Kamis, 11 Agustus 2011

ANTI AGING

Tempo hari saya rasakan satu bagian di kepala saya gatal sekali. Cuma ada satu penyebab gatal yang terpikir di benak saya, yaitu ketombe. Karena memang yang namanya ketombe jujur saja datang dan pergi dari kepala saya, karena ketidaksetiaan saya terhadap satu jenis shampo. Juga kebiasaan mengenakan kerudung pas ketika kepala masih kuyup sisa keramas. Nah nah nah ... berbekal persepsi itu keramaslah saya dengan shampo anti ketombe yang katanya paten dan memang saya pernah membuktikannya. Tapi kali ini tidak. Bagian itu tetap gatal kedati tadi saya sempat bershampo dua kali. Iseng-iseng mengacalah saya untuk melihat bagian tersebut. Daaannnnnn olalala .... ternyata ada uban disana! Tidak cuma satu, tapi lima dan bergerombol di area yang sama. Setelah tuntas mencabutinya satu persatu saya tercenung.

Uban, kata orang memang menyebabkan gatal. Dan identik dengan tua. Jujur saja, saya miris menjadi tua. Bukan tua seperti yang digembar-gemborkan oleh industri kosmetik dalam iklan televisi. Bukan, saya tidak memikirkan tua dalam artian muka berkeriput, mata berkantung, dan kulit yang bercorak. Saya memikirkan tentang tua yang sebenarnya, bukan sekedar tua yang mengarah pada 'bungkus' atau casing saja. Tua yang mengacu pada 'bungkus' dan 'casing' rasanya sudah diberikan solusinya oleh industri kecantikan dan kosmetika. Lihat saja berapa banyak iklan kosmetik yang mengusung jargon 'anti aging'. Coba hitung pula jumlah salon yang menawarkan perawatan ini itu untuk menghilangkan keriputlah, mengencangkan wajahlah, operasi plastiklah, dan tetek bengek lainnya yang berujung pada 'terlihat kembali muda'. Terlihat ..... saya selalu menggaris bawahi kata ini untuk semua cara dan formula itu. Lalu, jika wajah tetap kinclong kinyis kinyis ala bayi apakah berarti kita tak lagi menjadi tua?

Tua. Ehmmm sampai detik ketika menemukan uban di kepala, saya selalu berpikir saya tak cukup tua, walaupun juga tidak muda sekali. Sebenarnya itu cuma kalimat panjang untuk mengatakan bahwa saya percaya saya masih muda. Apalagi sayalah yang termuda dalam keluarga inti selama ini Tapi rasanya kepercayaan itu terpatahkan dengan bukti uban di kepala saya. Jika saya sudah beruban, lalu apa bedanya saya dengan bapak dan ibu saya yang kepalanya sudah putih rata? Ya ya ya memang sekarang baru ditemukan lima helai, tapi bukankah yang lima itu bukti bahwa ada proses yang sedang aktif berjalan?

Sebenarnya ini kedua kalinya saya merasa tua. Dulu ketika kakak perempuan saya melahirkan anaknya yang pertama, yang berarti keponkan pertama saya, saya tersadarkan oleh satu hal : generasi baru telah lahir tepat di bawah saya. Tapi waktu itu saya tidak tercenung karena toh yang saya hadapi masih berupa bayi tak berdaya yang menggemaskan. Tapi sekarang, ketika saya temukan uban itu, si generasi baru ini ternyata sudah menginjak bangku SMP dan tingginya pun sudah melampaui bahu saya. Ahhhh .... proses yang bernar-benar aktif bergerak.

Jadi intinya, saya cukup resah. Benar-benar bukan masalah takut keriput. Tapi takut menjadi tak berdaya. Saya mulai berhitung apa yang saya lakukan sekarang. Saya produktif bekerja. Saya juga sibuk berencana ini itu dan mulai merintisnya. Saya mengerahkan energi dengan satu pikiran ada waktu yang masih terasa luang dan panjang. Sering-sering saya berangkat tidur lewat tengah malam dengan kepala yang masih berputar akan apa yang harus dan akan dikerjakan esok. Sering-sering juga masih berandai-andai hal indah yang ingin saya lakukan. Saya hidup dengan semua itu. Dan rasanya itu bukti bahwa sebuah kemudaan walau hanya berupa harapan dan cita-cita.

Harapan dan cita-cita. Rasanya masa muda penuh dengan keduanya. Karena ya itu tadi, ada waktu di depan yang terasa panjang, walau sebenarnya belum tentu juga panjang. Beda dengan mereka yang sudah berumur tua. Apalagi yang diharapkan wong kita sudah tua, kalimat ini sering sekali saya dengar dalam pembicaraan orang tua saya dengan teman-teman seangkatannya. So, kalau sudah tua berarti tak punya harapan lagi? Atau tidak patut berharap? Karena ada waktu yang secara logika manusia cuma tinggal sejengkal? Mungkin kurang lebih seperti itu. Dan yang paling kentara adalah tak ada lagi kegiatan harian yang padat. Contoh nyata akan hal ini saya temuai di rumah setiap kali pulang kampung. Bapak saya yang dulu setiap hari berangkat ke kantor dan sering kali masih membawa pulang pekerjaannya dalam berbagai bentuk, kini adalah orang rumahan yang bisa bangun atau berangkat tidur seenaknya. Tak ada lagi target atau dead line kerja. Enakkah seperti itu? Entahlah. Kalau Bapak saya bilang sih, yaaaaa beginilah masa pensiun. Dan saya membandingkannya masa pensiun itu dengan ritme hidup saya sekarang. Ehmmmmm .....

