Senin, 08 November 2010

melancoly mood ......

jika kutemukan kau di ujung sana suatu hari nanti, kan kutanyakan padamu apa yang membuat waktu tertunda begitu lama, hingga seakan mengkelukan segala dan menunggu menjadi selamanya .....
kuharap jawabanmu adalah sekulum senyum yang boleh kusentuh dengan ujung telunjukku
kuadukan padamu bahwa detik dan menit adalah persekongkolan kental yang sangat enggan beranjak lalu... kaki mereka beku ... sementara aku meranggas getas dalam rindu ...

jika kau temukan aku di ujung sana suatu hari nanti, pertanyaan apa yang kau punya untukku?

Senin, 25 Oktober 2010

Sebuah Percakapan ....

Tempo hari saya sedang jalan-jalan sendiri di sebuah mal ketika tiba-tiba kuping saya menangkap sebuah pembicaraan. Pembicaraan antara ibu dan anak sebenarnya. Sang ibu yang rasanya sekitar pertengahan tigapuluhan dan sedang menggendong balita putih bersih. Sedangkan anaknya yang berjalan di sampingnya berusia sekitar sembilan atau sepuluh tahun. Kedua eh ketiga anak beranak itu tampilannya modis, dan terlihat dari kalangan mana berasal. Ehmmm ya, mal yang saya kunjungi itu memang terkenal sebagai mal yang masuk kelas atas di Surabaya. Jadi yang datang kesitu juga mestinya dari golongan kelas tsb. Ehmmmm kecuali saya barangkali ..... hehehheehe sebab saya datang bukan dengan maksud untuk mengeluarkan uang, tapi untuk menukarkan poin kartu kredit yang terkumpul akibat pembelanjaan yang dilakukan oleh teman saya. Nahhhh jelas kan maksud dan tujuan saya ke situ? Kalau buat mengeluarkan uang di situ sih ehmmmmmm rasanya saya malas .... sebab di tempat lain dengan nominal yang sama bisa dapat lebih banyak barang. Ada harga, ada kualitas. Demikian teman saya selalu berujar. Iya benar sih .... cuma saya males kalau kualitas itu diidentikkan selalu dengan merk terkenal. Saya kan berniat beli barangnya, bukan merknya ..... Begitcuuuuuuuu ..... Kata teman saya,"karena niat beli barangnya, atau tak cukup kuat bayarnya?" Ehmmmmm .... pertanyaan yang susah untuk dijawab .... ahahahahahaha...

Okay, balik ke masalah percakapan anak beranak tadi. Si ibu berkata pada anakknya seperti ini ,"Lihat itu yang ada kertas merah-merahnya! Kan ada tulisan 50%. Berarti itu Mama hanya akan bayar setengah dari harga barang sebenarnya. Murah kan? Nah, kita cari yang seperti itu." Ehmmmm...jelas kuping saya bereaksi karena kalimat itu dan sontak otak saya memberikan perintah untuk menoleh kepada mereka. Saya lihat si gadis kecil memandang ibunya lalu mengangguk mengerti dan mulai mengikuti ibunya menghampiri kapstok-kapstok baju perempuan. Sementara saya berjalan dengan setengah tercenung karena percakapan itu.

Ehmmm.... jujur saya sendiri heran kenapa tertarik dengan percakapan itu. Mungkin karena semasa kecil dulu tak pernah mempunyai percakapan semacam itu dengan ibu saya. Berapa banyak ibu-ibu yang mengajari anaknya seperti itu? Entahlah .... Perlukah seorang anak diajari seperti itu? Entahlah .... Saya tak sedang berbicara soal benar atau salah mengenai hal ini yang saya tak tahu. Cuma bagi saya rasanya percakapan seperti itu kontekstual. Sebab di kota seperti Surabaya, rasanya mal merupakan tempat rekreasi dengan rating tinggi. Saya yakin semua umur bisa ditemukan dalam sebuah mal. Coba lihat saja mulai dari bayi yang masih dalam kandungan, atau yang belum bisa berjalan, sampai mereka yang sudah renta, bisa ditemukan di mal. Bahkan saya pernah bertemu dengan mereka yang konon kurang sehat jiwanya di beberapa mal.

