Kamis, 27 Maret 2014

Putih Putih Melati .....

Tahun politik, musim kampanye. Pilihan warna menjadi hal yang sensitif. Musti memilih satu, ga boleh sampai punya lima warna ala lagu Balonku. Yes, you are what color you choose .... Jadi apa pilihan warnamu?

Saya tidak ikut berpesta demokrasi untuk Pemilu Legislatif tahun ini. Pasalnya, nama saya tidak tercantum sebagai daftar pemilih. Dan jujur saja saya sedang tidak punya cukup minat dan semangat  untuk mengurus hak bersuara itu. Jadilah saya masuk yang disebut-sebut sebagai golongan putih, alias mereka yang tak bersuara. Pada awalnya saya tidak masalah digolong-golongkan seperti itu. Tapi kemudian jadi meradang juga ketika ada pernyataan ini itu yang ditujukan pada orang-orang seperti saya, termasuk juga mereka yang pada hari H tidak menunaikan suaranya. Dikatakan orang-orang seperti itu tak bertanggung-jawab, tidak care, tidak peduli dengan masa depan bangsa, cuma mau mengkritik tapi tidak mau bertindak. Terakhir ada indikasi untuk menyatakan pilihan sebagai golput adalah haram. 

Jadi pertanyaan besarnya adalah salahkah menjadi golput? Saya tidak tahu persis jawabannya. Cuma secara pribadi saya tidak menyalahkan mereka yang secara sengaja memilih menjadi golput. Lha bagaimana tidak, wong opsi pilihannya tidak menggugah selera begitu? Ibarat menu makanan, apa yang disajikan adalah makanan kemarin yang dihangatkan untuk dihidangkan hari ini. Kalau orang Jawa bilang makanan ‘nget-ngetan’. Lihat saja siapa-siapa yang maju, lebih banyak muka-muka lama yang prestasinya yaaaaaa begitulah adanya. Ada sih muka baru, yaitu para artis sinetron yang katanya merasa terpanggil hatinya untuk mengabdi pada bangsa dan negara. Ya monggo lah yaaaa..... silahkan saja. Mau mengabdi kok dilarang.

Tak cuma urusan muka. Urusan janji kampanye ya tak beda-beda amat dengan yang dulu-dulu. Sama penuh manis madunya. Sama yang intinya menjanjikan perjuangan dan pengabdian demi rakyat semesta. Dari tahun ke tahun semuanya begitu kan? Paling kemasannya yang sedikit sedikit diubah. Kalau dulu pakai kemasan pertunjukan dangdut, sekarang ganti mengusung musik pop. Atau sebaliknya. Kalau dulu sawerannya sekian, sekarang dua atau tiga kian karena saingan juga lebih banyak. Seputar itulah. Sementara semua paham bahwa janji manis penuh madu itu bakal segera terlupakan dengan berbagai alasan, seperti janji-janji yang pernah dan telah ditebar tahun-tahun sebelumnya. Menebarnya selalu begitu murah, seakan begitu banyak persoalan bangsa dan negara ini bisa dituntaskan hanya dengan satu tindakan yaitu memilih mereka.

Jujur saja, sering saya mentertawakan mereka yang berkampanye. Mentertawakan mereka yang begitu percaya diri mengklaim telah berbuat banyak untuk negara dan bangsa ini. Mentertawakan mereka yang mengklaim dirinya adalah jawaban atas upaya penuntasan permasalahan negara dan bangsa. Mentertawakan mereka yang bermanis-manis  dan berakrab-akrab dengan rakyat kecil. Ah, betapa dunia politik adalah panggung kedua setelah panggung sandiwara kehidupan itu sendiri.

Seorang teman bilang saya sinis sekali. Juga skeptis. Ya bagaimana saya tidak sinis dan skeptis kalau waktu sudah membuktikan bahwa mereka tetaplah orang-orang yang doyan duit. Dan lihat saja dana kampanye mereka yang belasan, puluhan, dan ratusan juta itu. Bahkan ada yang kabarnya dana yang dibuang untuk kampanye mencapai satuan milyar. Duit semua lhoooo ituuuu.... Logikanya, apakah buang-buang seperti itu akan nutup dengan gaji resmi dan legal yang didapat ketika menjabat kelak? Logikanya lagi, kalau itu dianggap sebagai modal, apa tak mungkin selanjutnya mereka akan menarik profitnya?

Teman saya bilang saya marah karena disebut sebagai warga negara tak banyak guna jadi melampiaskan kemarahan dengan menyerang para manusia percaya diri tinggi itu. Ya ya ya, dia benar, saya memang marah. Dan lebih marah lagi kalau sampai benar disebut golput itu haram. Sebelum mereka mengharamkan golput maka mereka harus lebih dulu menghalalkan darah para legislator yang menyimpang dari janji-janji kampanye, termasuk mereka yang memakan duit rakyat.


Kali ini teman saya tertawa terpingkal-pingkal. Katanya saya hidup di awang-awang, terlalu menginginkan hal ideal yang saat ini jauh dari realitas. Katanya masih ada orang-orang baik dalam golongan itu selain mereka-mereka yang berurusan dengan KPK. Katanya betapapun jeleknya,  penyelenggaraan negara ini butuh mereka. Jadiiiii.... masih katanya, sebagai warga negara tetap diharapkan untuk memilih. Karena ini bagian dari demokrasi, tak peduli pilihannya adalah menu ‘nget-ngetan’. Pilihlah yang terbaik dari yang terburuk. Begitu teman saya berpesan. Ehmmmm..... sebentar, jangan-jangan ..... Teman saya mengangguk sambil mengulum senyum lalu menunjuk dadanya..... Alamakkkkk.... Nyanyi aja ahhh....  Putih-putih melati, merah-merah delima, siapa yang baik hati, tentu disayang Mama .....

