Jumat, 06 Februari 2015

A FORT OF NINE TOWERS ~ Review Buku

Judul  buku               : A FORT OF NINE TOWERS
Pengarang                 : Qais Akbar Omar
Penerbit                    : Picador
Tebal                        : 396 halaman
Cetakan                    : 2014


Seorang teman memberikan buku ini kepada saya dengan keterangan bahwa dia sendiri belum sempat membacanya. Bukan hal biasa sebenarnya karena dia adalah termasuk yang sangat rajin membaca. Tapi, lanjutnya, dia yakin buku ini bagus karena ada komentar seorang Khaled Hosseini yang berbunyi ‘poetic, powerful, and unforgettable’ di sampul depan. Kami berdua sama-sama menggemari Khaled Hosseini dan ucapannya membuat saya paling tidak enam puluh persen percaya buku tersebut layak dibaca. Dan jujur saja, ketika mulai membacanya, saya tak tahu bahwa ini sebuah memoar. Sampai hampir sepertiga buku saya masih mengira buku ini adalah sebuah novel. Baru setelahnya saya sadar yang sedang saya baca adalah sebuah memoar dari si penulis. Dan sejak itu pula cara saya memandang buku ini jadi berbeda, karena bagaimanapun sebuah memoar jauh berjarak dengan sebuah novel yang fiksi.

Qais memulai ceritanya dengan hanya sekilas kehidupan masa kininya, dan langsung flash back ke masa ketika umurnya tujuh tahun. Masa yang digambarkan sebagai masa yang penuh kebahagiaan. Berasal dari keluarga terhormat dan berada, Qais kecil tinggal di rumah kebun yang dibangun oleh kakeknya di kawasan pegunungan kota Kabul Afganistan. Disitu Qais dan keluarga besar ayahnya tinggal dengan sang kakek sebagai magnet utama. Gambaran masa kanak bersama sepupu-sepupu laki-laki lengkap dengan layang-layangnya langsung mengingatkan saya pada masa kecil Amir dan saudara tirinya Hasan dalam Kite Runner karya Khaled Hosseini. Sama sekali bukan kemiripan yang mengganggu mengingat keduanya menggunakan latar belakang tempat dan kurun waktu yang saya rasa tak jauh beda. Dan masa kecil yang indah itu akhirnya koyak oleh perang saudara yang pecah di Afganistan, seiring dengan pecahnya Mujahidin yang saat itu berkuasa menjadi faksi-faksi atas dasar etnis dan pandangan politik yang bertikai satu sama lain. Langit kota Kabul tak lagi indah berhias layang-layang, tapi berganti dengan roket yang bisa datang kapan saja, mendarat di mana saja, dan menghancurkan apa saja.

Perang memaksa keluarga Qais meninggalkan rumah kebun kebanggaan mereka. Tempat pengungsian pertama adalah sebuah rumah benteng yang konon mempunyai sembilan menara ketika pertama kali dibangun lebih dari seabad yang lalu, Qala-e-Noborja (fort of nine towers). Dan bahkan di benteng dengan dinding tinggi itu pun mereka tak mendapatkan sekedar keamanan. Qais sekeluarga berubah menjadi keluarga nomaden yang berpindah dari satu tempat ke lainnya, berdesakan dalam sebuah mobil Volga hanya demi bertahan hidup. Perjalanan panjang yang berawal di Qala-e-Noborja; dan kelak berakhir di tempat yang sama; tak hanya memberikan pelajaran hidup bagi Qais, tapi juga membantunya memahami diri juga negaranya, Afganistan.

Perang memang tak pernah membawa kebahagiaan. Pun ketika dikatakan perang adalah jalan terjal menuju perdamaian, tetap saja menyebabkan luka-luka fisik dan yang lebih parah lagi luka-luka batin yang sulit terobati. Dan selalu rakyat yang paling banyak menjadi korban. Lebih ironis lagi, perang saudara kerap membuat rakyat tak sepenuhnya mengerti apa yang dipertikaikan dan bagaimana harus bersikap. Perbedaan, semisal etnis, pada tataran jelata yang tak bersentuhan langsung dengan tampuk kekuasaan sering tak berarti banyak. Namun di tangan pemegang kekuasaan atau yang berambisi untuk berkuasa, adalah hal krusial yang berarti segalanya, bahkan setara dengan pertumpahan darah.  

Membaca memoar ini, saya seakan disadarkan kembali betapa manusia adalah makhluk yang begitu susah untuk menghargai perbedaan. Selalu ada perbedaan yang pada akhirnya memicu perang. Sejarah dunia membuktikan hal itu. Tapi tetap manusia tak juga menjadi cukup pintar ketika dihadapkan kembali dengan persoalan yang sama. Perang, perang, dan perang nyaris terus dianggap sebagai solusi.

Ada hal yang menggelitik saya dalam buku ini. Yaitu kalimat yang diucapkan oleh ayah Qais, “We have long tradition of raiding and plundering each other. But two things unite us: love for Allah, and hatred for our invaders and enemies.....”. Pada akhirnya selalu ada yang menyatukan sebuah bangsa. Namun saya jadi berpikir betapa mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah persatuan jika itu harus menunggu adanya pihak luar yang datang menyerang.

