklah dia di depan komputer dan mulai mencari apa yang dia perlukan. Dasar anak sekarang, sungut saya dalam hati.

Lain waktu seorang gadis seumuran SMA mendatangi meja operator ketika saya sedang asyik browsing. Katanya,” Mbak, tolong kerjakan soal di CD ini. Terus nanti save lagi di CD yang ini.” Ehmmmm..... saya gampang sekali meradang dengan urusan semacam ini. Dengan tegas saya jawab, “Disini tidak melayani pengerjaan tugas sekolah. Jadi silahkan kerjakan sendiri!” Dia tidak menyerah dengan penolakan saya. “Wah Mbak, saya minta tolong deh. Saya lagi ulangan nih...ga ada waktu buat ngerjain tugas ginian. Saya perlu belajar. Jadi Mbak aja yang kerjain, ntar saya bayar kok.” Hadeeehhhhhhh ...... jengkelnya saya. “Lha kalau yang mengerjakan saya apa gunanya tugas itu? Tugas itu dibuat untuk melatih kemampuanmu. Jadi ya harus kamu sendiri yang kerjakan.” Saya menolak pekerjaan semacam itu dengan pertimbangan 'mulia' ehhhh kok ditawar dengan uang. Saya bersikukuh dengan keputusan tsb walau si gadis terus merengek. Untung sang ibu yang menyertainya mau mengerti alasan saya. Lagi-lagi saya bersungut-sungut, dasar anak sekarang!

Seorang teman kantor bercerita tentang perilaku anaknya yang dimintai tolong ke warung. Katanya jawaban si anak adalah “ya ntar aja Bu kalau saya mau”. Ahahhahahaha ..... Saya tertawa melihat wajah gemasnya. “Lha wong ibunya yang nyuruh kok jawabannya begitu.... Dasar anak sekarang! Mereka kurang mengerti sopan santun.” lanjutnya. Di lain waktu teman yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris meradang karena muridnya mengerjakan tugas yang diberikan dengan bantuan Google Translate. Lagi-lagi saya geli dan menggodanya dengan menyebut si murid cerdas dalam menggunakan kemajuan teknologi informasi. Jawaban teman saya, “Halah mereka mau enaknya saja! Bahkan hasil terjemahan yang tidak karuan itu tidak mereka baca ulang apalagi diperbaiki! Ahhh sebal saya! Anak sekarang tidak seperti jaman kita dulu!”

Ahhh sebenarnya keluhan tentang 'anak sekarang' selalu muncul dari mulut generasi yang lebih tua terhadap yang lebih muda. Dulu orang tua saya juga mengeluhkan perilaku 'anak sekarang', dan yang dimaksud disini adalah generasi saya. Sekarang saya mengeluhkan generasi di bawah saya. Jadi mungkin saja dulu generasi kakek nenek buyut mengeluhkan generasi kakek nenek. Dan mungkin juga generasi kakek nenek mengeluhkan generasi bapak ibu saya. Lhaaa kayak kereta api yang sambung menyambung dong keluahannya.... Dan kalau keluhan itu benar-benar sambung menyambung, apakah berarti generasi yang lebih muda tak pernah lebih baik dari generasi yang lebih tua? Entahlah ....

