Seorang teman sempat menjadi bahan olok-olok di kantor karena sebelum berangkat kerja dia harus mencuci baju terlebih dahulu. Baju siapa saja? Ya semua orang seisi rumah, jawabnya enteng. Seisi rumah berarti baju kotor kedua anaknya dan istrinya. Tak ada pembantu rumah tangga untuk mengerjakan hal itu, tanya saya. Jawabnya masih enteng, tidak ada. Alhasil seisi yang lain langsung menggoda dengan menyebutnya anggota ISTI alias Ikatan Suami Takut Istri. Dan yang mengatakan hal ini tidak cuma yang laki-laki, tapi juga yang berjenis kelamin perempuan; kecuali saya. Yang digoda cuma senyum-senyum saja. Saya jadi membayangkan seperti apa istrinya. Apakah tipikal pengomel? Atau tipikal penjajah? Pikiran saya terputus ketika satu jawaban keluar dari mulut teman yang digoda tersebut. Katanya, “Saya kan menghormati dia sebagai patner dalam hidup. Dia sudah membantu saya mencari nafkah untuk keluarga. Jadi menurut saya wajar-wajar saja saya membantunya mencuci baju atau pekerjaan rumah yang lainnya.” Apakah dengan jawaban tersebut lalu godaan menjadi selesai? Ohhhhh jangan salah, godaan masih berlanjut terus dan predikat anggota ISTI tetap disematkan kepadanya. Sedangkan reaksi teman saya itu juga tetap tenang-tenang, menghadapi ejekan yang kadang cenderung bernada cemooh dengan sangat santai dan humoris. Sedangkan saya? Ehmmmm ... saya langsung beringsut kembali ke meja saya dengan kepala berisi sesuatu.
Jujur saja, kalimat jawaban tadi baru pertama saya dengar keluar dari mulut seorang suami. Saya heran. Saya salut. Berapa banyak suami yang berpikiran seperti dia? Ehmmmmm .... apakah dia melakukannya karena penghasilan istrinya lebih besar daripada yang didapatnya? Ini yang saya tidak tahu dan tak berani untuk mencari tahu. Ahhhh ... saya jadi ingat, seorang teman laki-laki mengaku penghasilan istrinya lebih besar darinya. Dan saking penasaran saya korek-koreklah dirinya. Hasilnya, dia tidak mencuci baju, tidak bisa memasak, dan juga tidak membersihkan rumahnya. Pekerjaan rumah yang dilakukannya adalah ngemong anak dalam artian menjaga saja, tidak termasuk mengganti popok, menceboki, menyuapi, dan sejenisnya. Nah, apakah berarti masalah besar kecilnya penghasilan tidak berpengaruh?
Mungkin memang tidak berpengaruh. Sebab saya melihat bukti yang lain. Seorang teman kos pernah membuat saya takjub karena staminanya yang tinggi. Dia berangkat kerja sekitar pukul 06.30. Dan seringkali baru pulang sekitar pukul 20.30 atau malah lebih. Katanya produksi sedang peak season jadi lembur terus. Dan jangan salah, setelah sampai di rumah dia tak berleha-leha. Setelah makan malam dia langsung bekerja membuat jajanan untuk dititipkan di kantin pabrik esok hari. Dan jangan dikira pekerjaan membuat jajanan ini sederhana, karena saya lihat prosesnya cukup memakan waktu dan tenaga. Dia harus terlebih dahulu merebus bahannya, lalu memotong sesuai ukuran, lalu menggoreng, dan terakhir mengemasnya dalam plastik kecil-kecil sehingga jajanan itu bisa dijual dengan harga seribu perak perbungkus. Dan melihat caranya menutup plastik bungkus dengan membakar mulut plastik dengan lilin, saya langsung merasa pegal yang luar biasa. Dia mengerjakan semua itu hingga jauh malam. Kadang ketika terbangun dini hari saya melihat kamarnya setengah terbuka dan dia tidur bersender di tembok dengan lilin menyala di depannya. Iseng saya tanyakan berapa jam dia tidur dalam sehari. Jawabnya paling lama tiga jam. Dan dia masih bisa berdiri tegak. Saat itu saya langsung membenci suaminya. Karena saya lihat laki-laki itu hampir selalu pulang jauh lebih cepat dan saking cepatnya sering bisa tidur siang. Kalau memang sang suami luang waktunya kenapa pekerjaan membuat jajan tidak dialihkan pada sang suami saja? Toh materialnya sudah tersedia di kulkas sejak siang hari. Kalau memang pekerjaan bisa dibagi kenapa tidak dibagi? Takut rasa jajanannya berbeda? Ahhhh yang begitu mah bisa diatasi dengan takaran-takaran baku dan pembelajaran.
Ehmmmmm .... apakah dari dua kejadian yang saya sebutkan di atas berarti laki-laki cenderung enggan membantu mengerjakan pekerjaan rumah? Ehmmmmmm .... mungkin sebenarnya tidak juga. Toh di atas cuma dua kejadian saja, jadi tidak bisa dikatakan mewakili kan? Mungkin di luar sana semua pasangan di selain dua pasangan di atas semuanya bekerja sama soal pekerjaan rumah dengan indahnya .....
Jujur sebagai perempuan, kuping saya tentu akan 'semriwing' senang jika mendengar pasangan berbicara seperti teman yang saya sampaikan di paragraf pertama. Saya akan terharu ..... juga senang ..... juga bangga...... Ehmmmmmm juga bakal besar kepala dan berubah menjadi penjajah ga ya? hehheeehhehe ...... Semoga tidak ......
