Jumat, 06 Februari 2015

PULANG ~ Review Buku

Judul  buku               : PULANG
Pengarang               : Leila S. Chudori
Penerbit                   : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal                       : viii + 461 halaman
Cetakan                   : 2012




Saya tidak tahu bagaimana ‘hukumnya’ belajar sejarah dari sebuah novel. Tapi yang pasti membaca Pulang bagi saya serasa membaca sebagian sejarah tak tertulis dari bangsa ini. Rasanya tak banyak buku yang mengisahkan perjalanan hidup para eksil dan keluarga tapol. Dan Leila S. Chudori membuat Pulang sebagai salah satu dari yang sedikit itu. Untuk saya pribadi, tema yang diusung oleh Pulang sangat menarik. Dan untungnya lagi lahir dan terbit setelah masa Orde Baru usai dan bangsa ini masih dirasuki euforia reformasi dan kebebasan.

Adalah Dimas, Nugroho, Tjai, dan Risyaf, empat sekawan yang tengah berada di luar negeri ketika peristiwa G30S/PKI terjadi. Pemerintah mencabut paspor keempatnya karena alasan politik sebelum mereka sempat pulang. Jadilah mereka empat sekawan tanpa status kewarganegaraan yang jelas, menggelandang, hingga akhirnya mendapatkan suaka dari Perancis dan menetap di Paris. Dan dari sekian cara yang ditempuh demi bertahan hidup, akhirnya Restoran Tanah Air-lah yang berhasil menjadi sandaran. Tak hanya itu, Restoran Tanah Air juga seakan menjadi satu-satunya benang merah bagi keempatnya. Tak peduli betapa mereka telah terusir dari tanah air sendiri dengan cara yang begitu menyakitkan, tetap saja kerinduan hadir kapan saja tak terhindarkan. Apalagi masing-masing sadar banyak hal di masa lalu yang tak begitu saja bersama dengan dicabutnya status kewarganegaraan mereka. Ada keluarga-keluarga di tanah air yang harus mengecap kesusahan karena hubungan darah dengan mereka.



Lintang, generasi berikut dari empat sekawan, menemukan jalan mengenal tanah asal dari sebagian darahnya melalui tugas akhir kuliah yang mengharuskannya benar-benar pergi mengunjungi Indonesia. Dan jika ‘takdir’ yang membuat empat sekawan terpaksa terpental dari tanah kelahiran mereka karena sebuah revolusi, maka ‘takdir’ pula yang membawa Lintang ke Jakarta tepat pada akhir masa pemerintahan Orde Baru. Sejak menginjakkan kakinya di Indonesia, Lintang menemukan banyak hal, tak hanya tentang keping-keping masa lalu empat sekawan, tapi juga realitas kebobrokan masa kini, juga perjuangan untuk meraih masa depan.

Novel ini layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama mereka yang lahir dalam masa ketentraman Orde Baru seperti saya. Saya yakin generasi saya ke bawah mengenal revolusi bangsa ini yang dipicu peristiwa tahun1965 hanya dari buku-buku sejarah standar. Mungkin ada juga yang mendengar pengakuan dari orang-orang tua yang mengalaminya. Tapi saya yakin tak banyak. Juga tak cukup lengkap karena yang saya tahu para pelakon di jaman itu cenderung berusaha melupakan dalam senyap. Dan memang ada saat ketika sejarah bangsa pada masa tersebut secara politis terlalu sensitif bahkan untuk sekedar dituturkan. Karenanya ketika novel ini hadir, saya merasa bagai orang yang diberikan kado kecil berupa dua babak cerita pasang surut bangsa ini. Babak pertama saya tak menyaksikan langsung. Sementara babak kedua adalah babak yang saya alami. Unik, sekaligus menggugah.

Ya, sejarah. Ibarat sebuah perjalanan panjang, sejarah adalah jejak langkah yang kadang terang terbaca, kadang hanya samar-samar terhapus angin, dan di saat yang lain malah terhapus sama sekali. Saya senang, dari sekian panjang sejarah bangsa ini, Leila memilih menulis bagian yang samar-samar sebagai satu titik berat. Bagian yang didalamnya ada carut marut bangsa yang tengah terbelah, sehingga ada orang-orang yang terpinggirkan bahkan tercerabut dari akarnya. Saya tidak sedang menobatkankan karya ini sebagai sebuah buku sejarah yang sah. Tentu saja tidak. Novel tetaplah novel. Hanya saja novel berlatar sejarah ini bisa jadi satu langkah kecil untuk menengok lebih jauh ke belakang, menerimanya sebagai bagian dari riwayat berbangsa, dan pada akhirnya belajar darinya. Sebab sampai hari inipun jika dicermati masih ada luka-luka yang tersisa. Dan pendekatan dalam bentuk sebuah novel tentu lebih gampang untuk diterima oleh banyak orang ketimbang memoar yang bisa jadi cara pandangnya subyektif. Sebagai novel yang banyak bicara tentang politik, Pulang juga tak jadi membosankan karena ada unsur romantika yang walau getir tapi tetap indah.

Sebelum Pulang, saya membaca karya Leila yang berjudul 9 dari Nadira. Jika diperbandingkan, 9 dari Nadira terasa lebih personal. Dan jika lebih jauh diminta untuk merankingkan keduanya, maka saya menempatkan Pulang dua tingkat lebih tinggi dari 9 dari Nadira karena keluasan cakupannya. Jika ada yang agak kurang memuaskan saya, mungkin hanya ending dari Pulang yang terasa tergesa-gesa karena sebuah kematian, seperti sebuah pintu yang mendadak ditutup. Tapi tak apa, mungkin itu hanya perasaan saya sebagai penikmat yang tak keberatan membacanya lebih lama.

Oh ya, satu lagi yang menjadi nilai plus dari buku ini, ilustrasi grafis di bagian dalam bagus sekali. Acung dua jempol khusus untuk hal istimewa ini.

