Selasa, 27 April 2010

Wisata Kuliner

Ehmmmm...acara kuliner rasanya sudah jadi jenis acara televisi yang digemari oleh banyak orang. Termasuk saya ... heheehehhe. Jujur saja, setiap sabtu pagi acara saya adalah begelung di tempat tidur dengan televisi menyala. Dan untuk sabtu pagi entah mengapa saya tidak terlalu tertarik untuk mencari berita terkini ataupun segala macam tetek bengek debat. Untuk kedua hal ini saya uber di hari biasa saat petang pulang kerja karena dengan saya sangat sadar diri kekurangan waktu (baca : malas) baca koran. Nahhhhh untuk Sabtu pagi acara favorit saya adalah melihat orang memasak atau melihat orang icip-icip makanan. Dan sebenarnya agak ironis juga karena saya melihat itu semua dengan perut kosong karena nyaris selalu tidak tersedia apa-apa di kamar saya di Sabtu pagi. Alhasil sering sekali saya melihat acara tsb sambil sibuk meneguk ludah, terutama ketika sang host mengacungkan jempol sambil berkomentar 'mak nyusssss ...'

Ngomong-ngomong soal kuliner..... ehmmm yuk wisata kuliner di kampung tempat tinggal saya yukkkkkk. Mau, mau, mau? Harus mau! Ahahahahha... pemaksaan.... OK, saya mulai dari rumah kos saya yaaaaa.... Persis di depan rumah kos saya ada sebuah warung. Warung biasa sih ...Bukanya juga kadang berdasarkan mood pemiliknya. Warung tanpa nama ini menjual aneka kebutuhan sehari-hari. Soal harga yaaa biasa saja. Cuma tempo hari saya iseng membeli kacang klici (kacang goreng minyak tanpa kulit ari) yang rupanya buatan sendiri. Dikemas dalam bungkusan kecil-kecil seharga seribu rupiah perbungkus. Dari iseng saya jadi kebiasaan. Karena menurut saya rasa bawangnya lumayan terasa. Asinnya juga pas di lidah saya. Tingkat kekerasan kacangnya juga lumayan 'melawan' karena pada dasarnya saya tidak terlalu suka kacang yang cepat remuk ketika dikunyah. Saya cenderung suka kacang yang 'punya kemauan untuk melawan'. Butiran kacangnya juga tergolong sedang, tidak terlalu kecil. Nahhhh kacang goreng dengan bungkus bergambar jempol ini termasuk makanan yang saya cari ketika pengen cemilan.

Terusssss ... sekitar 10 meter dari rumah kos saya, belok kanan sedikit ada tukang bebek dan ayam goreng. Sebenarnya di lingkungan ini ada dua penjual bebek. Saya ceritakan yang pertama dulu ya. Terus terang saya suka dengan 'tag line' yang digunakan oleh si penjual yaitu : Tidak Repot. Artinya dengan membeli bebek atau ayam goreng dari dia berarti kita tidak perlu repot memasak. Nahhhh kannnnn .... ketauan kenapa saya suka tag line sang tukang bebek goreng... heheheehe .... Dari rombong kaki lima ini saya biasanya lebih memilih bebek gorengnya dari pada ayam gorengnya. Dengan harga Rp. 8000 kita bisa dapat nasil plus satu potong bebek goreng. Sambalnya tidak pedas dan terlihat kulit ari tomatnya. Sepertinya dibuat dengan sedikit terasi. Ada tambahan minyak bekas ukep bebeknya. Tapi saya tidak terlalu suka minyak ini. Saya selalu memilih remah-remah bekas ukepan yang kering dan masih terasa gurihnya. Potongan bebeknya tidak terlalu besar dan cenderung sedikit liat, tapi tidak sampai perlu ngotot untuk memakannya. Menurut saya liatnya ini tidak mengurangi nilai, karena liatnya ini tanpa lemak. Lemaknya cuma menempel di bagian bawah kulit saja. Jadi okelahhhhh.....

Nahhhh kalau dari gang rumah kos saya terus belok ke kiri sekitar 25 meter kita akan ketemu dengan penjual bebek yang kedua. Kalau yang ini penjualnya ibu-ibu..... Agak berdasarkan mood juga kalau jualan. Soalnya kadang lamaaaaaaaaaaaaa warungnya tutup, terus tahu-tahu buka lagi. Konon si ibu ini sudah terkenal kualitas bebek gorengnya jauh sebelum saya tinggal di kampung ini. Bedanya dengan bebek goreng yang pertama tadi adalah yang pasti ini lebih mahal, alias sepuluh ribu perporsi. Tapi potongan bebeknya tentu sedikit lebih besar. Dagingnya cenderung lebih empuk dalam arti kemropol kalau orang Jawa bilang. Perkiraan saya, bebek yang kedua ini dimasak dengan menggunakan presto. Sedangkan bebek yang pertama tadi dimasak dengan cara diukep biasa. Jadi hasilnya pun berbeda. Bebek yang kedua ini tulang-tulangnya lebih lunak. Bagi mereka yang suka 'meremukkan tulang', bebek kedua ini lebih cocok. Oohhhh iyaa nyaris lupa..... kedua rombong ini menjual kepala dan ceker bebek, dua anggota badan yang saya suka... hehehehe .... Cuma bedanya di tingkat kekerasannya. Kalau di penjual pertama tadi tulang-tulang tengkorak kepala masih agak keras kalau mau dikeremus dengan gigi. Jadi tipsnya agar bisa nyaman menikmati adalah minta kepada si bapak untuk membelah kepala bebeknya sebelum digoreng. Kalau di penjual kedua, kepala bebeknya tak perlu dibelah lagi saking empuknya. Demikian juga dengan cekernya. Kalu mau ceker yang empuk bergelambir, datanglah ke penjual kedua. Tapi kau suka ceker 'berotot' datanglah ke yang pertama. Jelas? hehhehehehe ....