Jujur saya selalu heran dengan mereka-mereka yang lahir di era penjajahan dulu. Begitu banyak orang pandai lahir di jaman yang konon luar biasa susah itu. Dan di logika saya, pada masa itu jumlah balita kurang gizi tak terhitung. Tapi sebut saja Sukarno sebagai contoh yang brilian. Berapa bahasa asing yang dia kuasai, kita semua tahu pasti. Belum lagi konsep-konsep pemikirannya. Apakah yang begitu bisa lahir dari bayi yang kurang gizi? Contoh lain Agus Salim. Ahhh sungguh saya mengidolakan pahlawan yang satu ini lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya. Dan seperti Sukarno, dia juga menguasai berbagai bahasa asing. Walaupun dia lahir dari keluarga yang terpandang, tapi kondisi sebagai bangsa terjajah tentu tidak membuatnya berlimpah fasilitas ini itu dalam menuntut ilmu. Tapi lihat hasilnya. Sukarno dan Agus Salim cuma dua contoh dari kegemilangan generasi masa itu. Dan saya membandingkan satu unsur saja dari mereka dengan diri saya sendiri, yaitu kemampuan berbahasa asing. Boro-boro menguasai tujuh bahasa asing, bahasa Inggris saja saya masih belepotan dan sering 'mati gaya' di depan klien perusahaan. Kalaupun sampai sekarang saya masih saja pe-de menemui mereka karena rata-rata para buyer tersebut masih sanggup tersenyum 'mengerti', malah kadang membantu melengkapi kalimat saya. Dan kalau sudah begitu saya akan menimpali dengan ''yeahhhh that's what I mean...”

Itu tadi baru soal bahasa. Bagaiman dengan soal perilaku? Ehmmmmmm .... ibu saya pernah bercerita betapa dulu kakek menggemblengnya dengan aturan tata krama yang ketat. Ibu selalu berbahasa Jawa halus alias 'boso' terhadap kakek dan nenek. Ibu tidak pernah duduk mengangkat kaki. Tidak pernah juga duduk di atas kursi ketika yang lebih tua duduk di lantai. Selalu patuh dan tidak pernah ada cerita membantah apalagi beradu mulut dengan orang tua. Nah nah nah .... saya bercermin dan hasilnya betapa beda dengan diri saya...... Boro-boro patuh, bahkan berbantahan pun seringkali saya anggap sebagai 'kebebasan berpikir dan berpendapat'. Boro-boro berbahasa Jawa halus, wong kebisaan saya menggunakan bahasa Jawa yang standard pun dianggap ibu saya menyedihkan... hehehheeheheh....

Ketika membicarakan hal ini dengan seorang teman, dia sempat berkata, “masa' sih generasi muda tak pernah lebih baik dari yang diatasnya? Padahal kan yang muda otomatis adalah hasil didikan yang lebih tua?” Ehmmmm ...saya terpikir akan sesuatu. “Waahhhh berarti generasi yang lebih tua salah mendidik yang lebih muda?” Teman saya langsung mendelik, “ Tidak bijak menyalahkan begitu. Sudahlah, kita anggap saja setiap generasi lahir di jaman seharusnya!” Ehhhmmm ..... okay dehhhhh ......

Senin, 15 Agustus 2011

Kartu Lebaran

Sebentar lagi lebaran. Sudah mempersiapkan kartu lebaran untuk dikirimkan pada sanak saudara dan handai tolan yang jauh disana? Pasti banyak yang bakal menjawab pertanyaan tadi dengan “hari gini pakai kartu lebaran....?”. Heheheeh .... memang rasanya saat ini kartu lebaran tak lagi banyak digunakan. Paling tidak seingat saya sejak enam tahun terakhir tak pernah lagi mengirim atau menerima kartu lebaran. Gantinya ya apalagi kalau bukan SMS dan e-mail. Malah sering-sering pakai ucapan 'berjamaah' yaitu menumpang pada gambar atau foto bertulis selamat lebaran bla bla bla yang di-posting teman di Facebook dan di-tag ke banyak orang. Disitulah, bersama banyak orang, saya 'bermaaf-maafan'. Ahhhhh .....demikianlah era digital.....