Nah kalau misal sedang rekreasi ke pantai dan seorang ayah mengajar berenang anaknya, maka kontekstual kan ketika seorang ibu yang sedang mengajak anaknya berjalan-jalan di mal mengajarkan cara berbelanja? Bukankah sebuah hal yang bijak jika seorang ibu mengajarkan cara berbelanja agar kelak si anak tidak konsumtif misalnya? Toh sebenarnya sama saja dengan ketika sedang bermain di taman seorang anak diajari naik sepeda atau main layang-layang? Iya kan? Ehmmm ..... sungguh saya jadi merindukan tanah lapang dengan pohon-pohon yang teduh, atau petak luas taman bermain, atau apalah dimana manusia bisa berkegiatan santai. Yaaaa semacam taman-taman kota yang biasanya terlihat di film-film Hollywood. Mungkin kalau banyak tempat seperti itu maka mal akan lebih lengang..... Bayangkan jika dalam sebuah kota semacam Surabaya terdapat sebuah taman seperti Central Park ... ehmmmmmm ... mimpi kali yeeeee .....

Kamis, 21 Oktober 2010

Drakula, Vampir , Whatever ....


Vampir. Drakula. Ehmmmm .... saya jujur sangat tak suka dengan makhluk ini. Mungkin tak suka bukan kata yang tepat sebenarnya. tapi kata takut juga ga kalah tidak tepatnya. Sebab walau memang takut tapi rasanya tidak takut-takut amat. Awal takutnya karena dulu waktu SD awal-awal; sekitar kelas 3; pernah nonton film Indonesia yang lakonnya soal drakula. Kalau tidak salah judulnya Untung Ada Saya. Kalau tidak salah lhooooo ..... maafkan kalau saya salah. Nah di film tersebut tokoh drakulanya sebenarnya berkostum standard yaitu kemeja putih, dasi hitam kupu-kupu (kalau tidak salah), pantalon hitam, dan jubah hitam. Cuma entah mengapa saya ngeri dengan jubah hitam yang bagian leher dalamnya berwarna merah itu. Ditambah 'pupur mbeluk' dan taring di wajah .... ehmmmmm benar-benar kala itu berhari-hari tidur saya terganggu. Sejak itu saya mencanangkan satu hal : film tentang drakula adalah film yang tidak layak tonton!

Itu tadi ketika saya masih kecil. Sekarang drakula atau vampir ini tak lagi sangat menakutkan. Walaupun tetap tidak menjadi tema film favorit saya. Sekarang saya bisa menonton sang drakula dengan 'santai'. Eh tapi tidak juga, karena setiap menonton Bram Stroker's Dracula saya selalu siap dengan bantal di tangan dan harus dalam ruangan yang terang benderang. Sejauh ini rasanya cuma Bram stroker's Dracula yang masih agak menakutkan. Dan film ini pula satu-satunya film drakula yang saya cintai. Suasana gelap dan berkabut yang terus-menerus hampir di sepanjang film memang menakutkan saya. Tapi sungguh film itu indah sekali. Artistik. Jika diberikan pilihan Titanic atau film ini, maka saya tak akan berpikir panjang untuk memilih yang kedua.

Sejauh ini sepanjang ingatan saya cuma Bram Stroker's Darcula yang mampu menakuti saya. Tapi jika dibandingkan film Indonesia yang tonton di masa kecil itu, Bram Stroker's Fracula tak cukup menakutkan. Karena tidak memberikan efek 'tinggal' di benak saya. Kenapa? Ehmmm .... mungkin karena saya menonton keduanya di masa yang berbeda. Yang satu pas saya masih imut-imut, sedangkan yang satunya lagi pas saya sudah jadi 'amit-amit' ... hehehehehe .... Atau berarti orang kita lebih pintar daripada bule dalam hal menakut-nakuti? Atau saya tidak lagi merasa takut karena memang menolak dan tak pernah menonton film horor? Hhehhehehee .... sepertinya alasan ini yang sungguh tepat. Karena saya memang tak pernah mau menonton film horor. Wong bayar kok ditakut-takuti, dikaget-kagetin, ya maleslah ..... Itu prinsip saya ..... Paling banter film semacam Interview With The Vampire yang saya masih bersedia bayar. Yang lainnya ... ehmmmm no way!