Selanjutnya rujak cingur. Nahhh ini makanan khas Surabaya. Ada seorang pedagang rujak cingur yang tingkat kebersihannya cukup mencengangkan saya untuk ukuran kaki lima. Tempat dagangnya persis dua rumah di sebelah penjual bebek kedua. Secara rasa ehmmmmmmm saya cukup cocok. Cuma yang saya kurang sreg adalah jumlah potongan cingurnya yang cuma beberpa dengan irisan yang tipis pula. Tapi bisa dimaklumi kalau menilik dari harganya yang cuma tiga ribu rupiah saja (kata teman saya, murah kok minta cingur banyak .....). Konon kata teman saya, si ibu tidak menggunakan buah pisang kluthuk sebagai salah satu bumbunya. Tapi kok sepertinya saya selalu melihat si ibu mengiris buah pisang itu ketika meracik bumbu buat pesanan saya ya? jadiiiii dipakai atau tidaknya buah pisang kluthuk di rujak tsb masih menjadi perdebatan kami berdua....

Terus sekarang bakso. Letaknya di ujung jalan, hampir mencapai jalan besar. Namanya bakso PK. Dulu saya penasaran dengan nama itu tapi selalu lupa bertanya pada penjualnya. Sampai akhirnya seorang teman memberi tahu singkatannya, yaitu Pentol Kasar. Nahhhh sesuai dengan namanya, bakso kasarnyalah yang jadi favorit saya. Dengan lima ribu rupiah bisa dapat bakso halus, kasar, siomay basah, dan siomay kering. Ada kol dan selada kalau mau. Kalau mau tambah uang sedikit bisa dapat potongan kikil atau tetelan tulang. Untuk yang terkhir ini saya tidak tahu harganya karena memang kurang suka. Oh iya, kuah baksonya tidak terlalu keruh dan tidak terlalu berlemak, juga selalu dalam kondisi panas banget. Jadi cucok dimakan pas hujan. Ehmmmm yuukkkk mariiiii....

Sekarang giliran bubur kacang hijau. Biasanya saya ketemu dengan si mas tukang bubur neh pagi jam berangkat kerja. Jualannya pakai gerobak dorong. Ada bubur kacang hijau dan ketan hitam, dengan kuah santan yang hangat-hangat. Harganya dua ribu rupiah. Buburnya kental, kuah santannya juga gurih. Dan hangatnya itu lhoooooo ..... Dulu sempat saya ke kantor dengan menggotong berbungkus-bungkus bubur si mas ini karena teman-teman kantor banyak memesan. Waktu itu saya masih tiap hari berangkat ke kantor dengan membonceng seorang teman. Jadi ya OK-OK saja menggotong bubur itu. Tapi setelah tak ada teman yang mengangkut saya tentu saja kegiatan itu terhenti. Pernah beberapa kali teman kantor mempertanyakan 'kabar' mas si tukang bubur. Jadi artinya bukan cuma lidah saya yang cocok dengan bubur hasil produksi si mas itu kannn ....?

Nahhhhh begitulah wisata kuliner di kampung saya. Mau datang mencoba? Silahkennnnnnnnnn ...... tapi bayar sendiri yaaaaaaaaa ...ahahahahahahahaha...

Selasa, 20 April 2010

Karena Aku Perempuan

Kalau bulan Pebruari bagi banyak orang identik dengan cinta dan merah muda, maka April hampir selalu mengingatkan saya pada perempuan. Bukan, bukan Kartini maksud saya, tapi perempuan dalam arti sebenarnya, tanpa nama. Perempuan kaum saya. Ehmmmm ... perempuan yang merupakan jenis kelamin lawan laki-laki. Ehmmmmmmmmm ........ Ini dia.....

Dulu di masa lalu, saya adalah perempuan yang memberontak terhadap keperempuanan saya..... Wehhh ngeri ya ...ahahahahah .... Sebenarnya tidak sehoror itulah. Cuma dulu saya merasa tidak cukup nyaman sebagai seorang perempuan. Entah kapan perasaan itu mulai ada. Yang pasti dari usia balita ada foto-foto yang menunjukkan saya lebih nyaman berkostum laki-laki, mirip dengan kakak saya. Tapi waktu itu saya masih belum menolak rok. Terus begitu lebih besar lagi .... saya pernyataan sikap : rok, no way! hhehheheehe.....

Tidak cuma dalam hal pakaian. Semakin besar saya semakin merasa hal-hal yang berbau perempuan itu mengganggu. Termasuk mengerjakan pekerjaan khas perempuan seperti memasak. Sumpah, saya selalu memilih mengepel seluruh rumah daripada menjadi asisten ibu di dapur. Satu hal yang waktu itu bagi saya cukup ekstrim adalah saya memilih mengambil tugas membersihkan genteng bersama kakak dan sepupu laki-laki saya ketimbang menuruti perintah ibu untuk mengiris bawang. Saya tidak pernah memanjangkan rambut. Saya pernah benci berjalan dengan kakak perempuan saya cuma gara-gara dia berjalan tak secepat yang saya inginkan. Waktu itu dalam hati saya mengumpat 'huh...dasar perempuan!' .....ahahahahahah. Saya juga selalu mencibir setiap kali melihat kakak perempuan saya dengan segala kecentilannya merawat wajah, kulit, ataupun rambutnya. Hal yang sebenarnya wajar-wajar saja saya anggap berlebihan dan tidak praktis. Saya juga sangat benci dengan kalimat-kalimat semisal "karena kamu perempuan, jadi .....". Atau "sebagai perempuan kamu harus ......". Bagi saya kalimat-kalimat semacam itu adalah kalimat diskriminatif! Apalagi bapak saya termasuk tipe orang tua yang tidak pernah membedakan antara anak laki-laki dan perempuannya. Malah ketika SMA saya pernah bersaing nilai dengan seorang teman laki-laki. Dan supporter setia saya tentu saja Bapak saya. Pernah suatu kali nilai saya kalah dari dia. Dan dengan maksud menghibur saya, ibu berkata."tak apa-apa kalah, kan kamu perempuan, jadi ya memang dia harusnya menang". Tentu hati saya mendidih karena 'keperempuanan' saya disenggol. Tapi sebelum saya sempat menyemburkan sesuatu Bapak saya sudah lebih dulu menukas,"Ini bukan masalah laki-laki perempuan! Ini persaingan, siapapun layak menang, tak peduli laki-laki atau perempuan. Ayo, kamu bisa balas semester depan!" Ehmmmmm ..... see, my dad is my biggest supporter.... ahhahahahaha.....

