Jumat, 13 Juni 2008

Suami-Suami Takut Istri

Sore ini sepulang kerja kepala saya penat sekali. Saking penatnya, saya sampai menolak untuk meng-up date berita dengan menonton Metrotv. Saya memilih menghibur diri dengan melihat tayangan komedi di Transtv yang judulnya Suami-Suami Takut Istri. Dan saya tertawa-tawa melihat aksi para pelakon itu. Tertawa-tawa melihat pelakon laki-laki yang notabene berperan sebagai suami berakting kesakitan karena dijewer, dicubit, dan di tarik rambut dekat telinganya oleh para pelakon perempuan yang notabene berperan sebagai istri.

Apa yang dipikirkan oleh para aktivis kesetaraan jender dan aktivis perempuan jika melihat tayangan ini? Apakah mereka akan melihat itu sebagai contoh kekerasan dalam rumah tangga? Atau penjajahan dalam rumah tangga? Hhahahhahaa .....

Saya belum jadi orang yang punya pengalaman berumah-tangga. Jadi sebenarnya saya tidak cukup kompeten untuk berbicara masalah ini. Tapi sebagai perempuan, terus terang saya merasa ngeri terhadap 'keganasan' ibu-ibu di lakon tersebut walau juga jengah dengan kenakalan para suaminya. Ngeri melihat berbagai perempuan dari berbagai daerah asal yang berbeda tetapi berkelakuan sama saja. Terus terang saya bingung jika harus menentukan sikap untuk berada di pihak mana dari kedua golongan itu. Jujur, saya tidak ingin berada di pihak ibu-ibu walau notebene mereka adalah kaum saya. Tapi untuk berpihak pada kaum bapak, saya juga ogah karena muak dengan sikap mereka yang suka mencuri-curi, persis seperti kucing.

Entah mengapa, terlepas dari sikap nakal para bapak, saya tetap beranggapan bahwa sikap yang ditampilkan oleh para ibu terlalu berlebihan kadar galaknya. Saya punya ibu yang saya pikir cukup galak juga (maaf bunda...... but i love u sooooooooo much, believe me, u're the best), tapi dibandingkan kegalakan para ibu di tayangan itu, kegalakan ibu saya tidak ada seiprit-ipritnya. Ibu-ibu di tayangan itu jauuuuuuuuuuuuhhhh lebih galak daripada ibu saya. Dan entah kenapa saya tidak merasakan aura keibuan mereka. Saya jadi cenderung berpikir untuk membenarkan tindakan para suami yang suka melirik si Pretty yang gemulai dan tidak suka menjewer itu. Siapapun akan akan mencari alternatif jika digencet dengan keganasan yang luar biasa seperti itu. Melirik si Pretty bisa jadi merupakan cara para suami untuk tetap bisa survive ditengah keganasan para istri. Hahaahhaah ..... saya bisa membayangkan kemarahan para ibu jika membaca omongan saya ini. Apalagi seperti yang saya bilang di atas, saya tidak punya cukup kompetensi untuk berbicara seperti ini. Tapi, tolong pikirkan bahwa seringkali kita perlu cermin untuk melihat diri sendiri bukan?

Seorang teman pernah bilang pada saya bahwa setelah menikah, hubungan dengan" mantan pacar" yang sekarang menjadi teman hidup yang sah akan berubah. Ada perasaan yang pasti berubah, tak lagi sama. Ketika saya tanyakan apakah itu karena tak ada lagi misteri yang tersisa, teman saya diam berpikir agak lama sebelum akhirnya menjawab dengan satu kata : mungkin.

Mungkin benar kata teman saya bahwa ada rasa yang akan berubah. Tapi toh saya yakin perubahan rasa itu bukanlah perubahan yang destruktif sebab toh terlihat begitu banyak pasangan yang sukses hidup tenang bersama keluarga mereka. Jadi mestinya cuma diperlukan suatu siasat dalam mentransformasi rasa itu hingga bermetamorfose menjadi sesuatu yang lebih indah. Berarti pasangan-pasangan dalam tayangan yang saya sebutkan tadi adalah mereka yang kurang berhasil dalam hal bermetamorfose ya? Buktinya yang terjadi adalah satu pihak terintimidasi oleh pihak yang lain.