Senin, 17 Maret 2014

Tukang Becak Plus Plus

Pak Ji. Begitu saya biasa menyapanya. Orang lain juga memanggilnya begitu. Profesinya resminya sebenarnya penarik becak. Sepanjang ingatan saya, Pak Ji sudah menjalankan profesi itu ketika saya masuk kuliah. Dan selama itu pula tempat mangkalnya tetap, pintu masuk perumahan tempat orang tua saya tinggal. Sekarang usia saya nyaris menyentuh kepala empat. Dan Pak Ji masih di sana, tetap dengan becaknya yang besar dan terawat bersih. Jadi bisa dibayangkan berapa lama beliau berkarya. Anak-anak yang dulu diantarnya ke TK sekarang sudah jauh dewasa. Kadang saya berpikir apa yang dirasakan oleh Pak Ji melihat perubahan kami-kami pelanggannya dulu.

Masa memang berjalan cepat, membuat semua berubah. Dulu orang tua mempercayakan anak-anaknya untuk diantar-jemput oleh Pak Ji. Sekarang saya melihat fenomenanya telah berbalik. Sekarang, banyak anak-anak, yang nota bene telah dewasa, merasa aman ketika Pak Ji yang mengantar jemput orang tua mereka. Ya, saya termasuk salah satu di dalam golongan itu. Dari sekian banyak becak yang telah tahunan mangkal di tempat itu, Pak Ji selalu jadi pilihan pertama. Malah sering-sering ibu saya rela mengurungkan niat bepergian dengan becak jika bukan Pak Ji yang mengantar.

Masa juga membuat peran Pak Ji berkembang, tak hanya sekedar pengantar jemput. Ya, para orang penghuni perumahan terus menua, sementara anak-anak yang telah berkehidupan sendiri. Alhasil keberadaan Pak Ji jadi lebih berarti. Ibu saya selalu mempercayakan urusan ke dokter kepada Pak Ji. Urusan ini meliputi mendaftar, mengantar ke dokter, menebus resep, lalu mengantarkan pulang. Jika ada acara di rumah semisa pengajian, Pak Ji juga yang akan mengambilkan karpet, menyingkirkan kursi, memasang karpet, dan menjemput konsumsi. Lalu ketika usai, beliau juga yang akan membereskan karpet dan mengembalikan kursi-kursi pada tempatnya. Tempo hari satu kusen di area jemur lapuk. Bisa ditebak, Pak Ji dipanggil. Beliau melepas pintu dan kusennya. Mencari tripleks dan papan untuk jadi penutup sementara, lalu mengantarkan pintu ke tukang kusen untuk dibuatkan kusen pengganti yang sesuai. Dan ketika kusen baru datang, Pak Ji juga yang membawa tukang dan sekaligus membantu memasangnya. Terus jika akan ada tamu datang berkunjung dan halaman samping diperlukan sebagai garasi, bisa ditebak siapa yang datang untuk menyingkirkan pot-pot bunga di tempat lain untuk sementara, dan tentu nantinya orang ini juga yang akan mengembalikan ke tempat semula setelah para tamu selesai berkunjung.

Ya, Pak Ji mengerjakan banyak hal, dari yang remeh-remeh hingga yang serius. Dan nyatanya orang tua saya bukan satu-satunya yang mengandalkannya. Ada masa ketika Pak Ji harus datang setiap hari ke rumah seorang tetangga yang lumpuh karena stroke. Tiap hari Pak Ji bertugas memapah si bapak agar bisa dimandikan. Kemudian membawanya ke teras untuk berjemur beberapa saat. Lalu membawanya kembali ke dalam rumah. Itu dilakukan tiap hari si bapak wafat.

Satu lagi kejadian. Suatu ketika bapak saya sakit dan menolak untuk opname walaupun dokter merekomendasikan. Esok paginya, ketika berusaha bangun untuk sholat subuh beliau jatuh. Dan orang pertama yang ditelepon ibu saya adalah Pak Ji. Pak Ji juga yang kemudian menghubungi tetangga dan membawa bapak saya ke rumah sakit. Baru setelah semuanya beres ibu menghubungi kami anak-anaknya yang semuanya ada di luar kota, mengabarkan apa yang terjadi.

Ya, itulah Pak Ji si tukang becak plus plus. Ibu saya selalu bilang beliau tahu bagaimana memperlakukan penumpangnya, seperti merendahkan becaknya agar ibu bisa naik atau turun dengan mudah. Ibu juga bilang beliau bisa mengetahui kemauan si pemberi order tanpa perlu diterangkan detail dan penuh inisiatif. Bapak bilang cuma Pak Ji tukang becak yang pintar dan tidak gampang canggung menghadapi situasi tertentu. Bapak juga bilang Pak Ji tahu bagaimana membawa dirinya, serta bisa dipercaya.