Saya ingat sekali dulu ketika lebaran menjelang, bapak saya akan mencetak kartu lebaran untuk dikirimkan ke kerabat dan teman. Ini dilakukan karena kalau dihitung-hitung cukup banyak juga yang perlu dikirimi kartu lebaran. Jadi mencetak sendiri adalah pilihan yang selain untuk menghasilkan kartu ucapan dengan tampilan yang cukup formal, juga secara biaya lebih murah. Pada saat itu biasanya akan terjadi sedikit perdebatan pemilihan warna dan kalimat yang tertera di dalamnya, karena ini adalah kartu lebaran personal, dengan nama, alamat rumah, dan alamat kantor tertera di dalamnya. Lalu bapak saya membubuhkan tanda-tangan dan kami bergotong-royong menuliskan alamat dan menempelkan perangko di masing-masing amplop lalu membawanya ke Kantor Pos kira-kira dua minggu sebelum hari H. Dan ketika lebaran datang kami akan menerima kartu yang kurang lebih sejenis. Oh iya, dulu ibu saya seringkali mengukur seberapa 'ingat' kerabat dan teman kepada keluarga kami dengan melihat siapa saja yang mengirimkan kartu lebaran. Tentu yang memberikan tambahan ucapan yang lebih personal lagilah (seperti menanyakan keadaan keluarga kami) yang dianggap ibu paling 'ingat'. Tentu yang tidak mengirimkanlah yang paling tidak 'ingat'. Dan semakin sedikit kartu lebaran yang kami terima, maka artinya semakin sedikit pula yang 'ingat' kepada kami ...... demikian logika sederhananya ... ahhahahaha..... Oh iya, dulu ibu saya selalu memilih kartu lebaran dengan ukuran yang agak besar dengan gambar yang elegans serta kalimat sederhana yang santun untuk dikirimkan kepada seorang yang sangat dihormati. Menurut ibu saya, tidak cukup sopan mengirimkan kartu lebaran berupa kartu cetak kepada orang-orang seperti ini. Nah nah nah .... berkirim kartu lebaranpun menimbang soal adat kesopanan.

Saya sendiri mulai berkirim kartu lebaran ketika kuliah. Yang saya kirimi tentu saja teman-teman kuliah yang pada pulang kampung ke daerahnya masing-masing. Dan karena kantong saya cukup cekak, maka kartu lebaran yang murah meriahlah yang saya pilih ... hehheehehe .... asal bisa menghantarkan perhatian ke sahabat-sahabat. Nah berawal dari kantong yang cekak inilah, bersama beberapa teman, saya membuat jasa pembuatan kartu ucapan handmade. Sebenarnya awalnya tidak sengaja. Iseng-iseng saya membuat map dari karton tebal dan kertas sisa. Pada masa itu ketentuan di kampus bahwa konsep dan tugas gambar harus dikerjakan di atas kertas tebal, bukan kalkir. Konon ini untuk meminimalkan penjiplakan. Jadi setiap semester selalu saja kertas tebal warna-warni menjadi kebutuhan pokok. Karton tebal saya kombinasikan dengan kertas warna mencolok, jadinya lumayan manis. Dan melihat itu entah bagaimana tahu-tahu kami sudah mengumpulkan sisa-sisa kertas tugas lalu membuat desain kartu ucapan. Bahannya macam-macam dan karena semuanya sisa jadi tidak ada standar yang jelas. Malah kami cenderung menambahkan apapun yang tampak oleh mata sebagai elemen pemanis, seperti busa topi, ranting kering, bunga semak, karton bekas, rumput kering, dan lainnya. Pendek kata kami cuma beli lem dan tinta warna-warni saja. Lainnya barang sisa. Bahkan kalimatnya pun kami tulis dengan tulisan tangan biasa. Karena itulah oleh pembeli kartu kami dicap bergaya natural yang rustic .... ahhahahahaah.....

Itu dulu. Sekarang saya tak merasa perlu kartu lebaran lagi. Karena semua terasa sudah ada di 'genggaman' alias bisa digantikan oleh produk hasil perkembangan teknologi yang bernama handphone. Mau kirim ucapan selamat lebaran ya tinggal ketik SMS lalu kirim secara 'berjamaah' ke mereka. Jauh lebih sederhana dibandingkan keruwetan yang timbul ketika bapak saya berkirim kartu lebaran dulu. Tapi kalau dulu ketepatan sampai tergantung pada Kantor Pos, sekarang harus menggantungkan diri pada provider teleponnya. Sebab, berkirim ucapan dengan SMS sudah jadi hal yang sangat umum. Jadi bisa dibayangkan berapa juta manusia yang saling berkirim SMS pada saat yang bersamaan. Maka sering-sering macetlah si jalur karena kelebihan beban. Efeknya, si SMS kalau tidak tertunda dan bakal sampai berhari-hari setelahnya, ya hilang di 'jalan'.