Masa kuliah praktis saya lalui dengan kadar 'keperempuanan' yang minim. Dengan kata lain, saya tidak pernah mengenakan rok. Celana jins, kemeja/kaos, dan sepatu kets adalah seragam saya. Karenanya selalu kebingungan jika ada acara pernikahan keluarga. Sebab saat itulah apa yang saya lakukan adalah sedapat mungkin menghindar..... Saya baru mengalah dan menyerah mengenakan rok ketika kakak perempuan saya menikah. Itupun dengan paksaan, bukan suka rela dan serta merta. Ohhh iya, saking tidak pernah melihat saya mengenakan pakaian perempuan, Ibu saya pernah pangling dan tidak mengenali ketika saya terpaksa karena diwajibkan mengenakan kebaya dan kain panjang di pernikahan seorang sepupu. Waktu itu ibu sempat melongo dan berujar,"Oalahhhh ini tadi anakku tohhhhhh ..." Hayyyyahhhhhhh ...... Dan ternyata yang panggling bukan hanyaperempuan yang melahirkan saya. Paman, bibi, dan sepupu yang lain pun sama melongonya .... wekssssssssssssss.....

Tapi itu semua dulu ..... Duluuuuuuuuuuu ....heehhehehehee ... sekarang saya merasa jauh lebih perempuan dari masa itu. Saya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dulu saya hindari. Saya sudah tak terlalu alergi dengan pekerjaan dapur. Walau sekarang tidak memasak tiap hari, tapi paling tidak saya pernah bertindak sebagai perempuan yang harus memasak ketika tinggal berdua saja dengan kakak laki-laki saya. Saya juga mulai merasakan nikmatnya pekerjaan khas perempuan : merajut dan menjahit. Saya juga sudah meninggalkan kostum yang dulu pernah mati-matian saya pertahankan : celana jins, dan menggantinya dengan rok. Rasanya? Ehmmmmm ...ternyata enak juga..... hehheheheeeeh....

Dan mungkin prestasi yang paling besar adalah bahwa saya tidak terlalu alergi lagi dengan kalimat 'kamukan perempuan....'. Saya sedikit lebih kalem menghadapi kalimat ini. Sedikitttttttttttt ....hehehhehheeh .... Mungkin karena saya melihat kebenaran dari kalimat tersebut dalam konteks-konteks tertentu. Misal, kalau dulu saya tidak terima jika ibu menegur karena cara duduk saya sembarangan, sekarang saya sepakat bahwa memang tak elok seorang perempuan duduk sembarangan. Demikian soal perilaku dan tutur kata lemah lembut. Walau saya belum bisa dan masih sangat jauh dari hal itu tapi saya sepakat. Karena apa? Ya karena itu baik untuk perempuan ..... Yaaaaaaaa....... karena aku perempuan .....

Sesepele itukah? Ehmmm .... mungkin juga tidak sebenarnya. Tapi saya ada pada pemikiran bahwa bukan 'kelamin' yang harus diubah, tapi pola pikir. Ibarat kata pepatah bahwa rumput tetangga lebih hijau, maka saya dulu berpikir betapa enaknya jadi laki-laki, panjang langkah, tak terikat banyak hal, tak ditimbuni macam-macam aturan masyarakat, dll. Tapi toh itu cuma rumput yang tampak lebih hijau. Sebab bagaimanapun menjadi diri sendiri lebih nyaman ...termasuk menjadi 'kelamin' sendiri ... Satu bukti, pada saat masih tomboy dulu, setiap kali melihat perempuan berrok dan tampak manis anggun saya toh kepikir untuk melakukan hal yang sama. Tapi karena waktu itu cap di badan adalah tomboy maka saya tak berani melakukannya, takut dikomentari banyak orang. Nah kan .....

Jadi, bagi yang sedang memprotes keperempuanannya sekarang, saya sarankan untuk berpikir ulang ...hehhehehee ..... Emansipasi? Ahhhh .... ketika emansipasi berarti menjadi 'laki-laki, ehmmm betapa tak eloknya dunia ini ....

Senin, 05 April 2010

Televisi

Televisi ..... ehmmmm makin hari saya makin heran dengan kotak kaca yang satu ini. Karena kotak ajaib yang satu ini sekarang tak lagi sekedar kotak penghibur. Rasanya makin hari makin banyak orang yang membawa masalahnya ke televisi dengan harapan mendapat solusi tentu saja. Dan yang membuat saya lebih kagum adalah bahwa masalah yang mereka bawa adalah masalah pribadi, termasuk masalah yang erat kaitannya dengan ranjang. Dan si pihak televisi dengan enteng melabeli acara tersebut dengan nama reality show.

Dulu waktu pertama kali menonton reality show yang intinya pencarian orang, saya tidak heran. Karena saya pikir logis mencari orang di televisi karena toh berjuta-juta manusia di seluruh pelosok dunia menontonnya. Jadi masuk akal sekali. Tapi kemudian pikiran saya berubah karena makin lama persoalan yang ditampilkan makin pribadi. Mencari pasangan yang menghilang dan ternyata tengah berselingkuh dengan yang lain terasa jamak ditampilkan. Dan lengkap dengan aksi baku hantam antara yang 'legal' dengan yang 'ilegal'. Itu baru satu contoh, masih banyak hal 'dahsyat' yang mereka tampilkan, seperti mereka yang melakukan pekerjaan yang agak-agak 'horor', dan ayah atau ibu yang bergaul 'akrab' dengan teman dekat anaknya.