Ya ya ya, itulah Pak Ji. Memang semua memberikan upah atas tenaga yang diberikannya. Cuma jika dipikir-pikir beliau tidaklah sekedar penjual jasa. Beliau seperti telah menjadi bagian dari banyak keluarga. Karenanya ketika beliau bercerita anak perempuannya berhasil masuk sekolah Sandi Negara, bapak dan ibu saya bersama dengan para sepuh yang lain ikut larut dalam bahagia dan syukur, seakan anak kandung merekalah yang memiliki keberhasilan itu.


Terima kasih banyak, Pak Ji...... #bungkuk badan. 

Rabu, 29 Januari 2014

SUKSES

Bagaimana cara mengukur sukses? Selalu pertanyaan ini mengganggu saya dari dulu hingga detik ini, teruma ketika sedang galau akan hidup. Ya, hidup kata orang penuh dengan naik turun. Nah pas naik itulah yang namanya sukses. Cuma, naik setinggi apa yang bisa masuk kategori sukses? Ini pertanyaan besarnya.

Akhir-akhir ini saya sering bertemu teman-teman lama, mereka yang kisaran dua puluh tahun silam atau lebih menjadi teman seperjuangan di bangku sekolah. Ketika itu standar ukurannya jelas : nilai raport. Jadi ya yang nilainya selalu buruk berarti masuk kategori, maaf, tidak pandai. Sementara yang nilainya selalu baik tentu dilabeli pintar. Sistem pendidikan memungkinkan hal itu. Karenanya masih jelas dalam ingatan saya yang mana teman yang selalu berada di rangking atas dan mana yang jadi penghuni peringkat bawah. Tapi itu dulu, dua puluh tahun yang lalu, bahkan lebih. Sekarang semuanya telah berubah, termasuk standarnya.

Hidup berjalan terus selepas dari bangku sekolah. Semua berproses. Semua berubah, tak lagi seperti dulu. Dan tak jarang saya jadi terkagum-kagum. Juga iri. Tapi enggak pakai dengki lhoooo.... Ya bagaimana tidak kagum dan iri sekaligus kalau teman yang dulu seperjuangan sekarang sudah jadi orang, punya rumah magrong-magrong, dan bermobil mulus gresssss...? Sementara saya, masih berjarak dari pencapaian tersebut. Lalu biasanya saya bakal memberikan label ‘sukses’ pada teman-teman seperti itu. Terus sejenak nelangsa dan tidak percaya diri untuk hadir di acara reuni .... ha ha ha ...... Tapi ya itu tadi, cuma sebentar. Setelah itu biasanya saya bisa terhibur dengan pikiran ‘ah, biar begini saya bahagia kok’. Naifkah? Atau mencerminkan tingginya tingkat kemalasan saya?

Ya, kekayaan materi adalah yang paling gampang untuk dijadikan tolok ukur kesuksesan seseorang. Dan nyatanya paling banyak digunakan juga. Iya, kan? Saya sering kok mendengar orang bilang ‘eh si fulan sudah punya ini itu. Sudah kaya. Sukses dia sekarang’. Tidak cuma sekali dua kali saya mendengarnya. Seringgggggggg banget. Atau contoh lain sungguh terasa ketika lebaran tiba. Ya, waktu lebaran biasanya generasi anak pulang kampung, sowan kepada orangtuanya. Saat inilah gongnya. Mereka pulang dengan segala atributnya. Pernah saya dengar tetangga saya bilang,”Bapak A enak, anak-anaknya pada sukses. Lihat saja, tiga anak mudik, tiga mobil kinclong berjajar di rumah Bapak A”. Nah, kan? So, kekayaan materi adalah satu tolok ukur kesuksesan. Dan berhubung jelas-jelas saya belum ada apa-apanya jika diukur dengan itu, maka teruslah saya mempertanyakan bagaimana mengukur kesuksesan......  ha ha ha.... Daripada stress gitu lhoooo.....

Sampai suatu hari seorang sahabat yang juga saya semati label ‘sukses’ karena karirnya wow banget berkata bahwa dia menilai kesuksesan seseorang salah satunya dengan indikator ‘life skill’, tidak melulu secara materi. Karena toh banyak orang mendapatkan kekayaan materi dengan cara yang salah. Kontan saya kepengen tahu dan bertanya apa itu life skill. Dia menguraikan intinya life skill adalah ketrampilan seseorang dalam menghadapi segala rintangan dalam hidupnya. Termasuk di dalamnya daya juang untuk hidup, kemauan terus bercita-cita, kemampuan mengatasi masalah-masalah hidup, dan hal-hal lain semacam itulah. Langsunglah hati saya mekar. Karena dengan tolok ukur tak berbau rupiah atau dollar seperti itu semua orang bisa saja masuk kategori sukses, termasuk saya. Saya bilang padanya saya pernah berhasil membebaskan diri dari belitan hutang bertahun-tahun. Katanya berarti bisa jadi saya termasuk orang sukses karena toh hutang adalah salah satu masalah hidup. Ya ya ya..... asyik juga tolok ukur tersebut .... he he he he.... Saya mulai berpikir berarti saya sukses dong.... Yaaa paling tidak pernah sukses membebaskan diri dari belenggu hutang.