Secara keseluruhan buku ini memang terasa senada dengan karya fiksi Khaled Hosseini. Senada juga keberpihakan keduanya. Namun sebagai memoar, buku ini tetap mempunyai tempat yang berbeda karena perekam semua kejadian adalah mata, telinga, dan hati Qais Akbar Omar sebagai saksi hidup dalam satu babak sejarah sebuah negara bernama Afganistan.

MAYA ~ Review Buku

Judul  buku     : MAYA
Pengarang       : Ayu Utami
Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal              : xii + 249 halaman
Cetakan          : 2013





Kalau diibaratkan pacaran, perasaan saya terhadap karya Ayu Utami penuh dengan pasang surut, naik turun. Saya jatuh cinta setengah mati pada Saman, terus makin cinta saat Larung lahir. Tapi kemudian biasa-biasa saja pada Parasit Lajang, juga Bilangan Fu. Sedikit senang pada Manjali dan Cakrabirawa. Lalu anjlok lagi saat membaca Cerita Cinta Enrico. Yang terakhir ini malah membuat saya kehilangan minat membaca karya Ayu Utami selanjutnya. Sampai satu hari saya ‘terpaksa’ memilih Maya di sebuah toko buku online, sekedar agar paket buku yang saya pesan genap sekilo dan tak membuat saya rugi membayar ongkos kirim. Dan ternyata Maya cukup punya daya untuk menyembuhkan perasaan saya, walau kekuatannya belum seampuh Saman dan Larung.



Melalui Maya, Ayu agaknya bermaksud membuat ‘jembatan’ kecil yang menghubungkan Saman dan Larung ke serial Bilangan Fu. Sebutir batu membawa Yasmin; salah satu karakter di Saman dan Larung; bertemu dengan Parang Jati; salah satu tokoh dalam serial Bilangan Fu. Dan keterhubungan tersebut kemudian makin jelas karena ternyata jauh sebelumnya Saman telah mengenal keluarga Suhubudi, termasuk Parang Jati semasa bocahnya. Seketika itu juga saya bertanya-tanya apakah sebenarnya Ayu Utami telah membuat semacam grand design untuk semua karyanya sehingga mulai membangun ‘jembatan’ untuk kami pembacanya? Jika benar begitu maka nantinya akan karya yang mempertemukan karakter-karakter lain lintas serial. Atau mungkin nantinya akan ada semacam karya final untuk menceritakan peran, fungsi, dan keterhubungan semua karakter dalam satu peristiwa besar entah apa itu. Dan jika memang benar begitu, sungguh saya sangat bergairah untuk menantikan karya final tersebut. Tapi tak tahu lagi kalau Ayu sekedar hendak mengajak pembacanya untuk bernostalgia dengan Saman dan Larung yang sudah lama lewat, sekedar untuk mengenang kisah cinta tersembunyi yang tak pernah selesai karena terpenggal begitu saja dengan hilangnya Saman di akhir cerita Larung. Kalau yang benar adalah kemungkinan kedua ini, ya tak masalah juga sih. Toh, Maya sudah kadung berhasil mengembalikan mood saya terhadap buah karya Ayu Utami.

Maya menyuguhkan kisah tentang orang-orang tak sempurna secara fisik, yang kenyataannya memang kerap tak punya tempat di lingkungan manusia yang menganggap dirinya ‘sempurna’. Pendek kata, mereka terpinggirkan. Saking pinggirnya sampai KTP yang menjadi dokumen pribadi paling standar pun tak ada. Dalam praktek kehidupan masyarakat nyata mereka dianggap tak eksis. Mereka hanya ada dalam ‘dunia’ kecil yang dibuat Suhubudi di lingkungan padepokannya. Hanya di dalam situ mereka diakui keberadaannya. Bahkan Suhubudi juga bisa membuat mereka menjelma menjadi sosok impian masing-masing di kala malam, walau hanya melalui satu pertunjukan. Hanya di saat di panggung itulah mereka menjadi sempurna.

Rasanya bukan Ayu Utami kalau tidak meramu ceritanya dengan latar belakang politik. Begitu juga dengan Maya, Ayu menggunakan setting waktu menjelang keruntuhan Orde Baru. Juga dibumbui dengan pernik klenik berupa sebutir batu yang konon memang cukup dipercaya oleh pucuk tertinggi pemimpin negeri ini saat itu. Akhirnya bahwa seorang yang sebenarnya nyaris mendekati sempurna pun bisa menggantungkan keping akhir kesempurnaannya itu pada sebutir batu. Jika sudah demikian, bagaimana dengan mereka yang jelas tak sempurna?

 Ya, Maya tak dengan cengeng dan melankolis melulu bertutur tentang kisah cinta Yasmin-Saman. Maya jauh melampaui itu, menyuguhkan sebuah perjalanan spiritual, dengan nuansa huru hara politik. Kisah Yasmin-Saman ibarat jalan masuk menuju esensi Maya yang sesungguhnya. Jadi jujur saja, saya termasuk pembaca yang terkecoh karena sempat mengharapkan ada cerita panjang lebar tentang sejoli itu. Terbukti kemudian Ayu tak menyajikan yang saya harapkan. Tapi saya tak kecewa karena Ayu malah memberikan yang lebih baik dari harapan saya. Ayu juga meneguhkan bahwa pun ketika ada unsur Yasmin-Saman di dalamnya, Maya tetaplah Maya yang bagian dari serial Bilangan Fu, bukan Maya yang penuh ‘aroma’ Saman atau Larung. Dan saya yakin ini jelas ditangkap oleh pembaca yang mengikuti kiprah seorang Ayu Utami dari awal. Dan lagi-lagi jika saya saya diminta untuk memeringkatkan, maka saya menempatkan Maya di atas Manjali dan Cakrabirawa dan Bilangan Fu. Tapi tetap, dari sekian banyak karya Ayu Utami, Saman dan Larung-lah pemuncaknya. Paling tidak sampai saat ini belum tergantikan. Mungkin akan datang saatnya nanti.