Nahhhh akhir-akhir ini rasanya tema drakula alias vampir kembali jadi tren lagi. Buku dan film yang mengusung makhluk ini jadi booming sekali. Jujur saya heran karena ternyata sambutannya luar biasa juga. Mungkin cuma saya yang tidak terprovokasi ... Ya bagaimana lagi wong namanya juga enggak ngefans. Walau tidak membeli bukunya tapi saya ikut nonton filmnya kok..... Tapi yang gratisan alias hasil unduhan teman saya. Nahhhhh ceritanya nih teman saya mengunduh True Blood entah berapa episode. Saya langsung ikut menonton. Setelah beberapa menit keluarlah nada protes dari mulut saya, "Kok filmnya gelap-gelapan terus sih? Kalau tidak adegan malam hari, ya di ruang gelap.... ". Mata teman saya membola. Lalu dia jelaskan bahwa itu adalah film tentang manusia dan vampir yang hidup sebumi, sekota..... Halahhh pantas gelap semua ..... Dan saya tidak tahan lama-lama menontonnya. Bukan karena takut, cuma tidak cukup menarik saja bagi saya. Tak peduli apakah itu benar film populer di belahan bumi bule sana, yang pasti saya lebih memilih melakukan hal lain daripada menontonnya.

Kalau True Blood saya lihat satu episode dan tak lengkap, film hasil rekaan cerita Stephenie Meyer mungkin lebih beruntung. Karena saya menonton dua sekuelnya secara lengkap..... walau masih dari hasil unduhan alias tetap enggan membayar bioskop ...hiihihih ..... Dan tidak menakutkan. Malah membuat saya meringis tertawa. Kenapa? Ehmmm karena si Edward Cullen yang dari sononya pasti sudah putih nian itu terus diputihkan lagi wajahnya dengan riasan. Dan kalau begitu banyak kaum hawa histeris melihatnya, ehhh saya malah merasa geli melihat bule putih berbedak .... Sumpah, bule putih bedakan itulah kesan yang tertinggal di benak saya. Dan hampir selalu begitu. Dulu waktu menonton Interview With The Vampire, saya juga sempat tertawa karena disitu Tom Cruise dan Brad Pitt terlihat seperti dua orang dengan bedak berlebih di wajah masing-masing .... hehheheeh lha wong sudah putih kok masih bedakan tho mas...? hhhehehehhehhe....

Oh iya, tempo hari setelah menonton Edward Cullen, saya menulis soal bule berbedak lebih di status facebook saya .... Dan hasilnya seorang teman yang mengaku fans berat dari film itu langsung menyatakan protes ... hehehheheheh.... Ya maaflah yawww .. bukan penggemar drakula atau vampir nih ... So, nonton film yang lain saja yuk ..

Minggu, 19 September 2010

Lebaran :D

Lebaran. Ehmmmmm .... kalau dengar kata itu rasanya banyak hal terlintas di benak saya. Satu yang paling cepat muncul adalah mudik. Iya ga? Jujur sebenarnya saya agak-agak 'gimana' dengan tradisi yang satu ini. Saya sendiri juga melakukannya karena saya adalah penghuni kos. Jadi kalau tidak mudik waktu lebaran ehmmmmm bakal jadi satpam untuk rumah ibu kos. Dan jujur juga neh, bahwa saya selalu merasa tak nyaman begitu menemui begitu banyak manusia di terminal dengan segala macam bawaannya. Saya mesti berebut untuk bisa masuk ke dalam lebih dahulu dari orang lain demi sebuah kursi. Dan namanya juga rebutan, jadi pastilah ada insiden dorong-mendorong dan seringkali orang melakukan segala cara untuk jadi pemenang. Termasuk di dalamnya menyikut, mendorong, dan mendesak saya ... hehehheeheheh ..... Sialnya saya tidak punya badan yang cukup besar untuk membalasnya. Lagipula saya kok merasa tidak enak hati untuk membalas perlakuan itu. Bukannya sok baik hati, cuma tidak sudi memancing keributan di suasana yang dari sononya sudah ribut ini. Paling banter yang saya lakukan adalah melotot sambil protes.