Sahabat saya lalu bertanya apakah saya risau karena pandangan penilaian orang? Ehmmmm .... yaaa iyalah.... Bohong bangetlah kalau saya tak ingin merasa sukses dan dinilai orang sukses. Buktinya saya selalu iri dengan mereka yang saya anggap sukses. Tapi sekali lagi, tidak pakai dengki yaaaaa.... Dengan yakin teman saya bilang tak apa mengejar kesuksesan materi asal jangan lupa ada bentuk sukses-sukses yang lain, yang tak melulu berkaitan dengan materi. Contohnya mereka yang berguna bagi orang banyak semisal para relawan biasanya bukan orang-orang yang berlebih secara materi, tapi justru yang biasa-biasa saja. Sementara koruptor nyaris selalu mereka yang sudah kaya raya. Ehmmmm... betul juga, kan?


Jadiiii .... mulai saat itu jika risau saya akan menghibur diri dengan melihat sukses dalam bentuk yang lain. Tapi, tetap mesti bekerja keras untuk mengejar sukses materi dengan cara yang benar, jangan pakai korupsi. Karena pemalas itu hanya membebani orang lain. Begitu pesan lanjutan dari sahabat saya yang sungguh super itu. Okay dehhhhhh ..... 

Minggu, 22 Desember 2013

Betapa Egois Hidup Saya

Biasanya saya dan bapak saya punya selera yang sama soal acara televisi. Sama-sama tidak tahan menonton dan mengikuti sinetron dan infotainment. Tapi tahu-tahu beberapa hari yang lalu ketika saya memegang remote control Bapak minta nonton sinetron saja. Padahal jam itu adalah jamnya siaran berita. Ketika saya tanya kenapa, jawabnya “malas lihat berita, jadi merasa ga punya harapan masa depan yang baik...” Itupun diucapkan dengan nada rendah. Walau tidak setuju akhirnya saya pencet juga remote control ke stasiun TV yang memang jam segitu sudah bersinetron. Dan seperti yang saya duga, tak lama beliau bertahan. Tak lebih dari 15 menit sudah angkat bokong, ngeloyor pindah ke teras depan. Jadi saya leluasa pindah ke televisi yang memberitakan negeri ini dengan segala carut marutnya. Lalu kalimat bapak saya tadi terngiang kembali di telinga. Saya jadi bertanya pada diri sendiri, apa gunanya berita seperti itu untuk saya?

Ya, apa sebenarnya gunanya berita seperti itu? Selama ini saya menganggapnya sebagai informasi yang penting. Kenapa saya bilang penting, karena saya merasa itu adalah hal terkini yang terjadi di negeri ini. Berarti mempengaruhi kehidupan saya langsung atau tidak langsung. Saya juga merasa bodoh jika dalam satu pembicaraan dengan topik seperti itu terus ternyata saya tidak dapat mengikuti karena kurang informasi. Tapi setelah semua itu terus apa untungnya mengetahuinya? Kata teman untungnya adalah jadi bisa menentukan pilihan politik, termasuk memilih caleg, presiden, ataupun jabatan lainnya. Benarkah, tanya saya. Dia tertawa, enggak juga. Katanya yang begitu-begitu lebih banyak salah pilihnya daripada benarnya. Sebab sudah terlalu banyak yang buruk ketimbang yang berbudi. Masih katanya, coba lihat di berita-berita itu, bahkan mereka-mereka yang kita sangka orang baik dan pantas diberi kepercayaanpun pada akhirnya terbukti korupsi juga. Iya juga sih, batin saya.

So, benarkah negeri ini begitu buruk sampai bapak saya yang sudah sepuh itu merasa tak punya harapan? Jika  benar, alangkah menyedihkan tinggal di negeri ini ... hiks hiks ....  Nah pas mikir betapa sedihnya itu pas kemudian saya membuka salah satu koran nasional. Dari dulu koran tersebut selalu menyediakan satu halaman yang memuat profil-profil yang menurut bahasa sekarang menginspirasi. Yang dimuat tidak cuma orang asing. Malah sepengetahuan saya lebih banyak orang lokal. Dan membaca salah satu dari mereka hari itu membuat saya merasa memiliki harapan.

Ya, mereka orang-orang yang menurut saya memberi harapan dan membuktikan bahwa bangsa ini tak seluruhnya hitam. Mereka berbuat sesuatu untuk orang lain. Ada yang dengan bayaran minim tetap bertahan menjaga mercu suar di pulau terpencil. Ada yang dengan dana sendiri membuat sekolah untuk masyarakat sekitarnya. Ada yang dengan suka rela mereboisasi hutan demi menyelamatkan sumber mata air. Ada yang menanami daerah pantai dengan bakau demi menghindarkannya dari abrasi sekaligus memberi ruang hidup untuk kepiting. Ada yang mengabdikan dirinya menjadi bidan dan guru di daerah terpencil. Ada yang nekad membuat rumah sakit apung demi mereka yang tinggal di pulau-pulau yang minim fasilitas kesehatan. Ada yang membuat bank sampah. Ada ..... ada ..... ada ...... Banyakkkkkkk....

Ya, mereka ada. Dan ironisnya para hero itu justru rata-rata mereka yang ada di bawah, hidup tak berlebihan. Justru dalam kondisi seperti itu mereka bisa berbuat sesuatu yang hebat. Bandingkan dengan para petinggi yang duduk di kursi di awang-awang sana, yang ketika berkampanye bermanis mulut tapi seringkali kemudian berakhir di gelandangan KPK.
                                                                                                                                       

Ya, saya yakin bangsa ini masih mempunyai harapan. Tak peduli betapa terkenalnya kita sebagai negara korup, tetap saja ada orang-orang baik disini. Ini menentramkan saya tentu saja, karena bagaimanapun buruknya sekarang, tapi tetap ada harapan. Bagaimanapun hitam sekarang, tetap masih ada titik putih. Orang-orang baik belum sirna. Yang penting adalah bagaimana menambah jumlahnya menjadi lebih banyak. Ya, menambah jumlahnya menjadi lebih banyak, itu kata kuncinya. Dan seketika itu saya begitu sadar, BETAPA EGOIS HIDUP SAYA.........  