Nah nah nah ..... tua. Kata seorang teman saya terlalu mendramatisir masalah penemuan uban. Ehmmmm ... mungkin juga dia benar. Tapi saya sudah kadung merasa gelisah dan jadi mulai menafsirkan ungkapan seorang filsuf Yunani 'berungtunglah mereka yang mati muda'. Mungkin memang berurntung karena paling tidak mati muda berarti mati tidak dalam kondisi tak bisa berharap dan bercita-cita lagi. Teman saya membantah. Katanya ya malah rugi besar, wong masih asyik-asyiknya produktif kok mati. Apalagi kalau matinya melalui proses panjang seperti sakit parah lama. Tambah tidak enak lagi, katanya, masih muda tapi tak produktif eh malah membebani yang lain. Ehmmmmmm ..... benar juga..... Lalu teman saya bilang, mungkin yang benar adalah 'beruntunglah mereka yang mati mendadak'. Kontan saya mendelik. Katanya, karena yang mati mendadak tak akan sempat berpikir ruwet-ruwet seperti saya.

So...... akhirnya saya pikir industri kecantikan telah salah membuat provokasi. Mereka sibuk mengompori konsumen terutama perempuan untuk melakukan perawatan anti aging pada mukanya. Tujuannya apalagi kalau tidak melawan proses tua. Tapi apa yang mengalami penuaan cuma muka saja? Tidak bukan? So seharusnya yang perlu diawetkan tidak cuma muka! Apa gunanya muka masih muda kinyis-kinyis tanpa keriput jika hati dan pikiran telah layu tanpa harapan? Untuk pernyataan ini paling tidak teman saya tadi membuat statement yang mati mendadaklah yang beruntung, setuju dengan saya .....

Selasa, 28 Juni 2011

Happy Cooking


Memasak ..... ehmmmmmm saya bukan termasuk yang pinter masak. Tapi termasuk yang menikmati proses memasak, dan tentu saja proses memakannya. Karena ketidakbisaan ini, saya pernah dicap berjenis kelamin 'laki-laki' oleh teman-teman kuliah saya. Gara-garanya dalam gank yang terdiri dari belasan orang dan hanya dua di antaranya perempuan, justru teman laki-lakilah yang paling jago masak. Alhasil setiap kali ada acara masak-masak, saya paling banter hanya bertugas untuk berbelanja. Itupun masih juga diprostes karena jarang menawar. Benar-benar kurang perempuan, komentar teman laki-laki saya. Sementara, seorang anggota gank yang laki-laki sungguh-sungguh lihai dalam hal seperti itu. Dia bisa menentukan bumbu dengan tepat dan menguleknya dengan 'lekoh'. Bisa memilih barang-barang dengan ketelitian khas ibu-ibu. Dan tentu saja fasih memegang segala macam alat dapur. Dengan rival yang seperti itu tentu saja saya tidak ada apa-apanya. Makanya saya waktu itu pasrah-pasrah saja dengan 'stempel' itu. Dan lebih memanfaatkannya sebagai alasan datang akhir saat semua masakan siap disantap ..... hahahhahahahaa...

Apakah saya benar-benar tidak bisa memasak? Ehmmmm ..... entahlah. Cuma jika dirunut secara genetika, ibu saya adalah seorang pemasak yang cukup handal. Ini dibuktikan dengan harum namanya di kalangan keluarga, tetangga, kantor bapak saya, dan PKK Dharma Wanita sekabupaten kota kami. Dan biasanya ketika ibu saya sibuk berkutat dengan semua itu dan meminta saya membantu, maka yang saya lakukan adalah membantu dalam arti yang sebenarnya : melakukan apa yg diperintahkan tanpa berpikir. Alhasil tidak ada transfer ilmu rasanya ..... ahhahahahaha .....

Nahhh sekarang ketika sudah hidup terpisah dari orang tua, seringkali saya kangen dengan masakan-masakan khas ibu saya. Dan kalau sudah bicara tentang cita rasa khas pastilah ke ujung duniapun tak akan bisa ditemukan yang sama. Itulah adanya. Saya bisa menemukan pepes udang di warung makan. Cuma tidak pernah saya temukan pepes udang ala ibu saya, kendatipun warnanya sama merahnya. Kalau sudah tak tahan mengidam, maka yang saya lakukan adalah berusaha membuatnya sendiri, sebisa saya .... Eittttt tidak cuma sebisa saya, tapi juga ada keterbatasan alat masak.