Rabu, 28 Januari 2015

Maaf, Saya Me-remove Akun Anda

Kemarin dengan terpaksa saya me-remove sebuah akun dari friend list facebook saya. Disebut terpaksa karena ini bukan hal yang biasa saya lakukan, walau sebelumnya pernah juga. Sejak beberapa tahun yang lalu saya menggunakan facebook sebagai tempat mencari makan alias jualan. Sejak itu saya berupaya mereka-mereka yang ada di friend list saya adalah mereka yang bisa jadi pasar untuk produk yang saya jual atau paling tidak adalah mereka yang memang sudah saya kenal secara pribadi. Dengan tujuan itu memang saya beberapa kali remove akun atau ignore friend request yang tidak sesuai. Dan itu sebenarnya saya lakukan dengan hati-hati dan penuh pertimbangan karena menurut saya di-remove atau di-ignore walau prakteknya hanya secara virtual bagi orang-orang tertentu tetap menyakitkan.

Nah, kembali ke akun yang saya remove kemarin. Seperti banyak akun di friend list saya, pemilik akun tersebut tidak saya kenal secara pribadi. Saya juga lupa sejak kapan dia ada di friend list saya dan apakah saya pernah bertransaksi dengannya. Yang pasti saya pernah terlibat komen-mengkomen dengannya. Begini ceritanya. Dugaan saya si pemilik akun adalah kader sebuah partai yang tak termasuk koalisi pemenang pilpres tempo hari, tak perlu disebut nama partainya. Dan mungkin dengan maksud mengkritisi, dia sering posting status yang intinya menyorot kebijakan pemerintah dengan segenap jajarannya dan segala atributnya. Sebenarnya sampai disini saya sih oke oke saja, wong waktu pilpres saya mencoblos kedua kandidat. Jelas kan kemana keberpihakan saya secara politik saat itu. Yang kemudian jadi mengganggu adalah postingan status itu makin lama makin terasa negatif dan menafikan logika. Ujung-ujungnya selalu golongan dia yang terbaik. Awalnya saya sekedar mencebik setiap kali membaca statusnya. Tapi kok lama-lama saya terganggu, sangat terganggu malah. Dan sialnya saya tidak bisa begitu saja melewatkan postingan status itu karena seperti yang lain terbaca oleh saya. Akhirnya tiba saat saya tak tahan untuk tidak memberi komentar, sekedar membuatnya berpikir dari sisa yang lain.

Waktu itu pas ramai gonjang-ganjing soal calon Kapolri. Presiden mengajukan ke DPR satu nama calon Kapolri yang dianggap publik bermasalah terkait dengan dugaan rekening gendut. Konon kabarnya si Presiden memilih yang bersangkutan karena desakan politik. Nama sudah masuk DPR dan komisi III bersiap melakukan fit and proper test ketika KPK memberikan status tersangka kepada calon tersebut. Ramailah se-Indonesia Raya. Tak ada penarikan dari Presiden. Fit and proper test dan paripurna terhadap si calon tetap digelar juga. Dan hasilnya adalah si calon mulus disetujui oleh anggota dewan. Menanggapi ini semua si akun yang saat itu belum saya remove berkicau menyalahkan Presiden yang memilih orang yang tak berkualitas seperti itu. Saya yang membacanya langsung tercenung. Ada satu mata rantai yang dia lupakan atau mungkin dia hilangkan dalam hal ini, yaitu kenyataan bahwa partainya ikut menyetujui pilihan Presiden itu. Berkomentarlah saya dengan sindiran bahwa ironisnya Cuma satu partai yang menolak, lainnya mengiyakan pilihan Presiden tersebut. Tak butuh waktu lama untuk mendapat balasannya. Katanya lha wong disodorinnya barang jelek ya salah yang nyodori, makanya sekarang silahkan bingung sendiri. Jujur saya kaget sekali membaca itu sampai berpikir andai dia bukan kader partai manapun seperti saya akankah dia tetap berpendapat begitu? Tak tahan saya balas dengan kalimat yang lebih kasar, intinya saya bilang kalau DPR mengiyakan begitu saja ketika rakyatnya diberi sesuatu yang tak baik berarti itu DPR benar wakil rakyat bukan? Kalau yang begitu diiyakan saja padahal punya hak untuk menolak, terus sebenarnya DPR mewakili siapa? Komentar saya ini memancing teman-teman dia untuk ‘turun’ membantu. Sebuah akun lain langsung menguraikan betapa DPR dalam hal itu sudah benar melakukan tugasnya. Bewrpoin-poin dia menceramahi saya, dan intinya tetap sama DPR sudah berlaku benar. Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, jika dia bukan kader partai akankah pendapatnya tetap begitu?  Frontal saya tegaskan dalam komentar saya berikutnya bahwa saya berbeda pendapat dengan mereka. Menurut saya, Presiden salah ketika tak menarik pengajuannya begitu KPK menetapkan si kandidat sebagai tersangka, pun ketika dia beralasan memegang prinsip praduga tak bersalah. Dan saya sepakat dengan seorang pengalamat yang bilang ketika DPR mengiyakan pun seharusnya Presiden tetap bisa berkirim surat menjelaskan kondisi terkini dan mengajukan kembali satu nama. Tapi tak dilakukan dengan alasan yang tentu sebagai jelata saya tak tahu persis. Tapi saya menyalahkan Presiden dalam hal ini. Lalu DPR menurut saya ketika dia mendengar penetapan KPK, seharusnya dia bisa menggunakan haknya untuk menolak dan meminta Presiden memberikan alternatif lain. Ini bukan berarti DPR bisa dikendalikan oleh KPK, tapi ini masalah memberikan yang terbaik untuk rakyat sesuai kewajiban mereka sebagai wakil rakyat. Menolak toh bukan berarti memberikan vonis si calon pasti bersalah. Ada kepentingan yang lebih besar dari sekedar menjaga perasaan satu orang saja. Logikanya jika DPR adalah orang tua dan rakyat adalah anaknya, akankah orang tua yang baik mencekoki anaknya dengan barang yang belum jelas baik buruknya? Tegas saya bilang di komentar balasan saya bahwa dalam hal ini Presiden dan DPR telah sama-sama tak melakukan tugasnya dengan benar. Yang tugasnya menyodorkan ehhhh nyodorin yang kurang jelas baik buruknya. Sementara yang disodori iya-iya aja dengan alasan lha wong itu yang disodori ya glek aja. Lha betapa bodohnya jika logika itu yang digunakan oleh kumpulan wakil rakyat yang terhormat itu!

