Sabtu, 20 Agustus 2011

ANAK SEKARANG

Saya sedang berjaga di warnet tempat saya mencari uang tambahan di luar gaji ketika dialog ini terjadi. Seorang anak seumuran kelas 6 SD menghampiri meja saya dengan kedua tangan di kantung celananya. “Mbak, saya mau ngeprint”, katanya. Saya tanyakan file mana yang perlu di-print. Katanya masih dengan kedua tangan di kantung, “ Ya nyarikan dulu di google, mbak. Temanya soal ...”. Dia tidak sempat menyelesaikan kalimat itu karena saya keburu memontong dengan judesnya, “Itu tugas sekolah! Ya kamu yang cari sendiri! Emang yang sekolah saya?!”. Kentara nyalinya ciut dengan jawaban saya itu. Lalu duduklah dia di depan komputer dan mulai mencari apa yang dia perlukan. Dasar anak sekarang, sungut saya dalam hati.

Lain waktu seorang gadis seumuran SMA mendatangi meja operator ketika saya sedang asyik browsing. Katanya,” Mbak, tolong kerjakan soal di CD ini. Terus nanti save lagi di CD yang ini.” Ehmmmm..... saya gampang sekali meradang dengan urusan semacam ini. Dengan tegas saya jawab, “Disini tidak melayani pengerjaan tugas sekolah. Jadi silahkan kerjakan sendiri!” Dia tidak menyerah dengan penolakan saya. “Wah Mbak, saya minta tolong deh. Saya lagi ulangan nih...ga ada waktu buat ngerjain tugas ginian. Saya perlu belajar. Jadi Mbak aja yang kerjain, ntar saya bayar kok.” Hadeeehhhhhhh ...... jengkelnya saya. “Lha kalau yang mengerjakan saya apa gunanya tugas itu? Tugas itu dibuat untuk melatih kemampuanmu. Jadi ya harus kamu sendiri yang kerjakan.” Saya menolak pekerjaan semacam itu dengan pertimbangan 'mulia' ehhhh kok ditawar dengan uang. Saya bersikukuh dengan keputusan tsb walau si gadis terus merengek. Untung sang ibu yang menyertainya mau mengerti alasan saya. Lagi-lagi saya bersungut-sungut, dasar anak sekarang!

Seorang teman kantor bercerita tentang perilaku anaknya yang dimintai tolong ke warung. Katanya jawaban si anak adalah “ya ntar aja Bu kalau saya mau”. Ahahhahahaha ..... Saya tertawa melihat wajah gemasnya. “Lha wong ibunya yang nyuruh kok jawabannya begitu.... Dasar anak sekarang! Mereka kurang mengerti sopan santun.” lanjutnya. Di lain waktu teman yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris meradang karena muridnya mengerjakan tugas yang diberikan dengan bantuan Google Translate. Lagi-lagi saya geli dan menggodanya dengan menyebut si murid cerdas dalam menggunakan kemajuan teknologi informasi. Jawaban teman saya, “Halah mereka mau enaknya saja! Bahkan hasil terjemahan yang tidak karuan itu tidak mereka baca ulang apalagi diperbaiki! Ahhh sebal saya! Anak sekarang tidak seperti jaman kita dulu!”

Ahhh sebenarnya keluhan tentang 'anak sekarang' selalu muncul dari mulut generasi yang lebih tua terhadap yang lebih muda. Dulu orang tua saya juga mengeluhkan perilaku 'anak sekarang', dan yang dimaksud disini adalah generasi saya. Sekarang saya mengeluhkan generasi di bawah saya. Jadi mungkin saja dulu generasi kakek nenek buyut mengeluhkan generasi kakek nenek. Dan mungkin juga generasi kakek nenek mengeluhkan generasi bapak ibu saya. Lhaaa kayak kereta api yang sambung menyambung dong keluahannya.... Dan kalau keluhan itu benar-benar sambung menyambung, apakah berarti generasi yang lebih muda tak pernah lebih baik dari generasi yang lebih tua? Entahlah ....

Jujur saya selalu heran dengan mereka-mereka yang lahir di era penjajahan dulu. Begitu banyak orang pandai lahir di jaman yang konon luar biasa susah itu. Dan di logika saya, pada masa itu jumlah balita kurang gizi tak terhitung. Tapi sebut saja Sukarno sebagai contoh yang brilian. Berapa bahasa asing yang dia kuasai, kita semua tahu pasti. Belum lagi konsep-konsep pemikirannya. Apakah yang begitu bisa lahir dari bayi yang kurang gizi? Contoh lain Agus Salim. Ahhh sungguh saya mengidolakan pahlawan yang satu ini lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya. Dan seperti Sukarno, dia juga menguasai berbagai bahasa asing. Walaupun dia lahir dari keluarga yang terpandang, tapi kondisi sebagai bangsa terjajah tentu tidak membuatnya berlimpah fasilitas ini itu dalam menuntut ilmu. Tapi lihat hasilnya. Sukarno dan Agus Salim cuma dua contoh dari kegemilangan generasi masa itu. Dan saya membandingkan satu unsur saja dari mereka dengan diri saya sendiri, yaitu kemampuan berbahasa asing. Boro-boro menguasai tujuh bahasa asing, bahasa Inggris saja saya masih belepotan dan sering 'mati gaya' di depan klien perusahaan. Kalaupun sampai sekarang saya masih saja pe-de menemui mereka karena rata-rata para buyer tersebut masih sanggup tersenyum 'mengerti', malah kadang membantu melengkapi kalimat saya. Dan kalau sudah begitu saya akan menimpali dengan ''yeahhhh that's what I mean...”