Ini tentang isi kepala. Isi kepala manusia biasa, perempuan. Mungkin akan campur aduk tak karuan, karena bukankah isi kepala banyak manusia memang begitu? Atau, adakah manusia teratur yang isi kepalanya rapi tertata dalam folder-folder dan nama file beraturan?
Mengenai Saya
Rabu, 26 Januari 2011
Selasa, 25 Januari 2011
not lost without you
I’m Not Lost Without You
see, I’m not lost without you
Just a little bit confuse,
unstable,
got hole in my head
not too deep, not too big,
but enough for making me incomplete
still it’s true I’m not lost
see, I’m still going on
even everybody says I’m getting slower
I just say this is life
real life
of me
see, I’m walking through this all
cause this is life
real life
of me
crying will be yesterday’s thing
as yesterday as smiling and laughing
it’s fair, right?
See, I’m not lost without you
incomplete for a while,
unstable for a while,
it’s all just human side of me
see, I’m going ….
see, I’m not lost without you
Just a little bit confuse,
unstable,
got hole in my head
not too deep, not too big,
but enough for making me incomplete
still it’s true I’m not lost
see, I’m still going on
even everybody says I’m getting slower
I just say this is life
real life
of me
see, I’m walking through this all
cause this is life
real life
of me
crying will be yesterday’s thing
as yesterday as smiling and laughing
it’s fair, right?
See, I’m not lost without you
incomplete for a while,
unstable for a while,
it’s all just human side of me
see, I’m going ….
Minggu, 26 Desember 2010
Novel Karya Saya
Tahu apa yang saya lakukan ketika orang lain merayakan Natal tahun ini? Ehmmmm ... saya mencoba menulis ulang draft novel yang pernah saya buat beberapa tahun yang lalu. Saya menulis novel? Hehhehe ...iya, i did it .... Malah sebenarnya saya pernah menulis novel; jika layak disebut begitu; sebanyak dua judul dan masing-masing sepanjang sekitar seratus halaman. Tidak menyangka ya? Sama, saya juga tidak menyangka ... ahahahhahaha.....
Sebenarnya saya senang menulis sejak dulu, sejak SD. Waktu itu jika teman-teman saya kesulitan di pelajaran mengarang, maka bagi saya pelajaran menyanyi lebih menyulitkan saya. Sangat menyulitkan malah .... Seorang teman pernah bertanya bagaimana saya bisa menulis kalimat-kalimat itu. Saya bilang saya cuma menulis apa yang ingin saya katakan. Lalu suatu saat seorang guru mengirim saya untuk ikut lomba mengarang sekecamatan. Dan saya keluar jadi juara kedua kalau tak salah.
Jadi apakah saya hebat soal tulis menulis? Ohhhhhhhhhhh nooooooooooooooooooo ..... jauhhhhhhhhhhhhhhhhh .... hheheheheheh .... Cuma tetap saja saya suka menulis cerita, sebagai rentetan kesukaan akan membaca cerita.
Nahhhhh ..... soal menulis novel begini ceritanya. Suatu hari sebuah cerpen saya dimuat oleh sebuah majalah wanita ibukota. Waktu itu sebenarnya maksudnya ikut sayembara menulis cerpen yang sedang diadakan oleh majalah tersebut. Tapi katanya cerpen saya layak dimuat walau tidak menang. Jadilah itu pertama kali saya melihat nama saya terpampang di sebuah media. Lalu apakah saya jadi lebih rajin menulis? Ehmmmmm tidak .... heehhhe ..... saya berangan-angan menjadi penulis tapi kenyataannya saya adalah seorang karyawan kantor yang berkutat mengurus ini itu dari jam delapan pagi sampai lima sore bahkan sering lebih. Jadi saya jauh dari produktif soal tulis menulis. Tapi kegiatan membaca jalan terus. Karena itu ketika muncul istilah sastra wangi di kancah sastra Indonesia saya ikut ngeh alias agak paham. Dan jujur mereka-mereka membuat saya latah ikut mencoba membuat novel. Dannnnnnnn baru saya rasakan betapa susahnya menulis panjang .......
Novel pertama jadi. Saya lupa berapa lama saya menulisnya. Awalnya waktu itu buat karena pengen ikut sayembara yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Ehmmmmm cita-cita yang tinggi .... karena waktu itu saya bermimpi untuk jadi the next Ayu Utami .... hahahahhahahaha ..... Tapi ternyata di akhir saya menyerah. Karena jumlah minimum halamannya belum tercapai sementara kepala saya sudah kering ..... hehhehehehehe .... Lalu saya edarkan draft novel itu ke beberapa teman kantor. Yaaaa ada sih yang bilang cukup bagus .... hehheheheheheh .... duh duh duhhhh .....
Lalu setelah jeda sekitar setahun saya mencoba lagi. Seingat saya motivasinya masih tetap, yaitu ikut sayembara Dewan Kesenian Jakarta. Waktu itu saya berpikir lebih realistis. Saya pasti jauh dari kualitas juara, tapi dengan ikut berpartisipasi paling tidak saya bisa membuat nama-nama terkenal yang bertindak sebagai juri itu lebih sibuk karena harus membaca satu novel tak berkualitas milik saya ... dan saya bisa sedikit sombong dengan mengaku novel saya pernah dibaca oleh si ini lhoooo .... hehhehehhe .... Tapi ujung-ujungnya saya urung mengirimkannya. Terlalu malu ......