Di channel yang lain dengan jam tayang yang lebih malam, ada reality show yang juga membuat saya heran. Acara ini menampilkan suami istri lengkap dengan masalah dan beberapa anggota keluarganya. Walau ada topeng yang menutupi sebagian muka, tetap saja kemauan mereka untuk tampil membuat saya heran. Okelah saya mengerti bahwa beban masalah jika ditanggung beramai-ramai bisa lebih ringan. Dan oke juga saya mengerti bahwa adakalanya masalah perlu bantuan tenaga profesional seperti psikolog. Tapi, tindakan menampilkan masalah pribadi di layar gelas yang ditonton oleh ribuan, mungkin jutaan manusia, tetap mengherankan saya. Banyak sekali masalah dapur pribadi diungkap disana. Mulai dari soal uang yang digunakan untuk menjamin kebulan asap dapur, perselingkuhan pasangan berikut alasannya, kurangnya 'hasrat' terhadap pasangan, hingga 'room service' pasangan. Hehheheheheeheh ...... saya tak hendak menggunakan alasan 'budaya orang timur' untuk menyatakan kerisihan akan hal ini. Ungkapan itu terlalu klise dan lebih berkonotasi hipokrit menurut saya. Tapi sungguh saya risih menontonnya. Lalu saya bertanya pada diri sendiri, jika ada dalam posisi mereka yang bermasalah akankah saya datang ke televisi dengan harapan besar seperti mereka? Seorang teman bilang saya tipikal yang introvert. Ehmmmmm ...apakah berarti mereka-mereka yang datang ke televisi itu adalah mereka-mereka yang ekstrovert? Yaaaaaa ..... may be yes, may be no ...... ini jawaban versi teman saya.

Masalah. Ehmmmm ... siapa sih di dunia ini yang tidak mempunyai masalah? Tak ada manusia yang luput dari masalah, tak peduli dia sehebat Hercules atau Xena sekalipun. Saya tak akan menyangkal hal ini, lha wong kenyataannya saya sendiripun punya dan sedang terlibat masalah kok. Cuma, apa iya dengan ditayangkan di televisi dan berjuta mata menonton maka akan jadi selesai dengan baik? Atau jika ternyata masalahnya tidak selesai terus apa pihak televisinya akan bertanggung-jawab? Ahhhh, rumit amat sih mikirnya, begitu sungut teman menanggapi protes saya. Menurutnya, kalau mau ya tonton saja, kalau tidak mau ya tinggal ganti channel ..... Ehmmmmm iya ya .... gitu aja kok repot!

Sabtu, 13 Februari 2010

Jalan Dan Galah

Hari ini saya bertemu dan berbincang panjang lebar dengan seorang ibu. Dan pembicaraan kami membuat saya tercenung karena kepala saya mendadak penuh dengan satu pertanyaan besar plus kekangenan yang luar biasa kepada kedua orang sepuh yang dua minggu lalu saya kunjungi.

Sebenarnya saya mengenal ibu ini sudah sejak tiga bulan yang lalu dan setiap minggu secara rutin saya bertandang ke rumahnya karena satu urusan. Sejak pertama kali kenal kami langsung banyak bicara, hal yang agak luar biasa bagi saya karena saya bukan tipikal orang supel yang mudah akrab dengan orang lain, terlebih lagi mereka yang usianya agak jauh di atas saya (malah banyak orang mengecap saya sebagai si judes … eheheheeh). Waktu itu si ibu bercerita tentang kelima anaknya (sebenarnya enam orang, tapi satu orang meninggal ketika bayi) yang sudah dewasa dan cukup sukses di bidang pekerjaannya masing-masing. Dan si ibu, yang sekarang menjadi janda, tentu sangat bangga dengan kesuksesan tersebut sehingga bercerita segala hal dengan wajah penuh binar. Sama sekali saya tidak menganggap itu sebagai bentuk kesombongan. Sebaliknya saya anggap itu sangat wajar adanya, karena prestasi terbesar orang-tua sebenarnya adalah ketika mereka bisa mengantarkan anak-anaknya ke kehidupan yang baik, bahkan melebihi kehidupan yang telah mereka alami. Penuh semangat si ibu bercerita tentang anak bungsunya yang berkali-kali memberikan kebanggaan dengan prestasi akademiknya yang luar biasa sehingga menjadi andalan di kampusnya, sebuah institut teknologi negeri ternama di Surabaya. Sang ibu menyebutnya sebagai 'si pintar luar biasa'. Dan dalam masa kuliahnya ini si anak telah mengantongi status pegawai di sebuah perusahaan swasta sehingga otomatis biaya kuliahnya dibayar dengan beasiswa plus tambahan gaji bulanan sebagai pegawai. Si nomor lima, seorang perempuan semata wayang, saat ini mempunyai jabatan tinggi di sebuah sekolah internasional di Bali. Tiga anak laki-laki lainnya tak kalah membanggakan. Si nomor dua berkarir di sebuah hotel di Jakarta. Sukses juga. Si nomor tiga, seorang pegawai swasta, ehmmmm sukses juga. Sedangkan si sulung selain bekerja di sebuah perusahaan swasta terkenal di Surabaya juga menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Ehmmmmm..... bisa dibayangkan orang-tua mana yang tak meluap hatinya melihat keadaan anak-anak yang mereka perjuangkan sejak kecil. Lalu masih dengan wajah bersinar-sinar, si ibu berkata bahwa secara finasial anak-anaknya menjamin, terutama si perempuan semata wayang. Namun seperti banyak orang-tua lain, dia tetap bekerja, walau katanya tidak sengoyo dulu, karena tak enak hati menadah tangan pada mereka semua. Sempat saya bilang bahwa sudah sewajarnya mereka menjamin kehidupan orang yang telah menjamin kehidupan mereka di masa kecil, apalagi mereka dalam kondisi berkecukupan semua. Tapi si ibu tetap pada pendiriannya untuk tidak merepotkan anak-anaknya. Secara guyon saya bilang,”Wah ibu menghalangi anak-anak untuk berbakti membalas budi orang-tua nih ….. “ Dia tertawa. Di hari-hari selanjutnya, masih ada saja cerita tentang anak-anak yang membanggakan itu. Di sela-sela mendengarkan sering saya berpikir apakah orang-tua saya punya bahan cerita seperti itu ketika berkumpul dengan teman-temannya. Dalam hari saya agak nelangsa.

