Minggu, 16 Agustus 2009

Sol....

sol,
semalam diam-diam ku bertukar rindu tentangmu dengan selembar bulan yang terus angkuh merajuk
kubilang, semua rindu tak lagi alun dan lama terus menyembilu
lalu bulan mentertawakanku
katanya, darimana kucuri rindu semacam itu?
kujawab, dari embun-embun subuh,
dari nadiku,
dari hembus nafas pertamaku,
dariMu

sol,
ku tahu waktu yang harus kutunggu
karena waktulah yang menyertaimu
takdir

sol,
satu....

Minggu, 28 Juni 2009

Tulang Rusuk atau Tulang Punggung?

Perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Ehmmmm ...betapa itu begitu lazim digunakan baik dalam tuturan ilmiah maupun sebgai lirik lagu atau larik puisi. Yaaa.... perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Tulang rusuk. Saya tak hendak memperdebatkan ini. Saya cuma mau melihat satu titik realita.

Jaman membuat peran perempuan banyak berubah. Industrialisasi. Edukasi. Ekonomi. Teknologi. Emansipasi. Entah apa lagi. Yang pasti sekarang perempuan ada di hampir semua lini. Apa yang tidak bisa dilakukan perempuan? Sekarang, dalam kondisi seperti ini, pertanyan itu tadi bukanlah jenis yang gampang dijawab. Perempuan ada dimana-mana. Perempuan bisa mengerjakan semuanya, mulai jadi pelacur, buruh, bankir, top management, sampai presiden. Walau kadang masih dipandang sebelah mata, diragukan dan dicibir, tapi tetap saja apa yang dilakukan perempuan tak lagi bisa dianggap enteng. Dan harus diakui, laki-laki mulai terancam posisinya ...... hehhehe iya enggak sehhh ....?

Nah, setelah semuanya dilakukan perempuan, terus bagaimana? Adakah yang setuju kalau saya bilang si tulang rusuk itu telah bertransformasi menjadi tulang punggung? Tentu tidak semua mengalami transformasi itu. Banyak perempuan yang bekerja demi gengsi dan sekedar mengisi waktu luang. Tapi realitasnya, tak terhitung pula yang mengambil peran sebagai tulang punggung si penopang badan. Dan itu adalah sekumpulan nyawa yang disebut keluarga.

Salahkah fenomena ini? Salah transformasi itu? Ehmmm .... perlukah dipermasalahkan, sementara hidup memang harus dipertahankan? Salah atau tidak saya tidak tahu. Tapi terus terang saya tercenung ketika seorang laki-laki bercerita pada saya bahwa istrinya sedang ke Hongkong dan dia tetap tinggal di tanah air untuk mengurus anak-anak mereka. sudah dua tahun mereka hidup terpisah seperti itu dan komunikasi dijalin lewat telepon dan internet. Sebenarnya saya tergelitik untuk melontarkan pertanyaan kepada si bapak itu kenapa istrinya yang berangkat, kenapa bukan dia. Tapi saya tak sampai hati mengeluarkan pertanyaan itu pada yang bersangkutan. Teman saya yang lain memberi jawaban yang terdengar cukup 'membela'. Kata teman saya,"ya karena kesempatan yang sedang ada adalah kesempatan untuk istrinya." Ehmmmm begitu ya .... Saya jadi teringat para perempuan-perempuan bangsa saya yang menjadi buruh migran di berbagai belahan dunia. Mereka yang dijuluki pahlawan devisa. Mereka yang sering mengalami nasib naas di negeri orang. Mereka yang bisa menjadi obyekan petugas-petugas di bandara saat pulang. Ahhh .... rasanya saya jadi kurang rela dengan jawaban teman saya tadi. Tapi teman saya berargumentasi lagi. Katanya,"dalam satu keluarga pasti ada kesepakatan, nah kebetulan ini kesepakatannya adalah istrinya yang berangkat karena kesempatan untuk dia yang ada. Sedangkan si suami tinggal. Ingat, ada mulut-mulut yang harus diberi makan." Ehmmmm ...gitu ya ......

Ya, benar kata teman saya tadi. Bahwa ketika ada hidup yang harus dipertahankan dan ada mulut-mulut yang harus diberi makan maka transformasi dari tulang rusuk ke tulang punggung terjadi. Itulah realitas. Soal salah atau tidak, tak lagi cukup penting untuk dipermasalahkan. Sebab ada hal yang dirasa lebih penting untuk diurus dan diutamakan : hidup.