Ah, jujur saya menulis postingan kali ini dengan kemarahan yang belum surut. Saya marah bukan karena mereka tak sependapat dengan saya. Saya marah karena disaat ada hal yang bisa dilakukan untuk mencegah suatu keburukan, mereka melewatkannya sekedar karena politik yang egois. Jujur saya heran dengan mereka yang ngotot berusaha meraih kekuasaan dengan keyakinan bahwa mereka akan membuat semuanya langsung baik begitu berkuasa. Mereka lupa bahwa mereka tetap manusia. Manusia tak bisa menjamin dirinya tetap sama baik dari waktu ke waktu. Sejarah membuktikan bahwa kekuasaan mampu membuat orang baik pun jadi kejebur jurang karena lupa dan terlena.

Saya apatis, begitu seorang teman yang politisi sebuah partai. Dia bilang saya tak percaya keadaan bisa diperbaiki. Ya, saya memang tak percaya semua carut marut negara ini bisa diperbaiki. Tapi maksud saya adalah saya tidak percaya itu bisa diperbaiki dalam sekejap. Apalagi jika itu yang bicara adalah sebuah partai. Tidak, Kawan, negara ini tak bisa diperbaiki hanya dengan naiknya satu golongan kepada tampuk kekuasaan tanpa sportivitas dari golongan yang lainnya untuk menerima. Tanpa sportivitas itu golongan yang berhasil naik hanya akan sibuk dengan upaya mempertahankan tahtanya, sehingga lupa akan semua cita-cita baik dan ketulusan untuk merangkul golongan lainnya. Sementara golongan yang belum berhasil meraih kekuasaan hanya akan sibuk mengerahkan energi untuk melengserkan yang ada di atasnya. Tanpa sportivitas adanya cuma yang menang dan kalah belaka.


Jadi, kemarin saya terpaksa me-remove sebuah akun karena tak tahan dengan energi negatifnya. 

Rabu, 31 Desember 2014

Am I A Writer ?

Seorang teman lama berkirim surel dengan subyek Hello Writer beberapa tahun yang lalu. Dia melakukannya karena melihat sebuah cerpen tertulis nama saya di bawah judulnya di sebuah majalah. Seingat saya itu cerpen kedua saya yang dianggap layak oleh majalah tersebut untuk diterbitkan. Saat membaca surel itu kontan saya bertanya pada diri sendiri, am I a writer? Lalu lama setelahnya seorang temannya teman menghubungi saya. Katanya dia minta saya untuk membaca naskah novelnya, ya semacam proof read-lah ya. Saya heran karena yang saya tahu dia cukup punya pengalaman di dunia jurnalistik walau bukan penulis novel. Kok saya? Jawabnya karena dia tahu saya penulis lepas dan senang sekali baca novel. Gandrung dengan novel saya akui betul. Tapi penulis lepas, ehmmmm... am I?

Menulis untuk saya memang salah satu hobi. Dan jadi lebih hobi lagi ketika sudah merasakan honornya... hehehhee... Yes, uang memang membuat hobi jadi lebih menarik lagi untuk dikerjakan. Berbahagialah mereka yang berhasil sukses secara finansial dengan mengerjakan hobinya. Rasanya itu pekerjaan idaman semua orang. Yes, paling tidak beberopa kali saya dapat uang dari menulis. Dan selama beberapa tahun ini saya cukup konsisten menulis ini itu termasuk cerita (tidak termasuk status di media sosial ya) sebanyak kisaran 40-80 halaman. Tapi apakah itu berarti saya cukup layak menyebut diri penulis? Aihhhh mengerikan ..... hahahaha...

Pokoknya intinya adalah saya merasa belum pantas menyebut diri sebagai penulis. Sebab bagi saya penulis itu lebih dilihat dari kualitas tulisannya ketimbang berapa banyak tulisan atau buku yang berhasil dia terbitkan. Karena kenyataannya sekarang menerbitkan tulisan atau buku rasanya semakin mudah saja. Lihat saja di toko-toko buku. Begitu banyak bertebaran anek judul ini itu segala macam topik, genre, atau apapun itu. Banyak sekali. Sebagian tentu termasuk bestseller. Tapi menurut saya belum tentu yang bestseller itu berkualitas. Paling tidak menurut standar kualitas saya ada saja bestseller yang kurang berkualitas ...heheheheh... maaf yaaaa.... Ya menurut saya begitu sih kenyataannya. Sebab bagaimanapun dunia tulis menulis juga adalah industri, sama dengan musik dan bidang-bidang lainnya. Jadi tetap ada tulisan-tulisan yang dibuat untuk keperluan industri, sekedar memuaskan selera umum yang begitu-begitu saja.


Jadi masalahnya adalah kualitas. Dan saya sadar diri bahwa apa yang saya hasilkan belum cukup berkualitas untuk bisa menyebut diri saya sebagai penulis. Saya masih sering terheran-heran setelah membaca karya penulis-penulis lain. Kok bisa ya mereka membuat seperti itu? Bagaimana proses kreatifnya? Bagaimana proses mikirnya? Bagaimana proses risetnya? Bagaimana ...? Bagaimana ...? Bagaimana ....? Entah berapa banyak bagaimana lainnya. Dan ujung dari rentetan bagaimana itu selalu ke satu hal : saya kok belum sampai segitu ya? Ya, ujung dari kalimat itu adalah sebuah tanda tanya, bukan titik. Tanda tanya karena di dalamnya ada kepenasaran, juga harapan, juga upaya untuk mencapai titik tersebut. Menghasilkan karya yang bestseller tentu jadi idaman. Tapi yang saya inginkan adalah bestseller yang bersanding dengan kualitas tinggi. Ambisius? Ehmmm.... tak apalah. Toh cita-cita harus setinggi langit. Kalau hanya setinggi mata kaki ya sebut saja putus asa...  Iya kan?

