Jumat, 29 Agustus 2008

Mau Jadi Caleg?

Sudah daftar jadi caleg? Ehmmm ...tempo hari ada 'lowongan kerja' yang dibuka secara massal diseluruh Indonesia. Dan rasanya prasyarat yang ditentukan juga tidak terlalu susah. Coba saja bandingkan dengan prasyarat yang ditentukan oleh perusahaan-perusahaan swasta yang banyak memuat informasi lowongan kerja di koran-koran. Lihat saja standar keterampilan yang mereka patokkan. Itu pun sering-sering masih ditambahi dengan ancaman "hanya pelamar yang memenuhi syarat saja yang akan diproses". Atau bandingkan juga dengan prasyarat yang ditentukan untuk penerimaan Pegawai Negeri Sipil. Tak kalah rumitnya. Dan bagaimana dengan tesnya? Ehmmm...baik instansi swasta maupun pemerintah seringkali menerapkan sistem tes yang bertahap-tahap sebelum akhirnya memutuskan untuk memilih sedikit dari sekian banyak pelamar.

Terus bagaimana dengan caleg? Saya termasuk yang beranggapan bahwa profesi sebagai anggota legislatif adalah profesi yang serius. Juga susah. Bukankah pekerjaan membuat undang-undang itu susah? Bukankah mengawasi presiden dan jajarannya juga susah? Bukankah pekerjaan menjalankan negara ini rumit? Bukankah pekerjaan membuat sistem itu sesuatu yang jauh dari gampang? Karena itu imbalannya pun dibuat besar. Juga segala macam tunjangannya.

Karena semua pertanyaan-pertanyaan ini, maka saya tidak berangan menjadi anggota legislatif. Tapi rupanya banyak orang yang berbeda dengan saya. Contoh paling dekat adalah bapak saya. Tempo hari saya dibuatnya ternganga ketika beliau melontarkan sebuah pernyataan "Aku daftar jadi caleg saja ya daripada nganggur di rumah....". Dan saya tercenung karena kata 'daripada nganggur' yang keluar dari mulut bapak saya tercinta. Daripada ngangur? Kedua kata tersebut lebih berkonotasi main-main. Artinya, daripada tidak ada pekerjaan untuk mengisi waktu pensiunnya, bapak saya berpikir untuk menjadi caleg . Ehmmmmmmm ...... Apa reaksi mereka-mereka yang serius berusaha jadi caleg jika mendengar pernyatan bapak saya? Pasti tersinggung sekali. Dan mereka mereka yang sudah lebih dulu duduk menjadi anggota legislatif pasti akan lebih tersinggung lagi. Sedetik kemudian saya merasa geli dengan pernyataan itu. Dari pada nganggur katanya ....hahahahahha .....

Adakah diantara para caleg yang berpikiran seperti bapak saya? Entahlah, mungkin ada saja. Sebab hati orang siapa yang tahu? Apalagi kenyataan yang terjadi banyak ketidakberesan, keanehan, dan ketidak seriusan yang terlihat selama ini, baik yang dilakukan oleh para caleg maupun mereka yang sudah jadi anggota lembaga legislatif. Coba saja berapa kali foto di koran memperlihatkan kursi-kursi kosong waktu sidang DPR atau MPR? Belum lagi foto mereka-mereka yang tampak merem atau sibuk ber-SMS atau leyeh-leyeh sekenanya. Lihat juga berbagai skandal yang terjadi, mulai dari skandal suap sampai skandal seks. Lihat juga bagaimana mereka berloncatan dari satu partai ke partai lain demi mendapatkan nomor jadi. Dan mungkin demi nomor jadi itu pula ada dua orang yang dulunya berseteru lalu tiba-tiba berada dalam naungan satu partai. Dan komentar mereka saat itu disinggung oleh media adalah bahwa tidak ada kawan atau lawan yang abadi dalam politik. Ehmmmm ...manis sekali. Terakhir sebuah media menyebutkan bahwa di suatu daerah ada belasan orang yang tersangkut masalah hukum dan berstatus tersangka tapi masih juga tercatat menjadi caleg untuk sebuah partai. Sedangkan media lain memberitakan seorang ibu yang sehari-hari bergelut dengan dagangannya, serta merta tercatat menjadi caleg untuk hajatan 2009 nanti. Juga ada artis sinetron yang tidak pernah terdengar kiprah politiknya, tahu-tahu dijagokan sebagai caleg dengan bumbu bahwa dia punya kualitas yang hebat untuk itu. Ehmmmmmm........