Itu tadi baru soal bahasa. Bagaiman dengan soal perilaku? Ehmmmmmm .... ibu saya pernah bercerita betapa dulu kakek menggemblengnya dengan aturan tata krama yang ketat. Ibu selalu berbahasa Jawa halus alias 'boso' terhadap kakek dan nenek. Ibu tidak pernah duduk mengangkat kaki. Tidak pernah juga duduk di atas kursi ketika yang lebih tua duduk di lantai. Selalu patuh dan tidak pernah ada cerita membantah apalagi beradu mulut dengan orang tua. Nah nah nah .... saya bercermin dan hasilnya betapa beda dengan diri saya...... Boro-boro patuh, bahkan berbantahan pun seringkali saya anggap sebagai 'kebebasan berpikir dan berpendapat'. Boro-boro berbahasa Jawa halus, wong kebisaan saya menggunakan bahasa Jawa yang standard pun dianggap ibu saya menyedihkan... hehehheeheheh....

Ketika membicarakan hal ini dengan seorang teman, dia sempat berkata, “masa' sih generasi muda tak pernah lebih baik dari yang diatasnya? Padahal kan yang muda otomatis adalah hasil didikan yang lebih tua?” Ehmmmm ...saya terpikir akan sesuatu. “Waahhhh berarti generasi yang lebih tua salah mendidik yang lebih muda?” Teman saya langsung mendelik, “ Tidak bijak menyalahkan begitu. Sudahlah, kita anggap saja setiap generasi lahir di jaman seharusnya!” Ehhhmmm ..... okay dehhhhh ......

Senin, 15 Agustus 2011

Kartu Lebaran

Sebentar lagi lebaran. Sudah mempersiapkan kartu lebaran untuk dikirimkan pada sanak saudara dan handai tolan yang jauh disana? Pasti banyak yang bakal menjawab pertanyaan tadi dengan “hari gini pakai kartu lebaran....?”. Heheheeh .... memang rasanya saat ini kartu lebaran tak lagi banyak digunakan. Paling tidak seingat saya sejak enam tahun terakhir tak pernah lagi mengirim atau menerima kartu lebaran. Gantinya ya apalagi kalau bukan SMS dan e-mail. Malah sering-sering pakai ucapan 'berjamaah' yaitu menumpang pada gambar atau foto bertulis selamat lebaran bla bla bla yang di-posting teman di Facebook dan di-tag ke banyak orang. Disitulah, bersama banyak orang, saya 'bermaaf-maafan'. Ahhhhh .....demikianlah era digital.....

Saya ingat sekali dulu ketika lebaran menjelang, bapak saya akan mencetak kartu lebaran untuk dikirimkan ke kerabat dan teman. Ini dilakukan karena kalau dihitung-hitung cukup banyak juga yang perlu dikirimi kartu lebaran. Jadi mencetak sendiri adalah pilihan yang selain untuk menghasilkan kartu ucapan dengan tampilan yang cukup formal, juga secara biaya lebih murah. Pada saat itu biasanya akan terjadi sedikit perdebatan pemilihan warna dan kalimat yang tertera di dalamnya, karena ini adalah kartu lebaran personal, dengan nama, alamat rumah, dan alamat kantor tertera di dalamnya. Lalu bapak saya membubuhkan tanda-tangan dan kami bergotong-royong menuliskan alamat dan menempelkan perangko di masing-masing amplop lalu membawanya ke Kantor Pos kira-kira dua minggu sebelum hari H. Dan ketika lebaran datang kami akan menerima kartu yang kurang lebih sejenis. Oh iya, dulu ibu saya seringkali mengukur seberapa 'ingat' kerabat dan teman kepada keluarga kami dengan melihat siapa saja yang mengirimkan kartu lebaran. Tentu yang memberikan tambahan ucapan yang lebih personal lagilah (seperti menanyakan keadaan keluarga kami) yang dianggap ibu paling 'ingat'. Tentu yang tidak mengirimkanlah yang paling tidak 'ingat'. Dan semakin sedikit kartu lebaran yang kami terima, maka artinya semakin sedikit pula yang 'ingat' kepada kami ...... demikian logika sederhananya ... ahhahahaha..... Oh iya, dulu ibu saya selalu memilih kartu lebaran dengan ukuran yang agak besar dengan gambar yang elegans serta kalimat sederhana yang santun untuk dikirimkan kepada seorang yang sangat dihormati. Menurut ibu saya, tidak cukup sopan mengirimkan kartu lebaran berupa kartu cetak kepada orang-orang seperti ini. Nah nah nah .... berkirim kartu lebaranpun menimbang soal adat kesopanan.