Dan adakah hidup yang membuat tulang rusuk bertransformasi menjadi tulang punggung?



Jumat, 22 Mei 2009

Kesehatan, Persahabatan, dan Umur

Tiga minggu penuh Allah SWT mengajarkan kepada saya tentang kesehatan, persahabatan, dan umur. Lewat seorang sahabat yang terbaring sakit Allah menunjuk.

Awalnya saya tak berprasangka ketika satu Sabtu pagi sahabat mengirim pesan singkat, kabar bahwa dia sedang dirawat di sebuah rumah sakit. Siang itu juga saya pergi menengoknya. Saya terkejut. Yang saya temui adalah tubuh kurus yang tak banyak daya. Padahal dia adalah seorang yang saya kenal sebagai pribadi yang aktif, supel, energik, dan cerdas bertahun lalu. Apa yang terjadi, tanya saya dengan air mata yang nyaris jatuh. Sahabat bilang, dia terlalu banyak aktifitas hingga urusan kesehatan agak terbengkalai, jadi levernya menjadi korban. Saya tercenung, teringat kecerewetan ibu saya saat mengingatkan untuk makan teratur. Kecerwetan yang biasanya saya pungkas dengan kalimat "iya...ngerti ..saya kan sudah bukan bayi yang tidak bisa urus diri sendiri ...." Pelajaran pertama.


Sepulang dari sana saya berpikir betapa mahalnya menjadi sakit. Betapa tak ada harganya uang ketika sakit menyerang, karena yang diperebutkan adalah nyawa. Lalu sahabat lain yang tinggal nun jauh disana tiba-tiba menelepon. Dan ide yang disampaikannya pada saya membuat saya berpikir betapa cerdasnya dia dan betapa bebalnya saya. Sahabat ini berinisiatif mengabarkan sakitnya sahabat kami ke sahabat-sahabat yang lain agar sama-sama berdoa dan membantu. Dengan bodoh saya bertanya "akankah mereka mau menyisihkan sebagian hasil keringat untuk membantu?" Dia menukas "percaya saya, pasti banyak yang peduli!" Ahhhh .... lihat hinanya saya ketika meragukan nurani sahabat-sahabat yang lain. Lalu kami mulai bergerilya, berkabar kepada banyak sahabat lewat SMS, Facebook, e-mail, chatting. Dan saya memang layak percaya pada sahabat saya. Tumpah ruah air mata saya ketika sahabat-sahabat merespon dengan sangat cepat kabar kami. Perhatian, doa, dan bantuan mengalir di luar prediksi saya. Dengan bukti respon seperti itu pikiran saya bahwa tak akan ada yang peduli terpatahkan sudah. Saya malu. Maafkan saya, sahabat-sahabat. Betapa saya nyaris tak ingat bahwa ada banyak hati nurani dalam diri sahabat-sahabat, tak peduli berapa lama tak bersua. Pelajaran kedua.

Lalu di depan mata saya, sahabat saya mengalami masa kritis. Tak ada yang bisa saya lakukan kecuali menangis dan ling lung. Dan betapa dalam ling lung itu saya lupa bagaimana memanjatkan doa. Saya cuma pintar mematung sambil terisak. lalu saya teringat sahabat-sahabat. Merekalah yang saya minta berdoa karena saya tak mampu. Beruntung hari itu saya tidak perlu menyaksikan yang lebih buruk. Lima hari kemudian kembali saya menengoknya. Dan rupanya tak ada daya yang tersisa dari sahabat saya. Saya tercenung menangisi kemudaannya. Betapa waktu begitu cepat berjalan, tanpa banyak jejak, tanpa banyak rasa pula. Kemarin-kemarin saya tidak menghitung umur. Tapi hari itu saya berhitung dengan miris. Tapi umur adalah rahasiaNya. Kita cuma tahu pertanda. Dan dalam pertanda itupun seringkali masih ada mukjizat kuasaNya. Saya berharapNya menimbang kemudaan sahabat saya. Tapi Dia menunjukkan lain. Sore ini sebuah pesan singkat membuat tangis saya pecah. Dia mengambilnya, di umur yang belum genap 34 tahun. Begitu pendek. Atau sudah cukup panjang menurutNya? Ahhh ..... itu kuasaNya. Pelajaran ketiga.

Life is too short. Katanya begitu. Mungkin benar, mungkin tidak. Panjang atau pendeknya relatif. Tapi dalam hidup ada banyak hal pastinya. Kesehatan. Persahabatan. Umur. Tiga minggu saya belajar itu. Dan dalam sedih itu saya mulai menyadari benang merah yang ditarikNya.