Jadi benarkah pernyataan bapak saya? Saya mulai tergoda untuk mengiyakannya. Tapi kemudian tersadarkan bahwa di luar semua yang saya sebutkan di atas masih ada orang-orang berhati, perilmu, dan berdedikasi duduk dalam lembaga itu. Dan semoga jumlahnya jauh lebih banyak daripada mereka yang berpikiran senakal bapak saya. Karena toh apa yang menjadi tanggungjawab mereka adalah benar-benar sesuatu yang jauh dari hal remeh-temeh. Sedikit banyak apa yang mereka lakukan mempengaruhi kondisi negara ini. Jadi bukan sesuatu yang sekedar sebagai pengisi waktu luang seperti yang dipikirkan oleh bapak saya. Apalagi imbalannya juga tidak kecil kan...? Tentu saja tidak harus mereka yang berpendidikan formal tinggi dan lihai berpolitik yang harus duduk dalam lembaga itu. Bisa jadi mereka-mereka yang berpendidikan biasa-biasa justru lebih punya hati, sangat serius, dan lebih profesional dan berdedikasi dalam melakoni profesi ini. Jadi yang penting adalah kesadaran bahwa ini adalah profesi yang tidak main-main, baik dari segi tanggung-jawab ataupun imbalannya. Jadi sebaiknya juga tidak ada yang main-main dengan profesi tersebut ....... Setuju?

Minggu, 20 Juli 2008

Bilik Pribadi Penuh Gombal

Saya baru saja menyadari betapa banyak SMS tersimpan dalam telepon genggam saya. Jumlahnya 121 buah! Adakah yang menyimpan SMS lebih banyak dari saya? Mungkin ada. Dan kalau memang begitu maka bisa jadi kita setipe, yaitu termasuk tipe orang yang suka menyimpan aneka macam gombal. Itu tadi berdasarkan definisi yang dibuat oleh seorang teman saya untuk mereka yang suka menyimpan aneka macam SMS dalam telepon genggamnya.

Karena tidak cukup terima disebut sebagai penyimpan gombal, maka saya memutuskan untuk membersihkan inbox saya dengan terlebih dahulu melihat 'gombal' apa saja yang ada di dalamnya. Ternyata yang ada didalamnya memang beragam. Ada alamat rumah atau kantor seseorang, e-mail address, nomor rekening, nomor telepon, judul buku dan pengarangnya, doa, dan ...... kata-kata khusus dari orang-orang yang khusus atau yang pernah jadi khusus..... hehhehehe..... mungkin ini yang dimaksud oleh teman saya sebagai 'gombal'. Dan ternyata dari semuanya, justru 'gombal' yang terakhir inilah yang paling susah untuk dimusnahkan. Karena kalau yang lain-lain saya bisa dengan gampang menyalinnya ke dalam buku catatan saya. Sedangkan 'gombal' yang terakhir itu tidak bisa disalin begitu saja karena terasa banyak kandungan materi intinya yang hilang. Saya jadi tak rela untuk menghapusnya. Dan saya jadi rela disebut sebagai penyimpan gombal.