Alat masak ...ehmmmm ... tempo hari ketika sempat alat masak dasar cukup lengkap di kos saya. Artinya ada kompor gas lengkap dengan tabung gasnya, panci, cobek, dandang, dan wajan. Bukan milik saya pribadi, melainkan hasil patungan dengan teman-teman. Nah nah nah .... malapetaka datang ketika banyak teman karib saya pindah kos karena pindah kantor. Akhirnya kompor rusak dan tabung gas entah bagaimana kabarnya karena kosong dalam waktu yg panjang. Sementara teman-teman baru rata-rata membawa kompor dan alat-alat sendiri yang tentu saja digunakan secara pribadi. Awalnya saya anggap itu bukan masalah besar karena toh saya selalu membeli makanan di luar. Cuma akhirnya timbul juga keinginan untuk memakan 'makanan rumah'. Dan bingunglah saya karena yang saya punya hanya rice cooker kecil dan panci listrik.

Tapi benar kata orang bahwa ada kemauan ada jalan. Seorang teman yang nasibnya nyaris sama dengan saya; bertahun-tahun menghuni kos; meyakinkan saya bahwa kedua alat itu cukup untuk melakukan kegiatan memasak. Nah mulailah saya menfungsikan rice cooker tidak hanya untuk memasak nasi, tapi juga untuk membuat masakah yang berkuah. Problem solved! Saya jadi sering membuat bakso ayam, sup ceker yang menurut saya ehmmmmm syedapppppp .... (walau kadang keasinan ....ahahhahahaha). Urap sayur? Nasi liwet dengan lauk tercampur? Ahhh.... gampang :)

Bagaimana jika tidak pakai kuah alias seperti tumis-tumisan? Ehmmm jujur ini masih agak masalah karena walau bisa dikerjakan dengan menggunakan panci listrik tapi karena ukurannya cukup kecil maka agak menyulitkan juga. Jadi untuk tumis-tumisan saya cenderung membubuhkan air sedikit lebih banyak jadi rice cooker saya bisa tetap bekerja.

Oh ya, tempo hari saya benar-benar kepikiran dengan balado terong. Jadi browsing-lah saya di internet hingga dapat resepnya. Lalu karena saya belanja terlalu siang maka yang saya dapatkan terong bulat, bukan yang panjang. Ahhhh masih bernama terong kan? Saya juga membeli udang. Nah nah nah .... jangan dipikir saya memasak dua macam masakan ..... ehhehehhehhe tentu saja tidak. Bedasarkan alasan kepraktisan maka saya tumislah si udang dalam sambal balado dan saya masukkan si terong kemudian ..... hhohohoohohoh .... Apakah namanya masih balado terong? Dannnnnnnn soal penampilan ehmmmmm jangan dipikir penampilan masakan saya 'normal'. Dan jangan pula membandingkannya dengan peserta Master Chef....Malah saya pikir Chef Juna akan semaput melihat cara saya memasak .... ahhahahahahah

Ahhhh yaaaa.... saya nyaris lupa mengabarkan .... seorang kenalan teman saya bahkan mengaku berhasil menggoreng kerupuk dengan rice cooker lhooo ... nah nah nah .... see that i'm not alone? ahhahahaha....

Anyway .... happy cooking, everybody .....ingat ada kemauan ada jalan :)

Selasa, 31 Mei 2011

Nama

Setiap kali ada teman yang hamil, yang saya tanyakan adalah apakah sia sudah mempersiapkan nama untuk si jabang bayi. Sebagian menjawabnya sudah walaupun usia kandungan masih terhitung muda. Tapi ketika bertanya lebih detail mengenai hal itu, jawabannya selalu : rahasia, tunggu tanggal mainnya.

Ehmmm .... nama. Seorang Shakespeare terkenal dengan kalimatnya 'apalah arti sebuah nama'. Saya rasanya yakin 102% bahwa dia salah. Karena nama sungguh berarti banyak. Sebagian mengartikan doa. Sebagian mengindentikkan dengan keberuntungan alias hoki. Coba cermati, berapa banyak selebritis menyembunyikan nama lahirnya dan mengganti dengan nama baru yang tidak cuma untuk membawa hoki tapi juga agar terdengar enak dan indah di telinga. Membawa hoki nyaris identik dengan komersiil. Nama membawa citra pemiliknya. Tak cuma untuk selebriti. Nama merk, toko, perusahaan, atau hal semacamnya pun dipikirkan dan didesain oleh sang kreator agar membawa keberuntungan sebanyak-banyaknya. Tap percaya? Coba saja tanya para paranormal, pasti mereka pernah didatangi orang-orang yang menanyakan apakah nama ini akan membawa sial bagi penyandangnya. Dan untuk mendapatkan nama yang top markotop, banyak yang rela membayar sang paranormal untuk 'mendesainkannya'.

Nah bagaimana dengan rakyat jelata seperti saya? Menurut saya, orang-orang sekelas saya lebih mengartikan nama adalah doa dan harapan. Lebih tepatnya, doa orang tua untuk anaknya. Jadi jika seorang anak bernama Arif, maka saya 99% yakin itulah yang diharapkan orang tuanya, bahwa kelak dia menjadi anak yang bersifat arif terhadap segala hal, termasuk terhadap sesamanya. Kalaupun jadinya ternya seorang yang berkebalikan ... ehhmmmm .... yang mungkin doanya belum saatnya terkabul.... hehhehhhhe .... Tapi walaupun kenyataan membuktikan adanya 'doa dan harapan' yang tidak terkabul tak lantas membuat para orang tua putus asa dan menamakan anaknya sekenanya. Saya yakin itu 100%, walaupun kemudian pernah juga saya temui nama-nama yang artinya tidak doa dan harapan melainkan penanda suatu peristiwa. Semisal, seorang teman bapak saya punya nama Teken Slamet, kemudian disusul nama marganya. Dahi saya berkerut pertama kali mendengar si oom menyebutkan namanya. Dan dengan kurang ajar bertanyalah saya arti nama itu. Ternyata hari kelahirannya persis sama dengan saat si ayah harus meneken sebuah dokumen penting. Ya ya ya .... saya mangut-mangut saja.

