Minggu, 01 Maret 2009

Ibu Saya

Hari ini ibu saya berulang-tahun. Dan saya baru meneleponnya untuk mengucapkan selamat ulang tahun sekitar setengah lima sore tadi. Tanpa kado dan kehadiran pula, cuma suara. Dan doa tentu saja. Dari suaranya saya tahu dia senang, walau mungkin juga berpikir saya terlambat. Lalu beliau bercerita dengan nada riang tentang cucu-cucunya yang menelepon tadi pagi. Saya merasa bersalah, merasa menjadi anak yang tidak cukup baik.

Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Konon dulu pernah bekerja kantoran tapi kemudian berhenti ketika memutuskan menikah dengan bapak saya. Jadi, yang ada dalam benak saya dari kecil hingga sekarang adalah bahwa ibu yang bukan perempuan berseragam, tanpa riasan wajah rapi, dan tanpa sepatu dan tas kantor. Ibu juga bukan perempuan yang sehari-hari duduk di depan meja, berkutat dengan komputer, dan sibuk memeriksa aneka berkas. Ibu saya jauh dari gambaran itu. Ibu saya adalah perempuan yang sehari-hari ada di rumah, membersihkannya, merawatnya, memasak, dan tetek bengek yang dengan bahasa sekarang diistilahkan sebagai berada dan berkutat dalam lingkungan domestik. Ibu adalah perempuan yang bergumul dengan panci, sapu, detergen, dan sesekali keluar untuk keperluan organisasi sederhana macam PKK dan Dharma Wanita.

Ibu saya juga bukan tipikal perempuan yang sibuk dengan urusan badan dan penampilan. Beliau tidak banyak memikirkan efek detergen pencuci baju dan piring untuk kulitnya. Beliau tidak menelan vitamin E dan mengoles anti aging untuk mencegah penuaan. Beliau juga tidak menjauh dari asap kompor karena takut kelembaban wajahnya rusak. Beliau tidak banyak berhitung tentang ostheoporosis ketika mengerjakan pekerjaan rumah, termasuk ketika menggendong kami bertiga. Padahal jujur saja di masa mudanya ibu saya adalah perempuan yang sungguh cantik. Bahkan beberapa teman saya sempat berkomentar " kok kamu tidak minta turunan cantik dari ibumu?"

Itulah ibu saya. Perempuan yang seumur hidup saya kenal sebagai perempuan yang begitu-begitu saja. Dan kepada perempuan yang 'begitu-begitu saja' itu saya diam-diam sering berkaca dan bertanya dalam hati tentang banyak hal. Sering saya berpikir, akankah saya seperti dia ketika telah berkeluarga nantinya? Akankah saya mampu mengerjakan semuanya sendirian seperti yang dia mampu melakukannya bertahun-tahun? Akankah saya mampu menjadi tempat pulang yang menyenangkan bagi keluarga saya? Akankah saya mampu menjadi sosok yang kepadanya anak-anak saya memberikan respeknya? Akankah saya mampu membuat masakan yang mengenyangkan sekaligus menyenangkan? Akankah saya mampu dengan sengaja mendahulukan kepentingan keluarga saya di atas kepentingan pribadi saya? Ehmmmmm ..... masih banyak hal berkecamuk dalam pikiran saya setiap kali saya ada di dekatnya. Dan setiap kali pula hati saya ciut, karena sadar betapa banyak hal yang saya lakukan dalam hidup saya sungguh berbeda dengan hal yang beliau lakukan dalam hidupnya. Rutinitas, pendidikan, cara pandang, pergaulan, cita-cita, ambisi, keinginan, ego, emosi, ........ sungguh berbeda. Dan saya merasa ngeri.

Semua mahfum dan percaya adanya bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan hanya milik Allah semata. Manusia ; meminjam istilah seorang teman; tidak ada seimpit-impitnya. Tapi terus terang ada kalanya saya tidak sepakat dengan hal ini. Karena saya melihat ada yang sempurna, paling tidak di mata saya : ibu saya.

Selamat ulang tahun, bu. Semoga panjang umur, sehat, dan rahmat Allah senantiasa bersamamu. Dan tolong selalu buka pintu maafmu untuk semua hal salah yang saya lakukan, karena nanti, besok, lusa, dan lain waktu pasti saya akan bersalah kepadamu.