Ehmmmmm ....gombal ..... Sebenarnya bagi saya SMS-SMS tersebut bukanlah gombal. Pada masanya SMS-SMS merupakan sesuatu yang berkilau bagai berlian, bagi saya tentu saja. Dan percaya atau tidak, saya pernah hampir menangis hanya karena satu SMS 'gombal' itu secara tidak sengaja terhapus karena salah pencet. Terakhir malah saya menolak untuk melakukan up grade software di telepon genggam saya lantaran tidak siap kehilangan semua 'gombal-gombal' itu. Padahal dengan melakukan up grade software maka saya bisa memasukkan yahoo messenger ke dalamnya. Tapi ternyata saya lebih rela tidak ber-yahoo messenger daripada kehilangan si 'gombal' tersayang.

Mengetahui hal ini, seorang teman mentertawakan saya. Karena dia adalah orang yang biasa langsung menghapus SMS yang masuk begitu selesai membacanya. Baginya tak ada pesan yang cukup berharga untuk disimpan. Ah .... terserah saja kata saya. Toh semua orang bisa punya pendapat yang berbeda kan, bantah saya

Jadi sebenarnya telepon genggam bagi saya bukanlah sekedar sarana untuk berkomunikasi. Telepon genggam juga seperti bilik pribadi bagi saya. Di dalamnya saya menyimpan pernak-pernik, termasuk 'gombal-gombal' tersebut. Cuma saya tidak pernah menyimpan yang terlalu pribadi di dalam 'bilik' tersebut. Hal paling pribadi yang saya simpan di dalamnya adalah 'gombal-gombal' tadi. Saya pernah membaca bahwa seorang penulis terkenal menyimpan ide-ide untuk tulisannya dalam telepon genggamnya. Seorang pemusik juga merekam senandungnya disana dan membuat lagu yang indah dari senandung tersebut. Teman saya menyimpan celoteh anaknya juga di dalamnya. Dan lihat juga bagaimana seorang selir petinggi negeri ini menyimpan rekaman video dan foto-foto dengan 'bapaknya' juga di dalam telepon genggamnya. Saya rasa mereka semua hanyalah sebagian kecil dari mereka-mereka yang membangun bilik pribadinya di dalam sebuah telepon genggam. Dan rasanya ini adalah sebuah perlawanan terhadap sebuah pernyataan bahwa telepon genggam adalah satu produk teknologi yang mendobrak semua batas privat. tak disangkal bahwa pernyataan tersebut benar adanya. Tapi sungguh benar pula bahwa ketika satu jenis privat terdoprak tapi kemudian orang-orang seperti saya justru menciptakan bilik privat di dalam ketidak-privatan itu ....Ehmmmmm ...terpikirkah oleh siapapun penemu telepon genggam bahwa dia telah menciptakan semacam buku harian baru bagi saya dan orang-orang penyuka 'gombal' lainnya. Dan sungguh saya berharap dia mendapatkan pahala dari Tuhan atas ciptaan yang tidak disengajanya itu ...hahahhahahahaha ....

Rabu, 09 Juli 2008

Iklan ...... Politik

Saya termasuk golongan mereka yang telat menikmati tayangan televisi swasta. Sepanjang ingatan saya, setelah RCTI berumur sekitar dua tahunan saya baru benar-benar bisa menontonnya di kota saya. Harap maklum, saya tinggal di kota yang cukup udik (saya sebut demikian karena seringkali kenalan dari Jakarta bilang tidak pernah mendengar nama kota saya).

