Selasa, 08 Maret 2011

Senjata Andalan

Kakak perempuan saya tempo hari bercerita bahwa dia sempat dag dig dug ketika berkunjung ke Surabaya. Kala itu dia harus menghadiri rapat dinas di sebuah hotel di tengah kota Surabaya. Dari terminal Bungurasih dia menuju ke lokasi dengan menumpang bis kota patas AC. Dan katanya saat dia naik ke bis tersebut cuaca memang sudah mendung. Begitu bis berangkat hujan turun ke bumi seperti air yang tumpah, alias sangat deras. Nah, dag dig dug-lah kakak saya karena dia tidak membawa jas hujan, payung, atau sejenisnya. Pada saat yang sama dia juga tidak membawa baju ganti karena rapat memang dijadwalkan cuma sehari saja. Dalam bis yang melaju katanya dia terus memanjatkan doa agar hujan deras itu segera reda jadi dia bisa turun dan menghadiri rapat tanpa basah kuyup. Alhamdulillah doanya terkabul. Hujan deras itu reda tepat ketika bis mencapai pusat kota Surabaya dan kakak saya terhindar dari basah kuyup. Saya nasehatkan padanya untuk tidak pernah lupa membawa 'sejata' setiap kali ke Surabaya.

'Senjata'? Ehhheheheheh .... iya, saya menyebut begitu untuk beberapa barang yang menurut saya wajib. Barang tersebut adalah payung, sandal jepit, dan sepatu karet. Semuanya untuk 'berkompromi' untuk kondisi hujan dan banjir di Surabaya. Sekali lagi, hujan dan banjir. Sebab hujan bagi saya identik dengan banjir. Dan kalau bertanya daerah mana yang banjir, maka jawabannya adalah semua daerah! Mengapa begitu? Sebab rasanya memang susah sekali sekarang mencari kawasan bebas banjir di Surabaya. Kawasan yang katanya elit pun terkena banjir. Tengah kota juga. Dan kalaupun ada secuplik kawasan yang tidak tergenang banjir, saya yakin jalan menuju ke kawasan tersebut pasti tergenang banjir. Jadi tetap diperlukan perjuangan untuk mencapainya.

Nah, senjata pertama ada payung. Jelas fungsinya. Berubah menjadi jas hujan bagi mereka pengendara roda dua. Cuma bedanya payung bisa berfungsi di kala panas dan hujan. Sedangkan jas hujan hanya berfungsi pada saat hujan saja sebab rasanya bakal ada yang terbelalak jika ada yang mengenakan jas hujan di kala langit terang benderang dan panas terik. Jadi, bagi pejalan kaki atau pengguna angkutan umum seperti saya, tidak ada ruginya selalu menyiapkan payung. Seorang teman saya menyiapkan satu payung di rumah dan satu lagi di kantor sehingga tidak perlu membawa-bawa payung di dalam tasnya karena dia termasuk yang suka berganti tas. Sedangkan saya lebih memilih menyiapkannya di dalam tas saya, karena saya termasuk tipe yang tidak suka berganti tas. Terlebih lagi tas harian saya berupa ransel besar yang muat banyak barang termasuk laptop dan dokumen.

Senjata kedua adalah sandal jepit dan sepatu karet. Sebenarnya keduanya bisa saling menggantikan. Dulu sebelum punya sepatu karet saya selalu pakai sandal jepit di kala hujan, baik ketika berangkat maupun pulang kantor. Lalu pihak HRD kantor tempat saya berkerja memprotes dengan alasan karyawan dengan sandal jepit mencederai kehormatan perusahaan.... heeheheheheheh .... Ah kalau saya sih cuma bertindak berdasarkan kepraktisan saja. Dan lagi tak masuk akal rasanya jika tetap berjalan dalam bajir dengan sepatu kulit.