Ahhh ...saya benar-benar tidak berkompeten bicara masalah ini. Hanya saja saya benar-benar ngeri jika suatu saat nanti saya tidak berhasil dalam proses transformasi dan hasilnya saya menjelma menjadi ibu-ibu yang ganas itu .... Sumpah saya ngeri ..... hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii .......



Minggu, 08 Juni 2008

Ulang Tahun .......




Sebentar lagi saya berulang-tahun. Pada hari tersebut biasanya ibu dan bapak akan menelepon, mengucapkan selamat dan aneka doa. Kakak-kakak juga akan melakukan hal yang serupa. Beberapa teman yang hapal dengan tanggal tersebut akan mengirimkan SMS dan e-mail. Dan teman-teman kantor biasanya menagih traktiran. Ehmmmmm ....ini yang kadang agak berat terlebih karena saya lahir di tanggal tua.....hehheehhee....

Tahun kemarin saya agak lupa dengan hari keramat itu. Padahal sebelumnya saya berpikir untuk membawa sekedar kue ke kantor. Untung warung nasi padang di depan kantor dengan sigap menyelamatkan saya. Dan satu kejutan datang dari seorang sahabat kental yang selama ini selalu berperan sebagai guardian angel bagi saya. Dia datang ke kantor dan meninggalkan kue tart di meja resepsionis tanpa memberikan nama pengirimnya. Untung saya sempat memergokinya. Lalu saya jadi menangis terharu .......huhuhuhhuhhuuuhuh .... (Thanks ya Mon....)

Tahun ini, apa yang akan saya dapat di hari keramat itu? Hahahahhaha ....asli saya mengharapkan sesuatu yang manis, apapun itu. Tempo hari seorang teman dari Qatar bilang sudah mengirimkan kartu untuk saya dan dia berharap sampai tepat pada waktunya. Belum menerimanya saja saya sudah merasa senang. Senang karena ada seseorang yang berusaha memperhatikan saya. Jadi apa berarti saya kurang perhatian ya? Hahhahahah .......

Sebenarnya apa sih esensi dari ulang tahun? Terus terang saya seringkali bingung harus berbuat apa selain berusaha tertawa bahagia setiap kali keluarga dan teman menyalami dan mendoakan saya. Lalu diam-diam ketika semuanya kembali sepi saya bertanya apakah memang seharusnya saya bahagia dengan umur saya yang makin dekat dengan garis finish? Seorang teman tahun lalu dengan bijak memberikan ucapan "selamat ulang tahun, semoga seluruh sisa umurmu adalah waktu yang penuh berkah, barokah, dan manfaat". Aaaahhhh ...... kata-kata yang berhasil memerindingkan bulu-bulu saya. Dan dengan segala hormat tanpa maksud mengecilkan semua ucapan dan doa dari yang lain, saya katakan bahwa ucapan itulah yang paling berhasil membuat saya duduk termenung dengan banyak pertanyaan berputar di kepala. Berapa sisa waktu yang akan saya dapat? Masih jauhkah? Atau tinggal selangkah lagi? Apakah saya sudah memanfaatkan waktu yang sudah lewat untuk hal yang tepat? Atau saya membuangnya begitu saja tanpa saya sadari? Dan untuk semua pertanyaan itu saya cuma punya satu jawaban : entahlah .....

Saya selalu menilai diri saya sebagai orang yang biasa-biasa saja. Dalam artian saya merasa bukan dalam golongan orang yang meraih sukses yang spektakuler. Saat membuka-buka majalah bisnis, saya bisa temui orang-orang lain seangkatan saya telah berada di level manager atau bahkan lebih atau malah sudah berhasil mengembangkan usaha sendiri dengan omzet yang berlimpah. Tapi saya ....ehmm .....saya belum juga sampai di level tersebut. Seorang teman yang lain yang beberapa tahun lebih muda dari saya bersiap ke Australia untuk bekerja sembari kuliah lagi. Saya kagum dengan keberaniannya berkeputusan. Dan jika saya menengok ke arah lain, tampak teman-teman yang terlihat hidup tenang dalam rumah nyaman bersama keluarga kecil masing-masing.