PULANG ~ Review Buku

Judul  buku               : PULANG
Pengarang               : Leila S. Chudori
Penerbit                   : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal                       : viii + 461 halaman
Cetakan                   : 2012




Saya tidak tahu bagaimana ‘hukumnya’ belajar sejarah dari sebuah novel. Tapi yang pasti membaca Pulang bagi saya serasa membaca sebagian sejarah tak tertulis dari bangsa ini. Rasanya tak banyak buku yang mengisahkan perjalanan hidup para eksil dan keluarga tapol. Dan Leila S. Chudori membuat Pulang sebagai salah satu dari yang sedikit itu. Untuk saya pribadi, tema yang diusung oleh Pulang sangat menarik. Dan untungnya lagi lahir dan terbit setelah masa Orde Baru usai dan bangsa ini masih dirasuki euforia reformasi dan kebebasan.

Adalah Dimas, Nugroho, Tjai, dan Risyaf, empat sekawan yang tengah berada di luar negeri ketika peristiwa G30S/PKI terjadi. Pemerintah mencabut paspor keempatnya karena alasan politik sebelum mereka sempat pulang. Jadilah mereka empat sekawan tanpa status kewarganegaraan yang jelas, menggelandang, hingga akhirnya mendapatkan suaka dari Perancis dan menetap di Paris. Dan dari sekian cara yang ditempuh demi bertahan hidup, akhirnya Restoran Tanah Air-lah yang berhasil menjadi sandaran. Tak hanya itu, Restoran Tanah Air juga seakan menjadi satu-satunya benang merah bagi keempatnya. Tak peduli betapa mereka telah terusir dari tanah air sendiri dengan cara yang begitu menyakitkan, tetap saja kerinduan hadir kapan saja tak terhindarkan. Apalagi masing-masing sadar banyak hal di masa lalu yang tak begitu saja bersama dengan dicabutnya status kewarganegaraan mereka. Ada keluarga-keluarga di tanah air yang harus mengecap kesusahan karena hubungan darah dengan mereka.



Lintang, generasi berikut dari empat sekawan, menemukan jalan mengenal tanah asal dari sebagian darahnya melalui tugas akhir kuliah yang mengharuskannya benar-benar pergi mengunjungi Indonesia. Dan jika ‘takdir’ yang membuat empat sekawan terpaksa terpental dari tanah kelahiran mereka karena sebuah revolusi, maka ‘takdir’ pula yang membawa Lintang ke Jakarta tepat pada akhir masa pemerintahan Orde Baru. Sejak menginjakkan kakinya di Indonesia, Lintang menemukan banyak hal, tak hanya tentang keping-keping masa lalu empat sekawan, tapi juga realitas kebobrokan masa kini, juga perjuangan untuk meraih masa depan.

Novel ini layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama mereka yang lahir dalam masa ketentraman Orde Baru seperti saya. Saya yakin generasi saya ke bawah mengenal revolusi bangsa ini yang dipicu peristiwa tahun1965 hanya dari buku-buku sejarah standar. Mungkin ada juga yang mendengar pengakuan dari orang-orang tua yang mengalaminya. Tapi saya yakin tak banyak. Juga tak cukup lengkap karena yang saya tahu para pelakon di jaman itu cenderung berusaha melupakan dalam senyap. Dan memang ada saat ketika sejarah bangsa pada masa tersebut secara politis terlalu sensitif bahkan untuk sekedar dituturkan. Karenanya ketika novel ini hadir, saya merasa bagai orang yang diberikan kado kecil berupa dua babak cerita pasang surut bangsa ini. Babak pertama saya tak menyaksikan langsung. Sementara babak kedua adalah babak yang saya alami. Unik, sekaligus menggugah.

Ya, sejarah. Ibarat sebuah perjalanan panjang, sejarah adalah jejak langkah yang kadang terang terbaca, kadang hanya samar-samar terhapus angin, dan di saat yang lain malah terhapus sama sekali. Saya senang, dari sekian panjang sejarah bangsa ini, Leila memilih menulis bagian yang samar-samar sebagai satu titik berat. Bagian yang didalamnya ada carut marut bangsa yang tengah terbelah, sehingga ada orang-orang yang terpinggirkan bahkan tercerabut dari akarnya. Saya tidak sedang menobatkankan karya ini sebagai sebuah buku sejarah yang sah. Tentu saja tidak. Novel tetaplah novel. Hanya saja novel berlatar sejarah ini bisa jadi satu langkah kecil untuk menengok lebih jauh ke belakang, menerimanya sebagai bagian dari riwayat berbangsa, dan pada akhirnya belajar darinya. Sebab sampai hari inipun jika dicermati masih ada luka-luka yang tersisa. Dan pendekatan dalam bentuk sebuah novel tentu lebih gampang untuk diterima oleh banyak orang ketimbang memoar yang bisa jadi cara pandangnya subyektif. Sebagai novel yang banyak bicara tentang politik, Pulang juga tak jadi membosankan karena ada unsur romantika yang walau getir tapi tetap indah.