Kamis, 27 November 2014

MOVE ON

Move on rasanya kata yang saat ini sedang happening banget, disamping kata galau. Ya, move on yang terjemahan bebasnya menurut saya adalah lanjut alias tidak berhenti di satu titik. Kata ini bisa mengacu ke banyak konteks. Saya ingat betul kata itu yang saya gunakan untuk bicara kepada seorang teman yang suaminya baru saja meninggal dunia. Mengenal mereka berdua sebagai pasangan yang kompak, juga mengetahui apa yang dialami si suami pada saat-saat akhir hidupnya dan perjuangan yang sudah dilakukan mereka, membuat saya merasa perlu mengambil waktu khusus untuk bicara pada istri yang ditinggalkan. Waktu itu saya bilang padanya untuk segera move on, mengingat ada hidup yang harus dilanjutkan, tidak hanya hidupnya tapi juga hidup anak-anak yang kini tak punya tempat bergantung selain ibunya. Saya sengaja menekankan kata move on ini karena dari apa yang sudah pernah saya lihat, perempuan lebih lama move on-nya ketimbang laki-laki ketika pasangannya meninggal. Memang banyak kisah perempuan yang berhasil mengantarkan anak-anaknya ke gerbang kesuksesan setelah suaminya meninggal. Itu tentu move on yang berhasil. Tapi menurut saya tak sepenuhnya berhasil jika dalam diri perempuan itu sendiri masih ada ruang sakral khusus untuk mendiang yang membuat hidupnya jika di zoom tak lengkap. Bukan maksud saya bahwa setelah seorang janda harus menikah kembali untuk membuktikan ke-move-on-annya. Tak harus. Tapi jika dia masih menyisakan ruang sakral untuk sang mendiang, lalu menganggap kehidupan pribadinya telah selesai dan yang sisa adalah kewajiban terhadap anak-anak mereka, maka saya anggap itu bukan move on yang manis.

Balik kepada teman saya tadi. Ketika saya bilang padanya untuk segera move on, jawaban yang keluar dari mulutnya sungguh mantap dan cepat. Katanya tentu dia akan segera bangkit dan tak akan diam di titik ini lama-lama. Baguslah pikir saya, walau jujur agak ragu juga. Tapi kemudian ucapan itu terbukti. Tak sampai setahun berlalu dengan wajah cerah dia menggandeng seseorang, calon suaminya. Sekali lagi saya berpikir baguslah. Tapi ternyata tak semua orang sependapat dengan saya. Suara-suara mencela muncul, intinya mereka bilang terlalu cepat dan mengabaikan perasaan anak-anak. Mereka mulai berpedapat tanpa diminta, juga mengenang betapa baik si mendiang. Ehmmmm .... jujur saya malas berkomentar soal yang begini. Soal baik atau tidak rasanya tak berhak menilai. Saya mah percaya-percaya saja keputusan seperti itu telah melalui proses berpikir yang serius. Dia berhasil move on. Lhah kok ternyata justru orang-orang di sekitarnya yang masih belum berhasil move on ya?

Masalah move on ternyata tidak melulu masalah hati perorangan. Move on juga dikenal dalam masalah politik. Tidak percaya? Mari saya jelaskan. Pilpres 2014 yang lalu bagi saya adalah Pilres yang sangat brutal. Bangsa ini seakan terbelah menjadi dua kubu sesuai kandidat jagoannya. Dan parahnya, suasana jadi panas sekali karena keduanya saling menjelekkan demi mengangkat pamor jagoannya. Dunia maya bagaikan medan perang; panas dan kejam. Berita negatif bertebaran dimana-mana. Entah apakah itu kampanye model seperti itu berhasil menarik pemilih dan membuat para kandidat terlihat luar biasa, yang pasti itu malah membuat saya berbalik arah. Awalnya saya cukup bersemangat menyambut Pilpres dan berniat menjatuhkan pilihan pada salah satu pasangan kandidat. Tapi kemudian kebrutalannya membuat saya muak. Saya putuskan tidak memilih siapapun dan menerima siapapun asal semuanya segera berlalu. Puji syukur ada event World Cup. Jadilah saya memfokuskan perhatian pada sepak bola.

Begitu Pilpres usai eh ternyata suasana masih panas juga. Gonjang-ganjing penghitungan suara yang dinilai penuh rekayasa yang berbuntut ini itu. Lalu ribut-ribut di parlemen yang sampai ketika saya menulis ini masih tak selesai juga. Itu level elit politik. Di level-level bawahnya lagi para anggota partai tak kalah giat dalam hal memanaskan suasana. Lagi-lagi dunia maya menjadi arenanya. Lihat bagaimana media sosial penuh dengan berita ini itu yang nadanya miring terhadap pemerintah. Okay saya mengerti maksudnya adalah mereka berperan sebagai oposisi bagi pemerintah yang berkuasa yang notabene kubu mantan lawan mereka semasa Pilpres tempo hari. Tapi kok ya menjadi oposannya begitu amat. Saya tidak membela siapa-siapa. Cuma saya kok merasa sebagai oposisi para politikus di media sosial ini kurang elegan mainnya, kalau tidak mau dibilang kurang cerdas. Lihat cara mereka yang seragam : men-share berita yang sumbernya satu, yaitu situs partai mereka sendiri. Jadi mereka sekedar membenarkan apa yang diomongkan oleh partai lalu membelanya mati-matian seakan itu adalah hal benar yang sudah tertulis dalam kitab suci. Oalahhhh.... mbok ya lebih elegan tho, sekali lagi kalau tidak mau dibilang mbok ya lebih cerdas. Dan parahnya, sering sekali yang dibahas adalah hal remeh temeh yang tak penting dan tak bermutu sama sekali, yang akhirnya malah jadi penyerangan terhadap pribadi atau malah pembunuhan karakter. Saya jadi mikir apa mereka tak punya cukup otak untuk berpikir sehingga ketika disuruh elit partainya untuk men-share berita langsung saja dilakukan tanpa ada merasa perlu untuk membaca dan mempertimbangkannya lagi? Satu logika saja, jika kita berniat untuk menjadi oposan yang berbobot, ya paling tidak rujukannya nggak cuma satu sumber yang subyektif begitu dong.... Apa mereka paling tidak merasa anehlah ketika sebagai oposisi yang dikritisi cuma hal-hal remeh temeh yang tak mendasar seperti itu?