Saya sendiri mulai berkirim kartu lebaran ketika kuliah. Yang saya kirimi tentu saja teman-teman kuliah yang pada pulang kampung ke daerahnya masing-masing. Dan karena kantong saya cukup cekak, maka kartu lebaran yang murah meriahlah yang saya pilih ... hehheehehe .... asal bisa menghantarkan perhatian ke sahabat-sahabat. Nah berawal dari kantong yang cekak inilah, bersama beberapa teman, saya membuat jasa pembuatan kartu ucapan handmade. Sebenarnya awalnya tidak sengaja. Iseng-iseng saya membuat map dari karton tebal dan kertas sisa. Pada masa itu ketentuan di kampus bahwa konsep dan tugas gambar harus dikerjakan di atas kertas tebal, bukan kalkir. Konon ini untuk meminimalkan penjiplakan. Jadi setiap semester selalu saja kertas tebal warna-warni menjadi kebutuhan pokok. Karton tebal saya kombinasikan dengan kertas warna mencolok, jadinya lumayan manis. Dan melihat itu entah bagaimana tahu-tahu kami sudah mengumpulkan sisa-sisa kertas tugas lalu membuat desain kartu ucapan. Bahannya macam-macam dan karena semuanya sisa jadi tidak ada standar yang jelas. Malah kami cenderung menambahkan apapun yang tampak oleh mata sebagai elemen pemanis, seperti busa topi, ranting kering, bunga semak, karton bekas, rumput kering, dan lainnya. Pendek kata kami cuma beli lem dan tinta warna-warni saja. Lainnya barang sisa. Bahkan kalimatnya pun kami tulis dengan tulisan tangan biasa. Karena itulah oleh pembeli kartu kami dicap bergaya natural yang rustic .... ahhahahahaah.....

Itu dulu. Sekarang saya tak merasa perlu kartu lebaran lagi. Karena semua terasa sudah ada di 'genggaman' alias bisa digantikan oleh produk hasil perkembangan teknologi yang bernama handphone. Mau kirim ucapan selamat lebaran ya tinggal ketik SMS lalu kirim secara 'berjamaah' ke mereka. Jauh lebih sederhana dibandingkan keruwetan yang timbul ketika bapak saya berkirim kartu lebaran dulu. Tapi kalau dulu ketepatan sampai tergantung pada Kantor Pos, sekarang harus menggantungkan diri pada provider teleponnya. Sebab, berkirim ucapan dengan SMS sudah jadi hal yang sangat umum. Jadi bisa dibayangkan berapa juta manusia yang saling berkirim SMS pada saat yang bersamaan. Maka sering-sering macetlah si jalur karena kelebihan beban. Efeknya, si SMS kalau tidak tertunda dan bakal sampai berhari-hari setelahnya, ya hilang di 'jalan'.

Soal konten SMS, ehmmmm sangat beragam. Mulai dari yang 1000% serius hingga yang konyol-konyolan. Dari yang berbahasa asing, sampai yang berbahasa daerah. Dari yang polos tanpa gambar, hingga yang full berhias. Dari yang singkat padat jelas, hingga yang panjang bertele-tele. Mengenai konten ini saya pernah punya pengalaman agak lucu. Suatu saat saya membuat ucapan yang benar-benar saya karang sendiri dan mengirimkannya ke banyak teman. Lalu tahu-tahu saya menerima ucapan yang persis sama kalimat dan titik komanya dari teman saya. Iseng saya tanyakan, jawabannya “Iya tadi belum buat ucapan, eh sudah terima dari kamu. Bagus sih, jadi aku forward saja teman-temanku. Jadi balik ke kamu juga ya ...” Heehheheeheh .... untung ya saya tidak menarik royalti dari ucapan itu.

Oh iya, seperti yang saya bilang di awal tadi, SMS bukanlah satu-satunya pengganti kartu lebaran di era digital ini. Ada yang lebih praktis lagi, yaitu dengan memasang status ucapan selamat lebaran dan seterusnya di akun Facebook, Twitter, dan messenger. Alhasil tersebarlah ke mereka yang ada di list kita. Dan rasanya sah-sah saja, dalam artian bisa diterima dengan mahfum, tanpa berpikir kurang sopanlah, atau apalah. Malah bisa dipastikan akan ada saja yang ikut numpang di wall kita itu, dan jadilah ajang halal bihalal maya. O la la praktisnya..... Dan yang penting murah pula.

Nah, lebaran sebentar lagi. Dan seperti tahun-tahun yang lalu saya tidak menyiapkan kartu lebaran. Yang penting selama ada pulsa di handphone pasti amannnnnnnnn ....... Soal apakah benar-benar permintaan maaf itu keluar dari hati dan diterima dengan sepenuh hati pula, ehmmmmmm hanya Allah yang tahu......

Kamis, 11 Agustus 2011

ANTI AGING

Tempo hari saya rasakan satu bagian di kepala saya gatal sekali. Cuma ada satu penyebab gatal yang terpikir di benak saya, yaitu ketombe. Karena memang yang namanya ketombe jujur saja datang dan pergi dari kepala saya, karena ketidaksetiaan saya terhadap satu jenis shampo. Juga kebiasaan mengenakan kerudung pas ketika kepala masih kuyup sisa keramas. Nah nah nah ... berbekal persepsi itu keramaslah saya dengan shampo anti ketombe yang katanya paten dan memang saya pernah membuktikannya. Tapi kali ini tidak. Bagian itu tetap gatal kedati tadi saya sempat bershampo dua kali. Iseng-iseng mengacalah saya untuk melihat bagian tersebut. Daaannnnnn olalala .... ternyata ada uban disana! Tidak cuma satu, tapi lima dan bergerombol di area yang sama. Setelah tuntas mencabutinya satu persatu saya tercenung.