Nah novel kedua inilah yang beberapa hari yang lalu menyusup ke kepala saya dan saya baca ulang. Ehmmmm ... saya kok jadi narsis dengan jatuh cinta pada bagian-bagian tertentu dari tulisan saya ya ..... hehehehehheeh ..... Maka berpikirlah saya untuk menulis ulang novel tersebut. Selanjutnya? Ehmmmm ... kita lihat saja nanti .....
Sebenarnya saya senang menulis sejak dulu, sejak SD. Waktu itu jika teman-teman saya kesulitan di pelajaran mengarang, maka bagi saya pelajaran menyanyi lebih menyulitkan saya. Sangat menyulitkan malah .... Seorang teman pernah bertanya bagaimana saya bisa menulis kalimat-kalimat itu. Saya bilang saya cuma menulis apa yang ingin saya katakan. Lalu suatu saat seorang guru mengirim saya untuk ikut lomba mengarang sekecamatan. Dan saya keluar jadi juara kedua kalau tak salah.
Jadi apakah saya hebat soal tulis menulis? Ohhhhhhhhhhh nooooooooooooooooooo ..... jauhhhhhhhhhhhhhhhhh .... hheheheheheh .... Cuma tetap saja saya suka menulis cerita, sebagai rentetan kesukaan akan membaca cerita.
Nahhhhh ..... soal menulis novel begini ceritanya. Suatu hari sebuah cerpen saya dimuat oleh sebuah majalah wanita ibukota. Waktu itu sebenarnya maksudnya ikut sayembara menulis cerpen yang sedang diadakan oleh majalah tersebut. Tapi katanya cerpen saya layak dimuat walau tidak menang. Jadilah itu pertama kali saya melihat nama saya terpampang di sebuah media. Lalu apakah saya jadi lebih rajin menulis? Ehmmmmm tidak .... heehhhe ..... saya berangan-angan menjadi penulis tapi kenyataannya saya adalah seorang karyawan kantor yang berkutat mengurus ini itu dari jam delapan pagi sampai lima sore bahkan sering lebih. Jadi saya jauh dari produktif soal tulis menulis. Tapi kegiatan membaca jalan terus. Karena itu ketika muncul istilah sastra wangi di kancah sastra Indonesia saya ikut ngeh alias agak paham. Dan jujur mereka-mereka membuat saya latah ikut mencoba membuat novel. Dannnnnnnn baru saya rasakan betapa susahnya menulis panjang .......
Novel pertama jadi. Saya lupa berapa lama saya menulisnya. Awalnya waktu itu buat karena pengen ikut sayembara yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Ehmmmmm cita-cita yang tinggi .... karena waktu itu saya bermimpi untuk jadi the next Ayu Utami .... hahahahhahahaha ..... Tapi ternyata di akhir saya menyerah. Karena jumlah minimum halamannya belum tercapai sementara kepala saya sudah kering ..... hehhehehehehe .... Lalu saya edarkan draft novel itu ke beberapa teman kantor. Yaaaa ada sih yang bilang cukup bagus .... hehheheheheheh .... duh duh duhhhh .....
Lalu setelah jeda sekitar setahun saya mencoba lagi. Seingat saya motivasinya masih tetap, yaitu ikut sayembara Dewan Kesenian Jakarta. Waktu itu saya berpikir lebih realistis. Saya pasti jauh dari kualitas juara, tapi dengan ikut berpartisipasi paling tidak saya bisa membuat nama-nama terkenal yang bertindak sebagai juri itu lebih sibuk karena harus membaca satu novel tak berkualitas milik saya ... dan saya bisa sedikit sombong dengan mengaku novel saya pernah dibaca oleh si ini lhoooo .... hehhehehhe .... Tapi ujung-ujungnya saya urung mengirimkannya. Terlalu malu ......
Nah novel kedua inilah yang beberapa hari yang lalu menyusup ke kepala saya dan saya baca ulang. Ehmmmm ... saya kok jadi narsis dengan jatuh cinta pada bagian-bagian tertentu dari tulisan saya ya ..... hehehehehheeh ..... Maka berpikirlah saya untuk menulis ulang novel tersebut. Selanjutnya? Ehmmmm ... kita lihat saja nanti .....
Senin, 08 November 2010
melancoly mood ......
jika kutemukan kau di ujung sana suatu hari nanti, kan kutanyakan padamu apa yang membuat waktu tertunda begitu lama, hingga seakan mengkelukan segala dan menunggu menjadi selamanya .....
kuharap jawabanmu adalah sekulum senyum yang boleh kusentuh dengan ujung telunjukku
kuadukan padamu bahwa detik dan menit adalah persekongkolan kental yang sangat enggan beranjak lalu... kaki mereka beku ... sementara aku meranggas getas dalam rindu ...
jika kau temukan aku di ujung sana suatu hari nanti, pertanyaan apa yang kau punya untukku?
kuharap jawabanmu adalah sekulum senyum yang boleh kusentuh dengan ujung telunjukku
kuadukan padamu bahwa detik dan menit adalah persekongkolan kental yang sangat enggan beranjak lalu... kaki mereka beku ... sementara aku meranggas getas dalam rindu ...
jika kau temukan aku di ujung sana suatu hari nanti, pertanyaan apa yang kau punya untukku?
Senin, 25 Oktober 2010
Sebuah Percakapan ....