Percaya tidak, bahwa nama ada trennya juga lhoooooo ..... Saat ini saya rasa sedang tren nama-nama yang berbau Arab, di luar nama para Rasul dan kerabatnya tentu saja. Coba teliti bayi tetangga kanan kiri. Pasti ada saja yang namanya berbau Arab. Dan nama-nama itu punya nilai rasa yang berbeda karena rata-rata ejaannya diperbarui. Nah nah nah .... masalah ejaan ini penting lhooooo... Tidak cuma untuk yang berbau Arab, tapi juga untuk yang berbau lokal. Ejaan yang berbeda memberikan nilai rasa yang berbeda dan menyediakan kekinian. Sebut saja bagaimana Jamilah sekarang seringkali dieja menjadi Jamila atau Jameela. Yang dulu Maya, sekarang menjadi Maia. Yang biasanya Mira, sekarang menjadi Myra. Yang dulu Agus sekarang menjadi August. Contoh yang paling gampang adalah penggunaan huruf y atau ie di akhir kata sebagai pengganti huruf i.

Oh iya, beberapa tahun yang lalu juga begitu tren nama import alias nama bule. Hal ini tidak termasuk etnis China yang memang dari sononya sudah cenderung menggunakan nama bule sebagai international name-nya. Ehmmm saya tidak hendak mengecam para pribumi yang menggunakan nama bule. Tapi jujur kadang saya tersenyum gara-gara ejaan yang tidak sama dengan aslinya dan kadang terkesan asal pengucapannya mirip. Misal Robet, bukan Robert. Bobi, bukan Bobby. Matew, bukan Mattew. Dan nama bule ini juga menimbulkan kesulitan bagi lidah-lidah yang tak terbiasa. Misal, seorang bapak-bapak tua pernah mengucapkan George ; nama teman yang asli Jawa; dengan benar-benar George sesuai cara baca bahasa Indonesia. Hheheheheheh kontan saya tertawa, bukan karena menganggap si bapak tolol, tapi lebih karena efek perubahannya yang begitu jauh.... dan yang punya namapun buru-buru menuntun si Bapak agar mengucapkannya dengan benar. Oh iya, tentang nama bule ini, seorang teman kakak saya yang pusing mencari nama untuk bayinya akhirnya menggandengkan merk air minum kemasan hingga menjadi sebuah nama yang enak di dengar yaitu Aqua Bonavita. Terdengar bule kan? Saya cuma berpikir, untuk yang digabungkan merk air kemasan. Bagaimana kalau misal yang digabungkan adalah merk detergen seperti Rinso DaiaB29? Ehhhmmmmm ......

Soal nama, seringkali orang tua punya pola tersendiri. Lihat saja bagaimana seorang Soekarno menggunakan benda-benda yang ada di langit untuk nama anak-anaknya. Bapak teman saya menggunakan huruf E untuk huruf pertama nama anak-anaknya. Dan Bapak saya sendiri mempunyai kecenderungan menggunakan suku kata In untuk suku kata pertama nama anak perempuan. Ini terbukti pada saya dan kakak saya, dan berulang pada saat kakak saya meminta nama untuk bayi perempuannya.

Nahhhhhh bagaimana dengan nama saya? Hehehehehee.... jujur saya bersyukur orang tua saya memberikan nama yang menurut saya berima cukup merdu dan juga berarti bagus. Ina Binanti Alasta. Hohoohohoh ...... saya nyaris yakin seandainya menjadi selebritis pun tak perlu menggantinya dengan nama baru. Soal komersialitas, ehmmm sudah terbukti ada produk sanitair yang bermerk Ina. Gara-gara menemukan bagian nama saya di closetnya, seorang teman yang sirik menuduh Bapak mencomot Ina dari jamban yang didudukinya setelah putus asa mencari nama untuk saya. Hehhehehehe... tentu saya tidak termakan dengan hal itu. Karena sang kreator sudah memberitahu artinya. Dan sungguh nama saya berarti ibu yang selalu membina. Nahhhh kaannnnn itulah doa orang tua untuk saya ..... Amin amin amin ......

So, apakah Shakespeare benar-benar harus mencabut pernyataannya?

Senin, 04 April 2011

Free Flying Bird ......

Hai hai kamu, akhirnya setelah empat tahun maya minggu kemarin semuanya menjadi riil, touchable. Ehmmmm ....menyenangkan .... tapi jujur sebenarnya juga meremukkan sebagian .... Tapi OK-lah .... yang penting sudah menjadi touchable. Thank you very much telah membayar empat tahun yang maya dengan tiga hari yang riil. Ehmmmm .... jika dianggap sebagai sebuah perdagangan yaaaaaa not bad-lahh …. yaaaa cengli lahhh.... ehehehehehehe ....