Nahhhhhhhhh ngomong-ngomong soal sepatu karet, saat ini banyak dijual barang ini dengan harga yang lumayan terjangkau. Dua sepatu karet saya harganya cuma lima belas ribu sepasang. Warna beragam. Demikian juga motif plastiknya. Kalau soal model sepengetahuan saya tidak terlalu banyak ragam, cuma hal ini tertutupi dengan motif dan warna yang beragam tadi. Jadi intinya saya saat ini saya lebih sering 'menunggangi' sepatu karet yang murah meriah itu ketimbang sepatu kulit atau keds. Awalnya tempo hari agak risih juga karena pernah punya pengalaman bertemu dengan tamu perusahaan yang rapi jali dan ketika berhadapan memandang saya dari atas kebawah. Ehmmmmmm .... walau tidak berkata apa-apa tapi nyaris rasa percaya diri saya drop ke level terendah. Untungnya saya ada di atas angin karena dia pada posisi menawarkan diri untuk menjadi pemasok. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka dengan penampilan saya, maka dia harus berusaha 'menyenangkan' saya ..... ahahahahahahah. Tapi tetap saja kejadian itu mempengaruhi saya, karena toh itu bukti nyata bahwa tak semua orang mematuhi kata-kata bijak 'don't judge the book from its cover'. Ah, saya jadi ingat sebuah film Hollywood yang dibintangi Robert Redford idola saya (waktu muda ehmmmmm .... dia amboi indahnya). Judul filmnya saya lupa. Cuma saya ingat sekali ada salah satu adegan dimana si tua yang ganteng itu menilai tamunya dari sepatu yang dikenakan mereka. Nah nah nah .... kalau sepatu benar-benar dapat digunakan untuk menilai kepribadian seseorang, lalu seperti apa kepribadian saya yang sekarang cinta mati dengan sepatu plastik yang cuma lima belas ribu perak sepasang itu? Ehmmmmm .... apakah saya akan dinilai sebagai seorang yang murahan? Ehmmmm entahlah .....

Soal sepatu plastik ini, seorang teman punya kecintaan yang kurang lebih sama dengan saya. Kami sama-sama suka mengenakannya. Kalau saya kadang masih malu mengenakannya di depan customer atau rekanan yang mentereng, teman saya itu sebaliknya. Dia cuek-cuek saja. Yang penting fungsinya. Juga otaknya. Demikian katanya. benar juga sih. Cuma kenyataannya dia lebih 'care' terhadap penampilan dibanding saya. Dia selalu memikirkan benar-benar komposisi warna yang melekat di badannya. Selalu memperhatikan model baju dengan seksama. Tak pernah mau terlihat seperti 'urap-urap' akibat tabrakan warna ataupun motif. Selalu seksama memilih warna, dan cenderung menghindari warna mencolok. Sedangkan saya, ehmmmmmm warna cerah selalu 'menggoda'. Jadi ketika dia memilih sepatu plastik warna coklat tua karena menurutnya lebih netral, maka saya dengan enteng mengambil warna merah ...... ahaahahahhaah ......

Oh iya, soal sepatu karet ini, saya pernah menemukan di satu mal terkenal sepatu dengan konsep yang sama tapi menggunakan merk asing yang telah mendunia. Warnanya hijau bening yang pasti cocok untuk sepasang kaki dengan kulit putih bersih (ehmmmmm ...kayaknya bukan kaki saya deh). Dan begitu saya dekati, wah wah wah ..... harganya membuat jantung saya melompat. Teman saya terkekeh-kekeh. Katanya, “ah saya mah ga butuh merk ...yang lima belas ribu aja dah top banget dehhhhh ...” Sedangkan saya? Ehmmm yang lima belas ribu juga dehhhhhhh ..... hhehhheeheheheh ....... Eh masih menurut teman saya, sepatu karet yang murah meriah ini sanggup memberikan perubahan karena harganya yang terjangkau di banyak kalangan membuat semakin banyak orang yang mengenakan sepatu pada saat keluar rumah. Alias tidak lagi mengenakan sandal. Jadi lebih rapi kan?

Anyway, satu pesan saya, jika berkunjung ke Surabaya sebaiknya persiapkan 'senjata' yang tepat.