Waktu itu yang paling menarik perhatian saya adalah tayangan iklan. Karena kebiasaan menonton TVRI yang tanpa jeda iklan komersial, di mata saya tayangan iklan yang ada di stasiun televisi swasta menjadi terlihat begitu menarik dengan banyak alasan. Ide yang unik selalu membuat saya terpesona dan berpikir betapa kreatif si empunya ide. Cerita yang lucu seringkali berhasil membuat saya terkekeh-kekeh seperti melihat acara lawak. Sudut pengambilan gambar yang pas dan indah terasa menyejukkan mata saya. Dan semua itu seringkali masih ditambah dengan keelokan fisik bintang iklannya (ehm ehm ....). Pendek kata, bagi saya tayangan iklan bukan sekedar jeda untuk mengalihkan mata, tapi justru sebaliknya, saya menganggap tayangan iklan sebagai sebuah karya kreatif yang patut untuk dinikmati, setara dengan tayangan lain, sinetron misalnya. Coba saja cermati iklan yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan rokok menjelang even istimewa semisal idul fitri, natal, dan tahun baru. Indah bukan? Coba juga cermati tayangan iklan layanan masyarakat yang sarat makna. Iklan produk konsumer pun tak kalah menarik. Cuma ya itu tadi, namanya iklan seringkali provokatif dan bombastis. Misal bagaimana sebuah produk kecantikan memprovokasi perempuan untuk memutihkan kulit dan melangsingkan badannya. Atau lihat saja bagaimana seorang anak menjadi sekuat singa hanya karena memakan sekeping biskuit. Ahhhhh ...namanya juga iklan, tetap saja harus menggunakan otak untuk mencernanya. Itu tadi kata seorang teman yang banyak bergumul dengan iklan media cetak. Kepadanya juga dulu saya pernah melancarkan protes kenapa begitu banyak digunakan perempuan untuk mengantarkan sebuah iklan. Dan bagi saya seringkali penggunaannya terkesan sebagai pemaksaan. Lihat saja bagaimana sebuah produk pompa air menyuruh perempuan cantik berakting, maaf, seksi. Padahal pesan yang ingin disampaikan hanyalah bahwa pompa air tersebut dapat berfungsi dengan handal.

Nah, sudah mencermati iklan di televisi akhir-akhir ini? Sudah melihat fenomena iklan politik? Sudah pernah mencoba menghitung berapa banyak iklan politik ditayangkan dalam sehari? Tak disangkal bahwa Pemilu sudah begitu dekat. Banyak daerah juga sedang ber-Pilkada. Jadi mengiklankan diri di televisi tak pelak adalah pilihan yang cukup cerdas, walau terus terang sebagai penikmat iklan saya selalu merasa agak jengkel tiap kali tayangan iklan politik itu muncul. Sama seperti iklan penjaja produk, iklan politik juga menjual produk, entah itu partai, entah itu politisi. Dulu pertama kali melihatnya saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa politisi-politisi ini membuat iklan diri tanpa membeberkan maksud sebenarnya kepada pemirsanya? Malah ada seorang politisi yang begitu rajin membuat iklan diri sampai mempunyai banyak versi, termasuk versi Euro Cup 2008. Perlu beberapa waktu sebelum akhirnya saya ngeh ...ooohhhh rupanya dia kepengen jadi presiden tohhhhh ......

Baiklah jika memang ini masa dimana saya harus juga menelan iklan politik. Tapi jujur saya setengah hati melakukannya. Alasannya? Yaaa.... karena walaupun iklan politik dan iklan komersial sama-sama bermaksud menjual sesuatu, tapi tetap saja ada perbedaannya. Contoh sederhana, jika saya termakan iklan komersial lalu membeli satu produk dan ternyata kemudian saya tidak cocok, maka saya tinggal membuang produk itu, tidak membeli lagi, dan kalau perlu saya akan menghubungi customer care-nya untuk menumpahkan caci maki. Sedangkan iklan politik, jika saya termakan iklan tersebut dan ternyata di kemudian hari saya merasa apa yang saya dapat tidak sesuai dengan janji-janji di iklannya, apakah saya bisa 'membuang 'politisi atau partai segampang saya membuang produk consumer? Ehmmmm...tidak akan semudah itu kannnn? Mungkin saya harus meminta bantuan berjuta-juta mahasiswa untuk melakukan 'pembuangan' itu.