Minggu, 03 Mei 2009

diam

bukankah sudah kukatakan padamu berulang bahwa rasa selayak bongkah kapur barus, menghablur, menukar massa dengan kabut.
dan bukankah sudah kau pahami bahwa waktu adalah sesuatu yang menggerus ? membubukkan raksasa, membungkam ada

sementara yang kau punya hanyalah renik tak daya

rasa,
waktu

diam.



surabaya, 3 mei 2009 untuk sang hujan

Minggu, 26 April 2009

Tas Rajut ....(Lagi)


Ehmmmmm .... satu produk hasil ketrampilan tangan ...tapi bukan tangan saya, melainkan tangan teman saya, teman yang tempo hari saya sebut sebagai duo dalam hal rajut merajut (karena sama-sama sedang keranjingan). Nahhhhhh ...tolong disimak ... barangkali ada yang berminat, bisa hubungi saya. Murah kok .......boleh pesan warna lain juga kalau memang kurang cocok dengan warna yang ada ....

Sabtu, 25 April 2009

Berbagi Daya

Krisis ekonomi global. Begitu kata para orang pintar, yaitu mereka yang paham ekonomi makro dan mikro lengkap dengan segala macam variabelnya. Mereka dengan lugas dan intelek menjabarkan arti rangkaian tiga kata itu. Sedangkan bagi saya uraian mereka tergolong hal yang tidak terlalu mudah untuk dipahami. Jadi yang 'nyantol' di otak saya hanya bahwa kondisi ekonomi sedang susah, nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar sehingga semua barang melambung harganya. Kalau kondisi susah maka perusahaan akan susah juga untuk meningkatkan penjualan sehingga imbasnya akan langsung pada orang-orang semacam saya yang menggantungkan hidup dari kegiatan usaha yang dijalankan sang juragan. Bentuk imbasnya bisa macam-macam, mulai gaji tidak naik (sedangkan harga barang konsumsi semuanya naik), sampai pemutusan hubungan kerja. Ehmmmm ..... dan jujur sebagai karyawan sungguh saya merasakan bahwa dunia usaha tidak sedang dalam kondisi baik. Sedangkan begitu banyak hidup yang harus dipertahankan. Ehmmmm .....

Tapi kesulitan sungguh obat mujarab untuk membuat manusia giat berusaha. Lihat sekitar kita. Coba hitung berapa jumlah usaha kecil yang ada di sekitar rumah. Di lingkungan saya ada paling tidak ada 6 penjual pulsa telepon genggam, 2 depot air isi ulang, 2 warung kopi, 2 salon, lebih dari 7 warung penjual sembako, 4 warung makan, 1 laundry, 1 tempat bilyard, 1 wartel, 1 toko bahan bangunan, 1 distro kecil, dan 1 warnet. Semua itu belum termasuk para penduduk sekitar yang berdagang keliling dengan gerobak atau semacamnya. Jadi saya pastikan orang-orang disekitar saya sedang sibuk bergulat dan berikhtiar demi hidupnya, tentu dengan caranya masing-masing. Dan entah berapa rupiah yang berputar di semua usaha kecil itu.

Dunia sedang susah. Tapi ada hidup yang harus diteruskan. Ketika bentuk usaha besar tak lagi mampu menyerap tenaga kerja, maka usaha kecil adalah jawabannya.
Karenanya mari berbagi daya secara sederhana. Maksud saya, mari saling menghidupi. Jadi ketika ada warung sembako di sebelah rumah, kenapa harus berkendaraan ke supermarket besar nun jauh di sana? Mungkin saja hara barang lebih murah, namun bukankah ada biaya tambahan untuk sampai kesana? Dan dengan tambahan biaya itu maka bukanlah harga barang tak lagi semurah sebelumnya? Dengan berbelanja di warung sebelah maka kita sudah berbagi daya dengan tetangga sebelah. Dan jika saja berbagi daya ini dilakukan banyak orang di lingkungannya masing-masing bukankah akan hebat hasilnya?

Berbagi daya. Terus terang itu cara yang realistis dan masuk akal bagi saya. Jadi bagaimana kalau mulai hari ini amati lingkungan dan mulai berbagi daya? Rasanya tidak akan ada ruginya karena toh kata orang bijak salah satu hakekat hidup adalah untuk berbagi. Ehmmmmm ......tinggi ya filosofinya ...tapi tak perlu dipikirkan setinggi itu ....Yang penting, mari berbagi daya. Setuju?

