Sabtu, 26 Juli 2014

BAJU BARU

Lebaran sebentar lagi tiba. Kemarin ketika lewat pertokoan terlihat jelas betapa toko yang penuh pengunjung adalah toko pakaian dan emas. Dari dulu selalu begitu. Lebaran identik dengan baju baru yang melekat di badan. Sementara perhiasan emas dimaksudkan untuk melengkapi penampilan dengan baju baru itu. Jujur saya termasuk yang sinis memandang kebiasaan soal emas itu sebagai hal pamer yang tak bermanfaat. Ah sudahlah, biar saja, toh apa urusan saya wong mereka beli juga pakai duit mereka sendiri.

               
Nahhhh kalau soal baju baru lain soal. Saya tak memandang miring hal itu kendati suka jengkel juga pada mereka yang memaksakan diri demi sehelai baju baru. Saya sendiri bukan termasuk yang mewajibkan diri pakai baju baru di hari lebaran. Dulu di masa kecil, berlebaran tanpa baju baru sungguh hal lumrah yang sering berulang. Tapi tetap saya mengingat momen ketika baju baru itu hadir. Saya ingat sekali ibu beberapa kali memesankan baju kembar untuk saya dan kakak perempuan. Salah satunya berwarna hijau yang hampir seperti hijau botol dengan motif polka dot putih. Modelnya rok terusan lebar yang panjangnya sedikit di atas lutut, berlengan pendek gembung dan ada pecah model di bagian dada. Itu salah satu baju favorit saya. Dari sekian kali event kembar dengan kakak, hanya rok hijau polkadot itu yang sampai sekarang masih saya ingat.

Lalu datang masa ketika baju baru adalah sesuatu yang tak selalu datang bersama Lebaran. Waktu itu dimulai ketika saya kisaran Sekolah Dasar. Baju Lebaran tak datang tiap tahun, lebih sering absennya. Dan kalaupun datang sering mepet sekali hadirnya. Pernah ibu baru menggiring kami ke toko pakaian di malam takbir. Tentu bukan hal yang menyenangkan karena malam tersebut toko pakaian luar biasa penuh sehingga susah untuk memilih dan juga sisa stok yang ada juga sudah terbatas. Dan keesokan harinya saya mengenakan baju baru tanpa dicuci ataupun disetrika terlebih dahulu. Terus ada lagi satu fenomena yang mengingatnya ketika dewasa membuat saya trenyuh. Fenomena mengkredit baju lebaran. Yessss .... sampai sekarang sebenarnya masih ada fenomena tersebut. Saya ingat ibu membelikan kami baju lebaran dari tetangga yang menjual baju anak-anak secara kredit, alias mengangsur. Saya ingat betul rok saya yang berwarna merah muda bergaris putih dengan gambar tokoh Disney termasuk dalam fenomena tersebut. Dan keesokan harinya ketika bersalam dengannya, si penjual yang notabene tetangga memuji saya tampak cantik dengan baju itu.... Malu sebenarnya karena waktu itu saya sudah cukup umur untuk mengerti baju yang saya kenakan belumlah lunas.

Menginjak masa remaja, baju lebaran semakin jarang datang. Malah bisa dibilang nyaris tak pernah datang. Tapi kami menganggap itu hal lumrah, hasil seringnya berlatih di masa lalu.... hehehehhe..... Malah saya mulai menganggap kebiasaan berbaju baru di hari lebaran sebagai hal kekanak-kanakan yang tak penting. Saya malah cenderung menolak ketika akhirnya ibu ada dana untuk baju baru di akhir Ramadan. Alasannya apalagi kalau bukan malas berdesak-desakan di toko pakaian lalu mengantri di kasir cuma demi sehelai baju baru. Dan ternyata kemalasan itu berlanjut sampai sekarang. Tak pernah rasanya punya keinginan kuat untuk membeli baju baru untuk lebaran, bahkan ketika dompet penuh dengan uang THR sekalipun. Saya justru cenderung menghindari toko pakaian. Kalaupun terpaksa harus mengantarkan teman ke mall untuk keperluan itupun saya tetap tak tertarik untuk ikut membeli. Malah jadi muak melihat antrian yang mengular di depan kasir. Alhasil lebaran saya tak pernah identik dengan baju baru. Seorang teman pernah bertanya apa susahnya membeli sehelai baju untuk memberi penghormatan pada sebuah lebaran? Ehmmm.... iya ya, apa susahnya coba? Toh kalau niat juga bisa dibeli di awal-awal Ramadan agar tak perlu ngantri dan desak-desakan. Tapiiii.... kok tetap saja saya tak tergerak ya....? Saya selalu saja merasa cukup puas mengenakan baju lama yang ada. Kadang datang juga omelan dari ibu. Tapi ya bagaimana lagi wong nggak kepengen?

Eh tapi tahun ini saya beli baju baru lhoooooo.... Sehelai kemeja. Belinya di online shop. Jadi tak perlu berdesakan dan mengantri. Bayarnya juga cash pakai transfer, tidak ala-ala mengangsur. Tapi setelah membayarnya saya berdoa semoga kemudahan tersebut tak membuat ketagihan pengen baju baru terus.......
               