Ehmmmmmm ...... jujur setiap kali ulang tahun saya merasa gamang. Apa yang sudah teraih? Apa yang terlewatkan? Apa yang terbuang sia-sia? Apa yang akan datang? Apa ...? Apa ...? Apa...? Entah berapa apa yang lain yang membuat saya merasa tak lengkap. Dan memang satu hiburan yang menyenangkan walau tak bisa dianggap sangat ampuh adalah ucapan selamat dan doa dari mereka-mereka yang di sekitar.

Oh ya, masih ada satu pertanyaan tersisa, apakah saya termasuk yang tidak tahu bersyukur ketika memikirkan ini semua? Jawabnya masih tetap sama : entahlah ......

Jadi..... tolong temani dan hibur saya ketika ulang tahun tiba ... heheheheehe.....

Minggu, 01 Juni 2008

PLTC = Pembangkit Listrik Tenaga Cinta


Cinta. Sungguh dahsyat sesuatu yang digambarkan oleh tiga huruf konsonan dan dua huruf vokal itu. Tempo hari seorang teman becerita bahwa sedang jatuh cinta. Maka seperti lagu yang dirasakannya adalah berjuta keindahan dan berjuta warna. Full color deh pokoknya, kata dia. Energinya langsung otomatis bertambah berlipat-lipat hanya karena mendapat pemandangan pipi putih yang berubah merah karena malu. Dan si empunya pipi tentu saja si gadis kepada siapa teman saya jatuh cinta. Dengan energi itu teman saya bilang bisa melakukan apa saja demi si pipi putih yang tadi bersemu itu. Ahhhhh cinta........


Seorang teman yang lain bercerita bahwa dia sedang bekerja keras sekarang, demi rencana menikah tahun depan. Demi itu dia rela mengambil jam lembur yang cukup gila dan sedikit meninggalkan kesenangannya untuk browsing internet demi menghemat rupiah. Hebatnya, jam lembur yang panjang tak membuat fisiknya rapuh ataupun menghilangkan seri wajahnya. Ahhhhh cinta.......


Seorang teman yang lain lagi melakoni paling tidak dua profesi sampingan selain kerja kantorannya. Hari Sabtu dan Minggu ketika saya lebih memilih untuk bergelung di kasur sampai matahari jauh tinggi, dia malah sebuk keluyuran kesana-kemari, mengurus kedua profesi sampingannya. Dan ketika saya tanyakan kenapa tidak ambil libur saja di hari itu, katanya sayang karena hasilnya bisa membantu mempercepat terwujudkan mimpi akan sebuah rumah manis untuk anak istri. Jadi, sementara saya merasa berhak untuk bermalas-malas, dia malah dengan gairah tinggi 'membanting tulang-tulangnya' di kedua hari itu. Ahhhhh cinta.....


Seorang teman lagi yang lain dengan perkasa menjalani nyaris sepuluh jam perjalanan dengan sepeda motor. Dan kunci keperkasaannya adalah seorang gadis mungil yang baru saja mahir berjalan yang akan langsung meminta digendong begitu melihatnya. Apa yang terjadi kalau kau tidak menempuh sepuluh jam itu, tanya saya. Jawaban teman saya adalah bahwa dia justru akan kelimpungan karena si kecil itulah yang membuatnya gagah perkasa. Ahhhhhh cinta .......


Itulah dahsyatnya cinta. Rasanya selama tahunan belajar fisika tak pernah sekalipun saya mendapati penyebutan cinta sebagai sumber energi. Padahal kenyataannya begitu banyak manusia di muka bumi ini jadi full power dan gagah perkasa seperti Hercules hanya dengan sebuah cinta. Mungkin perlu diadakan sebuah penelitian ilmiah mengenai cinta sebagai pembangkit tenaga atau sumber energi. Siapa tahu hasilnya bisa menggantikan sumber-sumber energi yang ada saat ini. Bukankah akan hebat jika energi yang dihasilkan cinta bisa menggantikan bahan bakar minyak dan listrik? Bayangkan saja jika bisa dibuat sebuah pembangkit listrik tenaga cinta..... Woooowwww cool, man....! Pasti akan ramah lingkungan alias tanpa polusi, emisi, atau bahan berbahaya lainnya. Bayangkan jika saja sekumpulan orang yang sedang mabuk cinta bisa membebaskan lingkungannya dari krisis litrik. Hebat dan sangat berguna kan....? Lalu bagaimana jika kemudian mereka tak sedang jatuh cinta? Apakah suplai energi akan jadi terhambat? Ehmmmm ... mungkin, tapi bukankah cinta melingkupi kita semua setiap hari, setiap saat, setiap detik? Karena cinta tak hanya tertuju pada pasangan saja. Banyak obyek yang tak kalah asyik dan menarik untuk ditumpahi rasa cinta. Jadi rasanya tak akan tersendat suplainya karena selalu ada sesuatu atau seseorang untuk dicintai dengan banyak alasan.