Soal konten SMS, ehmmmm sangat beragam. Mulai dari yang 1000% serius hingga yang konyol-konyolan. Dari yang berbahasa asing, sampai yang berbahasa daerah. Dari yang polos tanpa gambar, hingga yang full berhias. Dari yang singkat padat jelas, hingga yang panjang bertele-tele. Mengenai konten ini saya pernah punya pengalaman agak lucu. Suatu saat saya membuat ucapan yang benar-benar saya karang sendiri dan mengirimkannya ke banyak teman. Lalu tahu-tahu saya menerima ucapan yang persis sama kalimat dan titik komanya dari teman saya. Iseng saya tanyakan, jawabannya “Iya tadi belum buat ucapan, eh sudah terima dari kamu. Bagus sih, jadi aku forward saja teman-temanku. Jadi balik ke kamu juga ya ...” Heehheheeheh .... untung ya saya tidak menarik royalti dari ucapan itu.

Oh iya, seperti yang saya bilang di awal tadi, SMS bukanlah satu-satunya pengganti kartu lebaran di era digital ini. Ada yang lebih praktis lagi, yaitu dengan memasang status ucapan selamat lebaran dan seterusnya di akun Facebook, Twitter, dan messenger. Alhasil tersebarlah ke mereka yang ada di list kita. Dan rasanya sah-sah saja, dalam artian bisa diterima dengan mahfum, tanpa berpikir kurang sopanlah, atau apalah. Malah bisa dipastikan akan ada saja yang ikut numpang di wall kita itu, dan jadilah ajang halal bihalal maya. O la la praktisnya..... Dan yang penting murah pula.

Nah, lebaran sebentar lagi. Dan seperti tahun-tahun yang lalu saya tidak menyiapkan kartu lebaran. Yang penting selama ada pulsa di handphone pasti amannnnnnnnn ....... Soal apakah benar-benar permintaan maaf itu keluar dari hati dan diterima dengan sepenuh hati pula, ehmmmmmm hanya Allah yang tahu......

Kamis, 11 Agustus 2011

ANTI AGING

Tempo hari saya rasakan satu bagian di kepala saya gatal sekali. Cuma ada satu penyebab gatal yang terpikir di benak saya, yaitu ketombe. Karena memang yang namanya ketombe jujur saja datang dan pergi dari kepala saya, karena ketidaksetiaan saya terhadap satu jenis shampo. Juga kebiasaan mengenakan kerudung pas ketika kepala masih kuyup sisa keramas. Nah nah nah ... berbekal persepsi itu keramaslah saya dengan shampo anti ketombe yang katanya paten dan memang saya pernah membuktikannya. Tapi kali ini tidak. Bagian itu tetap gatal kedati tadi saya sempat bershampo dua kali. Iseng-iseng mengacalah saya untuk melihat bagian tersebut. Daaannnnnn olalala .... ternyata ada uban disana! Tidak cuma satu, tapi lima dan bergerombol di area yang sama. Setelah tuntas mencabutinya satu persatu saya tercenung.