Jawaban atas pertanyaan saya di atas cuma satu : banyak yang secara politik belum berhasil move on. Kalau mau jadi oposisi yang bermutu ya move on dululah biar hati dan pikiran jernih.... Begituuuu.... 

Rabu, 29 Oktober 2014

Satu Saat Nanti

Dua hari lalu saya baru mulai membaca Physics Of The Future, How Science Will Shape Human Destiny And Our Daily Lives By The Year 2100 karya fisikawan dunia Michio Kaku. Baru dapat beberapa halaman saja, tapi kesannya sudah terasa. Dalam beberapa lembar yang sudah saya baca itu sang ilmuwan memberikan wawasan bahwa kehidupan manusia ala film-film futuristik besutan Holiwood tidak mustahil untuk menjadi satu kenyataan dalam waktu yang relatif singkat. Dia menyebut di tahun 2100 saja akan mulai terlihat kenyataan tersebut. Alasannya adalah karena teknologi canggih yang saat ini bagi orang awam hanya sekedar fantasi, sebenarnya sudah ada cikal bakalnya sekarang, saat ini. Bahkan prototipenya pun sudah ada. Ilmuwan memegang peranan penting. Mereka yang bekerja dalam senyap dan didanai oleh badan-badan pemerintah ataupun swasta yang tentu saja berkantung ekstra ekstra ekstra tebal. Dan pada saatnya hasil penelitian tersebut akan dipublikasikan dan diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai contoh GPS dan internet. Awalnya Pentagon yang disebut mendanai penelitian dan pengembangan keduanya untuk kepentingan militer Amerika Serikat tentu saja. Dengan GPS dan internet sekedar menyebut  misil dapat ditembakkan ke sasaran yang tepat, medan perang bisa dipetakan dengan detail dan informasinya dapat diterima oleh tentara dengan cepat. Itu untuk sekedar menyebut fungsi dari GPS dan internet untuk militer. Dan ketika memasuki kehidupan masyarakat luas, GPS dan internet memberikan fungsi seperti yang kita alami sekarang, termasuk untuk mencari alamat danbersosial media. Dan selanjutnya Michio Kaku juga menyebutkan perkembangan teknologi akan terus terjadi. Sebut saja bagaimana dia menguraikan sebuah komputer berkembang :
  • ·         1950s vacum tube computers were gigantic contraptions filling entire room with jungles of wires, coils, and steel. Only military was rich enough to fund these monstrosities.
  • ·         1960s transistors replaced vacum tube computers, and mainframe computers gradually entered the commercial marketplace.
  • ·         1970s integrated circuit boards, containing hundreds of transistors, created this minicomputer, which was the size of a large desk.
  • ·         1980s chips, containing tens of millions of transistors, made possible personal computer that can fit inside a briefcase.
  • ·         1990s internet connected hundreds of millions of computer into a single, global computer network.
  • ·         2000s ubiquitous computing freed the chip from the computer, so chips were dispersed into environment.

Chips. Yes, akan datang masanya ketika chips terselip di mana-mana, tidak cuma di komputer dan handphone tapi juga di alat rumah tangga hingga kaca mata. Bayangkan sebuah kacamata diselipi chips dan lensanya bisa jadi layar. Berkomputer dan nonton film misalnya, tak lagi perlu layar monitor LCD. Jadi bakal bisa deh berkomputer secara virtual seperti Tonny Stark di Iron Man. Kerennnn.... Dannnn katanya selanjutnya retina manusia yang bakal menjadi layar, alias tak perlu lensa kaca mata lagi. Gambar langsung dikirim ke retina mata. Wowwww.... Itu baru satu hal. Sementara chips dan hasil teknologo tinggi akan menyisip ke banyak kehidupan manusia, menghasilkan alat-alat atau mesin-mesin canggih. Dan ketika masa itu datang maka mungkin semua alat rumah tangga telah berbentuk robot yang dikendalikan oleh manusia cukup hanya dengan mengedip saja. Hebat ya?

                Nah tengah asyik membayangkan masa itu, tahu-tahu telepon saya bergetar. SMS masuk dari seorang teman, mengeluhkan kegagalannya men-download satu aplikasi chatting untuk handphone-nya. Keluhan yang akhirnya merembet pada performa internet di negara ini. Kata teman saya, kita baru mulai akan masuk ke 4G padahal Jepang sudah 5G. Jujur saya tidak paham betul arti kalimatnya. Tapi jelas bagi saya ada kesenjangan dan jarak yang terbentang antara angka 3 atau 4 dengan 5. Lalu kesadaran memasuki pikiran saya. Semua yang dikatakan oleh Michio Kaku di beberapa lembar yang sudah saya baca terasa lebih mudah dibayangkan untuk mereka yang tinggal di negara maju seperti Jepang dan Amerika. Tapi bagaimana dengan saya yang ada di negara berkembang ini? Bukan bermaksud pesimistis, tapi realistis saja saat ini bangsa ini masih sekedar sebagai pengguna dari banyak hasil pengembangan teknologi. Pengguna dan cukup telat pula. Kita bukan termasuk bangsa yang ada di jajaran depan dan aktif dalam upaya penelitian dan pengembangan teknologi, walaupun kenyataannya ada juga orang-orang kita yang ambil bagian di dalam sana sebagai peneliti. Beberapa orang memang terlibat dan diakui kemumpunannya, tapi secara kolektif besar sebagai bangsa dan negara, menurut saya kita berperan apa-apa selain menjadi konsumen dan pasar. Itu yang membuat saya jadi berpikir, apa yang terjadi di negara ini ketika Jepang dan Amerika telah tumbuh menjadi seperti di film-film futuristik itu? Ketika mereka sudah dikelilingi oleh barang-barang robotik, bagaimana dengan kita? Ketika mereka sudah berkendaraan yang melayang-layang di udara ala-ala piring terbang mini, bagaimana dengan kita? Ketika mereka sudah bertamasya ke luar angkasa, bagaimana dengan kita? Embuh....