Sebelum Pulang, saya membaca karya Leila yang berjudul 9 dari Nadira. Jika diperbandingkan, 9 dari Nadira terasa lebih personal. Dan jika lebih jauh diminta untuk merankingkan keduanya, maka saya menempatkan Pulang dua tingkat lebih tinggi dari 9 dari Nadira karena keluasan cakupannya. Jika ada yang agak kurang memuaskan saya, mungkin hanya ending dari Pulang yang terasa tergesa-gesa karena sebuah kematian, seperti sebuah pintu yang mendadak ditutup. Tapi tak apa, mungkin itu hanya perasaan saya sebagai penikmat yang tak keberatan membacanya lebih lama.

Oh ya, satu lagi yang menjadi nilai plus dari buku ini, ilustrasi grafis di bagian dalam bagus sekali. Acung dua jempol khusus untuk hal istimewa ini.

Rabu, 28 Januari 2015

Maaf, Saya Me-remove Akun Anda

Kemarin dengan terpaksa saya me-remove sebuah akun dari friend list facebook saya. Disebut terpaksa karena ini bukan hal yang biasa saya lakukan, walau sebelumnya pernah juga. Sejak beberapa tahun yang lalu saya menggunakan facebook sebagai tempat mencari makan alias jualan. Sejak itu saya berupaya mereka-mereka yang ada di friend list saya adalah mereka yang bisa jadi pasar untuk produk yang saya jual atau paling tidak adalah mereka yang memang sudah saya kenal secara pribadi. Dengan tujuan itu memang saya beberapa kali remove akun atau ignore friend request yang tidak sesuai. Dan itu sebenarnya saya lakukan dengan hati-hati dan penuh pertimbangan karena menurut saya di-remove atau di-ignore walau prakteknya hanya secara virtual bagi orang-orang tertentu tetap menyakitkan.

Nah, kembali ke akun yang saya remove kemarin. Seperti banyak akun di friend list saya, pemilik akun tersebut tidak saya kenal secara pribadi. Saya juga lupa sejak kapan dia ada di friend list saya dan apakah saya pernah bertransaksi dengannya. Yang pasti saya pernah terlibat komen-mengkomen dengannya. Begini ceritanya. Dugaan saya si pemilik akun adalah kader sebuah partai yang tak termasuk koalisi pemenang pilpres tempo hari, tak perlu disebut nama partainya. Dan mungkin dengan maksud mengkritisi, dia sering posting status yang intinya menyorot kebijakan pemerintah dengan segenap jajarannya dan segala atributnya. Sebenarnya sampai disini saya sih oke oke saja, wong waktu pilpres saya mencoblos kedua kandidat. Jelas kan kemana keberpihakan saya secara politik saat itu. Yang kemudian jadi mengganggu adalah postingan status itu makin lama makin terasa negatif dan menafikan logika. Ujung-ujungnya selalu golongan dia yang terbaik. Awalnya saya sekedar mencebik setiap kali membaca statusnya. Tapi kok lama-lama saya terganggu, sangat terganggu malah. Dan sialnya saya tidak bisa begitu saja melewatkan postingan status itu karena seperti yang lain terbaca oleh saya. Akhirnya tiba saat saya tak tahan untuk tidak memberi komentar, sekedar membuatnya berpikir dari sisa yang lain.