Tempo hari saya sedang jalan-jalan sendiri di sebuah mal ketika tiba-tiba kuping saya menangkap sebuah pembicaraan. Pembicaraan antara ibu dan anak sebenarnya. Sang ibu yang rasanya sekitar pertengahan tigapuluhan dan sedang menggendong balita putih bersih. Sedangkan anaknya yang berjalan di sampingnya berusia sekitar sembilan atau sepuluh tahun. Kedua eh ketiga anak beranak itu tampilannya modis, dan terlihat dari kalangan mana berasal. Ehmmm ya, mal yang saya kunjungi itu memang terkenal sebagai mal yang masuk kelas atas di Surabaya. Jadi yang datang kesitu juga mestinya dari golongan kelas tsb. Ehmmmm kecuali saya barangkali ..... hehehheehe sebab saya datang bukan dengan maksud untuk mengeluarkan uang, tapi untuk menukarkan poin kartu kredit yang terkumpul akibat pembelanjaan yang dilakukan oleh teman saya. Nahhhh jelas kan maksud dan tujuan saya ke situ? Kalau buat mengeluarkan uang di situ sih ehmmmmmm rasanya saya malas .... sebab di tempat lain dengan nominal yang sama bisa dapat lebih banyak barang. Ada harga, ada kualitas. Demikian teman saya selalu berujar. Iya benar sih .... cuma saya males kalau kualitas itu diidentikkan selalu dengan merk terkenal. Saya kan berniat beli barangnya, bukan merknya ..... Begitcuuuuuuuu ..... Kata teman saya,"karena niat beli barangnya, atau tak cukup kuat bayarnya?" Ehmmmmm .... pertanyaan yang susah untuk dijawab .... ahahahahahaha...
Okay, balik ke masalah percakapan anak beranak tadi. Si ibu berkata pada anakknya seperti ini ,"Lihat itu yang ada kertas merah-merahnya! Kan ada tulisan 50%. Berarti itu Mama hanya akan bayar setengah dari harga barang sebenarnya. Murah kan? Nah, kita cari yang seperti itu." Ehmmmm...jelas kuping saya bereaksi karena kalimat itu dan sontak otak saya memberikan perintah untuk menoleh kepada mereka. Saya lihat si gadis kecil memandang ibunya lalu mengangguk mengerti dan mulai mengikuti ibunya menghampiri kapstok-kapstok baju perempuan. Sementara saya berjalan dengan setengah tercenung karena percakapan itu.
Ehmmm.... jujur saya sendiri heran kenapa tertarik dengan percakapan itu. Mungkin karena semasa kecil dulu tak pernah mempunyai percakapan semacam itu dengan ibu saya. Berapa banyak ibu-ibu yang mengajari anaknya seperti itu? Entahlah .... Perlukah seorang anak diajari seperti itu? Entahlah .... Saya tak sedang berbicara soal benar atau salah mengenai hal ini yang saya tak tahu. Cuma bagi saya rasanya percakapan seperti itu kontekstual. Sebab di kota seperti Surabaya, rasanya mal merupakan tempat rekreasi dengan rating tinggi. Saya yakin semua umur bisa ditemukan dalam sebuah mal. Coba lihat saja mulai dari bayi yang masih dalam kandungan, atau yang belum bisa berjalan, sampai mereka yang sudah renta, bisa ditemukan di mal. Bahkan saya pernah bertemu dengan mereka yang konon kurang sehat jiwanya di beberapa mal.
Nah kalau misal sedang rekreasi ke pantai dan seorang ayah mengajar berenang anaknya, maka kontekstual kan ketika seorang ibu yang sedang mengajak anaknya berjalan-jalan di mal mengajarkan cara berbelanja? Bukankah sebuah hal yang bijak jika seorang ibu mengajarkan cara berbelanja agar kelak si anak tidak konsumtif misalnya? Toh sebenarnya sama saja dengan ketika sedang bermain di taman seorang anak diajari naik sepeda atau main layang-layang? Iya kan? Ehmmm ..... sungguh saya jadi merindukan tanah lapang dengan pohon-pohon yang teduh, atau petak luas taman bermain, atau apalah dimana manusia bisa berkegiatan santai. Yaaaa semacam taman-taman kota yang biasanya terlihat di film-film Hollywood. Mungkin kalau banyak tempat seperti itu maka mal akan lebih lengang..... Bayangkan jika dalam sebuah kota semacam Surabaya terdapat sebuah taman seperti Central Park ... ehmmmmmm ... mimpi kali yeeeee .....
Okay, balik ke masalah percakapan anak beranak tadi. Si ibu berkata pada anakknya seperti ini ,"Lihat itu yang ada kertas merah-merahnya! Kan ada tulisan 50%. Berarti itu Mama hanya akan bayar setengah dari harga barang sebenarnya. Murah kan? Nah, kita cari yang seperti itu." Ehmmmm...jelas kuping saya bereaksi karena kalimat itu dan sontak otak saya memberikan perintah untuk menoleh kepada mereka. Saya lihat si gadis kecil memandang ibunya lalu mengangguk mengerti dan mulai mengikuti ibunya menghampiri kapstok-kapstok baju perempuan. Sementara saya berjalan dengan setengah tercenung karena percakapan itu.
Ehmmm.... jujur saya sendiri heran kenapa tertarik dengan percakapan itu. Mungkin karena semasa kecil dulu tak pernah mempunyai percakapan semacam itu dengan ibu saya. Berapa banyak ibu-ibu yang mengajari anaknya seperti itu? Entahlah .... Perlukah seorang anak diajari seperti itu? Entahlah .... Saya tak sedang berbicara soal benar atau salah mengenai hal ini yang saya tak tahu. Cuma bagi saya rasanya percakapan seperti itu kontekstual. Sebab di kota seperti Surabaya, rasanya mal merupakan tempat rekreasi dengan rating tinggi. Saya yakin semua umur bisa ditemukan dalam sebuah mal. Coba lihat saja mulai dari bayi yang masih dalam kandungan, atau yang belum bisa berjalan, sampai mereka yang sudah renta, bisa ditemukan di mal. Bahkan saya pernah bertemu dengan mereka yang konon kurang sehat jiwanya di beberapa mal.