Kamis, 03 Februari 2011

Pemimpin, Bapak Bangsa, dan Pahlawan

Semalam saya menonton sebuah tayangan yang cukup menarik, sebuah perbincangan tentang negarawan Indonesia. Ehmmmm .... sebenarnya sih ada nada-nada menyindir para negarawan dan elit politik saat ini. Ah sindirin seperti itu kan jamak yaaa di era demokrasi seperti ini? So, biarlah sindirannya berjalan terus, siapa tahu mengena di hati yang disindir ..... heheheheehhe

Nah, acara tsb mengulas tentang para bapak bangsa, yaitu Sukarno, Hatta, Agus Salim, dan Syahrir. Cerita tentang kehidupan mereka di masa lalu, yang tentu berisikan masalah teladan tentang kesederhanaan hidup. Sebenarnya bukan cerita baru bagi saya karena bapak saya adalah seorang pencerita sejarah yang baik, bahkan saya yakin lebih baik daripada guru sejarah saya..... eeheheheheh .... maaf Pak, Bu mantan guru sejarah saya, tapi saya mesti jujur ..... hehhehehehe.... Berkat bapak saya juga, sejak kecil sedikit banyak saya sudah mengenal nama Sukarno, Hatta, Syahrir, dan Agus Salim. Untuk Hatta dan Syahrir, saya tidak punya buku rujukan selain buku teks sekolah. Jadi sumber lain adalah tuturan bapak saya yang bisa jadi subyektif karena dibumbui pendapat pribadinya. Sedangkan untuk Sukarno dan Agus Salim, ada buku yang saya dapat; tentu saja; dari bapak saya. Biografi Sukarno yang ditulis oleh Cindy Adams dan buku Seratus Tahun Haji Agus Salim adalah bacaan saya semasa sekolah dasar dan sepertinya saya pernah mengulangnya ketika sekolah menengah. Dari buku itu saya tahu cerita-cerita kemelaratan Sukarno (juga ke-playboy-annya tentu saja) dan Agus Salim. Jujur dari kedua tokoh itu, Agus Salim cuek dan simple lebih 'nyantol' di hati saya ketimbang Sukarno yang flamboyan.

Nah nah .... saya mendengar dan membaca tentang mereka. Apakah saya belajar dari mereka juga? Ehmmmmmmm ..... embuhhhh .... hehehehehe .... cuma saya sangat salut dengan mereka,yang dalam kondisi susah masih kuat mencengkeram idealisme dan memperjuangkannya. Sering saya berpikir seperti apa otak Agus Salim sehingga bisa menguasai 9 bahasa asing? Sepeti apa Sukarno berpikir sehingga bisa menginspirasi jutaan manusia? Seperti apa Hatta berlaku sehingga dia bisa begitu lurus? Seperti apa seorang Syahrir membangun dirinya sehingga idealismenya tak luntur bahkan ketika mesti menjadi tapol sekalipun? Ahhhhh tak diragukan mereka adalah orang-orang hebat. Ada yang bilang bahwa pemimpin dilahirkan pada masanya. Jadi tak peduli sesusah apa rintangan menghadang, mereka akan bisa melaluinya dan tampil sebagaimana mereka ditakdirkan ...... Ehmmm jadi meskipun Agus Salim sempat tinggal di rumah kecil dengan wc yang selalu meluap, dia tetaplah Agus Salim yang akan menjadi manusia hebat di tanah ini.

Nah nah nah ....... how about now? Maksud saya, jika memang pemimpin dilahirkan pada masanya, maka berarti bakal ada pemimpin juga dong pada jaman saya ini..... Bukan sekedar pemimpin kacangan maksud saya, tapi pemimpin yang benar-benar 'ampuh' seperti mereka-mereka yang saya sebutkan namanya di atas. Mereka yang tidak mendapatkan predikat pemimpin dari membeli, tapi mereka yang mendapatkannya dari rintisan bermasa yang menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadinya. Mereka yang bervisi dengan idealisme yang tak goyah oleh badai apapun. Mereka yang menganggap materi adalah hal remeh temeh yang bisa dikesampingkan menjadi nomor sekian atau malah terbuang dari daftar prioritasnya. Ehmmmmmmm ..... kok kayaknya hebat sekali sehingga seperti utopia yang cuma ada dalam mimpi dan kata-kata ya..... Ahhhhh .... setiap pemimpin dilahirkan pada masanya. Soooooooo, pasti ada pemimpin itu .... Siapa? ehmmmmmm mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengidentifikasinya. Bukankah Sukarno, Hatta, Syahrir, dan Agus Salim diakui mutlak sebagai pemimpin, bapak bangsa, dan pahlawan setelah masanya lewat? Jadi berarti mesti tunggu masa ini lewat dulu ya? Mungkin ...... mungkin beberapa tahun nanti akan ada orang-orang yang dipredikati sebagai pemimpin, bapak bangsa, dan pahlawan yang sebenarnya lahir ceprot pada jaman saya hidup. Dan mungkin saja mereka nantinya adalah orang-orang yang saya kenal ..... mungkin juga anda ..... atau malah bisa juga saya ..... aahhahahahahaha .... ehmmmmm bagaimana rasanya jika nama saya diabadikan untuk nama jalan, atau tempat-tempat megah? Ehmmmmm .... memangnya ada yang mau saya pimpin? Ah, saya agaknya bisa menjawab pertanyaan ini .....