Waktu itu pas ramai gonjang-ganjing soal calon Kapolri. Presiden mengajukan ke DPR satu nama calon Kapolri yang dianggap publik bermasalah terkait dengan dugaan rekening gendut. Konon kabarnya si Presiden memilih yang bersangkutan karena desakan politik. Nama sudah masuk DPR dan komisi III bersiap melakukan fit and proper test ketika KPK memberikan status tersangka kepada calon tersebut. Ramailah se-Indonesia Raya. Tak ada penarikan dari Presiden. Fit and proper test dan paripurna terhadap si calon tetap digelar juga. Dan hasilnya adalah si calon mulus disetujui oleh anggota dewan. Menanggapi ini semua si akun yang saat itu belum saya remove berkicau menyalahkan Presiden yang memilih orang yang tak berkualitas seperti itu. Saya yang membacanya langsung tercenung. Ada satu mata rantai yang dia lupakan atau mungkin dia hilangkan dalam hal ini, yaitu kenyataan bahwa partainya ikut menyetujui pilihan Presiden itu. Berkomentarlah saya dengan sindiran bahwa ironisnya Cuma satu partai yang menolak, lainnya mengiyakan pilihan Presiden tersebut. Tak butuh waktu lama untuk mendapat balasannya. Katanya lha wong disodorinnya barang jelek ya salah yang nyodori, makanya sekarang silahkan bingung sendiri. Jujur saya kaget sekali membaca itu sampai berpikir andai dia bukan kader partai manapun seperti saya akankah dia tetap berpendapat begitu? Tak tahan saya balas dengan kalimat yang lebih kasar, intinya saya bilang kalau DPR mengiyakan begitu saja ketika rakyatnya diberi sesuatu yang tak baik berarti itu DPR benar wakil rakyat bukan? Kalau yang begitu diiyakan saja padahal punya hak untuk menolak, terus sebenarnya DPR mewakili siapa? Komentar saya ini memancing teman-teman dia untuk ‘turun’ membantu. Sebuah akun lain langsung menguraikan betapa DPR dalam hal itu sudah benar melakukan tugasnya. Bewrpoin-poin dia menceramahi saya, dan intinya tetap sama DPR sudah berlaku benar. Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, jika dia bukan kader partai akankah pendapatnya tetap begitu?  Frontal saya tegaskan dalam komentar saya berikutnya bahwa saya berbeda pendapat dengan mereka. Menurut saya, Presiden salah ketika tak menarik pengajuannya begitu KPK menetapkan si kandidat sebagai tersangka, pun ketika dia beralasan memegang prinsip praduga tak bersalah. Dan saya sepakat dengan seorang pengalamat yang bilang ketika DPR mengiyakan pun seharusnya Presiden tetap bisa berkirim surat menjelaskan kondisi terkini dan mengajukan kembali satu nama. Tapi tak dilakukan dengan alasan yang tentu sebagai jelata saya tak tahu persis. Tapi saya menyalahkan Presiden dalam hal ini. Lalu DPR menurut saya ketika dia mendengar penetapan KPK, seharusnya dia bisa menggunakan haknya untuk menolak dan meminta Presiden memberikan alternatif lain. Ini bukan berarti DPR bisa dikendalikan oleh KPK, tapi ini masalah memberikan yang terbaik untuk rakyat sesuai kewajiban mereka sebagai wakil rakyat. Menolak toh bukan berarti memberikan vonis si calon pasti bersalah. Ada kepentingan yang lebih besar dari sekedar menjaga perasaan satu orang saja. Logikanya jika DPR adalah orang tua dan rakyat adalah anaknya, akankah orang tua yang baik mencekoki anaknya dengan barang yang belum jelas baik buruknya? Tegas saya bilang di komentar balasan saya bahwa dalam hal ini Presiden dan DPR telah sama-sama tak melakukan tugasnya dengan benar. Yang tugasnya menyodorkan ehhhh nyodorin yang kurang jelas baik buruknya. Sementara yang disodori iya-iya aja dengan alasan lha wong itu yang disodori ya glek aja. Lha betapa bodohnya jika logika itu yang digunakan oleh kumpulan wakil rakyat yang terhormat itu!

Ah, jujur saya menulis postingan kali ini dengan kemarahan yang belum surut. Saya marah bukan karena mereka tak sependapat dengan saya. Saya marah karena disaat ada hal yang bisa dilakukan untuk mencegah suatu keburukan, mereka melewatkannya sekedar karena politik yang egois. Jujur saya heran dengan mereka yang ngotot berusaha meraih kekuasaan dengan keyakinan bahwa mereka akan membuat semuanya langsung baik begitu berkuasa. Mereka lupa bahwa mereka tetap manusia. Manusia tak bisa menjamin dirinya tetap sama baik dari waktu ke waktu. Sejarah membuktikan bahwa kekuasaan mampu membuat orang baik pun jadi kejebur jurang karena lupa dan terlena.

Saya apatis, begitu seorang teman yang politisi sebuah partai. Dia bilang saya tak percaya keadaan bisa diperbaiki. Ya, saya memang tak percaya semua carut marut negara ini bisa diperbaiki. Tapi maksud saya adalah saya tidak percaya itu bisa diperbaiki dalam sekejap. Apalagi jika itu yang bicara adalah sebuah partai. Tidak, Kawan, negara ini tak bisa diperbaiki hanya dengan naiknya satu golongan kepada tampuk kekuasaan tanpa sportivitas dari golongan yang lainnya untuk menerima. Tanpa sportivitas itu golongan yang berhasil naik hanya akan sibuk dengan upaya mempertahankan tahtanya, sehingga lupa akan semua cita-cita baik dan ketulusan untuk merangkul golongan lainnya. Sementara golongan yang belum berhasil meraih kekuasaan hanya akan sibuk mengerahkan energi untuk melengserkan yang ada di atasnya. Tanpa sportivitas adanya cuma yang menang dan kalah belaka.


Jadi, kemarin saya terpaksa me-remove sebuah akun karena tak tahan dengan energi negatifnya. 

Rabu, 31 Desember 2014

Am I A Writer ?

Seorang teman lama berkirim surel dengan subyek Hello Writer beberapa tahun yang lalu. Dia melakukannya karena melihat sebuah cerpen tertulis nama saya di bawah judulnya di sebuah majalah. Seingat saya itu cerpen kedua saya yang dianggap layak oleh majalah tersebut untuk diterbitkan. Saat membaca surel itu kontan saya bertanya pada diri sendiri, am I a writer? Lalu lama setelahnya seorang temannya teman menghubungi saya. Katanya dia minta saya untuk membaca naskah novelnya, ya semacam proof read-lah ya. Saya heran karena yang saya tahu dia cukup punya pengalaman di dunia jurnalistik walau bukan penulis novel. Kok saya? Jawabnya karena dia tahu saya penulis lepas dan senang sekali baca novel. Gandrung dengan novel saya akui betul. Tapi penulis lepas, ehmmmm... am I?