Minggu, 03 November 2013

NYALEG

Seorang sahabat pada satu kesempatan kumpul-kumpul menyatakan dirinya akan maju jadi caleg pada Pemilu tahun depan. Dan saya terperangah. Heran, juga kaget. Karena menurut saya menjadi anggota legislatif bukanlah cita-cita dan profesi yang umum. Aneh ya kalau saya pakai kata ‘umum’. Apa ya, menurut saya tidak umum karena rasanya belum ada bocah TK yang ketika ditanya gurunya ingin menjadi apa kelak terus menjawab “mau jadi anggota DPR, Bu Guru”. Hehheheheeh .... alasan konyol ya? Tapi memang itu yang terbersit di benak saya. Dan alasan kedua, karena menjadi anggota legislatif menurut saya bukanlah profesi yang layak diidamkan jika maksudnya untuk mencari kekayaan. Sebab bagi saya menjadi anggota legislatif itu lebih sebagai pengabdian ketimbang profesi. Tapi kan mereka digaji, besar pula, demikian protes sahabat saya yang lain. Jadi menurutnya tidak cukup layak kalau disebut pengabdian semata. Karena kalau itu wujud pengabdian maka gajinya ga segitu gede hohah kaleee.... Ini lagi-lagi keluar dari mulut sahabat saya satunya. OK-lah, akhirnya saya sepakat itu sebuah profesi, sama dengan dokter, tentara, arsitek, petani, dan lainnya. Baiklah, saya menurut, toh kenyataannya banyak politisi yang menggantungkan hidupnya dari profesi itu.

Jadi seorang sahabat saya ingin menjadi anggota legislatif. Saya termenung. Bukan karena saya meragukan kemampuannya. Saya tahu secara otak dia cukup kompeten. Secara hati juga selama ini saya merasa dia juga cukup terjaga. Tapi justru yang kedua ini yang mengganggu saya. Lihat saja apa yang dilakukan oleh para anggota legislatif itu. Tak jauh-jauh dari masalah uang kotor dengan berbagai bentuk perwujudannya. Bahkan sebelum mereka terpilih pun konon segala bentuk uang kotor itu sudah terlibat dalam proses pemenangan. Coba lihat saja betapa berita di televisi disesaki dengan hal semacam itu. Nah, apa yang dilakukan sahabat saya ini nanti, baik ketika berusaha meraih cita-citanya maupun jika nanti cita-cita itu tercapai? Apakah dia akan tetap menjadi orang yang kompeten dan bersih seperti sekarang? Ah, siapa yang menjamin? Berarti saya ga percaya dengan sahabat sendiri? Ehmmmmm .... sayangnya saya harus menjawab ya, saya tidak percaya pada sahabat saya sendiri. Ini masalah uang gitu lhoooooo.... Uang, seperti semua orang bilang, bisa mengubah banyak hal, termasuk membuat yang baik-baik jadi enggak karuan.

Tapi kalau bukan orang-orang yang kompeten dan bersih seperti dia, terus siapa lagi yang harus maju? Ini pertanyaan sahabat saya yang lain. Iya juga sih, kalau bukan dia bisa jadi orang yang lebih ga karuan yang bakal maju dan terpilih. Negara ini butuh orang yang berkualitas, berhati, dan bermoral tinggi untuk ada di atas, begitu katanya lagi. Ehmmmmm tapi bagaimana kalau dia ternyata tidak bisa jadi sama seperti sekarang setelah ada di atas nanti? Bukankah sudah banyak contohnya? Ini ceritanya saya tetap ngotot. Kali ini sahabat saya ganti yang manyun karena kengototan saya. Lalu kami sama-sama tak berminat meneruskan perdebatan, juga tak menjanjikan akan mendukung sahabat yang bakal nyaleg tsb. Wis biarin ajalah, begitu kata sahabat saya tanpa minat.

Korupsi. Ya, itu masalahnya. Lihat bagaimana mereka yang di atas sana dengan enteng melakukannya, meraup uang yang sebenar hak orang banyak, tanpa banyak merasa berdosa. Korupsinya sering-sering berjamaah pula. Sudah gaji tinggi, ga perlu demo kayak buruh setiap kali minta tambah gaji, ehhhhh masih korupsi pula. Menyakitkan tho? Dannnn.... bagi saya lebih menyakitkan jika yang melakukan itu adalah mereka yang saya kenal. Sakitnya berlipat-lipat dah! Coba bayangkan jika suatu saat muncul di televisi pemberitaan soal korupsi dan pelakunya kita kenal secara personal sebagai pribadi yang baik dan bersih. Nyesek kan? Sakit hati kan? Pasti deh tidak akan berhenti dari sekedar ucapan “nggak nyangka ya dia begitu”. Dijamin dah kecewanya bakal berlipat ganda!