Jadi, ada yang setuju untuk jadi bagian dari pembangkit listrik tenaga cinta? Heheheheheehehe ......


Ahhhhh cinta ..... saya jadi kepingin jatuh cinta lagi malam ini, walau sudah terlebih dahulu jatuh cinta pada bantal dan kasur saya ......

Minggu, 25 Mei 2008

whiter shade of pale


We skipped the light fandango
Turned cartwheels cross the floor
I was feeling kind of seasick
The crowd called out for more
The room was humming harder
As the ceiling flew away
When we called out for another drink
But the waiter brought a tray

*and so it was later
As the miller told his tale
That her face at first just ghostly
Turned a whiter shade of pale

You said there is no reason
And the truth is plain to see
But I wander through my playing cards
And would not let it beIm one of the sixteen virgins
Who are leaving for the coast
And although my eyes were open
They might just as well been closed

(*repeat)
A whiter shade of pale
Turned a whiter shade of pale
A whiter shade of pale

Seorang teman sempat berkunjung ke blog ini menyarankan agar tidak menulis hal-hal yang serius .... (padahal rasanya saya pernah menulis hal serius disini). Okey .... saya sedang baik hati hari ini , saya sedikit menuruti saran teman saya tersebut (semoga dia senang).

Lagu di atas adalah favorit saya ..... i love that song very much ...terlebih yang versinya Annie Lennox. Tapiiiii ....sayang sekali saya enggak ngerti maksud yang dikandungnya....heheheehhe coba bayangkan saya (berusaha) menyanyi dengan logat Inggris yang setengah mati difasih-fasihkan padahal sebenarnya enggak ngerti maksudnya .... Betapa tragis dan bodohnya saya .....

Jadiii ...jika ada pengunjung yang mengerti maksud yang terkandung didalamnya, tolong buatlah saya 'melek'. Serius ini.....! Tolong berbaikhatilah dengan saya ...

Jadi ini adalah permintaan yang serius dalam tulisan yang tidak serius .... hehhehehhehe ... Pertolongannya saya tunggu dengan serius ....!

Selasa, 20 Mei 2008

Bangkit Yoooooookkk...!!!

Hari ini tepat seratus tahun Kebangkitan Nasional. Dan saya malah terlambat 'bangkit' alias sibuk 'menjajah' kasur, tanpa mempedulikan matahari yang telah dengan ramah dan ikhlas memberikan cahayanya utuk membantu badan saya membentuk vitamin D. Tapi saya memilih bergelung di kasur dengan alibi sudah beberapa hari kurang tidur. Padahal alasan sebenarnya adalah malas. Hehehehehe ..... Maafkan saya matahariku .....

Hari ini, seratus tahun yang lalu pemuda-pemuda bersemangat, nasionalis, dan berpendidikan tinggi membentuk organisasi yang menandai 'bangunnya' sebuah bangsa yang telah berabad kehilangan martabat. Apakah saat itu mereka sepenuhnya sadar akan besar arti tindakannya? Apakah terpikir oleh mereka bahwa karena langkah itu mereka akan dikenang sebagai pahlawan bangsa dan nama mereka akan terus disebut di buku-buku sejarah bangsa? Optimiskah mereka saat itu bahwa langkah yang mereka buat akan diikuti oleh anak-anak bangsa yang lain? Yakinkah mereka akan berhasil membangunkan bangsa yang telah begitu lama tertidur dalam ketakutan? Apapun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, bagi saya mereka adalah orang-orang hebat yang hidup di masanya. Saya sangat menaruh hormat kepada mereka.