Uban, kata orang memang menyebabkan gatal. Dan identik dengan tua. Jujur saja, saya miris menjadi tua. Bukan tua seperti yang digembar-gemborkan oleh industri kosmetik dalam iklan televisi. Bukan, saya tidak memikirkan tua dalam artian muka berkeriput, mata berkantung, dan kulit yang bercorak. Saya memikirkan tentang tua yang sebenarnya, bukan sekedar tua yang mengarah pada 'bungkus' atau casing saja. Tua yang mengacu pada 'bungkus' dan 'casing' rasanya sudah diberikan solusinya oleh industri kecantikan dan kosmetika. Lihat saja berapa banyak iklan kosmetik yang mengusung jargon 'anti aging'. Coba hitung pula jumlah salon yang menawarkan perawatan ini itu untuk menghilangkan keriputlah, mengencangkan wajahlah, operasi plastiklah, dan tetek bengek lainnya yang berujung pada 'terlihat kembali muda'. Terlihat ..... saya selalu menggaris bawahi kata ini untuk semua cara dan formula itu. Lalu, jika wajah tetap kinclong kinyis kinyis ala bayi apakah berarti kita tak lagi menjadi tua?

Tua. Ehmmm sampai detik ketika menemukan uban di kepala, saya selalu berpikir saya tak cukup tua, walaupun juga tidak muda sekali. Sebenarnya itu cuma kalimat panjang untuk mengatakan bahwa saya percaya saya masih muda. Apalagi sayalah yang termuda dalam keluarga inti selama ini Tapi rasanya kepercayaan itu terpatahkan dengan bukti uban di kepala saya. Jika saya sudah beruban, lalu apa bedanya saya dengan bapak dan ibu saya yang kepalanya sudah putih rata? Ya ya ya memang sekarang baru ditemukan lima helai, tapi bukankah yang lima itu bukti bahwa ada proses yang sedang aktif berjalan?

Sebenarnya ini kedua kalinya saya merasa tua. Dulu ketika kakak perempuan saya melahirkan anaknya yang pertama, yang berarti keponkan pertama saya, saya tersadarkan oleh satu hal : generasi baru telah lahir tepat di bawah saya. Tapi waktu itu saya tidak tercenung karena toh yang saya hadapi masih berupa bayi tak berdaya yang menggemaskan. Tapi sekarang, ketika saya temukan uban itu, si generasi baru ini ternyata sudah menginjak bangku SMP dan tingginya pun sudah melampaui bahu saya. Ahhhh .... proses yang bernar-benar aktif bergerak.

Jadi intinya, saya cukup resah. Benar-benar bukan masalah takut keriput. Tapi takut menjadi tak berdaya. Saya mulai berhitung apa yang saya lakukan sekarang. Saya produktif bekerja. Saya juga sibuk berencana ini itu dan mulai merintisnya. Saya mengerahkan energi dengan satu pikiran ada waktu yang masih terasa luang dan panjang. Sering-sering saya berangkat tidur lewat tengah malam dengan kepala yang masih berputar akan apa yang harus dan akan dikerjakan esok. Sering-sering juga masih berandai-andai hal indah yang ingin saya lakukan. Saya hidup dengan semua itu. Dan rasanya itu bukti bahwa sebuah kemudaan walau hanya berupa harapan dan cita-cita.

Harapan dan cita-cita. Rasanya masa muda penuh dengan keduanya. Karena ya itu tadi, ada waktu di depan yang terasa panjang, walau sebenarnya belum tentu juga panjang. Beda dengan mereka yang sudah berumur tua. Apalagi yang diharapkan wong kita sudah tua, kalimat ini sering sekali saya dengar dalam pembicaraan orang tua saya dengan teman-teman seangkatannya. So, kalau sudah tua berarti tak punya harapan lagi? Atau tidak patut berharap? Karena ada waktu yang secara logika manusia cuma tinggal sejengkal? Mungkin kurang lebih seperti itu. Dan yang paling kentara adalah tak ada lagi kegiatan harian yang padat. Contoh nyata akan hal ini saya temuai di rumah setiap kali pulang kampung. Bapak saya yang dulu setiap hari berangkat ke kantor dan sering kali masih membawa pulang pekerjaannya dalam berbagai bentuk, kini adalah orang rumahan yang bisa bangun atau berangkat tidur seenaknya. Tak ada lagi target atau dead line kerja. Enakkah seperti itu? Entahlah. Kalau Bapak saya bilang sih, yaaaaa beginilah masa pensiun. Dan saya membandingkannya masa pensiun itu dengan ritme hidup saya sekarang. Ehmmmmm .....

Nah nah nah ..... tua. Kata seorang teman saya terlalu mendramatisir masalah penemuan uban. Ehmmmm ... mungkin juga dia benar. Tapi saya sudah kadung merasa gelisah dan jadi mulai menafsirkan ungkapan seorang filsuf Yunani 'berungtunglah mereka yang mati muda'. Mungkin memang berurntung karena paling tidak mati muda berarti mati tidak dalam kondisi tak bisa berharap dan bercita-cita lagi. Teman saya membantah. Katanya ya malah rugi besar, wong masih asyik-asyiknya produktif kok mati. Apalagi kalau matinya melalui proses panjang seperti sakit parah lama. Tambah tidak enak lagi, katanya, masih muda tapi tak produktif eh malah membebani yang lain. Ehmmmmmm ..... benar juga..... Lalu teman saya bilang, mungkin yang benar adalah 'beruntunglah mereka yang mati mendadak'. Kontan saya mendelik. Katanya, karena yang mati mendadak tak akan sempat berpikir ruwet-ruwet seperti saya.