Menulis untuk saya memang salah satu hobi. Dan jadi lebih hobi lagi ketika sudah merasakan honornya... hehehhee... Yes, uang memang membuat hobi jadi lebih menarik lagi untuk dikerjakan. Berbahagialah mereka yang berhasil sukses secara finansial dengan mengerjakan hobinya. Rasanya itu pekerjaan idaman semua orang. Yes, paling tidak beberopa kali saya dapat uang dari menulis. Dan selama beberapa tahun ini saya cukup konsisten menulis ini itu termasuk cerita (tidak termasuk status di media sosial ya) sebanyak kisaran 40-80 halaman. Tapi apakah itu berarti saya cukup layak menyebut diri penulis? Aihhhh mengerikan ..... hahahaha...

Pokoknya intinya adalah saya merasa belum pantas menyebut diri sebagai penulis. Sebab bagi saya penulis itu lebih dilihat dari kualitas tulisannya ketimbang berapa banyak tulisan atau buku yang berhasil dia terbitkan. Karena kenyataannya sekarang menerbitkan tulisan atau buku rasanya semakin mudah saja. Lihat saja di toko-toko buku. Begitu banyak bertebaran anek judul ini itu segala macam topik, genre, atau apapun itu. Banyak sekali. Sebagian tentu termasuk bestseller. Tapi menurut saya belum tentu yang bestseller itu berkualitas. Paling tidak menurut standar kualitas saya ada saja bestseller yang kurang berkualitas ...heheheheh... maaf yaaaa.... Ya menurut saya begitu sih kenyataannya. Sebab bagaimanapun dunia tulis menulis juga adalah industri, sama dengan musik dan bidang-bidang lainnya. Jadi tetap ada tulisan-tulisan yang dibuat untuk keperluan industri, sekedar memuaskan selera umum yang begitu-begitu saja.


Jadi masalahnya adalah kualitas. Dan saya sadar diri bahwa apa yang saya hasilkan belum cukup berkualitas untuk bisa menyebut diri saya sebagai penulis. Saya masih sering terheran-heran setelah membaca karya penulis-penulis lain. Kok bisa ya mereka membuat seperti itu? Bagaimana proses kreatifnya? Bagaimana proses mikirnya? Bagaimana proses risetnya? Bagaimana ...? Bagaimana ...? Bagaimana ....? Entah berapa banyak bagaimana lainnya. Dan ujung dari rentetan bagaimana itu selalu ke satu hal : saya kok belum sampai segitu ya? Ya, ujung dari kalimat itu adalah sebuah tanda tanya, bukan titik. Tanda tanya karena di dalamnya ada kepenasaran, juga harapan, juga upaya untuk mencapai titik tersebut. Menghasilkan karya yang bestseller tentu jadi idaman. Tapi yang saya inginkan adalah bestseller yang bersanding dengan kualitas tinggi. Ambisius? Ehmmm.... tak apalah. Toh cita-cita harus setinggi langit. Kalau hanya setinggi mata kaki ya sebut saja putus asa...  Iya kan?

Kamis, 27 November 2014

MOVE ON

Move on rasanya kata yang saat ini sedang happening banget, disamping kata galau. Ya, move on yang terjemahan bebasnya menurut saya adalah lanjut alias tidak berhenti di satu titik. Kata ini bisa mengacu ke banyak konteks. Saya ingat betul kata itu yang saya gunakan untuk bicara kepada seorang teman yang suaminya baru saja meninggal dunia. Mengenal mereka berdua sebagai pasangan yang kompak, juga mengetahui apa yang dialami si suami pada saat-saat akhir hidupnya dan perjuangan yang sudah dilakukan mereka, membuat saya merasa perlu mengambil waktu khusus untuk bicara pada istri yang ditinggalkan. Waktu itu saya bilang padanya untuk segera move on, mengingat ada hidup yang harus dilanjutkan, tidak hanya hidupnya tapi juga hidup anak-anak yang kini tak punya tempat bergantung selain ibunya. Saya sengaja menekankan kata move on ini karena dari apa yang sudah pernah saya lihat, perempuan lebih lama move on-nya ketimbang laki-laki ketika pasangannya meninggal. Memang banyak kisah perempuan yang berhasil mengantarkan anak-anaknya ke gerbang kesuksesan setelah suaminya meninggal. Itu tentu move on yang berhasil. Tapi menurut saya tak sepenuhnya berhasil jika dalam diri perempuan itu sendiri masih ada ruang sakral khusus untuk mendiang yang membuat hidupnya jika di zoom tak lengkap. Bukan maksud saya bahwa setelah seorang janda harus menikah kembali untuk membuktikan ke-move-on-annya. Tak harus. Tapi jika dia masih menyisakan ruang sakral untuk sang mendiang, lalu menganggap kehidupan pribadinya telah selesai dan yang sisa adalah kewajiban terhadap anak-anak mereka, maka saya anggap itu bukan move on yang manis.