Nah kalau misal sedang rekreasi ke pantai dan seorang ayah mengajar berenang anaknya, maka kontekstual kan ketika seorang ibu yang sedang mengajak anaknya berjalan-jalan di mal mengajarkan cara berbelanja? Bukankah sebuah hal yang bijak jika seorang ibu mengajarkan cara berbelanja agar kelak si anak tidak konsumtif misalnya? Toh sebenarnya sama saja dengan ketika sedang bermain di taman seorang anak diajari naik sepeda atau main layang-layang? Iya kan? Ehmmm ..... sungguh saya jadi merindukan tanah lapang dengan pohon-pohon yang teduh, atau petak luas taman bermain, atau apalah dimana manusia bisa berkegiatan santai. Yaaaa semacam taman-taman kota yang biasanya terlihat di film-film Hollywood. Mungkin kalau banyak tempat seperti itu maka mal akan lebih lengang..... Bayangkan jika dalam sebuah kota semacam Surabaya terdapat sebuah taman seperti Central Park ... ehmmmmmm ... mimpi kali yeeeee .....
Kamis, 21 Oktober 2010
Drakula, Vampir , Whatever ....

Vampir. Drakula. Ehmmmm .... saya jujur sangat tak suka dengan makhluk ini. Mungkin tak suka bukan kata yang tepat sebenarnya. tapi kata takut juga ga kalah tidak tepatnya. Sebab walau memang takut tapi rasanya tidak takut-takut amat. Awal takutnya karena dulu waktu SD awal-awal; sekitar kelas 3; pernah nonton film Indonesia yang lakonnya soal drakula. Kalau tidak salah judulnya Untung Ada Saya. Kalau tidak salah lhooooo ..... maafkan kalau saya salah. Nah di film tersebut tokoh drakulanya sebenarnya berkostum standard yaitu kemeja putih, dasi hitam kupu-kupu (kalau tidak salah), pantalon hitam, dan jubah hitam. Cuma entah mengapa saya ngeri dengan jubah hitam yang bagian leher dalamnya berwarna merah itu. Ditambah 'pupur mbeluk' dan taring di wajah .... ehmmmmm benar-benar kala itu berhari-hari tidur saya terganggu. Sejak itu saya mencanangkan satu hal : film tentang drakula adalah film yang tidak layak tonton!
Itu tadi ketika saya masih kecil. Sekarang drakula atau vampir ini tak lagi sangat menakutkan. Walaupun tetap tidak menjadi tema film favorit saya. Sekarang saya bisa menonton sang drakula dengan 'santai'. Eh tapi tidak juga, karena setiap menonton Bram Stroker's Dracula saya selalu siap dengan bantal di tangan dan harus dalam ruangan yang terang benderang. Sejauh ini rasanya cuma Bram stroker's Dracula yang masih agak menakutkan. Dan film ini pula satu-satunya film drakula yang saya cintai. Suasana gelap dan berkabut yang terus-menerus hampir di sepanjang film memang menakutkan saya. Tapi sungguh film itu indah sekali. Artistik. Jika diberikan pilihan Titanic atau film ini, maka saya tak akan berpikir panjang untuk memilih yang kedua.
Sejauh ini sepanjang ingatan saya cuma Bram Stroker's Darcula yang mampu menakuti saya. Tapi jika dibandingkan film Indonesia yang tonton di masa kecil itu, Bram Stroker's Fracula tak cukup menakutkan. Karena tidak memberikan efek 'tinggal' di benak saya. Kenapa? Ehmmm .... mungkin karena saya menonton keduanya di masa yang berbeda. Yang satu pas saya masih imut-imut, sedangkan yang satunya lagi pas saya sudah jadi 'amit-amit' ... hehehehehe .... Atau berarti orang kita lebih pintar daripada bule dalam hal menakut-nakuti? Atau saya tidak lagi merasa takut karena memang menolak dan tak pernah menonton film horor? Hhehhehehee .... sepertinya alasan ini yang sungguh tepat. Karena saya memang tak pernah mau menonton film horor. Wong bayar kok ditakut-takuti, dikaget-kagetin, ya maleslah ..... Itu prinsip saya ..... Paling banter film semacam Interview With The Vampire yang saya masih bersedia bayar. Yang lainnya ... ehmmmm no way!
Nahhhh akhir-akhir ini rasanya tema drakula alias vampir kembali jadi tren lagi. Buku dan film yang mengusung makhluk ini jadi booming sekali. Jujur saya heran karena ternyata sambutannya luar biasa juga. Mungkin cuma saya yang tidak terprovokasi ... Ya bagaimana lagi wong namanya juga enggak ngefans. Walau tidak membeli bukunya tapi saya ikut nonton filmnya kok..... Tapi yang gratisan alias hasil unduhan teman saya. Nahhhhh ceritanya nih teman saya mengunduh True Blood entah berapa episode. Saya langsung ikut menonton. Setelah beberapa menit keluarlah nada protes dari mulut saya, "Kok filmnya gelap-gelapan terus sih? Kalau tidak adegan malam hari, ya di ruang gelap.... ". Mata teman saya membola. Lalu dia jelaskan bahwa itu adalah film tentang manusia dan vampir yang hidup sebumi, sekota..... Halahhh pantas gelap semua ..... Dan saya tidak tahan lama-lama menontonnya. Bukan karena takut, cuma tidak cukup menarik saja bagi saya. Tak peduli apakah itu benar film populer di belahan bumi bule sana, yang pasti saya lebih memilih melakukan hal lain daripada menontonnya.