Nah begitu sudah berhasil dapat kursi dan bis berjalan tak berarti perjalanan menjadi nyaman. Ada macet akibat jutaan manusia tumplek blek di jalan. Dan tidak semua dari mereka berhati-hati dan disiplin dalam berkendara dan memakai jalan raya. Ada mobil yang bergoyang dombret, mungkin sopirnya sedang lelah tapi tetap memaksakan diri karena perjalanan belum selesai. Ada pengendara motor yang tidak cuma mengajak banyak nyawa sekaligus, tapi juga berlagak seperti punya nyawa rangkap. Ada penumpang yang menyetop bis, memaksa naik kendati jelas seluruh kursi sudah terisi. Dan sialnya awak bisnya juga menerima karena itu berarti rupiah. Yang terakhir ini selalu membuat saya sangat-sangat jengkel. Tidak hanya pada awak bisnya tapi juga pada penumpangnya. Saya merasa awak bis tidak memperlakukan penumpang tsb dengan adil. Si penumpang membayar penuh, tapi tak mendapatkan kursi yang seharusnya menjadi haknya. Mereka harus berdiri atau duduk di atas box mesin yang pasti panas rasanya. Dan sebalnya si penumpang rela-rela saja. Pada mudik lebaran tahun ini saya mendapati seorang ibu yang memaksa naik dan rela berdiri di dalam bis Patas yang saya tumpangi. Dan sungguh saya sebal pada ibu itu karena dia membawa balita yang tentu saja tak akan kuat berdiri di dalam bis yang berjalan. Herannya si ibu tidak menggendong atau seharusnya paling tidak memegangi balita tsb. Saya yang semula berniat menampung si balita di kursi saya jadi sangat sebal dan menunda menolong si balita. Jahat ya? Maaf, tapi sungguh saya jengkel dengan perilaku si ibu. Saya menunda untuk memberi waktu si ibu dan awak bis sadar akan apa yang sudah dilakukannya. Sepertinya si kondektur menyadarinya, terbukti kemudian dia memberikan sebuah cushion agar si ibu bisa duduk di lantai bagian depan bis sambil memangku si balita. Tapi muka saya sudah kadung masam ..... hehehehehhhhe...

Pasti cerita saya di atas cuma sebagian kecil dari insiden waktu lebaran. Sebab masih ada bis ekonomi dan kereta api yang mengangkut penumpangnya dengan cara yang kurang manusiawi. Untung si penumpang lagi merasa butuh jadi terpaksa rela-rela saja diperlakukan seperti itu. Seorang teman dengan sabar berkata,”ya ini kan dalam rangka lebaran ....ya dinikmati saja deh.” Arggggg ..... apa hubungan lebaran dengan perlakuan kurang manusiawi coba?! Teman saya cuma senyum-senyum. Sebagai perantau yang tinggal di ibukota dan selalu mudik waktu lebaran dia mengaku menganggap segala tetek bengek itu sebagai seninya mudik lebaran. Dan dia mengaku bisa menikmatinya. Ehmmmmm ..... entahlah. Saya jadi curiga barangkali cuma saya yang menggerundel untuk masalah ini ....... Toh seorang teman kantor selesai mudik ke ibukota yang menjadi kampung halamannya terbukti dengan bangga menunjukkan kepada saya rekaman perjalanannya. Di ponselnya saya bisa melihat bagaimana istri dan tiga orang anaknya tidur di bangku dan lantai kereta ekonomi ..... Saya cuma bisa meneguk ludah ketika dia berkilah, “Ya mampunya naik itu, Mbak. Jadi ya dinikmati saja.”

Lebaran. Ehmmmmmm .... bagi saya waktunya makan enak di rumah orang tua. Dan semua yang disediakan oleh ibu saya terasa lebih enak karena dinikmati setelah sebulan berpuasa. Jadi lebaran adalah saat balas dendam .... hehehheehhee .... Jujur ini! Saya termasuk golongan orang-orang yang memakan apapun yang tampak saat lebaran. Beruntung ibu saya selalu memasak sesuatu yang istimewa saat lebaran, tidak saja untuk menjamu tamu yang datang, tapi juga untuk anaknya yang 'kelaparan' ini. Alhasil, saya bisa makan enak dari malam takbiran sampai sebelum balik ke kos...... alhamdulillah ..... Menunya bisa macam-macam, seperti opor, kare, gulai, sop buntut, rendang, ayam bakar, gurami bakar, bakso solo, bali, rawon ..... dan lain-lain .... Dan begitu kembali ke kos ada saja teman yang berkomentar, “ Wah pipimu berisi tuh...” hhheheeehhehe .......

Ahhhhhh lebaran ..... Kemarin seorang teman kantor yang lain mengeluh tak punya uang sementara tanggal gajian masih jauh. Ehmmmm .... katanya hal yang tidak disukainya pas lebaran adalah budaya konsumtifnya. Beli baju barulah. Belanja kue, minuman, dan makananlah. Seorang teman yang mendengar keluhannya menyanggah dengan bilang, “Ah kan cuma setahun sekali... tak apalah sekali-sekali konsumtif. Angpaonya anggap saja shodaqoh.” Yang disanggah tetap sedih mukanya ... hhehehehehe.... Ahhh saya jadi teringat satu hal. Angpao. Ehmmmm ini satu hal yang ditunggu-tunggu banyak anak Indonesia saat lebaran. Bahkan keponakan saya yang belum paham benar pecahan mata uang pun selalu kegirangan ketika mendapatkan angpao dari siapa saja. Dulu ketika masih sangat kecil begitu terima angpao dia akan selalu 'menyetorkannya' pada ibunya. Sekarang dia sudah punya dompet sendiri untuk menyumpannya. Dan lucunya ketika saya tanya berapa uang yang didapatnya, dia tidak bisa menjawab karena memang belum tahu soal uang. Paling-paling dia akan mengeluarkan uang-uang itu dan meminta si ibu untuk menghitungnya ... hheheheheehe ....