Jadiiiiii ....... iklan politik tetaplah sebuah iklan produk yang seperti teman saya tadi bilang, harus dicerna dengan otak. Sebab mungkin saja kan si tokoh akrab dengan petani dan merangkul-rangkul anak kampung cuma sebagai akting, sama seperti perempuan seksi yang disewa untuk berakting menyampaikan pesan bahwa pompa air yang dipegangnya handal adanya. Padahal belum tentu kan dia sudah membuktikan sendiri kehandalan pompa air yang diusungnya.

Sooooo ..... mari mencerna dengan menggunakan otak, dan juga hati tentu saja.




Rabu, 02 Juli 2008

indah

re ....
semua bunga, bintang, dan kata itu membuatku menggulung masa hingga menemukanmu berdiri tersenyum dengan sekuncup benih segar di tangan. Kau sudah membuatnya merekah dan siap berdaun, katamu menyorongkan kuncup itu padaku. Dan benih itu memang segera bersulur dan menjalar cantik di tanganku. Aku termangu dengan keajaiban itu. Biarkan hidup, katamu, dia akan lebih indah nanti .....

re .....
kulihat pagi merah di balik punggungmu ketika akan lebih indah meluncur dari mulutmu. Kuhitung rentangan waktu. Cukupkah? Lalu lebih indah menjadi gumpal misteri. Kau tertawa melihat aku menyurut langkah, menarikku masuk melebur dalam gumpal itu. Tak tahukah kau bahwa gumpal itu lebih besar dari kita, tanyaku. Tak apa, jawabmu riang, karena waktu akan bersekongkol dengan kita.

re ....
kau bisa benar. Tapi tak ingatkah kau bahwa waktu tak hanya bisa membuat indah menjadi tampak jelas oleh manik mata tapi juga mampu melumat semua menjadi renik dan seakan tak pernah ada ........ ?

(untuk re'rain'ha)

Jumat, 13 Juni 2008

Suami-Suami Takut Istri

Sore ini sepulang kerja kepala saya penat sekali. Saking penatnya, saya sampai menolak untuk meng-up date berita dengan menonton Metrotv. Saya memilih menghibur diri dengan melihat tayangan komedi di Transtv yang judulnya Suami-Suami Takut Istri. Dan saya tertawa-tawa melihat aksi para pelakon itu. Tertawa-tawa melihat pelakon laki-laki yang notabene berperan sebagai suami berakting kesakitan karena dijewer, dicubit, dan di tarik rambut dekat telinganya oleh para pelakon perempuan yang notabene berperan sebagai istri.

Apa yang dipikirkan oleh para aktivis kesetaraan jender dan aktivis perempuan jika melihat tayangan ini? Apakah mereka akan melihat itu sebagai contoh kekerasan dalam rumah tangga? Atau penjajahan dalam rumah tangga? Hhahahhahaa .....

Saya belum jadi orang yang punya pengalaman berumah-tangga. Jadi sebenarnya saya tidak cukup kompeten untuk berbicara masalah ini. Tapi sebagai perempuan, terus terang saya merasa ngeri terhadap 'keganasan' ibu-ibu di lakon tersebut walau juga jengah dengan kenakalan para suaminya. Ngeri melihat berbagai perempuan dari berbagai daerah asal yang berbeda tetapi berkelakuan sama saja. Terus terang saya bingung jika harus menentukan sikap untuk berada di pihak mana dari kedua golongan itu. Jujur, saya tidak ingin berada di pihak ibu-ibu walau notebene mereka adalah kaum saya. Tapi untuk berpihak pada kaum bapak, saya juga ogah karena muak dengan sikap mereka yang suka mencuri-curi, persis seperti kucing.