Kali ini teman saya yang mau nyaleg tadi angkat bicara. “Halooooo... saya belum jadi, belum korupsi, dan tidak berkeinginan untuk korupsi lhoooo... Kok semua pada bertingkah seakan saya sudah pasti akan korupsi ya?” Dia mengatakannya sambil tersenyum-senyum. Saya jadi merasa berdosa. Lalu lanjutnya, “Percayalah, tetap ada orang-orang yang punya komitmen dan dedikasi untuk menjadikan negeri ini lebih baik. Negara ini tak akan pernah jadi lebih baik jika semua memilih berada di luar lapangan saja. Masuk ke lapangan dan buat perubahan!” Lagi-lagi saya diam.

Nah, jadi bagaimana? Ya bagaimana lagi, saya cuma berharap dia akan tetap pribadi yang saya kenal sekarang, pribadi yang berniat masuk agar dapat membuat perubahan di atas sana. Ya, semoga dia kuat untuk mewujudkan itu, ga cuma kayak saya yang bisanya berprasangka buruk..... hehhehehehehehe ....


2014 segera datang, selamat berjuang, Sahabat!

Sabtu, 19 Oktober 2013

METAMORFOSA ?

Manusia berubah. Manusia berproses. Sadar ga? Pasti sadar dong...... Ya, kita semua berubah. Seproses demi seproses. Saya jadi ingat pelajaran Biologi dulu, metamorfosa kupu-kupu. Proses bagaimana ulat yang stigmanya buruk rupa berproses menjadi kepompong lalu ‘bertapa’ demi membentuk sayap dan organ lain. Lalu yang keluar dari kepompong tak lagi si buruk rupa melainkan si kupu-kupu cantik dengan sayap halus aneka rupa. Metamorfosa. Dari buruk menjadi cantik. Berarti dari negatif ke positif.

Bagaimana dengan kita manusia? Saya kok yakin ‘metamorfosa’ manusia tak selamanya melulu dari negatif ke positif. Kalau itu masih boleh disebut ‘metamorfosa’, maka terhadap manusia arahnya saya yakin lebih dari dua. Dan tak cuma sekali, alias terus menerus terjadi. Saya melihat diri sendiri. Saya sampai saat ini saya telah berproses dari mani dan ovum menjadi zigot, embrio, bayi, balita, anak-anak, remaja, dan dewasa. Selanjutnya mungkin bakal tua lalu mati, dan menjadi renik debu. Itu baru yang fisik, yang arahnya linier tanpa kemungkinan ulang. Menurut saya mental dan moral saya juga berproses. Seorang rekan pernah berujar, “Saya dulu kenal kamu sebagai orang yang sabar, bisa ngadepin orang pabrik tanpa marah-marah. Kok sekarang kamu bisa dengan dengan lancar jaya ngamuk ke Kepala Pabrik ya?”. Nah lho, bukankah itu bukti konkrit bahwa saya berproses dari positif ke negatif? Itu baru satu, saya yakin ada banyak lagi yang lain, baik yang berbukti konkrit maupun yang tidak. Jadi manusia sungguh berproses, tanpa kecuali.

Tempo hari seorang politisi ditangkap KPK. Hal yang cukup biasa di negeri ini sebenarnya. Yang agak membedakan khususnya bagi saya sebenarnya adalah saya; dan mungkin banyak orang yang lain; menjadi saksi bagaimana beliau ini berproses. Sungguh saya masih ingat bagaimana dia dulu awal-awalnya moncer. Seorang akademisi lulusan luar negeri yang tampak cerdas, perpenampilan cakep dengan senyum yang sanggup membuat ibu saya mengidolakannya. Dia wara-wiri di koran dan layar televisi berbicara ini itu. Waktu itu saya sempat berpikir pasti banyak mahasiswinya yang nge-fans. Lha manis lho, pinter pula. Lalu saking piawainya beliau, pemerintah kepincut. Masuklah beliau ke jajaran petinggi. Lalu setelahnya menjadi merambah menjadi anggota parlemen sambil terus menjadi pejabat negara. Amboi betapa manis sebenarnya proses itu. Perjalanan karir yang banyak orang lain hanya bisa memimpikannya.

Tapi ternyata ada unsur-unsur yang mempengaruhi proses. Dan sungguh tak terkira hebatnya. Salah satu unsur itu adalah uang. Teman, sungguh tak terkira pengaruh si uang ini. Dia bisa jadi semacam katalisator proses. Cuma arahnya bisa macam-macam, baik positif maupun negatif. Dan kemarin proses si moncer itu terkatalis ke arah negatif. Saya tak mengenalnya secara pribadi. Juga tak termasuk yang mengidolakannya. Tapi melihat betapa moncernya dia di masa itu, betapa bagusnya, saya jadi ikut menyayangkan.

Contoh lain, seorang muda yang menurut saya juga termasuk si cerdas. Saya sudah melihatnya wara-wiri di media sejak jaman dianya mahasiswa. Waktu itu dia adalah ketua organisasi kepemudaan. Bicaranya lancar dan enak. Pas itu saya masih kisaran SMA dan sempat berpikir akan jadi apa nantinya ini mas mahasiswa setelah lulus kuliah kelak. Terus terbukti dia bisa wara-wiri di media lagi selepas kuliah dan statusnya adalah petinggi suatu institusi yang berkaitan dengan hal Pemilu. Pikir saya ini orang karirnya bagus banget ya. Apalagi kemudian dia menjadi politisi dan dekat dengan lingkungan penguasa. Di mata saya dia makin wuih apalagi ada yang sempat menerka-nerka dia bakal menjadi salah satu kandidat capres. Walau untuk yang terakhir ini saya tak sepakat, tapi tetap saja itu bukti bahwa beliaunya orang yang berprosesnya cepat dan positif pula. Sayangnya kemudian kabarnya ada katalisator bernama uang di dalam proses itu. Dan dia pun terjungkal. Sedangkan saya cukup tercengang.