Terus terang saya bersyukur dilahirkan ketika bangsa ini telah merdeka. Sebab saya tidak yakin saya mampu berbuat seperti pemuda-pemuda hebat itu. Mungkin salah-salah saya akan jadi pemuda yang salah tingkah..... hehheheehe.... Tapi jujur, saya benar-benar bersyukur dilahirkan di masa kemerdekaan telah teraih. Saya ngeri membayangkan hidup terlunta-lunta kurang makan, terjajah, dan tak berpendidikan. Saya ngeri membayangkan harus berlari-lari mengungsi kesana kemari dengan resiko tertembak (karena pada dasarnya saya ngeri melihat darah dan tak tahan rasa sakit). Saya takut membayangkan nasib saya sebagai perempuan karena pasti tingkat pelecehan seksual terhadap perempuan di masa konnflik seperti itu tinggi sekali. Saya takut membayangkan tidak bisa merencanakan masa depan, atau bahkan tak punya pikiran untuk bermasadepan. Dan saya takut membayangkan tidak bisa berinternet ........ hehhehehehehehe .....

Jadi saya sungguh beruntung tidak perlu hidup di masa susah itu. Tapi semua bilang ini masa susah juga, cuma versinya yang berbeda. Kalau dulu susah karena penjajahan, maka sekarang susah karena .....ehmmmmmm .... karena apa ya? Hehheheheh .... susah karena macam-macamlah! Kadang susah karena harga BBM yang suka melambung tinggi dengan alasan mengikuti harga minyak dunia. Kadang susah karena harga tarif dasar listrik tahu-tahu juga ikutan membumbung. Kadang susah karena nilai tukar rupiah melemah terhadap mata uang Dolar Amerika. Kadang susah karena masuknya penyakit aneh yang tahu-tahu terasa sudah ada di depan hidung dan siap mencabut nyawa siapa saja, tanpa pandang bulu dan hanya dalam hitungan beberapa jam saja. Kadang susah karena lemahnya daya beli sehingga usaha apapun terasa sulit berekembang. Kadang susah karena harga pupuk yang tak terjangkau sementara harga dasar gabah kering giling ya tetap segitu-segitu saja. Kadang susah karena bencana alam yang walau sudah tiap tahun rutin menyapa tapi tetap saja tak ada cukup daya untuk mengatasinya. Kadang susah karena digencet oleh aparat militer dan hukum sendiri ...........

Nah, karena semua itu maka secara nakal saya membuat kesimpulan sendiri bahwa seperti juga pahlawan dan pemimpin yang dilahirkan pada masanya sendiri, maka serupa itu pulalah sebuah kesusahan ....hhhahahahaha ..... Karena itu ketika seorang teman dari Turki mendoakan agar saya selalu bebas dari masalah dan kesusahan, saya bilang terima kasih atas doa itu tapi sebagai manusia biasa saya tidak akan bisa hidup senyaman itu. Kesusahan adalah bagian dari kehidupan, dan kesusahan ikut ambil bagian dalam menjamin kelangsungan putaran kehidupan. Itu tadi kalimat yang keluar dari mulut seorang saya ketika sedang bisa bijak bersikap menghadapi kesusahan. Ketika sedang tidak bisa bijak maka yang keluar dari mulut saya adalah berbagai macam umpatan dalam segala bentuk dan versinya..... hhahahahahhaa....

Jadi, bagaimana kalau sekarang juga kita bangkit bersama dan menghadapi kesusahan yang lahir di jaman kita ini, seperti mereka yang telah bangkit untuk membuat sebuah tonggak bernama Budi Utomo? Lalu kita akan berdiri sama tinggi dengan mereka yang selama ini kita pelajari sebagai bagian dari sejarah cemerlang bangsa ini.

Semangat yoooooookkkk .....!!!
Bangkit yooooooooooooooooooooooooookkkkkk ...!!!!!!


Selasa, 06 Mei 2008

makan buah (kita) yuuuuukkkk....?


Sudah lihat pesan Prabowo Subianto dqn HKTI di televisi kan? Saya sudah melihat beberapa versi dari pesan tersebut. Dan terus terang jadi kepikiran. Bukan si pemberi pesan yang saya pikirkan (karena memang saya tidak mengidolakan beliaunya ...hehhehe maaf ya Pak Prabowo). Tapi isi pesannya, pesan tentang ajakan untuk mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan hasil produksi petani lokal kita. Pesan ini membuat saya tersadar bahwa saya termasuk yanglebih banyak mengkonsumsi buah import daripada hasil tanaman petani negeri sendiri. Salahkah? Entahlah, tapi saya jadi merasa sedikit berdosa karena pesan itu.