Ah ada satu hal yang membuat cerah pikiran saya. Saat ini saya sedang menekuni profesi sebagai pedagang online. Nah, saya bayangkan betapa keren saya ketika masa itu datang dan saya melakukan kegiatan dagang saya cukup dengan mengedip-ngedip karena layar sudah terpampang di lensa kacamata atau malah di retina saya. Kerennnnnn.... Saya akan bergaya ala-ala si Mr. Stark pastinya. Eh tapi kalau sekarang yang saya jual adalah baju-baju batik, terus baju macam apa yang saya perdagangkan saat itu? Overall ketat berwarna silver? Aih aih ..... 

Senin, 29 September 2014

Sayang Binatang

Saya baru menyadari satu fenomena menarik yang terjadi hampir tiap hari di halaman belakang rumah orangtua saya. Halaman tersebut sejak beberapa tahun terakhir seluruhnya ditutupi paving stone, hal yang sebenarnya saya kurang setuju karena alasan kasihan tanah jadi kurang mendapatkan asupan air. Tapi ya bagaimana lagi, wong pemegang hak milik menghendaki demikian dengan alasan praktis lebih gampang membersihkannya juga tidak licin ketika hujan. Nah, di area ini ternyata setiap hari ada saja lebah kecil yang datang menyambangi. Mereka kadang datang berdua atau bertiga, terbang rendah, lalu hinggap di lantai. Ketika saya perhatikan ternyata mereka datang untuk meminum air yang kami tumpahkan ketika berwudlu, mencuci, atau kegiatan lain yang menggunakan air. Mereka meminum air yang mengalir ke celah antara paving stone. Terakhir ketika saya lihat lebah-lebah kecil itu terbang berputar-putar tanpa landing, saya sadari lantai itu kering kerontang. Lalu saya buka kran dan menggenangkan sedikit air. Lebah-lebah itu rupanya sadar apa yang mereka cari telah tersedia. Segera mereka turun mendekat ke salah satu celah dan minum. Soal dari mana datangnya mereka, dan dimana sarangnya, tak seorangpun dari kami penghuni rumah yang tahu.

Ah, memikirkan sarang lebah, tiba-tiba terbersit pikiran dalam benak saya. Madu. Ehmmmm manisnya enak sekali untuk dioles ke permukaan roti tawar, atau sekedar dicampur dengan teh panas sebagai pengganti gula. Tergoda juga untuk mencari dimana sarang lebah-lebah yang mampir minum itu, siapa tahu mereka sudah punya simpanan madu yang banyak. Tapi entah kenapa saya jadi berpikir, betapa kasihan jika ketika mereka pulang dan menemukan sarangnya hilang berikut dengan simpanan si manis madu itu. Betapa sedihnya. Saya jatuh kasihan. Sebab, bukankah lebah dikenal sebagai hewan pekerja yang rajin? Kasihan kan kalau itu terjadi pada mereka? Tapi sampai disitu saya sadar, bahwa itulah yang selama ini terjadi. Para lebah bekerja keras, lalu saya dan manusia lainnya yang menikmatinya. Ehmmm.... kasihan ya.... Tapi kalau enggak gitu ya gimana dong? Ga minum madu dong? Wahhh syusyah.....

Pikiran tentang lebah mengingatkan saya pada seorang teman yang begitu cinta pada hewan, terutama anjing dan kucing. Saya ingat betul dia pernah berkata dia lebih mencintai para hewan tersebut ketimbang manusia. Karena hewan tak pernah neko-neko, tak pernah tendensius, beda sangat dengan manusia. Pernah satu hari teman saya ini sedang jalan di tengah kota, lalu masuk ke sebuah restoran cepat saji, memesan seporsi dada ayam. Jelas saya heran karena tahu persis dia bukan penyuka junk food seperti itu. Ternyata dia memberikan makanan itu kepada seekor anjing kampung yang tak tampak lapar dan kurang terawat. Pada kesempatan lain, ketika dengan beberapa teman saya berinisiatif mengumpulkan dana bantuan untuk korban bencana alam dan saya meminta donasi darinya, sambil memberikan uang dia mengusulkan agar kami juga mengurusi hewan-hewan yang terlantar akibat bencana tersebut. Dia berkomitmen akan menambah jumlah donasi jika kami bersedia melakukannya. Sayangnya ide tersebut tak bisa kami lakukan karena untuk penyaluran sumbangan ke lokasi pun kami meminta bantuan relawan yang lebih profesional mengingat keterbatasan tenaga dan kemampuan kami. Saat yang lain lagi, teman saya ini berduka dengan dalam ketika kucing peliharaannya meninggal. Saat yang lain, dia malam-malam sambil menangis, sibuk mencarikan ‘orang tua asuh’ untuk kucing sakit yang ditemukannya di jalan. Semuanya membuat saya bertanya pada diri saya, kok saya enggak begitu ya?