So, kita semua berproses, Teman. Ada saksi atau tidak, proses itu terus berjalan. Pada satu titik kita akan menjadi menjadi apa kita. Dan semoga pada saat itu belum terlambat untuk berubah arah jika memang itu negatif. Karena sungguh kita semua adalah manusia biasa.......


Demikian ‘ceramah’ hari ini ..... halllaahhhhh, gombal!

Minggu, 01 September 2013

Miss-Miss-an

Lagi pada ramai menanggapi digelarnya kontes Miss World di Indonesia. Banyak yang pro, banyak juga yang kontra. Ya beginilah yang namanya hidup bareng berbanyak, syusyahhhhh kalau disuruh sepakat satu suara. Nah makanya karena syusyah sepakat satu suara itu makanya ada Pemilu, Pilkada, dan sejenisnya. Biar ketahuan jumlah yang milih ini berapa dan yang milih itu berapa. Alias diperlukan voting, syukur-syukur dapat suara mayoritas untuk bikin keputusan. Demokrasi? Ehmmmm embuh ….

So, kembali ke masalah Miss World. Yang pada pro beralasan bahwa ini adalah kesempatan untuk menunjukkan Indonesia kepada dunia. Mengarahkan mata dunia ke Indonesia. Agar mereka semua melihat Indonesia ada di peta dunia, punya keragaman budaya dan keindahan alam yang luar biasa. Yang pro juga bilang bahwa Indonesia adalah negara republik dan bukan negara agama, jadi ya boleh-boleh saja dong, nggak perlu bawa-bawa ajaran agama tertentu sebagai dasar untuk menolak. Lagian toh ini bukan kontes wajah dan tubuh, ada hal lain yang dinilai yaitu brain dan behavior. Lagian kontes bikininya juga sudah dihilangkan kok ……. Dan sudah disesuaikan dengan kepatutan dan kesantunan bangsa....... Ini negara bebas gituuuuuu ….
                
Yang kontra juga punya argumen sendiri. Umumnya menggunakan dasar agama, bahwa kontes-kontes yang mempertontonkan tubuh hukumnya haram. Kontes seperti itu hanya untuk keperluan syahwat laki-laki dan industri kecantikan bla bla bla yang ujung-ujungnya akan membuat perempuan terprovokasi. Memang ini bukan negara agama, tapi ini negara yang penduduknya beragama dan bersopan santun, jadi ya hormati dong…..
                
Jadi ada pro dan kontra. Saya ikut yang mana? Ehmmmm ….. jujur saya termasuk yang tak melihat manfaat jelas dari ajang miss-miss-an ini. Apapun itu, baik yang digelar di luar negeri maupun yang digelar di dalam negeri. Kalau dibilang miss A membawa misi budaya dan pariwisata misalnya, terus apa yang si Miss lakukan? Bisakah dia membuat orang Indonesia mengenal dan menghargai budayanya sendiri? Bisakah dia membuat orang Indonesia jadi lebih memilih berplesir ke Papua ketimbang ke Sentosa Island? Atau haruskah dia berkebaya dan berkonde tiap hari untuk memperlihatkan betapa Indonesia punya baju tradisional yang keren? Atau bagaimana..? Indonesia memang punya keragaman budaya dan alam yang luar biasa. Terus kalau ada ajang Miss World pengaruhnya apa? Apa para penonton dari seluruh dunia langsung jadi ngeh ada yang namanya Indonesia di peta dunia terus pada berbondong-bondong jadi wisatawan? Atau para penonton itu jadi berikrar pokoknya liburan depan mesti ke Indonesia, begitu? Atau bagaimana…?  Intinya bagi saya adalah apa sih yang para Miss itu lakukan setelah memenangi ajangnya? Sebesar apa pengaruh mereka untuk membuat sesuatu kondisi menjadi lebih baik dengan gelar Miss-nya? Atau adakah hal lain yang bisa mereka lakukan yang saya tidak mengerti …..?
                
Berarti saya termasuk yang kontra dong? Menurut saya sih malah saya belum menentukan posisi saya ada dimana karena begitu banyak pertanyaan saya mengenai ajang itu yang tak terjawab. Sungguh saya perlu dipahamkan terlebih dahulu sebelum menentukan sikap ada di barisan yang mana.
                