Ada banyak hal yang menarik bagi saya dalam pembicaraan kita. Termasuk kebohongan yang tersingkap .... hehheheheh ..... By the way, you should not to lie to me .... Cuma mungkin seperti itulah hakikatnya di dunia maya bahwa kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Benar begitu benar, baby? And you be what you want, what you wish .....

Nah nah nah .... perkawinan .... ehmmmm sungguh perspektifmu mengenai satu hal itu menunjukkan betapa kita adalah dua orang yang sungguh-sungguh berbeda. Dimata saya, kamu adalah sesosok makhluk modern yang tak terikat pada apapun selain pada dirimu sendiri. Sedangkan saya merasa sebagai manusia bertualang dengan mesin waktu ke depan dan bertemu denganmu. Jadilah tergagap-gagap dengan perspektif itu. Padamu, saya sematkan dua deskripsi, you're a kind of free flying bird. Juga 'someone who entertain himself with his money' .... heheehhehehee semoga tidak terdengar begitu jahat. Karena memang tidak ada maksud mencemooh atau menyalahkan atau yang sejenisnya.

'I enjoy my single life' ....... ingat sekali ketika kalimat itu meluncur ringan dari mulutmu. Ada senyum. Ada kilau di manik mata. Ada riang di gestur. Ehmmmm artinya kalimat itu keluar dari hati. No regret. Ya, seharusnya seperti itulah hidup, tak ada penyesalan. Dalam hati saya bilang, I used to feel the same, but now feeling it's enough to be single ... aahahahahahahaha ..... Alasanmu, single life memberikan banyak kepraktisan. Tidak perlu urus 'exit permit' tiap kali mau kemana-mana. Tidak kena 'wajib lapor'. Tidak ada 'ekor' yang membutut selalu. Segala keputusan diambil lewat satu otak. Olala .... praktisssss sekali ...... Karenanya adalah hal yang tak cukup masuk akal bagimu makna yang tersirat ketika seseorang melakoni berjam-jam terbang melintas beberapa negara untuk menghabiskan waktu 3 minggu di desa kecil negara dunia ketiga dimana istri dan anaknya menunggu. Seperti sebuah perjalanan ke masa lalu di matamu. Mungkin bukan kesia-siaan, tapi mengapa? Sebuah pertanyaan menuntut yang nadanya terdengar sinis di telinga saya. Apalagi masih ada lanjutannya ternyata. Mengapa mesti meninggalkan tempat modern? Mengapa tidak bertahan menjadi bagian dunia pertama yang serba bermasadepan? Saya tercenung. Jadi apakah saya sial karena ada di tempat yang menurutmu tak cukup berarti itu? Hehehhehehe …. jujur jadi sedih ….. Juga jadi seperti sedang mendengarkan propaganda Amerika …. ahhahahahaha...

So, you enjoy your single life ….. and I said, very good, dear. But no need to be cynical when you see someone enjoy his family life. Dan tertawalah kamu. Katamu bukan sinis, cuma tak bisa membaca rencana selanjutnya. Ah embuh ….. cuma kepikir, ketika ibadah yang menyempurnakan setengah dien itu begitu indah di mata dan angan saya, kenapa jadi sesuatu yang merepotkan bagimu, dear? Punya pengalaman buruk, honey? Tak ada jawaban karena saya juga enggan menanyakannya karena terpikir terlalu privat.

So, setelah empat tahun chit and chat, akhirnya disinilah kita. Duduk tertawa-tawa sambil menghirup kopi Amerika yang jujur saya kurang tahu enaknya dimana selain cuma silau dengan merknya. Dan selama itu pula saya mengerti bahwa di dunia ini ada juga makhluk yang tak kukuh pendiriannya selain saya sendiri …..dan makhluk itu tengah duduk berbagi sofa dengan saya … ahahhahahahaha …... Dan saya jadi merasa tidak terlalu bersalah ketika niat di hati awalnya seperti sudah bulat jadi gepeng dan benjol di sana sini. Oh dear, lihat sepertinya kita adalah dua orang yang nyaris sama. Sama-sama meragukan satu dengan yang lain. Sama-sama mulai tak cukup kuat berpijak pada niat semula. Sama-sama menemukan ketidaksempurnaan pada diri satu sama lain. Dan lebih buruk lagi, sama-sama tidak mau jujur dan menutupinya dengan senyum canggung juga adat kesopanan..... Lalu apa yang saya lakukan? Ehmmmm mengekormu yang tengah meng-entertain yourself with your money …. hohoohohohohooh ….. what should I say, dear?