Sukarno pernah berkata, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jadi ya boleh saja dong jika misal saya bercita-cita memimpin bangsa ini dan kelak menjadi bapak eh ibu bangsa dan dianugerahi gelar pahlawan. Cuma kira-kira ada yang mau enggak ya saya pimpin? Ehmmmmm ... kayaknya saya mulai bisa meraba jawaban untuk pertanyaan ini ..... hehehehehehhe

Rabu, 26 Januari 2011

Pekerjaan Rumah

Seorang teman sempat menjadi bahan olok-olok di kantor karena sebelum berangkat kerja dia harus mencuci baju terlebih dahulu. Baju siapa saja? Ya semua orang seisi rumah, jawabnya enteng. Seisi rumah berarti baju kotor kedua anaknya dan istrinya. Tak ada pembantu rumah tangga untuk mengerjakan hal itu, tanya saya. Jawabnya masih enteng, tidak ada. Alhasil seisi yang lain langsung menggoda dengan menyebutnya anggota ISTI alias Ikatan Suami Takut Istri. Dan yang mengatakan hal ini tidak cuma yang laki-laki, tapi juga yang berjenis kelamin perempuan; kecuali saya. Yang digoda cuma senyum-senyum saja. Saya jadi membayangkan seperti apa istrinya. Apakah tipikal pengomel? Atau tipikal penjajah? Pikiran saya terputus ketika satu jawaban keluar dari mulut teman yang digoda tersebut. Katanya, “Saya kan menghormati dia sebagai patner dalam hidup. Dia sudah membantu saya mencari nafkah untuk keluarga. Jadi menurut saya wajar-wajar saja saya membantunya mencuci baju atau pekerjaan rumah yang lainnya.” Apakah dengan jawaban tersebut lalu godaan menjadi selesai? Ohhhhh jangan salah, godaan masih berlanjut terus dan predikat anggota ISTI tetap disematkan kepadanya. Sedangkan reaksi teman saya itu juga tetap tenang-tenang, menghadapi ejekan yang kadang cenderung bernada cemooh dengan sangat santai dan humoris. Sedangkan saya? Ehmmmm ... saya langsung beringsut kembali ke meja saya dengan kepala berisi sesuatu.

Jujur saja, kalimat jawaban tadi baru pertama saya dengar keluar dari mulut seorang suami. Saya heran. Saya salut. Berapa banyak suami yang berpikiran seperti dia? Ehmmmmm .... apakah dia melakukannya karena penghasilan istrinya lebih besar daripada yang didapatnya? Ini yang saya tidak tahu dan tak berani untuk mencari tahu. Ahhhh ... saya jadi ingat, seorang teman laki-laki mengaku penghasilan istrinya lebih besar darinya. Dan saking penasaran saya korek-koreklah dirinya. Hasilnya, dia tidak mencuci baju, tidak bisa memasak, dan juga tidak membersihkan rumahnya. Pekerjaan rumah yang dilakukannya adalah ngemong anak dalam artian menjaga saja, tidak termasuk mengganti popok, menceboki, menyuapi, dan sejenisnya. Nah, apakah berarti masalah besar kecilnya penghasilan tidak berpengaruh?