Uban, kata orang memang menyebabkan gatal. Dan identik dengan tua. Jujur saja, saya miris menjadi tua. Bukan tua seperti yang digembar-gemborkan oleh industri kosmetik dalam iklan televisi. Bukan, saya tidak memikirkan tua dalam artian muka berkeriput, mata berkantung, dan kulit yang bercorak. Saya memikirkan tentang tua yang sebenarnya, bukan sekedar tua yang mengarah pada 'bungkus' atau casing saja. Tua yang mengacu pada 'bungkus' dan 'casing' rasanya sudah diberikan solusinya oleh industri kecantikan dan kosmetika. Lihat saja berapa banyak iklan kosmetik yang mengusung jargon 'anti aging'. Coba hitung pula jumlah salon yang menawarkan perawatan ini itu untuk menghilangkan keriputlah, mengencangkan wajahlah, operasi plastiklah, dan tetek bengek lainnya yang berujung pada 'terlihat kembali muda'. Terlihat ..... saya selalu menggaris bawahi kata ini untuk semua cara dan formula itu. Lalu, jika wajah tetap kinclong kinyis kinyis ala bayi apakah berarti kita tak lagi menjadi tua?

Tua. Ehmmm sampai detik ketika menemukan uban di kepala, saya selalu berpikir saya tak cukup tua, walaupun juga tidak muda sekali. Sebenarnya itu cuma kalimat panjang untuk mengatakan bahwa saya percaya saya masih muda. Apalagi sayalah yang termuda dalam keluarga inti selama ini Tapi rasanya kepercayaan itu terpatahkan dengan bukti uban di kepala saya. Jika saya sudah beruban, lalu apa bedanya saya dengan bapak dan ibu saya yang kepalanya sudah putih rata? Ya ya ya memang sekarang baru ditemukan lima helai, tapi bukankah yang lima itu bukti bahwa ada proses yang sedang aktif berjalan?

Sebenarnya ini kedua kalinya saya merasa tua. Dulu ketika kakak perempuan saya melahirkan anaknya yang pertama, yang berarti keponkan pertama saya, saya tersadarkan oleh satu hal : generasi baru telah lahir tepat di bawah saya. Tapi waktu itu saya tidak tercenung karena toh yang saya hadapi masih berupa bayi tak berdaya yang menggemaskan. Tapi sekarang, ketika saya temukan uban itu, si generasi baru ini ternyata sudah menginjak bangku SMP dan tingginya pun sudah melampaui bahu saya. Ahhhh .... proses yang bernar-benar aktif bergerak.

Jadi intinya, saya cukup resah. Benar-benar bukan masalah takut keriput. Tapi takut menjadi tak berdaya. Saya mulai berhitung apa yang saya lakukan sekarang. Saya produktif bekerja. Saya juga sibuk berencana ini itu dan mulai merintisnya. Saya mengerahkan energi dengan satu pikiran ada waktu yang masih terasa luang dan panjang. Sering-sering saya berangkat tidur lewat tengah malam dengan kepala yang masih berputar akan apa yang harus dan akan dikerjakan esok. Sering-sering juga masih berandai-andai hal indah yang ingin saya lakukan. Saya hidup dengan semua itu. Dan rasanya itu bukti bahwa sebuah kemudaan walau hanya berupa harapan dan cita-cita.

Harapan dan cita-cita. Rasanya masa muda penuh dengan keduanya. Karena ya itu tadi, ada waktu di depan yang terasa panjang, walau sebenarnya belum tentu juga panjang. Beda dengan mereka yang sudah berumur tua. Apalagi yang diharapkan wong kita sudah tua, kalimat ini sering sekali saya dengar dalam pembicaraan orang tua saya dengan teman-teman seangkatannya. So, kalau sudah tua berarti tak punya harapan lagi? Atau tidak patut berharap? Karena ada waktu yang secara logika manusia cuma tinggal sejengkal? Mungkin kurang lebih seperti itu. Dan yang paling kentara adalah tak ada lagi kegiatan harian yang padat. Contoh nyata akan hal ini saya temuai di rumah setiap kali pulang kampung. Bapak saya yang dulu setiap hari berangkat ke kantor dan sering kali masih membawa pulang pekerjaannya dalam berbagai bentuk, kini adalah orang rumahan yang bisa bangun atau berangkat tidur seenaknya. Tak ada lagi target atau dead line kerja. Enakkah seperti itu? Entahlah. Kalau Bapak saya bilang sih, yaaaaa beginilah masa pensiun. Dan saya membandingkannya masa pensiun itu dengan ritme hidup saya sekarang. Ehmmmmm .....