You're perfect.

Minggu, 15 Februari 2009

Sepeda

Siang tadi, seorang teman menyeret anaknya ke depan pintu kamar saya. Terang saja saya kaget. Ada apa ya, tanya saya dengan muka bodoh. Ternyata, teman saya ini bermaksud minta saya memarahi anaknya lantaran seringnya memakai sepeda saya tanpa ijin dan menggunakannya untuk berkeliaran ke sana kemari tanpa bisa dicegah oleh siapapun termasuk ibunya sendiri. Saya jadi termangu, bingung mau marah seperti apa pada bocah laki-laki tujuh tahun yang duduk meringkuk di lantai dengan badan mengkilat berkeringat hasil bersepeda barusan. Dan saya tidak tega melihatnya, walau saya tahu dia sudah melakukan kesalahan, termasuk membuat khawatir ibunya.

Jujur, kemarin-kemarin saya cukup terganggu dengan tingkah bocah itu, yang mengambil sepeda saya tanpa permisi walaupun pintu kamar saya jelas-jelas terbuka dan saya ada di dalamnya. Saya sempat berpikir sepatutnya orang-tuanya mengajarkan sopan santun kepadanya, bahwa meminjam barang orang lain harus didahului dengan permintaan ijin kepada si empunya. Ketika sempat menegurnya satu kali, saya bilang padanya bahwa itu milik saya dan dia harus minta ijin saya untuk bisa memakainya. Waktu itu si bocah cuma tersenyum, lalu berlari menuntun sepeda saya kembali ke tempat semula. Tapi itu cuma sekali terjadi. Setelahnya saya tak lagi ambil pusing dengan ketidaksopanan itu, sampai seorang tetangga memanggil ketika saya tengah berjalan pulang dari kantor. Si ibu tetangga bilang bahwa sepeda itu sering dibawa kemana-mana, termasuk ke jalan besar. Dia khawatir terjadi apa-apa, baik pada sepedanya maupun pada anaknya. Dia berpesan agar saya segera membeli kunci untuk sepeda itu. Waktu itu saya cuma tersenyum karena tak tahu harus bagaimana.

Apakah saya tidak peduli dengan keselamatan anak itu jika sampai hari ini tidak membeli kunci? Ahhhh .....demi Allah bukan itu maksud saya. Jujur saya tidak tega melakukannya. Saya ingat di masa kecil saya, sepeda adalah sebuah kesenangan, sebuah alat permainan yang sungguh menyenangkan sekaligus menyehatkan. Dulu hampir setiap minggu pagi saya bersepeda dengan teman-teman kecil saya, berkeliling kemana-mana, termasuk ke jalur-jalur yang biasanya dilalui kendaraan besar seperti bus dan truck. Memang cuma waktu itu saja orang tua kami semua mengijinkan melewati rute itu karena pada pagi buta jalur-jalur tersebut sepi. Jadi kalau sekarang seorang bocah seperti dia menikmati bermain dengan sepeda, walau bukan miliknya, sungguh saya bisa memakluminya. Wong saya sendiri masih suka kemana-mana pakai sepeda, termasuk ke kantor. Saya baru berhenti bersepeda ke kantor ketika laptop mulai terasa berat di punggung saya. Karena itu si bocah punya kesempatan paling tidak delapan jam untuk bebas bermain dengan sepeda itu, tanpa saya mengetahuinya.

Jadi, tadi saya cuma bisa bilang "jangan jauh-jauh, bawa sepedanya, sebab mobil banyak di luar sana, takutnya kamu tertabrak'. Mungkin bukan jenis marah yang diinginkan oleh ibunya. Tapi sungguh saya tidak tega lebih dari itu. Kemarin-kemarin sempat berniat untuk menguncinya. Tapi saya kasihan kepada si bocah. Sepeda saya adalah barang mainannya, barang yang mungkin bisa membuatnya sedikit senang. Dan saya merasa jahat sekali kalau sampai menguncinya, sementara saya tahu persis si bocah tidak punya cukup banyak mainan lainnya.