Nah nah nah ….. sekarang bagaimana? Ehmmm kehilangan juga rasanya ketika sayapmu mulai mengepak lagi. Cuma tak cukup punya nyali juga tak masuk nalar untuk mengiyakan tawaran yang disampaikan dengan setengah tak lengkap itu. Sementara untuk menagih tawaran pokok yang sudah pernah melayang bertahun lalu juga tak cukup yakin. Jadilah saya berdiri dengan gamang. Inikah akhirnya? Ada yang terasa hilang karena misteri yang terbuka….. Ada kecewa karena kebohongan yang tak seimbang …. Ada juga keriaan hura-hura yang memang tak biasa...... Tapi ujungnya adalah 'sorry dear, I can't accept the temporary thing that you offer' …... Lalu ada yang tertawa lewat pesan singkat dengan embel-embel '...let me show then you'll never forget me …' Hhoohohoohohohooh ...ada ketidakseimbangan yang menurut saya potensial terjadi. Jadi jawaban saya adalah 'hmmmm if I accept and really can't forget you then it means I hurt myself so badly, coz I know for sure you will fly here and there without me in your mind. May be you dont even remember my name .....'. Dan lagi-lagi yang saya dapat sebagai jawaban adalah tawa. See, you promise me nothing, dear........

Nah nah nah nah …. akhirnya yang tertinggal adalah aroma yang lebih berupa fantasi ketimbang realita. And now, when I see the sky above, I remember you dear, the free flying bird ….. and when I go to shopping center, you come to my mind as someone who entertain himself with his money …... hahahhahahahahaha ….

Anyway, thanks for visiting me, dear …...

Selasa, 29 Maret 2011

Sayang ..........

Sayang, betapa benar hidup tidaklah cukup sempurna. Setidaksempurna pertemuan untuk kita .... Sayang, menyesalkah kita? Sementara hidup adalah lingkaran yang harus kita putari. Bersama, lihatlah betapa besar lingkaran yang kau buat, sedangkan tanganku hanya menjangkaumu seperempat. Menyesalkah aku?

Ah Sayang, bukankah masa membuat tahu seperti itulah kita .... lingkaran besarmu, lingkaran kecilku, itulah yang kita genggam dalam tangan-tangan.... aku menangis dan tertawa dengannya.

Sayang, tak pernahkah kau punya redam dalam hati yang berlubang? dan mungkin yang kau inginkan kemudian adalah tidur yang dalam tanpa mimpi tentang harapan yang kian merayap pendar.......

Selasa, 08 Maret 2011

Senjata Andalan

Kakak perempuan saya tempo hari bercerita bahwa dia sempat dag dig dug ketika berkunjung ke Surabaya. Kala itu dia harus menghadiri rapat dinas di sebuah hotel di tengah kota Surabaya. Dari terminal Bungurasih dia menuju ke lokasi dengan menumpang bis kota patas AC. Dan katanya saat dia naik ke bis tersebut cuaca memang sudah mendung. Begitu bis berangkat hujan turun ke bumi seperti air yang tumpah, alias sangat deras. Nah, dag dig dug-lah kakak saya karena dia tidak membawa jas hujan, payung, atau sejenisnya. Pada saat yang sama dia juga tidak membawa baju ganti karena rapat memang dijadwalkan cuma sehari saja. Dalam bis yang melaju katanya dia terus memanjatkan doa agar hujan deras itu segera reda jadi dia bisa turun dan menghadiri rapat tanpa basah kuyup. Alhamdulillah doanya terkabul. Hujan deras itu reda tepat ketika bis mencapai pusat kota Surabaya dan kakak saya terhindar dari basah kuyup. Saya nasehatkan padanya untuk tidak pernah lupa membawa 'sejata' setiap kali ke Surabaya.

'Senjata'? Ehhheheheheh .... iya, saya menyebut begitu untuk beberapa barang yang menurut saya wajib. Barang tersebut adalah payung, sandal jepit, dan sepatu karet. Semuanya untuk 'berkompromi' untuk kondisi hujan dan banjir di Surabaya. Sekali lagi, hujan dan banjir. Sebab hujan bagi saya identik dengan banjir. Dan kalau bertanya daerah mana yang banjir, maka jawabannya adalah semua daerah! Mengapa begitu? Sebab rasanya memang susah sekali sekarang mencari kawasan bebas banjir di Surabaya. Kawasan yang katanya elit pun terkena banjir. Tengah kota juga. Dan kalaupun ada secuplik kawasan yang tidak tergenang banjir, saya yakin jalan menuju ke kawasan tersebut pasti tergenang banjir. Jadi tetap diperlukan perjuangan untuk mencapainya.

Nah, senjata pertama ada payung. Jelas fungsinya. Berubah menjadi jas hujan bagi mereka pengendara roda dua. Cuma bedanya payung bisa berfungsi di kala panas dan hujan. Sedangkan jas hujan hanya berfungsi pada saat hujan saja sebab rasanya bakal ada yang terbelalak jika ada yang mengenakan jas hujan di kala langit terang benderang dan panas terik. Jadi, bagi pejalan kaki atau pengguna angkutan umum seperti saya, tidak ada ruginya selalu menyiapkan payung. Seorang teman saya menyiapkan satu payung di rumah dan satu lagi di kantor sehingga tidak perlu membawa-bawa payung di dalam tasnya karena dia termasuk yang suka berganti tas. Sedangkan saya lebih memilih menyiapkannya di dalam tas saya, karena saya termasuk tipe yang tidak suka berganti tas. Terlebih lagi tas harian saya berupa ransel besar yang muat banyak barang termasuk laptop dan dokumen.