Lebaran , lebaran ..... ehmmmmm kayaknya lebaran dan liburan tak jauh beda ya .... dan memang itulah yang terjadi... paling tidak walau banyak orang mengeluh harus bekerja ekstra karena sang PRT yang biasanya bertindak sebagai asisten sedang pulang kampung, tapi lebaran tetap saja liburan buat saya. Sebenarnya sebelum libur dimulai saya berniat mengerjakan beberapa pekerjaan kantor selama libur lebaran dan sudah siap menggendong laptop saya ke kampung halaman. Tapiiiiiiiii ehehehehhe otak saya sulit sekali diajak bekerja sama waktu liburan .... apalagi ada keponakan-keponkan yang menyenangkan untuk diajak bergulat ..... Jadi ...ehehehehehe maaf .....

Lebaran ... lebaran .... ehmmmm .... minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin yaaaa.....

Jumat, 03 September 2010

Iklan Favorit

Seorang teman pernah bilang bahwa jika televisi sudah mulai dibanjiri tayangan iklan sirup itu tandanya bulan Ramadhan segera datang. Rasanya teman saya benar. Iklan sirup segala rupa yang tampak begitu nikmat (walau sebenarnya ya begitu-begitu saja rasanya) wara-wiri lebih sering menjelang, selama, dan setelah Ramadhan. Demikian juga dengan iklan obat mag, kue, dan suplemen. Ehmmm jujur kadang itu menjadi godaan bagi saya di siang hari ketika tengah kehausan ... hehehheheeh ....

Sebagai penikmat iklan, saya selalu senang ketika ada event besar di depan mata. Sebab banyak perusahaan membuat iklan baru dengan tema yang sesuai event tersebut. Dan ini menurut saya bukan cuma sekedar tontonan jeda yang menyenangkan. Sering saya membayangkan kesibukan di balik tayangan iklan tersebut. Tidak cuma dalam hal pembuatannya, tapi juga soal penggalian ide. Pasti hal yang jauh dari sederhana. Dan sungguh saya sangat tertarik dengan dunia itu. Saking tertariknya saya pernah mengirimkan lamaran menjadi copywriter lho .... ahhaahhaha ... padahal asli saya tidak punya bekal apapun dalam bidang itu. Alhasil ditolak lamaran saya tak terdengar kabar beritanya sampai sekarang ...ahahahaha....

Balik ke soal iklannya. Di bulan Ramadhan tahun ini ada satu iklan yang saya sangat suka. Materi gambarnya sebenarnya biasa-biasa saja. Tapi kontennya yang menurut saya menyentuh. Sebenarnya sembari mengetik tulisan ini saya berusaha mengingat-ingat nama produk atau perusahaannya. Tapi sayangnya kok ya belum ingat. Begini deh ... itu iklan bercerita soal ketulusan. Jadi ceritanya ada seorang ekeskutif muda, sebutlah seperti itu, akan ke masjid untuk acara berbuka puasa bersama. Pas hujan, dia tak ada payung. Jadi dipanggilah seorang anak yang menyewakan payungnya. Dan terjadilah tawar-menawar. Si anak minta 3 ribu untuk jasanya, si eksekutif muda menawar dengan gigih untuk jadi 2 ribu. Akhirnya si anak dengan penuh senyum setuju dengan angka 2 ribu. Jadilah dia riang berhujan-hujan dengan kaos Del Piero-nya mengiringi si eksekutif muda berpayung menuju masjid. Nah pas sampai di masjid dan giliran membayar jasa yang 2 ribu itu, si eksekutif muda merogoh-rogoh semua sakunya dan ternyata dompet tak ditemukan alias tertinggal di kantor. Dan si Del Piero memaklumi itu dengan wajah yang tetap penuh dengan senyum dan berkata,”Lain kali saja deh, Pak.” Lalu berlalu tanpa sakit hati, sementara si eksekutif muda berdiri masygul.