Mungkin memang tidak berpengaruh. Sebab saya melihat bukti yang lain. Seorang teman kos pernah membuat saya takjub karena staminanya yang tinggi. Dia berangkat kerja sekitar pukul 06.30. Dan seringkali baru pulang sekitar pukul 20.30 atau malah lebih. Katanya produksi sedang peak season jadi lembur terus. Dan jangan salah, setelah sampai di rumah dia tak berleha-leha. Setelah makan malam dia langsung bekerja membuat jajanan untuk dititipkan di kantin pabrik esok hari. Dan jangan dikira pekerjaan membuat jajanan ini sederhana, karena saya lihat prosesnya cukup memakan waktu dan tenaga. Dia harus terlebih dahulu merebus bahannya, lalu memotong sesuai ukuran, lalu menggoreng, dan terakhir mengemasnya dalam plastik kecil-kecil sehingga jajanan itu bisa dijual dengan harga seribu perak perbungkus. Dan melihat caranya menutup plastik bungkus dengan membakar mulut plastik dengan lilin, saya langsung merasa pegal yang luar biasa. Dia mengerjakan semua itu hingga jauh malam. Kadang ketika terbangun dini hari saya melihat kamarnya setengah terbuka dan dia tidur bersender di tembok dengan lilin menyala di depannya. Iseng saya tanyakan berapa jam dia tidur dalam sehari. Jawabnya paling lama tiga jam. Dan dia masih bisa berdiri tegak. Saat itu saya langsung membenci suaminya. Karena saya lihat laki-laki itu hampir selalu pulang jauh lebih cepat dan saking cepatnya sering bisa tidur siang. Kalau memang sang suami luang waktunya kenapa pekerjaan membuat jajan tidak dialihkan pada sang suami saja? Toh materialnya sudah tersedia di kulkas sejak siang hari. Kalau memang pekerjaan bisa dibagi kenapa tidak dibagi? Takut rasa jajanannya berbeda? Ahhhh yang begitu mah bisa diatasi dengan takaran-takaran baku dan pembelajaran.

Ehmmmmm .... apakah dari dua kejadian yang saya sebutkan di atas berarti laki-laki cenderung enggan membantu mengerjakan pekerjaan rumah? Ehmmmmmm .... mungkin sebenarnya tidak juga. Toh di atas cuma dua kejadian saja, jadi tidak bisa dikatakan mewakili kan? Mungkin di luar sana semua pasangan di selain dua pasangan di atas semuanya bekerja sama soal pekerjaan rumah dengan indahnya .....

Jujur sebagai perempuan, kuping saya tentu akan 'semriwing' senang jika mendengar pasangan berbicara seperti teman yang saya sampaikan di paragraf pertama. Saya akan terharu ..... juga senang ..... juga bangga...... Ehmmmmmm juga bakal besar kepala dan berubah menjadi penjajah ga ya? hehheeehhehe ...... Semoga tidak ......

Selasa, 25 Januari 2011

not lost without you

I’m Not Lost Without You

see, I’m not lost without you
Just a little bit confuse,
unstable,
got hole in my head
not too deep, not too big,
but enough for making me incomplete

still it’s true I’m not lost

see, I’m still going on
even everybody says I’m getting slower
I just say this is life
real life
of me

see, I’m walking through this all
cause this is life
real life
of me

crying will be yesterday’s thing
as yesterday as smiling and laughing
it’s fair, right?

See, I’m not lost without you
incomplete for a while,
unstable for a while,
it’s all just human side of me

see, I’m going ….

Minggu, 26 Desember 2010

Novel Karya Saya

Tahu apa yang saya lakukan ketika orang lain merayakan Natal tahun ini? Ehmmmm ... saya mencoba menulis ulang draft novel yang pernah saya buat beberapa tahun yang lalu. Saya menulis novel? Hehhehe ...iya, i did it .... Malah sebenarnya saya pernah menulis novel; jika layak disebut begitu; sebanyak dua judul dan masing-masing sepanjang sekitar seratus halaman. Tidak menyangka ya? Sama, saya juga tidak menyangka ... ahahahhahaha.....

Sebenarnya saya senang menulis sejak dulu, sejak SD. Waktu itu jika teman-teman saya kesulitan di pelajaran mengarang, maka bagi saya pelajaran menyanyi lebih menyulitkan saya. Sangat menyulitkan malah .... Seorang teman pernah bertanya bagaimana saya bisa menulis kalimat-kalimat itu. Saya bilang saya cuma menulis apa yang ingin saya katakan. Lalu suatu saat seorang guru mengirim saya untuk ikut lomba mengarang sekecamatan. Dan saya keluar jadi juara kedua kalau tak salah.