Senjata kedua adalah sandal jepit dan sepatu karet. Sebenarnya keduanya bisa saling menggantikan. Dulu sebelum punya sepatu karet saya selalu pakai sandal jepit di kala hujan, baik ketika berangkat maupun pulang kantor. Lalu pihak HRD kantor tempat saya berkerja memprotes dengan alasan karyawan dengan sandal jepit mencederai kehormatan perusahaan.... heeheheheheheh .... Ah kalau saya sih cuma bertindak berdasarkan kepraktisan saja. Dan lagi tak masuk akal rasanya jika tetap berjalan dalam bajir dengan sepatu kulit.

Nahhhhhhhhh ngomong-ngomong soal sepatu karet, saat ini banyak dijual barang ini dengan harga yang lumayan terjangkau. Dua sepatu karet saya harganya cuma lima belas ribu sepasang. Warna beragam. Demikian juga motif plastiknya. Kalau soal model sepengetahuan saya tidak terlalu banyak ragam, cuma hal ini tertutupi dengan motif dan warna yang beragam tadi. Jadi intinya saya saat ini saya lebih sering 'menunggangi' sepatu karet yang murah meriah itu ketimbang sepatu kulit atau keds. Awalnya tempo hari agak risih juga karena pernah punya pengalaman bertemu dengan tamu perusahaan yang rapi jali dan ketika berhadapan memandang saya dari atas kebawah. Ehmmmmmm .... walau tidak berkata apa-apa tapi nyaris rasa percaya diri saya drop ke level terendah. Untungnya saya ada di atas angin karena dia pada posisi menawarkan diri untuk menjadi pemasok. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka dengan penampilan saya, maka dia harus berusaha 'menyenangkan' saya ..... ahahahahahahah. Tapi tetap saja kejadian itu mempengaruhi saya, karena toh itu bukti nyata bahwa tak semua orang mematuhi kata-kata bijak 'don't judge the book from its cover'. Ah, saya jadi ingat sebuah film Hollywood yang dibintangi Robert Redford idola saya (waktu muda ehmmmmm .... dia amboi indahnya). Judul filmnya saya lupa. Cuma saya ingat sekali ada salah satu adegan dimana si tua yang ganteng itu menilai tamunya dari sepatu yang dikenakan mereka. Nah nah nah .... kalau sepatu benar-benar dapat digunakan untuk menilai kepribadian seseorang, lalu seperti apa kepribadian saya yang sekarang cinta mati dengan sepatu plastik yang cuma lima belas ribu perak sepasang itu? Ehmmmmm .... apakah saya akan dinilai sebagai seorang yang murahan? Ehmmmm entahlah .....

Soal sepatu plastik ini, seorang teman punya kecintaan yang kurang lebih sama dengan saya. Kami sama-sama suka mengenakannya. Kalau saya kadang masih malu mengenakannya di depan customer atau rekanan yang mentereng, teman saya itu sebaliknya. Dia cuek-cuek saja. Yang penting fungsinya. Juga otaknya. Demikian katanya. benar juga sih. Cuma kenyataannya dia lebih 'care' terhadap penampilan dibanding saya. Dia selalu memikirkan benar-benar komposisi warna yang melekat di badannya. Selalu memperhatikan model baju dengan seksama. Tak pernah mau terlihat seperti 'urap-urap' akibat tabrakan warna ataupun motif. Selalu seksama memilih warna, dan cenderung menghindari warna mencolok. Sedangkan saya, ehmmmmmm warna cerah selalu 'menggoda'. Jadi ketika dia memilih sepatu plastik warna coklat tua karena menurutnya lebih netral, maka saya dengan enteng mengambil warna merah ...... ahaahahahhaah ......

Oh iya, soal sepatu karet ini, saya pernah menemukan di satu mal terkenal sepatu dengan konsep yang sama tapi menggunakan merk asing yang telah mendunia. Warnanya hijau bening yang pasti cocok untuk sepasang kaki dengan kulit putih bersih (ehmmmmm ...kayaknya bukan kaki saya deh). Dan begitu saya dekati, wah wah wah ..... harganya membuat jantung saya melompat. Teman saya terkekeh-kekeh. Katanya, “ah saya mah ga butuh merk ...yang lima belas ribu aja dah top banget dehhhhh ...” Sedangkan saya? Ehmmm yang lima belas ribu juga dehhhhhhh ..... hhehhheeheheheh ....... Eh masih menurut teman saya, sepatu karet yang murah meriah ini sanggup memberikan perubahan karena harganya yang terjangkau di banyak kalangan membuat semakin banyak orang yang mengenakan sepatu pada saat keluar rumah. Alias tidak lagi mengenakan sandal. Jadi lebih rapi kan?

Anyway, satu pesan saya, jika berkunjung ke Surabaya sebaiknya persiapkan 'senjata' yang tepat.