Balik kepada teman saya tadi. Ketika saya bilang padanya untuk segera move on, jawaban yang keluar dari mulutnya sungguh mantap dan cepat. Katanya tentu dia akan segera bangkit dan tak akan diam di titik ini lama-lama. Baguslah pikir saya, walau jujur agak ragu juga. Tapi kemudian ucapan itu terbukti. Tak sampai setahun berlalu dengan wajah cerah dia menggandeng seseorang, calon suaminya. Sekali lagi saya berpikir baguslah. Tapi ternyata tak semua orang sependapat dengan saya. Suara-suara mencela muncul, intinya mereka bilang terlalu cepat dan mengabaikan perasaan anak-anak. Mereka mulai berpedapat tanpa diminta, juga mengenang betapa baik si mendiang. Ehmmmm .... jujur saya malas berkomentar soal yang begini. Soal baik atau tidak rasanya tak berhak menilai. Saya mah percaya-percaya saja keputusan seperti itu telah melalui proses berpikir yang serius. Dia berhasil move on. Lhah kok ternyata justru orang-orang di sekitarnya yang masih belum berhasil move on ya?

Masalah move on ternyata tidak melulu masalah hati perorangan. Move on juga dikenal dalam masalah politik. Tidak percaya? Mari saya jelaskan. Pilpres 2014 yang lalu bagi saya adalah Pilres yang sangat brutal. Bangsa ini seakan terbelah menjadi dua kubu sesuai kandidat jagoannya. Dan parahnya, suasana jadi panas sekali karena keduanya saling menjelekkan demi mengangkat pamor jagoannya. Dunia maya bagaikan medan perang; panas dan kejam. Berita negatif bertebaran dimana-mana. Entah apakah itu kampanye model seperti itu berhasil menarik pemilih dan membuat para kandidat terlihat luar biasa, yang pasti itu malah membuat saya berbalik arah. Awalnya saya cukup bersemangat menyambut Pilpres dan berniat menjatuhkan pilihan pada salah satu pasangan kandidat. Tapi kemudian kebrutalannya membuat saya muak. Saya putuskan tidak memilih siapapun dan menerima siapapun asal semuanya segera berlalu. Puji syukur ada event World Cup. Jadilah saya memfokuskan perhatian pada sepak bola.

Begitu Pilpres usai eh ternyata suasana masih panas juga. Gonjang-ganjing penghitungan suara yang dinilai penuh rekayasa yang berbuntut ini itu. Lalu ribut-ribut di parlemen yang sampai ketika saya menulis ini masih tak selesai juga. Itu level elit politik. Di level-level bawahnya lagi para anggota partai tak kalah giat dalam hal memanaskan suasana. Lagi-lagi dunia maya menjadi arenanya. Lihat bagaimana media sosial penuh dengan berita ini itu yang nadanya miring terhadap pemerintah. Okay saya mengerti maksudnya adalah mereka berperan sebagai oposisi bagi pemerintah yang berkuasa yang notabene kubu mantan lawan mereka semasa Pilpres tempo hari. Tapi kok ya menjadi oposannya begitu amat. Saya tidak membela siapa-siapa. Cuma saya kok merasa sebagai oposisi para politikus di media sosial ini kurang elegan mainnya, kalau tidak mau dibilang kurang cerdas. Lihat cara mereka yang seragam : men-share berita yang sumbernya satu, yaitu situs partai mereka sendiri. Jadi mereka sekedar membenarkan apa yang diomongkan oleh partai lalu membelanya mati-matian seakan itu adalah hal benar yang sudah tertulis dalam kitab suci. Oalahhhh.... mbok ya lebih elegan tho, sekali lagi kalau tidak mau dibilang mbok ya lebih cerdas. Dan parahnya, sering sekali yang dibahas adalah hal remeh temeh yang tak penting dan tak bermutu sama sekali, yang akhirnya malah jadi penyerangan terhadap pribadi atau malah pembunuhan karakter. Saya jadi mikir apa mereka tak punya cukup otak untuk berpikir sehingga ketika disuruh elit partainya untuk men-share berita langsung saja dilakukan tanpa ada merasa perlu untuk membaca dan mempertimbangkannya lagi? Satu logika saja, jika kita berniat untuk menjadi oposan yang berbobot, ya paling tidak rujukannya nggak cuma satu sumber yang subyektif begitu dong.... Apa mereka paling tidak merasa anehlah ketika sebagai oposisi yang dikritisi cuma hal-hal remeh temeh yang tak mendasar seperti itu?


Jawaban atas pertanyaan saya di atas cuma satu : banyak yang secara politik belum berhasil move on. Kalau mau jadi oposisi yang bermutu ya move on dululah biar hati dan pikiran jernih.... Begituuuu.... 