Satu cerita, ini riil. Seorang saudara saya memenangi kontes ala miss-miss-an ini bertahun-tahun yang lalu. Tapi versi yang tingkat kabupaten. Dia juara dua. Langsing, cantik, dan putih. Saya tanya kegiatannya apa sih. Jawabnya, ya di briefing soal pariwisata dan kebudayaan, terus belajar bagaimana membawa diri dan bersikap, dan belajar jalan ala peragawati. Lalu dia sempat kebingungan saat harus memakai baju batik setempat. Bingung karena tak pernah tahu bagaimana corak batiknya. Akhirnya setelah bertanya kesana kemari ketemu juga. Terus komentarnya, “ohhh ada ya ternyata batik begini…” Nah lho ….. Terus setelah menang saya tanya apa kegiatannya. Jawabnya disuruh jadi penerima tamu kalau ada tamu penting yang datang ke daerah. Penerima tamu? Jawabnya, “Iya, itu lho Mbak kalau misal ada presiden datang terus aku ikutan ngalungin kembang atau semacamnya… Atau ada orang penting lain macam bule mana gituuuuu yang jadi tamu daerah aku ya disuruh datang ikut menyambut …..” Nah lho (lagi) …… Penting ga sih kerjaan macam gitu…..? Saya jadi membayangkan seorang pemenang kontes miss kaliber dunia mengalungkan bunga ke leher ET yang sedang berkunjung ke bumi …. Atau ke leher alien ….. Lha dia tingkat dunia yang sejagad bumi, tamunya bumi siapa lagi kalau bukan para ET dan alien itu?
                
Satu cerita lagi ….. Ini riil juga. Saya sedang menuju ke terminal Purabaya waktu itu, mau pulang kampung. Bis kota yang saya tumpangi sumpah reot dan bau. Ternyata tepat di belakang saya ada bule laki-laki, muda, dan ganteng sedang menikmati suasana. Sepertinya backpacker. Menjadi tontonan dan bahan rerasan seisi bis kota tentu saja. Dan si bule yang tak mengerti tersenyum-senyum saja. Berkali-kali saya dengar dia berusaha berkomunikasi dengan penghuni bangku sebelahnya, tapi tak cukup berhasil. Akhirnya ketika bis mulai sepi, saya balikkan badan ke arahnya. Saya bilang terminal Purabaya masih agak jauh, saya akan tunjukkan kalau sampai nanti. Dia bilang, terima kasih sambil bertanya apakah saya juga akan ke Purabaya. Saya jawab iya. Dia bilang, “Good.” Lalu dia bercerita akan ke Bali menemui temannya yang sudah terlebih dahulu sampai di sana. Karena saat itu masih pukul 9 pagi, saya jawab bahwa sepengetahuan saya tidak ada bis langsung ke Bali pada jam seperti itu. Adanya nanti selepas Ashar. Tetap bisa berangkat tapi sepertinya dia harus berestafet dari bis ke bis sambung menyambung. Dia bilang dia mau yang langsung saja, tak apa menunggu di Purabaya agak lama. Ganti saya yang bilang, “Good”. Dia nyengir. Sesampai di Purabaya saya antar dia ke tempat pemesanan tiket ke Bali. Saya menawar harga tiket untuknya. Setelah kedua belah pihak sepakat saya pergi setelah mewanti-wanti dia untuk tidak meninggalkan barang berharga sembarangan dan jangan sampai ketinggalan karena bis berangkat jam empat sore . Dia bilang. “OK. Thank you very much.”
                
Satu cerita lagi ……. Masih cerita riil neh ….. Seorang teman chatting bilang mau berkunjung ke Surabaya. Katanya kepingin mampir setelah melewatkan dua minggu penuh di Thailand bersama keluarganya. Dia minta dicarikan hotel. Saya pilihkan satu hotel yang ada di pusat kota dengan pertimbangan dia gampang mencapainya, mau kemana-mana juga gampang, dan letakknya persis di dekat mall jadi kalau misal perlu sekedar belanja atau makan juga oke. Ternyata pilihan saya cocok dengan kebutuhan dia. Terakhir dia chat lagi ke saya beberapa bulan kemudian dan menanyakan nama hotel tersebut karena mau merekomendasikan ke temannya yang sedang ada kunjungan bisnis ke Surabaya.
                
Nah, apa pesan moral dari dua cerita terakhir saya tadi? Ehmmmm …. saya cuma mau menyampaikan bahwa semua orang bisa menjadi duta bagi negaranya sendiri ….. Coba lihat cara orang-orang Singapura yang menepi atau berhenti berjalan ketika ada wisatawan sedang berfoto. Mereka memberi ruang untuk kegiatan itu. Lihat juga bagaimana mereka dengan ramah menghampiri wisatawan yang memegang peta kota. Hal kecil tapi bermakna menurut saya. We all can do it. Jadi apa masih perlu miss-miss-an kalau memang konteksnya untuk keperluan kampanye pariwisata? Embuh …..
                
Tapi kan tujuan miss-miss-an bukan cuma untuk keperluan wisata, begitu kilah teman saya. Katanya untuk memperlihatkan kepada dunia bagaimana wajah Indonesia, agar dunia tak melihat Indonesia sebagai sarang teroris saja. Nah lho … tambah abstrak. Wajah Indonesia. Terus tugas konkritnya apa? Teman saya mengendikkan bahunya, “Ya embuh.” Lalu katanya dengan menggelar kontes itu di Indonesia, dunia jadi tahu bahwa Indonesia itu aman dan mampu mengatasi keragamannya. Ehmmmm ….. oke dehhhh …… Tapi itu kan misi dari penyelenggaraannya…. Kalau kontribusi para miss-nya apa? Teman saya mendelik jengkel, “Embuhhhh….kok nanya aku sih ….? Kan aku ga pernah jadi miss-miss gitu … Ada juga pernah miskomunikasi…”
                
Okeeee… nanya teman saya tidak ada jawabnya mending saya nanya kepada para Miss …. Apa konkritnya tugas dan pekerjaan kalian, Miss-Miss…?