Kamis, 03 Februari 2011

Pemimpin, Bapak Bangsa, dan Pahlawan

Semalam saya menonton sebuah tayangan yang cukup menarik, sebuah perbincangan tentang negarawan Indonesia. Ehmmmm .... sebenarnya sih ada nada-nada menyindir para negarawan dan elit politik saat ini. Ah sindirin seperti itu kan jamak yaaa di era demokrasi seperti ini? So, biarlah sindirannya berjalan terus, siapa tahu mengena di hati yang disindir ..... heheheheehhe

Nah, acara tsb mengulas tentang para bapak bangsa, yaitu Sukarno, Hatta, Agus Salim, dan Syahrir. Cerita tentang kehidupan mereka di masa lalu, yang tentu berisikan masalah teladan tentang kesederhanaan hidup. Sebenarnya bukan cerita baru bagi saya karena bapak saya adalah seorang pencerita sejarah yang baik, bahkan saya yakin lebih baik daripada guru sejarah saya..... eeheheheheh .... maaf Pak, Bu mantan guru sejarah saya, tapi saya mesti jujur ..... hehhehehehe.... Berkat bapak saya juga, sejak kecil sedikit banyak saya sudah mengenal nama Sukarno, Hatta, Syahrir, dan Agus Salim. Untuk Hatta dan Syahrir, saya tidak punya buku rujukan selain buku teks sekolah. Jadi sumber lain adalah tuturan bapak saya yang bisa jadi subyektif karena dibumbui pendapat pribadinya. Sedangkan untuk Sukarno dan Agus Salim, ada buku yang saya dapat; tentu saja; dari bapak saya. Biografi Sukarno yang ditulis oleh Cindy Adams dan buku Seratus Tahun Haji Agus Salim adalah bacaan saya semasa sekolah dasar dan sepertinya saya pernah mengulangnya ketika sekolah menengah. Dari buku itu saya tahu cerita-cerita kemelaratan Sukarno (juga ke-playboy-annya tentu saja) dan Agus Salim. Jujur dari kedua tokoh itu, Agus Salim cuek dan simple lebih 'nyantol' di hati saya ketimbang Sukarno yang flamboyan.

Nah nah .... saya mendengar dan membaca tentang mereka. Apakah saya belajar dari mereka juga? Ehmmmmmmm ..... embuhhhh .... hehehehehe .... cuma saya sangat salut dengan mereka,yang dalam kondisi susah masih kuat mencengkeram idealisme dan memperjuangkannya. Sering saya berpikir seperti apa otak Agus Salim sehingga bisa menguasai 9 bahasa asing? Sepeti apa Sukarno berpikir sehingga bisa menginspirasi jutaan manusia? Seperti apa Hatta berlaku sehingga dia bisa begitu lurus? Seperti apa seorang Syahrir membangun dirinya sehingga idealismenya tak luntur bahkan ketika mesti menjadi tapol sekalipun? Ahhhhh tak diragukan mereka adalah orang-orang hebat. Ada yang bilang bahwa pemimpin dilahirkan pada masanya. Jadi tak peduli sesusah apa rintangan menghadang, mereka akan bisa melaluinya dan tampil sebagaimana mereka ditakdirkan ...... Ehmmm jadi meskipun Agus Salim sempat tinggal di rumah kecil dengan wc yang selalu meluap, dia tetaplah Agus Salim yang akan menjadi manusia hebat di tanah ini.

Nah nah nah ....... how about now? Maksud saya, jika memang pemimpin dilahirkan pada masanya, maka berarti bakal ada pemimpin juga dong pada jaman saya ini..... Bukan sekedar pemimpin kacangan maksud saya, tapi pemimpin yang benar-benar 'ampuh' seperti mereka-mereka yang saya sebutkan namanya di atas. Mereka yang tidak mendapatkan predikat pemimpin dari membeli, tapi mereka yang mendapatkannya dari rintisan bermasa yang menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadinya. Mereka yang bervisi dengan idealisme yang tak goyah oleh badai apapun. Mereka yang menganggap materi adalah hal remeh temeh yang bisa dikesampingkan menjadi nomor sekian atau malah terbuang dari daftar prioritasnya. Ehmmmmmmm ..... kok kayaknya hebat sekali sehingga seperti utopia yang cuma ada dalam mimpi dan kata-kata ya..... Ahhhhh .... setiap pemimpin dilahirkan pada masanya. Soooooooo, pasti ada pemimpin itu .... Siapa? ehmmmmmm mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengidentifikasinya. Bukankah Sukarno, Hatta, Syahrir, dan Agus Salim diakui mutlak sebagai pemimpin, bapak bangsa, dan pahlawan setelah masanya lewat? Jadi berarti mesti tunggu masa ini lewat dulu ya? Mungkin ...... mungkin beberapa tahun nanti akan ada orang-orang yang dipredikati sebagai pemimpin, bapak bangsa, dan pahlawan yang sebenarnya lahir ceprot pada jaman saya hidup. Dan mungkin saja mereka nantinya adalah orang-orang yang saya kenal ..... mungkin juga anda ..... atau malah bisa juga saya ..... aahhahahahahaha .... ehmmmmm bagaimana rasanya jika nama saya diabadikan untuk nama jalan, atau tempat-tempat megah? Ehmmmmm .... memangnya ada yang mau saya pimpin? Ah, saya agaknya bisa menjawab pertanyaan ini .....

Sukarno pernah berkata, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jadi ya boleh saja dong jika misal saya bercita-cita memimpin bangsa ini dan kelak menjadi bapak eh ibu bangsa dan dianugerahi gelar pahlawan. Cuma kira-kira ada yang mau enggak ya saya pimpin? Ehmmmmm ... kayaknya saya mulai bisa meraba jawaban untuk pertanyaan ini ..... hehehehehehhe