Lalu tiba-tiba hari ini saya lihat wajahnya agak mendung. Cerita mengalir dari bibirnya. Tentang seorang anak (lebih baik saya tidak sebut yang nomor berapa) yang menurutnya tidak berperilaku pantas terhadap dirinya. Si anak karena keperluan dinas mesti tinggal di Surabaya dan memilih tinggal di rumah ibunya. Sudah beberapa lama hal itu berjalan. Dan sekarang karena sang istri sedang repot dengan bayi kedua mereka, maka si anak membawa serta anak sulungnya yang nota bene adalah cucu si ibu untuk tinggal bersama sang nenek. Sampai disitu saya tidak melihat hal yang membuat sedih si ibu, karena saya bandingkan dengan orang-tua saya yang selalu sumringah ketika cucu-cucunya datang. Lalu titba-tiba munculah sang cucu. Nahhhhh disini saya baru melihat masalahnya. Ternyata si cucu manja dan cukup nakal sehingga sang nenek kuwalahan menghadapinya. Di depan saya si bocah laki-laki itu mengamuk karena suatu hal kecil dan mulai memukul menendang si nenek. Sontak saya pegang si kecil agar tidak berhasil meneruskan misinya. Dia meronta-ronta dalam pegangan saya. Saat itu anak si ibu datang melihat kelakuan anaknya. Tapi melihat dalam arti yang sebenarnya, berdiri di jarak lima meter dari saya yang kerepotan menghalangi bocah itu memukuli neneknya. Dengan nada yang cukup biasa dia bicara pada anaknya, “ Kenapa sih? Hayo berhenti!” Jujur saya mengharapkan tindakan yang lebih dari sekadar kata-kata darinya. Tapi tak terjadi. Beruntung si bocah tak lama kemudian jadi lebih tenang.

Setelah itu justru si ibu ganti yang 'bereaksi'. Dengan air mata yang turun susul menyusul dia menceritakan tingkah sang anak, alias si orang tua bocah. Mulai dari sikap sangat perhitungan terhadap setiap rupiah yang diberikan kepada sang ibu untuk mengasuh bocah yang dititipkannya, sikap pasangannya yang tak pernah mencintai ataupun menghargai ibu mertuanya, kelakuan 'membedindekan' sang ibu dengan menyuruh membereskan keperluan pribadinya (termasuk mencuci pakaian mereka, memasak, sampai membuatkan kopi), hingga mengeluarkan kata-kata kasar seperti bodoh dan menyebut sang ibu pelacur karena sang ibu cuma menikah siri dengan ayah tiri mereka.

Air mata si ibu terus susul-menyusul merambati pipinya. Sungguh nelangsa saya melihatnya. Nelangsa karena kemarin-kemarin saya cuma mendengar hal yang 'luar biasa' tentang anak-anaknya. Saya jadi mengerti bahwa kemarin-kemarin si ibu sedang melakukan apa yang oleh Pak Harto dulu disebut sebagai mikul duwur mendem jero. Artinya kurang lebih memperlihatkan hal-hal yang baik dan menutupi hal-hal yang buruk. Ahhh tipikal orang-tua.

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Demikian dulu ibu saya pernah berujar ketika saya di bangku TK. Waktu itu saya bertanya kenapa sepanjang jalan. Jawaban ibu, karena jalan itu tak pernah ada putusnya, selalu menyambung, berurai kesana kemari, tak hingga panjangnya. Lalu kenapa galah, tanya saya penasaran. Dengan lirih ibu saya menjelaskan betapa terbatasnya panjang sebuah galah. Dulu saya tak cukup paham dengan hal itu. Sekarang saya sangat paham.

Hari ini kepala saya penuh dengan pertanyaan, anak seperti apakah saya? Baikkah? Sedangkah? Burukkah? Apa yang dipikirkan oleh orang-tua tentang saya?

Ah andai cuma galahlah yang pantas untuk mengukur kasih saya sebagai seorang anak, saya berharap bisa menyambung setiap galah yang saya temui dalam hidup saya hingga panjangnya tak beda jauh dengan jalan ….....

Rabu, 27 Januari 2010

Ke Kantor

Saya termasuk orang yang terikat pada rutinitas kerja 8 to 5 dari Senin sampai Jumat. Jadi pada waktu tersebut saya adalah orang kantoran yang sibuk dengan urusan ini itu, file ini itu, bertelepon kesana kemari, bertemu si ini si itu, dan memencet-mencet keyboard komputer berjam-jam. Itulah saya sebagai orang kantoran alias karyawan. Seperti kantor lain, perusahaan tempat saya bekerja juga mensyaratkan pemakaian seragam. Cuma enaknya (bagi saya) cuma satu hari dalam seminggu kami diwajibkan mengenakan seragam. Lalu tiga hari sesudahnya boleh pakai baju suka-suka yang penting rapi. Dan sebagai penutup, di hari Jumat kami diminta untuk mengenakan batik. Yang terakhir ini baru-baru saja dicanangkan bertepatan dengan adanya klaim negeri jiran terhadap batik.

Nahhhhh .... seperti apa penampilan saya di kantor? Ehmmmmm ..... saya jadi ingat bertahun-tahun lalu ketika pertama kali bekerja. Beberapa hari sebelum hari pertama masuk kerja, saya dengan diantar kakak berkeliling toko pakaian wanita untuk mencari baju yang layak disebut sebagai 'baju ke kantor'. Maklum setelah empat tahun kuliah teknik, koleksi baju saya hanya terbatas pada t-shirt, kemeja, dan celana jins. Lalu waktu itu pilihan saya jatuh pada atasan yang modelnya seperti seperti blazer ringan dan rok selutut. Saya juga membeli sepatu perempuan yang sedikit berhak. Dannnnnnnn pada hari pertama masuk saya agak terkejut. Karena tidak semua rekan kerja saya berbaju seperti yang saya kenakan. Justru yang cenderung sudah berumur dan punya kedudukan tinggilah yang berbaju seperti saya. Sedangkan yang lebih muda cenderung santai (gaya orang proyek kata mereka) ..... aiiihhhhhh saya jadi merasa salah kostum.