Entah mengapa, terlepas dari sikap nakal para bapak, saya tetap beranggapan bahwa sikap yang ditampilkan oleh para ibu terlalu berlebihan kadar galaknya. Saya punya ibu yang saya pikir cukup galak juga (maaf bunda...... but i love u sooooooooo much, believe me, u're the best), tapi dibandingkan kegalakan para ibu di tayangan itu, kegalakan ibu saya tidak ada seiprit-ipritnya. Ibu-ibu di tayangan itu jauuuuuuuuuuuuhhhh lebih galak daripada ibu saya. Dan entah kenapa saya tidak merasakan aura keibuan mereka. Saya jadi cenderung berpikir untuk membenarkan tindakan para suami yang suka melirik si Pretty yang gemulai dan tidak suka menjewer itu. Siapapun akan akan mencari alternatif jika digencet dengan keganasan yang luar biasa seperti itu. Melirik si Pretty bisa jadi merupakan cara para suami untuk tetap bisa survive ditengah keganasan para istri. Hahaahhaah ..... saya bisa membayangkan kemarahan para ibu jika membaca omongan saya ini. Apalagi seperti yang saya bilang di atas, saya tidak punya cukup kompetensi untuk berbicara seperti ini. Tapi, tolong pikirkan bahwa seringkali kita perlu cermin untuk melihat diri sendiri bukan?

Seorang teman pernah bilang pada saya bahwa setelah menikah, hubungan dengan" mantan pacar" yang sekarang menjadi teman hidup yang sah akan berubah. Ada perasaan yang pasti berubah, tak lagi sama. Ketika saya tanyakan apakah itu karena tak ada lagi misteri yang tersisa, teman saya diam berpikir agak lama sebelum akhirnya menjawab dengan satu kata : mungkin.

Mungkin benar kata teman saya bahwa ada rasa yang akan berubah. Tapi toh saya yakin perubahan rasa itu bukanlah perubahan yang destruktif sebab toh terlihat begitu banyak pasangan yang sukses hidup tenang bersama keluarga mereka. Jadi mestinya cuma diperlukan suatu siasat dalam mentransformasi rasa itu hingga bermetamorfose menjadi sesuatu yang lebih indah. Berarti pasangan-pasangan dalam tayangan yang saya sebutkan tadi adalah mereka yang kurang berhasil dalam hal bermetamorfose ya? Buktinya yang terjadi adalah satu pihak terintimidasi oleh pihak yang lain.

Ahhh ...saya benar-benar tidak berkompeten bicara masalah ini. Hanya saja saya benar-benar ngeri jika suatu saat nanti saya tidak berhasil dalam proses transformasi dan hasilnya saya menjelma menjadi ibu-ibu yang ganas itu .... Sumpah saya ngeri ..... hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii .......



Minggu, 08 Juni 2008

Ulang Tahun .......




Sebentar lagi saya berulang-tahun. Pada hari tersebut biasanya ibu dan bapak akan menelepon, mengucapkan selamat dan aneka doa. Kakak-kakak juga akan melakukan hal yang serupa. Beberapa teman yang hapal dengan tanggal tersebut akan mengirimkan SMS dan e-mail. Dan teman-teman kantor biasanya menagih traktiran. Ehmmmmm ....ini yang kadang agak berat terlebih karena saya lahir di tanggal tua.....hehheehhee....

Tahun kemarin saya agak lupa dengan hari keramat itu. Padahal sebelumnya saya berpikir untuk membawa sekedar kue ke kantor. Untung warung nasi padang di depan kantor dengan sigap menyelamatkan saya. Dan satu kejutan datang dari seorang sahabat kental yang selama ini selalu berperan sebagai guardian angel bagi saya. Dia datang ke kantor dan meninggalkan kue tart di meja resepsionis tanpa memberikan nama pengirimnya. Untung saya sempat memergokinya. Lalu saya jadi menangis terharu .......huhuhuhhuhhuuuhuh .... (Thanks ya Mon....)