Ya, memang saya bukan pecinta hewan yang militan. Saya tega membunuh nyamuk dengan raket listrik. Saya mampu menginjak dengan mantap seekor kecoak karena dia berani mencoba masuk ke kamar saya. Saya bisa dengan jengkel menyemprotkan air ke arah dua kucing yang berkelahi malam-malam dan membuat saya terbangun. Saya enteng-enteng saja menyapu semut yang mengerubungi cemilan saya. Ehmmm..... bukan pecinta hewan ya? Eh tapi dulu waktu kecil saya punya anjing dan kucing yang saya sayangi lho.... Yang masih saya ingat nama anjing-anjing saya dulu Blacky, Asta, dan Dino. Sebenarnya ada lagi yang lain tapi lupa namanya. Sementara kucing saya memeliharanya ketika remaja. Nama-namanya saya lupa sama sekali karena untuk kucing sering sekali berganti. Saya ingat betul betapa saya menangis ketika mereka hilang atau meninggal. Sumpah, saya menangis. Karena selama itu saya tidak hanya berbagi makanan dengan mereka , tapi juga kerap mengeloninya. Masih belum termasuk pecinta binatang ya?

Teman saya ini satu hari dengan panjang lebar bertutur mengapa dia begitu sayang pada binatang. Alasan utama seperti yang saya sampaikan di atas. Katanya hewan juga punya perasaan. Ketika kita memberikan cinta, mereka akan membalasnya. Mereka juga bisa sakit hati ketika kita manusia memperlakukan mereka dengan semena-mena. Hewan, tumbuhan, dan alam ini memang boleh dinikmati oleh manusia. Tapi ga boleh serakah. Ga boleh semena-mena. Ga boleh menindas. Kalaupun mengkonsumsi mereka, manusia tak boleh berlebihan, tak boleh rakus, dan harus dilakukan dengan cara yang baik. “Coba bayangkan kalau ayam yang pahanya kau makan itu tak ikhlas dengan perbuatanmu.... Bagaimana?” katanya. Wah saya tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Pertanyaannya mengingatkan saya pada sebuah adegan di film sains fiksi Alvatar, ketika seorang perempuan Pandora meminta maaf dan menenangkan hewan yang tengah berhadapan dengan maut akibat tebasan senjata kawannya. Adegan itu lekat di pikiran saya, dan kini tampak begitu relevan dengan pertanyaan teman saya tadi. Lalu saya jadi tersadar juga betapa kita sebagai manusia suka sekali mem-PHP (memberi harapan palsu) pada para binatang itu. Contohnya ikan. Kita beri mereka tempat yang nyaman, makanan yang cukup sehingga menjadi gemuk dan berkembang biak. Tapi ujung-ujungnya ya tetap saja ke panci atau wajan kita sendiri. Coba pikir seandainya para ikan itu cukup punya otak dan daya untuk menolak tindakan PHP itu. Mungkin mereka akan mencibir sambil bilang ‘halah nipu!’. Atau mungkin mereka malah bakal bunuh diri dengan racun kuat agar kita tak bisa memakan dagingnya. Nah, kalau sudah begitu makan apa dong saya .....?


Yes, saya memang bukan pecinta hewan yang militan. Tapi rasanya saya cukup tersenggol dengan itu semua. Ketika ada cacing tanah di lantai kamar mandi, saya mengusirnya dengan siraman air. Ketika ada ada kecoak melintas di halaman dan tak menuju ruang dalam, saya tak menginjaknya. Saya juga tak dendam ketika tangan dan kaki saya dihiasi bercak-bercak merah hasil karya para nyamuk. Tempo hari ketika ibu meminta saya untuk memotong-motong seekor ayam yang telah bersih, saya melakukannya dengan hati digayuti rasa kasihan yang membuat saya berucap permintaan maaf kepada sang ayam karena saya butuh melakukannya untuk bisa mendapatkan sepanci kare lezat..... 

Sabtu, 30 Agustus 2014

"Pencurian"

Bulan lalu di depan loket pembayaran tagihan PDAM saya kaget sekali. Bagaimana tidak, tagihan yang bulan-bulan sebelumnya tak lebih dari 35ribu tiba-tiba sekarang membengkak secara fantastis menjadi 172rb. Padahal rumah itu belum saya tempati, alias masih kosong melompong, hanya sesekali saya tengok sebentar dua bentar. Dengan bijak, mbak petugas loket menyarankan saya untuk menunda pembayaran dan membuat pengaduan di meja sebelah. Saya lakukan, dan si mbak meja sebelah itu menyuruh saya mengecek meteran air, kendatipun saya sudah sampaikan bahwa rumah tersebut kosong, belum pernah saya tempati, dan belum pernah sekalipun saya memutar keran airnya. Oh pernah ding, tepatnya tukang-tukang yang saya minta membuat pagar belakang yang melakukannya, bukan saya. Jadi, akhirnya walau tidak suka, mau tak mau saya pergi menengok rumah tersebut, tepatnya menengok meteran airnya. Daaaannnnn begitu masuk halaman (belum membuka pintu rumah nih), langsung saya kudu emosi. Karena jelas terlihat ada selang plastik yang terulur panjang melintasi jalan menuju ke tetangga depan. Saat itu tetangga depan sedang berkegiatan membangun teras dan pagar. Lha kenapa juga airnya ambil dari saya? Tanpa ijin pula. Wajar dong saya mangkel. Apalagi siapapun yang ada di rumah itu diam di tempat kendati tahu kedatangan saya sebagai si pemilik air. Dengan atraktif saya membuka box meteran, lalu memegang selang plastik itu, bersiap untuk menariknya lepas. Saat itulah salah satu tukang angkat bicara, menjelaskan bahwa mereka sudah mendapat ijin dari tetangga depan untuk melakukan itu dan nantinya si tetangga itulah yang menyelesaikan urusannya dengan saya. Si bapak tukang menyampaikan itu tetap di tempatnya berdiri, dan tidak merasa perlu untuk menyeberang menemui saya. Jujur saja, saya merasa sudah dimalingi, eh ga dihormati pula. Dengan muka masam saya iyakan. Lalu saya berikan secarik kecil kertas berisi nomor telepon saya untuk disampaikan ke tuannya. Lalu saya tinggalkan mereka.