Eid Mubarak, everyone :D
Mohon maaf lahir dan batin. 

Rabu, 18 Juni 2014

World Cup 2014 dan Robot

Saya bukan murni penggemar sepak bola. Tapi World Cup selalu jadi event sepak bola  yang lebih istimewa bagi saya, dibanding dengan aneka liga klub. Karena menurut saya dalam World Cup tidak ada belanja pemain seperti yang bisa dilakukan di liga klub. Kalau di liga klub saya meyakini bahwa kemenangan tidak cuma ditentukan oleh kepiawaian pelatih dan pemain saja, tapi juga oleh seberapa kaya kocek klub. Klub yang kaya dengan gampang bisa berburu pemain yang sedang mencorong untuk mengisi posisi-posisi dalam lini permainannya. Juga bisa membayar pelatih yang berkualitas nomor satu untuk meramu permainannya. Duit berpengaruh besar. Lihat saja klub-klub kaya seperti Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Chelsea, dan sebagainya. Lihat bagaimana serunya bursa transfer pemain. Hitung saja berapa triliun uang yang bermain di dalamnya. Klub kaya tentu lebih berpeluang dibanding klub yang pas-pasan.


Hal yang berbeda di World Cup. Pemainnya ya seadanya saja karena dibatasi oleh identitas asal. Kalaupun ada belanja pemain, paling banter bentuknya naturalisasi. Dan belum tentu juga pemainnya bersedia dinaturalisasi. Paling banter lagi membayar tim pelatih yang kompeten untuk memoles sumber daya yang ‘seadanya’ itu. Memang masih bisa saja satu tim negara bertabur bintang. Sebut saja Inggris, Spanyol, Jerman, dan Italia. Tapi banyak juga yang bintangnya cuma satu dua, atau malah tak ada sama sekali. Justru disini menariknya. Yang bertabur bintang bisa saja malah tidak berhasil padu karena banyak ego yang tak takluk. Akhirnya malah pulang awal. Di sisi lain ada juga yang bintangnya satu dua atau malah tak ada bisa berhasil jadi kuda hitam karena polesan dan kerjasama yang oke. Tapi ada juga bintang yang jadi tak bersinar karena sumber daya sekelilingnya tak cukup mampu mengimbangi. Atau sebaliknya, pemain yang bukan bintang karena mungkin nasionalisme dan patriotisme tinggi jadi bersinar karena mati-matian membela bendera negaranya. Menarik kan?


Dan, tahun ini saya sangat menantikan gelaran World Cup 2014. Sungguh, saya yang bukan murni penggemar sepak bola ini menantikannya dengan sangat tak sabar, lebih dari World Cup-World Cup sebelumnya. Dari awal-awal tahun saya sudah berharap Juni segera datang. Berharap dengan hati penuh kemuakan. Ya, kemuakan akan politik. Tahun 2014 yang juga tahun Pemilu Indonesia ini sungguh memuakkan saya. Kalau sekedar mencoblos tentu tak membuat saya begitu mual. Tahun ini lain. Kampanye politik sangat aktif memanfaatkan dunia maya, masuk ke segala macam lini termasuk media sosial. Dan ironisnya materi kampanyenya tak berkualitas, terlebih ketika masuk ke Pilpres. Sudah materi tak berkualitas masih ditambah dengan penyampainya yang tak berkualitas juga. Lihat saja, semua intinya adalah menjelek-jelekkan kubu lawan, dengan data yang entah datang darimana dan entah bagaimana kebenarannya. Saya yakin tujuannya adalah menarik massa mengikuti pilihan mereka. Tapi mungkin mereka semua lupa bahwa yang punya otak dan hati tak cuma rombongan mereka saja. Semua orang bisa berpikir dan merasa. Dan sampai disini kampanye dengan cara menjelek-jelekkan seperti itu bisa saja jadi tak efektif.


Kondisi Pilpres 2014 menurut saya diperparah dengan adanya simpatisan-simpatisan militan yang cukup puas dan percaya dengan apa yang didoktrinkan oleh elit parpol. Simpatisan robot ini banyak sekali ditemukan di sosial media. Mereka cuma meng-copy paste apa yang disuruhkan oleh elite parpol. Men-share link-link yang isinya ya itu-itu saja. Lalu mendebat tak karuan siapa saja yang punya pemikiran berbeda. Lihat bagaimana mereka membela jagoan masing-masing seakan jagoan itu adalah orang suci yang sempurna. Mereka membeberkan data-data yang tentu saja pasokannya dari parpol. Data-data yang saya yakin mereka sendiri tak pernah tahu validitasnya. Menyedihkan sekaligus menjijikkan karena para robot itu benar-benar lupa bahwa ini adalah politik. Apapun bisa terjadi dalam politik. Sekarang lawan, besok bisa jadi kawan; demikian sebaliknya. Hal benar bisa diplintir jadi salah. Hal salah bisa dipoles penyampaiannya sehingga jadi seperti benar.