Tahun ini, apa yang akan saya dapat di hari keramat itu? Hahahahhaha ....asli saya mengharapkan sesuatu yang manis, apapun itu. Tempo hari seorang teman dari Qatar bilang sudah mengirimkan kartu untuk saya dan dia berharap sampai tepat pada waktunya. Belum menerimanya saja saya sudah merasa senang. Senang karena ada seseorang yang berusaha memperhatikan saya. Jadi apa berarti saya kurang perhatian ya? Hahhahahah .......

Sebenarnya apa sih esensi dari ulang tahun? Terus terang saya seringkali bingung harus berbuat apa selain berusaha tertawa bahagia setiap kali keluarga dan teman menyalami dan mendoakan saya. Lalu diam-diam ketika semuanya kembali sepi saya bertanya apakah memang seharusnya saya bahagia dengan umur saya yang makin dekat dengan garis finish? Seorang teman tahun lalu dengan bijak memberikan ucapan "selamat ulang tahun, semoga seluruh sisa umurmu adalah waktu yang penuh berkah, barokah, dan manfaat". Aaaahhhh ...... kata-kata yang berhasil memerindingkan bulu-bulu saya. Dan dengan segala hormat tanpa maksud mengecilkan semua ucapan dan doa dari yang lain, saya katakan bahwa ucapan itulah yang paling berhasil membuat saya duduk termenung dengan banyak pertanyaan berputar di kepala. Berapa sisa waktu yang akan saya dapat? Masih jauhkah? Atau tinggal selangkah lagi? Apakah saya sudah memanfaatkan waktu yang sudah lewat untuk hal yang tepat? Atau saya membuangnya begitu saja tanpa saya sadari? Dan untuk semua pertanyaan itu saya cuma punya satu jawaban : entahlah .....

Saya selalu menilai diri saya sebagai orang yang biasa-biasa saja. Dalam artian saya merasa bukan dalam golongan orang yang meraih sukses yang spektakuler. Saat membuka-buka majalah bisnis, saya bisa temui orang-orang lain seangkatan saya telah berada di level manager atau bahkan lebih atau malah sudah berhasil mengembangkan usaha sendiri dengan omzet yang berlimpah. Tapi saya ....ehmm .....saya belum juga sampai di level tersebut. Seorang teman yang lain yang beberapa tahun lebih muda dari saya bersiap ke Australia untuk bekerja sembari kuliah lagi. Saya kagum dengan keberaniannya berkeputusan. Dan jika saya menengok ke arah lain, tampak teman-teman yang terlihat hidup tenang dalam rumah nyaman bersama keluarga kecil masing-masing.

Ehmmmmmm ...... jujur setiap kali ulang tahun saya merasa gamang. Apa yang sudah teraih? Apa yang terlewatkan? Apa yang terbuang sia-sia? Apa yang akan datang? Apa ...? Apa ...? Apa...? Entah berapa apa yang lain yang membuat saya merasa tak lengkap. Dan memang satu hiburan yang menyenangkan walau tak bisa dianggap sangat ampuh adalah ucapan selamat dan doa dari mereka-mereka yang di sekitar.

Oh ya, masih ada satu pertanyaan tersisa, apakah saya termasuk yang tidak tahu bersyukur ketika memikirkan ini semua? Jawabnya masih tetap sama : entahlah ......

Jadi..... tolong temani dan hibur saya ketika ulang tahun tiba ... heheheheehe.....

Minggu, 01 Juni 2008

PLTC = Pembangkit Listrik Tenaga Cinta


Cinta. Sungguh dahsyat sesuatu yang digambarkan oleh tiga huruf konsonan dan dua huruf vokal itu. Tempo hari seorang teman becerita bahwa sedang jatuh cinta. Maka seperti lagu yang dirasakannya adalah berjuta keindahan dan berjuta warna. Full color deh pokoknya, kata dia. Energinya langsung otomatis bertambah berlipat-lipat hanya karena mendapat pemandangan pipi putih yang berubah merah karena malu. Dan si empunya pipi tentu saja si gadis kepada siapa teman saya jatuh cinta. Dengan energi itu teman saya bilang bisa melakukan apa saja demi si pipi putih yang tadi bersemu itu. Ahhhhh cinta........