Pengalaman di atas jadi merubah pola pikir saya tentang yang namanya 'baju kerja'. Sejak saat itu saya 'berbaju kantor' cuma pada saat wawancara kerja saja. First impression. Selebihnya .. ehhhmmmm .... kemeja lengan panjang dan celana panjang cukuplahhhh ..... hehehehhehehe .... Malah jika saya agak mengenal situasi perusahaan yang saya lamar, saya berani mendatangi wawancara dengan kemeja putih dan celana jins saja. Karenanya jika sedang ada tugas mewawancarai 'new comer' saya jadi sering geli kala berhadapan dengan mereka yang 'fresh from the oven', sebab rata-rata mereka berkostum rapi jali dan sibuk mengatur sikap duduk demi tampil mengesankan. Ehmmm saya tidak bermaksud mengejek atau menyalahkan para 'new comer' ini.... sama sekali tidak. Cuma jadi sering bertanya dalam hati, bakal berapa lama mereka tahan dengan kostum rapi jali? :)

Nahhhh jadilah kostum kerja saya berubah, yang nota bene semakin santai. Saya jadi berpikir bahwa pergi kerja tak ubahnya dengan pergi kuliah. Cuma saja saya menghindari pemakaian t-shirt. Jika pakai t-shirt biasanya saya menutupinya dengan cardigan atau kemeja lengan panjang. Tapi ada saatnya saya berpakaian sesuai mood dan kondisi. Jika sedang ngambek setelah disemprot boss, saya bisa datang dengan jins belel, tak peduli hari itu ada meeting dengan para atasan. Jika harus menemui tamu yang belum saya kenal sebelumnya, saya bisa datang rapi dengan celana kain dan kemeja feminin warna netral, serta sepatu perempuan. Dan jika sedang merasa norak, saya bisa saja datang dengan baju warna terang benderang yang menyilaukan mata semua orang ... ahhahahahahahaha .....

Itu semua baru baju. Lalu bagaimana dengan sepatu? Ehmmmmm .... untuk yang satu ini waduhhh maaf... saya cinta mati dengan sepatu kets. Biasanya awal-awal kerja saya mengenakan sepatu perempuan. Tapiiii begitu tahu tak ada aturan jelas mengenai sepatu, maka kets-lah yang menjadi tunggangan saya. Alasannya cuma dua : nyaman dan awet. Nyaman karena pekerjaan saya seringkali menuntut untuk banyak berjalan, terutama ketika mesti melakukan kunjungan ke lokasi produksi. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika saya masuk lokasi produksi yang penuh dengan manusia laki-laki dengan sepatu berhak tinggi yang kemayu. Disini kets lebih aman juga karena membungkus kaki saya secara cukup rapat, jadi tidak gampang terkena kotoran atau benda tajam. Sedangkan alasan kedua yaitu awet penting bagi saya. Karena kaki saya sangat boros jika berhadapan dengan sepatu perempuan. Sepatu jenis ini bisa bertahan utuh di kaki saya sekitar enam bulan saja, tak peduli berapa harganya. Sedangkan sepatu kets bisa dua tahun lebih tetap utuh. Nah kan betapa hebat perbandingannya.

Nahhhh sekarang sudah terbayangkan seperti apa saya ketika di kantor? Hehhehehehe ...... masalah ini pernah membuat bapak saya mengeryitkan dahinya. Suatu pagi ketika beliau sedang datang berkunjung, saya pamit. Bapak saya langsung bertanya mau kemana saya pagi-pagi. Dengan jengkel saya jawab, "ya ke kantorlah....". Dan ternyata keheranan bapak saya belum hilang juga. dari mulutnya terlontar, "Seperti itu mau ke kantor?" Ahahhahahahah ........

OOhhh iya, soal alas kaki saya punya alternatif lain selain sepatu kets, yaitu sandal jepit. Ahahahahahahah ...... Tapi ini bukan salah saya. Sebab kebiasaan ini mumcul karena seringnya banjir di Surabaya bila musim hujan datang. Jadi jika hujan turun saat waktu pulang kantor maka sepatu saya taruh di kantor. Sebagai gantinya sandal jepitlah yang saya tunggangi. Jadi keesokan harinya saya berangkat kembali masih dengan sandal jepit di kaki saya, Jadi bisa dipastikan dahi bapak saya akan berkerut-kerut tak karuan jika melihat anaknya dengan sandal jepit di kaki dan ransel di punggung pamitan ke kantor ..... aiiihhhhh .....

Minggu, 24 Januari 2010

Bernyanyi

Akhir-akhir ini saya agak rajin mengikuti tontonan kontes menyanyi untuk anak-anak di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Juga sempat berkirim SMS untuk mendukung salah satu kontestan yang menurut saya berpenampilan bagus. Sumpah SMS itu saya kirimkan secara sukarela, tanpa ada paksaan apapun. Lha wong saya kenal dia saja enggak ..heheheehe .... Konon menurut artikel yang pernah saya baca dulu, peserta kontes seperti ini kadang mengirim banyak SMS untuk mendukung dirinya sendiri. Tentu saja bukan dia yang langsung melakukannya karena toh dia sudah disibukkan oleh jadwal kegiatan yang katanya padat sekali. Keluarga dan orang-orang di sekitarnyalah yang membantu melakukannya. Ehmmm .... terlepas dari rumor tersebut, terusterang saya sangat salut dengan anak-anak itu. Salut dengan kualitas suaranya, salut dengan keberaniannya, salut dengan kepercayaandirinya, dan lain lain ..... Malahan menurut saya banyak dari mereka yang menunjukkan kemampuan bernyanyi di atas kemampuan mereka-mereka yang mengaku penyanyi dan sudah menelurkan album rekaman.

Jujur, saya sangat salut anak-anak itu bisa berolah suara hingga seperti itu. memang sih kadang ada juga yang terdengar agak fals di satu dua bagian atau mengambil nada terlalu rendah di bagian awal. Tapi tak terlalu fatal. Alias secara kumulatif terdengarnya baik-baik saja di kuping saya, mungkin juga bagi kuping-kuping orang lain. Dan kalaupun ada yang mengganggu, menurut saya adalah materi lagu yang mereka nyanyikan rata-rata lagu orang dewasa yang nota bene berkisah tentang cinta. Yaaaa ada sihhh beberapa kata yang diganti, cuma tetap saja bagi saya itu menunjukkan kurangnya perbendaharaan lagu anak-anak.