So...... akhirnya saya pikir industri kecantikan telah salah membuat provokasi. Mereka sibuk mengompori konsumen terutama perempuan untuk melakukan perawatan anti aging pada mukanya. Tujuannya apalagi kalau tidak melawan proses tua. Tapi apa yang mengalami penuaan cuma muka saja? Tidak bukan? So seharusnya yang perlu diawetkan tidak cuma muka! Apa gunanya muka masih muda kinyis-kinyis tanpa keriput jika hati dan pikiran telah layu tanpa harapan? Untuk pernyataan ini paling tidak teman saya tadi membuat statement yang mati mendadaklah yang beruntung, setuju dengan saya .....

Selasa, 28 Juni 2011

Happy Cooking


Memasak ..... ehmmmmmm saya bukan termasuk yang pinter masak. Tapi termasuk yang menikmati proses memasak, dan tentu saja proses memakannya. Karena ketidakbisaan ini, saya pernah dicap berjenis kelamin 'laki-laki' oleh teman-teman kuliah saya. Gara-garanya dalam gank yang terdiri dari belasan orang dan hanya dua di antaranya perempuan, justru teman laki-lakilah yang paling jago masak. Alhasil setiap kali ada acara masak-masak, saya paling banter hanya bertugas untuk berbelanja. Itupun masih juga diprostes karena jarang menawar. Benar-benar kurang perempuan, komentar teman laki-laki saya. Sementara, seorang anggota gank yang laki-laki sungguh-sungguh lihai dalam hal seperti itu. Dia bisa menentukan bumbu dengan tepat dan menguleknya dengan 'lekoh'. Bisa memilih barang-barang dengan ketelitian khas ibu-ibu. Dan tentu saja fasih memegang segala macam alat dapur. Dengan rival yang seperti itu tentu saja saya tidak ada apa-apanya. Makanya saya waktu itu pasrah-pasrah saja dengan 'stempel' itu. Dan lebih memanfaatkannya sebagai alasan datang akhir saat semua masakan siap disantap ..... hahahhahahahaa...

Apakah saya benar-benar tidak bisa memasak? Ehmmmm ..... entahlah. Cuma jika dirunut secara genetika, ibu saya adalah seorang pemasak yang cukup handal. Ini dibuktikan dengan harum namanya di kalangan keluarga, tetangga, kantor bapak saya, dan PKK Dharma Wanita sekabupaten kota kami. Dan biasanya ketika ibu saya sibuk berkutat dengan semua itu dan meminta saya membantu, maka yang saya lakukan adalah membantu dalam arti yang sebenarnya : melakukan apa yg diperintahkan tanpa berpikir. Alhasil tidak ada transfer ilmu rasanya ..... ahhahahahaha .....

Nahhh sekarang ketika sudah hidup terpisah dari orang tua, seringkali saya kangen dengan masakan-masakan khas ibu saya. Dan kalau sudah bicara tentang cita rasa khas pastilah ke ujung duniapun tak akan bisa ditemukan yang sama. Itulah adanya. Saya bisa menemukan pepes udang di warung makan. Cuma tidak pernah saya temukan pepes udang ala ibu saya, kendatipun warnanya sama merahnya. Kalau sudah tak tahan mengidam, maka yang saya lakukan adalah berusaha membuatnya sendiri, sebisa saya .... Eittttt tidak cuma sebisa saya, tapi juga ada keterbatasan alat masak.

Alat masak ...ehmmmm ... tempo hari ketika sempat alat masak dasar cukup lengkap di kos saya. Artinya ada kompor gas lengkap dengan tabung gasnya, panci, cobek, dandang, dan wajan. Bukan milik saya pribadi, melainkan hasil patungan dengan teman-teman. Nah nah nah .... malapetaka datang ketika banyak teman karib saya pindah kos karena pindah kantor. Akhirnya kompor rusak dan tabung gas entah bagaimana kabarnya karena kosong dalam waktu yg panjang. Sementara teman-teman baru rata-rata membawa kompor dan alat-alat sendiri yang tentu saja digunakan secara pribadi. Awalnya saya anggap itu bukan masalah besar karena toh saya selalu membeli makanan di luar. Cuma akhirnya timbul juga keinginan untuk memakan 'makanan rumah'. Dan bingunglah saya karena yang saya punya hanya rice cooker kecil dan panci listrik.

Tapi benar kata orang bahwa ada kemauan ada jalan. Seorang teman yang nasibnya nyaris sama dengan saya; bertahun-tahun menghuni kos; meyakinkan saya bahwa kedua alat itu cukup untuk melakukan kegiatan memasak. Nah mulailah saya menfungsikan rice cooker tidak hanya untuk memasak nasi, tapi juga untuk membuat masakah yang berkuah. Problem solved! Saya jadi sering membuat bakso ayam, sup ceker yang menurut saya ehmmmmm syedapppppp .... (walau kadang keasinan ....ahahhahahaha). Urap sayur? Nasi liwet dengan lauk tercampur? Ahhh.... gampang :)

Bagaimana jika tidak pakai kuah alias seperti tumis-tumisan? Ehmmm jujur ini masih agak masalah karena walau bisa dikerjakan dengan menggunakan panci listrik tapi karena ukurannya cukup kecil maka agak menyulitkan juga. Jadi untuk tumis-tumisan saya cenderung membubuhkan air sedikit lebih banyak jadi rice cooker saya bisa tetap bekerja.