Jadi yaaaaa saya relakan saja, sambil diam-diam berharap si bocah mampu bertanggung-jawab dan menjaga keselamatan, terutama keselamatan dirinya. Ahhhhh ....mungkin saya berharap terlalu banyak pada seorang bocah tujuh tahun. Tapi saya juga tidak sampai hati merusak kesenangannya. Jadi bagaimana dong? Jadi, ya saya doakan saja semoga semuanya selamat dan semoga doa saya manjur adanya. Cukup bijakkah?

Senin, 09 Februari 2009

Sepasang Alis Yang Aduhai

Ehmmmm ...... hari ini saya dapat rejeki nomplok. Menyenangkan. Saya jadi diam-diam bersyukur hari ini tetap masuk kantor walau mata saya masih terasa seperti terganjal sesuatu dan merah akibat terciprat saus sambel malam sebelumnya. Awalnya asaya malas masuk kantor dengan mata seperti itu. Tambahan lagi hujan terus mengucur dari dini hari, membuat meringkuk di kasur terasa sungguh seperti di surga. Jadilah saya pergi ke kantor dengan setengah hati. Lalu seorang rekan kerja meminta saya menemaninya ke sebuah meeting dengan seorang customer potensial. Dannnnnn ...eng ing engggggg ...... hehehehehheeh.....

Nah .... singkat kata kami berdua sampai di lokasi yang dijanjikan untuk pertemuan itu. Begitu keluar dari kotak lift mata saya langsung tersandung oleh adegan dua orang duduk santai di sebuah bangku yang diperlakukan bak sebuah sofa empuk nyaman. Keduanya malah setengah mengangkat satu dengkul masing-masing, salah satu malah membuat posisi duduk yang setengah meringkuk. dan kepada yang meringkuk ini mata saya bertahan beberapa detik. Kenapa? Karena alis di atas matanya sungguh aduhai .... hahahahahhaa .... Benar-benar alisnya, bukan mata, hidung, atau wajahnya, tapi justru alisnya yang menyedot perhatian saya. Keduanya tebal, melengkung dengan biasa, tapi mampu menciptakan kontras yang sempurna dengan warna kulit disekitarnya. Dan dalam hati saya berkomentar "indah sekali, ya Allah...." hhehehhehehe..... lalu segera menyusul langkah patner saya yang rupanya tak terpengaruh dengan kedua alis itu. Sesama jeruk gitu lohh ....

Nah .... singkat kata lagi ....... kami dipersilahkan menunggu di sebuah ruang, sebab yang bersangkutan belum siap menerima kami. Dan setelah menunggu agak lama, akhirnya kami digiring masuk ke sebuah ruang pertemuan, dengan segerombolan orang mengekor di belakang kami. Dan...... eng ing enggggggggg..... ternyata si alis aduhai ada dalam gerombolan tersebut. Dia malah yang memyeretkan dua kursi buat kami, kursi yang rupanya sebenarnya ada di depan meja kerjanya. Dan kemudian dia mengambil tempat persis di seberang saya. Dan ..... ternyata dia ketua dari gerombolan tersebut, alias si pengambil keputusan. Ehmmmmm...... hehhehee ..... dengan noraknya saya jadi kehilangan kata-kata selama beberapa menit, bahkan kehilangan semangat untuk menjabat tangan gerombolan itu. Untung tak ada yang sadar bahwa saya tidak mengulurkan tangan. Asli 100% norak..... hehehhehee.

Yaaaa.... jadi itulah rejeki nomplok saya hari ini. Hal remeh tapi lumayan untuk membuat hari saya terasa lebih oke....... Dan semoga si alis aduhai itu mendapat pahala atas hal ini. Yaaa ...mungkin makhluk-mkhluk seperti itu diciptakan dengan salah satu tujuan membahagiakan yang lain dengan keindahannya? Hehehehe ....

Anyway ...... Alisnya memang sungguh aduhai :-)

Jumat, 09 Januari 2009

Tentang Gaza

Mengikuti apa-apa yang terjadi di Palestina terutama Gaza akhir-akhir ini? Ehmmmmm ....menyedihkan. Tempo hari sepulang kantor, seperti biasa saya menyalakan televisi dan menonton berita-berita dengan sepiring makan malam di tangan. Dan sebenarnya saya sangat menikmati menu seadanya yang hanya terdiri dari nasi putih, telur asin, dan kecap manis dan memakannya dengan intensitas tinggi karena lapar. Sampai kemudian televisi memperlihatkan wajah sedih dan berdarah-darah dari anak-anak Palestina, dengan latar lagu When The Children Cry. Tiba-tiba saya merasa berdosa enak-enak makan seperti itu padahal banyak muka-muka kecil menderita di sana.