Jujur saja, saya sering kasihan melihat para robot militan ini. Rata-rata mereka bukanlah termasuk jajaran elit parpol yang ikut menggariskan kebijakan. Mereka adalah lapisan terluar dari jajaran parpol yang pasti tak akan mendapat panggilan jadi menteri atau dubes jika jagoannya menang. Tapi lihat bagaimana mereka berjibaku membela, sampai menghilangkan nalar dan hatinya. Bagaimana tidak disebut menghilangkan nalar dan hati kalau jelas begitu patuh disuruh menyebarkan materi yang menjelek-jelekkan orang. Tidakkah mereka berpikir bahwa jika materi itu salah berarti fitnah? Tidakkah mereka berpikir bahwa data itu perlu divalidasi kebenarannya sebelum diwartakan? Tidakkah mereka berpikir bahwa mereka hal yang benar harus diperjuangkan dengan cara yang benar juga? Tidakkah mereka berpikir bahwa para elit parpol bukanlah orang suci sempurna yang benar dalam segala tindakannya?


Melihat para robot berjibaku terutama dalam kampanye saling menjelekkan ini jujur selalu membuat saya tertawa. Ya, saya harus bilang saya mentertawakan kebodohan mereka. Lihat panggung politik bangsa ini. Bersihkah? Sempurnakah? Tanpa manuverkah? Tanpa kongkalikongkah? Dilakoni oleh para malaikatkah?  Halooooooooo Robot, gunakan akal dan hati, dongggggg..... !


Satu hal yang saya nantikan adalah hasil akhir dari ini semua, siapa yang keluar sebagai pemenang. Lalu apa yang terjadi setelahnya. Mari kita lihat apakah kubu yang kalah akan ada yang menyeberang, berintegrasi dengan sang pemenang, yang artinya menjilat ludah sendiri. Hal yang sangat mungkin terjadi dalam politik. Karena ujung dari politik adalah kekuasaan. Lihat sejarah politik bangsa ini, niscaya akan terpampang jelas bagaiman parpol dan elitnya bermanuver dengan segala cara demi terangkul pemegang kekuasaan. Dan sejarah membuktikan menjilat ludah bukan hal yang tabu dalam politik. Jika ada yang seperti ini apalagi yang akan didoktrinkan kepada para robot untuk jadi alasan yang heroik? Dan pertanyaan selanjutnya, apakah para robot yang aslinya manusia itu tetap tak tergugah akal dan hatinya?


Jadi, World Cup 2014 ibarat oase bagi saya. Sungguh saya berharap agar perhatian banyak orang teralihkan ke sepak bola saja. Sehingga dagangan politik tak lagi cukup laku. Biarkan saja semuanya basi di luar lapangan. Agar para robot dan tuannya tahu bahwa untuk membuat laku dagangan mereka tak perlu dengan menjelek-jelekkan kompetitor dengan begitu sengit. Lebih jauh lagi agar semuanya punya waktu untuk berkaca betapa tak ada manusia sempurna yang bisa dipilih untuk memimpin negeri ini. Yang ada tetaplah manusia biasa. Dan justru ketika manusia biasa itu tak pongahlah maka dia bisa menjadi pemimpin yang baik.



SO, IT'S FOOTBALL TIME, ROBOT !

Selasa, 27 Mei 2014

Tribute to Dolly

Dolly bakal segera ditutup. Pemkot Surabaya serius dengan hal itu dan penutupannya bakal dilakukan pada tanggal 19 Juni 2014. Aihhhh... tepat di hari ulang tahun saya. Mungkin karena itu saya jadi merenungkan kabar itu lebih dalam.

Bulan Agustus 2013 saya menuntaskan masa 12 tahun tinggal di Surabaya. Yes, 12 tahun. Masa yang tak terlalu pendek tapi juga tidak panjang. Paling tidak tak cukup panjang untuk mengenal Surabaya sampai ke akar-akarnya. Tapi cukup untuk mengenali searea Dolly, area prostitusi yang kabarnya terbesar se-Asia Tenggara itu. Dolly adalah nama gang yang padat dengan perumahan. Sementara nama area yang lebih luas adalah Jarak. Selama 12 tahun saya tinggal di tiga rumah kos di daerah Sukomanunggal yang tak jauh-jauh amat dari Dolly dan Jarak. Posisi itulah yang sering kali dijadikan alasan oleh teman-teman, seakan itulah satu-satunya akses jalan menuju kos saya.

Saya sendiri pertama kali melewatinya kisaran dua minggu setelah ngekos. Seorang teman yang motornya saya tumpangi melalui ruas jalan itu tanpa memberi-tahu sebelumnya, kecuali meminta saya menurunkan kaca helm. Sekejab kemudian saya terkagum-kagum dengan pemandangan rumah berkaca-kaca dengan para perempuan yang rata-rata mengenakan rok mini, gincu merah, dan alas kaki tinggi duduk berderet-deret. Sementara para laki-laki berkeliaran di jalan, sebagian menontoni para perempuan itu, sebagian yang lain menunjuk-nunjuk mereka dengan mata berkilat sambil berteriak, “Mampir, Bos?”. Tak hanya rumah berkaca, ruas jalan itu juga di sesaki dengan aneka klab yang dari jalan sudah terdengar hingar-bingar musiknya. Loggo merk minuman beralkohol ada dimana-mana. Juga rombong penjual obat dengan tempelan stiker merk kondom. Ruas jalan itu sibuk luar biasa. Kendaraan harus merambat. Begitu sampai di kos dengan senyum tengil teman saya berkata, “Sekarang kamu sudah tahu Dolly. Welcome to Surabaya.” Jadi itukah Dolly? Katanya sebenarnya kami tadi cuma melewati mulut gang terkenal itu. Jadi itu tadi masih area sekitar mulut gang kondang itu saja. Nah klo masih di mulutnya saja seperti itu, terus bagaimana di dalam gang Dolly sebenarnya? Tawa teman saya berderai-derai lalu pergi setelah mewanti-wanti untuk tidak pernah melewati jalan itu sendirian.