Oh ya, tempo hari saya benar-benar kepikiran dengan balado terong. Jadi browsing-lah saya di internet hingga dapat resepnya. Lalu karena saya belanja terlalu siang maka yang saya dapatkan terong bulat, bukan yang panjang. Ahhhh masih bernama terong kan? Saya juga membeli udang. Nah nah nah .... jangan dipikir saya memasak dua macam masakan ..... ehhehehhehhe tentu saja tidak. Bedasarkan alasan kepraktisan maka saya tumislah si udang dalam sambal balado dan saya masukkan si terong kemudian ..... hhohohoohohoh .... Apakah namanya masih balado terong? Dannnnnnnn soal penampilan ehmmmmm jangan dipikir penampilan masakan saya 'normal'. Dan jangan pula membandingkannya dengan peserta Master Chef....Malah saya pikir Chef Juna akan semaput melihat cara saya memasak .... ahhahahahahah

Ahhhh yaaaa.... saya nyaris lupa mengabarkan .... seorang kenalan teman saya bahkan mengaku berhasil menggoreng kerupuk dengan rice cooker lhooo ... nah nah nah .... see that i'm not alone? ahhahahaha....

Anyway .... happy cooking, everybody .....ingat ada kemauan ada jalan :)

Selasa, 31 Mei 2011

Nama

Setiap kali ada teman yang hamil, yang saya tanyakan adalah apakah sia sudah mempersiapkan nama untuk si jabang bayi. Sebagian menjawabnya sudah walaupun usia kandungan masih terhitung muda. Tapi ketika bertanya lebih detail mengenai hal itu, jawabannya selalu : rahasia, tunggu tanggal mainnya.

Ehmmm .... nama. Seorang Shakespeare terkenal dengan kalimatnya 'apalah arti sebuah nama'. Saya rasanya yakin 102% bahwa dia salah. Karena nama sungguh berarti banyak. Sebagian mengartikan doa. Sebagian mengindentikkan dengan keberuntungan alias hoki. Coba cermati, berapa banyak selebritis menyembunyikan nama lahirnya dan mengganti dengan nama baru yang tidak cuma untuk membawa hoki tapi juga agar terdengar enak dan indah di telinga. Membawa hoki nyaris identik dengan komersiil. Nama membawa citra pemiliknya. Tak cuma untuk selebriti. Nama merk, toko, perusahaan, atau hal semacamnya pun dipikirkan dan didesain oleh sang kreator agar membawa keberuntungan sebanyak-banyaknya. Tap percaya? Coba saja tanya para paranormal, pasti mereka pernah didatangi orang-orang yang menanyakan apakah nama ini akan membawa sial bagi penyandangnya. Dan untuk mendapatkan nama yang top markotop, banyak yang rela membayar sang paranormal untuk 'mendesainkannya'.

Nah bagaimana dengan rakyat jelata seperti saya? Menurut saya, orang-orang sekelas saya lebih mengartikan nama adalah doa dan harapan. Lebih tepatnya, doa orang tua untuk anaknya. Jadi jika seorang anak bernama Arif, maka saya 99% yakin itulah yang diharapkan orang tuanya, bahwa kelak dia menjadi anak yang bersifat arif terhadap segala hal, termasuk terhadap sesamanya. Kalaupun jadinya ternya seorang yang berkebalikan ... ehhmmmm .... yang mungkin doanya belum saatnya terkabul.... hehhehhhhe .... Tapi walaupun kenyataan membuktikan adanya 'doa dan harapan' yang tidak terkabul tak lantas membuat para orang tua putus asa dan menamakan anaknya sekenanya. Saya yakin itu 100%, walaupun kemudian pernah juga saya temui nama-nama yang artinya tidak doa dan harapan melainkan penanda suatu peristiwa. Semisal, seorang teman bapak saya punya nama Teken Slamet, kemudian disusul nama marganya. Dahi saya berkerut pertama kali mendengar si oom menyebutkan namanya. Dan dengan kurang ajar bertanyalah saya arti nama itu. Ternyata hari kelahirannya persis sama dengan saat si ayah harus meneken sebuah dokumen penting. Ya ya ya .... saya mangut-mangut saja.

Percaya tidak, bahwa nama ada trennya juga lhoooooo ..... Saat ini saya rasa sedang tren nama-nama yang berbau Arab, di luar nama para Rasul dan kerabatnya tentu saja. Coba teliti bayi tetangga kanan kiri. Pasti ada saja yang namanya berbau Arab. Dan nama-nama itu punya nilai rasa yang berbeda karena rata-rata ejaannya diperbarui. Nah nah nah .... masalah ejaan ini penting lhooooo... Tidak cuma untuk yang berbau Arab, tapi juga untuk yang berbau lokal. Ejaan yang berbeda memberikan nilai rasa yang berbeda dan menyediakan kekinian. Sebut saja bagaimana Jamilah sekarang seringkali dieja menjadi Jamila atau Jameela. Yang dulu Maya, sekarang menjadi Maia. Yang biasanya Mira, sekarang menjadi Myra. Yang dulu Agus sekarang menjadi August. Contoh yang paling gampang adalah penggunaan huruf y atau ie di akhir kata sebagai pengganti huruf i.