Lalu sebuah stasiun televisi menyajikan acara debat antar partai. Dan kebetulan yang maju adalah dua partai berbasis Islam, yaitu PKS dan PPP. Dan PKS mendapat banyak serangan terkait dengan pernyataan politiknya tentang Palestina yang ditunjukkan dengan demo besar-besaran di banyak daerah. PKS dianggap terlalu mem-blow up isyu Palestina, sementara kondisi bangsa sendiri masih tak keruan.

Saya tidak bermaksud membela PKS dan menuduh PPP tidak sensitif terhadap isyu dunia dengan membuat tulisan ini. Saya tidak punya cukup kepentingan untuk itu. Cuma sebagai manusia biasa, saya berpendapat harus ada yang menghentikan Israel melakukan genosida ini. Dan saya senang ada yang mau berusaha, lebih dari yang saya lakukan.

Lalu apa yang saya sendiri lakukan? Tempo hari teman-teman mengirimkan daftar produk yang berkaitan dengan zionisme. Dan dengan penuh semangat saya memutuskan untuk memboikot dengan tidak membeli dan menggunakan produk-produk tersebut. Sempat terpikir bahwa jika semua orang yang menentang tindakan Israel melakukan hal yang sama dengan saya, maka berapa banyak perusahaan yang mendukung zionisme yang akan tersendat? Berapa banyak pekerja tak berdosa yang akan terimbas? Tapi lalu terpikir juga bahwa tersendatnya mereka berarti peluang usaha bagi yang lain. Maka pekerja yang terimbas insyaallah pasti akan menemukan jalan keluarnya. Jadi, BOIKOT JALAN TERUSSSSSSSS ......!!!!

Seorang teman bertanya, untuk apa saya melakukan itu. Saya cuma menyarankan teman saya untuk melihat wajah-wajah kecil itu. Wajah-wajah kecil yang tak mengerti dan hanya bisa menangis mencari orang-tuanya atau mengacungkan tangan minta digendong ketika suara bom dan tembakan menakuti dan melukainya. Lihat bagaimana wajah mereka mereka yang kosong karena campur aduk antara kaget, takut dan kesakitan. Mungkin para petinggi Israel itu tak pernah punya anak atau malah tak pernah menjadi anak-anak jadi tak merasa apa-apa ketika memuntahkan amunisi dan menjatuhkan bom-bom. Jika saja mereka berpikir apa yang akan mereka rasakan bila itu terjadi pada anak-anak terkasih mereka, mungkin tindakannya akan bisa lain.

Terus terang kemarin saya jadi jahat, karena berharap salah satu saja negara yang punya nuklir melepaskan barang itu ke arah Israel dan bummmmmmmm ...... Ehmmmmm .......... seperti ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki puluhan tahun lalu. Atau mungkin dengan menyebarkan virus-virus flu burung dan cikunguya pada mereka. Sehingga mereka tak lagi kuasa menerbangkan pesawat dan menjatuhkan bom-bom. Ehmmmm .....jahat ya saya? Tapi mereka sudah benar-benar jahat dengan perbuatannya sekarang!

Katanya tidak ada perdamaian tanpa peperangan. Katanyaaaa..... Tapi bagaimana dengan wajah-wajah kecil itu? Mungkin oleh Israel pernyataan tersebut diubah menjadi tidak ada perdamaian tanpa genosida ......... Dan mungkin mereka tak punya hati dalam relung badannya......... Dan mungkinkah ada pengampunan untuk hal seperti ini?

