Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010

Drakula, Vampir , Whatever ....


Vampir. Drakula. Ehmmmm .... saya jujur sangat tak suka dengan makhluk ini. Mungkin tak suka bukan kata yang tepat sebenarnya. tapi kata takut juga ga kalah tidak tepatnya. Sebab walau memang takut tapi rasanya tidak takut-takut amat. Awal takutnya karena dulu waktu SD awal-awal; sekitar kelas 3; pernah nonton film Indonesia yang lakonnya soal drakula. Kalau tidak salah judulnya Untung Ada Saya. Kalau tidak salah lhooooo ..... maafkan kalau saya salah. Nah di film tersebut tokoh drakulanya sebenarnya berkostum standard yaitu kemeja putih, dasi hitam kupu-kupu (kalau tidak salah), pantalon hitam, dan jubah hitam. Cuma entah mengapa saya ngeri dengan jubah hitam yang bagian leher dalamnya berwarna merah itu. Ditambah 'pupur mbeluk' dan taring di wajah .... ehmmmmm benar-benar kala itu berhari-hari tidur saya terganggu. Sejak itu saya mencanangkan satu hal : film tentang drakula adalah film yang tidak layak tonton!

Itu tadi ketika saya masih kecil. Sekarang drakula atau vampir ini tak lagi sangat menakutkan. Walaupun tetap tidak menjadi tema film favorit saya. Sekarang saya bisa menonton sang drakula dengan 'santai'. Eh tapi tidak juga, karena setiap menonton Bram Stroker's Dracula saya selalu siap dengan bantal di tangan dan harus dalam ruangan yang terang benderang. Sejauh ini rasanya cuma Bram stroker's Dracula yang masih agak menakutkan. Dan film ini pula satu-satunya film drakula yang saya cintai. Suasana gelap dan berkabut yang terus-menerus hampir di sepanjang film memang menakutkan saya. Tapi sungguh film itu indah sekali. Artistik. Jika diberikan pilihan Titanic atau film ini, maka saya tak akan berpikir panjang untuk memilih yang kedua.

Sejauh ini sepanjang ingatan saya cuma Bram Stroker's Darcula yang mampu menakuti saya. Tapi jika dibandingkan film Indonesia yang tonton di masa kecil itu, Bram Stroker's Fracula tak cukup menakutkan. Karena tidak memberikan efek 'tinggal' di benak saya. Kenapa? Ehmmm .... mungkin karena saya menonton keduanya di masa yang berbeda. Yang satu pas saya masih imut-imut, sedangkan yang satunya lagi pas saya sudah jadi 'amit-amit' ... hehehehehe .... Atau berarti orang kita lebih pintar daripada bule dalam hal menakut-nakuti? Atau saya tidak lagi merasa takut karena memang menolak dan tak pernah menonton film horor? Hhehhehehee .... sepertinya alasan ini yang sungguh tepat. Karena saya memang tak pernah mau menonton film horor. Wong bayar kok ditakut-takuti, dikaget-kagetin, ya maleslah ..... Itu prinsip saya ..... Paling banter film semacam Interview With The Vampire yang saya masih bersedia bayar. Yang lainnya ... ehmmmm no way!

Nahhhh akhir-akhir ini rasanya tema drakula alias vampir kembali jadi tren lagi. Buku dan film yang mengusung makhluk ini jadi booming sekali. Jujur saya heran karena ternyata sambutannya luar biasa juga. Mungkin cuma saya yang tidak terprovokasi ... Ya bagaimana lagi wong namanya juga enggak ngefans. Walau tidak membeli bukunya tapi saya ikut nonton filmnya kok..... Tapi yang gratisan alias hasil unduhan teman saya. Nahhhhh ceritanya nih teman saya mengunduh True Blood entah berapa episode. Saya langsung ikut menonton. Setelah beberapa menit keluarlah nada protes dari mulut saya, "Kok filmnya gelap-gelapan terus sih? Kalau tidak adegan malam hari, ya di ruang gelap.... ". Mata teman saya membola. Lalu dia jelaskan bahwa itu adalah film tentang manusia dan vampir yang hidup sebumi, sekota..... Halahhh pantas gelap semua ..... Dan saya tidak tahan lama-lama menontonnya. Bukan karena takut, cuma tidak cukup menarik saja bagi saya. Tak peduli apakah itu benar film populer di belahan bumi bule sana, yang pasti saya lebih memilih melakukan hal lain daripada menontonnya.