Itu bukan kali terakhir saya melewatinya. Selanjutnya saya jadi sering melewatinya, tak sendirian tentu saja. Awalnya karena teman yang asal Jakarta minta ditunjukkan, akhirnya kami jadi sering iseng melewatinya, sekedar untuk melihat perbedaan suasana siang, sore, dan malam. Siang sepi, mungkin pada tidur menyimpan tenaga. Agak sore mulai tampak yang duduk-duduk santai di teras, tentu masih belum dalam kondisi sedang ‘bertugas’. Wajah-wajah mereka masih pucat tanpa pulasan warna. Rambut diikat seadanya. Baju juga masih pakai baby doll atau celana pendek. Tampak tak jauh beda dengan perempuan lain. Mungkin gestur dan sorot mata yang agak beda. Satu kali teman saya menyetir sambil menontoni satu orang yang tengah menumpang becak dengan celana pendek dan singlet longgar. Merasa diperhatikan, si cantik langsung mengirimkan kerlingan menggoda yang membuat teman saya kontan blingsatan tak keruan.Oh iya, soal makelar yang berfungsi sebagai sales di Dolly menurut saya cukup unik juga. Mereka para laki-laki yang menyambut pengunjung, menawarkan para perempuan di balik kaca. Mereka yang mempromosikan. Dan tentu saja mereka dapat komisi untuk pekerjaan itu. Awal-awal dulu saya lihat para 'pager bagus' ini tidak menggunakan dress code tertentu. Tapi kemudian terakhir-terakhir saya lewat mereka mengenakan baju batik, rata-rata lengan panjang, persis seperti mau menghadiri kondangan. 

Surabaya setahu saya tak cuma punya Dolly. Masih ada Moro Seneng yang biasa diplesetkan jadi 'Morse', juga Kremil yang suka diguyonknan sebagai 'Kremlin'. Selain itu ada area pekuburan Kembang Kuning yang menurut saya realatif lebih horor daripada yang lain. Bukan lokasi pekuburannya yang membuat saya ngeri, tapi karena mereka yang menjajakan diri relatif berumur, dan konon tempat praktiknya pun di antara nisan-nisan itu. Lalu ada juga 'perdagangan bebas' di daerah tengah kota (seputaran jalan Panglima Sudirman). Pemandangan perempuan-perempuan berdiri di trotoar atau di boncengan motor makelar adalah hal lumrah ketika malam menjelang. Lalu akan ada mobil-mobil yang melaju pelan, merepet ke trotoar, untuk apalagi kalau bukan memilih mangsa.

Itulah Dolly di mata saya. Tak spesial, cuma sekedar iseng-isengan. Sementara kenyataannya begitu banyak jiwa yang menggantungkan hidupnya pada perputaran uang di daerah itu. Tak hanya germo, pelacur, dan makelarnya. Tapi juga para tukang  parkir, buruh cuci, pedagang, dan entah profesi apalagi yang yang terkait. Karena itu ada gerakan menolak penutupan lokalisasi itu. Gerakan yang pasti sangat mudah untuk disalahkan. Toh jelas-jelas prostitusi itu tak ada dalil pembenarannya. Ya, mereka hanyalah orang-orang yang merasa terancam terenggut zona nyamannya.

Sangat mudah bagi orang-orang tak terlibat seperti saya untuk mendukung penutupan Doly. Bagi saya esensinya adalah adanya tubuh-tubuh yang ditransaksikan diluar kehendak. Ada yang diakui atau tidak tengah dirudapaksa. Alasan kebutuhan memang susah untuk ditolak. Tapi tetap saja tak ada perempuan yang dengan enteng mengangkangkan kakinya dan mengijinkan sembarang laki-laki memasuki tubuhnya. Yang begitu normalnya selalu butuh konektivitas perasaan. Tak sekedar kebutuhan akan rupiah. Bayangkan jika diri kita sendiri yang harus melayani sepuluh orang dalam semalam. Sepuluh orang yang tak dikenal. Sepuluh orang aneka rupa. Sepuluh orang aneka perilaku dan karakter. Sepuluh orang aneka bau, aneka keringat. Betapa horornya suatu malam jika yang dilayani adalah orang-orang kasar, berwajah menyeramkan, berbau badan, berbau mulut, kotor, dan entah apalagi. Membayangkan itu saja rasanya sungguh ngeri. Sementara itu hal yang pasti dialami oleh perempuan-perempuan itu. Belum lagi pembagian hasil yang tak adil yang membuat mereka susah lepas dari lingkaran. Tambah lagi di luar sana tak pernah ada posisi mulia untuk profesi itu. Yang ada cuma cibiran dan caci maki.