Jumat, 02 Januari 2009

Kepada Bang Andrea Hirata

Bang Andrea, dua minggu yang lalu, ketika saya pulang menemuinya, Bapak saya curhat. Rupanya beliau jengkel dengan karena stasiun televisi yang cukup disukainya raib dari peredaran alias tak tertangkap siarannya. Stasiun televisi yang dimaksud adalah Metrotv. Saya mahfum, karena Bapak saya adalah penyuka berita dan penggemar berat Kick Andy. Beliau tipikal pemirsa televisi yang selalu mengomel kalau menonton sinetron, kebiasaan yang membuat Ibu saya selalu tak nyaman duduk bersamanya ketika Cinta Fitri mengudara. Bapak selalu memberi komentar-komentar yang mengganggu kenikmatan Ibu. Menurut Bapak, cerita sinetron itu dangkal dan cenderung mencederai kemampuan otak pemirsanya. Ehmmmmm ...tentu saja Ibu saya tersinggung karena omongan itu. Jika Bapak mempunyai pendapat 'kejam' seperti itu, Ibu juga punya pendapat sendiri tentang sinetron. Menurutnya sinetron cuma untuk hiburan ringan saja, sehingga tak perlu dibuat susah hingga peras otak segala. Menonton berita orang memutilasi kekasihnya, ekonom beranalisa dengan macam-macam variabel susah, atau politikus berkicau berbusa-busa, tidak selamanya menyenangkan. Jadi, intinya Ibu memilih sinetron sebagai jeda dari itu semua.

Ehmmmmm ... itulah pendapat kedua orang tua saya. Dan, tanpa menghilangkan segala hormat saya terhadap perempuan yang telah melahirkan saya, saya berdiri di belakang pendapat Bapak tentang sinetron. Saya sepakat ketika Bapak menggerutu "apa hidup ini cuma berisi rebutan laki dan harta? Apa tidak ada tema lain yang lebih bagus dan logis dari itu? Masa' semua orang Indonesia kerjanya cuma rebutan laki dan harta sih?"

Jadi, begitulah Bang Andrea, gerutuan bapak saya itu membuat saya teringat dengan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Bagaimana Bang, kalau buku-buku itu dijadikan sinetron saja? Saya yakin sinetron yang bagus bermula dari ide cerita yang bagus. Dan keempat buku tadi saya yakin bisa merupakan ide yang hebat. Dan saya pribadi merasa sayang ketika melihat bagaimana Laskar Pelangi yang inspiratif dan ratusan halaman itu dimampatkan menjadi film yang hanya sekitar dua atau tiga jam saja. Terlebih lagi bagian favorit saya di buku itu, yaitu bagian cerdas cermat direnovasi sedemikian rupa, mungkin demi alasan komersialitas. Terus terang ketika mendengar Laskar Pelangi difilmkan, satu adegan yang saya setengah mati ingin lihat adalah ketika Lintang beradu ilmu fisika dengan si Bapak Guru sekolah elit. Sungguh saya masih menyimpan keinginan itu ketika berdesakan di loket bersama berpuluh orang-tua yang menggandeng anak-anaknya. Dan ternyata kemudian terbukti saya kecewa. Tapi paling tidak saya tidak sendirian. Teman saya pun sama kecewanya dengan saya karena kehilangan adegan itu.

Jadi Bang, bagaimana kalau buku-buku itu disinetronkan saja? Agar tak banyak bagian yang harus tergerus, agar makin banyak yang bisa mengambil inspirasi dari dalamnya. Tapi Bang, jika memang Abang setuju, tolong jangan dibuat ala India yang seringkali ruwet melingkar-lingkar tak keruan. Tolong buatlah tetap sederhana ala Belitong. Mungkin seperti Surat Untuk Sahabat, Para Pencari Tuhan, Si Doel Anak Sekolahan, atau Kiamat Sudah Dekat. Bukankah akan cantik itu Bang?

Tolong ya Bang, dipikirkan usulan saya ini. Jika Abang setuju dan menemukan penggarap yang sederhana tapi oke, tentu saya akan bisa melihat Bapak dan Ibu saya duduk berdampingan di depan telebisi dengan tenang tanpa berdebat. Dan juga tema sinetron kita tak akan lagi cuma melulu rebutan laki dan harta.

Jadi bagaimana, Bang? Setujukah?


Minggu, 21 Desember 2008

Turun (dong) .....

Baru-baru ini pemerintah menurunkan harga BBM. Kebijakan yang tentu disambut dengan gembira oleh seluruh masyarakat, termasuk saya. Dan terus terang saya tak peduli apakah itu kebijakan yang tendensius, mengingat bakal ada hajatan besar tahun 2009 ini, atau tidak. Yang penting bagi saya BBM akhirnya turun juga setelah masyarakat mendesak-desak. Dan desakan berdasar logika sederhana (bahwa dulu pemerintah menaikkan harga BBM karena harga minyak dunia meroket, dan sekarang seharusnya pemerintah menurunkannya karena toh harga minya dunia sedang turun) ternyata ampuh juga, walau awalnya alasan pemerintah banyak juga. Mentamben bilang bahwa menurunkan harga BBM bukan wewenangnya. Terus menteri lain juga beralasan bahwa penurunan harga BBM akan membuat pemerintah harus merevisi anggaran. Tapi syukurlah akhirnya harga BBM turun juga.