Sesiang itu hati saya sungguh dongkol. Sampai kemudian handphone saya berbunyi, dari nomor yang tak saya kenal. Ternyata tetangga depan. Dengan suara halus nan ceria si bapak meminta maaf telah menggunakan air saya tanpa ijin. Dia mengulang penjelasan yang sudah saya dengar dari si bapak tukang tadi bahwa dia akan bertanggungjawab terhadap tagihan yang diakibatkan. Saya tanya kenapa sampai menggunakan air dari saya, jawabnya karena tempo hari aliran air PDAM di rumahnya diputus sehingga tak ada sumber air. Saya tak berminat bertanya lebih jauh. Yang penting dia sudah berjanji akan bertanggungjawab terhadap tagihan tsb. Kali ini dia juga minta ijin untuk menggunakan air saya sampai pekerjaan pembangunan rumahnya selesai. Katanya sebentar lagi selesai. Dengan terpaksa saya setujui dan telepon kami sudahi.

Setelah beberapa hari saya merenungkan kembali kejadian itu dengan fokus pada kejengkelan saya. Ya, saya jengkel sekali karena seharusnya dia meminta ijin terlebih dulu, bukan langsung menggunakannya. Saya jengkel karena inisiatif meminta ijin itu datang dari saya, hal yang seharusnya datang dari dia. Seorang teman yang saya ajak merenung bersama bertanya apakah dia tahu bagaimana menghubungi saya. Menurut saya sih jika dia benar-benar berniat untuk meminta ijin, bisa saja dia meminta kontak saya ke developer kawasan. Toh itu bukan kawasan perumahan yang luas, malah hanya kecil saja. Jadi seharusnya tak akan terlalu merepotkan untuk menelepon ke kantor pemasaran dan meminta info nomor telepon saya. Masuk akal, kata teman saya. Lebih jauh dia berpendapat bahwa bisa jadi itu tanda bahwa si tetangga depan kurang menyenangkan karakternya. Saya terhenyak membayangkan bakal bertetangga dengan orang yang menyebalkan. Dengan antusias teman saya berkata, “satu tindakan ini menunjukkan dia punya kecenderungan untuk itu. Bagaimanapun tindakan yang benar tetaplah meminta ijin sebelum menggunakan. Kalau lewat dari itu berarti pencurian”. Benar juga sih..... tapi sejurus kemudian saya ingat satu hal, bahwa sekarang saya tidak tinggal di kota besar yang seperti bertahun-tahun kemarin. Ya, sejak setahun yang lalu saya meninggalkan Surabaya dan kembali menetap di kota kabupaten ini. Semuanya beda.

Harus saya akui bahwa kehidupan saya selama di Surabaya adalah kehidupan seorang urban yang berlingkup kecil dan individualistis. Bertahun-tahun saya hidup sebagai anak kos yang berdaerah kekuasaan cuma selingkup kamar tidur. Ritme kegiatan saya itu-itu saja. Bangun, pergi ngantor, pulang, tidur. Seminggu penuh berulang begitu. Sebagai anak kos dan pendatang saya tak pernah merasa perlu berakar di lingkungan kos. Toh saya bukan pemilik rumah, tak pernah tercatat sebagai warga tetap, dalam banyak hal tentu induk semanglah yang dianggap dan diperlakukan sebagai warga penuh. Bertahun-tahun saya merasa tetangga adalah penghuni samping kamar saya, bukan rumah sebelah kos saya. Dan celakanya sesama penghuni kos rasanya punya ritme hidup yang relatif sama. Jadi jangan apakah saya pernah berkegiatan dengan warga kampung. Pun acara kerja bakti kampung ya induk semang yang melakukan. Kewajiban saya terhadap kampung rasanya sekedar menyetor kopian KTP dan membayar iuran sampah dan kebersihan yang lagi-lagi itu nyetornya ke induk semang, bukan ke si bapak RT. Ya kalau sekedar menyapa tetangga depan kos sih saya lakukan, tapi tidak untuk mengobrol. Terlebih lagi tetangga kanan kiri juga lebih banyak kos-kosan. Kalaupun bergaul, saya malah bergaul dengan teman-teman yang diluar lingkungan kampung, baik itu teman kuliah dulu atau teman kantor dulu, atau temannya teman. Jadi yaaaaa begitu dehhhh.....

Hal lain yang kemudian saya sadari juga adalah betapa kehidupan urban di kota memaklumkan batas-batas kepemilikan yang jelas. Juga batasan ruang. Juga betapa kehidupan begitu materialistis. Alhasil saya jelas mengapa saya begitu terganggu dengan apa yang terjadi di atas. Ya karena hal seperti itu ada di luar kebiasaan hidup saya. Sementara bisa jadi yang semacam itu bukan masalah besar di kota kecil ini, toh yang penting pada akhirnya si pemakai bertanggungjawab, tho? Ingat betapa dalam kehidupan nenek moyang bangsa ini sikap tolong menolong adalah budaya. Betapa dalam kehidupan lampau bangsa ini, lingkup lingkaran keluargaanpun begitu besar. Lihat bagaimana dulu ada lumbung besar untuk simpanan makanan komunitas. Lihat juga betapa cara mereka membuat rumah adalah dengan gotong royong bersama. Lihat bagaimana sebuah perhelatan seperti pernikahan digelar. Masih banyak lagi contoh lainnya dan semuanya berintikan kebersamaan, kekeluargaaan, dan gotong royong.


“Tapi jaman sudah berubah. Mau tak mau ada budaya yang berubah karena toh manusia pelakunya juga berubah. Kondisi sekarang membuktikan semakin modern hidup, semakin materialistis jadinya. Jadi apa salah kalau aku tetap berpendapat tetangga depanmu telah mencuri? Toh terbukti dia tidak berusaha menghubungimu. Kalau misal dia melakukan hal semacam ini untuk hal lain, apakah tetap kita harus mentolerir?” begitu teman saya berujar. Sungguh saya tak tahu jawabab atas pertanyaan itu. Yang pasti kejadian itu telah mengingatkan saya kepada kehidupan dimana segalanya seperti tak penuh prasangka.