Oh iya, beberapa tahun yang lalu juga begitu tren nama import alias nama bule. Hal ini tidak termasuk etnis China yang memang dari sononya sudah cenderung menggunakan nama bule sebagai international name-nya. Ehmmm saya tidak hendak mengecam para pribumi yang menggunakan nama bule. Tapi jujur kadang saya tersenyum gara-gara ejaan yang tidak sama dengan aslinya dan kadang terkesan asal pengucapannya mirip. Misal Robet, bukan Robert. Bobi, bukan Bobby. Matew, bukan Mattew. Dan nama bule ini juga menimbulkan kesulitan bagi lidah-lidah yang tak terbiasa. Misal, seorang bapak-bapak tua pernah mengucapkan George ; nama teman yang asli Jawa; dengan benar-benar George sesuai cara baca bahasa Indonesia. Hheheheheheh kontan saya tertawa, bukan karena menganggap si bapak tolol, tapi lebih karena efek perubahannya yang begitu jauh.... dan yang punya namapun buru-buru menuntun si Bapak agar mengucapkannya dengan benar. Oh iya, tentang nama bule ini, seorang teman kakak saya yang pusing mencari nama untuk bayinya akhirnya menggandengkan merk air minum kemasan hingga menjadi sebuah nama yang enak di dengar yaitu Aqua Bonavita. Terdengar bule kan? Saya cuma berpikir, untuk yang digabungkan merk air kemasan. Bagaimana kalau misal yang digabungkan adalah merk detergen seperti Rinso DaiaB29? Ehhhmmmmm ......

Soal nama, seringkali orang tua punya pola tersendiri. Lihat saja bagaimana seorang Soekarno menggunakan benda-benda yang ada di langit untuk nama anak-anaknya. Bapak teman saya menggunakan huruf E untuk huruf pertama nama anak-anaknya. Dan Bapak saya sendiri mempunyai kecenderungan menggunakan suku kata In untuk suku kata pertama nama anak perempuan. Ini terbukti pada saya dan kakak saya, dan berulang pada saat kakak saya meminta nama untuk bayi perempuannya.

Nahhhhhh bagaimana dengan nama saya? Hehehehehee.... jujur saya bersyukur orang tua saya memberikan nama yang menurut saya berima cukup merdu dan juga berarti bagus. Ina Binanti Alasta. Hohoohohoh ...... saya nyaris yakin seandainya menjadi selebritis pun tak perlu menggantinya dengan nama baru. Soal komersialitas, ehmmm sudah terbukti ada produk sanitair yang bermerk Ina. Gara-gara menemukan bagian nama saya di closetnya, seorang teman yang sirik menuduh Bapak mencomot Ina dari jamban yang didudukinya setelah putus asa mencari nama untuk saya. Hehhehehehe... tentu saya tidak termakan dengan hal itu. Karena sang kreator sudah memberitahu artinya. Dan sungguh nama saya berarti ibu yang selalu membina. Nahhhh kaannnnn itulah doa orang tua untuk saya ..... Amin amin amin ......

So, apakah Shakespeare benar-benar harus mencabut pernyataannya?

Senin, 04 April 2011

Free Flying Bird ......

Hai hai kamu, akhirnya setelah empat tahun maya minggu kemarin semuanya menjadi riil, touchable. Ehmmmm ....menyenangkan .... tapi jujur sebenarnya juga meremukkan sebagian .... Tapi OK-lah .... yang penting sudah menjadi touchable. Thank you very much telah membayar empat tahun yang maya dengan tiga hari yang riil. Ehmmmm .... jika dianggap sebagai sebuah perdagangan yaaaaaa not bad-lahh …. yaaaa cengli lahhh.... ehehehehehehe ....

Ada banyak hal yang menarik bagi saya dalam pembicaraan kita. Termasuk kebohongan yang tersingkap .... hehheheheh ..... By the way, you should not to lie to me .... Cuma mungkin seperti itulah hakikatnya di dunia maya bahwa kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Benar begitu benar, baby? And you be what you want, what you wish .....

Nah nah nah .... perkawinan .... ehmmmm sungguh perspektifmu mengenai satu hal itu menunjukkan betapa kita adalah dua orang yang sungguh-sungguh berbeda. Dimata saya, kamu adalah sesosok makhluk modern yang tak terikat pada apapun selain pada dirimu sendiri. Sedangkan saya merasa sebagai manusia bertualang dengan mesin waktu ke depan dan bertemu denganmu. Jadilah tergagap-gagap dengan perspektif itu. Padamu, saya sematkan dua deskripsi, you're a kind of free flying bird. Juga 'someone who entertain himself with his money' .... heheehhehehee semoga tidak terdengar begitu jahat. Karena memang tidak ada maksud mencemooh atau menyalahkan atau yang sejenisnya.