Seorang teman yang lain bercerita bahwa dia sedang bekerja keras sekarang, demi rencana menikah tahun depan. Demi itu dia rela mengambil jam lembur yang cukup gila dan sedikit meninggalkan kesenangannya untuk browsing internet demi menghemat rupiah. Hebatnya, jam lembur yang panjang tak membuat fisiknya rapuh ataupun menghilangkan seri wajahnya. Ahhhhh cinta.......


Seorang teman yang lain lagi melakoni paling tidak dua profesi sampingan selain kerja kantorannya. Hari Sabtu dan Minggu ketika saya lebih memilih untuk bergelung di kasur sampai matahari jauh tinggi, dia malah sebuk keluyuran kesana-kemari, mengurus kedua profesi sampingannya. Dan ketika saya tanyakan kenapa tidak ambil libur saja di hari itu, katanya sayang karena hasilnya bisa membantu mempercepat terwujudkan mimpi akan sebuah rumah manis untuk anak istri. Jadi, sementara saya merasa berhak untuk bermalas-malas, dia malah dengan gairah tinggi 'membanting tulang-tulangnya' di kedua hari itu. Ahhhhh cinta.....


Seorang teman lagi yang lain dengan perkasa menjalani nyaris sepuluh jam perjalanan dengan sepeda motor. Dan kunci keperkasaannya adalah seorang gadis mungil yang baru saja mahir berjalan yang akan langsung meminta digendong begitu melihatnya. Apa yang terjadi kalau kau tidak menempuh sepuluh jam itu, tanya saya. Jawaban teman saya adalah bahwa dia justru akan kelimpungan karena si kecil itulah yang membuatnya gagah perkasa. Ahhhhhh cinta .......


Itulah dahsyatnya cinta. Rasanya selama tahunan belajar fisika tak pernah sekalipun saya mendapati penyebutan cinta sebagai sumber energi. Padahal kenyataannya begitu banyak manusia di muka bumi ini jadi full power dan gagah perkasa seperti Hercules hanya dengan sebuah cinta. Mungkin perlu diadakan sebuah penelitian ilmiah mengenai cinta sebagai pembangkit tenaga atau sumber energi. Siapa tahu hasilnya bisa menggantikan sumber-sumber energi yang ada saat ini. Bukankah akan hebat jika energi yang dihasilkan cinta bisa menggantikan bahan bakar minyak dan listrik? Bayangkan saja jika bisa dibuat sebuah pembangkit listrik tenaga cinta..... Woooowwww cool, man....! Pasti akan ramah lingkungan alias tanpa polusi, emisi, atau bahan berbahaya lainnya. Bayangkan jika saja sekumpulan orang yang sedang mabuk cinta bisa membebaskan lingkungannya dari krisis litrik. Hebat dan sangat berguna kan....? Lalu bagaimana jika kemudian mereka tak sedang jatuh cinta? Apakah suplai energi akan jadi terhambat? Ehmmmm ... mungkin, tapi bukankah cinta melingkupi kita semua setiap hari, setiap saat, setiap detik? Karena cinta tak hanya tertuju pada pasangan saja. Banyak obyek yang tak kalah asyik dan menarik untuk ditumpahi rasa cinta. Jadi rasanya tak akan tersendat suplainya karena selalu ada sesuatu atau seseorang untuk dicintai dengan banyak alasan.


Jadi, ada yang setuju untuk jadi bagian dari pembangkit listrik tenaga cinta? Heheheheheehehe ......


Ahhhhh cinta ..... saya jadi kepingin jatuh cinta lagi malam ini, walau sudah terlebih dahulu jatuh cinta pada bantal dan kasur saya ......