Kalau True Blood saya lihat satu episode dan tak lengkap, film hasil rekaan cerita Stephenie Meyer mungkin lebih beruntung. Karena saya menonton dua sekuelnya secara lengkap..... walau masih dari hasil unduhan alias tetap enggan membayar bioskop ...hiihihih ..... Dan tidak menakutkan. Malah membuat saya meringis tertawa. Kenapa? Ehmmm karena si Edward Cullen yang dari sononya pasti sudah putih nian itu terus diputihkan lagi wajahnya dengan riasan. Dan kalau begitu banyak kaum hawa histeris melihatnya, ehhh saya malah merasa geli melihat bule putih berbedak .... Sumpah, bule putih bedakan itulah kesan yang tertinggal di benak saya. Dan hampir selalu begitu. Dulu waktu menonton Interview With The Vampire, saya juga sempat tertawa karena disitu Tom Cruise dan Brad Pitt terlihat seperti dua orang dengan bedak berlebih di wajah masing-masing .... hehheheeh lha wong sudah putih kok masih bedakan tho mas...? hhhehehehhehhe....

Oh iya, tempo hari setelah menonton Edward Cullen, saya menulis soal bule berbedak lebih di status facebook saya .... Dan hasilnya seorang teman yang mengaku fans berat dari film itu langsung menyatakan protes ... hehehheheheh.... Ya maaflah yawww .. bukan penggemar drakula atau vampir nih ... So, nonton film yang lain saja yuk ..

Minggu, 12 Oktober 2008

Film di televisi

Tahu enggak ...? Saya sedang jengkel dengan yang namanya televisi. Kenapa? Karena mereka berulang-ulang menayangkan film yang sama! Pernah menghitung berapa kali Kate Winslet dan Leonardo Dicaprio ber-Titanic di televisi kita? Ohhhhh ....asli saya sampai bosan sekali menonton mereka berdua berdiri merentang tangan di kapal besar itu. Saking bosannya, saya selalu langsung mengganti channel begitu melihat judulnya. Pernah menghitung berapa kali mas Keanu Reeves menongolkan wajah gantengnya lewat Speed dan trilogi matrix? Lalu hitung juga berapa kali aneka laki-laki Bond pamer kejantanan mereka layar gelas. Terus, hitung pula film-film Jacky Chan, Bobo Ho, Chow Yun Fat, Shahrukh Kahn, Steven Seagal, Jean Claude van Damme, dan Trio Warkop. Pasti deh sampai pegel ngitungya tapi mereka tetap wira-wiri dengan judul film yang itu-itu saja.

Tahu sihhhhh ....kalau untuk menayangkan film di televisi itu butuh dana yang besar, termasuk untuk membeli hak tayang film siarnya atau royaltinya atau apalah namanya. Cumaaaa..... saya merasa aneh juga jika pihak televisi menghilangkan pikiran sehat mereka bahwa penonton tidak akan bosan menonton film yang sama berulang-ulang. Apa mereka tidak berpikir bahwa romansa Winslet dan Dicaprio bisa saja menjadi basi, tak peduli berapa Oscar yang berhasil mereka kumpulkan.

Memang adakalanya sebuah film bisa membuat saya berniat menontonnya berulang kali. Sebut saja English Patient, Thin Red Line, Scent of A Woman, Godfather, Sleepers, Saving Private Ryan, dan Children of Heaven. Bahkan mata saya tetap berair ketika melihat Alpacino berteriak putus asa "im in the dark now!" di Scent of A Woman, tak peduli berapa kali saya menontonnya.

Tapiiiiiiiiiiiiiiii .....sebagus apapun suatu film tapi kalau disajikan berulang-ulang cuma dengan mengganti tema penyajian tetap saja bagi saya merupakan satu pendzoliman terhadap penonton. Memang sihhhh tinggal pencet remote contol terus ganti stasiun televisi yang lain. Tapi apa tidak seperti berada di neraka tuh kalau ternyata begitu ganti ke channel yang lain ternyata stasiun yang lain itu juga sedang melakukan hal yang sama dengan judul film yang berbeda. Ehmmmm .....alamakkkkkkk ......

Ya memang sihhhh penonton haus hiburan...tapi kalau hiburan yang didapat cuma itu-itu saja, sampai hapal jalan ceritanya, ya capek dehhhhhhhh ......