Kamis, 16 April 2009

Pesta Atau Dagang?

Pemilu katanya pesta demokrasi, katanya pesta rakyat. Jadi tanggal 9 April tempo hari seluruh rakyat Indonesia berpesta. Merayakan apa? Merayakan demokrasi, mungkin. Yang pasti sebelum tanggal tersebut, begitu banyak manusia-manusia berbudi luhur dimana-mana, termasuk di televisi dan sekitar lingkungan hidup saya. Ada yang mengirim pasir, batu, dan semen untuk perbaikan jalan desa. Ada yang memberikan pelayanan kesehatan gratis. Ada yang jadi senang 'cangkrukan' jajan bakso bareng warga kampung. Ada yang memberikan televisi untuk pos keamanan. Ada yang merelakan lahannya dijadikan pasar pagi. Ada yang dengan riang memberikan bantuan alat musik untuk kegiatan kampung. Ada yang jadi rajin bertamu dari satu rumah ke rumah yang lain. Di televisi tak kalah ramainya. Banyak orang berbicara dengan mimik penuh perhatian dan sungguh-sungguh betapa mereka cinta dan akan berbuat semua hal baik untuk negeri dan rakyat ini. Tiap hari mereka berdebat, berusaha menunjukkan pada pemirsa yang satu lebih berbudi dari yang lainnya. Dan kadang saking ramainya perdebatan itu sampai-sampai host-nya malah tidak kebagian waktu bicara sehingga perlu berkata "boleh saya bicara?" berkali-kali hanya untuk membuat mereka semua diam sejenak dan mendengarkan orang lain. Nah ..... kalau sekarang saja mereka susah mendengarkan orang lain, apalagi nanti .....

Sekarang satu tahapan pesta sudah berakhir walau dengan carut marut yang konon tak karuan. Dan itupun masih ditambah dengan tingkah aneh-aneh dari para caleg yang tidak dapat suara cukup. Ada yang menarik kembali televisi yang sudah diberikan. Ada yang menutup lahan pasar. Ada yang stress sehingga membuat keluarganya melarikan ke paranormal terdekat. Ada yang malah meninggal karena shock dan kecewa. Ehmmmmmm .........

Jadi sebenarnya apakah ini benar pesta? Pesta yang menelan korban? Pesta yang cuma keriaan sementara dan beberapa saat kemudian kembali ke realitas bahwa rakyat ya tetap saja rakyat, yaitu obyek penderita. Jadi kalau sudah begitu apa yang dirayakan?

Seorang teman menjawab dengan cepat ketika saya bertanya apakah dia menggunakan hak contrengnya tempo hari. Dia bilang, "Jelasssss ...saya kan warga negara yang baik. Lagian kan saya kepengen tahu rasanya salah pilih ..." Sebenarnya awalnya saya merasa tertohok oleh kalimat pertama dari jawabannya, karena saya tidak bernapsu untuk melakukannya sehingga memilih untuk mengerjakan side job di hari H pesta akbar itu. Tapi setelah mendengar kalimat kedua, saya jadi tidak terlalu merasa berdosa. Salah pilih. Ehmmmmm ....... hebat ya teman saya itu. Dia bisa dengan legowo menerima kenyataan bahwa mencontreng nyaris identik dengan salah pilih tapi tetap bulat menunaikan haknya. Kanapa para caleg itu tidak bisa bersikap sama seperti teman saya? Oooohhhhh ... karena teman saya tidak keluar modal, sedangkan para caleg itu semua keluar modal, banyak pula. Ya ya ya ....... Tapi siapa juga ya yang suruh bagi-bagi uang, kaos, dan pasang iklan diri?


Menurut saya, ini sebenarnya bukanlah pesta. Mungkin baru suatu saat nanti akan bisa jadi pesta, ketika rakyat sudah benar-benar mengerti apa itu demokrasi, ketika caleg benar-benar sadar bahwa menjadi anggota lembaga legislatif itu bukanlah profesi dimana dia bisa menarik untung sebesarnya, ketika KPU benar-benar tahu apa yang harus dilakukan, ketika partai sepakat bahwa pengabdian pada bangsa dan negara bukanlah jargon omong kosong semata, ketika ........... , ketika ........., dan entah berapa ketika lagi.....


Jadi, sementara ini belum bisa dilabeli sebagai pesta demokrasi maka bagaimana kalau kita labeli saja sebagai dagang demokrasi?