Jadi apakah saya hebat soal tulis menulis? Ohhhhhhhhhhh nooooooooooooooooooo ..... jauhhhhhhhhhhhhhhhhh .... hheheheheheh .... Cuma tetap saja saya suka menulis cerita, sebagai rentetan kesukaan akan membaca cerita.

Nahhhhh ..... soal menulis novel begini ceritanya. Suatu hari sebuah cerpen saya dimuat oleh sebuah majalah wanita ibukota. Waktu itu sebenarnya maksudnya ikut sayembara menulis cerpen yang sedang diadakan oleh majalah tersebut. Tapi katanya cerpen saya layak dimuat walau tidak menang. Jadilah itu pertama kali saya melihat nama saya terpampang di sebuah media. Lalu apakah saya jadi lebih rajin menulis? Ehmmmmm tidak .... heehhhe ..... saya berangan-angan menjadi penulis tapi kenyataannya saya adalah seorang karyawan kantor yang berkutat mengurus ini itu dari jam delapan pagi sampai lima sore bahkan sering lebih. Jadi saya jauh dari produktif soal tulis menulis. Tapi kegiatan membaca jalan terus. Karena itu ketika muncul istilah sastra wangi di kancah sastra Indonesia saya ikut ngeh alias agak paham. Dan jujur mereka-mereka membuat saya latah ikut mencoba membuat novel. Dannnnnnnn baru saya rasakan betapa susahnya menulis panjang .......

Novel pertama jadi. Saya lupa berapa lama saya menulisnya. Awalnya waktu itu buat karena pengen ikut sayembara yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Ehmmmmm cita-cita yang tinggi .... karena waktu itu saya bermimpi untuk jadi the next Ayu Utami .... hahahahhahahaha ..... Tapi ternyata di akhir saya menyerah. Karena jumlah minimum halamannya belum tercapai sementara kepala saya sudah kering ..... hehhehehehehe .... Lalu saya edarkan draft novel itu ke beberapa teman kantor. Yaaaa ada sih yang bilang cukup bagus .... hehheheheheheh .... duh duh duhhhh .....

Lalu setelah jeda sekitar setahun saya mencoba lagi. Seingat saya motivasinya masih tetap, yaitu ikut sayembara Dewan Kesenian Jakarta. Waktu itu saya berpikir lebih realistis. Saya pasti jauh dari kualitas juara, tapi dengan ikut berpartisipasi paling tidak saya bisa membuat nama-nama terkenal yang bertindak sebagai juri itu lebih sibuk karena harus membaca satu novel tak berkualitas milik saya ... dan saya bisa sedikit sombong dengan mengaku novel saya pernah dibaca oleh si ini lhoooo .... hehhehehhe .... Tapi ujung-ujungnya saya urung mengirimkannya. Terlalu malu ......

Nah novel kedua inilah yang beberapa hari yang lalu menyusup ke kepala saya dan saya baca ulang. Ehmmmm ... saya kok jadi narsis dengan jatuh cinta pada bagian-bagian tertentu dari tulisan saya ya ..... hehehehehheeh ..... Maka berpikirlah saya untuk menulis ulang novel tersebut. Selanjutnya? Ehmmmm ... kita lihat saja nanti .....

Senin, 08 November 2010

melancoly mood ......

jika kutemukan kau di ujung sana suatu hari nanti, kan kutanyakan padamu apa yang membuat waktu tertunda begitu lama, hingga seakan mengkelukan segala dan menunggu menjadi selamanya .....
kuharap jawabanmu adalah sekulum senyum yang boleh kusentuh dengan ujung telunjukku
kuadukan padamu bahwa detik dan menit adalah persekongkolan kental yang sangat enggan beranjak lalu... kaki mereka beku ... sementara aku meranggas getas dalam rindu ...

jika kau temukan aku di ujung sana suatu hari nanti, pertanyaan apa yang kau punya untukku?

Senin, 25 Oktober 2010

Sebuah Percakapan ....