Ya, mereka adalah perempuan-perempuan yang menggerakkan roda perputaran uang dengan selangkangannya. Tak banyak yang peduli bagaimana rasanya. Saya tak hendak menyalahkan mereka-mereka yang terhidupkan dari gerakan selangkang itu. Cuma mungkin kini saatnya mereka melihat dari sisi yang lain, dari sisi si pemilik selangkang, sebelum mengatakan bahwa menolak penutupan Dolly adalah harga mati.  

Rabu, 30 April 2014

Sarang

Yesssssss.... itu rumah saya. Ehmmmm sudah boleh belum ya disebut milik saya sementara cicilannya masih harus ditempuh sembilan tahun lagi? Aih aih.... masih lama. Berarti bisa dihitung deh aslinya berapa persen darinya yang sudah saya lunasi .... hehehehhe ....

Memang saya termasuk kategori yang terlambat dalam hal kepemilikan rumah. Beberapa teman begitu selesai kuliah dan dapat kerja kantoran langsung memutuskan untuk mengambil KPR, tak peduli gajinya cuma cukup untuk perumahan di pinggiran kota. Sementara saya saat itu lebih menikmati euforia punya uang sendiri dengan membeli buku dan makanan yang sebelumnya tak terjangkau. Saat itu juga terpikir bahwa untuk sebuah rumah saya belum mampu karena toh saya tak punya apa-apa untuk bayar DP-nya. Saya merasa tak layak untuk berhutang atau malah meminta dana hibah pada orang tua, seperti yang orang lain lakukan untuk memenuhi DP. Itu satu alasan. Alasan lainnya adalah saya waktu itu belum merasa terikat dengan satu kota sehingga tak merasa perlu sarang disana. Entah mengapa waktu itu saya merasa tak akan selamanya tinggal di Surabaya. Jadi tak perlu sarang yang berupa rumah, sebuah kamar kos cukuplah sudah. Dan tinggalah saya di kamar kos dengan daerah kekuasaan cuma sekitar sembilan meter persegi selama belasan tahun. Bayangkan, belasan tahun!

Sampai suatu hari saya tiba pada satu kesadaran bahwa saya sangat yakin saatnya pulang ke kampung halaman. Lalu seorang teman mengingatkan untuk ambil KPR sebelum meninggalkan kerja kantoran karena bank suka ga percaya dengan pekerja rumahan. Benar juga ide itu. Sekaligus menyadarkan saya bahwa sekian tahun bekerja penghasilan saya tak terlihat wujudnya selain berupa buku berkardus-kardus. Itu momen saat saya yakin saatnya untuk bersarang. Toh sudah jelas dimana saya akan terikat. Jadilah saya berburu. Cukup singkat, cuma butuh kisaran tiga bulan untuk menemukannya. Kebetulan ada teman juga yang membantu segala prosesnya. Orang bilang membeli rumah itu mirip dengan mencari jodoh, tidak bisa dipaksa, dan kalau sudah ‘jatahnya’ maka semua akan lancar jaya. Seperti itulah yang saya alami.

Nah, itu sarang saya. Sebenarnya masih belum benar-benar jadi sarang saya sesungguhnya karena toh saya masih tinggal di rumah orang tua. Kondisinya juga masih standar sekali, belum berbagar, apalagi berperabot. Ukurannya kecil saja (mampunya masih segitu), dan berembel-embel ‘subsidi pemerintah’. Tapi menyebutnya sebagai ‘rumah saya’ terasa menyenangkan. Membuat saya merasa lebih layak untuk disebut manusia dewasa yang mampu mengatur hidup. 

Yessssss .... dunia, itulah sarang saya! Oh iya, itu Bapak saya yang ada di foto :D

Kamis, 27 Maret 2014

Putih Putih Melati .....

Tahun politik, musim kampanye. Pilihan warna menjadi hal yang sensitif. Musti memilih satu, ga boleh sampai punya lima warna ala lagu Balonku. Yes, you are what color you choose .... Jadi apa pilihan warnamu?

Saya tidak ikut berpesta demokrasi untuk Pemilu Legislatif tahun ini. Pasalnya, nama saya tidak tercantum sebagai daftar pemilih. Dan jujur saja saya sedang tidak punya cukup minat dan semangat  untuk mengurus hak bersuara itu. Jadilah saya masuk yang disebut-sebut sebagai golongan putih, alias mereka yang tak bersuara. Pada awalnya saya tidak masalah digolong-golongkan seperti itu. Tapi kemudian jadi meradang juga ketika ada pernyataan ini itu yang ditujukan pada orang-orang seperti saya, termasuk juga mereka yang pada hari H tidak menunaikan suaranya. Dikatakan orang-orang seperti itu tak bertanggung-jawab, tidak care, tidak peduli dengan masa depan bangsa, cuma mau mengkritik tapi tidak mau bertindak. Terakhir ada indikasi untuk menyatakan pilihan sebagai golput adalah haram. 