Kalau True Blood saya lihat satu episode dan tak lengkap, film hasil rekaan cerita Stephenie Meyer mungkin lebih beruntung. Karena saya menonton dua sekuelnya secara lengkap..... walau masih dari hasil unduhan alias tetap enggan membayar bioskop ...hiihihih ..... Dan tidak menakutkan. Malah membuat saya meringis tertawa. Kenapa? Ehmmm karena si Edward Cullen yang dari sononya pasti sudah putih nian itu terus diputihkan lagi wajahnya dengan riasan. Dan kalau begitu banyak kaum hawa histeris melihatnya, ehhh saya malah merasa geli melihat bule putih berbedak .... Sumpah, bule putih bedakan itulah kesan yang tertinggal di benak saya. Dan hampir selalu begitu. Dulu waktu menonton Interview With The Vampire, saya juga sempat tertawa karena disitu Tom Cruise dan Brad Pitt terlihat seperti dua orang dengan bedak berlebih di wajah masing-masing .... hehheheeh lha wong sudah putih kok masih bedakan tho mas...? hhhehehehhehhe....
Oh iya, tempo hari setelah menonton Edward Cullen, saya menulis soal bule berbedak lebih di status facebook saya .... Dan hasilnya seorang teman yang mengaku fans berat dari film itu langsung menyatakan protes ... hehehheheheh.... Ya maaflah yawww .. bukan penggemar drakula atau vampir nih ... So, nonton film yang lain saja yuk ..
Minggu, 19 September 2010
Lebaran :D
Lebaran. Ehmmmmm .... kalau dengar kata itu rasanya banyak hal terlintas di benak saya. Satu yang paling cepat muncul adalah mudik. Iya ga? Jujur sebenarnya saya agak-agak 'gimana' dengan tradisi yang satu ini. Saya sendiri juga melakukannya karena saya adalah penghuni kos. Jadi kalau tidak mudik waktu lebaran ehmmmmm bakal jadi satpam untuk rumah ibu kos. Dan jujur juga neh, bahwa saya selalu merasa tak nyaman begitu menemui begitu banyak manusia di terminal dengan segala macam bawaannya. Saya mesti berebut untuk bisa masuk ke dalam lebih dahulu dari orang lain demi sebuah kursi. Dan namanya juga rebutan, jadi pastilah ada insiden dorong-mendorong dan seringkali orang melakukan segala cara untuk jadi pemenang. Termasuk di dalamnya menyikut, mendorong, dan mendesak saya ... hehehheeheheh ..... Sialnya saya tidak punya badan yang cukup besar untuk membalasnya. Lagipula saya kok merasa tidak enak hati untuk membalas perlakuan itu. Bukannya sok baik hati, cuma tidak sudi memancing keributan di suasana yang dari sononya sudah ribut ini. Paling banter yang saya lakukan adalah melotot sambil protes.
Nah begitu sudah berhasil dapat kursi dan bis berjalan tak berarti perjalanan menjadi nyaman. Ada macet akibat jutaan manusia tumplek blek di jalan. Dan tidak semua dari mereka berhati-hati dan disiplin dalam berkendara dan memakai jalan raya. Ada mobil yang bergoyang dombret, mungkin sopirnya sedang lelah tapi tetap memaksakan diri karena perjalanan belum selesai. Ada pengendara motor yang tidak cuma mengajak banyak nyawa sekaligus, tapi juga berlagak seperti punya nyawa rangkap. Ada penumpang yang menyetop bis, memaksa naik kendati jelas seluruh kursi sudah terisi. Dan sialnya awak bisnya juga menerima karena itu berarti rupiah. Yang terakhir ini selalu membuat saya sangat-sangat jengkel. Tidak hanya pada awak bisnya tapi juga pada penumpangnya. Saya merasa awak bis tidak memperlakukan penumpang tsb dengan adil. Si penumpang membayar penuh, tapi tak mendapatkan kursi yang seharusnya menjadi haknya. Mereka harus berdiri atau duduk di atas box mesin yang pasti panas rasanya. Dan sebalnya si penumpang rela-rela saja. Pada mudik lebaran tahun ini saya mendapati seorang ibu yang memaksa naik dan rela berdiri di dalam bis Patas yang saya tumpangi. Dan sungguh saya sebal pada ibu itu karena dia membawa balita yang tentu saja tak akan kuat berdiri di dalam bis yang berjalan. Herannya si ibu tidak menggendong atau seharusnya paling tidak memegangi balita tsb. Saya yang semula berniat menampung si balita di kursi saya jadi sangat sebal dan menunda menolong si balita. Jahat ya? Maaf, tapi sungguh saya jengkel dengan perilaku si ibu. Saya menunda untuk memberi waktu si ibu dan awak bis sadar akan apa yang sudah dilakukannya. Sepertinya si kondektur menyadarinya, terbukti kemudian dia memberikan sebuah cushion agar si ibu bisa duduk di lantai bagian depan bis sambil memangku si balita. Tapi muka saya sudah kadung masam ..... hehehehehhhhe...