Nahhhhh soal menyanyi..ehmmmm aslinya saya sangat salut dengan mereka karena berkaca pada diri saya sendiri yang tidak bisa menyanyi ...hehhehehehe .... Sumpah saya tidak bisa bernyanyi. Suara saya selalu terdengar aneh jika dibuat bernyanyi. Atau jangan-jangan untuk berkata-kata pun aneh? OOOhhh tidak ..... hehhehehee ... Dulu semasa sekolah ada dua mata pelajaran yang saya takuti : olah raga dan seni suara. Di kedua mata pelajaran itu saya sungguh mati kutu. Badan saya yang dari dulu tak pernah mencapai bobot ideal tak pernah bisa diajari olah raga dengan baik dan benar. Saya tidak bisa melakukan serve dengan benar di olah raga bola voley. Tidak juga bisa menerima bola dengan baik, apalagi membuat smesh..... ahhahaha .... Tak cuma itu, saya juga tidak bisa bermain badminton, pingpong, loncat tinggi, atau bentuk olah raga yang lain. Satu-satunya olah raga yang saya bisa adalah lari ...ahahahahhaa .... tapi sungguh saya unggul dibandingkan teman-teman sekelas saya untuk yang satu itu. Tapi tentu saja jangan dipikir saya punya kemampuan seperti Marion Jones.

Kalau di olah raga paling tidak saya bisa berlari, tak demikian halnya di seni suara. Sungguh pelajaran itu menyiksa batin saya walau jatahnya cuma dua jam pekajaran seminggu. Suara saya yang aslinya sudah tak keruan menjadi lebih tak keruan ketika dalam kondisi tertekan. Saya tidak pernah bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan baik. Selalu saja saya kehabisan suara di tengah-tengah lagu. Awalanya saya pikir waktu ambil nada awal terlalu tinggi. Tapi ternyata ketika direndahkan juga tetap tidak bisa.... ahhahahahaah .... jadilah saya menyanyikan lagu kebangsaan ini dengan suara tercekik-cekik. Dan tentu saja teman-teman sekelas saya mendapat hiburan gratis. Sepanjang ingatan, saya cuma agak sukses ketika menyanyikan lagu Maju Tak Gentar dan Padamu Negeri. Untuk Indonesia Raya ...ya Allah bukan berarti saya tidak mencintai negeri ini kalau saya tidak bisa menyanyikannya dengan baik sampai saat ini. Untuk lagu daerah, saya agak sukses juga ketika menyanyikan Injit-Injit Semut. Dannnnn sebenarnya suksesnya bukan karena saya bisa menyanyikan dengan baik, tapi lebih karena saya dianggap oleh guru SD saya membawa lagu baru ke kelas. Artinya, pada saat saya kelas 5 SD teman-teman saya masih banyak yang belum mengenal lagu Injit-Injit Semut dan sayalah yang mengenalkannya kepada mereka .... hahahhahaha ..... Waktu SMP guru saya memberi petunjuk bahwa agar bisa menyanyi dengan baik saya harus membuka mulut hingga selebar tebal dua jari tangan. Tapi hasilnya bagi saya ya sama saja. Tetap saja saya menyanyi dengan suara tercekik-cekik. Dan pada masa sekolah dulu jika bisa saya akan dengan suka rela menukar dua jam pekajaran Seni Suara dengan empat jam Matematika atau Bahasa Inggris atau Fisika .... atau jika memang boleh saya akan rela menukarnya dengan dua jam mata pelajaran Kimia walaupun saya termasuk pembenci Kimia.

Ternyataaa.... ketidakbisaan menyanyi ini saya dapat dari gen bapak saya. Nahhhh ini dia masalahnya .... Konon pada masa sekolahnya dia juga mengalami hal yang mirip-mirip dengan yang terjadi pada saya. Menurutnya dia dulu cuma bisa menyanyikan satu lagu yaitu Naik-Naik Ke Puncak Gunung. Dan itupun dinyanyikannya sambil bersembunyi di balik papan tulis. Ehmmm ...sepertinya track record saya agak sedikit lebih baik ... Tapiiii jangan coba bandingkan dengan ibu saya. Percaya atau tidak ibu saya punya suara merdu yang sangat cocok untuk jenis lagu keroncong. Makanya ibu saya sempat mengeryit heran ketika saya mengadu saya tidak bisa menyanyi Indonesia Raya tanpa merasa tercekik. Tapi keheranan itu tentu saja terjawab ketika bapak saya bercerita masa-masanya menyanyikan Naik-Naik Ke Puncak Gunung di balik papan tulis ..ahhahahaha ......

Sekarang setelah lepas dari kewajiban bernyanyi malahan saya dikenal oleh teman-teman saya sebagai si pemilih untuk urusan lagu dan musik.... Menurut mereka saya sok selera tinggi karena saya menyediakan kuping saya untuk musik klasik dan jazz, dua jenis musik yang sebenarnya saya tidak banyak tahu bahkan judulnya, juga tidak banyak mengerti tapi bagi saya seringkali lebih nyaman di telinga dibanding musik lain. Jadi alasan saya cuma masalah enak di telinga saja, bukan hal-hal tinggi di baliknya. Dannnn jika menengok track record saya yang penuh dengan suara tercekik-cekik ehmmmm... memang wajar jika mereka menganggap saya sok .... ahahahahahaha ....

Terakhir, berbahagialah kalian bocah-bocah yang bisa menyanyi dengan baik tanpa suara tercekik-cekik ....

Kamis, 31 Desember 2009

31 Desember 2009

Ini hari terakhir di tahun 2009. Besok kalender sudah berganti. Tapi jujur saya malah belum menyiapkan kalender. Biasanya rekanan kantor ada saja yang memberikannya pada saya. Ooohhh baru ingat.... tempo hari seorang teman memberikan file kalender 2010 lewat e-mail. Cuma saya belum mencetaknya.

Ehmmmm ...2009 sebentar lagi lewat. Kemarin Gur Dur menandai akhir tahun ini dengan menghembuskan nafas terakhirnya. Selamat jalan Gus, semoga 'jalanmu' terang di sana. Amin. Hari ini hiruk pikuk negeri ini terutama di Jakarta dan Jombang karena urusan pemakaman Gus Dur. Penghormatan terakhir untuk seorang yang mencetuskan frasa 'gitu aja kok repot'. Ahhhhh .... sungguh Gus Dur dalam benak saya adalah selalu Gus Dur yang 'gitu aja kok repot', sementara tadi malam banyak orang tampil di televisi dengan deskripsi masing-masing tentang seorang kharismatik itu.