Jadi pertanyaan besarnya adalah salahkah menjadi golput? Saya tidak tahu persis jawabannya. Cuma secara pribadi saya tidak menyalahkan mereka yang secara sengaja memilih menjadi golput. Lha bagaimana tidak, wong opsi pilihannya tidak menggugah selera begitu? Ibarat menu makanan, apa yang disajikan adalah makanan kemarin yang dihangatkan untuk dihidangkan hari ini. Kalau orang Jawa bilang makanan ‘nget-ngetan’. Lihat saja siapa-siapa yang maju, lebih banyak muka-muka lama yang prestasinya yaaaaaa begitulah adanya. Ada sih muka baru, yaitu para artis sinetron yang katanya merasa terpanggil hatinya untuk mengabdi pada bangsa dan negara. Ya monggo lah yaaaa..... silahkan saja. Mau mengabdi kok dilarang.

Tak cuma urusan muka. Urusan janji kampanye ya tak beda-beda amat dengan yang dulu-dulu. Sama penuh manis madunya. Sama yang intinya menjanjikan perjuangan dan pengabdian demi rakyat semesta. Dari tahun ke tahun semuanya begitu kan? Paling kemasannya yang sedikit sedikit diubah. Kalau dulu pakai kemasan pertunjukan dangdut, sekarang ganti mengusung musik pop. Atau sebaliknya. Kalau dulu sawerannya sekian, sekarang dua atau tiga kian karena saingan juga lebih banyak. Seputar itulah. Sementara semua paham bahwa janji manis penuh madu itu bakal segera terlupakan dengan berbagai alasan, seperti janji-janji yang pernah dan telah ditebar tahun-tahun sebelumnya. Menebarnya selalu begitu murah, seakan begitu banyak persoalan bangsa dan negara ini bisa dituntaskan hanya dengan satu tindakan yaitu memilih mereka.

Jujur saja, sering saya mentertawakan mereka yang berkampanye. Mentertawakan mereka yang begitu percaya diri mengklaim telah berbuat banyak untuk negara dan bangsa ini. Mentertawakan mereka yang mengklaim dirinya adalah jawaban atas upaya penuntasan permasalahan negara dan bangsa. Mentertawakan mereka yang bermanis-manis  dan berakrab-akrab dengan rakyat kecil. Ah, betapa dunia politik adalah panggung kedua setelah panggung sandiwara kehidupan itu sendiri.

Seorang teman bilang saya sinis sekali. Juga skeptis. Ya bagaimana saya tidak sinis dan skeptis kalau waktu sudah membuktikan bahwa mereka tetaplah orang-orang yang doyan duit. Dan lihat saja dana kampanye mereka yang belasan, puluhan, dan ratusan juta itu. Bahkan ada yang kabarnya dana yang dibuang untuk kampanye mencapai satuan milyar. Duit semua lhoooo ituuuu.... Logikanya, apakah buang-buang seperti itu akan nutup dengan gaji resmi dan legal yang didapat ketika menjabat kelak? Logikanya lagi, kalau itu dianggap sebagai modal, apa tak mungkin selanjutnya mereka akan menarik profitnya?

Teman saya bilang saya marah karena disebut sebagai warga negara tak banyak guna jadi melampiaskan kemarahan dengan menyerang para manusia percaya diri tinggi itu. Ya ya ya, dia benar, saya memang marah. Dan lebih marah lagi kalau sampai benar disebut golput itu haram. Sebelum mereka mengharamkan golput maka mereka harus lebih dulu menghalalkan darah para legislator yang menyimpang dari janji-janji kampanye, termasuk mereka yang memakan duit rakyat.


Kali ini teman saya tertawa terpingkal-pingkal. Katanya saya hidup di awang-awang, terlalu menginginkan hal ideal yang saat ini jauh dari realitas. Katanya masih ada orang-orang baik dalam golongan itu selain mereka-mereka yang berurusan dengan KPK. Katanya betapapun jeleknya,  penyelenggaraan negara ini butuh mereka. Jadiiiii.... masih katanya, sebagai warga negara tetap diharapkan untuk memilih. Karena ini bagian dari demokrasi, tak peduli pilihannya adalah menu ‘nget-ngetan’. Pilihlah yang terbaik dari yang terburuk. Begitu teman saya berpesan. Ehmmmm..... sebentar, jangan-jangan ..... Teman saya mengangguk sambil mengulum senyum lalu menunjuk dadanya..... Alamakkkkk.... Nyanyi aja ahhh....  Putih-putih melati, merah-merah delima, siapa yang baik hati, tentu disayang Mama .....

Senin, 17 Maret 2014

Tukang Becak Plus Plus

Pak Ji. Begitu saya biasa menyapanya. Orang lain juga memanggilnya begitu. Profesinya resminya sebenarnya penarik becak. Sepanjang ingatan saya, Pak Ji sudah menjalankan profesi itu ketika saya masuk kuliah. Dan selama itu pula tempat mangkalnya tetap, pintu masuk perumahan tempat orang tua saya tinggal. Sekarang usia saya nyaris menyentuh kepala empat. Dan Pak Ji masih di sana, tetap dengan becaknya yang besar dan terawat bersih. Jadi bisa dibayangkan berapa lama beliau berkarya. Anak-anak yang dulu diantarnya ke TK sekarang sudah jauh dewasa. Kadang saya berpikir apa yang dirasakan oleh Pak Ji melihat perubahan kami-kami pelanggannya dulu.