Pasti cerita saya di atas cuma sebagian kecil dari insiden waktu lebaran. Sebab masih ada bis ekonomi dan kereta api yang mengangkut penumpangnya dengan cara yang kurang manusiawi. Untung si penumpang lagi merasa butuh jadi terpaksa rela-rela saja diperlakukan seperti itu. Seorang teman dengan sabar berkata,”ya ini kan dalam rangka lebaran ....ya dinikmati saja deh.” Arggggg ..... apa hubungan lebaran dengan perlakuan kurang manusiawi coba?! Teman saya cuma senyum-senyum. Sebagai perantau yang tinggal di ibukota dan selalu mudik waktu lebaran dia mengaku menganggap segala tetek bengek itu sebagai seninya mudik lebaran. Dan dia mengaku bisa menikmatinya. Ehmmmmm ..... entahlah. Saya jadi curiga barangkali cuma saya yang menggerundel untuk masalah ini ....... Toh seorang teman kantor selesai mudik ke ibukota yang menjadi kampung halamannya terbukti dengan bangga menunjukkan kepada saya rekaman perjalanannya. Di ponselnya saya bisa melihat bagaimana istri dan tiga orang anaknya tidur di bangku dan lantai kereta ekonomi ..... Saya cuma bisa meneguk ludah ketika dia berkilah, “Ya mampunya naik itu, Mbak. Jadi ya dinikmati saja.”
Lebaran. Ehmmmmmm .... bagi saya waktunya makan enak di rumah orang tua. Dan semua yang disediakan oleh ibu saya terasa lebih enak karena dinikmati setelah sebulan berpuasa. Jadi lebaran adalah saat balas dendam .... hehehheehhee .... Jujur ini! Saya termasuk golongan orang-orang yang memakan apapun yang tampak saat lebaran. Beruntung ibu saya selalu memasak sesuatu yang istimewa saat lebaran, tidak saja untuk menjamu tamu yang datang, tapi juga untuk anaknya yang 'kelaparan' ini. Alhasil, saya bisa makan enak dari malam takbiran sampai sebelum balik ke kos...... alhamdulillah ..... Menunya bisa macam-macam, seperti opor, kare, gulai, sop buntut, rendang, ayam bakar, gurami bakar, bakso solo, bali, rawon ..... dan lain-lain .... Dan begitu kembali ke kos ada saja teman yang berkomentar, “ Wah pipimu berisi tuh...” hhheheeehhehe .......
Ahhhhhh lebaran ..... Kemarin seorang teman kantor yang lain mengeluh tak punya uang sementara tanggal gajian masih jauh. Ehmmmm .... katanya hal yang tidak disukainya pas lebaran adalah budaya konsumtifnya. Beli baju barulah. Belanja kue, minuman, dan makananlah. Seorang teman yang mendengar keluhannya menyanggah dengan bilang, “Ah kan cuma setahun sekali... tak apalah sekali-sekali konsumtif. Angpaonya anggap saja shodaqoh.” Yang disanggah tetap sedih mukanya ... hhehehehehe.... Ahhh saya jadi teringat satu hal. Angpao. Ehmmmm ini satu hal yang ditunggu-tunggu banyak anak Indonesia saat lebaran. Bahkan keponakan saya yang belum paham benar pecahan mata uang pun selalu kegirangan ketika mendapatkan angpao dari siapa saja. Dulu ketika masih sangat kecil begitu terima angpao dia akan selalu 'menyetorkannya' pada ibunya. Sekarang dia sudah punya dompet sendiri untuk menyumpannya. Dan lucunya ketika saya tanya berapa uang yang didapatnya, dia tidak bisa menjawab karena memang belum tahu soal uang. Paling-paling dia akan mengeluarkan uang-uang itu dan meminta si ibu untuk menghitungnya ... hheheheheehe ....
Lebaran , lebaran ..... ehmmmmm kayaknya lebaran dan liburan tak jauh beda ya .... dan memang itulah yang terjadi... paling tidak walau banyak orang mengeluh harus bekerja ekstra karena sang PRT yang biasanya bertindak sebagai asisten sedang pulang kampung, tapi lebaran tetap saja liburan buat saya. Sebenarnya sebelum libur dimulai saya berniat mengerjakan beberapa pekerjaan kantor selama libur lebaran dan sudah siap menggendong laptop saya ke kampung halaman. Tapiiiiiiiii ehehehehhe otak saya sulit sekali diajak bekerja sama waktu liburan .... apalagi ada keponakan-keponkan yang menyenangkan untuk diajak bergulat ..... Jadi ...ehehehehehe maaf .....
Lebaran ... lebaran .... ehmmmm .... minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin yaaaa.....
Nah begitu sudah berhasil dapat kursi dan bis berjalan tak berarti perjalanan menjadi nyaman. Ada macet akibat jutaan manusia tumplek blek di jalan. Dan tidak semua dari mereka berhati-hati dan disiplin dalam berkendara dan memakai jalan raya. Ada mobil yang bergoyang dombret, mungkin sopirnya sedang lelah tapi tetap memaksakan diri karena perjalanan belum selesai. Ada pengendara motor yang tidak cuma mengajak banyak nyawa sekaligus, tapi juga berlagak seperti punya nyawa rangkap. Ada penumpang yang menyetop bis, memaksa naik kendati jelas seluruh kursi sudah terisi. Dan sialnya awak bisnya juga menerima karena itu berarti rupiah. Yang terakhir ini selalu membuat saya sangat-sangat jengkel. Tidak hanya pada awak bisnya tapi juga pada penumpangnya. Saya merasa awak bis tidak memperlakukan penumpang tsb dengan adil. Si penumpang membayar penuh, tapi tak mendapatkan kursi yang seharusnya menjadi haknya. Mereka harus berdiri atau duduk di atas box mesin yang pasti panas rasanya. Dan sebalnya si penumpang rela-rela saja. Pada mudik lebaran tahun ini saya mendapati seorang ibu yang memaksa naik dan rela berdiri di dalam bis Patas yang saya tumpangi. Dan sungguh saya sebal pada ibu itu karena dia membawa balita yang tentu saja tak akan kuat berdiri di dalam bis yang berjalan. Herannya si ibu tidak menggendong atau seharusnya paling tidak memegangi balita tsb. Saya yang semula berniat menampung si balita di kursi saya jadi sangat sebal dan menunda menolong si balita. Jahat ya? Maaf, tapi sungguh saya jengkel dengan perilaku si ibu. Saya menunda untuk memberi waktu si ibu dan awak bis sadar akan apa yang sudah dilakukannya. Sepertinya si kondektur menyadarinya, terbukti kemudian dia memberikan sebuah cushion agar si ibu bisa duduk di lantai bagian depan bis sambil memangku si balita. Tapi muka saya sudah kadung masam ..... hehehehehhhhe...