'I enjoy my single life' ....... ingat sekali ketika kalimat itu meluncur ringan dari mulutmu. Ada senyum. Ada kilau di manik mata. Ada riang di gestur. Ehmmmm artinya kalimat itu keluar dari hati. No regret. Ya, seharusnya seperti itulah hidup, tak ada penyesalan. Dalam hati saya bilang, I used to feel the same, but now feeling it's enough to be single ... aahahahahahahaha ..... Alasanmu, single life memberikan banyak kepraktisan. Tidak perlu urus 'exit permit' tiap kali mau kemana-mana. Tidak kena 'wajib lapor'. Tidak ada 'ekor' yang membutut selalu. Segala keputusan diambil lewat satu otak. Olala .... praktisssss sekali ...... Karenanya adalah hal yang tak cukup masuk akal bagimu makna yang tersirat ketika seseorang melakoni berjam-jam terbang melintas beberapa negara untuk menghabiskan waktu 3 minggu di desa kecil negara dunia ketiga dimana istri dan anaknya menunggu. Seperti sebuah perjalanan ke masa lalu di matamu. Mungkin bukan kesia-siaan, tapi mengapa? Sebuah pertanyaan menuntut yang nadanya terdengar sinis di telinga saya. Apalagi masih ada lanjutannya ternyata. Mengapa mesti meninggalkan tempat modern? Mengapa tidak bertahan menjadi bagian dunia pertama yang serba bermasadepan? Saya tercenung. Jadi apakah saya sial karena ada di tempat yang menurutmu tak cukup berarti itu? Hehehhehehe …. jujur jadi sedih ….. Juga jadi seperti sedang mendengarkan propaganda Amerika …. ahhahahahaha...

So, you enjoy your single life ….. and I said, very good, dear. But no need to be cynical when you see someone enjoy his family life. Dan tertawalah kamu. Katamu bukan sinis, cuma tak bisa membaca rencana selanjutnya. Ah embuh ….. cuma kepikir, ketika ibadah yang menyempurnakan setengah dien itu begitu indah di mata dan angan saya, kenapa jadi sesuatu yang merepotkan bagimu, dear? Punya pengalaman buruk, honey? Tak ada jawaban karena saya juga enggan menanyakannya karena terpikir terlalu privat.

So, setelah empat tahun chit and chat, akhirnya disinilah kita. Duduk tertawa-tawa sambil menghirup kopi Amerika yang jujur saya kurang tahu enaknya dimana selain cuma silau dengan merknya. Dan selama itu pula saya mengerti bahwa di dunia ini ada juga makhluk yang tak kukuh pendiriannya selain saya sendiri …..dan makhluk itu tengah duduk berbagi sofa dengan saya … ahahhahahahaha …... Dan saya jadi merasa tidak terlalu bersalah ketika niat di hati awalnya seperti sudah bulat jadi gepeng dan benjol di sana sini. Oh dear, lihat sepertinya kita adalah dua orang yang nyaris sama. Sama-sama meragukan satu dengan yang lain. Sama-sama mulai tak cukup kuat berpijak pada niat semula. Sama-sama menemukan ketidaksempurnaan pada diri satu sama lain. Dan lebih buruk lagi, sama-sama tidak mau jujur dan menutupinya dengan senyum canggung juga adat kesopanan..... Lalu apa yang saya lakukan? Ehmmmm mengekormu yang tengah meng-entertain yourself with your money …. hohoohohohohooh ….. what should I say, dear?

Nah nah nah ….. sekarang bagaimana? Ehmmm kehilangan juga rasanya ketika sayapmu mulai mengepak lagi. Cuma tak cukup punya nyali juga tak masuk nalar untuk mengiyakan tawaran yang disampaikan dengan setengah tak lengkap itu. Sementara untuk menagih tawaran pokok yang sudah pernah melayang bertahun lalu juga tak cukup yakin. Jadilah saya berdiri dengan gamang. Inikah akhirnya? Ada yang terasa hilang karena misteri yang terbuka….. Ada kecewa karena kebohongan yang tak seimbang …. Ada juga keriaan hura-hura yang memang tak biasa...... Tapi ujungnya adalah 'sorry dear, I can't accept the temporary thing that you offer' …... Lalu ada yang tertawa lewat pesan singkat dengan embel-embel '...let me show then you'll never forget me …' Hhoohohoohohohooh ...ada ketidakseimbangan yang menurut saya potensial terjadi. Jadi jawaban saya adalah 'hmmmm if I accept and really can't forget you then it means I hurt myself so badly, coz I know for sure you will fly here and there without me in your mind. May be you dont even remember my name .....'. Dan lagi-lagi yang saya dapat sebagai jawaban adalah tawa. See, you promise me nothing, dear........

Nah nah nah nah …. akhirnya yang tertinggal adalah aroma yang lebih berupa fantasi ketimbang realita. And now, when I see the sky above, I remember you dear, the free flying bird ….. and when I go to shopping center, you come to my mind as someone who entertain himself with his money …... hahahhahahahahaha ….

Anyway, thanks for visiting me, dear …...

Selasa, 29 Maret 2011

Sayang ..........

Sayang, betapa benar hidup tidaklah cukup sempurna. Setidaksempurna pertemuan untuk kita .... Sayang, menyesalkah kita? Sementara hidup adalah lingkaran yang harus kita putari. Bersama, lihatlah betapa besar lingkaran yang kau buat, sedangkan tanganku hanya menjangkaumu seperempat. Menyesalkah aku?

Ah Sayang, bukankah masa membuat tahu seperti itulah kita .... lingkaran besarmu, lingkaran kecilku, itulah yang kita genggam dalam tangan-tangan.... aku menangis dan tertawa dengannya.

Sayang, tak pernahkah kau punya redam dalam hati yang berlubang? dan mungkin yang kau inginkan kemudian adalah tidur yang dalam tanpa mimpi tentang harapan yang kian merayap pendar.......