Sebenarnya awalnya saya memilih buah import semata karena rasa dan mampu membelinya. Terus terang saya lebih memilih jeruk kuning bule daripada jeruk hijau kita karena rasanya lebih manis dan kuit arinya lebih tipis. Saya juga lebih memilih apel fuji daripada apel Malang. Saya juga suka membeli pir, kelengkeng, strawberry, anggur, leci, dan pisang yang entah datang dari belahan bumi sebelah mana, yang pasti bukan termasuk wilayah Indonesia. Setelah saya pikir-pikir buah lokal yang masih sering saya makan tinggal rambutan, salak, dan mangga.

Lalu tempo hari saya mengenang masa kecil dengan teman sekantor. Kebetulan dia lahir cuma lima tahun lebih dahulu dibandingkan saya. Otomatis apa yang kami temui di masa kecil relatif sama. Termasuk macam-macam tanaman dan buah. Kami mengenang masa-masa menikmati buah mentega, rukem, jirak, jambu dersono, jambu sukun, kenitu, buah natal, juwed, keres, ciplukan, dan jenis buah lain yang sekarang tak lagi pernah kami temukan. Lalu kami berpandangan dan bertanya, kemana buah-buah itu sekarang?

Apa yang dipesankan oleh Prabowo Subianto dan HKTI sedikit banyak memberi jawaban atas bagi pertanyaan kami tadi. Bagaimana buah-buah itu ada kalau tidak dihargai keberadaannya? Mungkin kurang lebih seperti itu. Sebab buah dan tanaman lokal kita biasanya baru dihargai setelah ada yang berhasil membuktikan khasiatnya. Misalnya, jambu biji baru ngetren setelah digaungkan punya khasiat untuk membantu para penderita demam berdarah. Namanya pun jadi keren, karena semua orang lebih suka menyebutnya dengan guava daripada memanggilnya jambu biji. Hal yang sama terjadi juga pada buah pace yang langsung in setelah didengungkan membantu para penderita asam urat dan kolesterol.

Seorang teman dari Malaysia bertanya pada saya, Indonesia yang punya semuanya termasuk aneka ragam flora fauna dan kandungan perut bumi mengapa tidak bisa menjadi seperti Jerman? Pertanyaan yang membungkam saya hingga seperti ada plester melintang tepat di bibir saya. Lalu seorang teman yang lain mendapatkan warisan beberapa hektar sawah bercerita bahwa biaya produksi untuk yang dikeluarkan petani padi lebih besar daripada hasil penjualan gabah atau berasnya, alias merugi. Lalu kenapa tetap melanjutkan usaha itu, tanya saya. Dia bilang lumayan jadi tak perlu takut kekurangan beras karena walau biaya produksi tak tertutup dengan hasil panen tapi toh dia bisa menomboki dengan hasil kerja kantoran. Lalu bagaimana para petani lain yang menjadikan bertani adalah sandaran hidupnya, tanya saya. Dia mengangkat bahu. Saya jadi miris. Padahal saya pernah baca di sebuah artikel bahwa pemerintah negara-negara maju memberikan segala macam subsidi kepada petaninya, sehingga mereka hidup makmur dengan profesi itu.

Tentu tak salah membeli dan memakan buah import. Toh tidak mencurinya kan? Tapi saya jadi tidak enak hati juga..... Kepikir juga mungkin satu usaha kecil yang saya lakukan ada artinya bagi orang lain. Yaaaa ...mungkin tak perlu memaksakan diri untuk menelan jeruk hijau yang saya tidak suka karena kulit arinya yang tebal. Toh saya masih bisa menelan salak pondoh. Dan hari ini saya benar-benar meletakkan kembali buah pir China setelah menimangnya beberapa saat. Sebagai gantinya saya berencana membeli rujak buah dengan special request bengkoangnya yang banyak dan sambal kacang yang pedas..... ehmmm, sedaaaaaappppp .........!!!

Selasa, 29 April 2008

kau ......... (ada dimana?)




kukangeni baumu
yang tak kutemukan lagi di ruang udaraku
dan sedetik lalu
kubertanya dosa untuk itu .........................
(karena menjejaknya di ingatan telah membuatku tersenyum begitu lengkung)