Tapi, ternyata penurunan itu tidak langsung membuat tarif angkot turun seperti harapan saya. Ketika harga BBM diumumkan naik tempo hari, besok paginya ketika berangkat kerja saya langsung ditodong tarif angkot yang sudah naik 500 perak dari biasanya. Kernet angkot bilang, "BBM naik, mbak." Ya sudah saya bayar saja, walaupun gaji saya belum naik (dan sampai detik ini pun belum juga naik). Nahhhhhhh ...sekarang giliran harga BBM turun, ehhhhhhh besok paginya saya tidak disambut dengan tarif angkot yang turun. Kenapa? Di televisi para pelaku bisnis tranportasi berkicau bahwa penurunan harga BBM tidak bisa membuat tarif angkutan langsung turun. Karena biaya BBM hanya mengambil porsi 25-30% dari biaya operasional keseluruhan. Dan lagi penurunan harga BBM tidak otomatis membuat harga suku cadang turun. Penurunan harga suku cadang baru terjadi jika ATPM menurunkan harga. Dan lagi penurunan tarif angkutan tidak bisa langsung terjadi karena toh Organda belum menentukan tarif baru berdasarkan harga BBM terbaru tersebut. Seorang tokoh pengusaha yang lain beralasan bahwa walau harga BBM turun tapi harga bahan pokok juga belum turun jadi tarif angkutan tidak bisa langsung turun juga. Ehmmmmmm ....... saya jadi cuma bisa menghela nafas karena semua alasan itu. Satu-satunya alasan yang paling masuk akal bagi saya adalah alasan sederhana sang sopir angkot, yaitu dia tidak bisa menurunkan tarif karena juragannya juga belum menurunkan jumlah setoran. Nah saya anggap saja ini intinya.

Jadi ketika urusan naik adalah urusan yang sederhana dan serba otomatis, maka urusan turun adalah sebaliknya. Alias susahnya minta ampun. Rasanya tidak cuma masalah turun tarif saja. Turun-turun yang lain pun sama susahnya. Mau contoh? Lihat saja bagaimana orang-orang Thailand menduduki bandaranya sendiri demi membuat Somchai Wongsawat turun dan mencegahnya berkuasa kembali. Jauh sebelum itu ada Cory Aquino dengan gerakan 'kuning'-nya demi membuat Marcos turun. Para mahasiswa Indonesia juga harus berdemo berhari-hari, bahkan akhirnya menelan banyak jiwa, demi membuat Soeharto turun. Dan juga lihat bagaimana hakim-hakim di MA membuat aturan-aturan yang konon menurut banyak pihak demi menghindari segera turun. Juga lihat tingkah para anggota DPR yang sekarang mati-matian berkampanye meraih hati konstituennya agar tidak turun.

Ahhhhh....... mungkin turun memang sesuatu yang tidak menyenangkan. Termasuk turun berok yaaaaaa.... hehehehehe..... Mungkin satu-satunya yang turun dengan sukarela adalah ......... HUJAN.

Senin, 08 Desember 2008

nama untuknya

Tidakkah kau ingin datang padaku saat waktu terasa seperti liang yang tahu-tahu melonggar? datanglah seperti itu, tanpa sejumput nafsu yang sangat mendesak untuk dituntaskan seperti selalu. Lalu mari duduk di terasku. Kan kuracikkan kau secangkir teh dengan kayu manis dan gula batu. Mau kupijit pula pundakmu?

Lalu, bisakah mulai kau pikirkan nama untukku? Sebuah nama yang tak perlu indah berima merdu. Yang penting ada artinya untukmu ...... juga untuk mereka.

Aaahhhh ...... lagi-lagi kau bilang tidak bisa sesederhana itu dan perlu waktu ........
Selalu!!!
Huh ...!



(untuk kaumku yang datang terlambat .....)