Sungguh saya jatuh cinta dengan iklan itu. Tanpa gambar dan trik yang spektakuler, dia berhasil menohok saya. Saya benar-benar suka senyum polos si anak, juga dari awal (sejak pertama kali lihat) sudah jengkel dengan ketegaan si eksekutif muda yang menawar harga jasa yang cuma 3 ribu perak itu. Setiap kali melihatnya, saya selalu berpikir betapa malu dan menyesalnya jika kita berada di posisi si eksekutif muda. Apalagi melihat wajah polos penuh senyum si anak yang tak marah ketika jasanya ditawar dan tetap riang-riang saja ketika ternyata klien yang tadi sudah gigih menawar ternyata tak sanggup membayar sesuai kesepakatan. Ehmmmmmm ..... entah mengapa saya selalu ikut malu dan menyesal bersama si eksekutif muda setiap kali menonton iklan tersebut. Juga diam-diam berdoa semoga tidak pernah mengalami hal itu. Atau kalau toh ditakdirkan mengalaminya, saya berharap saat itu orang seperti anak itulah yang saya hadapi ..... eehehhehehehehe ... pengen aman maksudnya ...

Jadi, itulah iklan favorit saya Ramadhan ini. Cuma sayangnya, sampai saya selesai menulis ini, tak juga saya ingat produk atau perusahaan yang membuatnya ..... Tapi walau tak ingat begitu tetap saja dua jempol tangan dan dua jempol kaki saya acungkan buat iklan tsb .... i love it ..........

Rabu, 25 Agustus 2010

Hutang

Seorang teman menjengkelkan saya akhir-akhir ini. Kenapa? Karena beberapa kali menghubungi saya lewat telepon dan urusannya cuma satu yaitu mau meminjam uang alias berhutang pada saya. Dan saya jengkel sekali karena setiap kali dia menelepon dengan tujuan itu, saat itu pula saya dalam kondisi tidak punya uang. Nah ... jengkel kannnnn ...? Tenang pembaca, bukan karena saya sok dermawan sehingga merasa jengkel ketika teman saya meminta pinjaman uang saat saya dalam kondisi bokek. Sama sekali bukan itu masalahnya. Saya cuma selalu mempertimbangkan rasa malu yang harus dia tanggung ketika meminta diberi pinjaman. Dan rasa malu itu harus sia-sia karena saya yang bokek tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan.

Hutang. Seorang teman selalu bilang bahwa manusia tidak luput dari dua hal, yaitu dosa dan hutang. Ehmmmmm... soal dosa rasanya pasti karena toh manusia tak pernah luput dari yang namanya salah. Dan soal hutang rasanya ada benarnya juga, karena toh konglomerat yang dari luarnya terlihat kaya raya ternyata juga mempunyai hutang. Tapi tentu tidak semua manusia di muka bumi ini tak luput dari hutang. Seorang teman yang saya kenal sungguh tampak tenang dan damai hidupnya tanpa hutang. Dannnnnn seorang teman yang lain merasa kurang tantangan ketika hutang-hutangnya lunas .... hehheheh.... Karena itu walau tidak selalu tapi mengaku membuat hutang yang baru setelah yang lama lunas. Tapi ya itu tadi, dia menekankan kata 'tidak selalu' dan bentuk hutang yang biasanya diambilnya adalah membeli sesuatu barang (terutama elektronik karena dia cukup gila dengan yang satu itu) secara mencicil.