Nah nah nah ..... tua. Kata seorang teman saya terlalu mendramatisir masalah penemuan uban. Ehmmmm ... mungkin juga dia benar. Tapi saya sudah kadung merasa gelisah dan jadi mulai menafsirkan ungkapan seorang filsuf Yunani 'berungtunglah mereka yang mati muda'. Mungkin memang berurntung karena paling tidak mati muda berarti mati tidak dalam kondisi tak bisa berharap dan bercita-cita lagi. Teman saya membantah. Katanya ya malah rugi besar, wong masih asyik-asyiknya produktif kok mati. Apalagi kalau matinya melalui proses panjang seperti sakit parah lama. Tambah tidak enak lagi, katanya, masih muda tapi tak produktif eh malah membebani yang lain. Ehmmmmmm ..... benar juga..... Lalu teman saya bilang, mungkin yang benar adalah 'beruntunglah mereka yang mati mendadak'. Kontan saya mendelik. Katanya, karena yang mati mendadak tak akan sempat berpikir ruwet-ruwet seperti saya.

So...... akhirnya saya pikir industri kecantikan telah salah membuat provokasi. Mereka sibuk mengompori konsumen terutama perempuan untuk melakukan perawatan anti aging pada mukanya. Tujuannya apalagi kalau tidak melawan proses tua. Tapi apa yang mengalami penuaan cuma muka saja? Tidak bukan? So seharusnya yang perlu diawetkan tidak cuma muka! Apa gunanya muka masih muda kinyis-kinyis tanpa keriput jika hati dan pikiran telah layu tanpa harapan? Untuk pernyataan ini paling tidak teman saya tadi membuat statement yang mati mendadaklah yang beruntung, setuju dengan saya .....

Selasa, 28 Juni 2011

Happy Cooking


Memasak ..... ehmmmmmm saya bukan termasuk yang pinter masak. Tapi termasuk yang menikmati proses memasak, dan tentu saja proses memakannya. Karena ketidakbisaan ini, saya pernah dicap berjenis kelamin 'laki-laki' oleh teman-teman kuliah saya. Gara-garanya dalam gank yang terdiri dari belasan orang dan hanya dua di antaranya perempuan, justru teman laki-lakilah yang paling jago masak. Alhasil setiap kali ada acara masak-masak, saya paling banter hanya bertugas untuk berbelanja. Itupun masih juga diprostes karena jarang menawar. Benar-benar kurang perempuan, komentar teman laki-laki saya. Sementara, seorang anggota gank yang laki-laki sungguh-sungguh lihai dalam hal seperti itu. Dia bisa menentukan bumbu dengan tepat dan menguleknya dengan 'lekoh'. Bisa memilih barang-barang dengan ketelitian khas ibu-ibu. Dan tentu saja fasih memegang segala macam alat dapur. Dengan rival yang seperti itu tentu saja saya tidak ada apa-apanya. Makanya saya waktu itu pasrah-pasrah saja dengan 'stempel' itu. Dan lebih memanfaatkannya sebagai alasan datang akhir saat semua masakan siap disantap ..... hahahhahahahaa...

Apakah saya benar-benar tidak bisa memasak? Ehmmmm ..... entahlah. Cuma jika dirunut secara genetika, ibu saya adalah seorang pemasak yang cukup handal. Ini dibuktikan dengan harum namanya di kalangan keluarga, tetangga, kantor bapak saya, dan PKK Dharma Wanita sekabupaten kota kami. Dan biasanya ketika ibu saya sibuk berkutat dengan semua itu dan meminta saya membantu, maka yang saya lakukan adalah membantu dalam arti yang sebenarnya : melakukan apa yg diperintahkan tanpa berpikir. Alhasil tidak ada transfer ilmu rasanya ..... ahhahahahaha .....