Masa memang berjalan cepat, membuat semua berubah. Dulu orang tua mempercayakan anak-anaknya untuk diantar-jemput oleh Pak Ji. Sekarang saya melihat fenomenanya telah berbalik. Sekarang, banyak anak-anak, yang nota bene telah dewasa, merasa aman ketika Pak Ji yang mengantar jemput orang tua mereka. Ya, saya termasuk salah satu di dalam golongan itu. Dari sekian banyak becak yang telah tahunan mangkal di tempat itu, Pak Ji selalu jadi pilihan pertama. Malah sering-sering ibu saya rela mengurungkan niat bepergian dengan becak jika bukan Pak Ji yang mengantar.

Masa juga membuat peran Pak Ji berkembang, tak hanya sekedar pengantar jemput. Ya, para orang penghuni perumahan terus menua, sementara anak-anak yang telah berkehidupan sendiri. Alhasil keberadaan Pak Ji jadi lebih berarti. Ibu saya selalu mempercayakan urusan ke dokter kepada Pak Ji. Urusan ini meliputi mendaftar, mengantar ke dokter, menebus resep, lalu mengantarkan pulang. Jika ada acara di rumah semisa pengajian, Pak Ji juga yang akan mengambilkan karpet, menyingkirkan kursi, memasang karpet, dan menjemput konsumsi. Lalu ketika usai, beliau juga yang akan membereskan karpet dan mengembalikan kursi-kursi pada tempatnya. Tempo hari satu kusen di area jemur lapuk. Bisa ditebak, Pak Ji dipanggil. Beliau melepas pintu dan kusennya. Mencari tripleks dan papan untuk jadi penutup sementara, lalu mengantarkan pintu ke tukang kusen untuk dibuatkan kusen pengganti yang sesuai. Dan ketika kusen baru datang, Pak Ji juga yang membawa tukang dan sekaligus membantu memasangnya. Terus jika akan ada tamu datang berkunjung dan halaman samping diperlukan sebagai garasi, bisa ditebak siapa yang datang untuk menyingkirkan pot-pot bunga di tempat lain untuk sementara, dan tentu nantinya orang ini juga yang akan mengembalikan ke tempat semula setelah para tamu selesai berkunjung.

Ya, Pak Ji mengerjakan banyak hal, dari yang remeh-remeh hingga yang serius. Dan nyatanya orang tua saya bukan satu-satunya yang mengandalkannya. Ada masa ketika Pak Ji harus datang setiap hari ke rumah seorang tetangga yang lumpuh karena stroke. Tiap hari Pak Ji bertugas memapah si bapak agar bisa dimandikan. Kemudian membawanya ke teras untuk berjemur beberapa saat. Lalu membawanya kembali ke dalam rumah. Itu dilakukan tiap hari si bapak wafat.

Satu lagi kejadian. Suatu ketika bapak saya sakit dan menolak untuk opname walaupun dokter merekomendasikan. Esok paginya, ketika berusaha bangun untuk sholat subuh beliau jatuh. Dan orang pertama yang ditelepon ibu saya adalah Pak Ji. Pak Ji juga yang kemudian menghubungi tetangga dan membawa bapak saya ke rumah sakit. Baru setelah semuanya beres ibu menghubungi kami anak-anaknya yang semuanya ada di luar kota, mengabarkan apa yang terjadi.

Ya, itulah Pak Ji si tukang becak plus plus. Ibu saya selalu bilang beliau tahu bagaimana memperlakukan penumpangnya, seperti merendahkan becaknya agar ibu bisa naik atau turun dengan mudah. Ibu juga bilang beliau bisa mengetahui kemauan si pemberi order tanpa perlu diterangkan detail dan penuh inisiatif. Bapak bilang cuma Pak Ji tukang becak yang pintar dan tidak gampang canggung menghadapi situasi tertentu. Bapak juga bilang Pak Ji tahu bagaimana membawa dirinya, serta bisa dipercaya.

Ya ya ya, itulah Pak Ji. Memang semua memberikan upah atas tenaga yang diberikannya. Cuma jika dipikir-pikir beliau tidaklah sekedar penjual jasa. Beliau seperti telah menjadi bagian dari banyak keluarga. Karenanya ketika beliau bercerita anak perempuannya berhasil masuk sekolah Sandi Negara, bapak dan ibu saya bersama dengan para sepuh yang lain ikut larut dalam bahagia dan syukur, seakan anak kandung merekalah yang memiliki keberhasilan itu.


Terima kasih banyak, Pak Ji...... #bungkuk badan. 

Rabu, 29 Januari 2014

SUKSES

Bagaimana cara mengukur sukses? Selalu pertanyaan ini mengganggu saya dari dulu hingga detik ini, teruma ketika sedang galau akan hidup. Ya, hidup kata orang penuh dengan naik turun. Nah pas naik itulah yang namanya sukses. Cuma, naik setinggi apa yang bisa masuk kategori sukses? Ini pertanyaan besarnya.