Kapan pertama kali mengenal yang namanya hutang? Kalau saya sebenarnya semasa SMP pun rasanya sudah mengenal hutang, yaitu hutang kecil-kecilan. Jadi misal pas di sekolah ternyata perlu fotocopy tapi uang saku tidak cukup. Nahhh berhutanglah saya pada teman lain yang uang sakunya lebih banyak. Kalau hutang besar, seingat saya baru saya kenal semasa SMA. Waktu itu bapak saya sakit dan harus opname di rumah sakit. Uang yang dibawa ibu ternyata tidak cukup. Begitu pula cadangan uang di rumah. Tabungan? Ehmmmm .... masa itu orang tua harus membiayai dua kakak yang kuliah sehingga tabungan juga tak bisa diandalkan. Jadi ibu yang bingung memandatkan kepada saya dan seorang kakak untuk mencari pinjaman. Sebagai pemegang mandat yang belum punya pengalaman berhutang besar tentu saja kami bingung bagaimana melaksanakannya. Akhirnya kami sepakat untuk mendatangi teman sekantor bapak dengan pertimbangan beliau tampak lebih kaya. Dan ternyata perhitungan meleset. Kami ditolak dengan alasan beliau juga sedang tidak ada uang. Jadi kami memutar otak untuk mencari 'sasaran' selanjutnya. Akhirnya kami putuskan untuk mendatangi seorang tetangga yang sesuku dengan bapak saya. Kali ini pertimbangannya adalah kesukuan, bukan kekayaan ... hehehehe mengandalkan ikatan emosional maksudnyaaaaaaa .... Dan ternyata yang ini jitu, alias kami berhasil mendapatkan hutang. Jadi, wahai pencari hutang, datangilah mereka yang lebih kaya atau mereka yang punya ikatan emosional dengan kita .... hahahahahaha..... Jujur kejadian itu tidak hanya membekas di otak saja, tapi membuat saya selalu berhitung masak-masak ketika menentukan 'mangsa' sebab bagaimanapun saya selalu merasa malu dan lebih malu lagi ketika ditolak. Benar kan? Karena itulah saya selalu jengkel ketika tidak bisa memberikan pinjaman kepada mereka yang datang pada saya. Bagi saya menolaknya sama dengan menambah beban malu yang sudah ditanggungnya sejak awal.

Eh iya, saya punya pengalaman buruk soal hutang ini. Seorang teman, sebut saja A berkirim pesan singkat yang isinya meminta pinjaman uang untuk bayi yang baru dilahirkannya. Si bayi mengalami kondisi yang kurang normal sehingga perlu perawatan khusus yang notabene tentu berarti biaya ekstra. Dan sialnya saya juga sedang mencari hutangan. Tak tega menolak mentah-mentah, maka saya berupaya meminta pinjaman dari teman lain; sebut saja B; yang juga mengenal A. Sialnya, walaupun dua unsur pokok sudah terpenuhi (lebih kaya dan punya ikatan emosional), permintaan saya tsb ditolak oleh B. Dengan alasan, takut tak kembali karena toh pinjaman A ke saya sebelumnya juga belum terlunasi. Ya sudah, mau apa lagi, toh B berhak melindungi uang yang diperoleh dengan keringatnya. Terpaksa saya bilang ke A tak bisa menolongnya kali ini. A tentu tak marah. Namun hati saya hancur ketika sekitar tiga hari kemudian sebuah pesan singkat datang mengabarkan si bayi meninggal dunia. Saya merasa sangat bersalah. Sejak itu saya selalu ketakutan jika ada yang datang meminjam uang dengan alasan kesehatan.......

Nah, sejak merasa kebutuhan akan berhutang bisa datang kapan saja, saya merasa senang jika mendengar kabar kesuksesan orang-orang yang saya kenal. Tentu ada rasa iri. Tapi saya punya cara jitu untuk memupus rasa iri itu, yaitu dengan berpikir ah berarti paling tidak saya tahu siapa yang bisa dituju ketika perlu berhutang. Setelah itu biasanya hati saya tak terlalu iri lagi ...... ahahahhahahahaha

Soooooooooo ..... berapa sisa hutangmu yang belum terbayar hari ini? Ehmmm jangan lupa hitung juga hutang puasa Ramadhan yaaaaaa...... sebab sama seperti hutang uang, hutang puasa juga mesti dibayar ...hehehhehehe

Kamis, 15 Juli 2010

Jauh di Mata, Dekat di Hati (baca : Handphone)

Handphone..... ehmmmm ini salah satu produk teknologi yang menurut saya sangat revolusioner ... Revolusioner dalam artian mampu mempengaruhi bahkan mengubah gaya dan cara hidup manusia. Dulu sebelum ada yang namanya handphone hubungan jarak jauh antar manusia saya rasa tidak seintens sekarang. Dan kita pun lebih gampang 'bersembunyi'. Sekarang .... ehmmmm susahnya 'bersembunyi' dari yang namanya panggilan telepon. Sebab semua orang sudah membangun akses langsung pada dirinya dengan yang namanya handphone. Jadi sebenarnya secara sengaja kita membuka area pribadi. SECARA SENGAJA. Jadi bagi saya tidak sepenuhnya tepat jika dibilang handphone mendobrak area privat. Karena bukankah kita sendiri yang dengan sadar membeli handphone dengan alasan kebutuhan?