Rabu, 29 Oktober 2014

Satu Saat Nanti

Dua hari lalu saya baru mulai membaca Physics Of The Future, How Science Will Shape Human Destiny And Our Daily Lives By The Year 2100 karya fisikawan dunia Michio Kaku. Baru dapat beberapa halaman saja, tapi kesannya sudah terasa. Dalam beberapa lembar yang sudah saya baca itu sang ilmuwan memberikan wawasan bahwa kehidupan manusia ala film-film futuristik besutan Holiwood tidak mustahil untuk menjadi satu kenyataan dalam waktu yang relatif singkat. Dia menyebut di tahun 2100 saja akan mulai terlihat kenyataan tersebut. Alasannya adalah karena teknologi canggih yang saat ini bagi orang awam hanya sekedar fantasi, sebenarnya sudah ada cikal bakalnya sekarang, saat ini. Bahkan prototipenya pun sudah ada. Ilmuwan memegang peranan penting. Mereka yang bekerja dalam senyap dan didanai oleh badan-badan pemerintah ataupun swasta yang tentu saja berkantung ekstra ekstra ekstra tebal. Dan pada saatnya hasil penelitian tersebut akan dipublikasikan dan diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai contoh GPS dan internet. Awalnya Pentagon yang disebut mendanai penelitian dan pengembangan keduanya untuk kepentingan militer Amerika Serikat tentu saja. Dengan GPS dan internet sekedar menyebut  misil dapat ditembakkan ke sasaran yang tepat, medan perang bisa dipetakan dengan detail dan informasinya dapat diterima oleh tentara dengan cepat. Itu untuk sekedar menyebut fungsi dari GPS dan internet untuk militer. Dan ketika memasuki kehidupan masyarakat luas, GPS dan internet memberikan fungsi seperti yang kita alami sekarang, termasuk untuk mencari alamat danbersosial media. Dan selanjutnya Michio Kaku juga menyebutkan perkembangan teknologi akan terus terjadi. Sebut saja bagaimana dia menguraikan sebuah komputer berkembang :
  • ·         1950s vacum tube computers were gigantic contraptions filling entire room with jungles of wires, coils, and steel. Only military was rich enough to fund these monstrosities.
  • ·         1960s transistors replaced vacum tube computers, and mainframe computers gradually entered the commercial marketplace.
  • ·         1970s integrated circuit boards, containing hundreds of transistors, created this minicomputer, which was the size of a large desk.
  • ·         1980s chips, containing tens of millions of transistors, made possible personal computer that can fit inside a briefcase.
  • ·         1990s internet connected hundreds of millions of computer into a single, global computer network.
  • ·         2000s ubiquitous computing freed the chip from the computer, so chips were dispersed into environment.

Chips. Yes, akan datang masanya ketika chips terselip di mana-mana, tidak cuma di komputer dan handphone tapi juga di alat rumah tangga hingga kaca mata. Bayangkan sebuah kacamata diselipi chips dan lensanya bisa jadi layar. Berkomputer dan nonton film misalnya, tak lagi perlu layar monitor LCD. Jadi bakal bisa deh berkomputer secara virtual seperti Tonny Stark di Iron Man. Kerennnn.... Dannnn katanya selanjutnya retina manusia yang bakal menjadi layar, alias tak perlu lensa kaca mata lagi. Gambar langsung dikirim ke retina mata. Wowwww.... Itu baru satu hal. Sementara chips dan hasil teknologo tinggi akan menyisip ke banyak kehidupan manusia, menghasilkan alat-alat atau mesin-mesin canggih. Dan ketika masa itu datang maka mungkin semua alat rumah tangga telah berbentuk robot yang dikendalikan oleh manusia cukup hanya dengan mengedip saja. Hebat ya?

                Nah tengah asyik membayangkan masa itu, tahu-tahu telepon saya bergetar. SMS masuk dari seorang teman, mengeluhkan kegagalannya men-download satu aplikasi chatting untuk handphone-nya. Keluhan yang akhirnya merembet pada performa internet di negara ini. Kata teman saya, kita baru mulai akan masuk ke 4G padahal Jepang sudah 5G. Jujur saya tidak paham betul arti kalimatnya. Tapi jelas bagi saya ada kesenjangan dan jarak yang terbentang antara angka 3 atau 4 dengan 5. Lalu kesadaran memasuki pikiran saya. Semua yang dikatakan oleh Michio Kaku di beberapa lembar yang sudah saya baca terasa lebih mudah dibayangkan untuk mereka yang tinggal di negara maju seperti Jepang dan Amerika. Tapi bagaimana dengan saya yang ada di negara berkembang ini? Bukan bermaksud pesimistis, tapi realistis saja saat ini bangsa ini masih sekedar sebagai pengguna dari banyak hasil pengembangan teknologi. Pengguna dan cukup telat pula. Kita bukan termasuk bangsa yang ada di jajaran depan dan aktif dalam upaya penelitian dan pengembangan teknologi, walaupun kenyataannya ada juga orang-orang kita yang ambil bagian di dalam sana sebagai peneliti. Beberapa orang memang terlibat dan diakui kemumpunannya, tapi secara kolektif besar sebagai bangsa dan negara, menurut saya kita berperan apa-apa selain menjadi konsumen dan pasar. Itu yang membuat saya jadi berpikir, apa yang terjadi di negara ini ketika Jepang dan Amerika telah tumbuh menjadi seperti di film-film futuristik itu? Ketika mereka sudah dikelilingi oleh barang-barang robotik, bagaimana dengan kita? Ketika mereka sudah berkendaraan yang melayang-layang di udara ala-ala piring terbang mini, bagaimana dengan kita? Ketika mereka sudah bertamasya ke luar angkasa, bagaimana dengan kita? Embuh....

Ah ada satu hal yang membuat cerah pikiran saya. Saat ini saya sedang menekuni profesi sebagai pedagang online. Nah, saya bayangkan betapa keren saya ketika masa itu datang dan saya melakukan kegiatan dagang saya cukup dengan mengedip-ngedip karena layar sudah terpampang di lensa kacamata atau malah di retina saya. Kerennnnnn.... Saya akan bergaya ala-ala si Mr. Stark pastinya. Eh tapi kalau sekarang yang saya jual adalah baju-baju batik, terus baju macam apa yang saya perdagangkan saat itu? Overall ketat berwarna silver? Aih aih .....