Pasti cerita saya di atas cuma sebagian kecil dari insiden waktu lebaran. Sebab masih ada bis ekonomi dan kereta api yang mengangkut penumpangnya dengan cara yang kurang manusiawi. Untung si penumpang lagi merasa butuh jadi terpaksa rela-rela saja diperlakukan seperti itu. Seorang teman dengan sabar berkata,”ya ini kan dalam rangka lebaran ....ya dinikmati saja deh.” Arggggg ..... apa hubungan lebaran dengan perlakuan kurang manusiawi coba?! Teman saya cuma senyum-senyum. Sebagai perantau yang tinggal di ibukota dan selalu mudik waktu lebaran dia mengaku menganggap segala tetek bengek itu sebagai seninya mudik lebaran. Dan dia mengaku bisa menikmatinya. Ehmmmmm ..... entahlah. Saya jadi curiga barangkali cuma saya yang menggerundel untuk masalah ini ....... Toh seorang teman kantor selesai mudik ke ibukota yang menjadi kampung halamannya terbukti dengan bangga menunjukkan kepada saya rekaman perjalanannya. Di ponselnya saya bisa melihat bagaimana istri dan tiga orang anaknya tidur di bangku dan lantai kereta ekonomi ..... Saya cuma bisa meneguk ludah ketika dia berkilah, “Ya mampunya naik itu, Mbak. Jadi ya dinikmati saja.”
Lebaran. Ehmmmmmm .... bagi saya waktunya makan enak di rumah orang tua. Dan semua yang disediakan oleh ibu saya terasa lebih enak karena dinikmati setelah sebulan berpuasa. Jadi lebaran adalah saat balas dendam .... hehehheehhee .... Jujur ini! Saya termasuk golongan orang-orang yang memakan apapun yang tampak saat lebaran. Beruntung ibu saya selalu memasak sesuatu yang istimewa saat lebaran, tidak saja untuk menjamu tamu yang datang, tapi juga untuk anaknya yang 'kelaparan' ini. Alhasil, saya bisa makan enak dari malam takbiran sampai sebelum balik ke kos...... alhamdulillah ..... Menunya bisa macam-macam, seperti opor, kare, gulai, sop buntut, rendang, ayam bakar, gurami bakar, bakso solo, bali, rawon ..... dan lain-lain .... Dan begitu kembali ke kos ada saja teman yang berkomentar, “ Wah pipimu berisi tuh...” hhheheeehhehe .......
Ahhhhhh lebaran ..... Kemarin seorang teman kantor yang lain mengeluh tak punya uang sementara tanggal gajian masih jauh. Ehmmmm .... katanya hal yang tidak disukainya pas lebaran adalah budaya konsumtifnya. Beli baju barulah. Belanja kue, minuman, dan makananlah. Seorang teman yang mendengar keluhannya menyanggah dengan bilang, “Ah kan cuma setahun sekali... tak apalah sekali-sekali konsumtif. Angpaonya anggap saja shodaqoh.” Yang disanggah tetap sedih mukanya ... hhehehehehe.... Ahhh saya jadi teringat satu hal. Angpao. Ehmmmm ini satu hal yang ditunggu-tunggu banyak anak Indonesia saat lebaran. Bahkan keponakan saya yang belum paham benar pecahan mata uang pun selalu kegirangan ketika mendapatkan angpao dari siapa saja. Dulu ketika masih sangat kecil begitu terima angpao dia akan selalu 'menyetorkannya' pada ibunya. Sekarang dia sudah punya dompet sendiri untuk menyumpannya. Dan lucunya ketika saya tanya berapa uang yang didapatnya, dia tidak bisa menjawab karena memang belum tahu soal uang. Paling-paling dia akan mengeluarkan uang-uang itu dan meminta si ibu untuk menghitungnya ... hheheheheehe ....
Lebaran , lebaran ..... ehmmmmm kayaknya lebaran dan liburan tak jauh beda ya .... dan memang itulah yang terjadi... paling tidak walau banyak orang mengeluh harus bekerja ekstra karena sang PRT yang biasanya bertindak sebagai asisten sedang pulang kampung, tapi lebaran tetap saja liburan buat saya. Sebenarnya sebelum libur dimulai saya berniat mengerjakan beberapa pekerjaan kantor selama libur lebaran dan sudah siap menggendong laptop saya ke kampung halaman. Tapiiiiiiiii ehehehehhe otak saya sulit sekali diajak bekerja sama waktu liburan .... apalagi ada keponakan-keponkan yang menyenangkan untuk diajak bergulat ..... Jadi ...ehehehehehe maaf .....
Lebaran ... lebaran .... ehmmmm .... minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin yaaaa.....
Langganan:
Postingan (Atom)