Nahhhhhhh handphone dan internet menurut saya produk teknologi yang membuat orang lebih suka berhubungan dengan mereka yang jauh dari pada dengan mereka yang ada di sampingnya. Benar tidak? Pokoknya menurut saya benar.... hehheheheh ... Ya bagaimana tidak, wong ketika duduk di bis saya lebih asyik bertukar SMS dengan teman saya ketimbang menyapa orang di sebelah saya. Penumpang yang lain juga asyik masyuk dengan handphone-nya, entah itu untuk chatting, telepon, mendengarkan musik, atau ber-SMS seperti saya. Tempo hari ketika duduk di ruang tunggu dokter, sahabat saya juga lebih memilih chatting melalui Blackberry dengan teman-temannya yang nun jauh disana ketimbang bercakap dengan saya yang persis di sebelahnya. Di kesempatan yang lain saya juga lebih suka membuka yahoo messenger dan mengobrol ngalor ngidul dengan teman-teman di belahan bumi yang lain ketimbang bertandang ke teman kos yang ada di sebelah kamar saya. Dan adalah satu pemandangan yang sangat jamak bahwa saya dan teman duduk bersebelahan; cuma berjarak paling jauh 30 centimeter; tanpa bercakap, hanya fokus ke layar monitor kami masing-masing. Ironisnya saat itu masing-masing kami sedang bertukar cerita dengan orang-orang yang 'maya' dan saling mengabaikan yang 'riil' yang tepat di sebelah. Ahhhh satu lagi, sebelum tidur saya rela-rela saja mengobrol dengan seorang teman yang beratus kilometer jauhnya dari saya. Padahal selama ini saya selalu menolak punya teman sekamar. Padahal kalau punya teman sekamar kan ngobrolnya tidak perlu pakai keluar uang pulsa.....

Seorang sahabat bilang Blackberry membuatnya autis. Maksudnya, dia jadi tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya ketika di tangannya ada perangkat canggih itu. Sebab dia bakal langsung sibuk dengannya. Berarti lebih enak berhubungan dengan orang yang jauh dari kita? Untuk pertanyaan ini sahabat saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Dia bilang kebetulan teman-teman akrab tempat berbagi cerita umumnya ada di luar kota. Tapi kemudian dia mengaku bahwa sebagian besar dari teman ngobrol itu didapatnya dari internet dan sebagian belum pernah bertemu muka. Nah kannnnnnnn ..... Berarti berhubungan dengan yang jauh lebih menyenangkan dari pada dengan yang ada di dekat?

Never talk to stranger. Begitu kata bule. Cuma sebenarnya menurut saya ungkapan ini tidak terlalu mengakar di kebiasaan kita. Seorang teman bule malah pernah bilang orang Indonesia itu cenderung bersikap siap menolong ketika ada orang asing di lingkungannya. Atau mungkin karena dia orang asing dalam arti yang sebenarnya sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya berusaha bersikap manis ya? Hehehheheheh .... negative thinking nehhhhh .... Maaf ..... Sooooo .... sebenarnya kenapa jadi ada kecenderungan lebih suka berasyik-asyik dengan yang jauh? Kalau dibilang karena 'never talk to stranger' toh sudah dipatahkan dengan pendapat teman bule saya tadi kan ......

Ehmmmm .... perkembangan teknologi memang seperti pisau bermata dua. Satu sisi menguntungkan, sisi lain bisa merugikan. Jadi apakah kecenderungan jadi intens berhubungan dengan yang jauh-jauh ini sisi merugikan? Ehmmmm ... mungkin tidak bisa serigid itu ya. Salah satu alasannya saya ambil dari kalimat yang selalu didengungkan oleh Bapak saya : Indonesia itu luas. Jadi teknologi telekomunikasi yang baik tentu sangat dibutuhkan. Salah satu maksudnya adalah untuk menjalin persatuan dan kesatuan .... (ehmmmmm ... pelajaran Pendidikan Moral Pancasila neh). Nahhhhh ... kalau alasan dari teman saya : agar roda bisnis berjalan lancar. Maksudnya, semua provider berlomba memberi tarif murah alias perang harga untuk menarik pelanggan. Kalau tidak ada yang terpancing untuk memanfaatkan bukankah roda bisnis akan berhenti? Nah kalau sudah begitu berapa jiwa yang rugi karena kehilangan pekerjaan? Ehmmmmm .... masuk akal dehhhh.....

Jadi benar juga ya ungkapan jauh di mata dekat di hati..... Atau karena perkembangan teknologi perlu diganti menjadi jauh di mata dekat di handphone?