Nahhh sekarang ketika sudah hidup terpisah dari orang tua, seringkali saya kangen dengan masakan-masakan khas ibu saya. Dan kalau sudah bicara tentang cita rasa khas pastilah ke ujung duniapun tak akan bisa ditemukan yang sama. Itulah adanya. Saya bisa menemukan pepes udang di warung makan. Cuma tidak pernah saya temukan pepes udang ala ibu saya, kendatipun warnanya sama merahnya. Kalau sudah tak tahan mengidam, maka yang saya lakukan adalah berusaha membuatnya sendiri, sebisa saya .... Eittttt tidak cuma sebisa saya, tapi juga ada keterbatasan alat masak.

Alat masak ...ehmmmm ... tempo hari ketika sempat alat masak dasar cukup lengkap di kos saya. Artinya ada kompor gas lengkap dengan tabung gasnya, panci, cobek, dandang, dan wajan. Bukan milik saya pribadi, melainkan hasil patungan dengan teman-teman. Nah nah nah .... malapetaka datang ketika banyak teman karib saya pindah kos karena pindah kantor. Akhirnya kompor rusak dan tabung gas entah bagaimana kabarnya karena kosong dalam waktu yg panjang. Sementara teman-teman baru rata-rata membawa kompor dan alat-alat sendiri yang tentu saja digunakan secara pribadi. Awalnya saya anggap itu bukan masalah besar karena toh saya selalu membeli makanan di luar. Cuma akhirnya timbul juga keinginan untuk memakan 'makanan rumah'. Dan bingunglah saya karena yang saya punya hanya rice cooker kecil dan panci listrik.

Tapi benar kata orang bahwa ada kemauan ada jalan. Seorang teman yang nasibnya nyaris sama dengan saya; bertahun-tahun menghuni kos; meyakinkan saya bahwa kedua alat itu cukup untuk melakukan kegiatan memasak. Nah mulailah saya menfungsikan rice cooker tidak hanya untuk memasak nasi, tapi juga untuk membuat masakah yang berkuah. Problem solved! Saya jadi sering membuat bakso ayam, sup ceker yang menurut saya ehmmmmm syedapppppp .... (walau kadang keasinan ....ahahhahahaha). Urap sayur? Nasi liwet dengan lauk tercampur? Ahhh.... gampang :)

Bagaimana jika tidak pakai kuah alias seperti tumis-tumisan? Ehmmm jujur ini masih agak masalah karena walau bisa dikerjakan dengan menggunakan panci listrik tapi karena ukurannya cukup kecil maka agak menyulitkan juga. Jadi untuk tumis-tumisan saya cenderung membubuhkan air sedikit lebih banyak jadi rice cooker saya bisa tetap bekerja.

Oh ya, tempo hari saya benar-benar kepikiran dengan balado terong. Jadi browsing-lah saya di internet hingga dapat resepnya. Lalu karena saya belanja terlalu siang maka yang saya dapatkan terong bulat, bukan yang panjang. Ahhhh masih bernama terong kan? Saya juga membeli udang. Nah nah nah .... jangan dipikir saya memasak dua macam masakan ..... ehhehehhehhe tentu saja tidak. Bedasarkan alasan kepraktisan maka saya tumislah si udang dalam sambal balado dan saya masukkan si terong kemudian ..... hhohohoohohoh .... Apakah namanya masih balado terong? Dannnnnnnn soal penampilan ehmmmmm jangan dipikir penampilan masakan saya 'normal'. Dan jangan pula membandingkannya dengan peserta Master Chef....Malah saya pikir Chef Juna akan semaput melihat cara saya memasak .... ahhahahahahah

Ahhhh yaaaa.... saya nyaris lupa mengabarkan .... seorang kenalan teman saya bahkan mengaku berhasil menggoreng kerupuk dengan rice cooker lhooo ... nah nah nah .... see that i'm not alone? ahhahahaha....

Anyway .... happy cooking, everybody .....ingat ada kemauan ada jalan :)