Akhir-akhir ini saya sering bertemu teman-teman lama, mereka yang kisaran dua puluh tahun silam atau lebih menjadi teman seperjuangan di bangku sekolah. Ketika itu standar ukurannya jelas : nilai raport. Jadi ya yang nilainya selalu buruk berarti masuk kategori, maaf, tidak pandai. Sementara yang nilainya selalu baik tentu dilabeli pintar. Sistem pendidikan memungkinkan hal itu. Karenanya masih jelas dalam ingatan saya yang mana teman yang selalu berada di rangking atas dan mana yang jadi penghuni peringkat bawah. Tapi itu dulu, dua puluh tahun yang lalu, bahkan lebih. Sekarang semuanya telah berubah, termasuk standarnya.

Hidup berjalan terus selepas dari bangku sekolah. Semua berproses. Semua berubah, tak lagi seperti dulu. Dan tak jarang saya jadi terkagum-kagum. Juga iri. Tapi enggak pakai dengki lhoooo.... Ya bagaimana tidak kagum dan iri sekaligus kalau teman yang dulu seperjuangan sekarang sudah jadi orang, punya rumah magrong-magrong, dan bermobil mulus gresssss...? Sementara saya, masih berjarak dari pencapaian tersebut. Lalu biasanya saya bakal memberikan label ‘sukses’ pada teman-teman seperti itu. Terus sejenak nelangsa dan tidak percaya diri untuk hadir di acara reuni .... ha ha ha ...... Tapi ya itu tadi, cuma sebentar. Setelah itu biasanya saya bisa terhibur dengan pikiran ‘ah, biar begini saya bahagia kok’. Naifkah? Atau mencerminkan tingginya tingkat kemalasan saya?

Ya, kekayaan materi adalah yang paling gampang untuk dijadikan tolok ukur kesuksesan seseorang. Dan nyatanya paling banyak digunakan juga. Iya, kan? Saya sering kok mendengar orang bilang ‘eh si fulan sudah punya ini itu. Sudah kaya. Sukses dia sekarang’. Tidak cuma sekali dua kali saya mendengarnya. Seringgggggggg banget. Atau contoh lain sungguh terasa ketika lebaran tiba. Ya, waktu lebaran biasanya generasi anak pulang kampung, sowan kepada orangtuanya. Saat inilah gongnya. Mereka pulang dengan segala atributnya. Pernah saya dengar tetangga saya bilang,”Bapak A enak, anak-anaknya pada sukses. Lihat saja, tiga anak mudik, tiga mobil kinclong berjajar di rumah Bapak A”. Nah, kan? So, kekayaan materi adalah satu tolok ukur kesuksesan. Dan berhubung jelas-jelas saya belum ada apa-apanya jika diukur dengan itu, maka teruslah saya mempertanyakan bagaimana mengukur kesuksesan......  ha ha ha.... Daripada stress gitu lhoooo.....

Sampai suatu hari seorang sahabat yang juga saya semati label ‘sukses’ karena karirnya wow banget berkata bahwa dia menilai kesuksesan seseorang salah satunya dengan indikator ‘life skill’, tidak melulu secara materi. Karena toh banyak orang mendapatkan kekayaan materi dengan cara yang salah. Kontan saya kepengen tahu dan bertanya apa itu life skill. Dia menguraikan intinya life skill adalah ketrampilan seseorang dalam menghadapi segala rintangan dalam hidupnya. Termasuk di dalamnya daya juang untuk hidup, kemauan terus bercita-cita, kemampuan mengatasi masalah-masalah hidup, dan hal-hal lain semacam itulah. Langsunglah hati saya mekar. Karena dengan tolok ukur tak berbau rupiah atau dollar seperti itu semua orang bisa saja masuk kategori sukses, termasuk saya. Saya bilang padanya saya pernah berhasil membebaskan diri dari belitan hutang bertahun-tahun. Katanya berarti bisa jadi saya termasuk orang sukses karena toh hutang adalah salah satu masalah hidup. Ya ya ya..... asyik juga tolok ukur tersebut .... he he he he.... Saya mulai berpikir berarti saya sukses dong.... Yaaa paling tidak pernah sukses membebaskan diri dari belenggu hutang.

Sahabat saya lalu bertanya apakah saya risau karena pandangan penilaian orang? Ehmmmm .... yaaa iyalah.... Bohong bangetlah kalau saya tak ingin merasa sukses dan dinilai orang sukses. Buktinya saya selalu iri dengan mereka yang saya anggap sukses. Tapi sekali lagi, tidak pakai dengki yaaaaa.... Dengan yakin teman saya bilang tak apa mengejar kesuksesan materi asal jangan lupa ada bentuk sukses-sukses yang lain, yang tak melulu berkaitan dengan materi. Contohnya mereka yang berguna bagi orang banyak semisal para relawan biasanya bukan orang-orang yang berlebih secara materi, tapi justru yang biasa-biasa saja. Sementara koruptor nyaris selalu mereka yang sudah kaya raya. Ehmmmm... betul juga, kan?


Jadiiii .... mulai saat itu jika risau saya akan menghibur diri dengan melihat sukses dalam bentuk yang lain. Tapi, tetap mesti bekerja keras untuk mengejar sukses materi dengan cara yang benar, jangan pakai korupsi. Karena pemalas itu hanya membebani orang lain. Begitu pesan lanjutan dari sahabat saya yang sungguh super itu. Okay dehhhhhh .....