Banyak yang terjadi di negeri ini selama 2009. Ada dua kali Pemilu dengan segala kericuhannya hingga pelantikan pemenangnya. Ada gempa dan banjir. Ada bom di Jakarta yang membuat rombongan MU batal datang. Ada serentetan operasi terhadap mereka yang disebut sebagai teroris, lengkap dengan siaran langsung drama penggerebekannya. Ada pertarungan sengit antara cicak dan buaya. Ada pemunculan para makelar kasus yang ternyata lebih sakti daripada penegak hukumnya sendiri. Ada gonjang-ganjing uang Century. Ada rentetan kasus pembunuhan seorang Nasrudin yang menyeret beberapa pejabat negara. Ada masalah Prita lengkap dengan fenomena pengumpulan koinnya. Ada Luna Maya yang dimurka wartawan karena status di Twitternya. Ada sidang-sidang terhadap pencuri coklat dan semangka yang putusannya dirasa tak memenuhi rasa keadilan. Pnerbitan buku George Junus Adhiconndro yang menghebohkan seperti biasanya..... ehmmmmm ada banyak yang terjadi di negara ini.....

Lalu apa yang terjadi pada hidup saya selama 2009? Ahahhahahaha ..... penting enggak sihhhhhhh membuat tulisan tentang hidup saya disini? Karena saya yang menulis maka biarlah saya yang menjawabnya. Jawabannya : PENTING. Ahahhahaha ......

Ehmmmm .... di 2009, ada sebuah tulisan saya yang dimuat di sebuah media. Sebuah, tapi ini sangat menyenangkan karena ini tulisan terpanjang yang pernah dimuat di media. Dan sampai sekarang saya kadang-kadang masih membuka situs media tsb hanya untuk membaca nama saya disana. Jiahhhhhh ......

Laluuuuuu .... ada hobi baru saya di tahun ini : merajut. Nahhhh hobi baru ini cukup fenomenal bagi saya karena dulu-dulu tak pernah terbayangkan saya bisa melakukan pekerjaan tangan yang disebut merajut. Karena saya bukanlah termasuk dalam golongan mereka yang sabar dan telaten. Saya kebalikan dari mereka, alias temperamental. Jadi begitu berhasil bisa merajut wooowww... saya jadi sangat heran bisa melakoni duduk bersandar berkutat dengan haken dan benang. Sekarang malah saya berani menawarkan jasa. Tapiiii jangan salah, untuk yang terakhir ini saya melakukannya karena menemukan teman-teman yang lebih pintar merajut dibanding saya. Jadi coba tebak siapa yang akan saya andalkan jika orderan rajutan benar-benar datang? :D

Kemudian ada Azza Moslem Wear. Ini adalah satu upaya untuk mewujudkan mimpi untuk berdiri di atas kaki sendiri .. hehheehehhe .... Embrio yang merupakan hasil kerjasama dengan seorang sahabat. Saya menanamkan banyak harapan pada embrio ini. Juga banyak belajar untuk bisa terus membesarkannya. Juga satu langkah untuk membuat embrio yang lain nantinya, insyaallah ....

Dan satu keajaiban terjadi di tahun 2009 yang berupa saya akhirnya benar-benar ikut kursus menjahit. Ahahaahahah ..... bagi kebanyakan orang mungkin hal ini sesuatu yang biasa saja. Tapi bagi saya ini satu hal besar. Alasannya adalah lagi-lagi saya bukan orang sabar dan telaten yang cocok untuk kegiatan semacam ini. Tapi sungguh saya sudah menyimpan keinginan ini dari beberapa tahun lampau. Dan ini juga jadi salah satu langkah pendukung untuk cita-cita bisa berdiri di kaki sendiri. Jadiiii.... jangan kaget jika nanti beberapa bulan ke depan ada blog baru dengan judul ina dress maker atau ina tailor atau semacamnya .... ahhahahaha .... serius iniiiii ....

Satu lagi keajaiban terjadi dalam hidup saya tahun ini. Yaitu hijrahnya saya dari ina yang selalu memakai celana panjang menjadi ina yang memakai rok .....hehehhehehe ..... Sungguh seorang sahabat berjasa besar dalam hal ini karena dialah yang memberi inspirasi dan dorongan kuat. Dan jadilah sejak Ramadan kemarin saya memutuskan menanggalkan celana-celana saya dan menggantinya dengan rok panjang. Ehmmmm ... tentu saja awalnya menuai banyak komentar juga rasa canggung. Tapi persis sesuai kata teman saya, semuanya itu cuma akan sementara dan paling-paling hanya dalam hitungan hari saja. Dannnnnnn .... dradraaaaaaaaa..... sekarang saya sudah mulai merasakan nyamannya menjadi perempuan dengan pakaian perempuan.... hahhahahaha....

Nahhh... 31 Desember sekarang. Di luar saya lihat beberapa orang mulai beranjak keluar rumah yang mestinya untuk perayaan tahun baru Masehi ini. Ada juga anak kecil yang sudah meniup terompetnya. Sebentar lagi jalan-jalan akan ramai. Beberapa tahun yang lalu saya pernah keluar rumah dengan teman di malam tahun baru seperti ini. Niatnya sebenarnya adalah melihat Surabaya di malam pergantian tahun. Tapi ternyata kami tak bisa banyak bergerak karena jalan jadi sangat padat dan akhirnya menyerah dengan memilih masuk ke sebuah resto cepat saji dan tinggal di sana sampai keramaian itu reda. Malam ini mungkin akan terjadi keramaian yang kurang lebih sama dengan keramaian tahun-tahun lalu. Apalagi hujan sepertinya tidak akan turun. Mungkin nanti orang-orang di kampung saya akan keluar, menggelar tikar di depan rumah dan berbincang dengan para tetangga sambil mengudap ini itu. Yaaaa... perayaan malam tahun baru Masehi saya rasa tidak terlalu berbeda dari tahun ke tahun. Tidak pula mengejutkan. Justru yang banyak mengejutkan adalah apa yang terjadi di hari-hari sesudahnya .......