Tempo hari saya sedang jalan-jalan sendiri di sebuah mal ketika tiba-tiba kuping saya menangkap sebuah pembicaraan. Pembicaraan antara ibu dan anak sebenarnya. Sang ibu yang rasanya sekitar pertengahan tigapuluhan dan sedang menggendong balita putih bersih. Sedangkan anaknya yang berjalan di sampingnya berusia sekitar sembilan atau sepuluh tahun. Kedua eh ketiga anak beranak itu tampilannya modis, dan terlihat dari kalangan mana berasal. Ehmmm ya, mal yang saya kunjungi itu memang terkenal sebagai mal yang masuk kelas atas di Surabaya. Jadi yang datang kesitu juga mestinya dari golongan kelas tsb. Ehmmmm kecuali saya barangkali ..... hehehheehe sebab saya datang bukan dengan maksud untuk mengeluarkan uang, tapi untuk menukarkan poin kartu kredit yang terkumpul akibat pembelanjaan yang dilakukan oleh teman saya. Nahhhh jelas kan maksud dan tujuan saya ke situ? Kalau buat mengeluarkan uang di situ sih ehmmmmmm rasanya saya malas .... sebab di tempat lain dengan nominal yang sama bisa dapat lebih banyak barang. Ada harga, ada kualitas. Demikian teman saya selalu berujar. Iya benar sih .... cuma saya males kalau kualitas itu diidentikkan selalu dengan merk terkenal. Saya kan berniat beli barangnya, bukan merknya ..... Begitcuuuuuuuu ..... Kata teman saya,"karena niat beli barangnya, atau tak cukup kuat bayarnya?" Ehmmmmm .... pertanyaan yang susah untuk dijawab .... ahahahahahaha...

Okay, balik ke masalah percakapan anak beranak tadi. Si ibu berkata pada anakknya seperti ini ,"Lihat itu yang ada kertas merah-merahnya! Kan ada tulisan 50%. Berarti itu Mama hanya akan bayar setengah dari harga barang sebenarnya. Murah kan? Nah, kita cari yang seperti itu." Ehmmmm...jelas kuping saya bereaksi karena kalimat itu dan sontak otak saya memberikan perintah untuk menoleh kepada mereka. Saya lihat si gadis kecil memandang ibunya lalu mengangguk mengerti dan mulai mengikuti ibunya menghampiri kapstok-kapstok baju perempuan. Sementara saya berjalan dengan setengah tercenung karena percakapan itu.

Ehmmm.... jujur saya sendiri heran kenapa tertarik dengan percakapan itu. Mungkin karena semasa kecil dulu tak pernah mempunyai percakapan semacam itu dengan ibu saya. Berapa banyak ibu-ibu yang mengajari anaknya seperti itu? Entahlah .... Perlukah seorang anak diajari seperti itu? Entahlah .... Saya tak sedang berbicara soal benar atau salah mengenai hal ini yang saya tak tahu. Cuma bagi saya rasanya percakapan seperti itu kontekstual. Sebab di kota seperti Surabaya, rasanya mal merupakan tempat rekreasi dengan rating tinggi. Saya yakin semua umur bisa ditemukan dalam sebuah mal. Coba lihat saja mulai dari bayi yang masih dalam kandungan, atau yang belum bisa berjalan, sampai mereka yang sudah renta, bisa ditemukan di mal. Bahkan saya pernah bertemu dengan mereka yang konon kurang sehat jiwanya di beberapa mal.

Nah kalau misal sedang rekreasi ke pantai dan seorang ayah mengajar berenang anaknya, maka kontekstual kan ketika seorang ibu yang sedang mengajak anaknya berjalan-jalan di mal mengajarkan cara berbelanja? Bukankah sebuah hal yang bijak jika seorang ibu mengajarkan cara berbelanja agar kelak si anak tidak konsumtif misalnya? Toh sebenarnya sama saja dengan ketika sedang bermain di taman seorang anak diajari naik sepeda atau main layang-layang? Iya kan? Ehmmm ..... sungguh saya jadi merindukan tanah lapang dengan pohon-pohon yang teduh, atau petak luas taman bermain, atau apalah dimana manusia bisa berkegiatan santai. Yaaaa semacam taman-taman kota yang biasanya terlihat di film-film Hollywood. Mungkin kalau banyak tempat seperti itu maka mal akan lebih lengang..... Bayangkan jika dalam sebuah kota semacam Surabaya terdapat sebuah taman seperti Central Park ... ehmmmmmm ... mimpi kali yeeeee .....